Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Hati Istri


__ADS_3

14.00


Reyhan pamit untuk pergi, sesuai yang di bilangnya kemarin, Syifa akan ikut bila badannya fit. Namun hari ini bukan fit, malah tambah lemes. Karena tidak mau merepotkan ya sudah, lebih baik dia tidak perlu ikut sekalian. Tadi juga Syifa sudah bilang boleh pulang malam, tapi jangan sampai kemalaman. Dia sudah memberi batasan waktu untuk pulang jam 8. Itu sudah cukup. Dirinya sudah memberitahu Reyhan bahwa nanti malam dia akan masak, dan mereka harus makan malam bersama di rumah. Dia juga tadi sempat meminta nomor Henny kepada Reyhan.


Sekalian dia akan memenuhi janjinya untuk menyembelih si ayam itu dan menggorengnya. Saat waktu sore tiba, Syifa berjalan menemui pak imam. Satpam rumahnya.


"Pak sini deh..."


Pak imam mengangguk dan berjalan mendekat. "Ada apa non?"


"Bisa bantuin saya ga?"


"Bantu apa non."


"Tangkap ayam. Terus nanti ayamnya pak imam sembelih ya..."


"Oh iya non."


"Nah kalau gitu, bapak langsung ke halaman belakang aja. Soalnya ayamnya ada di sana. Nanti ini gerbangnya saya yang jagain."


"Lhoh non, yakin non mau jagain?"


"Iya...udah bapak langsung ke halaman belakang aja. Saya tunggu di sini."


"Oh iya siap non." Jawab pak imam dengan berlari kecil menuju halaman belakang. Syifa merogoh saku bajunya, mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang. "Halo bi..."


"Bi,,, nanti bantuin pak imam buat tangkap ayam ya bi,,, siapa tahu pak imam butuh bantuan. Terus kan tadi Syifa suruh juga buat di sembelih ayamnya, nah habis di sembelih tolong bi Narti cabutin ya bulu bulunya. Kalau udah bersih nanti ayamnya langsung di potong-potong jadi beberapa bagian aja.


Bisa kan bi??"


"Oh iya non. Siap."


"Untuk malam ini, bibi ga usah masak. Syifa aja yang masak."


"Oh iya iya non."


"Ya udah gitu aja sih bi. Syifa tutup teleponnya. Makasih banyak ya bi... Assalamualaikum"


"Waalaikum salam."


•••••


Malam setelah sholat Maghrib, Syifa langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan semuanya. Ini memang murni masakannya, tanpa di bantu oleh Bi Narti. Semua makanan kesukaan Reyhan dia siapkan. Seperti tongseng cumi, sayur asam, sambal terasi, tempe bacem, udang crispy dan telur balado. Di tambah makanan sampingan seperti tempe goreng, tahu goreng, dan jangan lupa ayam gorengnya.


Sebenarnya meski badannya capek pun tetap dia paksa untuk memasak, agar malam ini Reyhan bisa benar benar makan masakannya hanya berdua dengan dirinya saja. Satu hal lagi yang sempat kelupaan, Reyhan juga suka dengan ikan bandeng goreng. Sepertinya dia harus menggoreng nya. Jujur, sebenarnya dia tidak pernah menggoreng ikan, tapi dicoba sajalah.


Setelah sisik dari ikan dia pastikan sudah bersih, Syifa langsung menyalakan kompor. Menunggu minyaknya hingga panas, lalu menaruh empat ekor ikan ke dalam wajan sekaligus. Dia tidak tahu pasti apakah kalau memasak ikan harus di beri bumbu? Kalau iya apa saja bumbu bumbunya? Ah, dia belum mempelajari itu. Dia hanya memberi Baluran garam di atasnya, bagaimana ya nanti rasanya? Uh, dia ragu kalau ikannya akan enak.


Beberapa saat tiba tiba saja mata ikannya meletup, menimbulkan minyak terciprat mengenai wajahnya. Pastinya Syifa langsung terkejut saat minyak itu mengenai keningnya. Saking terkejutnya pun tangannya sampai mengenai wajan panas. Dia langsung berlari menjauh. "BI.....!!! BI NARTI...." Teriaknya.


"BIBI....!!"


"IYA NON!!" Jawab bi Narti dari kejauhan. "Ada apa non?" Tanya nya.


"Bi tolong ikannya goreng ya...saya takut."


"Oh iya non."


"Aduuuh..." Ringisnya merasakan sakit di bagian kening dan tangan. "Ah,,, trauma gue goreng ikan." Gumamnya kesal lalu segera berjalan ke arah kamar. Mengoleskan salep krim antibiotik di kening sekaligus tangannya. Sekalian juga untuk dirinya mengganti baju dengan yang lebih baik. Kalau pakai baju ini, bau masam kayaknya. Setelah selesai ganti baju Syifa langsung mengambil wudhu dan menunaikan sholat isya'.


Cepat cepat dia melipat mukenanya saat selesai sholat. Dia menatap jam di dinding, sudah jam delapan lebih dua puluh menit. Mungkin Reyhan sedang di perjalanan. Dengan semangat, Syifa keluar kamar, turun ke lantai bawah. Memastikan semuanya sudah siap. Ikan yang di goreng bi Narti juga sudah ada di sana. Bagus, sekarang dia tinggal menunggu.


Syifa duduk di sofa ruang tamu. Dia langsung mengirim pesan kepada Reyhan.


20.23 Mas lagi dimana? Udah dalam perjalanan? Makanannya udah siap, Syifa tungguin ya...


Tulisnya.


Sembari menunggu dia merapikan hijab dan pakainnya. Tatapannya terarah pada jendela, lalu mengecek apakah pesannya sudah


di baca? Ternyata belum, baiklah dia akan menunggu.


Lima belas menit berlalu namun Reyhan belum juga datang. Syifa berdiri dan berjalan ke arah meja makan, merapikan semua makanan agar tertata lebih rapi. Lima menit setelah itu namun Reyhan belum juga belum pulang. Syifa membuka layar ponselnya, namun pesannya juga belum di baca. Dia memotret makanan di meja lalu mengirimkannya kepada Reyhan.


Mas,,, udah siap semua. Cepetan pulang.


Tulisnya lagi.


Dia mencoba untuk kembali menunggu. Tiga belas menit karena belum datang juga, sekaligus pesannya belum di baca, Syifa memutuskan untuk menelepon. Berdering. Namun tak kunjung di angkat. Dia kembali menelepon untuk kedua kalinya. Sama, handphone nya aktif namun juga tidak


di angkat.


Syifa meremas jemarinya. Apakah Reyhan lupa? Atau dia sedang kenapa-napa. Beberapa menit setelahnya Syifa baru teringat kalau dia sempat meminta nomor Henny kepada Reyhan. Untung sudah dirinya save. Dengan gerak cepat ia menelepon Henny. Di angkat.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam..."


"Hen, ini gue Syifa."


"Oh mbak Syifa. Iya ada apa mbak?"


"Urusan kalian udah selesai belum? Terus kalian lagi ada di mana?"


"Oh udah kok mbak. Udah selesai dari tadi malahan. Ini kita lagi ada di restoran. Kenapa mbak?"


Syifa terdiam lama. Reyhan memang benar-benar lupa sepertinya. "Ya udah kalau gitu."


"Tapi mbak,,, Reyhan udah pulang kok. Ini saya cuma sama Dimas doang."


"Kalian udah lama di sana? Atau baru?"


"Kita udah lama di sini kok mbak. Ini kita juga mau pulang."


"Ya udah itu aja. Makasih ya hen. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Mereka sudah lama di sana, tapi Reyhan sudah pulang. Kalau dia pulang dari tadi, harusnya sudah sampai di rumah. Atau dia tadi sudah makan di sana dan baru saja pulang mendahului mereka.


Syifa melangkah ke arah jendela. Menatap halaman rumahnya yang tampak sunyi. Apapun itu dia sudah kecewa. Walaupun tubuhnya capek pun masih di sempatkan untuk memasak agar mereka berdua bisa makan bersama, menghabiskan makan bersama. Sampai tangan dan keningnya pun sampai terluka seperti ini. Lupakanlah tentang luka, setidaknya jawab dan angkat telepon darinya. Bukankah ponselnya aktif.


Syifa membuka pintu, dia melangkah ke arah pos satpam di dekat gerbang rumahnya. Ia rasa Reyhan sudah kenyang, jadi dia sudah tidak membutuhkan makan malam bersama nya. "Pak imam." Panggil Syifa.


"Oh iya non."


"Pak, bapak udah makan belum?"


"Udah non."


"Tapi perutnya lapar ga?"


"Hehe lumayan non."


"Mau makan??"


"Emang boleh non?"

__ADS_1


"Ya boleh lah pak. Bapak mendingan ke dalam rumah ya, saya tadi masak banyak. Di habisin juga ga papa."


"Tapi ini gerbangnya yang jaga siapa non?"


"Ga usah di jaga ga papa, cuma sebentar doang kok."


Pak imam tersenyum senang. "Iya non. Saya ke dalam dulu."


"Iya. Makan sampe kenyang pak."


"Oh siap non." Balas pak imam dengan mengacungkan jempol.


Syifa menghela pelan, dia berjalan mendekat ke arah gerbang. Matanya mengarah ke sepanjang jalan, namun mobil Reyhan belum juga terlihat.


•••••


21.15


Matanya terus melihat tangannya yang tadi tak sengaja terkena wajan penggorengan. Tak maukah dia menghargai sedikit upayanya? Syifa menoleh, dia berdiri dan menyingkap gorden di jendela kamarnya. Dari atas, terlihat sebuah mobil hitam memasuki halaman rumahnya. Reyhan datang. Lelaki itu nampak terburu buru masuk rumah.


Cepat cepat Syifa kembali menutup gorden, mematikan lampu dan berbaring di atas kasur. Menarik selimut dan berpura pura tidur. Tak lama dari itu, sayup-sayup terdengar suara pintu terbuka, langkah kaki semakin jelas terdengar mendekat. Syifa mengubah posisi tidurnya menjadi ke arah samping. Membelakangi Reyhan.


"Fa..."


"Syifa..." Panggil Reyhan lagi.


"Nggak jadi makan malem bareng?"


"Nggak!" Jawab Syifa dingin.


"Kenapa?"


"Pikir aja sendiri!"


"Fa,, gue tahu gue telat. Maaf ya..."


Syifa menghembuskan nafas kesal.


"Nggak di maafin!"


"Mas kenapa sih kok jadi berubah??"


"Berubah apanya?"


Syifa terbangun, memposisikan tubuhnya menghadap Reyhan. "Syifa udah bilang kan, kalau Syifa bakal masak malam ini. Kenapa malah makan di restoran?"


"Gue belum makan sama sekali fa..."


"Bohong!! Tadi Henny sama Dimas ada di restoran, berarti mas juga ada di sana! Kenapa sih, mas sengaja lupa apa gimana? Hargai dikit kek. Syifa udah capek capek masak banyak!"


"Mereka emang ke restoran, tapi gue nggak. Setelah semuanya selesai, gue langsung pulang."


"Urusan mas selesainya jam berapa?"


"Jam delapan lebih."


"Kalau jam delapan, kenapa jam sembilan baru pulang?? Kenapa selama itu?"


"Tadi di jalan macet total karena ada kecelakaan."


"Gitu?? Terus kenapa telepon syifa ga di angkat? Chat dari Syifa juga ga di bales."


Reyhan terdiam. Dia mengambil ponselnya, memang benar ada dua panggilan tak terjawab dari Syifa. "Gue ga sempet buka hp, dan waktu kamu nelepon, mas lagi keluar dari mobil buat ngecek jalanan. Mas aja mau cari jalan pintas ga bisa fa..."


Syifa terdiam. Menatap tajam Reyhan. Menemukan kebenaran dari mata lelaki itu. "Terus mas belum makan?"


"Ya udah sana makan sama pak imam. Sebelum lauk nya emang bener bener habis."


"Kamu ga makan?"


"Nggak! Syifa ga laper!" Jawabnya dengan nada masih dingin lalu kembali berbaring memejamkan matanya. Beberapa saat, Syifa mendengar guyuran air di kamar mandi. Dia mendudukkan tubuhnya. Melihat lampu kamar mandi yang menyala. "Ga jadi makan??" Gumamnya bertanya. "Ih, kalau sakit gimana? Syifa juga kan yang susah. Sok sok an ga mau makan,,, padahal ya gue yakin banget nih mas Reyhan pasti laper. Tapi ya udahlah biarin aja, ngapain juga salah sendiri telat pulang. Coba aja kalau dari sana dia pulangnya sebelum jam delapan, seenggaknya sampai rumah ga bakal setelat ini."


•••••


09.14


"Fa..." Panggil Reyhan.


"Hm."


"Nanti sore gue ajak Lo."


"Kemana?"


"Ke suatu tempat. Mau?"


Syifa melirik Reyhan. "Ya dimana?"


"Tapi mau?"


Syifa terdiam. "Cuma berdua apa ada yang lain?"


"Cuma berdua."


Syifa kembali terdiam berpikir. "Iya." Jawab Syifa. "Jam berapa?"


"Empat sore."


"Hm! Mas tadi malam jadi makan?"


"Nggak."


"Kenapa?"


"Ga sama kamu."


"Terus kalau ga sama Syifa kenapa?"


"Ga mau."


"Lhah emang kenapa? Mas jangan gitu dong, nanti kalau sakit gimana?"


Reyhan tersenyum tipis. "Kalau gue sakit, Lo yang harus rawat."


"Hmh...itu namanya suka nyusahin orang!!" Ketus Syifa.


•••••


15.53


Syifa langsung berjalan dan duduk di meja riasnya setelah selesai mandi. Dia mulai memoleskan satu persatu make up ke wajahnya, cukup memberinya sentuhan tipis saja. Karena dirinya lebih suka make up natural dari pada yang menor menor. Beberapa menit, semua wajahnya sudah terpoles oleh make up. Mulai dari mata, bibir, pipi, alis dan bagian wajah lainnya. Dia tersenyum.


"Cantiknya...heemm, Henny aja kalah." Gumamnya bangga.


Dia menata hijabnya agar lebih rapi, lalu berdiri. Menatap dirinya yang sudah begitu siap untuk pergi.


Drrrrtt...ddrrrttt

__ADS_1


Syifa menoleh ke arah sofa. Dia mengamati ponsel Reyhan yang berdering, matanya mengarah pada toilet. Reyhan sedang mandi, perlukah dia yang mengangkat teleponnya? Baiklah...


Ia berjalan ke arah sofa, mengambil ponsel Reyhan. Melihat nama yang tertera pada layar ponsel membuat hatinya menjadi jengkel. Henny lagi Henny lagi, mau apa dia?


Syifa menatap kesal nama itu, andai dia tidak sayang kepada hape suaminya sudah di banting duluan hape itu. Untuk apa sih cewek itu menghubungi Reyhan? Belum puas semalaman sudah bersama suaminya.


Dering ponsel berhenti, namun tak lama juga dari itu deringnya kembali berbunyi. Dengan nama penelepon yang sama seperti awal. Syifa berdecih. Dia sengaja membiarkan dering ponsel itu berhenti dengan sendirinya.


Han...


Sebuah pesan terkirim dari Henny.


Kamu udah berangkat belum?


Han, sore ini ga jadi. Jadwalnya batal...


"Jadwal apa? Emang sore ini mau ngapain dia?" Gumam Syifa bertanya-tanya.


"Fa..."


Perhatian Syifa teralihkan.


"Mas, ini tadi Henny nelpon." Syifa menyodorkan ponsel Reyhan.


Dengan cepat Reyhan langsung mengambilnya, membaca pesan yang di kirim oleh Hanny lalu berjalan keluar. Sepertinya dia ingin menelepon perempuan itu, tapi tidak mau bila di hadapan dirinya.


Beberapa menit Reyhan kembali masuk. "Fa...maaf sore ini ga jadi."


Syifa mengerutkan alisnya. "Ga jadi apa?"


"Pergi."


"Hah kenapa? Syifa udah dandan lhoh mas, lihat ini! Masa ga jadi??!"


"Iya, tadi kata Henny..."


"Iya Henny aja terus yang di pentingin!" Potong Syifa. "Jangan bilang nanti malam mas mau pergi lagi sama Henny karena ada urusan gitu??"


"Bukan fa.."


"Terus kenapa? Bisa ga sih, jangan bikin Syifa kecewa! Kenapa sih mas berubah semenjak pulang! Mas sadar? Waktu mas pulang, mas lebih banyak habisin waktu buat ngurusin apa itu sama Henny. Sering telponan sama Henny, sering chat an. Mas mikirin hati Syifa ga sih?!" Balas Syifa emosi. "Kemarin makan malam bersama ga jadi, karena alasan mas yang inilah itulah. Mas ga tahu capeknya Syifa masak demi mas, sampe kena minyak panas pun Syifa ga peduli! Tapi apa?? Terus, hari ini janji mau ngajak Syifa pergi. Syifa udah dandan kayak gini, tiba tiba bilang ga jadi lagi! Hargai dong mas!"


Dengan kesal Syifa melangkah ke arah lemari mengambil baju rumahannya, berjalan masuk ke kamar mandi. Sebenarnya dia ingin menangis, tapi tidak! Kalaupun ada niat Henny yang tidak tidak tentang keluarganya, bukan dirinya yang harus menangis tapi cewek itu.


Dengan segera Syifa mengganti bajunya, menghapus semua make up yang ada di wajahnya dengan air. Setelah dirinya sedikit tenang, Syifa membuka pintu. Matanya melihat Reyhan yang sedang mengambil salah satu buku di rak buku kecil di kamar yang menempel di dinding.


Entah bagaimana cara mengambilnya, sekali ambil beberapa buku terjatuh sekaligus. Dengan cepat Syifa berjalan menghampiri dan membantu untuk membereskannya. Matanya terpaku pada buku yang ada di tangannya. Tulisan 'Henny' itu ada di sampul depan buku.


Melihat itu Reyhan langsung mengambil buku itu dari tangan Syifa. "Udah ga usah, biar gue aja." Ucapnya.


Syifa terdiam, dia geleng geleng kepala. Kecewa, sedih, rasanya hatinya sudah jenuh melihat nama dan tulisan Henny di rumah ini.


•••••


Tepat setelah sholat isya' berjamaah, syifa langsung melipat mukenanya. Malam ini dia ingin pergi.


"Mas, Syifa pamit mau pergi."


"Kemana?"


"Ke apartemen papa. Boleh kan?"


"Kapan pulang?"


"Nggak tahu. Boleh?"


Reyhan mengangguk.


"Kalau mas laper, Syifa udah siapin di meja makan."


"Hm."


Syifa menjulurkan tangan, lalu mencium tangan Reyhan. "Assalamualaikum."


"Waalaikum salam. Mau gue anterin?"


"Ga usah. Syifa pergi sendiri, lagian aku juga udah pesen taksi online."


"Ya udah. Hati hati."


Syifa mengangguk.


Dia berjalan keluar kamar. Kakinya terus melangkah menyusuri halaman rumahnya.


"Pak imam, bukain gerbangnya ya pak."


"Oh iya non." Jawab pak imam. "Mau kemana non?"


"Ke apartemen papa."


"Sendirian?"


"Iya pak."


"Ya sudah, silahkan non..." Ujar pak imam saat gerbang sudah di buka olehnya.


"Terima kasih pak."


"Sama sama..."


Untungnya di luar, taksi online yang di pesannya sudah datang. Jadi dia tidak perlu repot-repot menunggu. Dengan pasti Syifa naik ke dalam mobil, tak lama mobil itu mulai melaju ke tempat tujuan.


Matanya melihat ke arah jendela, remang remang cahaya lampu jalanan begitu indah di malam ini. Tak terasa air matanya mengalir begitu saja. Merasa bahwa sikap Reyhan sudah berubah. Sebenarnya dia bukan ingin


ke apartemen papanya, malam ini dia ingin menginap di hotel. Biarkan saja nanti Reyhan kebingungan mencarinya, selama dia tidak bisa menjaga dan membatasi hubungannya dengan Henny. Entah hanya teman atau apa, tetap dia harus punya batasan, bagaimanapun seorang suami harus berusaha untuk menjaga hati istrinya.


Dia pergi juga bukan untuk menghindari masalah, hanya ingin menenangkan diri. Dia tidak bisa tenang kalau di rumah, apalagi saat mendengar nama Henny. Uh...panas sudah hatinya. Kalau di apartemen papanya, dia pasti akan di tanyai ini itu. Tidak mungkin juga dia menjawab yang sejujurnya. Dan pasti hatinya belum sepenuhnya tenang di sana.


Kalau di hotel, dia hanya ingin menginap dua hari. Dirinya akan pulang sebelum Reyhan berangkat untuk kerja lagi. Setidaknya dia pulang dalam keadaan tenang. Tidak ada kegelisahan, kesedihan juga kekecewaan. Dia juga sudah membawa beberapa baju yang sekiranya cukup dia masukkan di tas selempang. Untung tas selempang nya lumayan besar. Baiklah, biarkan hati dan pikirannya tenang dari mulai malam ini, hari esok, dan malam berikutnya.


•••••


Wanita


Tidak memerlukan janji, tetapi bukti,


Tidak memerlukan harapan, tetapi kepastian,


Begitupun dengan Istri,


Ingin di perhatikan, bukan di abaikan,


Ingin di prioritaskan, bukan di nomor duakan,


Terasa sangat menyakitkan ketika kamu menyadari bahwa kamu tidak penting untuk seseorang yang kamu taruh kepercayaan kepadanya.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2