
"KAK REYHAAAN....!!" Teriak Syifa dengan berlari mengejar Reyhan. Namun cowok itu tetap melanjutkan langkahnya dengan gaya coolnya. Menaruh tangan kanannya ke saku celana seragam.
"Ih Kak,, kalau di panggil berhenti....." Oceh Syifa.
Reyhan menghentikan langkahnya, membuat Syifa langsung kaget dan menghentikan langkahnya secara mendadak agar tidak menabrak tubuh cowok di hadapannya. "Kok berhentinya mendadak?" Tanya Syifa sedikit kesal.
"Kan Lo yang suruh"
"Heeem..."
"Mau apa?" Tanya Reyhan dingin.
"Kak, mau minta soal"
"Apa?"
"Matematika. Yang kayak kakak kasih itu ke Aisyah" Jawab Syifa.
"Buat?"
"Ya buat Syifa kerjain lah."
"Besok"
"Kok besok? Ga bisa sekarang?"
"Soalnya udah ga ada lagi di gue. Nanti coba gue cari yang lain..."
"Oh gitu ya... Ya udah kalau gitu"
Reyhan kembali melanjutkan langkahnya, membuat Syifa juga melakukan hal yang sama. Baginya sulit sekali menyejajarkan langkahnya dengan langkah lebar kaki Reyhan. "Kak, kenapa kakak ga pernah temuin Syifa?"
"Kenapa ga Lo aja yang temuin gue?" Tanya balik Reyhan.
"Kok selalu Syifa. Kali kali kek kak Reyhan." Balasnya. "Lagian selalu ada kak Naira"
Syifa mendongakkan kepalanya. Menatap cowok yang lebih tinggi darinya. "Kakak masih Deket sama kak Naira"
Reyhan mengangguk membuat Syifa berdecih. "Tapi kalau kak Reyhan ga ketemu Syifa kangen apa biasa aja?"
"Kangen" Jawab Reyhan singkat.
"Banget" Tambahnya lagi. Padahal Syifa ingin mengajukan pertanyaan nya kembali, namun sepertinya cowok itu seakan akan bisa menebak apa yang akan di pertanyakan Syifa.
Syifa tersenyum lebar. "Bener?"
"Hm"
"Tapi kenapa ga mau nemuin Syifa kalau kangen?"
"Masih ada hal penting yang harus gue lakuin"
"Hal penting apa? Kakak kan udah kelas 3, udah mau lulus ga mungkin lah Masih lomba."
"Gue emang udah ga lomba. Tapi gue ngelatih adik kelas buat ikut lomba kedepannya"
"Sama kak Naira?"
Reyhan mengangguk.
"Hmmh....sama kak Naira terus dong jadinya"
Reyhan hanya terdiam tak menanggapi.
"Ya udah kalau gitu sekarang mau ga ke kan.." Syifa terdiam saat merasakan gesekan antara lehernya dan lengan Reyhan.
Bola matanya perlahan bergeser ke kiri, melirik tangan Reyhan yang tengah memegang bola. Sontak Syifa langsung memajukan kepalanya agar tidak saling bersentuhan, sedangkan Reyhan melempar kembali bola ke arah lapangan.
"MAKASIH KAK!!" Teriak seorang lelaki adik kelas Reyhan yang sedang berada di lapangan dengan teman temannya. Reyhan hanya mengangguk. Dia mengalihkan perhatiannya melihat Syifa.
"Ngapain?" Tanya Reyhan.
"Hm?"
"Ngapain kepalanya kayak gitu?"
Syifa langsung membenarkan posisi kepalanya dan tersenyum. "Nggak. Ga papa"
"Gue ga bisa"
"Ga bisa apa?"
"Ga bisa ke kantin sama Lo" Balas Reyhan menjawab kalimat Syifa yang sempat terpotong.
"Yah tapi..."
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Syifa. Ia memiringkan sudut bibir kirinya. "Yah...ga mau di ajak makan bareng"
Syifa membalikkan badan dan berjalan pergi menuju kantin. Mencari lalu menduduki meja yang masih kosong. Dirinya termenung.
"Fa..."
Syifa mendongakkan kepalanya. Menatap Adit yang datang dengan membawa semangkuk baso.
"Sendirian?" Tanya Adit.
"Iya"
"Kenapa. Kok mukanya gitu?"
"Ga kenapa Napa" Jawab Syifa. "Dit, tadi kamu datang kenapa ga ngucapin salam?" Tanya Syifa.
"Oh" Adit terdiam sejenak. "Iya lupa. Assalamualaikum Syifa"
"Waalaikum salam Adit" Jawab Syifa dengan tersenyum.
Syifa menatap baso yang ada di depan Adit. "Mau fa?" Tanya Adit.
"Emang gue boleh coba"
"Boleh. Silahkan aja" Adit mendorong mangkuk itu agar lebih dekat ke arah Syifa. Namun Syifa malah kembali mendorongnya ke arah Adit.
"Ga jadi deh"
Adit mengerutkan alisnya. "Lhoh kenapa?"
"Soalnya Syifa ga pengen nyobain"
"Terus kenapa tadi tanya?"
"Cuma tanya doang. Emang salah ya?"
Adit menggeleng. "Nggak kok. Ga salah"
"Berarti benerkan dit?" Tanya Syifa.
"Iya bener banget" Jawab Adit mengiyakan.
Syifa kembali terdiam melihat gerak tangan Adit yang menuang kecap sekaligus lima sendok sambal di dalam mangkuknya. "Kok ga pake saos?" Tanya Syifa.
"Ga terlalu suka fa."
"Tapi apa ga pedes ya?"
"Kalau pedes lebih nikmat..." Balas Adit santai.
"Oo gitu...Kamu berarti suka makanan pedes dong dit"
Adit mengangguk.
"Lo juga suka yang pedesnya hot, sampe bikin keringetan ga?" Tanya Syifa lagi.
"Iya..."
"Kalau gitu gue kasih tantangan. Gimana?" Tawar Syifa semangat.
"Boleh. Apa?"
"Ini,, basonya gue tambahin lagi sepuluh sendok sambal. Terus makan dalam waktu sepuluh menit. Gimana?" Tantang Syifa.
"Boleh" Jawab Adit Langsung.
"Eh tapi ngitungnya pake apa?"
Adit langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel. "Pake ponsel gue aja.."
Syifa mengambil ponsel Adit dan membukanya. "Dit,, ini password nya apa?"
"Nama gue"
Syifa mengangguk dan langsung menulis sesuai apa yang di beritahu Adit. Namun dirinya di buat bingung saat password tersebut masih menyisakan 3 karakter huruf yang belum di isi. "Nama lengkap Lo siapa dit?"
"Aditya Pratama"
"Oh" Syifa kembali melanjutkan mengisi password nya dengan menambahi huruf Y dan A. Sedangkan sisa satu huruf itu ia isi dengan huruf P sebagai singkatan dari Pratama. "Kok salah?" Tanya Syifa bingung.
"Coba lagi"
Syifa mengangguk dan kembali mencoba. Namun hasilnya tetap sama. Salah.
"Ga bisa"
"Lo udah bener kan nulisnya?" Tanya Adit memastikan.
"Udah kok. Udah bener"
"Ya udah sekali lagi di coba"
Syifa kembali mengetikkan nama Adit di pasword tersebut. "Tetep ga bisa dit" Ujarnya dengan menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Emang Lo tulis apa?"
"Aditya P" Jawab Syifa.
"Salah itu. Paswordnya nama gue"
"Ya kan nama Lo Adit" Balas Syifa.
"Paswordnya itu bukan Adit. Tapi nama gue. N, A, M, A, G, U, E..." Jawab Adit dengan menyebutkan satu persatu huruf yang di terangkai dalam pasword ponselnya.
Syifa terdiam mencermati. "OOO paswordnya itu nama gue?"
"Iya"
"Ya Allah kirain nama Lo..." Ujar Syifa dengan terkekeh dan mencoba lagi. "Oh iya bener"
"Ya udah bentar..." Ucap Syifa.
Syifa langsung mengambil mangkuk yang berisi sambal. Lalu menyendok sambalnya hingga membuat gundukan di atas sendok tersebut. Karena sambalnya memang tidak dibuat terlalu encer.
"Satu,,,, dua,,, tiga....empat,,, lima...." Gumamnya berhitung dengan terus menaruh sambal di sendok ke mangkuk baso Adit.
Adit yang melihatnya hanya bisa meneguk ludah. Setiap sendokan yang di ambil Syifa, selalu penuh memenuhi kapasitas sendok tersebut. Dirinya di buat bingung oleh Syifa yang malah menaruh semua sisa sambal yang ada di mangkuk ke basonya hingga habis dan tak bersisa.
"Katanya sepuluh fa? Kok malah di taruh semua?" Tanya Adit.
"Iya dit. Soalnya ini tinggal dikit, kan mubazir. Nanti biar di bikinin yang baru sama penjualnya." Jawab Syifa polos.
Adit langsung menatap mangkuk baso nya dengan sedap sedap ngeri. Niatnya mau ngasih sepuluh sendok, malah jadi semuanya.
"Ga papa kan?" Tanya Syifa. "Kan katanya lebih pedes lebih nikmat. Jadi dit,, ini pasti nikmatnya super double dit. Iya kan?"
Adit hanya mengangguk pasrah. Menyesali akan keputusannya yang menerima tantangan Syifa. Syifa langsung membuka kembali ponsel Adit dengan password yang sudah ia ketahui.
"Udah siap ya dit...Satu..."
"Dua...Tiga!!"
Syifa menyetel stopwatch untuk menghitung waktu.
Dengan kepasrahannya Adit melahap satu persatu baso dengan menahan pedas yang semakin menjalar di lidah dan mulutnya.
"Ayo dit,,, ayo dit!! Cepet dit.... sebelum waktunya habis,, cepet cepet!!" Pekik Syifa mensupport dengan bertepuk tangan. Tak peduli dengan beberapa pasang mata yang melihatnya kesal karena terganggu.
"Hushhh haaaaahh....." Itulah yang sekarang di lakukan Adit. Ber huh-hah huh-hah kepedasan.
Dirinya hanya memakan baso dan mienya. Tidak berani untuk meminum kuahnya. "Ayo dit ayo...." Seru Syifa.
Adit meletakkan garpu dan sendok di mangkuknya. Matanya kini memerah kepedasan. "Minum fa..."
"Oh iya iya bentar..." Syifa langsung berdiri dan berlari membeli minuman. Setelah sampai, dia langsung menyerahkannya pada Adit.
Dengan cepat Adit meneguk minumannya hingga tersisa setengah. "Eh dit, kok bibir kamu jadi merah gitu ya?? Pake apa?" Tanya Syifa. "Mana kayak alami banget lagi"
Adit terus meneguk minumannya tanpa mempedulikan Syifa. "Pedes ya?" Tanya Syifa. Adit mengangguk.
"Aduh fa,, gue ke toilet dulu ya..."
"Iya"
Tanpa pamit ataupun mengucapkan salam, Adit langsung berlari ke arah toilet. "Kasian. Kayaknya Adit emang bener bener kepedasan" Gumamnya. "Eh tapi ga papa deh. Kan dia bahagia bisa makan yang nikmatnya double"
Mata Syifa tertuju pada ponsel Adit yang masih berada di meja. "Lah ponselnya ketinggalan... Kasih nanti kali ya"
Syifa segera mengambil dan menaruh ponsel Adit di saku roknya. Lalu, dia mengambil sendok dan kuah yang masih tersisa di mangkuk Adit. Ingin mencoba nya saja, penasaran akan tingkat kepedasan dari baso tersebut. Mulut Syifa langsung menyeruput kuah tersebut.
Satu Detik....
Dua detik....
"Haaaahhhh....Pedeeeessss!!! Huuuuhh" Syifa mengibas ngibaskan tangan kirinya ke arah mulut, sedangkan tangan kanan mengambil sebotol minum yang tadi di minum Adit.
"Yah abis...!!" Ucapnya kesal. "Ah,, lidah gue...." Syifa langsung berdiri dan berlari keluar kantin.
Dirinya sibuk berkumur beberapa kali untuk menghilangkan rasa pedasnya. "Heeh ya Allah,,, udah kayak kebakar aja mulut gue..."
"Gitu kok di bilang nikmat ya sama Adit,"
Setelah rasa pedasnya mulai reda. Syifa kembali berjalan menuju kelas.
"AISYAH!! DINDA..." Panggilnya dengan melambaikan tangan di koridor sekolah.
Aisyah dan Dinda yang berjalan dari kejauhan menoleh. "Assalamualaikum" Ujar Syifa yang tiba tiba sudah ada di hadapan mereka.
"Waalaikum salam"
"Dari mana?"
"Habis bayar biaya camping" Jawab Aisyah.
"Kok gue ga di ajak??"
"Tadi kan udah aku ajak fa,, tapi katanya kamu mau nemuin kak Reyhan" Jawab Aisyah.
"Terus Lina? Ga sama kalian?"
Mereka berdua menggeleng.
"Terus dia kemana?" Tanya Syifa lagi.
••••••
20.35
Syifa membuka tasnya, ingin mengganti buku pelajaran tadi dengan pelajaran besok. Dia terdiam saat melihat ponsel Adit yang ia taruh di tasnya tadi siang. "Oi ya,, ponselnya Adit masih ada di gue..."
Syifa mengambil dan mengamati ponsel itu baik baik. "Heh fa,, itu ponselnya siapa?" Tanya Lina.
"Ini? Ponselnya Adit"
"Kok ada di Lo?"
"Ya soalnya ponsel dia ketinggalan di meja kantin. Mau gue balikin tapi lupa"
Lina menghela pelan. "Ya udah, jangan di keluarin gitu. Ketahuan mbak mbak pengawas habis Lo di marahin"
•••••
Lina, Dinda dan Aisyah berjalan beriringan melewati lorong sekolah. Sedangkan Syifa, katanya dia akan menemui Reyhan untuk mengambil soal yang dia minta kemarin. Ghea dan fariz, mereka berdua juga berjalan dari arah berlawanan. Membuat Aisyah memilih untuk menundukkan kepalanya.
Ghea menatap mereka bertiga. Khususnya Aisyah. Otak liciknya mulai muncul. Dengan sengaja Ghea sedikit merentangkan kaki kanannya saat mereka berpapasan. Tentu saja, Aisyah yang berjalan di paling pinggir di antara mereka menjadi tersandung dan hampir terjatuh.
"Eh Syah,, Lo ga papa?" Tanya Lina refleks.
Aisyah menggeleng.
Ghea menghentikan langkahnya, begitupun dengan Fariz. "Makannya jalan pake mata" Ketus Ghea.
Lina langsung melotot kesal. "Orang jelas jelas Lo yang sengaja buat Aisyah kesandung tadi. Lo pikir gue buta? Ga lihat apa yang Lo lakuin?" Gertak Lina.
"Kok Lo malah jadi nyalahin gue"
"Ga usah ngelak!!" Selak Lina.
"Udah udah Lin... ga usah di ladenin..." Bisik Dinda.
"Ga bisa gitu Din..." Balas Lina.
"Heh Lo itu adik kelas. Jadi ga usah sok jago gitu!!" Ujar Ghea.
"Bodo amat. Mau gue adik kelas, mau gue kakak kelas, mau gue guru, mau gue kepala sekolah ga ada bedanya. Yang salah tetep salah,," Jawab Lina.
"Lo bener bener ya. Ga ada sopan santunnya. Makannya kalau temenan itu jangan sama cewek munafik kayak dia" Ghea menunjuk dan menatap tajam Aisyah. "Jadi ga bener kan Lo"
Lina langsung menurunkan jari telunjuk Ghea yang menunjuk sahabatnya. "Munafik Lo bilang?"
"Iya. Aisyah itu munafik!!" Ucap Ghea mempertegas pernyataannya.
"Dasar..." Lina langsung menarik ujung rambut Ghea tanpa pikir panjang terlebih dahulu. Menciptakan keributan juga kerumunan.
"Awww aww aww..." Ringis Ghea.
Fariz langsung melepas paksa tangan Lina. "Lo jangan berani ya sakiti Ghea..." Ujarnya memperingati.
Lina langsung mengerutkan keningnya. Perubahan yang di ciptakan Fariz memang benar benar terlihat. Bahkan tadi Ghea telah mengatakan Aisyah munafik, namun lelaki itu tetap diam bahkan lebih membela Ghea. "Kak,, kakak ga salah belain dia. Dia bilang Aisyah munafik!!" Ucap Lina membela sahabatnya.
Fariz menatap Aisyah, lalu menatap Ghea. "Bener apa kata Ghea. Aisyah itu emang munafik" Balas Fariz membuat semuanya yang menonton terkejut bukan main. Pasalnya selama ini yang mereka lihat memang Fariz dan Aisyah dekat, bahkan Fariz kerap kali membela gadis itu.
Aisyah langsung menatap Fariz. Matanya memerah. Memang apa kesalahannya hingga Fariz berani berbicara seperti itu, bahkan di hadapan semua orang yang sedang berkurumun menonton perdebatan mereka. Sedangkan Ghea langsung tersenyum senang akan pembelaan Fariz terhadapnya.
"Kan,, Lo denger sendiri kalau Aisyah itu cewek munafik," Cetus Ghea. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "JADI GAIS,, AISYAH ITU GA SEPOLOS YANG KALIAN LIHAT SELAMA INI. GA SEBAIK YANG KALIAN KIRA. DIA ITU LICIK. KALAU KATA GUE SIH,, DIA ITU MUSUH DALAM SELIMUT. JADI HATI HATI AJA..." Seru Ghea di tengah tengah mereka. Aisyah yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala. Tidak membenarkan semua yang di katakan Ghea.
"Nyatanya dia rela ngelakuin apapun hanya demi uang. Dan ujung ujungnya anak kecil yang di jadiin korbannya. Parah ga sih?" Seketika semua orang Langsung mencerna kata kata Ghea. "Sebenarnya sih,, gue ga mau ceritain semuanya, kasian. Pasti malu kalau kedoknya kebongkar. Makannya gue cukup kasih peringatan ke Lo semua. HATI HATI...!!"
Berbagai pertanyaan itu mulai muncul, berbagai prasangka dan dugaan buruk tercipta. Pandangan mereka terhadap Aisyah yang polos pun berubah karena termakan kata kata Ghea. Aisyah, dia hanya menatap Fariz. Kenapa cowok itu terdiam? Di mana ketegasannya dalam melindungi dirinya seperti dulu saat dia di permalukan? Benarkah Fariz sudah berubah sekarang?
"Omong kosong!! Tutup mulut Lo!!" Geram Lina yang tangannya sudah gatal ingin memberi pelajaran pada Ghea.
Dia langsung menarik kembali rambut Ghea dengan sekuat tenaga. Rasanya ingin sekali memukul wajah gadis itu hingga babak belur. Tapi tidak lah, dia tidak akan melakukannya. "iiiih rasain nih ya...." Lina semakin menarik rambut Ghea.
"Aduuhhh aww, lepasin...!!" Rengek Ghea dengan berusaha melepas tangan Lina. Namun sepertinya kekuatan gadis itu dua kali lipat lebih dari tenaganya. "Ngomong lagi gue bonyokin muka Lo..." Geram Lina kesal.
Ghea langsung memberi cubitan pada Lina. Karena kukunya agak panjang, jadilah Lina melepaskan jambakannya. "Aww..."
"Udah Lin. Ga usah di perpanjang" Sahut Dinda namun tak di gubris olehnya.
"Yah,,, rambut gue..." Ghea menatap sedih rambut nya yang rontok. "Gara gara Lo! Dasar!! Perawatannya mahal ini rambut gue...."
"Perawatan nya mahal, perawatannya mahal. Bodo amat gue!!" Balas lina.
"Kurang ajar Lo, bener bener!!" Ghea langsung meluncurkan serangan baliknya. Dan hal itu sukses mendarat di kening Lina, meninggalkan goresan panjang.
__ADS_1
"Ih,,, aduh perih..." Ringis Lina dengan memegang keningnya.
"Lina. Ga papa?" Tanya Aisyah.
"Dasar kucing garong!!" Erang Lina menatap tajam Ghea. "Main cakar aja..."
"EH EH EH,,, ADA APA INI?" Semuanya langsung menoleh ke arah wanita gendut dengan menggunakan hijab dan seragam guru. "KALAU MAU CARI RIBUT JANGAN DI SINI!" Bentak Bu Desi.
"Siapa yang mulai duluan?"
"Dia Bu..." Jawab Lina menunjuk Ghea.
Ghea melotot dan menggeleng. "Ga Bu, dia bohong. Kan kalian yang mulai duluan!!"
"Lo jangan memutar balikkan fakta deh. Jelas jelas Lo..."
"Saya tanya siapa yang mulai? Kok malah kalian ribut lagi. Jujur sama ibu siapa yang mulai duluan?" Tanya Bu Desi lagi.
"DIA..." Jawab mereka berdua dengan saling menunjuk.
"Issh,, dia Bu...beneran!!" Ujar Ghea dengan penuh keyakinan. "Lihat ini Bu,, rambut saya sampai rontok segini banyaknya gara gara di jambakin sama mereka!!"
"Eh eh,, Lo ga lihat. Muka gue juga Lo cakar!! Kucing Garong!!" Timpal Lina tak mau kalah. "Bu,,, sumpah Bu. Saya berani sumpah demi Allah,,, kalau si Ghea yang mulai duluan bukan kita..." Ucap Lina berusaha meyakinkan.
"Nggak Bu!! Dia bohong. Mereka duluan yang mulai. Saya punya saksi,, Fariz!! Karena dia yang sejak awal ada di sini Bu." Seketika Fariz langsung menatap Ghea. "Ya kan Riz? Tadi mereka duluan kan yang mulai ribut?" Tanya Ghea lagi.
"Fariz? Siapa yang mulai duluan. Mereka atau Ghea?" Tanya Bu Desi.
Fariz mengalihkan pandangannya menatap Aisyah yang ternyata juga menatapnya. Pandangan mereka saling bertemu. Mata gadis itu,,, seolah olah memintanya untuk menjawab jujur apa yang sebenarnya terjadi. Namun,,, saat dirinya melihat Aisyah. Hanya kejadian itu yang Fariz ingat. Kejadian yang membuat rasa kepercayaan berubah menjadi kekecewaan yang mendalam.
"Mereka" Jawab Fariz. Namun matanya masih menatap Aisyah. Mendengar hal itu, ketiganya langsung tersentak kaget. Bagaimana bisa Fariz mengatakan hal itu, sedang dia melihat sendiri kejadian awal sampai akhir. Aisyah menggelengkan kepalanya menatap Fariz. Apa yang sebenarnya ia benci dari dirinya? Apa kesalahannya? Dan kenapa dia berbohong hanya untuk membela Ghea?
"KALIANN!! IKUT IBU..." Ketus Bu Desi dengan suara lantang.
Lina mengeratkan gerahamnya. Dia menggandeng kedua sahabatnya. "Ayo Syah, Din..." Ajaknya untuk mengikuti Bu Desi. "Biarin mereka...." Lanjutnya dengan melirik Fariz dan Ghea.
Ghea tertawa senang. "Sukurin! Emang enak." Dia kembali menatap Fariz. "Riz,,, makasih ya udah belain gue"
Namun Fariz hanya melihatnya sekilas, dan berjalan cepat pergi meninggalkan nya.
"SIKAP HORMAT BENDERA!!" Teriak Bu Desi lantang membuat ketiga gadis yang sedang berbaris di tengah lapangan menghadap bendera langsung melakukan hal seperti apa yang di perintahkan.
"POKOKNYA,, IBU HUKUM KALIAN UNTUK BERDIRI DI SANA SAMPAI ISTIRAHAT KEDUA? PAHAM??"
"PAHAM BU..." jawab mereka kompak.
"Bagus!! Jangan ada yang ngobrol. Kalau ibu lihat, ibu tambahin hukumannya. PAHAM??"
"PAHAM BU..." Jawab mereka lagi.
•••••
"Dit,,, ini ponsel Lo" Tangan Syifa terulur ke arah Adit. Memberikan ponsel yang ada di tangannya.
"Oh, ada di Lo fa?"
"Iya. Lo sih kemarin, main pergi aja. Ponselnya jadi ketinggalan deh"
"Iya. Sorry. Pantes aja tadi malam gue cari ga ada. Makasih ya"
"Iya" Jawab Syifa. "Dit,, perut lo ga papa kan? Soalnya kemarin itu gue sempet minum dikit tuh kuahnya, taunya pedes banget. Apalagi Lo ya yang makan banyak. Biasanya kalau gue makan pedes gitu, perut suka mules. Lo juga gitu dit?"
Adit mengangguk. "Iya. Kemarin perut gue sempet sakit. Tapi sekarang udah baikan"
Syifa menghela sedih. "Yah kasian..."
"Fa..."
Keduanya menoleh ke samping. Syifa langsung tersenyum senang. "Kak!! Oi ya,,, tadi Syifa juga mau temuin kakak. Tapi lupa gara gara ketemu Adit"
Reyhan melirik sekilas Adit. "Mau soal?"
"Mau mau mau...mana?"
"Ikut gue" Balas Reyhan dingin.
"Iya ya..." Syifa kembali melihat Adit. "Dit,, gue pergi dulu ya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Keduanya langsung pergi. Reyhan melangkah ke lantai atas, membuat Syifa juga mengikutinya. "Ini soalnya..."
Dengan tersenyum Syifa langsung meraih lembaran soal tersebut. "Makasih ya kak,"
"Oi ya,, kalau udah selesai ngerjain nanti kak Reyhan mau ngoreksi kan?"
"Boleh"
"Ya udah berarti..." Syifa menghentikan kalimatnya saat matanya terarah ke lapangan. Dia langsung melihat ke arah bawah.
"Yah mereka pada ngapain di situ??"
"Kak,, Syifa pergi dulu ya. Assalamualaikum" Ujarnya pada Reyhan.
"Waalaikum salam"
Dengan cepat Syifa langsung pergi menuruni anak tangga dan berlari ke lapangan. "Kalian ngapain di sini?"
Ketiganya langsung terkejut mendengar pertanyaan Syifa yang tiba tiba. "Lo ngapain di sini?" Tanya Lina.
"Gue cuma mau tanya ke kalian? Kok kalian ada di sini?"
"Di hukum" Jawab Lina jutek.
"Di hukum? Karena apa?"
"KAMU!!"
Syifa langsung membalikkan badan. Melihat Bu Desi yang menatap ngeri kepadanya.
"SINI KAMU!!"
"Iya Bu..." Jawab Syifa dari kejauhan. Dia langsung berjalan mendekat. "Ada apa Bu?"
"Ada apa, ada apa. Ngapain kamu di sana ha? Mau ibu hukum juga?" Tanya Bu Desi dengan nada tinggi.
"Boleh boleh. Silahkan aja Bu..." Jawab Syifa yang sama sekali tak keberatan. Sedangkan guru gendut itu mengernyitkan dahinya bingung.
"Di hukum kok seneng" Gumamnya heran. "Nggak!! Masuk ke kelas aja kamu!!"
"Lhah, ga jadi di hukum Bu?" Tanya Syifa lesu.
"Nggak!! Saya bilang masuk ke kelas!!"
"Tapi Bu,, saya mohon. Tolong hukum saya ya Bu. Ya,,,, pliss...." Syifa menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Lina yang mendengarnya hanya melirik tajam Syifa dari kejauhan. "Dasar aneh..." Gumamnya
"Nggak!!" Ketus Bu Desi.
"Yah Bu,, nanti saya janji deh ga bakal nakal lagi. Tapi tolong hukum saya ya,,,"
Bu Desi terdiam. Baru kali ini ada murid yang memohon untuk di hukum. "Ya udah sana kalau kamu mau..."
Syifa langsung menganga senang. "Yeess!! Makasih Bu,,, makasiiih banyak."
"Aneh ya kamu..." Gumam Bu Desi.
"Mau saya aneh mau saya nggak pokoknya makasih. Ah lope lope banyak buat ibu..." Syifa langsung membalikkan badan dan berjalan dengan senang hati bergabung bersama mereka.
Syifa berdiri di samping Dinda. "Fa,, kok kamu ada di sini??" Tanya Dinda pelan.
"Di hukum"
"Kenapa?"
"Karena gue yang minta" Jawab Syifa santai.
"Kok kamu malah minta di hukum?" Tanya Dinda heran.
"Ya biar bisa sama kalian. Kalau kalian di hukum, gue juga harus di hukum. Kan sahabat" Balasnya membuat Aisyah dan Lina juga turut melirik Syifa.
"Baik ya kamu fa..." Ucap Dinda dengan tersenyum.
"Oh ya tentu..."
"JANGAN NGOBROL!!" Suara Bu Desi kembali terdengar membentak mereka dari kejauhan.
Syifa menghela pelan dengan menatap langit. "Langit hari ini cerah ya,, gue aja baru berdiri di sini udah kepanasan"
"Heeeh,, coba deh bayangin kalau kita di hukum panas panasan terus di kasih es kelapa muda"
"Pasti seger ya fa..." Sahut Aisyah.
Syifa mengangguk.
"Diem Lo fa. Jangan bikin kita jadi kepingin" Timpal Lina.
Syifa melirik Lina. "Lo pengen es kelapa muda Lin?"
"Hm"
"Tahan,,,, Tahan,,,,, bayangin aja dulu ya,, nanti baru beli" Balas Syifa. "Es kelapa muda, nyatanya emang nyegerin,"
••••••
اُنْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ وَلَلْاٰخِرَةُ اَكْبَرُ دَرَجٰتٍ وَّاَكْبَرُ تَفْضِيْلًا
Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian (yang lain). Dan kehidupan akhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaan. (Q.S Al Isra : 21)
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۙ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ عَظِيْمٌ
__ADS_1
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (bahwa) mereka akan mendapat ampunan dan pahala yang besar. (Q.S Al Maidah : 9)
...*******...