Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Mengalah


__ADS_3

"Fa,, kita berangkat dulu ya..." Ujar Dinda.


Syifa yang terbaring di kasur hanya mengangguk lemah. Saat ini, dirinya tidak bisa masuk sekolah untuk sementara. Sakit. Itulah alasannya. Tadi malam saja dia susah tidur karena kedinginan hingga menggigil.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum"


Semuanya menoleh ke arah pintu. "Waalaikum salam"


Bi irah masuk ke dalam kamar. "Neng Dinda, ini buburnya"


Dinda mengangguk dengan menerima nampan yang di atasnya ada bubur. Tadi dia sempat meminta bi irah membuatkan bubur untuk Syifa. "Makasih ya Bi..."


"Iya neng. Oi ya, itu bibi sekalian buatin teh hangat."


"Iya, sekali lagi terima kasih ya Bi"


"Kalau gitu bibi pergi dulu neng. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab ke empatnya.


Dinda meletakkan buburnya di atas meja yang sudah ia siapkan sebelumnya. Sedang Lina mempersiapkan obatnya agar Syifa lebih mudah dalam meminumnya.


"Fa, kita berangkat dulu ya"


Syifa mengangguk.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


•••••


Devan duduk di samping Aisyah. Gadis itu sedang asik membaca buku yang ada di pangkuannya. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Aisyah dengan menoleh ke arahnya kaget. "Kak Devan. Sejak kapan ada di sini?"


"Baru"


"Ooh"


"Lo sendirian?"


Aisyah mengangguk. "Iya"


"Udah sarapan pagi belum?"


"Di pesantren ga ada jadwal sarapan pagi kak. Adanya cuma makan siang sama makan malam" Jawab Aisyah.


"Berarti Lo belum makan?"


Aisyah terdiam dengan menggeleng. Tak lama dia mengulum senyum. "Tapi ga papa kok kak, Aisyah udah beli roti. Nanti Aisyah makan" Ujarnya dengan menunjukkan roti yang dibelinya.


Devan terdiam. "Roti segitu mana kenyang?!"


Aisyah menggaruk tengkuknya. "Emm,, ya gimana lagi kak. Uang Aisyah cuma cukup buat beli roti itu"


Devan menghela pelan. Dia tau uang Aisyah di gunakan untuk membeli nasi yang di berikan kepada Fariz setiap harinya. "Ya udah, ayo ke kantin bareng gue"


"Aisyah udah ga punya uang lagi kak"


"Gue yang traktir. Ayo..." Ajak Devan.


"Ga usah kak."


"Syah, nanti kalau Lo sakit. Ayo!!" Devan berdiri dengan matanya yang terus melihat ke arah Aisyah. "Ya udah kalau ga mau, nanti gue beliin makanan ke kantin terus gue bawa ke sini lagi"


"Eh jangan.Nanti malah tambah ngerepotin" Aisyah berdiri. "Ya udah ayok"


Devan tersenyum. Keduanya langsung berjalan bersama ke arah kantin. Semenjak tadi Devan terus mengajak Aisyah bicara, sedangkan Aisyah hanya menjawab dengan seadanya. Dia sama sekali tak membuka suara. Bahkan hingga mereka sudah ada di kantin. Devan seolah olah ingin mengajak Aisyah untuk melupakan apa yang di alaminya akhir akhir ini.


•••••


Lo tau devan kan? Dia juga sekarang lagi Deket sama Aisyah. Mungkin dia suka. Dan,, dia bisa kapan aja rebut Aisyah dari Lo!!


Kata kata Iqbal beberapa hari lalu kembali muncul di benak pikiran Fariz saat ia melihat Aisyah yang datang ke kantin bersama Devan. Dari mejanya, dia melihat mereka berdua yang saling mengobrol. Akrab. Saat ini mereka terlihat sangat dekat.


"Udah lah Riz, ga usah di lihatin kayak gitu," Ujar Ghea yang duduk di sampingnya. "Lho lihat sendiri kan, Aisyah emang ga bener. Dia kan anak pesantren, harusnya bisa jaga jarak dong sama cowok. Ini malah ketawa kayak gitu. Sok asik!!"


"Lagian Lo kan udah tahu kalau Aisyah pernah jalan sama cowok di cafe, harusnya mulai dari saat itu Lo ngelupain Aisyah,!" Lanjut Ghea.


Fariz menoleh menatap Ghea. "Tunggu,, Lo kok tahu kalau Aisyah pernah jalan sama cowok di cafe?" Tanya Fariz. Ghea langsung terdiam meneguk ludahnya.


"Dan, soal penculikan kaila. Kok Lo juga bisa tahu. Gue kan ga pernah cerita apapun sama Lo" Tambah Fariz.


"Ooh,, gini gini gue jelasin. Jadi, waktu Lo sampe di Jakarta waktu itu. Gue, bokap sama nyokap kan langsung ke rumah Lo. Nah, terus bokap Lo itu cerita kalau ada kejadian waktu kalian masih ada di rumah nenek Lo" Jelas Ghea.


"Jadi papa yang cerita semuanya ke Lo??" Tanya Fariz.


"Iya" Jawab Ghea. "Nah waktu itu juga, gue sempet pinjem ponsel Lo. Dan ga sengaja nemuin foto Aisyah sama cowok lain di cafe"


Fariz menghela pelan. "Riz..." Panggil Ghea.


"Hm"


"Lo percaya kalau Aisyah jalan sama cowok lain?"


"Ga tau"


"Tapi Lo udah tanya sama Aisyah?"


"Udah"


"Terus dia jawab apa?"


"Dia bilang ga pernah jalan sama cowok manapun. Dia waktu itu jalan sama temennya"


"Berarti dia bohong dong!!"


"Mungkin" Balas Fariz jutek.


"Masalah kayak gitu aja dia bohong. Apalagi masalah yang soal kaila itu. Mana mau dia ngaku. Sebanyak apapun Lo nanya, sekuat apapun Lo maksa buat dia ngomong sebenarnya, Lo ga akan pernah bisa Riz.." Ucap Ghea. "Sampai saat ini aja dia masih sandiwara kayak gitu"


••••••


Aisyah membuka pintu kamar. Membuat dirinya, Lina dan dinda memasuki kamar secara bergantian. "Assalamualaikum"


Mereka menatap syifa yang tertidur. Lina meletakkan buah yang sempat ia beli setelah pulang sekolah di atas meja. Matanya tertuju pada mangkuk bubur yang sudah habis. Sedang Aisyah memegang kening Syifa.


"Kok demamnya malah tambah tinggi ya??"


Lina dan Dinda langsung terpengarah. Mereka menyentuh tubuh Syifa. "Iya,,, Kok malah tambah tinggi" Gumam Lina khawatir.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum"


Ketiganya langsung menoleh ke arah pintu, menatap ustadzah Rina yang berjalan masuk ke dalam. "Waalaikum salam" Jawab mereka kompak.


Satu persatu mereka menyalami tangan ustadzah. Setelah itu, ustadzah Rina duduk di tepi kasur Syifa. Dia memegang kening gadis itu. "Tadi udah minum obat?"


"Udah ustadzah" Jawab Dinda.


"Udah di kompres?"


Mereka bertiga menggeleng.


"Ya udah, secepatnya di kompres ya. Pakai air hangat. Jangan lupa buat kasih tau teman kalian ini buat makan teratur, istirahat cukup sama minum obat ya,,, biar cepet sembuh"


"Iya ustadzah"


"Besok, kalau demamnya belum turun bilang ke ustadzah ya. Nanti, biar temenmu bisa di anterin ustadz Rizwan ke dokter" Ucap ustadzah Rina.


Ketiganya kembali mengangguk. Ustadzah Rina berdiri. "Ya sudah, ustadzah pergi dulu ya. Jaga temenmu ini. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab ketiganya dengan kembali menyalami tangan ustadzah Rina.


•••••

__ADS_1


Lina berjalan ke arah kantin. Ia menghela pelan. Hari ini, Aisyah juga tidak masuk sekolah karena harus menjaga Syifa. Dari kemarin demamnya belum juga turun. Sedangkan Dinda, dia janji akan menyusulnya ke kantin tadi. Lina mengedarkan pandangan ke seluruh kantin. Penuh dan sesak. Matanya tertuju pada seorang yang melambaikan tangan kepadanya.


"LIN, SINI..." Panggil nya.


Lina tersenyum dan berjalan mendekat. Baru menyadari bahwa ada Sasa yang juga duduk di sana.


"Sini duduk Lin..." Ujar Iqbal mempersilahkan.


Lina terdiam menatap Sasa. "Kalian udah lama ya ngobrol?"


"Lumayan" Jawab Iqbal. "Sini duduk, mumpung ada Sasa"


Lina menggeleng. "Ga usah. Pasti gue ganggu kalau ikut ngobrol sama kalian"


"Siapa bilang? Nggak kok. Udah sini duduk. Ngobrol bareng kita."


Lina kembali menggeleng. "Eh ga deh. Gue mau cari tempat duduk lain. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Sasa.


Iqbal mengerutkan keningnya. "Waalaikum salam" Jawabnya pelan.


Lina berjalan duduk di meja kosong yang jaraknya lumayan jauh dari mereka. Menatap kedua tangannya yang ada di atas meja. Sasa kan suka sama Iqbal, kayaknya emang gue harus jaga jarak sama Iqbal. Biar Sasa bisa ngelakuin apa yang dia mau. Batin Lina. Ia menghela panjang.


Kenapa ya akhir akhir ini gue berubah. Ga kayak gue yang dulu. Yang ketemu Iqbal selalu males. Yang ketemu Iqbal selalu bawaannya pengen marah...Kenapa ya??


"Lin..."


Lina menatap depan. Iqbal duduk di kursi depannya, hanya meja yang menjadi pembatas. "Lo kenapa?" Tanya Iqbal.


"Kenapa apa nya?" Tanya Lina balik.


"Lo kenapa kayak menghindar dari gue?"


Lina langsung menggeleng. "Nggak kok, gue ga menghindar. Gue takut aja ganggu waktu kalian"


"Kalian?"


"Lo sama Sasa" Balas Lina. "Lagian Lo ngapain ke sini? Sana ngobrol lagi sama Sasa."


"Lo ngusir?"


"Hm"


Iqbal berdecih. "Tapi gue ga mau pergi"


"Kenapa? Ih bal, masa Sasa Lo tinggalin gitu aja sih. Kasian dia"


"Terus??"


"Ya udah sana pergi. Jauhin gue!!" Ucap Lina.


Iqbal terdiam menatap lama Lina. Membuat Lina menundukkan kepalanya. Ada yang berbeda dari dirinya.


Iqbal menghela pelan. "Oke gue pergi. Tapi Lo jangan cemberut gitu. Okey?"


"Hm"


"Assalamualaikum" Ujar Iqbal.


"Waalaikum salam"


Iqbal berdiri dan mulai melangkah menjauh. Lina menatapnya. Tangan kanannya memegang jantungnya yang berpacu lebih cepat saat dirinya di tatap oleh Iqbal tadi. Bahkan masih bersisa hingga Iqbal sudah pergi. Lina menyentuh keningnya.


"Sakit apa ya gue? Kok tiba tiba gini?"


"Lo yang namanya Lina?"


Lina terkejut. Dia menoleh ke arah perempuan yang berdiri di samping meja. "Iya. Ada apa?"


"Lo di panggil sama Bu Mira"


"Oh,,, iya makasih"


"Sama sama" Jawabnya lalu pergi begitu saja.


•••••


"Kemarin saya sudah menunggu kamu. Tapi ga datang. Jadi kapan mau bayar. Ingat ya, camping di wajibkan bagi kelas sepuluh. Kecuali, yang ada halangan mengikutinya" Ujar Bu Mira. "Dan, temen kamu yang kemarin juga belum bayar. Camping akan di laksanakan besok, jadi ibu mohon kerja samanya untuk jangan di tunda tunda."


Lina menghela pelan. "Em temen saya tidak bisa ikut untuk camping besok. Dia sakit"


"Baik kalau begitu. Lalu kamu?"


Lina terdiam. "Sa-saya, sepertinya juga tidak ikut Bu."


"Begini, teman saya sakit. Dan harus ada yang jaga. Jadi nanti biar saya yang menjaganya" Jelas Lina.


"Apa tidak bisa di jaga temanmu yang lain?" Tanya Bu Mira.


"Begini, teman saya yang lain sudah membayar biaya campingnya. Jadi mau ga mau, mereka harus ikut besok karena sudah membayar. Sedangkan saya belum membayar biayanya padahal camping akan di gelar besok. Jadi, lebih baik saya yang menjaga teman saya itu Bu..." Jawab Lina. "Eem,, ibu paham ga apa yang saya maksud??" Tanya Lina takut penjelasannya terlalu berbelit-belit.


Bu Mira terdiam, lalu mengangguk. "Baik, kalau begitu. Alasan kamu bisa saya terima"


Lina tersenyum menghela lega. "Alhamdulillah. Kalau begitu saya pamit dulu karena semuanya udah beres ya bu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Bu Mira. "Satu lagi,,, kalau bisa tahun depan kamu dan temanmu itu ikut camping karena tahun ini tidak bisa ikut. Camping itu, bisa menambah pengalaman kalian. Experience is the best teacher. Pengalaman adalah guru terbaik. Jadi itu penting" Ucap Bu Mira. Lina tersenyum dengan mengangguk.


•••••


"Assalamualaikum pak..." Ujar Dinda sopan dari balik gerbang pesantren.


Pak Dadang yang tengah terduduk di pos langsung berdiri dan berjalan. "Waalaikum salam neng. Iya tunggu bentar" Jawabnya dengan membukakan gerbang.


"Terima kasih pak"


"Iya sama sama neng"


Dinda dan Lina yang masih mengenakan seragam itu langsung memasuki pesantren dengan sedikit membungkukkan badan saat melewati pak Dadang. Orang yang lebih tua dari mereka.


"Lin, tadi kamu kemana? Aku cariin di kantin ga ada. Di tungguin juga ga datang datang" Ucap Dinda terus berjalan melewati halaman pesantren ke arah kamarnya.


"Oh ya Din, gue sampe lupa. Jadi, tadi gue udah ada di kantin tapi di panggil sama Bu Mira. Habis itu gue malah balik ke kelas. Lupa kalau Lo juga mau nyusul ke kantin tadi" Jelas lina. "Maaf ya.."


Dinda mengangguk. "Oh gitu,, ya udah ga papa"


Setelah sampai, Lina membuka pintu. Mengerutkan keningnya saat melihat kedua temannya tidak berada di sana. "Assalamualaikum" Ujarnya dengan memasuki kamar. "Lhoh Din, mereka kemana?"


Dinda yang baru saja masuk menatap tempat tidur Syifa. "Mungkin mereka periksa ke dokter lin"


"Bisa jadi sih"


"Ya udah kalau gitu. Mendingan kita ganti baju dulu, terus habis itu cepet cepet Makan siang biar kebagian. Setelah itu mungkin mereka udah pulang kok"


Lina mengangguk. "Iya" Jawabnya dengan melepaskan tas nya dan mengambil baju untuk mengganti seragamnya.


Setelah mereka ganti baju, cepat cepat mereka mengambil makan siang. Dan saat sudah selesai, mereka kembali ke kamar. Namun Aisyah dan Syifa juga tetap tidak ada di sana.


"Tuh kan, belum datang mereka. Lama banget ya..." Ucap Lina.


"Sabar Lin. Mungkin di sana antri" Balas Dinda.


•••••


18.53


"SYIFA,,, AISYAH!!" Panggil Lina saat melihat Aisyah menyuapi Syifa yang tengah duduk di ranjang rumah sakit. Dinda dan Lina masuk ke dalam ruang rawat tersebut.


"Assalamualaikum" Ujar keduanya.


"Waalaikum salam" Jawab Syifa dan Aisyah.


"Haduh, tadi siang gue cariin ga ada. Ternyata ada di rumah sakit..." Ujar Lina cemas. "Sakit apa sih sampe harus di rawat gitu??"


"Tipes lin. Awalnya cuma mau periksa, tapi kata dokter harus di rawat dulu tiga sampe lima harian." Balas Aisyah.


"Tipes bukannya bisa ya di rawat sendiri. Maksudnya ga harus inap di rumah sakit" Sahut dinda.


"Iya bisa Din. Itu kalau gejalanya ringan. Tapi kata dokter ini gejalanya memburuk. Demamnya ga turun turun malah tambah tinggi, padahal udah minum obat. Syifa juga batuk kering tadi. Terus setiap makan selalu mutah, jadi ga ada energi yang masuk. Makannya langsung di periksain ke dokter, dan di suruh inap dulu beberapa hari..." Jelas Aisyah.

__ADS_1


"Oh gitu. Makannya jangan main hujan hujanan. Tipes kan" Timpal Lina.


Syifa melirik Lina. "Jangan salahin hujannya!! Gue emang dulu pernah sakit tipes waktu kecil. Mungkin ini kambuh lagi..." Jawab Syifa dengan suaranya yang lirih.


"Oi ya,, kalian ke sini sama siapa?" Tanya Aisyah.


"Tadi di anter sama kang ridho" Jawab Dinda. Kang ridho adalah abdi dalem pesantren. Dia juga menjadi salah satu orang kepercayaan Abah. "Sama Abah juga tadi" Lanjutnya.


"Terus Abah di mana, kok ga masuk?"


"Assalamualaikum"


Perhatian mereka teralihkan. "Nah, itu Abah" Ucap Dinda.


Aisyah yang terduduk langsung berdiri. "Waalaikum salam" Jawab semuanya.


Abah berhenti di samping Dinda. Dia menatap Syifa. "Bagaimana kabarmu nduk?"


"Alhamdulillah, lebih baik Abah" Jawab Syifa sopan.


Abah kyai tersenyum. "Tadi sudah makan?"


"Sudah"


"Sudah sholat?"


"Alhamdulillah, sudah..."


"Kalau lagi sakit, tetep jangan lupa ya sama kewajibannya. Banyakin doa. Jangan lupa baca Al Quran juga ya..."


Syifa mengangguk. "Njih bah..."


"Oi ya, sepertinya sebentar lagi mau adzan isya'. Abah mau cari mushola di sini. Kalian, juga cepat cepat sholat. Abah tunggu di mushola rumah sakit" Ujar Abah. Beruntungnya tadi sebelum berangkat ke rumah sakit, Abah sudah meminta ustadz Rizwan untuk mengimami sholat isya' di pesantren.


"Njih bah" Jawab Dinda.


"Assalamualaikum" Ujar Abah.


"Waalaikum salam" Jawab semuanya.


Lina kembali melihat Syifa. "Tadi, dianterin sama siapa ke sininya?" Tanya Lina.


"Ustadz rizwan sama Bu nyai" Jawab Aisyah. Lina ber-oh kecil.


"Lin, kita ke mushola dulu yuk" Ajak Dinda.


Lina mengangguk.


"Kita ke mushola ya semuanya. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Aisyah.


"Waalaikum salam" Jawab Syifa.


Dinda dan Lina berjalan pergi. "Syah, Lo ga sholat?" Tanya Syifa pelan.


"Lagi haid fa. Oi ya fa, kamu makan dulu, terus minum obat. Habis itu baru aku bantu sholat ya,,,"


Syifa mengangguk. "Iya"


•••••


20.27


"Syah,," Panggil Dinda. "Kita pulang ya, Syifa biar di jagain sama Lina. Besok kan camping. Jadi kamu juga harus istirahat"


Aisyah mengangguk. "Abah dimana?"


"Abah udah di luar nungguin kita. Lagi pula kita harus siapin semuanya kan?!"


Aisyah tersenyum lalu berdiri. Dia menatap Syifa yang tertidur lalu beralih ke Lina. "Lin, jaga Syifa ya. Aku pergi dulu."


"Iya" Jawab Lina


"Assalamualaikum" Ujar Aisyah.


"Waalaikum salam"


"Lin, aku juga pamit. Assalamualaikum" Ucap Dinda.


"Waalaikum salam. Hati hati ya..." Balas Lina.


"Iya"


•••••


Aisyah duduk di kursi bus. Dia melihat ke kursi sampingnya yang kosong. Kalau Syifa tidak sakit, mungkin kursi itu tidak akan kosong. Dan pasti dia tidak merasa kesepian. Ah,, Syifa itu selalu menghidupkan suasana agar lebih ramai dan asik. Aisyah mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Mungkin beberapa menit lagi bus akan berjalan. Dirinya termenung.


"HEH!!"


Ia terhenyak kaget dengan menoleh. Ghea dan Fariz, entah sejak kapan ada di sini. "Minggir Lo!!" Usir Ghea.


Aisyah mengerutkan alisnya bingung. "Kok diem aja. MINGGIR!!" Suara Ghea membuat seluruh orang yang ada di dalam bus langsung menatap mereka.


"Tapi mbak..."


"Ga ada tapi tapian. Semua bus itu udah penuh, cuma bus ini yang ada kursi kosong. Jadi Lo minggir! Pindah ke belakang!!"


Aisyah langsung menoleh. Melihat kursi belakang yang di isi oleh sekawanan laki laki teman sekelasnya. "LO DENGER GA SIH!! KALAU GUE BILANG MINGGIR YA MINGGIR!! PERGI!" Bentaknya.


"Eh iya mbak" Aisyah berdiri dengan menggendong tasnya. Dia mulai berjalan ke arah belakang. "Eh sini sini Syah, duduk samping gue" Sambut Tio dengan menepuk nepuk kursi di sampingnya.


Aisyah tersenyum. "Terima kasih"


"Haduh lembut banget sih. Iya sama sama" Balasnya.


Aisyah langsung menduduki kursi tersebut. Kanan kirinya, semua laki laki. Bagaimana dia bisa nyaman dengan perjalan kali ini. Selain tidak ada yang di ajak ngobrol, ia juga harus menjaga jarak dari mereka.


"Eh Syah, Lo sama Fariz putus ya??"


"Eh..." Aisyah menoleh ke arah Tio. "Apa?"


"Iya.... Lo putus ya sama Fariz. Soalnya gue jarang lihat kalian akur kayak dulu. Sekarang Fariz lebih sering sama cewek itu" Lanjutnya dengan menunjuk Ghea dengan bola matanya.


Aisyah menggeleng. "Aku sama kak Fariz ga pacaran kok"


"Bener?? Ah Masa??"


"Syah, Lo kok mau aja di usir sama cewek itu?" Kali ini Bagus yang bertanya.


"Iya. Harusnya lawan. Jangan lemah gitu..." Tambah Tio.


Bukan dirinya lemah, namun bila di lawan maka akan tercipta keributan. Dan Aisyah sama sekali bukan tipe orang yang seperti itu. Lagi pula dia juga harus menghormati Ghea yang lebih tua darinya. Dia hanya mengalah, namun bukan berarti kalah. Dan kalah juga belum tentu lemah.


"Oh gue tahu,, Lo kan sekarang udah Deket sama cowok lain ya? Makannya sekarang jarang sama Fariz."


Aisyah kembali menoleh. Mimik wajahnya menanyakan siapa yang di maksud oleh Tio. "Itu,, yang kelas dua belas. Siapa ya??"


Aisyah menghela pelan. Dia tahu yang di maksud Tio mungkin adalah Devan.


"Cewek itu tadi siapa? Sebelum Deket sama Lo, gue juga udah sering lihat dia sama Fariz" Ujar Tio lagi. "Judes emang dia, dari mukanya aja udah kelihatan"


"Hssst,, diem Lo. Kalau kedengaran orangnya payah!," Sahut bagus.


"Syah, temen Lo Syifa itu kemana?" Tanya bagus. "Ah, kalau dia masuk mau gue ajak ngamen bareng. Dia kan orangnya asik. Mumpung gue bawa gitar nih.." Lanjutnya dengan mengelus gitar kecilnya.


"Iya. Katanya ini camping wajib. Tapi kok dia ga ikut?" Tanya Tio.


Aisyah hanya terdiam mengabaikan pertanyaan mereka yang di lontarkan secara bersahut sahutan. Matanya hanya fokus pada kursi yang di duduki Fariz dan Ghea. Mereka terlalu sibuk berdua. Hingga mengabaikan tatapan orang yang melihat ke arah mereka dan Aisyah secara bergantian.


•••••


Ibnu Abbas ra :


Dan jangan berdebat dengan orang bodoh, jangan pula dengan orang fakih. Karena orang fakih akan mengalahkanmu, sedangkan orang bodoh akan menyakitimu.


(Al-Adab Asy-Syar’iyyah)


...*******...

__ADS_1


__ADS_2