Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Siapa?


__ADS_3

"Jadi habis dari sini mau ngelanjutin kemana?" Tanya Syifa pada ketiga sahabatnya di tengah ramainya perbincangan kantin saat ini.


Lina menelan batagor yang selesai ia kunyah. Nafsu makannya saat ini sedang tinggi. "Gue kuliah di kota gue aja lah. Surabaya. Kalau Lo rencananya mau kemana?"


"Gue ma di sekolah pramugari lah. Kan cita cita gue jadi pramugari" Jawab Syifa senang. "Kalau Lo Syah?"


"Belum tahu, masih bingung fa. Tapi pengannya sih masuk UI" Jawab Aisyah.


"UI? Universitas Indonesia itu?" Tanya Syifa.


Aisyah mengangguk.


"Itu susah lhoh Syah masuknya"


"Ya semoga aja bisa" Jawab Aisyah.


"Aamiin" Ujar ketiganya.


"Kalau Lo Dinda, mau kemana?" Tanya Lina.


Dinda terdiam. "Pengen nya sih ke Tarim. Tapi ga tau bisa kesana apa nggak."


"Tarim? Universitas apa itu?" Tanya Syifa.


Dinda dan Aisyah tertawa kecil. "Tarim itu nama kota bukan universitas." Jawab Dinda.


"Kota di mana? Kok gue ga pernah denger" Kali ini Lina yang berbicara.


"Di Yaman" Jawab Aisyah.


"Berarti di luar negeri dong"


Aisyah dan Dinda mengangguk.


"Kenapa ga ke London aja yang lebih modern atau ke Arab lebih enak"


"Karena setetes ilmu di Tarim lebih baik dari pada lautan ilmu di luar Tarim. Tarim memang tak semodern dubai, tak sekeren jepang, Korea ataupun negara lainnya juga tak secanggih cina. Walaupun Tarim berpadang pasir, tapi keindahannya menyisakan rindu yang membuat kalian ingin kembali pada kota Syurga nya dunia itu." Jawab Dinda.


Waktu malam, kota Tarim di liputi kesunyian,


Bila tiba waktu tahajud di sepertiga malam,


Datang azan membangunkan insan,


Suara dzikir dan bacaan Al Quran,


Sahut menyahut kedengaran,


Indahnya dalam bermunajat kepada Tuhan.


"Tarim itu kota seribu wali. Selain itu aku juga pengen belajar jadi seperti wanita Tarim, wanita yang mempunyai rasa malu yang sangat tinggi. Wanita yang menjadikan Sayyidah Fatimah Az-Zahra sebagai idola dan panutannya. Kalau udah di sana, percaya atau ga, urusan dunia itu Hanya sebatas debu"


Mendengar penjelasan dinda yang panjang kali lebar tentang Tarim tersebut membuat mereka manggut manggut. "Ya udah, kita doain yang terbaik buat Lo. Apapun yang Lo impikan semoga aja bisa terwujud" Ujar Lina.


"Aamiin. Makasih ya"


Lina mengangguk. "Kalau gitu gue ke kelas duluan ya" Kata Lina yang di angguki oleh ketiganya. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Lina berdiri dari tempat duduknya. Belum lagi ia melangkah keluar dari meja, tawa seorang perempuan pecah di ikuti tawa yang lainnya. Membuat Lina sekaligus ketiga sahabatnya bingung. Memang ada yang salah?


"Ada apa sih?" Tanya Lina pada Syifa yang masih terduduk di tempatnya.


Syifa menatap Lina dengan menggeleng. Tak lama matanya membelalak sempurna, dengan cepat Syifa menarik keras pergelangan tangan Lina hingga membuat Lina kembali terduduk. "Apaan sih?" Tanya Lina.


"Mereka ngetawain Lo"


"Ngetawain kenapa?"


"Haid Lo, tembus"


Lina melotot. "Tembus?"


"Iya. Itu di rok belakang, ada bercak darahnya" Ucap Syifa.


"Ya terus gimana dong nasib gue.." Kata Lina bingung.


"Lo ga pake pembalut kan?" Tebak Syifa namun sangat tepat.


Lina mengangguk. "Kenapa ga pake?" Tanya Syifa.


"Ya gimana mau pake coba. Mau beli aja ga sempet!"


"Lo pasti pake celana dalemnya double ya?"


"Hih diem Lo!"


"Ya udah kalau gitu Lo jangan kemana mana dulu. Di sini aja.." Ucap Syifa yang langsung membuat Lina mengangguk dengan menghela pelan. "Nasib perempuan" Gumam Lina.


"Nih..." Lina menatap sebuah jaket yang di sodorkan tepat di hadapannya. "Pake jaket gue dulu."Secara perlahan Lina mengalihkan tatapannya dari jaket ke orang yang menyodorkannya. Verel? Batin Lina.


Lina terdiam dengan tetap menatap verel. "Zina.." Bisik Syifa membuat Lina mengalihkan perhatiannya.


"Lin.." Panggil verel.


"Udahlah Lin, ambil aja. Dari pada Lo malu" Sahut Syifa.


Lina terdiam nampak berpikir. Benar juga, lebih baik dia meminjam jaket verel dulu setidaknya sampai nanti pulang sekolah. Dari pada nantinya ia menanggung malu karena di tertawakan orang orang? Lina mengambil jaket tersebut dengan tersenyum kikuk melihat verel. "Makasih rel"


"Ya sama sama"


"AISYAAAAH....AISYAAH..." Ke empatnya secara refleks langsung menutup telinganya mendengar teriakan melengking yang menusuk telinga.


"Et dah umpil,,, ngapain teriak teriak coba" Gumam Syifa.


"Ada apa umpil?" Tanya Aisyah.


"Itu, si Sasa lagi di seret sama orang orang. Katanya di suruh pindah sekolah, soalnya sekolah lain pada jelek jelekin sekolah ini gara gara denger beritanya si Sasa. Terus yang lainnya pada marah, dan langsung nyerbu dia" Jelas umpil.


"Terus kenapa bilang ke Aisyah?" Tanya Lina.


"Ya Soalnya dia teriak teriak minta tolong sama Aisyah"

__ADS_1


"Ya Allah..." Gumam Aisyah lalu berdiri dan berlari begitu saja.


Membuat ketiganya juga langsung ikut berdiri. "Eh Lin Lin..." Panggil Syifa.


"Apa?"


"Jaketnya pake,,"


"Oi ya" Lina langsung mengikat jaket verel di pinggangnya, dengan bagian punggung jaket yang berada di belakang roknya untuk menutupi bercak darah haid nya yang tembus. Ke empatnya langsung berlari menyusul Aisyah, dengan verel yang juga ikut bersama mereka. Sesampainya di sana mereka melihat Iqbal yang sibuk membubarkan sekumpulan murid tersebut, lalu menghampiri Sasa yang duduk dengan di temani Aisyah. Tampak Iqbal cukup perhatian terhadap Sasa. Membuat Lina menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.


Iqbal pun tak sengaja melihat Lina yang berdiri di samping verel, membuat tatapan mereka bertemu. Namun dengan cepat Lina memutusnya yang kini beralih menatap sekilas verel.


"Rel..." Panggil Lina. Verel menoleh dengan mengangkat sebelah alisnya, menanyakan apa?


"Gue mau ngomong sesuatu sama Lo. Tapi ga di sini."


"Dimana?" Tanya verel.


"Di tempat yang sepi aja" Ujar Lina lalu beranjak pergi di ikuti verel yang berjalan di belakangnya.


"Ada apa Lin?" Tanya verel.


Lina menundukkan pandangan nya. Terdiam cukup lama lalu menghela pelan. "Gue mau tanya tentang Iqbal"


Mendengar nama Iqbal di sebut, Lina langsung menemukan perubahan pada wajah verel. "Apa?" Tanya verel dengan nada dingin.


"Sebenarnya Lo punya masalah apa sama Iqbal? Maaf, bukannya gue mau ikut campur. Tapi ga semua masalah harus di selesaikan dengan kasar. Mungkin kalian bisa bicarain baik baik, bukan dengan berantem kayak gitu!"


Verel menghela berat. "Susah rasanya buat ngomong baik baik sama dia. Gue udah terlanjur benci, semua gara gara keluarga dia. Hidup gue, sekarang ga seperti dulu lagi."


"Emang keluarga Iqbal ngelakuin kesalahan apa sama Lo? Hingga buat Lo sebenci itu sama dia" Tanya Lina.


Verel menggeleng. "Gue ga bisa kasih tahu masalah keluarga ke orang lain"


Lina mengangguk mengerti. "Iya gue ngerti. Cuma gue mau kalian selesaikan masalah dengan kekeluargaan, dengan dewasa. Lo juga ga akan pernah tahu apa yang sekarang Iqbal rasain."


•••••


Lina dan Aisyah berjalan bersama pulang sekolah. "Eh Syah, gue mau beli minum dulu ya" Ujar Lina.


"Iya"


Keduanya langsung berjalan ke toko kecil penjual makanan ringan di pinggir jalan. Sedangkan Aisyah menunggu Lina dengan menatap jalanan dengan lalu lalang kendaraan dan beberapa siswa siswi yang baru pulang sekolah. Beberapa detik, Aisyah memicingkan matanya, memperjelas penglihatan nya. Seorang gadis dengan rambut tergerai sedikit berantakan, yang baginya tidak asing. Orang itu, seperti hendak menyeberang jalan, namun anehnya tatapannya terus menghadap depan dengan kakinya yang terus melangkah pelan. Beda dengan mayoritas orang yang saat ingin menyeberang menoleh kanan kiri dulu untuk memastikan keadaan.


Gadis itu terus melangkah maju sedikit demi sedikit. Sama sekali tak menghiraukan suara klakson motor yang berbunyi juga dengan orang yang meneriakinya agar menyeberang jalan dengan benar. Aisyah berjalan cepat ke arah gadis itu, bertepatan dengan itu tatapannya terhenti pada sebuah mobil besar yang melaju cepat, hal yang membuat aisyah langsung terkejut dan degupnya yang berdetak lebih kencang.


"AISYAH LO MAU KEMANA?!" Teriakan Lina dari arah belakang pun tak di hiraukan Aisyah. Dengan cepat Aisyah melangkahkan kakinya secepat yang ia bisa, berlari cepat ke arah Sasa yang masih beberapa meter darinya. Melihat mobil yang terus melaju dan seakan akan tak sadar bahwa beberapa meter dari jaraknya ada seorang gadis yang sedang menyeberang jalan. Hal yang membuat Aisyah langsung berlari kencang.


Dengan cepat Aisyah menggapai pergelangan tangan Sasa lalu menarik paksa tangan Sasa, membuat Sasa langsung jatuh dan berguling ke samping Aisyah. Sementara Aisyah juga ikut terjatuh, namun dirinya baik baik saja. Hanya telapak tangannya yang tergores aspal hingga lecet dan perih. Pandangannya langsung tertuju pada Sasa, gadis itu tergeletak dengan mata terpejam juga beberapa luka di bagian tubuhnya. "Sa,, Sasa bangun sa!" Ujar Aisyah dengan menepuk nepuk pipi gadis itu.


Kini panik, khawatir, cemas semua bercampur jadi satu pada diri Aisyah. "Sasa bangun, bangun sa!!"


•••••


Minyak khas yang dikemas dengan botol hijau itu sedari tadi si oleskan di kening Sasa, juga di dekatkan pada lubang hidungnya agar terhirup dan cepat sadar. Sedangkan Lina berdiri dengan menatap Sasa yang masih terbaring di ranjang UKS. "Nekat banget jadi orang!" Gumam Lina.


"Lin, kalau kamu mau pulang duluan juga ga papa. Ini Sasa,, biar aku yang jagain" Ujar Aisyah.


Lina mengangguk. "Ya udah gue pulang duluan ya. Tapi ga papa Lo di sini?"


"Iya"


Aisyah mengerutkan keningnya. "Siuman maksutnya?"


"Iya itu"


Sasa mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dengan tangan kanan yang memegangi kepalanya yang terasa berat dan pusing. "Dimana gue?" Tanya Sasa yang belum sepenuhnya sadar.


"Alam jin!!" Jawab Lina nyolot. "Heh sa, ngapain sih pake ikut ajang percobaan bunuh diri? Sumpah gabut banget Lo. Saking gabutnya pengen cepet cepet di cabut nyawa Lo!"


"Lina..." Gumam Aisyah dengan menatap Lina.


"Ya udah Syah, gue pulang duluan ya. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Aisyah.


Aisyah menatap Sasa yang meringis kesakitan. "Mau ngapain?"


"Duduk" Jawab Sasa membuat Aisyah langsung membantunya. Sasa menatap tangan dan kakinya yang terluka.


"Udah aku obatin kok lukanya"Ujar Aisyah.


Sasa menatap Aisyah. "Lo yang nyelametin gue?"


Aisyah mengangguk. "Kenapa?" Tanya Sasa.


"Kenapa? Kenapa kamu bilang? Aku lihat kamu yang hampir ketabrak sama mobil dan aku harus diem aja, gitu mau kamu?"


"Iya. Lo harusnya biarin gue mati, percuma gue hidup. Tapi kehidupan gue hancur!" Ujar Sasa dengan mata berkaca-kaca. "Percuma kalau gue hidup tapi udah ga ada harapan lagi, buat apa?!" Lanjut Sasa.


"Sa, bunuh diri itu bukan pilihan yang tepat!! Setiap masalah itu ada solusinya, ga harus kayak gini!"


"Tapi gue udah ga kuat! Gue ga sekuat dan setegar Lo Syah, yang dihina selalu sabar." Kata Sasa dengan air mata yang terus bercucuran. "Gue di sini udah ga punya siapa siapa lagi. Mama, orang yang gue kira selalu ada di hidup gue, selalu nemenin gue waktu susah ataupun senang, dia justru pergi ninggalin gue sendirian. Mama udah ga peduli sama gue. Rara sama Carin, mereka yang gue kira sahabat juga ga peduli sama keadaan gue sekarang. Semua orang terus ngehina gue tanpa tau apa yang selama ini gue derita. Terus buat apa gue hidup Syah, kalau di situ gue berada di situ juga orang orang yang ada di sekeliling gue ga bisa nerima keberadaan gue. Mereka terus ngusir dan ngehina gue!" Cerita Sasa dengan nada antara emosional dan tidak berdaya.


"Tapi kamu masih punya Allah sa. Di saat semua orang menjauh, Allah yang masih setia di samping kamu. Dan kamu juga masih punya aku kan? Aku juga bakal belain kamu di sini. Aku akan terus temenin kamu!" Ujar aisyah.


Sasa menghapus air matanya. "Allah mungkin juga marah sama gue, itu sebabnya hidup gue di buat menderita kayak gini"


Dengan cepat Aisyah langsung menggelengkan kepalanya. "Allah itu sayang sama kamu. Allah buat kamu berada di posisi seperti ini itu agar kamu bisa jadi manusia yang lebih baik. Lagi pula, ga selamanya hidup akan terus bahagia. Kamu sedang di uji sa..." Aisyah memegang tangan lembut Sasa. "Jangan lakuin hal kayak gitu lagi ya,, itu ga akan pernah menyelesaikan masalah yang sekarang lagi kamu hadapi. Itu juga bukan solusi yang terbaik."


Sasa terdiam, beberapa detik dirinya memeluk erat Aisyah. "Maafin gue Syah, selama ini gue udah jahat sama Lo, gue juga ga tau kenapa gue bisa ga suka sama orang sebaik Lo. Dulu Lo selalu gue hina, tapi sekarang saat gue di hina justru Lo yang peduli sama gue."


Sasa melepaskan pelukannya. "Kenapa Lo ga gunain keadaan gue buat balas dendam ke gue, buat jatuhin gue. Buat jelek jelekin gue di hadapan semuanya? Padahal Lo bisa aja ngelakuin semua itu, tapi nyatanya nggak. Lo ga pernah lakuin hal yang membuat gue rendah Di mata orang."


•••••


Keesokan harinya...


Syifa berjalan menuju kelas dengan langsung nyelonong duduk di depan Reyhan yang sibuk dengan alamnya sendiri. Dunia matematika. Hari ini sungguh, dirinya dua kali lebih bersemangat dari biasanya. Kalimat Reyhan yang kemarin terus melintas di pikirannya, sulit untuk di tepis apalagi di hilangkan. "Assalamualaikum" Ujar Syifa.


"Waalaikum salam" Jawab Reyhan, Gilang, iqbal dan Ojit.


"Kak...."

__ADS_1


"Hm" Gumam Reyhan dengan mata dan tangan yang masih fokus pada lembaran kertas yang penuh angka kerumitan itu.


"Kak, kasih Syifa panggilan lain dong" Pinta Syifa.


"Panggilan apa fa?" Tanya Iqbal.


"Panggilan yang berbeda gitu kayak yang biasanya, tapi ini kak Reyhan doang yang boleh pake panggilan itu"


"Oo kayak panggilan spesial sayang atau beb gitu ya?!" Tebak Iqbal.


"Nggak gitu juga kak. Soalnya Moni itu kan di sukai laki tetangga namanya budi. Nah terus di kasih nama panggilan spesial Momo sama dia. Makannya aku sekarang juga lebih sering manggil Momo dari pada nama aslinya dia, Moni" Jelas Syifa.


"Momo itu siapa?" Tanya Iqbal kepo.


"Temen main Syifa" Jawab Syifa membuat semuanya ber-oh kecil.


"Jadi Lo pengen di kasih panggilan berbezaa dari Reyhan gitu?"


Syifa mengangguk.


Iqbal terdiam, lalu tersenyum lebar. "Nah gimana kalau Reyhan manggil Lo itu Maimunah?" Saran Iqbal, seketika wajah Syifa menjadi cemberut.


"Kurang bagus!" Ketus Syifa yang di iringi tawa Iqbal, Ojit dan Gilang.


"Gimana kalau markonah aja" Usul Gilang. "Markonaaaah, bang Ojit datang pret pret pret pret pret prett...." Nyanyi gilang.


"Markonaaaaaaahhhh,,, bang Ojit datang Pret pret pret pret pret preeett" Nyanyi Ojit yang ikut ikutan Gilang.


"Hiya,,, Gilang mirip Aldi Taher banget!" Ujar Iqbal.


"Wee gantengan gue kali" Ucap Gilang percaya diri.


"Kepedean!" Sahut Iqbal dan Ojit kompak.


"Gimana fa? Bagus kan? Kalau kepanjangan bisa dipanggil konah aja.." Kata gilang.


"Bagus dari mana?! Nggak! Nggak banget!" Jawab Syifa dengan mengerucutkan bibirnya.


"Atau Munaroh aja. Nanti biar Reyhan manggil Lo naroh" Usul Ojit. "Munaroh bang Ojit datang.."


"Munaroh udah punya bang jali" timpal Gilang


Syifa menatap kesal keduanya. Lalu kembali menatap Reyhan. "Kak, temen temen kakak kok pada ga bener sih? Pada sinting semua!"


Seketika mendengar ucapan jujur Syifa, tawa Iqbal pecah seketika. "Hahaha,, mereka emang pada bermasalah sama otaknya. Tekanan batin" Ujar Iqbal.


Syifa kembali menatap mereka berdua, Ojit dan Gilang. "Kak, coba kakak ke dokter. Siapa tahu salah satunya ada yang positif" Ucap Syifa pada keduanya.


"Positif apa Adek cantik..?" Tanya Gilang.


"Positif gila!!" Jawab Syifa. Lagi dan lagi tawa Iqbal kembali pecah. "Kena mental ga tuh?! Hahaha" Ucapnya lagi dengan tertawa memegangi perutnya. Sedangkan yang di tertawai memasang wajah kesal. Untung yang bilang cantik, kalau ga mungkin udah di maki maki sama mereka.


Syifa menatap Reyhan dengan kekesalan yang masih membekas karena Ojit dan Gilang. "Kak,, kok diem aja?"


"Kak Reyhan, jadi kasih nama panggilan lain apa buat Syifa?" Tanya Syifa namun Reyhan tetap saja sibuk dengan dunianya. "Ih Syifa pengen banget tau di kasih panggilan lain kayak Momo"


"Kak, jawab dong!!" Dan sepertinya sifat cuek cowok itu kembali muncul.


Syifa menghela pelan. "Ya udah kalau gitu. Syifa balik ke kelas" Syifa berdiri dari tempat duduknya, dengan terus menatap Reyhan.


"Kak Reyhan nih kadang cuek kadang peduli..." Gumam Syifa "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Iqbal dan Reyhan.


Syifa membalikan badan, lalu melangkah pergi. "Fafa?"


Syifa menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Reyhan. "Mau di panggil Fafa?" Tanya Reyhan dengan menatap Syifa. Seketika kedua sudut bibir Syifa terangkat ke atas, membentuk seulas senyum lebar.


•••••


Dulu, saya pernah mengagumi seorang santriwati karena kecantikan dan suara lembutnya,


Lalu, rasa kagum itu semakin besar saat saya mengetahui akhlaknya,


Dan, rasa kagum saya semakin bertambah besar karena mengetahui ketaatan dan ilmu yang ia miliki,


Rasa kagum yang tersimpan dalam hati, semakin lama semakin menumpuk menciptakan sebuah cinta,


Cinta yang membuat saya memilih untuk menceritakan pada-Nya


Dan semakin membuat saya yakin untuk memperjuangkannya lewat setiap doa,


Jangan tanyakan seberapa besar saya mencintainya,


karena hanya Allah yang tahu seberapa banyak namanya saya sebut dalam setiap doa yang sering saya panjatkan pada Yang Maha Kuasa,


•••••


Dinda dan lina berdiri di dekat gerbang dengan menunggu kedua sahabatnya yang belum keluar kelas. Di tengah keramaian para murid yang bersorak riang karena pembelajaran hari ini telah selesai, ada sebuah kertas putih yang di remas begitu saja tepat jatuh mengenai sepatu Dinda. Membuat perempuan itu menoleh ke bawah lalu mengambilnya.


"Mau kemana Din?" Tanya Lina.


"Buang kertas ini.." Ujar Dinda memperlihatkan remasan kertas di tangannya.


"Kertas apa itu?"


"Ga tau. Tadi jatuh di bawah"


"Bawah Lo?" Tanya Lina lagi.


Dinda mengangguk.


Lina mengambil kertas tersebut. "Jangan buang dulu. Mungkin di sini ada sesuatu" Ujarnya.


"Sesuatu apa sih Lin?" Tanya Dinda.


Lina membuka kertas tersebut, lalu merapikannya. "Izinkan aku meminjam namamu di sepertiga malam ku" Gumam Lina membaca tulisan tersebut.


"Wiih,, ada yang minta izin nih Din. Izinin dong!!" Ucap Lina heboh sendiri.


Dinda mengambil alih kertasnya. Lalu membacanya. Dinda terdiam dengan menatap kertas tersebut. Sampai sekarang pun belum terpecahkan di balik siapa yang memberinya surat seperti ini secara diam diam.


"Heh, diem aja Lo." Ucap Lina. "Izinin dong Din izinin..."

__ADS_1


Sedangkan Dinda hanya termenung. Siapa? Itu yang harus di cari tahu.


...******...


__ADS_2