
"Wih ada cermin nih..." Ujar Gilang dengan mengambil cermin di atas meja salah satu temannya.
"Mau Lo apain Lang?" Tanya Ojit.
"Nggak. Gue cuma mau ngaca" Jawabnya. "Milor oh milor, siapakah wanita terganteng di dunia ini??"
Mendengar itu Ojit langsung menepuk jidatnya. "Mirror bukan milor!"
"Miror oh milor siapakah wanita terganteng di dunia ini?"
"Heh heh udah dibilangin miror juga. Lagi pula ya, ga ada yang namanya wanita ganteng itu ga ada!"
"Lhah tadi kan gue udah bilang miror!!"
"Sini..." Ojit merebut cermin yang di pegang Gilang. "Mirror oh mirror siapakah pria tertampan di dunia ini??"
"Gilang" Jawab Gilang dengan mengubah suaranya menjadi kecil. "Tuh kan gue...tapi kenapa cewek cewek pada ga nyadar ya kalau gue ganteng?"
Ojit memutar bola matanya. "Stres!"
"Ya udah jangan pegang pegang cermin gue.." Ujarnya merebut cermin yang ada di tangan Ojit dengan kasar.
"GILANG!!" Bentak lili dengan mengambil alih cerminnya. "Ngapain Lo pegang cermin gue!"
"Ya ampuun, cuma pegang doang. Jangan pelit lah li..." Gilang berdecih. "Lagian ngapain sih Lo marah marah terus sama gue. Cinta gue juga selalu Lo tolak. Kurang apa coba gue?"
"Muka itu di bersihin dulu biar ga masem. Kayak Fariz!!"
"Lo ya,,, pandang fisik Mulu. Lagi pula Fariz juga ga bakal suka sama Lo, dia udah suka sama cewek lain. Udah terima gue aja..."
"Nggak!! Udah sana pergi..." Usirnya.
"Li,,, temen gue ini ganteng pake banget," Sahut Ojit. "Lihat ini, jidatnya uwih mengkilap seluas lapangan bola. Hidungnya seperti kancing baju, kumisnya selebat sapu ijuk. Badannya,, setinggi tiang listrik selebar kacang polong. Noh, kurang apa coba??"
"Heh, Ngadi Ngadi lo! Gue ga punya kumis..!"
"Kalau punya lebih menawan dong Lang..."
"Assalamualaikum"
Mereka berdua menoleh. Menatap ke empat lelaki yang kembali ke sekolah bersama sama. "Weeh comeback nih four boy!"
"Four boy four boy jidatmu!!" Gumam Iqbal dengan tetap membantu Fariz berjalan.
Seketika, para siswi langsung berkumpul mengerubungi Fariz.
"Eh riz udah sembuh??"
"Aduh kok udah sekolah'?"
"Aduh Riz kalau belum sembuh jangan di paksain..."
"Riz, emang udah boleh sekolah sama dokternya?"
"Gimana kondisi Lo sekarang?"
"Ah senang gue akhirnya Lo bisa balik sekolah lagi"
"HSSSTT...! Eh kalian, jangan cerewet!! Diem" Ujar Ojit.
__ADS_1
"Iya, balik lagi ke meja masing-masing. Lagi pula Fariz sekolah juga bukan buat nemuin kalian" Timpal Iqbal.
•••••
"Aisyah..."
Aisyah menoleh ke belakang. Sepenuh matanya melihat ke arah Fariz yang berjalan pelan ke arahnya. Tanpa berpikir panjang, Aisyah kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat. "Aisyah...!" Panggilan itu sama sekali tak ia gubris. Dia sudah tidak mau berurusan apapun dengan Fariz. Semua rasa yang sudah ada, ingin dia buang sejauh mungkin kalau bisa. Mungkin cinta bukan jalan yang tepat untuk dirinya saat ini. Ia hanya ingin fokus pada pendidikan.
"Syah..." Langkahnya terhenti saat di depannya tiba tiba saja ada Iqbal. "Tolong Lo jangan lari dari Fariz. Dia cuma mau ngomong baik baik sama Lo. " Ujar Iqbal memberi pengertian.
Aisyah menggeleng. "Aisyah ga bisa."
"Nggak bisa kenapa? Plis Syah, dengerin Fariz satu kali ini aja. Dia rela sekolah cuma demi bisa ketemu sama Lo. Lihat itu, dia sampe kayak kudu ngesot jalannya."
Aisyah langsung menoleh ke belakang. Menatap Fariz yang berjalan sangat pelan menahan sakit di perutnya. Rasa tak tega pun langsung muncul dalam dirinya. "Udah ya, Lo langsung ngomong sebentar aja sama Fariz. Kalau Lo ga mau ngomong, Fariz pasti bakal maksa buat terus sekolah biar ketemu sama Lo. Dan kalau gitu terus, dia ga punya waktu buat istirahat. Padahal Fariz lagi proses penyembuhan. Tapi dianya maksa terus."
Aisyah menghela pelan. Dia langsung membalikkan badan dan berjalan menghampiri Fariz. "Kak..." Panggilnya dengan menatap wajah yang menahan sakit di hadapannya. "Aisyah bantu buat duduk ya..." Ujarnya lalu membantu Fariz sebisa mungkin agar rasa sakitnya tidak bertambah.
"Kak, kenapa kakak ga istiharat aja?"
"Gue ga bisa istiharat kalau belum tenang Syah" Jawab Fariz. "Syah, gue masih nyimpen rasa bersalah besar sama Lo. Dan kalau belum bisa dapatin maaf dari Lo, gue pasti ga bakalan bisa tenang."
"Aisyah udah maafin kakak."
"Semudah itu Lo maafin gue?"
"Emang kenapa? Aisyah bisa ngerti kenapa kakak segitunya waktu itu. Aisyah paham. Jadi kak fariz ga usah merasa bersalah ya..."
Fariz terdiam. "Justru semua ketulusan Lo yang buat gue makin bersalah. Kenapa gue ga bisa percaya sama Lo dulu? Padahal udah banyak yang jelasin kalau Lo itu ga salah."
Aisyah juga ikut terdiam.
"Kita baikan?" Tanya Fariz.
Aisyah mengangguk.
"Maksutnya?"
"Hubungan kita sekarang udah baik. Tapi bukan berarti kita bisa sedekat dulu lagi."
"Lo mau menjauh?"
"Iya."
"Kenapa? Karena Lo sebenarnya masih marah sama gue?"
"Aisyah ga pernah marah sama kakak. Tapi apa yang kakak bilang waktu itu emang bener. Lebih baik kita menjauh."
"Nggak ada cara lain?"
"Itu udah solusi terbaik dalam hubungan kita. Saling menjauh."
Fariz menundukkan kepalanya. Menghela berat dalam diamnya. "Itu udah jadi keputusan Lo??"
Aisyah mengangguk. "Iya"
Mereka saling terdiam sama lain.
"Sebenarnya gue ga mau syah. Tapi kalau itu udah jadi keputusan Lo, iya gue terima. Bukan berarti gue ga suka lagi sama Lo, tapi karena Lo memang berhak memutuskan. Dan gue hargai itu."
__ADS_1
•••••
Detik demi detik, menit demi menit dan hari demi hari. Mereka benar benar saling menjauh, menjaga jarak satu sama lain. Menahan untuk saling berbicara menanyakan kabar. Hanya senyum sapaan yang mereka lemparkan satu sama lain saat berpapasan.
Rindu, iya mereka merasakan itu. Semua kedekatan mereka, kini hanya tinggal memori. Menjadi kenangan untuk ingin mereka ulang kembali. "Andai waktu itu bisa di ulang Syah..." Itu yang di bilang Fariz saat percakapan terakhir mereka waktu itu.
Kini, hanya bisa menatap dari jauh. Tersenyum karena melihatnya tertawa, dan termenung saat melihat guratan sedih di wajahnya. Hanya dari jauh, mereka saling memantau keadaan, memastikannya agar baik baik saja.
Hari demi hari, bulan demi bulan. Mereka semakin di sibukkan oleh keadaan. Hanya sekedar berpapasan pun, kini jarang. Sungguh, seperti orang yang sama sekali belum kenal.
Fariz yang semakin di sibukkan oleh keadaan yang mengharuskannya untuk melakukan ulangan di berbagai mata pelajaran untuk persiapan kelulusan. Tidak hanya dalam bentuk teori, ujian praktek agar lebih mudah memahami apa yang sudah di pelajari kini semakin sering di lakukan. Jadwal yang ia dapatkan pun semakin padat. Sekarang buku lah yang akhir akhir ini sukses untuk menjadi teman dekatnya.
Aisyah, dia pun sama. Pembinaan untuk persiapan lomba yang akan di adakan dalam beberapa bulan lagi itu, membuat jadwalnya semakin hari pun semakin padat. Dia harus merelakan 10 jam waktunya untuk belajar. 7 jam di sekolah, dan sisanya untuk pembinaan. Belum lagi waktu istirahat di pesantren yang harus rela ia potong demi belajar.
Hingga tak terasa bagi mereka, ujian kenaikan kelas telah di adakan. Di sisi lain, kelas dua belas juga harus di hadapkan oleh ujian kelulusan mereka. Berlomba lomba untuk mendapatkan nilai terbaik, pastinya. Hampir semua siswa menghela lega saat berhasil melewatinya. Ada juga yang masih harap cemas dengan hasil yang akan di dapatkannya.
Hingga senyum manis tak bisa tertahan dari setiap siswa yang ada. Rasa lega dan kebahagiaan terpancar nyata di wajah setiap siswa kelas dua belas saat mereka semua di nyatakan lulus oleh pihak sekolah. Rasa syukur pun terus mengalir mereka ucapkan tak henti-hentinya. Pastinya, kini Reyhan yang keluar menyandang gelar sebagai siswa berprestasi.
Warna warni mengalir menghiasi udara halaman sekolahan. Di tambah dengan sorakan gembira para murid. Mereka berlari kesana kemari, mencoretkan tanda tangan di setiap orang yang mereka temui. Baju putih abu abu kini pun, bercorak ramai dengan berbagai warna dan coretan tanda tangan di atasnya. Walaupun memang terlihat bahagia, tetap saja ada rasa sedih yang mana harus berpisah pada temen teman mereka.
Ya, itulah hidup, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dan itu tidak bisa di elakkan. Mereka harus ikhlas, walau ada rasa tak rela untuk berpisah. Namun kehidupan terus berjalan, dan kita harus bisa menciptakan sebuah masa depan yang lebih baik dari apa yang kita jalani saat ini.
•••••
Memasuki tahun ajaran baru, maka semua tanggungan yang masih ada harus segera di lunasi. Contohnya seperti uang gedung, uang buku dan lainnya. Begitu pun dengan perpustakaan. Bagi yang masih meminjam buku, harus segera di kembalikan. Dengan pengembalian yang sudah di beri batasan waktu. Aisyah yang memang sering meminjam buku di perpustakaan, teringat akan dirinya yang masih mempunyai tanggungan buku namun belum juga ia kembalikan. Maka pada hari kedua pengumpulan, dirinya langsung bergegas kesekolah dan berjalan menuju loker. Di situ dia menyimpan bukunya. Semoga masih ada.
Aisyah membuka lokernya. Sedikit lega karena buku yang ia simpan beberapa Minggu lalu masih ada di tempatnya. Sedikit berdebu. Dirinya memang jarang menyimpan barang di loker sekolahan, selain takut hilang, Aisyah juga tipe orang pelupa jika meletakkan barang.
Saat dirinya sibuk meniupi dan membersihkan debu di sampul buku, matanya terarahkan pada secarik kertas yang ada di sana. Aisyah pikir, dirinya tidak pernah meletakkan secarik kertas apapun di lokernya. "Apa mungkin lupa ya pernah taruh kertas di sini?" Tanya nya pada dirinya sendiri.
Aisyah mengambil kertas tersebut, lalu membaca tulisan yang tertera di dalamnya.
Aisyah...
Awal yang menyebut namanya itu membuat Aisyah terdiam. Dari siapa ini? Dan sejak kapan ada di sini? Aisyah kembali membacanya dari awal.
Aisyah...
Gue minta maaf sama Lo, maaf atas semuanya
Atas semua kata kata dan tingkah laku gue yang bikin lo sakit hati, gue minta maaf,
Gue juga mau bilang terima kasih sama Lo,
Terima kasih atas semua kisah yang udah Lo coretkan di kehidupan gue,
Terima kasih udah hadir di kehidupan gue, Terima kasih atas segala senyuman yang selalu Lo berikan buat gue. Jujur, gue beruntung bisa ketemu dan kenal sama Lo Syah,,,
Aisyah....
Nama itu, ga mungkin gitu aja hilang dari hati gue
Gue pamit,
Bila takdir berpihak pada kita, gue yakin kita pasti bakal ketemu
Sampai jumpa di lain waktu, jaga diri Lo baik baik ya, jangan sampai sakit.
Assalamualaikum...
__ADS_1
-Salam Fariz-
...********...