
23 Februari....
Surabaya, Jawa Timur
08.48
"Halo... Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam. Hai lin, ada apa telepon? Kangen ya sama gue?! Iya kan,, Jujur deh." Balas Syifa di balik layar telepon.
"Iya. Gue kangen sama Lo. Sama Aisyah Dinda juga. Masa iya udah bertahun tahun pisah, tapi ga kangen."
"Gimana kabar Lo fa?"
"Alhamdulillah baik,, kalau Lo?"
"Sama kok. Tapi cuman beberapa hari ini hati gue galau, mikirin kalian. Fa, gue bener bener kangen lhoh ngobrol berempat kayak dulu lagi, kapan kita bisa kayak gitu?" Tanya Lina. Nadanya Benar benar menggambarkan rasa kerinduan yang begitu besar. Dari balik telepon pun Syifa hanya terdiam.
"Sama kok Lin,,, gue juga kaangeeen banget. Kangen kumpul lagi, ngobrol, bercanda, pergi ke sekolah bareng, di hukum bareng, seneng sedih bareng. Yah pokoknya semuanya,,,"
"Kalau gitu kapan ya ada waktu buat sama sama lagi. Ayolah kita reunian,,,"
"Kalau gue kapan aja bisa, apapun demi kita bisa ketemu. Lagian di rumah juga ga ngapa-ngapain kok. Cuman,,, Aisyah Dinda gimana?"
"Lo punya kontaknya Aisyah sama Dinda ga? Kalau punya gue minta, gue ga punya nomornya mereka soalnya."
"Kalau Dinda gue punya Lin, tapi kalau Aisyah nggak. Soalnya waktu dia itu udah lulus kuliah terus mau lanjut kuliah lagi gitu di luar negeri itu terus kita ga bisa komunikasi lagi, kita jadi lost contact gitu."
"Ya udah minta nomornya Dinda dulu aja, nanti coba tanya Dinda dia punya nomornya Aisyah apa nggak. Semoga aja punya."
"Iya, gue kangen pengen denger suaranya Aisyah lagi."
"Okey kalau gitu, kalau bisa cepet cepet aja ya kita ketemu biar kangennya juga keobati."
"He'em,,, demi apapun cuma kalian temen yang bener bener wauw banget deh. Maksudnya sampe sekarang hubungan kita masih baik baik aja, ya walaupun ga bisa sepenuhnya komunikasi. Soalnya gitu kalau gue punya temen habis lulus terus pisah jadi jarang komunikasi, nah jarangnya komunikasi itu yang bikin hubungan pertemanan kita itu jadi renggang. Tapi nggak buat kalian."
"Iya, sama."
"Jujur ya Lin, gue itu merasa beruntuuung banget bisa kenal kalian, bisa temenan bahkan sahabatan. Sepanjang persahabatan yang kita jalani, ga ada yang pernah menuntut kekurangan satu sama lain, ga ada yang selalu mengungkit kesalahan, saling nurunin ego masing-masing, kalian itu selalu kasih support dan selalu percaya. Susah lhoh dapat sahabat kayak gitu, jadi beruntung banget lah gue..."
Lina tertawa kecil. "Iya, gue juga ngerasa hal yang sama kok. Ya walaupun gue sering kesel sama Lo, sering marah marah. Justru itu yang bikin gue kangen banget sama Lo. Dan berharap banget persahabatan kita ini bermanfaat, ya maksudnya nggak cuma di dunia aja, tapi semoga di akhirat juga bisa tetep sama sama."
"Aamiin semoga ya..."
Pintu terbuka membuat Lina menoleh. "Eh fa, udahan dulu ya. Nanti kita sambung lagi."
"Iya"
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Lina menutup teleponnya. Dia membalikkan badan ke belakang. "Habis teleponan sama siapa?" Tanya Iqbal.
"Syifa." Jawabnya dengan berjalan lalu duduk di samping suaminya. "Aluna mana?"
"Lagi di luar, main sama temennya."
"Temen??"
"Iya. Itu tadi anaknya Mbah Lastri datang sama cucunya juga."
"Ooh jadi Aluna main sama cucunya Mbah Lastri?!"
Iqbal mengangguk.
"Oooh...ya udah kalau gitu. Aku mau buatin Aluna susu dulu, soalnya dia tadi belum minum susu. Sekalian ke rumah Mbah Lastri, udah lama kan kita ga ketemu anaknya." Ujar Lina. "Kamu mau ikut?"
"Iya nanti aku nyusul."
"Ya udah aku ke dapur dulu."
Iqbal mengangguk. "Hm..."
•••••
"Lumah aku pasti lebih besal dali lumah kamu." Ujar Aluna. Gadis kecil yang Januari lalu baru berumur empat tahun. Kali ini dia nampak asik sedang ngobrol dengan teman barunya itu.
"Masih besar rumah aku." Balas Kevin. Cucu Mbah Lastri.
"Memangnya lumah kamu ada kolam besal?"
"Ada."
"Ada tamannya tidak?"
"Ada juga."
Aluna terdiam. "Belalti lumah kita sama. Besal semua."
"Nggak. Aku tahu rumah aku lebih besar dari rumah kamu." Ucap Kevin.
"Alunaa..." Panggil Lina, membuat perempuan kecil itu menoleh.
"Ini minum susunya dulu nak..."
"Iya bunda." Jawabnya.
"Hey kamu masih minum susu?" Tanya Kevin.
"Memangnya kenapa? Kamu ingin susu ini?" Tanya Aluna balik.
"Nggak. Minum susu kayak anak kecil, aku kan udah gede."
"Memangnya kamu umul belapa?"
"Enam."
"Enam bilang gede. Gede itu sepelti bunda aku..."
"Tapi kan aku lebih gede dari kamu!!"
"Eh eh eh,,, udah udah, kok malah ribut. Teman baru itu harusnya bisa akur. Oi ya, nama kamu siapa sayang?" Tanya Lina.
__ADS_1
"Kevin."
"Oh Kevin, mama papa ada di dalem?"
"Iya Tante."
"Ya udah kalau gitu Tante mau ke rumah nenek kamu dulu ya, Aluna susunya jangan lupa di minum ya. Di habisin..."
"Iya bunda."
Lina tersenyum dengan mengelus lembut kepala Aluna. "Pinter..." Ujarnya. "Ya udah bunda ke rumah Mbah Lastri dulu ya, kalian di sini baik baik."
"Baik bunda." Balas Aluna lagi.
•••••
10.22
"Mbak Lina, saya titip Kevin." Ujar Isti, mama Kevin.
"Lhoh memangnya kalian mau kemana?" Tanya Lina bingung.
"Saya mau langsung pulang ke Jakarta mbak."
"Jadi ga nginep di sini dulu? Ga kecapean mbak Isti?"
"Nggak mbak, saya mau langsung pulang sama suami. Saya titip Kevin ya mbak, mulai sekarang dia akan tinggal sama neneknya. Dia akan sekolah di sini, nanti kalau udah lulus saya jemput lagi dia untuk tinggal sama saya lagi di Jakarta"
Lina terdiam. "Kevin akan sekolah di sini?"
"Iya mbak. Saya titip di neneknya karena saya sama suami sibuk, jadi ga bisa ngurusin anak. Dan juga kebetulan neneknya Kevin juga lagi pengen tinggal bareng sama Kevin, biar lebih Deket sama cucunya."
Lina kembali terdiam. Bukankah seorang wanita lebih baik untuk menjadi ibu rumah tangga?! Mengurus rumah dan keluarganya. Namun ternyata masih banyak wanita di luar sana yang lebih mementingkan pekerjaannya, padahal sudah menikah. Pada dasarnya anak lebih banyak membutuhkan perhatian orang tuanya. Lina tidak tahu, sesedih apa Kevin nanti saat lama tidak bertemu orang tuanya. Apalagi jarak Jakarta-Surabaya itu tidak dekat.
"Kevin udah tahu mbak kalau dia sekolah di sini?"
"Iya. Dia udah tahu, dia juga seneng bisa tinggal sama neneknya. Mbak, saya langsung pulang ya."
"Nggak pamitan sama Kevin?" Tanya Lina.
"Nggak mbak, nanti malah dia nangis kalau tahu kita bakalan pulang dan ga ngajak."
Lina mengerutkan keningnya. "Lhoh bukannya Kevin udah tahu kalau bakal tinggal di sini?"
"Iya, tapi dia pikir kita juga bakalan tinggal sama dia. Tapi kalau kita juga ikut tinggal di sini, pasti ga bisa mbak. Aku dan suami harus urus semua pekerjaan." Jelasnya. "Ya sudah mbak, kami pamit dulu ya...mumpung Kevin masih asik main, jadi kita mau langsung aja."
Lina hanya bisa mengangguk pelan. Setelah berpamitan juga kepada ibunya, Mbah Lastri. Mereka berdua langsung pergi tanpa sepengetahuan Kevin yang kini sedang asik bermain bersama Aluna di rumahnya.
•••••
14.56
"Bunda, Aluna ingin belmain lagi belsama Kevin." Ujar Aluna.
Lina tersenyum. "Nanti aja ya, ini masih panas sayang. Siapa tahu Kevin lagi tidur siang, nanti malah ganggu lagi. Nanti kalau udah sore, udah adem cuacanya terus Aluna udah mandi, udah wangi nanti boleh main lagi sama Kevin. Ya?!"
Aluna menggeleng mantap. "Tidak bunda, Aluna ingin sekalang! Halus sekalang!"
Lina terdiam menatap putrinya. Mungkin, karena Aluna jarang bermain dengan anak anak seusianya oleh karena itu, sekali dapat teman yang satu frekuensi mungkin dia ingin terus bermain. Pasalnya anak anak tetangga sudah mulai tumbuh remaja.
Aluna mengangguk. "Baik bunda. Telima kasih..." Ucapnya tersenyum manis.
"Iya sama sama, Yuk..." Lina menggandeng tangan Aluna, mengajaknya ke rumah Mbah Lastri. Rumah Mbah Lastri berada di samping rumahnya, berada begitu dekat. Ada tanah lumayan luas yang menghubungkan rumah keduanya. Tanah yang kini di tumbuhi rumput hijau dan juga pohon pohon yang mulai bertumbuh besar.
Salah satu di antara beberapa pohon itu, ada Kevin yang tengah berdiri dengan menangis terisak. Wajahnya menunjukkan kebingungan, seperti mencari seseorang. Lantas, melihat hal itu membuat Lina dan Aluna berjalan mendekat.
"Kevin, ada apa sayang?" Tanya Lina dengan berjongkok di hadapan anak kecil itu, mengelus kepala Kevin.
"Mama papa hiks...kemana Tante?? Kenapa ga ada hiks..."
"Kevin, mama papa....mereka pergi balik ke Jakarta." Jawab Lina. Mendengar itu malah membuat kevin kembali menangis menjadi-jadi.
"Kenapa Kevin ga hiks..di ajaaak???!" Tanyanya dengan menghentakkan kaki kesal. "Mama papa jahat!! hiks,," Lanjutnya lalu berlari pergi, namun berhasil di tahan Lina.
Perempuan itu berusaha untuk menenangkan Kevin. "Hssst,,, sayang ga boleh ngomong gitu. Papa mama baik, mereka sayang sama Kevin."
"Kalau sayang hiks kenapa Kevin di tinggal??" Tanya Kevin kembali, antara marah, sedih dan kesal. "Mereka udah hiks....ga sayang sama aku hiks tanteeee..."
"Hei kamu diamlah, jangan menangis telus. Wajahmu sangat jelek kalau menangis." Sahut Aluna.
Lina menggelengkan kepala melihat putrinya. "Aluna...ga boleh gitu nak..."
"Iya bunda,,, tapi memang benal, Kevin sangat jelek bila menangis. Lihatlah wajahnya!" Jawabnya tanpa rasa bersalah.
Mendengar itu membuat Kevin menghapus air matanya, menatap kesal Aluna. "Hei kamu diam! Hiks,,, kamu ga tahu rasanya di tinggal hiks orang tua. Bocah tau apa?"
"Hssst udah udah, jangan berantem ya..."
"Ga Tante! Lihat hiks Aluna selalu mengejekku!" Ujar Kevin. "Aku tidak mengejek kamu! Aku hanya belkata jujul,," Balas Aluna tidak mau di salahkan.
"Aluna,,, Kevin,,, udah udah... Nanti Tante jadi pusing, lihat kalian cek-cok. Gimana kalau kita beli ice krim, hm?"
"Nggak tante, bilang ke hiks aku dulu, kenapa mama papa pergi? Hiks..." Tanya Kevin dengan sisa sisa tangisnya.
"Mama papa itu cuma mau Kevin nemenin nenek buat tinggal di sini. Nenek kan udah tua, terus tinggal sendirian ga ada yang nemenin sayang, kan kasian. Kevin ga kasian lihat nenek apa apa sendiri? Jadi, mau ya Kevin tinggal di sini dulu sama nenek untuk sementara waktu. Kan di sini juga ada Tante dan Aluna yang bakal jagain Kevin." Jelas Lina.
"Kenapa mama papa hiks juga ga ikut jagain nenek?"
"Mama papa sibuk kerja, nanti kalau mama papa di sini mereka kan ga bisa kerja, kalau ga kerja ga dapat uang. Kalau ga punya uang, terus Kevin, mama, papa mau makan apa?" Ucapnya. "Mereka sibukkan juga buat Kevin, biar Kevin bisa tetep sekolah, biar bisa tetep beli mainan yang banyak, beli baju yang bagus. Iya kan?"
Kevin terdiam, kepala mungilnya mengangguk kecil. "Iya tante."
"Ya sudah kalian bermain ya, tante bakal beliin ice cream. Mau main di rumah Tante apa di rumah nenek?"
"Di rumah nenek aja Tante, kasian nenek nanti kesepian kalau aku pergi dari rumah."
"Ayo Aluna..." Ajaknya membuat Aluna mengangguk. Keduanya langsung berlarian
ke arah rumah yang di bangun di lahan yang luas. Dengan dinding berbahankan kayu, dan bentuk yang mempertahankan rumah adat Jawa timur. Rumah joglo. Sedangkan itu Lina, dirinya berjalan kembali ke rumah dan masuk ke dalam kamar. Seujung matanya terarah pada Iqbal yang fokus duduk di sofa. Membuat ia langsung berjalan menghampiri.
Mata Iqbal yang fokus ke arah layar laptop
di hadapannya beralih saat Lina datang. Istrinya itu duduk di sampingnya. "Mau tak buatin teh atau kopi mas?" Tawarnya.
__ADS_1
Iqbal menggeleng. "Nggak usah."
"Istirahat, jangan kerja terus. Kecapean lho nanti..."
"Iya istriku..." Jawab Iqbal dengan nada menggoda.
Drrt drrtt drrtt...
Ponselnya berdering. "Halo..."
"Oh iya, siap bro,"
"Bisa dong,,..oke oke. Ya"
"Waalaikum salam."
"Siapa?" Tanya Lina bertepatan setelah Iqbal menutup telepon.
"Fariz."
"Fariz?? Dia itu..."
"Temen gue, kenapa?"
"Temen?? Oh kak Fariz yang itu ya...ganteng ya?"
"Masih gantengan suami mu inilah.." Balas Iqbal.
"Oh iya ya inget,,, ada apa kok telepon?"
"Iya, jadi perusahaan kita itu mau menjalin kerja sama."
"Kenapa ga dari dulu?"
"Iya soalnya dia baru ambil alih pimpinan perusahaan dari tengah bulan Januari kemarin. Sebelumnya perusahaan masih di pimpin dan di pegang sama bokapnya dia.."
"Oh gitu,,"
"Iya, dan semoga aja dengan begitu perusahaan ini juga bisa lebih berkembang jadi besar dan sukses."
"Amiin."
"Doain terus ya, doa istri itu manjur."
"Ya pasti, masa nggak." Jawab Lina. "Eh ngomong-ngomong kamu emang punya nomornya temen temen mas ya?"
"Ya punya, Fariz, Reyhan, Ilham semuanya masih punya. Bahkan si duo Tarzan, Gilang sama ojit juga masih punya."
Lina mengerutkan kening. "Duo Tarzan??" Gumamnya bingung. Tapi ya sudahlah lupakanlah, mereka berdua tidak penting. "Beruntung banget dong kalau gitu, masih bisa komunikasi sama mereka."
"Kalau Lo emang udah ga?" Tanya Iqbal. Ya begitulah dia, kadang berbicara Aku-Kamu, kadang juga masih menggunakan gue-lo. Memang kalau sudah terbiasa ya susah untuk di hilangkan.
"Cuma punya nomornya Syifa, tapi kalau Dinda sama Aisyah ga punya. Yaa...kalau dinda bisa minta ke Syifa, soalnya dia bilang punya. Tapi kalau Aisyah,,, ga tau deh harus dapet dari mana."
"Kok bisa sampe lost contact gitu?"
"Ya bisa lah, kan udah lama ga ketemu. Mereka juga pasti sibuk sama kehidupannya masing masing, jadi ga sempet lah buat komunikasi. Apalagi Aisyah, kayaknya yang paling sibuk. Kata Syifa kan dia kuliah di luar negeri."
"Oh ya? Ga di ragukan lagi sih kalau Aisyah, dari sononya juga udah pinter dia." Lina mengangguk menyetujui.
"Eh coba deh mas telepon kak Fariz lagi,...tanya dia punya nomor Aisyah ga?"
"Ga punya kayaknya."
"Kan kayaknya, coba deh tanya. Kan dulu mereka Deket, siapa tahu kan ini mereka lagi menjalin hubungan atau apa."
"Kan dulu, sekarang ga tau. Nah itu katanya Aisyah lagi kuliah di luar."
"iiih coba dulu di tanya?!!" Ujar Lina membujuk.
"Iya...nih tak teleponin." Iqbal kembali menelepon Fariz. Panggilan pertama tidak di angkat.
"Coba lagi..." Kata Lina, hal yang serupa di lakukan Iqbal seperti tadi. Beberapa saat...
"Halo, Assalamualaikum."
Suara seorang perempuan terdengar.
Iqbal mengeraskan suara panggilannya, lalu mendekatkan ponsel itu ke arah Lina, agar istrinya juga mendengar.
"Halo..."
"Iya, ada apa ya?"
Lina terdiam saat mendengar itu. Suara yang sangat sangat tidak asing baginya.
"Maaf mbak, Fariz ada?" Tanya Iqbal.
"Oh mas Fariz lagi ada di kamar mandi. Ada yang mau di bicarakan? Nanti biar saya sampaikan ke mas Fariz."
"Mbak..." Panggil Lina. "Gini aja deh, nanti kalau udah keluar dari kamar mandi, kak Fariz suruh telepon balik ya..."
Hening. Orang yang di balik telepon terdiam begitu saja, membuat keduanya saling tatap menatap bingung. "Mbak,,," Panggil Lina lagi. "Mbak masih ada di sana kan?"
"Lin..."
Deg
"Lina?"
Kini Lina yang terdiam. "Ai....Aisyah?!" Ujar Lina antara yakin dan ragu.
"Iya ini Aisyah. Lina..."
Mulut Lina terbuka menganga. Refleks dia langsung mengambil ponsel yang di pegang Iqbal, mengalihkan telepon menjadi video call. Hingga kedua wajah yang sudah lama tidak bertemu itu tampil di layar ponsel.
"AIISYAAAH!!!" Teriak Lina dengan rasa yang membuncah begitu senang. Rindu, akhirnya setelah lama tidak bertemu bisa juga melihat wajah satu sama lain, ya walaupun lewat ponsel, tapi tidak mengapa. Setidaknya masih bisa melihat wajah seseorang yang begitu di sayangnya kini baik baik saja. Ah andai dia bertemu secara langsung, ingin rasanya memeluk eraaaat sekali.
Persahabatan yang kita jalani saat ini, memang tidak seperti dulu. Di mana tidak ada jarak dan waktu yang menjadi pemisah,
Dekapan, genggaman dan senyuman begitu jelas terlihat dan terasa, dan aku sangat merindukan masa masa itu. Tentang kita.
- Lina -
__ADS_1
...********...