Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Ukiran Pohon


__ADS_3

"Haah,,. gue bosen jomblo terus. Pepet Aisyah ah!" Ujar Iqbal.


Fariz melirik tajam Iqbal. "Berantem?"


Seketika Iqbal, Ojit dan Gilang tertawa keras mendengar jawaban Fariz. "Weh, langsung ngajak gelud dong!!" Ujar Iqbal.


"Eh Riz, Lo kok bisa suka sama Aisyah sih? Kan ada banyak tuh cewek yang cantik. Mendingan si Ghea aja tuh kalau gue" Ujar Gilang.


"Buat apa cantik kalau sifatnya aja gitu" Ucap Iqbal.


"Gue juga ga tahu, kenapa gue bisa sesuka itu sama dia. Tapi yang pasti, di antara beribu cewek yang gue temuin, cuma dia yang bisa bikin gue nyaman. Padahal Ghea lebih lama Deket sama gue, tapi gue ga bisa senyaman itu sama Ghea. Dan yang pasti, Aisyah itu sederhana orangnya." Jelas Fariz.


"Kalau emang orang yang cintanya tulus, dia emang ga bakal Mandang fisik, harta dan lainnya" Ujar Ojit sok bijak.


"Ya udah kalau gitu Ghea buat gue aja" Kata Gilang.


"Mana mau dia? Ghea itu seleranya tinggi" Ucap Iqbal.


"Eh ga jadi deh, kayaknya gue lebih tertarik sama yang lain" Gilang melirik Reyhan yang sibuk mengerjakan latihan soal olimpiade. "Capek gue jomblo mulu, pepet syifa ah!" Ujar Gilang. Reyhan yang mendengarnya pun tidak mempedulikan perkataan Gilang.


Gilang cemberut melihat Reyhan yang tidak merespon apapun. Ia menoleh ke arah Ojit. "Lo ga capek jomblo Mulu jit? Pepet siapa kek!"


"Gak! Gue setia sama Paijo" Jawab Ojit jujur.


Gilang menghembuskan nafas kasar. "Lo pikirannya Paijo Mulu. Paijo itu kan jantan nih ya, biarin dia cari yang betina kek"


"Paijo udah punya istri. Gue juga ga tau kapan nikahnya"


"Weh, kapan tuh nikahnya?" Tanya iqbal.


"Gue juga ga tau. Ngilang beberapa hari, eh Dateng Dateng udah bawa betina aja tu ayam" Ujar Ojit. "Mana nikahnya ga minta restu gue dulu lagi"


"Mana ada ayam nikah minta restu dulu. Otak Lo kayaknya perlu di cuci deh jit" Ketus Gilang dengan memukul kepala Ojit pelan dengan bukunya.


"Ya kan kalau nikah harus minta restu dulu, kalau ga di restuin ga sah dong pernikahannya!"


"Udah udah, Ojit bawa ke RSJ aja. Bawa bawa Lang!" Ujar Iqbal.


"Iya nanti deh"


"Tinggal sama ayam, bukannya makin bener malah makin stress" Gumam Iqbal.


Iqbal mengalihakan pandangannya dari kedua teman konyolnya itu ke arah Reyhan yang sedari tadi sibuk dengan dunianya sendiri. "Han, Lo ga pembinaan lagi?"


"Nanti kalau pulang" Jawab Reyhan.


Iqbal manggut-manggut mengerti. "Han, udahan dulu lah ngerjain soalnya dulu. Otak sekali kali buat seneng seneng kek, jangan di seriusin Mulu buat ngerjain soal. Gak mumet apa tu kepala"


"Nanti aja kenapa sih ngerjainnya, waktu di pesantren. Kan lebih enak"


•••••


16.50


"Paham semuanya?" Tanya kakak senior.


"Paham kak!" Jawab semuanya.


"Aduh,, cepetan pulang dong kak.." Gumam Syifa yang tidak sabaran ingin pulang ke pesantren. Hari ini ada jadwal ekskul drumband di sekolah, membuatnya harus pulang terlambat hari ini.


"Mana gerah lagi, hufft.." Gumamnya lagi.


"Yang belakang! Paham ga?" Tanya nya dengan setengah berteriak menatap Syifa. "Yang belakang!!"


"Heh,, Lo itu di panggil" Bisik perempuan di samping Syifa.


Syifa menatap kakak seniornya. Lalu menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"


"Iya kamu. Paham ga?"


Syifa terdiam bingung. Eh paham apa? Emm tinggal iya iyain kali ya.


"Eh iya ya, paham kak. Paham"


Lelaki yang berada di depan barisan para juniornya itu mengangguk. "Ya sudah kalau begitu silahkan kalian pulang"


Syifa menghela lega. Akhirnya pulang juga. Cepat cepat Syifa mengambil tasnya, lalu berlari secepat mungkin sebelum gerbang pesantren di tutup. Walaupun dirinya sendiri sudah cukup lelah hari ini. "Pak, pak...bukain gerbangnya dong!" Teriak Syifa.


Pak Maman berjalan mendekati gerbang, dan berdiri di depan Syifa dengan gerbang besi sebagai penghalangnya. "Kok pulang terlambat neng?"


"Tadi ada ekskul pak, tolong bukain ya.." Ujar Syifa dengan nafas yang masih ngos ngosan.


"Haduh gimana ya neng,,"


"Pak pliss lah, bantuin saya. Ya..."


Ustadzah Rina yang tak sengaja melihat Syifa yang di luar gerbang langsung mendekati mereka. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab pak Maman dan Syifa.


"Kenapa kamu pulang terlambat?" Tanya ustadzah.


"Tadi ada ekskul ustadazh," Jawab Syifa apa adanya.


Ustadzah menatap Syifa yang wajahnya di penuhi keringat. Gadis itu juga seperti kelelahan, karena latihan drumband selama beberapa jam. Ustadzah Rina mengangguk. "Bukain pak!"


"Baik ustadzah" Pak Maman langsung membuka gerbang yang di gembok tersebut, membuat Syifa juga langsung memasukinya.


Syifa menyalami tangan ustadzah Rina. "Kamu langsung pergi ke kamar ya. Siap siap untuk sholat Maghrib. Sekarang adzan Maghrib maju beberapa menit dari biasanya"


Syifa mengangguk. "Iya ustadzah. Saya pamit dulu. Assalamualaikum" Ujarnya dengan kembali mencium punggung tangan wanita anggun di depannya.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh"

__ADS_1


Syifa langsung berjalan ke kamarnya. Dengan sesekali mengatur nafasnya yang masih tidak beraturan. "Assalamualaikum" Ujarnya dengan membuka pintu kamar.


"Waalaikum salam" Jawab Aisyah, Lina dan Dinda.


"Kok baru pulang fa?!" Tanya Aisyah.


"Iya, itu tadi kakak senior ceramah panjang lebar dulu. Baru dipulangin" Syifa mendudukkan tubuhnya di kasur.


Syifa membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebotol air yang selalu ia bawa saat sekolah. Tenggorokannya sangat kering saat ini. Butuh asupan mineral. Ia meminum lalu meneguknya hingga habis. "Ah,, Alhamdulillah..."


Dengan cepat Syifa langsung mengambil pakaiannya yang ada di lemari dan mengambil beberapa peralatan mandi. "Gue mandi dulu ya" Ujarnya yang di angguki oleh semuanya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Syifa langsung berjalan cepat menuju kamar mandi. Sesampainya di sana ia langsung berhenti menunggu di depan salah satu pintu kamar mandi dengan menatap dua orang yang masih terlihat mengantri untuk mandi. Sedangkan tiga pintu kamar mandi lainnya tertutup. "Di dalem ada orangnya ga?" Tanya Syifa pada keduanya.


"Na'am ukhty" Jawab gadis yang mengantri pada kamar mandi nomor 2.


"Ah jangan panggil ukhty. Panggil Syifa aja" Ujar Syifa.


"Na'am"


Syifa menghela pelan. "Kenapa harus pake na'am sih. Pake iya aja gitu, biar lebih ngerti gue"


Gadis itu mengangguk. "Iya Syifa"


"Nah gitu kan lebih enak..."


"Eh Syifa, ana masuk dulu ya" Ujarnya karena orang yang ada di dalam sudah keluar.


Syifa hanya mengangguk.


Gadis itu tampak menadahkan tangannya membaca doa sebelum memasuki kamar mandi, setelah selesai ia baru memasukinya. "Kenapa ya kebanyakan anak pesantren sini bilangnya ukhty ukhty?" Gumam Syifa. "Apa emang kebanyakan santri emang ngomongnya gitu ya. Biar kelihatan lebih islami gitu...?!"


Syifa menoleh ke kanan. Ternyata gadis yang satunya lagi juga sudah memasuki kamar mandi. "Ni orang ngapain coba, lama banget!"


Syifa menggedor-gedor pintunya. "Woy! Cepetan Napa sih! Lama banget!!" Ujarnya setengah berteriak.


"SABAR!" Terdengar suara sahutan dari dalam kamar mandi.


Tak lama pintu terbuka. "Maaf kalau lama ukh"


Syifa hanya tersenyum kikuk. "i-iya.."


"Ana duluan ya ukh, assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Syifa dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tuh kan, pake ukhty lagi" Gumam syifa. Bagi Syifa berbicara seperti ana, ukhty, antum dan lainnya cukup asing di telinganya. Mungkin karena Syifa tidak terbiasa dengan bahasa seperti itu. Dia hanyalah gadis kota yang hanya ingin mencoba suasana baru dengan tinggal di pesantren. Toh, di lingkungannya dulu juga tidak ada yang berbicara dengan bahasa itu. Ya, walaupun Syifa sering beberapa kali mendengar para santri menggunakan bahasa itu dalam berbincang-bincang.


Syifa mengedikkan bahunya. "Mendingan gue mandi, bentar lagi kayaknya adzan Maghrib"


"Ya Allah,, kerudungnya mana?" Ujarnya bingung. "Haduh, gue lupa bawa lagi. Terus gimana ini?"


Syifa berdiri seperti orang linglung. Bingung apa yang harus ia lakukan. Syifa mengedarkan pandangannya. Sebuah ide terlintas di pikiran nya. "Pake handuk aja kali ya"


Karena tak mau membuang waktu ia langsung saja memakaikan handuk itu di kepalanya. Bodo amat orang akan bilang apa nanti saat melihatnya, yang terpenting rambutnya tidak terlihat. Syifa keluar dari kamar mandi. Sebuah alunan merdu yang tidak pernah bosan di dengarnya terdengar indah di telinga syifa.


"Haduh, kan udah adzan" Ucap Syifa yang langsung berlari ke kamarnya.


Melihat kamar yang sepi membuat Syifa semakin cemberut. "Gue di tinggalin nih"


Cepat cepat Syifa mengambil kerudung dari lemarinya.


Braak


Dirinya terkejut, ia langsung menoleh ke arah pintu. Sebuah pelototan tajam dan galak terjurus ke arahnya, membuat gadis itu bergidik ngeri. "Kenapa masih di sini?" Tanya mbak pengurus dengan judesnya.


"Eh anu mbak,.."


"Anu apa? Cepat ke mushola!"


Syifa mengangguk. "i-iya mbak" Syifa langsung berjalan mengambil mukenanya lalu berjalan cepat keluar kamar.


"Permisi mbak.." Ujarnya saat melewati mbak pengurus judes itu.


Namun bukannya menjawab apa kek, mbak pengurus malah tambah memelototi Syifa. Dengan di tambah lagi memukul punggung Syifa dengan sajadahnya. "Aww..." Ringis Syifa mengusap ngusap punggungnya.


"Cepet ke mushola! Harusnya sebelum adzan sudah ada di sana. Ini sudah mau Iqamah masih di sini!" Ujarnya dengan nada galak. Tidak ada lembut lembutnya.


Syifa menatap nya kesal. "Iya.." Jawabnya lalu langsung berlari pergi. Selang beberapa detik Syifa kembali lagi.


"Kenapa balik?" Tanya mbak pengurus.


"Anu mbak, sajadah saya ketinggalan" Ujar Syifa dengan kembali masuk ke kamar mengambil sajadahnya.


"Permisi.." Kata Syifa lagi dengan melewati mbak pengurus, lalu kembali berjalan keluar kamar.


Saat sudah beberapa meter berjalan dari kamarnya, Syifa menghentikan langkahnya. Lalu menoleh ke belakang, melihat mbak pengurus yang masih setia memelototi nya. "MBAK JANGAN GALAK GALAK! MUKA MBAK UDAH KELIHATAN TUA TUH, PASTI GARA GARA MARAH TERUS..!" Teriak Syifa tanpa dosa.


"AWAS AJA YA ANTI!" Teriak mbak pengurus yang sepertinya juga kesal.


Syifa berlari kencang dengan menahan tawanya. Puas sekali dia mengerjai mbak pengurus itu. Sesampainya di mushola Syifa langsung berlari ke tempat wudhu. Namun betapa terkejutnya ia saat melihat beberapa lelaki yang tengah berwudhu di sana. Dan para santriwan yang ada di sana juga tak kalah kagetnya dengan keberadaan Syifa.


"Ukhty? ngapain anti?" Tanya salah satunya kaget.


"Ini..." Syifa mengedarkan pandangannya. Dan ternyata dia salah masuk.


Syifa menepuk jidat. "Haduuhh..."


"Ukhty ini tempat wudhu pria" Sahut yang lainnya.

__ADS_1


Syifa memegangi kepalanya. "Oi ya ukhty...aduh ukhty salah masuk kamar kayaknya. Pamit dulu ya. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab mereka yang ada di sana.


Syifa kembali berlari keluar dari tempat wudhu pria dengan menanggung rasa malunya. "Alamak...salah alamat gue!" Gumam Syifa malu.


•••••


"Kalian tau ga sih, malunya gue tadi?!" Ujar syifa menceritakan semuanya.


"Ya Lo kenapa pake salah masuk sih?" Tanya Lina.


"Ya tadi gue buru buru, jadi ga sempet lihat tulisan"


"Tapi kan kamu udah hafal mana tempat wudhu pria sama tempat wudhu wanita" Timpal Aisyah.


"Ga tau deh Syah, tiba tiba aja gue lupa"


"Menolak pikun Lo" Ucap Lina.


"Eh Din, orang orang sini kalau ngomong pake ukhty ukhty an gitu ya?!"


Dinda mengangguk. "Iya, mereka emang udah biasa pake bahasa kayak gitu"


"Ga usah di heranin lah, namanya juga anak pesantren. Wajar bahasanya gitu" Ujar Lina.


"Ya udah kalau gitu, kenapa kita ga coba pake bahasa itu aja" Saran Syifa.


"Nggak ngga nggak! Gue udah terbiasa pake bahasa biasanya, kalau pake bahasa itu kayaknya kurang sreg di gue" Ujar Lina. Sama halnya seperti Syifa, Lina yang terbiasa dengan kehidupan kota sudah terbiasa memakai lo-gue sebagai bahasa sehari harinya.


Syifa mengangguk paham. "Tapi kok Lo ga pake bahasa kayak mereka sih Din? Lo kan malah lebih lama tinggal di pesantren" Kata Syifa.


Dinda menggeleng. "Aku lebih nyaman pake aku-kamu" Jawabnya. "Lagi pula aku selalu inget kata Gus Dur."


"Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk Aku jadi Ana, Sampeyan(kamu) jadi Antum dan Sedulur(Saudara) jadi Akhi. Kita pertahankan milik kita, kita harus filtrasi ajarannya tapi bukan budayanya..."


"Aku selalu ingat kalimat itu. Tapi mungkin bahasa seperti itu lebih nyaman mereka gunakan. Apalagi mereka ini anak pesantren, mungkin menurut mereka bahasa seperti itu lebih sopan. Tapi balik lagi ke diri sendiri. Semua punya pendapat yang berbeda" Lanjut dinda.


•••••


"Aisyah, ada yang nungguin Lo nih..." Ujar Inez membuat Aisyah dan Syifa langsung menoleh ke arahnya yang berdiri di ambang pintu kelas.


"Siapa yang nungguin Lo Syah?" Tanya Syifa.


Aisyah menggeleng. Isyarat bahwa dirinya pun tak mengetahuinya.


Syifa tersenyum. "Kak Fariz pasti. Udah sana temuin"


Aisyah mengangguk pelan. Ia menutup bukunya, berdiri, lalu berjalan ke arah pintu.


"Assalamualaikum"


Aisyah menatap lelaki di sampingnya. Benar saja, ternyata Fariz yang menunggunya. "Waalaikum salam"


"Ada apa kak?" Tanya Aisyah.


"Ikut gue"


Aisyah mengernyitkan dahinya. "Kemana?"


"Ikut aja!" Ucap Fariz semangat.


Aisyah terdiam, lalu mengangguk pelan. Mereka berdua langsung pergi, dengan Aisyah yang berjalan mengekori Fariz dari belakang. Entah mau membawanya kemana laki laki ini.


"Kenapa kakak bawa Aisyah ke sini?"


"Lo lihat ya..."


Fariz mengedarkan pandangannya ke tanah. Lalu mengambil batu. Sedangkan Aisyah, jujur dia juga tidak merasa nyaman harus berdua dengan Fariz di taman belakang yang sepi ini. Ia juga tidak tahu apa yang akan di lakukan Fariz kali ini.


Fariz seperti menuliskan sesuatu di batang pohon mangga besar nan rindang yang tumbuh subur di taman belakang. Setelah selesai, Fariz tersenyum lebar dengan menatap tulisan yang baru saja ia cantumkan di batang pohon tersebut.


Fariz menatap Aisyah. "Sekarang Lo yang nulis"


"Hah? Aisyah?" Aisyah menunjuk dirinya sendiri.


"Iya Lo. Ini..." Fariz menyodorkan batu yang ada di tangannya.


Dengan ragu Aisyah mengambilnya. "Tulis di batang pohon ini" Lanjut Fariz.


Aisyah melangkah maju mendekati pohon mangga tersebut. Ia menatap Fariz sekilas. "Ini,, Aisyah harus nulis apa kak?"


"Huruf A" Jawab Fariz. "Nulisnya setelah titik ini" Fariz menunjuk titik besar yang ia ukir di pohon.


Aisyah mengangguk paham. Ia melakukan apa yang di perintahkan Fariz. Walaupun sebenarnya Aisyah sendiri juga tidak mengetahui alasan dirinya di suruh menulis huruf A di batang pohon mangga ini.


"Udah kak"


Senyum Fariz semakin mengembang. Membuat ketampanannya bertambah 5 kali lipat. Di pastikan kalau perempuan lain yang kini di posisi Aisyah sudah panas dingin tubuhnya. Pasalnya Fariz tidak pernah melontarkan senyum kepada perempuan mana pun, kecuali perempuan yang memang khusus ada di kehidupannya. "Mana batunya?!"


Aisyah menyerahkan batu tersebut. Dengan cepat namun lembut Fariz mengambilnya. Ia kembali mengukir sesuatu di pohon tersebut.


"Lo lihat ini..." Ujar Fariz membuat Aisyah menatap batang pohon tersebut.


Terdapat tulisan 'F. A' di kurung dengan bentuk love besar di luarnya. "F. Itu Fariz dan A. Itu Aisyah" Gumam Fariz.


Fariz mengusap ukiran pohon yang baru saja di buatnya bersama gadis itu. Gadis yang pasti kalian tahu seperti apa perasaan Fariz padanya. "Gue bakal terus mengingat ukiran pohon ini!"


Fariz menundukkan kepalanya. Kini, dirinya tidak bisa berkata apa apa. Semenjak kapan ia bisa secinta ini dengan seorang perempuan. Padahal sebelumnya, Fariz sama sekali tidak mau terikat dengan hubungan seperti ini. Hubungan yang mengharuskan nya mencintai seseorang. Tapi saat ini? Dirinya benar benar tidak bisa mengendalikan hatinya.


Tidak ada sesuatu yang terlalu spesial dari gadis ini. Namun, cukup membuat hati Fariz terjerumus dalam cintanya. Dan yang sering membuat Fariz bertanya tanya adalah...Kenapa harus dia? Padahal benar kata teman temannya, masih ada yang cantik dan sempurna. Dan semua jawaban, hanya Allah yang maha mengetahui nya.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2