Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Humaira


__ADS_3

Huweek...huweek


Lina menghela gusar. Dari ruang tamu saja terdengar jelas kalau Aisyah terus mutah mutah. "Din..." Panggilnya kepada Dinda yang duduk di sebelahnya.


"Iya?"


"Lo tahu ga dokter yang bisa di suruh ke sini?"


"Tahu. Namanya dokter Shindy, beliau juga sering datang ke sini buat periksa santri kalau ada yang sakit. Kenapa Lin?"


"Eum, tolong hubungi sekarang ya. Kalau bisa suruh hari ini buat datang ke sini."


"Iya, kalau gitu aku pergi dulu buat ambil ponsel."


"Ga usah, pake ponsel gue aja." Cegah Lina dengan merogoh saku gamisnya. Menyerahkan ponsel kepada Dinda.


Dengan segera Dinda menghubungi dokter Shindy yang sudah bisa di bilang akrab karena sudah bertahun tahun beliau yang selalu memeriksa santri di sini. Jadi, sudah pasti Dinda hafal nomornya.


"Halo, Assalamualaikum."


"Ini saya Dinda dok."


"Eee apa dokter bisa datang ke sini hari ini?"


"Oh gitu ya, ya sudah ga papa."


"Em nggak, nggak ada kok. Cuman temen saya yang sakit."


"Iya ga papa dok. Ya sudah kalau begitu, Assalamualaikum."


Setelah mendapat jawaban salam, Dinda mematikan sambungan telepon. "Gimana Din?" Tanya Lina yang di balas gelengan oleh Dinda.


"Nggak bisa Lin, katanya hari ini Dokter Shindy ada urusan keluarga di luar kota. Mungkin besok baru pulang."


Lina menghela pelan. "Din, gue mau pergi dulu. Boleh ya?"


"Kemana?"


•••••


15.55


Tok! Tok! Tok...


Aisyah beranjak dari tempat tidurnya, berjalan membukakan pintu. Di sana, sudah ada Lina yang tersenyum. "Ada apa Lin?"


"Ini..." Lina menyodorkan sebuah benda pipih. "Coba lo cek Syah, siapa tahu positif."


"Kamu yakin?"


"Iya. Aisyah coba dulu, siapa tahu dugaan gue bener. Gue juga pernah ngalamin gejala kayak gini dulu."


Aisyah terdiam dengan menatap Lina dan apa yang di sodorkan wanita itu secara bergantian. Dengan ragu Aisyah menerimanya.


"Ya udah, aku ke kamar mandi dulu."


Lina tersenyum dengan mengangguk. Dia memberi jalan Aisyah untuk keluar dari kamar.


Beberapa menit setelahnya, Aisyah dengan ragu menunggu hasil yang akan di tampilkan testpack yang di berikan Lina. Dirinya kini bersandar di dinding kamar mandi, matanya terpejam. Merasakan rasa lemas yang masih hinggap di tubuhnya.


Dengan di barengi helaian panjang, ia kembali membuka mata. Mengangkat tangan kanan, matanya melihat lekat benda pipih itu. Dan hasil yang di tampilkan, Dua garis merah. Positif.


Tangan Aisyah mendadak bergetar, rasa lemasnya hilang lenyap entah kemana sekarang. Tangan kirinya memegang erat sisi pinggir bak mandi. "Ya Allah..."


Entah bagaimana lagi dia mengungkapkan kebahagian ini, namun air matanya sudah lebih dulu mengalir.


Ceklek...


Aisyah membuka pintu kamar mandi, perlahan dirinya keluar. Menghapus air mata, lalu berjalan menuju kamar. Di ambang pintu, masih ada Lina yang menunggu. "Aisyah, gimana?" Tanya Lina antusias.


"Positif."


Mulut Lina terbuka menganga, matanya membulat berbinar. "Waaah....!!" Refleks dia langsung memeluk sahabatnya. "Ya Allah Syah, ikut seneng. Aaa, ga tahu kenapa gue pengen nangis tahu lo hamil."


"Makasih Lin, makasih..." Lirih Aisyah yang membalas dekapan dari Lina.


Beberapa saat, mereka saling menguraikan pelukan. "Selamat ya... sekarang lo istirahat aja Syah."


Aisyah mengangguk. "Makasih ya Lin."


"Iya, udah...ga usah banyak banyak makasih. Gue itu cuma mau buktiin dugaan gue bener apa nggak."


"Ehm, dugaan apa?"


Mereka tersentak kaget mendengar suara berat yang tiba tiba terdengar. Keduanya saling menatap melihat Fariz yang datang. Laki laki itu baru saja pulang dari masjid.


Lina tersenyum. Dia menatap Aisyah, lalu melirik Fariz. Memberi isyarat agar temannya itu cepat cepat memberi kabar bahagia itu.


"Ya udah, Aisyah...kak Fariz. Lina pergi dulu." Pamit Lina lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Tangan kanan Aisyah terselip ke belakang tubuhnya, menyembunyikan testpack miliknya.


"Kenapa kamu senyum senyum gitu? Udah sembuh hm?" Tanya Fariz.


"Nggak tahu mas, tiba tiba Aisyah jadi sehat lagi." Balas Aisyah lalu nyelonong masuk ke dalam kamar, duduk santai di atas kasur.


Di ikuti Fariz yang ikut masuk ke dalam dan menutup pintu kamar. Ia melepaskan peci yang terselip di kepalanya. Lalu mendudukkan tubuhnya berhadapan dengan sang istri.


"Mas..."


"Kenapa?"


"Aisyah tadi tes."


"Hm? Tes apa? Tes kelulusan?" Tanya Fariz dengan mengernyit.


"Bukan. Aisyah tadi pake testpack."

__ADS_1


"Yang buat orang hamil?"


"Iya."


"Terus?" Fariz menatap serius istrinya, namun yang di tatap malah menunduk dalam. Mereka saling terdiam, menciptakan suasana hening.


Fariz memajukan posisi duduknya untuk lebih dekat dengan Aisyah, menggenggam tangan kiri istrinya. "Udah ga papa, lain kali coba lagi. Mungkin belum rezekinya." Ucap Fariz membuat Aisyah mendongak.


"Aisyah tadi ga bilang apa apa lhoh mas?!" Aisyah mulai mengeluarkan tangan kanan yang sedari tadi di simpan di belakang tubuhnya.


"Ini hasilnya."


Fariz terdiam memaku, tatapannya lama melihat ke arah benda pipih itu. "Garis dua, artinya positif hamil kan sayang?" Tanyanya hati-hati.


Aisyah mengangguk dengan tersenyum manis. "Iya."


"Berarti kamu...hamil?"


Lagi lagi Aisyah mengangguk membenarkan.


"Masya Allah sayang." Dengan cepat Fariz menarik pelan Aisyah agar masuk ke dalam dekapannya. Tangannya yang lebar memeluk Aisyah penuh arti, dalam dekapan erat penuh cinta. Matanya terpejam, isak tangis tak bisa ia bendung apalagi di tahan untuk saat ini.


Sedangkan Aisyah, dengan tersenyum tangannya mengelus punggung lebar Fariz. "Sayang....Ya Allah..." Fariz melepaskan pelukannya.


Kedua tangan menangkup pipi Aisyah, ibu jarinya menghapus air mata bening yang keluar lembut dari mata istrinya. "Makasih ya sayang..." Ucapnya lirih dengan menatap lekat bola mata cokelat gelap milik Aisyah.


"Iya. Allah Maha baik."


Fariz mengangguk menyetujui ucapan istrinya.


Tubuhnya semakin maju mendekat. Tangan yang tadinya memegang pipi sang istri, kini berganti memegang tangan Aisyah. "Kamu tahu, kalau kamu hamil itu tandanya apa?" Tanya Fariz.


"Tandanya, Allah udah kasih kepercayaan bagi kita untuk merawat seorang anak mas."


"Jawaban kamu ga salah, tapi bukan itu maksud mas."


Aisyah mengernyit. "Terus?"


"Coba tebak lagi."


"Kalau Aisyah udah hamil, tandanya kita bakal jadi orang tua. Iyakan?"


Fariz menggeleng. "Nggak salah, tapi coba tebak lagi."


"Kalau Aisyah udah hamil tandanya..." Aisyah terdiam berpikir. "Tandanya kita udah semakin tua."


Lagi lagi Fariz menggeleng kuat. "Kita masih muda sayang." Sanggahnya. "Coba, pikir lagi."


"Aisyah ga tahu, emang tandanya kenapa?" Tanya Aisyah yang membuat Fariz tersenyum misterius. "Sini mas bisikin."


Aisyah memajukan kepalanya, begitupun dengan Fariz. Dia mulai mendekatkan wajahnya ke arah telinga Aisyah, membisikkan jawaban yang di maksudnya.


"Kalau kamu udah hamil, itu tandanya belah durian kita udah berhasil." Bisik Fariz membuat Aisyah terdiam malu.


Dengan refleks dia memukul lengan suaminya. "Ih mas, malu...kenapa harus itu sih jawabannya?"


Fariz tergelak, terlebih saat melihat pipi Aisyah yang langsung memerah. Ah, istrinya memang tidak pernah berubah. Pemalu.


"Iya, tapi emang bener juga mas. Kalau kita ga belah durian, Aisyah ga mungkin hamil kan?" Sahut Aisyah, lagi lagi Fariz terkekeh. "Mas pengen punya anak berapa?"


"Emm... Lima boleh tuh. Biar rame."


"Tapi lumayan banyak mas kalau lima."


"Ga papa, anak kan membawa berkah. Tapi...kalau Allah ngasihnya sepuluh juga ga papa."


Aisyah melotot. "Ya jangan mas! Ngeri kalau anaknya sepuluh. Sakit..."


"Ga papa sayang. Orang tua zaman dulu juga anaknya banyak. Tuh, saudaranya mama ada dua belas."


"Oh ya?"


"Iya. Makannya kita harus sering sering usaha buat bikin...minimal seminggu dua kali. Gimana?" Tanya Fariz dengan memainkan kedua alisnya.


Aisyah menggeleng ngeri. "Jangan mas, jangan keseringan. Sakit tau."


Fariz kembali tertawa. "Kamu pengen ngidam apa sayang?"


"Kalau sekarang lagi ga pengen apa apa mas."


"Tapi, kamu tadi pengen makan mangga mateng. Jadi? Kalau masih mau, nanti mas beliin."


"Nggak mas. Udah nggak pengen sekarang."


"Oh, ya udah kalau gitu."


•••••


21.05


Ilham membuka pintu, netranya menangkap sosok Dinda yang tengah duduk selonjoran, bersandar dengan mata terpejam. "Dek..."


Mendengar suara panggilan, dengan berat Dinda membuka matanya. Melirik Ilham yang berjalan dan duduk di hadapannya. "Gimana?" Tanya Ilham. Tadi sebelum Maghrib, Dinda mengeluhkan kepalanya yang pusing.


Dinda memegang kepala bagian belakangnya. Kepalanya sedikit maju, melepaskan dari sandaran. "Ini malah tambah pusing mas." Jawabnya lirih. Entah kenapa bisa pusing secara tiba tiba. Kepalanya terasa begitu berat, dan setiap sisinya terasa nyut-nyutan.


Ilham menyentuh kening istrinya. "Badan kamu anget. Udah makan dek?"


"Belum."


"Ya Allah, maaf ya dek. Mas ambilin dulu." Ujar Ilham yang dengan cepat beranjak dan keluar mengambilkan makanan. Tadinya Dinda ingin makan, namun kepalanya yang pusing dan terasa berat seperti menyuruhnya untuk tetap diam dan istirahat. Sedangkan Ilham saja baru masuk kamar setelah mengurusi ini itu tentang santri.


Tak lama Ilham datang dengan membawa nampan berisi piring, segelas air putih dan obat. Dia kembali duduk seperti semula, di hadapan istrinya. Tangannya mulai menyendok nasi putih, sayur hijau dan lauknya.


"Bismillah..." Gumamnya lalu menyuapi Dinda dengan pelan dan hati hati.


Selama makan tidak ada yang berbicara, hanya suara dentingan sendok yang mendominasi suasana di antara mereka. Setelah selesai makan, Ilham memberikan segelas air kepada Dinda. "Minum obat ya dek." Ujar Ilham yang di angguki pelan oleh istrinya.

__ADS_1


Tangan Dinda terulur menerima obat lalu meminumnya. Di tambah dengan beberapa teguk air setelah obat itu benar benar tertelan dari mulutnya. Tangan Ilham mengusap lembut tangan Dinda. "Masih pusing kepalanya?" Tanyanya lembut.


"Iya."


"Mau mas pijitin kepalanya?"


Dinda terdiam. "Boleh mas, tapi pakai minyak zaitun ya. Itu ada di meja riasnya Dinda."


Ilham mengangguk sembari tersenyum. Dia melangkah ke arah meja rias, meneliti benda yang di anggapnya sebagai minyak zaitun itu. Setelah ketemu, Ilham kembali mendekat. Dia membantu Dinda untuk memajukan tubuhnya beberapa centi dari tempat bersandar sang istri, sedangkan Ilham mulai duduk di belakang Dinda.


"Maaf dek, hijabnya di lepas dulu ya." Ujarnya dengan membantu melepas jilbab. Setelah benar benar terlepas, Dinda melepas ikat rambutnya sedang Ilham membuka tutup botol dan mulai menuangkan beberapa tetes minyak zaitun ke telapak tangannya. Tangannya mulai ulet memijat kepala Dinda dengan lembut.


Dinda memejamkan matanya, merasakan setiap pijatan yang mendarat di kepalanya dengan penuh kasih sayang dari Ilham. Sembari memijat kepala Dinda, Ilham terus melantunkan sholawat dengan sekali kali berzikir. Setidaknya itu akan membuat hati istrinya menjadi lebih tenang.


Beberapa menit...


"Gimana dek?"


"Alhamdulillah mas, ini udah mendingan. Tapi masih pusing." Jawab Dinda dengan menyentuh keningnya.


"Ya udah istirahat ya, kalau besok belum sembuh nanti ke dokter."


"In Syaa Allah sembuh." Balas Dinda yakin dengan mengulum senyum.


"Amiin." Ujar Ilham. Dirinya beranjak dan meletakkan minyak zaitun ke tempat asalnya. Setelah selesai, ia membantu Dinda untuk berbaring tidur.


"Dek, mas mau nyanyi buat kamu. Mau denger?" Tawar Ilham membuat Dinda tersenyum antusias.


"Boleh. Nyanyi apa mas?"


"Aku bersyukur kau di sini, kasih


Di kalbuku mengiringi


Dan padamu ingin ku sampaikan


Kau cahaya hati


Dulu ku palingkan diri dari cinta


Hingga kau hadir ubah segalanya, oh


Inilah janjiku kepadamu" Nyanyi Ilham dengan suara lembut. Tangan kanan mengelus pelan kepala Dinda, dan tangan kiri menggenggam tangan istrinya.


"Sepanjang hidup bersamamu


Kesetiaanku tulus untukmu


Hingga akhir waktu, kaulah cintaku cintaku


Sepanjang hidup seiring waktu


Aku bersyukur atas hadirmu


Kini dan selamanya aku milikmu


Yakini hatiku


Kau anugerah Sang Maha Rahim


Semoga Allah berkahi kita


Kekasih penguat jiwaku


Berdoa kau dan aku di Jannah."


Ilham terus menatap Dinda. Dengan senyum yang mengembang, tatapan yang memiliki arti seperti bahwa Dinda adalah orang yang paling berharga saat ini. Dan hatinya tak bisa berbohong, bahwa ia begitu sangat mencintai Dinda...berharap mereka akan terus bersama.


"Kutemukan kekuatan di sisimu


Kau hadir sempurnakan seluruh hidupku, oh


Inilah janjiku kepadamu


Sepanjang hidup bersamamu


Kesetiaanku tulus untukmu


Hingga akhir waktu kaulah cintaku cintaku


Sepanjang hidup seiring waktu


Aku bersyukur atas hadirmu


Kini dan selamanya aku milikmu


Yakini hatiku..."


Mereka saling tersenyum saat Ilham menghentikan nyanyinya.


"Masyaa Allah, bagus mas." Puji Dinda.


Senyum Ilham semakin lebar. Dia mengecup pelan kening istrinya dengan hangat.


"Tidur ya dek, istirahat."


"Iya mas." Jawab Dinda. Lagi, Ilham kembali mengecup keningnya. Lalu beranjak pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Setelahnya dia duduk di atas kasur dengan Al-Qur'an kecil di genggaman tangannya. Matanya melirik sekilas Dinda yang sudah terpejam. Mulutnya mulai melantunkan bacaan taawudz dan basmalah, bersamaan dengan tangannya yang sibuk membuka juz 29 awal. Membaca surah Al Mulk.


Selesai membaca Al Mulk, di lanjut membaca 10 awal dan 10 ayat terakhir surah Al Kahfi. Tidak sampai di situ, Ilham melanjutkan untuk membaca tiga ayat terakhir dari surah Al-Baqarah.


Ilham menutup Al Qur'an dengan membaca tashdiq, menciumnya lalu meletakkan di tempat semula. Tubuhnya mendekat pada Dinda. "Udah tidur dek?" Tanyanya pelan.


Tidak ada respon.


Ilham tersenyum, matanya terus mengamati wajah damai Dinda. "Selamat tidur Humaira." Ujarnya dengan mengelus pipi Dinda.

__ADS_1


"Semoga cepat sembuh."


...*******...


__ADS_2