
Dinda berjalan ke arah rumahnya. Ada yang ingin ia bicarakan dengan Abah.
"Saya mencintai putri Abah, Dinda."
Mendengar itu Dinda langsung menghentikan langkahnya. Niatnya untuk memasuki rumah dia tahan. Jantungnya berpacu lebih cepat saat mendengar kalimat itu di ucapkan entah oleh siapa.
"Di sini, saya ingin menyampaikan untuk melamar Dinda saat nanti saya sudah menyelesaikan pendidikan saya bah."
"Kamu yakin?" Tanya Abah.
"Yakin."
"Hati itu bisa berubah rubah dengan tiba tiba. Jangan terburu buru untuk berkata dan berjanji. Untuk kedepan kita tidak akan ada yang tahu. Sekali lagi Abah tanya. Apakah kamu benar benar serius dengan hati dan ucapanmu tadi? Yakin bisa menepati nya?"
"Saya yakin bah. Atas izin Allah. In Syaa Allah..." Jawabnya dengan penuh keyakinan.
Abah menghela pelan. Beliau menatap lama wajah lelaki yang duduk di hadapannya. Tak lama Abah tersenyum. "Abah tunggu kamu untuk menepati janjimu di sini."
"Iya bah. Kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum" Ujarnya dengan menundukkan kepala lalu menyalami tangan Abah.
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh."
Dinda terdiam memaku. Entahlah, harus berekspresi seperti apa dirinya saat ini. Jantungnya berdegup cepat tak karuan. Suhu di tubuhnya mendadak panas dingin begitu saja.
"Din.."
Dinda tersentak kaget. "Astaghfirullah..." Gumamnya dengan mengelus dada kaget. Ia meneguk ludahnya kuat. "Ka-kak..." Panggilnya gugup.
"Kamu sejak kapan di sini? Kok ga masuk?"
"Eee ta-tadi, a aku..." Dinda menggaruk keningnya salah tingkah.
"Din, kamu denger semuanya?" Tanya Ilham membuat dinda semakin salah tingkah di buatnya.
Ilham tersenyum. "Kamu siap ya nanti?!"
"Hah...Ap-Apa?"
Ilham semakin tersenyum lebar. "Din, aku ga pernah bercanda, ga pernah main main, apalagi soal kamu dan Abah."
"Tunggu aku ya. Tunggu aku datang ke rumah kamu untuk menghalalkan mu."
Perasaan Dinda semakin tak karuan rasanya mendengar itu.
"Kalau di pikir pikir, terlalu berlebihan memang. Tapi ini sebagai bukti bahwa aku emang serius, benar benar serius." Ujar Ilham. "Hari ini, aku mau pulang ke rumah. Udah di tungguin Abi di sana." Lanjut Ilham dengan mengarahkan kepalanya ke arah halaman pesantren. "Aku pamit. Assalamualaikum."
"W-Wa Waalaikum salam" Jawab Dinda.
Ilham mulai berjalan pergi. Sedang Dinda memegang dadanya sendiri dengan gemetar saking gugupnya. Merasakan setiap detak jantung yang berdegup. Secepat itu kah dia bilang seperti itu? Seyakin itu? Apa dia benar benar yakin?
"Kak...!!!" Panggil Dinda membuat langkah Ilham terhenti, lalu ia membalikkan badan.
Dinda mulai berjalan cepat menghampiri. "Dinda tunggu janji kakak. Dinda tunggu, kakak memenuhi perkataan kakak." Ujar Dinda. Dia ingin melihat, apakah Ilham benar benar serius? Atau beberapa tahun lagi, dia akan melupakan semua omongannya begitu saja.
Ilham mengangguk. "Iya. Pasti." Jawabnya lalu kembali berjalan pergi.
Dinda memejamkan matanya pelan. "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Yang Maha Mengetahui apa yang tidak hamba ketahui."
"Dinda..."
Suara yang terdengar menyejukkan hatinya itu membuat dirinya langsung membuka mata dan menoleh ke arah Abah. Ya, ia menyukai apapun itu tentang Abinya. Suaranya selalu membuat hatinya tenang, wajahnya selalu meneduhkan, tutur katanya selalu lembut, dan tingkah lakunya yang selalu Dinda jadikan sebagai panutan untuk berakhlak dalam sehari harinya.
Mendengar Abah yang memanggil,, Dinda langsung berjalan menghampiri. "Iya bi?"
"Kamu ngapain to di sana?"
Dinda menggeleng.
"Ndak ada bi." Jawabnya. "Abi, tadi kak Ilham ngapain di sini?" Tanya Dinda. Meski dirinya memang sudah tahu sebenarnya. Entahlah, tapi ingin saja untuk bertanya.
Abah tersenyum. "Memangnya kenapa?"
"Bu-bukan apa apa sih bi."
"Kamu denger pembicaraan Abi sama Ilham?"
"Heh...N-Ndak kok bi." Jawab Dinda mengelak. Kalau dia jujur, bagaimana nantinya.
"Sini sini duduk dulu..." Ujar Abah dengan mengajak Dinda duduk di kursi rotan yang terletak di depan rumah. "Begini Nduk..." Abah menghela pelan.
"Semua laki laki itu tidak memiliki keberanian yang sama. Ada yang sangat berani, ada juga yang masih takut untuk berani. Tingkat keberanian paling tinggi di antara mereka adalah datang ke orang tua wanita yang di cintainya, dengan niat baik dan jujur akan perasaan nya. Tidak semua lelaki mempunyai keberanian untuk itu. Ada yang berani tapi masih ragu untuk datang, ada juga yang harus berpikir hingga berhari hari lamanya. Karena nanti saat mereka datang, hari siap untuk menerima jawaban iya atau tidak, harus siap untuk di terima atau bahkan di tolak." Ujar Abah. "Mereka berani datang karena cintanya. Mereka yang berani datang dan sudah benar benar siap adalah mereka yang memiliki rasa cinta yang kuat, besar dan kokoh. Tapi mereka yang masih ragu untuk datang, adalah mereka yang masih benar-benar belum mencintai wanita tersebut. Maka karena cintanya, dia mempunyai tekad yang kuat untuk memiliki. Dan dia yang datang paling awal untuk menghalalkan, adalah dia yang paling serius akan perasaan di hatinya."
"Jadi maksut Abi..."
"Kita lihat nanti..."
"Tapi Abi..." Dinda terdiam menggantungkan kalimatnya.
"Hm?"
"Abi akan nunggu?"
"Tidak perlu di tunggu, kalau dia serius pasti akan datang sendiri."
"Abi yakin?"
"Iya. Yakin karena Allah. Karena Allah tidak akan mengecewakan hambanya, karena Allah yang sudah menggenggam takdir kita, dan karena yang mengetahui semuanya. Kamu yakin kan?"
Dinda mengangguk kecil. "Iya. Dinda yakin"
•••••
2 Tahun berlalu dengan begitu cepat. Sama sekali tak terasa oleh mereka. Suka dan duka semuanya silih bergantian datang dalam hubungan persahabatan mereka.
__ADS_1
Tepat dua hari setelah di lakukannya wisuda sekolah, di sini lah Aisyah berada. Dengan terisak menahan tangis bahagia sekaligus haru yang membuncah dalam dirinya.
"Qul- A'uudzu bi robbinnaas" Ujarnya lalu kembali terisak menahan tangis. "Malikin naas...ilaahin naas" Aisyah menghapus air matanya. "Min syarril was waasil khonnaas...hiks"
"Alladzii yuwas wisu fii suduu rinnaas...minal jinnati..." Air matanya kembali mengalir. "Wan naas. Shodaqallahul 'adziim..." Setelah selesai tangisnya langsung pecah. Air matanya berderai tak tertahankan. Aisyah langsung sujud syukur. Seperti yang di ketahui, surah An Nas adalah surah terakhir dalam Al Qur'an. Maka, saat Aisyah membacanya secara bil ghaib, rasa terharu dan bersyukur tak bisa terbendung dalam dirinya.
Maka tangisannya masih belum reda hingga esok hari. Hingga tulisan 'Hafidzah 30 juz' itu terselempang nyata di bahunya. Banner besar 'MUNAQASYAH KUBRO TASMI' 30 JUZ' itu terpampang gagah di dinding aula pesantren. Bersama beberapa santriwan dan santriwati, Aisyah berdiri di depan banyaknya para orang tua yang hadir.
Ku putuskan, satu impian
Aku ingin jadi hafidz Qur'an...
Lagu itu terdengar kompak mereka nyanyikan. Dengan sedikit gerakan ke kanan dan ke kiri secara bergantian.
Ku akan bertahan, walau sulit melelahkan,
Allah beri aku kekuatan,
Ku impikan, sepasang mahkota
Tuk berikan di akhirat kelak,
Sebagai pertanda, bahwa kau sangat ku cinta
Aku cinta engkau karena Allah,,,
..................
Sepanjang hari kemarin, aku masih berpura pura bahwa aku baik baik saja
Tak ada beban yang aku pikul
Tak ada lelah yang aku rasakan,
Tak ada duka yang aku pendam,
Tak ada luka yang ku sembunyikan,
Sepanjang hari kemarin, alih alih aku menangis dan sedih. Namun aku memilih untuk terus tersenyum dan tertawa. Mengajak diriku untuk tetap tegar dan sabar. Melawan semua rasa lelah yang membuatku mengeluh.
Sepanjang hari kemarin, hanya aku yang menyemangati diriku. Dengan sapaan halus nan tulus yang memiliki ribuan makna. Untuk terus berjalan menempuh banyaknya rintangan. Untuk terus berdiri tegap menghadapi hantaman ombak besar.
Hingga aku masih berdiri di titik ini, di titik Allah memberikan pelangi atas mendung dan hujan ku kemarin. Di titik di mana aku benar benar tersenyum bahagia, bukan lagi pura pura. Maka tidak ada keraguan, bahwa takdir Allah memang tidak pernah mengecewakan.
Allah Maha Baik.
...-Aisyah-...
•••••
Beberapa hari kemudian...
"Aaaa Lina...hiks hiks...emm" Rengek Syifa dengan memeluk erat sahabatnya itu.
Lina mengusap lembut punggung Syifa. "Udah dong fa nangisnya..."
"Mau ga mau tapi kita harus bisa berpisah. Kita ga bisa selamanya bersama, bareng bareng terus. Ada kalanya, kita harus berpencar untuk menjalani kehidupan kita sendiri sendiri fa." Ujar Lina.
"Lin..." Panggil Aisyah lalu memeluk Lina. Sebenarnya dirinya juga ingin menangis. Tidak mau berpisah? Ya itu pasti. Tapi ya inilah kehidupan, kalau merasakan indahnya pertemuan juga harus bisa merasakan sakitnya perpisahan. Aisyah melepaskan pelukannya. Lalu di susul oleh Dinda yang memeluk Lina.
"Udah ya gue pulang dulu." Ujar Lina.
"Hati hati di jalan ya" Timpal Aisyah membuat Lina mengangguk.
"Lina...hiks hiks,, nanti yang bakal marah marah ke gue hiks siapa? Nanti hiks...yang bakal berantem hiks sama gue siapa aaaa...." Ujar Syifa masih belum terima.
Lina hanya terdiam dengan tersenyum simpul. "Pokoknya kalau kita udah ketemu lagi, semoga kalian udah sukses semua ya..."
"Aamiin"
"Gue pulang dulu. Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam"
"Lin..." Panggil Syifa. "Ini buat Lo." Ujarnya memberi secarik kertas yang di lipat membentuk persegi panjang. "Jangan lupa di baca...hiks,"
Lina mengangguk dengan mengambilnya, ia langsung mengangkat tas besar yang di bawanya lalu mulai berjalan ke arah mobil yang terparkir di halaman Pesantren. Dari kamar mereka hanya bisa melambaikan tangan.
Tangis Syifa kembali pecah. "Hheeee Da-Dah hiks...aaaaa" Ia memeluk Aisyah dari samping. "Haaaaaaa Ais...besok gantian hiks gue yang pulang heeemmm aaa hiks..."
Dari kejauhan Lina melihat papanya yang sedang berdiri di samping mobil untuk menunggunya. Dia terus berjalan mendekat. "Sini papa bantuin..." Ujar papanya dengan mengambil alih tas Lina lalu menaruhnya di bagasi mobil.
Sedangkan Lina, ia langsung naik ke dalam mobil. Di situ air matanya langsung mengalir. Mungkin tadi dia tahan tahan, sok tegar. Tapi kali ini tidak. Saat papa Lina memasuki mobil, dia melihat ke arah putrinya sekilas. Membiarkannya untuk menangis sepuasnya.
Tatapan Lina langsung terarah pada kertas yang masih ada di tangannya. Dirinya baru tersadar akan hal itu. Dia langsung membuka dan membacanya. Sementara itu mobil mulai berjalan keluar dari gerbang pesantren.
LINA...
Makasih ya atas semuanya, Lo baik banget. Gue pasti bakal kangen sama Lo. Semuanya. Marahnya Lo, perhatiannya Lo, baiknya Lo, galaknya Lo. Dan yang paling penting sikap Lo waktu belain kita semua di hadapan orang orang. Gue tahu walaupun Lo judes, tapi aslinya baik. Nyatanya Lo sering nggak terima kalau kita di ejek atau di perlakukan ga sepantasnya sama orang.
Lin,,, gelang yang waktu itu gue beliin yang couplean masih kan? Itu di pakai terus, soalnya kan itu sebagai simbol persahabatan kita. Biar Lo ga lupa juga sama gue, Aisyah dan Dinda waktu Lo udah gede bahkan udah nikah. Kata Aisyah, walaupun kita berpisah persahabatan kita akan tetep jalan. Kebersamaan kita juga. Melalui doa. Semuanya ga akan pernah hilang.
Kata Dinda, kalau ga ada perpisahan kita ga akan pernah bisa merasakan akan indahnya doa. Jadi dari jauh aja ya kita komunikasi, lewat doa. Udahan dulu ya...Bye
NB. Huwaa linaa gue masih belum rela tauu, gue sok bijak aja nulis surat itu. Huwaaaa...
Tulis Syifa lalu menggambar emot menangis di akhir suratnya. Membaca surat itu, Lina langsung memandangi gelang yang masih di pakainya. Dua tahun lalu, Syifa yang membelikan ini. Saat mereka masih kelas sepuluh.
"Nggak kerasa ya, dulu aja baru kenalan. Sekarang udah pisah.." Gumam Lina pelan lalu mengulum senyum.
•••••
20.53
__ADS_1
Dinda menatap lama Syifa yang sedari tadi terus menangis. "Fa, udah dong nangisnya..." Ujar Dinda menenangkan.
"Pengennya hiks sih gitu..."
"Terus kenapa masih nangis?"
"Hiks,,, ga tahu."
"Nggak capek ya matanya nangis terus?"
"Ya hiks,,, capek lah. Hiks,,, tapi ga bisa hiks berhenti hiks hiks...gimana dong? Sampe hiks hidung gue ban hiks tet..." Balas Syifa dengan menyeka ingus di hidungnya.
Aisyah melihat ke arah Syifa sekilas, lalu kembali melanjutkan membereskan semua bajunya. "Istirahat aja fa,,, biar besok ga kecapean waktu perjalanan pulang."
"Mata gue hiks...perih...ga bisa hiks tidur,"
Aisyah menutup tas nya saat semua bajunya sudah ia masukkan kedalam. Dirinya langsung berjalan dan duduk di samping Syifa. "Fa, sedih boleh tapi jangan berlebihan ya..."
"Nggak ber hiks lebihan...tapi pengen hiks nangis aja bawa hiks annya.." Elak syifa. "Malam ini hiks,, pertama kalinya hiks ya Lina nggak hiks tidur di sini hiks bareng kita. Besok gantian hiks kita yang ga tidur di hiks sini.."
Syifa menghela panjang menetralkan nafasnya yang masih tersendat sendat. Dia melirik tangan Aisyah dan Dinda secar bergantian. "Gelang dari gue hiks...masih kalian pakai...?"
Aisyah sedikit melipat lengan bajunya. "Masih.." Ujarnya dengan memperlihatkan gelang yang terpakai di pergelangan tangannya.
"Hiks...Lo Din?"
Dinda terdiam.
"Aku simpen fa, takut kalau hilang."
"Tapi masih?"
"Iya. Masih kok."
"Pokoknya gelang itu jangan hiks sampe hilang. Soalnya kan gue beliin cuma buat hiks kalian doang. Jadi biar nanti kita ga hiks lupa satu sama lain."
•••••
09.02
Mereka bertiga saling berpelukan. "Din, kita pamit pergi dulu ya..." Pamit Aisyah.
Dinda mengangguk. "Iya hati hati di jalan..." Jawab Dinda dengan menahan tangisnya. Tentu saja dia sangat sedih. Mereka sudah layaknya saudara bagi dirinya.
"Gue pergi dulu ya..." Ujar Syifa dengan suaranya yang parau.
"Iya."
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
"Assalamualaikum" Kali ini Aisyah yang mengucapkan salam.
"Waalaikum salam" Jawab Dinda lalu memegang erat tangan Aisyah. Mereka berdua saling bertatapan. "Baik baik ya kalian di sana."
"Iya"
"Da-Dah Dinda" Syifa melambaikan tangannya dengan tersenyum. Dia sudah tidak bisa menangis lagi.
Mereka berdua langsung keluar kamar dan berjalan ke halaman pesantren. "Syah, sebenarnya gue pengen nangis"
"Iya udah fa, nangis aja ga papa."
"Tapi udah ga bisa. Air mata gue udah habis." Jawabnya. "Heeeee gue pengen nangiis!!"
"Syifa, ayo nak berangkat." Ujar ayahnya.
Syifa mengangguk.
"Iya pa. Syah, gue duluan dulu ya pulangnya."
"Iya. Hati hati."
Syifa mengangguk kecil lalu berjalan memasuki mobilnya bersamaan dengan kedua orang tuanya.
Mobil itu mulai berjalan pelan, bertepatan dengan itu jendela mobil terbuka. Syifa menjengongokkan kepalanya keluar dari mobil. "AISYAH...SAMPAI KETEMU LAGI YA NANTI,,, DA DAH... GUE SAYANG SAMA LO!" Ujarnya kembali melambaikan tangan.
Hal yang sama pun di lakukan Aisyah untuk membalas lambaian tangan Syifa dengan tersenyum. Setelah mobil itu benar benar menghilang dari pandangannya, Aisyah terdiam. Dia mengarahkan pandangannya. Gerbang, taman, halaman pesantren, gedung dan masjid yang terlihat dari tubuhnya berdiri saat ini. Akankah nanti dirinya bisa ke sini lagi? Dengan suasana dan keadaan yang sama.
"Syah..." Ia langsung menoleh ke arah sumber suara. Abinya dengan menggunakan kopiah putih itu datang dan mengelus kepalanya.
"Abi dari mana?"
"Habis pamitan sama Pak kyai"
Aisyah manggut manggut.
"Ya udah kalau gitu kita pulang ya. Mana tas nya... Biar Abi yang bawakan."
Aisyah menyerahkan tas besar yang di bawanya. "Naik apa bi?"
"Tadi Abi sudah pesan taksi online. Dan sudah nungguin di luar. Yuk..."
"Iya."
Mereka berdua berjalan beriringan. "Silahkan pak..." Ujar pak satpam dengan memberikan secercah senyum sopannya yang di balas juga oleh Abi.
Mereka berdua langsung keluar dari gerbang, membuat pak Dadang kembali menutup gerbangnya. Dengan menghela berat Aisyah kembali memandangi lingkungan pesantren itu.
"Ayo Ais...masuk." Aisyah menoleh. Abinya sudah terduduk di bangku penumpang.
"Iya Abi." Jawabnya dengan memasuki mobil. Dari jendela mobil, dirinya terus melihat ke arah tempat yang sudah tiga tahun ini menjadi tempatnya untuk menimba ilmu.
__ADS_1
Untuk semua kisahnya, Terima Kasih...
...********...