Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Satu!Dua!Tiga!


__ADS_3

"Fa,,,," Panggil Lina.


Syifa yang kala itu sedang sibuk mengerjakan tugas langsung menoleh pada Lina.


"Hm"


"Cowok yang kemarin bicara sama Lo itu siapa?" Tanya Lina.


"Yang mana? Cowok yang bicara sama gue banyak nggak cuma satu."


"Yang waktu Lo ngobrol sama dia, gue panggil"


Syifa terdiam. Berusaha untuk mengingatnya. "Oo yang itu,, gue gak tahu. Gak kenal juga"


"Terus kenapa dia bisa ngobrol sama Lo?"


"Dia cuma nanya tentang kak Iqbal. Udah itu doang" Jawab Syifa. "Kenapa Lin?" Tanya nya.


Lina terdiam. "Tadi pagi waktu istirahat, gue lihat cowok itu berantem sama Iqbal"


"Hah beneran?!" Tanya Syifa dengan lebih mendekat pada Lina. Lina mengangguk.


Mereka berdua terdiam. "Tapi kayaknya cowok itu anak baru deh" Ucap Syifa.


"Maksutnya?!" Tanya Lina.


"Ya iya,, masak dia ga tau kak Iqbal kelas berapa. Nih ya, kalau dari awal dia sekolah disini pasti dia nggak bakal nanya kak Iqbal kelas berapa. Dia udah tau sendiri pastinya. Secara,,, kak Iqbal itu temen Deket kak Fariz sama kak Reyhan. Sedangkan kak fariz sama kak Rey,, mereka berdua itu populer di sekolahan." Ujar Syifa.


Lina terdiam, memang ada benarnya juga kata kata Syifa.


•••••


"Assalamualaikum" Ujar Ilham yang baru saja memasuki kelas.


"Waalaikum salam" Jawab Ojit, Gilang, dan iqbal.


"Lagi ngobrol apa nih kok kayaknya seru,,"


"Tau tu si Gilang. Gaje banget dah" Jawab Iqbal.


"Gaje itu apa?" Tanya Ilham.


"Ga jelas" Jawab Iqbal membuat Ilham manggut manggut paham.


"Ikan hiu makan brokoli, I love you buat neng Lili.." Teriak Gilang di dalam kelas dengan memberikan love jemarinya. Sedangkan Lili yang mendengarnya hanya menatap jijik Gilang.


"Astaghfirullah Lang,, sejak kapan Lo mulai genit kayak gini?!" Tanya Ojit histeris.


"Kurbel banget sih Lo Lang!!" Ketus Iqbal.


"Kurbel itu apa?" Tanya Ilham.


"Kurang belaian. Kuper banget sih Lo. Gitu aja ga tau"


"Bisa jadi kan kurbel itu kurang belajar, atau yang lain. Terus Kuper itu apa?" Tanya Ilham lagi.


Iqbal berdecih. "Kurang pergaulan. Gitu aja gatau. Jangan jangan Lo juga ga tau caper itu apa"


"Kalau caper gue tahu, makannya kalau ngomong jangan suka di singkat"


"Biar hemat!!" Jawab Iqbal.


"Tadi malam, gue baca buku tips biar cepet punya pacar." Bisik Gilang pada Ojit.


"Et dah,, gara gara nggak laku gini amat ya" Ucap Ojit.


"Mana ada hiu makan brokoli Lang?!" Kata Iqbal. "Lo pikir hiu vegetarian ha?" Lanjutnya lagi.


"Sabar dong abwaang,, jangan nge-gas" Ujar Gilang.


"Abwang,,, Adek juga mau di kasih pantun dong!!" Rengek Ojit pada Gilang.


"Jalan jalan ke laut,, eh ketemu sotong"


"Cwakep" Kata Ojit dengan mengacungkan jempolnya.


"Gue juga ketemu ikan bersisik"


"Iya lah ikan bersisik, ya kali berbulu" Gumam Iqbal.


"Dari pada Lo banyak ngomong,, lebih baik diem ga berisik!" Lanjut Gilang.


"Pantun model apaan itu Lang!?" Tanya Iqbal.


"Kayak Lo ga berisik!! Yang paling berisik dari tadi itu Lo!!" Ujar Ojit nyolot.


"Tenang jit!!" Kata Iqbal.


"Esmosi aku tuh!!" Jawab Ojit.


"Iya sabar..."


"Li gue buatin pantun lagi ya" Teriak Gilang.


"Abang pergi beli tali" Kata gilang. Berpantun.


"Cakweep!!" Ujar Ojit dengan gaya yang di lebay kan. Amarahnya hilang seketika, entah dikarenakan apa.


"Adek pergi beli sawi"


"Cakweep!!"


"Ya Allah,,, sejak kapan ni ye temen gue berubah jadi jelmaan genit kayak gini" Gumam Iqbal.


"Ayolaah Lili, masak ga mau sama Abang yang gantengnya kayak Alwi" Lanjut Gilang.


Ojit memutar bola matanya. "Kok gue gak terima ya,, Alwi disamain sama Lo" Ujar Ojit. " Lo ga ada level apa apa kalau di bandingin sama Alwi" Tambahnya lagi.


"Diem Lo" Ketus Gilang.


"Li bales dong Li. Ayo bales!!" Teriak ojit pada Lili.


"Iya Li bales dong Li, jangan mau kalah" Timpal Iqbal.


Lili yang mendengarnya hanya memutar bola mata malas, dengan menutupi kedua telinganya. "Lili,, ayo bales!! Lili,, bales Li" Teriak Iqbal dan Ojit.


"Bales, bales, bales!! Jawab Li... jangan mau kalah,, Lili bales!!" Teriak mereka berdua seperti orang yang sedang menonton sepak bola.


Lili membuang nafas kasar. Demi apa,, dia benar benar kesal kali ini. "Iya iya gue bales!!" Tegas Lili membuat keduanya terdiam menunggu. Lili menghela pelan.


"Beli nampan beli rantang, Lo cakep sekebun binatang" Jawab Lili,, seketika Ojit dan Iqbal tertawa lepas. Sedangkan Ilham hanya geleng geleng melihat teman temannya tersebut.


"Beeuuhh,, mantep Li..Ini ni yang gue suka hahaha" Ujar Ojit masih dengan tawa renyahnya.


"Iya lah ganteng,, saingannya monyet" Kata Iqbal membuat keduanya kembali tertawa.


"Gak asik kalian semua" Ketus gilang.


"Udah udah perut gue sakit ketawa mulu" Ujar Iqbal dengan memegangi perutnya.


Gilang berdiri dari tempat duduknya. Lalu pergi keluar kelas. "Lah ngambek orangnya" Gumam Ojit dengan menatap Gilang yang pergi keluar kelas.


•••••


Plaakk


Tamparan keras persis mendarat di pipi aisyah, membuat gadis itu memegangi pipinya yang kini terasa sakit.

__ADS_1


"Gue kan udah bilang sama Lo,, jauhin Fariz!!" Bentak Ghea. "Mau gue tampar lagi biar Lo ngerti bahasa gue ha?"


"Lo itu ga usah sok polos ya Syah!! Jujur ke gue Lo kasih apa ke Fariz sampe dia mau sama Lo? ha? Lo pelet dia?" Tanya Ghea dengan nada sinis.


Ghea tersenyum sadis. "Emang sekarang ya,, penjahat modal polos. Ya persis kayak Lo,, kelihatannya polos, baik...tapi dalemnya cih.."


Ghea mencengkeram erat lengan Aisyah. "Lo jauhin Fariz,, atau Lo akan tau akibatnya... Dan omongan gue untuk kali ini ga main main!" Tegas Ghea. "Denger ya,, kalau untuk besok Lo masih Deket sama fariz. Lihat aja yang akan terjadi nanti" Ancam Ghea.


"Aawww..." Ghea meringis karena tangannya juga tiba tiba di pegang erat oleh seorang gadis. "Lepasin ga tangan gue!!" Ketus gue dengan menepis kasar tangan Lina. "Lo berdua siapa ha? Beraninya sama gue. Lo ga tau siapa gue? Gue ini Ghea. Pacar Fariz"


"Ha,, siapa siapa?" Tanya Lina memastikan.


"GHEA!! PACARNYA FARIZ. Budeg apa ya kuping Lo" Ujar Ghea memperjelas.


"YANG TANYA?? EEAA..." Jawab Lina dengan tertawa remeh.


"Bener bener ya Lo,, rese banget jadi orang!"


"Ooo,, kasian. Cuma bisa ngaku ya,, Masalahnya kak Fariz ngakuin Lo sebagai pacarnya ga? Nggak kan? Halu sih Lo. Pakai bawa bawa kak Fariz lagi" Ujar Lina. "Heh Lo apain temen gue?!"


"Oh,, jadi Lo berdua temen Aisyah?!" Tanya Ghea.


"Kalau iya kenapa? Tunggu tunggu..." Ucap Syifa dengan menatap Ghea. "Lo kan cewek yang waktu itu,,, ooo gue baru paham!!"


"Jadi Lo kalau di depan pura pura baik,, kalau dibelakang kayak gini iya?? Cih,, munafik banget Lo!!" Ujar Syifa.


"Diem ya Lo! heh Lo berdua bilangin sama orang sialan ini jangan Deket Deket fariz!!" Ujar Ghea dengan menunjuk Aisyah.


"Ya nggak bisa gitu dong! Orang kak Fariz demennya sama Aisyah kok!" Jawab Syifa.


"Gue yakin,, temen Lo itu pasti kasih yang aneh aneh sama Fariz. Di guna guna kali. Makannya Fariz mau!!"


"Jangan sembarangan lo kalau ngomong!!" Tegas Lina.


Syifa terdiam saat meihat jam yang melingkar ditangan Ghea. "Itu,,," Syifa menatap jam tangan milik Ghea. "Itu kan kayak jam tangan Lo Syah!!" Ujarnya membuat perhatian ketiganya teralihkan.


"Kenapa? Lo iri lihat gue pakai jam tangan mahal iya?" Tanya Ghea.


"Heh,, Lo dapet jam tangan itu dari mana?" Tanya Syifa.


"Ini? Ini yang kasih Fariz" Jawab Ghea.


"Syah jam tangan Lo mana?" Tanya Syifa.


Aisyah terdiam. "Jam..jam tangannya udah aku kembaliin ke kak Fariz" Jawab Aisyah.


"Hah? Kenapa di kembaliin Syah?" Tanya Lina.


Syifa terdiam sejenak. "Oo,, jadi sekarang Lo demen pake yang bekas gitu?"


"Heh,, Fariz kasih ini ke gue karena dia tahu gue pantes pake yang mahal kayak gini. Ya kali Fariz kasihnya ke aisyah. Ngoco Lo!!"


"Kalau Lo ga percaya tanya aja ke kak Fariznya langsung. Itu pertama di kasih ke Aisyah, karena Aisyah ga mau terus dikembalikan lagi ke kak Fariz. Terus kak Fariz pasti dikasih ke Lo" Jelas Syifa. "Berarti intinya, jam yang Lo pakai itu jam bekas punya nya Aisyah!!" Lanjutnya lagi.


•••••


"Kak reyhaann!!" Panggil Syifa dari arah belakang. Reyhan mempercepat langkahnya. "Kak Reyhan jangan cepet cepet dong,," Lanjutnya lagi dengan menyejajarkan langkah kakinya.


"Ih kak Reyhan dibilangin jangan cepet cepet malah tambah cepet. Mentang mentang kakinya lebar" Omel Syifa. Gadis yang tingginya sebatas bahu Reyhan.


Reyhan menghentikan langkahnya. "Mau ngapain?"


"Mau pulang" Jawab Syifa. Reyhan kembali melangkah. "Kak,, kakak juga mau pulang kan. Pulang bareng yuk!!" Ajak Syifa dengan mendongakkan kepalanya. Berusaha menatap Reyhan.


"Kak Rey aku boleh tanya ga?"


"Nggak!"


"Oke aku tanya ya. Kakak kalau jalan sama aku rasanya gimana? Deg deg an ga?


"B aja"


Reyhan menghela pelan. "Biasa aja maksutnya"


"Jadi kakak ga merasa kayak ada yang aneh gitu? Tanya Syifa. Reyhan menggeleng. "Yah kak padahal kalau aku Deket kak Reyhan kadang kadang kayak deg deg an. Aku juga ga tau kenapa. Jedag jedug gitu rasanya. Aku kira Kakak juga ngalamin hal yang sama" Lanjutnya.


"Kak aku boleh tanya lagi ga?"


"Nggak"


"Oke,, kakak kalau.."


"Bisa diem ga?!" Tegas Reyhan.


"Bisa" Jawab Syifa.


"Ya udah diem" Kata Reyhan.


"Oke" Syifa terdiam menuruti perkataan Reyhan. "Kak aku boleh tanya ga?"


"Diem,,"


"Susah!!" Jawab Syifa.


Reyhan membuang nafas kasar. Dia kembali menghentikan langkahnya. "Dengerin baik baik"


"Iya,, pasti di dengerin kok" Jawab Syifa.


"Pertama, gue itu ga suka sama lo dan ga akan pernah suka! Kedua, berhenti buat ngejar ngejar gue lagi!" Ujar Reyhan.


"Dengerin Syifa baik baik. Satu! Aku suka sama kak Reyhan. Dua! Dan akan terus suka. Tiga! Syifa ga bakal berhenti buat ngejar kak Reyhan sebelum kak Reyhan juga suka sama Syifa. Paham?" Ujar Syifa tau mau kalah.


Reyhan mengacak-acak rambutnya. Percuma saja dia berbicara panjang lebar dengan gadis di sampingnya ini. "Jadi kak, gimana dong? Kapan kak Reyhan suka sama aku?" Tanya Syifa.


"7 abad lagi" Jawab Reyhan ngasal.


"Beneran? Janji ya 7 abad lagi kak Reyhan bakal suka sama aku. Ga papa deh lama aku bakal tetep nungguin kok" Jawab Syifa. Reyhan mengusap kasar wajahnya, entah dikirim dari mana gadis seperti Syifa ini.


"Kak.."


"Apa?" Tanya Reyhan datar.


"Aku haus. Beli minum yuk!!"


"Beli aja sendiri" Ujar reyhan dingin.


"Yah kak kok beli sendiri,, Nanti kalau ada apa apa sama aku gimana? Kakak ga khawatir?" Ujar Syifa. "Kak nanti kalau aku pingsan disini gara gara kehausan gimana? Kakak mau tanggung jawab?"


Reyhan tetap terdiam. "Nih kak tenggorokan ku udah kering banget. Butuh asupan mineral nih... ya kak. Cuma sebentar kok.."


Reyhan menghela pelan. Percuma saja dia menolak, pasti gadis itu akan terus membujuknya dan mengomel sepanjang perjalanan. Hah, menyebalkan.


"Ya udah cepet!!" Ketus Reyhan.


Syifa tersenyum riang. "Oke" Dia langsung mengedarkan pandangannya. Mencari warung disekitar sana. "Kesana kak"


Reyhan mengangguk. Lalu keduanya segera berjalan menuju warung tersebut. "Gue tunggu diluar" Kata Reyhan. Syifa mengangguk, lalu segera masuk ke warung tersebut yang ternyata di isi oleh semua pria. Namun Syifa berusaha untuk tidak peduli.


"Hai cewek" Ujar salah satunya membuat Syifa langsung bergidik jijik. Dia langsung mengambil air minum yang sudah tersedia disana.


"Bu,, ini uangnya" Ujar Syifa dengan menyodorkan uang. "Kembaliannya ambil aja"


"Makasih neng"


Syifa mengangguk.


Dirinya segera keluar dari warung, namun salah satu lelaki tersebut memegang tangan Syifa. Menahannya.

__ADS_1


"Mau kemana? Di sini dulu dong cantik, ngobrol bareng kita" Ujarnya.


"Ih lepasin ga,,, lepasin!!" Tegas Syifa dengan menepis kasar tangan cowok tersebut.


"Eh eh, cantik cantik kok galak" Ujar salah satunya.


"Bodoh,," Ucap Syifa lalu kembali melangkah dan lagi lagi ditahan oleh laki laki tersebut.


"Lo itu di ajarin agama ga sih? Hukum menyentuh yang bukan mahram itu apa?" Tanya Syifa berteriak kesal kepada mereka.


"Ya boleh boleh aja dong neng.." Jawab salah satunya lagi, membuat segerombol lelaki tersebut tertawa bersamaan.


"Koplak!! Bodoh banget sih jadi orang. Ya ga boleh lah. Hukumnya haram. Lepasin ga?"


"Buru buru amat sih,, disini dulu dong. Ngobrol sebentar nanti gue traktir!" Ucap nya.


"Jangan harap ya! Lihat muka Lo aja udah bikin gue kudu muntah tau ga. Mendingan gue ngobrol sama si Paijan dari pada Lo" Ujar Syifa.


"Paijan siapa?"


"Paijan itu orang gila dikampung gue. Udah ah lepasin,, lepasin ga?" Berontak Syifa dengan memukul tangan lelaki tersebut menggunakan botol minumnya. "Gue pukul kepala Lo sampe bonyok baru tau rasa Lo!"


"Eh neng,, imut imut tapi galak"


"Masih mending, dari pada Lo burik tapi sok cakep" Ujar Syifa membuat cowok itu mengeratkan genggaman nya. "Ih,, sakit tau. Aww,, lepasin ga!!"


"Lepasin!" Ujar Reyhan dingin dari arah pintu.


"Lo siapa? Ga usah ikut campur deh!"


"Lepasin!"


Cowok itu melepaskan genggamannya, membuat Syifa seketika langsung berlari ke arah Reyhan. "Pulang" Perintah Reyhan.


Syifa mengangguk. Lalu keduanya berjalan cepat keluar warung tersebut. Mengabaikan cowok tersebut yang berteriak menantang Reyhan.


Reyhan menatap dingin Syifa yang sedang memegangi pergelangan tangannya yang memerah.


"Sakit?" Tanya Reyhan.


"Hah,, ka-kakak tanya apa?"


"Sakit?"


Syifa mengangguk pelan.


"Kak..."


"Hm"


"Itu alasan aku kenapa aku suka sama kakak. Kakak orangnya ga kebanyakan kayak laki laki lain, genit banyak godain cewek, ga tau malu. Tapi kakak itu orangnya dingin, cuek, jutek" Ujar Syifa. "Nggak mau basa basi. Nggak banyak ngomong tapi kelihatan hasilnya itu kakak. Karena menurut aku, kakak adalah lelaki yang berbeda diantara beribu lelaki yang ada. Yang membuat kakak juga punya pandangan berbeda di mata aku"


Reyhan diam membisu mendengar ucapan Syifa. Entahlah, seperti ada sesuatu berbeda yang sedang memasuki naluri hatinya.


•••••


Dan saat itu pula, detik itu pula Aisyah berusaha untuk menjauhi Fariz. Dia juga tidak bisa terus terusan hidup dalam ancaman Ghea. Namun, sangat sulit baginya. Karena di saat itu pula, Fariz malah gencar untuk mendekatinya. Sudah pula ia mengatakan agar Fariz tidak terlalu dekat dengannya. Namun hal itu menimbulkan pertanyaan dalam benak Fariz, yang membuat Aisyah terdiam tak bisa menjawab. Seribu alasan sudah Aisyah memberikan alasan, namun justru kecurigaan yang ia dapatkan dalam diri Fariz. Tak mungkin juga Aisyah harus mengatakan yang sebenarnya. Bahwa semua ini karena Ghea.


Aisyah menyeruput es tehnya. Saat ini ia ada dikantin bi Yuni seorang diri. Sedangkan ketiga sahabatnya, berada di kantin mbak Windi. Aisyah sengaja tidak bersama mereka, dirinya membutuhkan waktu untuk sendiri.


"Syah..." Panggil seseorang dari arah samping. Aisyah menoleh sekilas, lalu menundukkan pandangannya.


"Assalamualaikum" Ujar Fariz.


"Waalaikum salam" Jawab Aisyah dengan menggeser tubuhnya beberapa centi ke arah kanan.


Fariz menghela pelan. "Lo kenapa sih? Sejak kemarin waktu pulang sekolah Lo kayak menghindar dari gue. Ada masalah? Atau gue punya salah sama Lo?" Tanya Fariz.


Aisyah menggeleng.


"Ada yang ngancem Lo?"


"Ngancem apa?" Tanya Aisyah berlagak seperti orang yang tidak tahu apa apa


"Ada orang yang ngancem Lo? Karena Lo Deket sama gue? Iya?" Tanya Fariz. Sangat tepat.


Aisyah terdiam. "Nggak kok. Nggak ada yang ngancem"


"Terus karena apa?"


"A-aku cuma..." Aisyah meneguk ludahnya. "Aku cuma ga mau nimbulin fitnah di antara kita kak. Akhir akhir ini banyak yang ngomongin tentang aku sama kakak"


"Gue kan udah bilang, jangan dengerin apa kata mereka!" Ujar Fariz.


"Aku ga mau kakak malu gara gara Deket sama aku"


"Gue sama sekali ga malu Syah"


"Kak, bener apa kata mereka aku ga pantes Deket sama kakak. Kakak lebih pantes sama mbak Ghea"


"Percuma gue Deket sama Ghea,, tapi gue gak nemuin kenyamanan disana" Jawab Fariz.


"Syah.." Fariz menggeser tubuhnya mengikis jarak di antara mereka. Namun dengan cepat Aisyah menggeser tubuhnya lebih jauh.


"Kak,, tolong!!"


"Syah gue ga bisa jauhin lo"


"Aku ga minta buat kakak jauhin aku, tapi aku minta buat kakak ga terlalu Deket sama aku" Jawab Aisyah.


"Sampai kapan?"


"Sampai seterusnya"


"Dan kalau gue ga bisa?" Tanya fariz ragu.


"Pasti bisa"


Keduanya terdiam, membuat suasana menjadi hening. Aisyah berdiri dari tempat duduknya.


"Mau kemana?" Tanya Fariz.


"Bayar"


Aisyah melangkah menuju Bi Yuni. Namun beberapa langkah dari itu, dia tak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis yang tengah membawa teh hangat. Membuat teh tersebut tumpah di seragam Aisyah.


"Aww,, panas panas" Ujar Aisyah refleks.


"Sorry,, gue gak sengaja"


Fariz yang melihatnya pun langsung berlari mendekat ke arah mereka.


"Lo gimana sih. Bisa hati hati ga?" Kata Fariz.


Gadis itu menundukkan kepalanya. "Iya kak, maaf. Aku bener bener ga sengaja. Maaf" Ucapnya lalu pergi dari hadapan mereka berdua.


"Kak dia ga salah apa apa kok" Ujar Aisyah.


Fariz menghela pelan. "Lo duduk dulu,,"


Aisyah mengangguk.


Fariz segera berlari ke arah bi Yuni. Setelah beberapa detik Fariz pun datang dengan membawa beberapa lembar tisu. Dengan segera Fariz membersihkan seragam Aisyah yang basah.


"Kak,, biar aku aja" Kata Aisyah.


"Udah Lo diem aja" Jawab Fariz.

__ADS_1


Sedangkan di ujung kantin terdapat seseorang yang sedang mengawasi mereka. "Oke kalau itu yang Lo mau Syah. Kayaknya Lo emang ga bisa jauh dari Fariz. Gue terima tantangan Lo. Lihat aja,, apa yang bakal terjadi besok!!"


...*******...


__ADS_2