
"Aisyah..." Panggil Kania dengan melambaikan tangannya.
Aisyah tersenyum. Dia berjalan menghampiri Kania. "Aisyah, kamu satu tenda aja ya bareng kita" Ujar kania.
Baru saja Aisyah ingin mengangguk, namun sheren langsung mengomel tak terima. "Kok sama Aisyah sih. Temen kita itu kan banyak!! Kenapa harus dia?!"
"Sheren,,, udahlah ga papa." Balas Kania.
"Nggak, gue ga mau. Kalau emang Lo mau satu tenda sama dia silahkan aja. Tapi gue mau pindah ke tenda lain!" Ucap sheren dengan melangkah pergi.
"Sheren...!" Panggil Aisyah namun tak di gubris olehnya. Aisyah menoleh menatap Kania. "Kania, biar aku aja yang cari tenda lain. Tapi sheren Jangan pergi"
Kania menggeleng. "Udah ga usah, biarin aja sheren ngelakuin apa yang dia mau"
"Tapi..."
"Udah Syah, ga usah terlalu di pikirin. Lebih baik lo bantuin gue buat tendanya"
Aisyah mengangguk. Mereka berdua mulai sibuk membangun tenda. "Kania..." Panggil Aisyah.
"Iya?"
"Sheren kenapa ya kok benci gitu sama aku? Apa aku emang pernah ada salah sama dia?"
Kania menggeleng. "Nggak kok. Sheren cuma iri doang. Nanti juga bakalan baik sama Lo. Yakin aja," Balasnya dengan tersenyum.
"Iri kenapa?"
"Iri karena Lo dapat prestasi yang lebih baik dari dia" Jawab Kania. "Sheren itu dari kecil sampe SMP, dia selalu dapat peringkat satu, selalu jadi bintang kelas. Bahkan, dia pernah dapat juara paralel di sekolah. Tapi semenjak SMA ini ada Lo yang gantiin posisi nya dia. Lo yang sekarang jadi bintang kelas. Lo yang sekarang selalu dapat nilai terbaik. Makannya dia iri dan bersikap seolah olah dia benci sama Lo" Jelas kania. "Tapi Lo tenang aja, sheren itu aslinya baik. Cuman kalau dia lagi ga suka sama seseorang ya gitu. Suka nyebelin. hehehe"
Aisyah mengangguk paham. "Oh gitu ya..."
"KALIAN ITU BENER BENER YA,, KENAPA GA ADA YANG MAU SATU TENDA SAMA SASA HM? INI JUGA TEMEN KALIAN, KALAU MAU BERTEMAN JANGAN MEMBEDA-BEDAKAN SEPERTI ITU!!" Ujar Bu Desi yang sedikit kesal pada mereka. Perhatian Aisyah dan kania teralihkan.
"KALIAN SEKOLAH ITU SELAIN MENUNTUT ILMU YA JUGA BIAR BISA SALING MENGHARGAI!! Sekolah itu salah satu tempat pertemuan adanya perbedaan. Jadi, sekolah juga harusnya bisa menjadi tempat kalian untuk bisa belajar saling menghormati! Ini satu tenda sama temen sekelas aja kok ga mau," Bu Desi menoleh menatap Sasa yang tertunduk. "Kamu cari tenda lain ya. Terserah kamu mau satu tenda sama kelas lain juga ga papa"
Sasa mengangguk. "Iya Bu"
Bu Desi terdiam dengan melotot tajam ke arah mereka, teman satu kelas Sasa. Lalu ia melangkah pergi. Sedang Sasa mengedarkan pandangannya. Senyumnya terukir saat melihat Aisyah yang tengah menatapnya. Ia langsung berjalan ke arah gadis itu.
"Aisyah, gue boleh ga satu tenda sama Lo??" Tanya Sasa.
"Oh iya boleh boleh. Silahkan aja" Sahut Kania.
"Iya boleh kok" Timpal Aisyah. "Sa, tadi kenapa Bu Desi?"
"Tadi Bu Desi kesel aja sama temen sekelas yang ga mau satu tenda sama gue. Peraturannya kan harus satu tenda sama teman satu kelas. Tapi ya wajarlah, mereka mana mungkin mau satu tenda sama anak koruptor" Jawab Sasa.
"Harusnya mereka ga gitu sih, pola pikirnya salah. Kan yang salah bokap lo. Lagi pula Lo juga ga pernah ngelakuin kesalahan besar yang harus membuat Lo di perlakukan kayak gitu. Tapi ya,,, gitu deh. Seseorang yang melakukan kesalahan, akan berdampak besar bagi orang terdekatnya" Balas Kania. "Lo yang sabar ya..."
Sasa mengangguk. "Iya. Oi ya, gue bantuin ya"
"Iya iya, silahkan aja" Ucap Kania.
"HELLOOWW,, YUHUU KALIAN SEMUAA" Umpil tiba tiba datang dengan membawa koper besar.
"Lo ngapain bawa koper besar gitu? Kita itu cuma mau camping, bukan pindahan" Ujar Kania.
"Ih Kania,, gue itu kalau mau camping tetep harus bawa barang yang lengkap. Biar ga bingung kalau mau pakai. Nih ya,, gue aja sehari semalam bisa ganti baju sampe lima kali" Jawabnya. "Oi ya, gue tukeran sama sheren. Gue di tenda kalian, sheren di tenda gue"
Kania mengangguk paham. Jadi, sheren benar benar tidak mau satu tenda dengan Aisyah. "Ya udah, bantuin kita!" Ucap Kania.
"Ngapain?"
"Ya ini buat tenda"
"Ah,, kalian aja deh ya yang buat tendanya. Gue mau nge-vlog dulu"
Kania berdecak. "Ngapain ngeplog segala sih??"
"Eh eh eh...nge-vlog bukan ngeplog." Balas Umpil membenarkan.
"Ah sama aja. Udah, pokoknya Lo harus bantuin kita. Kalau ga, nanti malam ga usah tidur di sini!!"
"Lhah terus gue harus tidur di mana?"
"Ya di mana kek. Terserah. Dia atas pohon juga silahkan"
"Ih, kaya kuntilanak dong gue. Cantik cantik gini juga di suruh tidur di atas pohon,,"
"Ya makannya bantuin...!!" Ujar Kania nyolot.
"Iya iya nih gue bantuin!" Balas Umpil sedikit kesal.
•••••
Setelah semua selesai membangun tenda, maka semua bahan untuk memasak di persiapkan. Semuanya bergotong royong. Dengan di pantau kakak kelas yang di tugaskan untuk menjaga dan melancarkan acaranya. Menit demi menit, matahari mulai terbenam. Menyisakan senja indah di ufuk barat. Hingga sinar itu benar benar hilang, dan langit berubah menjadi gelap. Para bintang bertabur di langit dengan bulan yang bersinar kokoh di antaranya.
Malam itu, semua murid duduk membuat lingkaran besar. Di tengah mereka berdiri seorang kakak kelas dengan membawa mic di tangan kanannya. Menyuarakan keramaian di tengah mereka. Sebut saja namanya Kak Reza.
"Nah agar suasana menjadi ramai,, masing masing kelas harus mengirimkan orang untuk menampilkan sesuatu di depan sini. Mau nyanyi? Boleh. Mau nari atau joget joget asik? Juga boleh. Yang pandai berpantun, boleh juga. Apalagi yang jago ngegombal? Ya boleh banget. Pokoknya apapun itu yang penting menghibur okey? Jadi di mulai dari kelas mana nih?" Tanya kak Reza. Namun tidak ada yang mengangkat tangan mengajukan diri.
"Oke kalau begitu. Bagaimana kalau penampilan pertama kita serahkan kepada kakak kakak kita sebagai pembukaan. SETUJU??"
"SETUJU..." Jawab semuanya kompak.
"Nah,, di sana sudah berdiri kakak kakak kita" Ujar kak Reza dengan mengarahkan pandangannya kepada empat orang yang tengah berdiri. "ADA KAK FARIZ, KAK GHEA, KAK AYU DAN KAK DEVAN. SIAPA NIH YANG KALIAN PILIH BUAT TAMPIL??"
Seketika semuanya langsung menjawab nama Fariz, bahkan nadanya berkesan memaksa agar Fariz lah yang tampil untuk pembukaan. "Yakin nih? kalian kalau pilih kak Reza juga ga papa kok. Kak Reza itu punya suara yang pantas lhoh"
"NGGAK!! GA MAU...!! KAK FARIZ!! HARUS KAK FARIZ! KAK FARIZ!!" Seru mereka.
"Ya wajar sih kalian ga mau. Suara kak Reza emang pantas. Pantas untuk tidak di dengarkan" Ujarnya "OKE LANGSUNG AJA, SILAHKAN KAK FARIZ MAJU KE DEPAN. YOK!! MAU MENAMPILKAN APA TERSERAH. YANG PENTING KITA HAPPY..." Lanjutnya dengan berbicara melalui mic. Fariz langsung melangkah dan berdiri ditengah tengah mereka.
"BAIK ADIK ADIK KU SEMUA,, SILAHKAN MENYAKSIKAN PENAMPILAN DARI KAKAK KESAYANGAN KALIAN, KAK FARIZ...!!"
Gemuruh tepuk tangan terdengar ramai. Kak Reza memberikan mic nya kepada Fariz. Dan melangkah keluar dari tengah tengah mereka yang sedang duduk melingkar. "Oke selamat malam semuanya" Sapa Fariz.
__ADS_1
"MALAM KAK..." Jawab mereka semangat.
"Kali ini, gue mau bawain lagu tentang..."
Tiba tiba Devan berseru. "GIMANA KALAU GUE YANG GITARIN?" Fariz menoleh menatap Devan. Lalu mengangguk.
Devan langsung berlari kecil, mengambil gitarnya yang ada di tenda. Dia melangkah dan berdiri di samping Fariz. "Oke kali ini gue bakal bawain lagu seperti yang dulu dari Pasha ungu..."
Petikan gitar mulai terdengar. Terdengar pelan namun menghanyutkan. Aisyah yang tidak terlalu tahu menahu tentang dunia permusikan hanya tertunduk mendengarkan. Fariz mengangkat mic nya, dia mulai membuka suara.
Tiada guna kau kembali
Seketika semuanya bersorak kagum.
Mengisi ruang hati ini
Semuanya telah berlalu
Bersama lukaku
Semua melambaikan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri secara kompak. Kecuali Aisyah dan Dinda. Dinda, dia memang tidak terlalu menyukai musik. Sedangkan Aisyah, dia mulai mengangkat kepalanya. Menatap Fariz yang juga ternyata menatapnya. Tatapan mereka saling bertemu. Memberikan pandangan rasa yang berbeda.
Semua yang telah berlalu
Antara hatiku dan hatimu
Takkan ada cinta
Yang seperti dulu
Tiada guna kau berjanji
Untuk setia menemani
Hatiku yang telah terluka
Karena dustamu
Ghea tersenyum mendengar lagu yang di bawakan Fariz. Dia tahu, lagu itu di tujukan untuk aisyah.
Semua yang telah berakhir
Antara hatiku dan hatimu
Takkan ada cinta seperti yang dulu
Semua yang telah berakhir
Antara diriku dan dirimu
Takkan ada rindu seperti yang dulu
Aisyah langsung menundukkan kepalanya. Merasakan setiap kata yang di nyanyikan fariz memang untuknya. Bahkan lagu pun dapat membuatnya memaksa untuk menahan air mata saat ini. Fariz terus bernyanyi hingga lagu itu selesai. Sepanjang itu, dia terus melihat ke arah Aisyah. Melihatnya dengan rasa kecewa yang tersisa.
•••••
Hari ini, semua murid kelas sepuluh di ajak untuk berkeliling hutan. Ghea dan Devan memimpin bagian depan, memberikan arahan kemana saja mereka akan berjalan. Di belakang ada Kak Reza, kak ayu dan Fariz yang menjaga dari belakang. Dan di tengah tengah mereka ada Bu Mira dan Bu Desi yang memberi materi penjelasan.
"Hutan wisata ini selain bisa di jadikan sebagai tempat wisata juga dapat membuat kita untuk belajar mencintai alam. Belajar untuk memahami, bahwasanya Tuhan menciptakan seluruh apa yang ada di bumi, untuk kita rawat dan untuk kita sayangi bukan untuk kita rusak kehidupan dan habitatnya" Ujar Bu Mira dengan suara yang di sengaja lantang agar semua muridnya dapat mendengar apa yang ia jelaskan.
"Alam akan memberikan kebutuhan kita, bila kita juga memenuhi kebutuhannya. Contohnya apa? Tumbuhan. Tumbuhan ini selain butuh sinar matahari, dia juga butuh air yang cukup. Kalau lagi musim kemarau, hujan jarang turun. Kita sebagai manusia, harus menyiramnya. Supaya apa? Supaya tidak kering. Nah nanti kalau sudah tumbuh, bisa kita nikmati keindahan bunganya. Kalau subur, bisa kita nikmati buah dan daunnya yang dapat kita jadikan sayur. Kalau sudah tumbuh besar, maka tumbuhan tersebut akan memberikan kesejukan, kerindangan dan udara yang segar. Nah kita buktikan saja, bagaimana perbedaan saat kita ada di sini dengan saat kita sedang ada di tengah kota yang banyak pabrik dan polusi kendaraan juga tidak bisa terhindarkan. Tentu lebih sejuk di sini. Betul kan?"
"BETUL BU..." Jawab semuanya.
"Nah maka dari itu sayangilah alam, maka alam juga akan menyayangi kita" Lanjut Bu Mira dengan terus berjalan menyusuri jalan sesuai rute.
Aisyah menghentikan langkahnya. Membuat Dinda yang berjalan di sampingnya juga melakukan hal yang sama. "Kenapa Syah?" Tanya Dinda.
"Sandal ku jebol Din"
"Kenapa ga pake sepatu aja tadi"
Aisyah menggeleng. "Kalau jalan jalan gini, lebih nyaman pakai sandal Din" Jawabnya.
Dinda berjongkok mengambil sandal Aisyah. "Sini, coba aku perbaiki"
"Iya" Aisyah menghela pelan dengan melihat teman temannya yang sudah terus berjalan maju. Untungnya, masih ada beberapa yang ada di belakang. Beberapa detik...
"Gimana Din? Udah?"
"Bentar Syah. Susah ternyata" Jawab Dinda.
"Kok berhenti?" Tanya kak Reza.
Aisyah menoleh. "Maaf kak. Ini sandal Aisyah jebol. Jadi berhenti sebentar buat di perbaiki"
Reza mengangguk. "Mau di bantu?"
"Oh ga usah kak. Sebentar lagi bisa..." Balas Dinda.
"Oh ya udah kalau gitu. Kita duluan ya. Nanti kalian nyusul. Tapi jangan sampai ketinggalan"
Mereka berdua mengangguk. Reza, Fariz dan kak ayu. Mereka kembali berjalan. Dan ternyata ketiganya yang berjalan paling akhir. Hinggalah mereka menjadi yang paling belakang. Aisyah ikut berjongkok.
"Kok susah ya Syah..." Ujar Dinda.
"Coba Din biar aku aja" Aisyah mengambil sandalnya yang ada di tangan Dinda. Lalu mencoba memperbaiki nya. Memang agak sulit untuk di perbaiki. Setelah beberapa saat mencoba dan dengan berbagai cara, akhirnya sandal Aisyah bisa seperti semula.
Aisyah langsung kembali memakai sandalnya. "Makasih ya Din..." Ucapnya karena Dinda telah membantunya.
Dinda mengangguk. "Ya udah yuk jalan lagi"
Keduanya bergandengan tangan dan mulai berlari menyusul mereka yang sudah hampir menghilang dari pandangannya. Saat sudah hampir dekat. Hanya tersisa beberapa langkah saja untuk kembali bergabung bersama mereka. Namun...
"Aaaww..." Pekik Aisyah. Seketika Fariz dan Reza langsung menoleh ke belakang.
"Syah kenapa?" Tanya Dinda.
__ADS_1
Aisyah mengangkat kakinya. Mencabut duri yang menancap di telapak kakinya. Hingga aliran darah, perlahan keluar. Tadi saat dia berlari, sandalnya kembali jebol. Namun Aisyah memilih untuk tidak berhenti, karena dirinya takut akan kehilangan jejak mereka. Oleh sebab itu, dia memutuskan untuk tetap berlari meski sandalnya jebol.
Fariz langsung berlari mendekati mereka. Sedangkan Reza kembali meneruskan langkahnya. Bila ada fariz, dia tidak perlu khawatir. Fariz menatap Aisyah, Lalu beralih ke telapak kakinya. Dia menghela pelan. Ada sedikit kekhawatiran saat dirinya tadi mendengar Aisyah memekik kesakitan.
Fariz melepas sepatunya. Ia berjongkok, dan menaruh sepasang sepatunya di depan kaki Aisyah. "Lepas sandal Lo..!" Ucapnya dingin.
Aisyah melepas sandalnya. Membuat Fariz langsung mengambilnya. Ia kembali berdiri. "Pake sepatu gue!"
"Tapi kakak gimana?" Tanya Aisyah.
Fariz terdiam sejenak. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, dia langsung melangkah pergi. Aisyah menoleh ke arah Dinda.
"Udah Syah, pake aja" Ujar Dinda.
Aisyah mengangguk kecil. Dengan cepat dia memakai sepatu Fariz yang lebih besar dari ukuran kakinya. Mereka kembali berjalan cepat menyusul teman temannya.
"Kak,,," panggil Aisyah saat langkah mereka sudah sejajar. Fariz terus melangkah tanpa menoleh. "Makasih ya" Ujar Aisyah. Benar benar tulus.
•••••
"Gimana keadaan Lo fa?" Tanya Lina.
"Udah mendingan lah dari sebelumnya" Jawabnya. "Lin..."
"Apa?"
"Kok sepi. Ga ada yang jenguk"
"Abah dan semuanya pasti lagi sibuk ngurusin pesantren. Dinda sama Aisyah juga lagi pergi camping kan. Mungkin kalau mereka berdua ga pergi bakal rame" Lanjutnya. Lina mengangguk mengiyakan.
"Lin ajak gue keluar dong. Bosen di sini" Pinta Syifa.
Tok tok tok
Mereka berdua menoleh. Seorang mbak pengawas masuk dengan membawakan parcel buah di tangannya. "Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam" Jawab Syifa dan Lina.
"Oh iya ini, anti dapat kiriman buah dari ustadzah Rina. Beliau tadi mau kesini, tapi tidak enak badan. Ana taruh di sini ya..." Ucapnya dengan menaruh parcel buah di atas meja yang bersebelahan dengan ranjang rumah sakit.
"Iya, terima kasih mbak" Ujar Syifa.
"Afwan" Mbak pengawas beralih menatap Lina. "Kalau anti mau pulang ga papa. Biar temanmu ana yang jaga"
Lina menggeleng. "Eh ga usah mbak. Syifa biar saya yang jaga"
"Anti tidak capek?"
Lina menggeleng.
"Ya sudah kalau begitu. Ana langsung pulang ya..."
"Oh iya mbak"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Mbak pengawas itu kembali pergi. "Lin,, kok dia bilangnya anti ya? Lo tadi di tanyain anti capek? Berarti dia tahu dong kalau Lo itu orangnya anti capek. Iya kan?"
Lina berdecih. "Anti itu kamu!!"
"Oh gitu. Gue ga tahu bahasa Arab soalnya." Balas Syifa lalu terkekeh.
"Makannya, belajar noh sama Dinda"
"Bahasa Inggris aja gue masih puyeng, apalagi belajar bahasa Arab. Yang gue tahu dari bahasa Arab itu mungkin ana, Syukron, Afwan, antum udah itu doang."
"Gue saranin aja deh Lo belajar bahasa Arab. Ya,, walaupun sedikit. Tapi seenggaknya kalau ada orang yang ngomong gitu lagi, Lo ga bakal bikin malu diri Lo sendiri" Ucap Lina dengan membuka parcel buah.
"Iya deh"
"Lo mau buah apa? Gue minta apel ya" Ucap Lina.
"Emm,,, anggur deh"
Lina mengambilkan buah anggur lalu menyerahkannya pada Syifa. "Fa,, gue kok kepikiran Aisyah ya. Nanti kalau dia di apa-apain lagi sama....siapa ya? Emm,, sama Ghea. Oi ya Ghea namanya. Gimana?"
"Kak Fariz katanya ikut ya?" Tanya Syifa.
Lina mengangguk.
"Ya udah, kalau ada kak Fariz ga usah khawatir gitu."
"Masalahnya kak Fariz itu sekarang udah berubah."
"Berubah? Berubah gimana?"
Lina melirik Syifa. "Lo belum tahu ya?"
"Tahu apa?" Syifa bertanya balik.
"Tentang hubungannya kak Fariz sama Aisyah yang sekarang."
Syifa terdiam. "Emangnya kenapa? Hubungan mereka emang lagi ga baik ya??" Tanya Syifa yang belum tahu akan masalah sahabatnya.
Lina menghela panjang. "Ya gitu deh"
"Kok gitu deh. Gue kan tanya tentang Aisyah sama kak Fariz!!"
"Ya gitu deh, nanti Lo juga tahu" Ketus Lina.
•••••
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (Q.S Al Baqarah : 186)
__ADS_1
...******...