
Reyhan melihat notifikasi pesan dari layar ponselnya. Terdapat 27 pesan dari nomer yang tidak dikenal. Sialan, gadis itu lagi. Dari mana dia dapat nomer ponselnya. Reyhan melirik Iqbal yang tengah asik memakan jajan.
"Bal,,,"
"Hm"
"Lo yang kasih nomer gue ke Syifa" Tanya nya membuat Iqbal tersedak.
"Gak, soudzon Lo"
"Ngaku!?"
"Bukan gue"
"Ngaku Lo" Desak Reyhan, membuat Iqbal terdiam.
"Sejak kapan Lo jadi cenayang kayak gini"
"Itu bukan jawaban dari pertanyaan gue"
"Iya, gue yang kasih nomer Lo ke Syifa." Jawab Iqbal, membuat Reyhan mendengus sebal. "Maafin gue Han, nih lihat gue di kasih dia jajan banyak banget. Lumayan buat stok tiga hari. Mahal mahal harganya" Ucapnya dengan memandang berbagai jajan mahal yang ada dihadapannya.
+62 832 73** **** : Kak Reyhan
+62 832 73** **** : Kak
+62 832 73** **** : Ih, jangan di read doang
+62 832 73** **** : Kak Reyhan mah gitu
+62 832 73** **** : P
+62 832 73** **** : P
+62 832 73** **** : P
+62 832 73** **** : P
+62 832 73** **** : P
+62 832 73** **** : Kak Reyhan, halloooo
Reyhan memandang pesan yang ada dilayar ponselnya. Diyakini, mulai hari ini hidupnya tidak akan tenang. Ia menghembuskan nafas kasar. Lalu mematikan ponselnya, tidak peduli dengan gadis yang sibuk mengiriminya pesan. Ia memilih untuk mengambil buku matematika nya, mungkin dengan itu, rasa pusing nya akan hilang.
"Iqbal, kalau mau makan di sini ya makan aja. Tapi jangan buang sampah sembarangan. Udah berapa kali sih gue bilangin ke Lo, jaga kebersihan." Celoteh Ilham pada Iqbal yang kini masih sibuk dengan jajannya. Karena geram, secepat kilat Ilham merampas jajan punya Iqbal, sehingga jajan itu ada dalam genggamannya.
"Apaan sih Lo ham"
"Bersihin, buang ke tempat sampah. Kalau ga mau, gue juga ga bakal kasih jajan ini ke Lo" Ancamnya membuat Iqbal berdecak sebal. Dengan sangat terpaksa, akhirnya Iqbal membereskan semua sampah jajan yang berserakan dan membuangnya ke tempat sampah.
"Udah, mana sini jajannya" Ujar Iqbal dengan menyodorkan tangannya." Bagus" Jawab Ilham. Lalu memberikan semua jajan ke Iqbal.
"Lo tau ga sih, temen gue yang paling ribet itu cuman Lo"
"Dan Lo tau ga sih, temen gue yang paling males itu Lo" Jawab Ilham tak mau kalah.
"Terserah" Ujar Iqbal, lalu kembali fokus dengan jajannya.
"Eh Riz, jangan ambil dong. Itu yang paling enak tau" Ujar Iqbal berkacak pinggang melihat Fariz yang secara tiba tiba mengambil 3 bungkus jajannya.
"Minta, aelah pelit amat Lo sama temen"
"Bukannya pelit, itu yang paling enak. Itu juga yang isinya paling banyak."
"Udah nanti gue ganti. Gue beliin sampe 5 kantong plastik di warungnya mbak Mira. Tenang aja"
"Ah, gue gak doyan jajan murahan kayak gitu" Ujarnya Sombong.
"Gaya banget Lo"
Tuuuuttt....
Suara yang tiba tiba muncul membuat ketiganya melotot tajam ke arah sumber suara. Dan tak lama dari itu bau yang tak di inginkan pun mulai menjahili mereka.
"Astaghfirullah. Sumpah, Lo kalau kentut jangan disini. Bau banget tau ga" Ujar Ilham, menatap sinis Iqbal. Dengan hidung yang ia tutupi.
"Makan apaan sih Lo ha? Makan jajan mahal? Kok bau banget kentut Lo."
"Enak aja, orang kentut gue semriwing enak enak sedap gini kok" Ujar Iqbal tanpa beban, membuat ketiganya mendengus sebal.
"Dasar oon" Gumam Reyhan.
•••••
"Ih, kenapa sih kak Reyhan ga mau bales pesan gue. Sebel deh" Ujar Syifa sambil memukul mukul bantal yang ada di pangkuannya.
"Karena pesan Lo ga penting"
"Kok Lo bisa tau"
"Ya iya lah, coba kalau bahas tentang lomba, matematika, pelajaran, olimpiade, tugas, yang penting penting lah pokoknya pasti di bales. Lha Lo bahasnya? Kak lagi ngapain, udah ini udah itu ya,, mana penting begituan buat kak Reyhan"
"Gitu ya" Tanya Syifa yang dibalas anggukan oleh Lina. "Oke gue coba"
Setelah beberapa menit menunggu, Syifa kembali memukul mukul bantalnya. Kesal.
"Kenapa sih fa. Jangan mukul mukul bantal gitu. Kasian tau." Ujar Dinda.
__ADS_1
"Yang Lo kasihani siapa? Bantal? atau gue?"
"Bantal"
"Kok bantal. Lo harusnya kasihan sama gue yang lagi galau"
"Ya bantal ga salah apa apa kamu pukul pukul gitu. Kan kasian. Kamu jadiin pelampiasan"
"Hufffftt,,, Lin cuma di read doang" Ujar Syifa sambil menatap Lina.
"Emang Lo bahas tentang apa?"
"Ya kayak yang Lo bilang, tapi ga dibales"
"Coba sini gue lihat" Ujar Lina sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Syifa. Sedangkan Syifa menyodorkan ponselnya ke arah Lina. Setelah beberapa detik membaca pesan yang dikirimkan Syifa, Lina terdiam dengan kedua alisnya yang menyatu. Pandangannya sekarang mengarah pada Syifa. Lina berdecak kesal.
"Ya pantes ga dibales. Percuma kalau Lo ngirim pesannya kayak gini" Ucap lina dengan nada tinggi.
"Kenapa? Apa salahnya?"
"Lo itu bodoh apa bego?" Ujar Lina kembali berdecak kesal.
"Tapi kan Lo bilang kalau bahas soal matematika, tugas, olimpiade dan lainnya bakal di bales"
"Tapi ya ga gini juga kali fa" Ujar Lina geram. Lalu mengembalikan ponsel Syifa. Ia kembali duduk di kasurnya, melanjutkan aktivitas nya yang sempat tertunda. Sedangkan Syifa menatap layar ponselnya dengan polos. Apa yang salah? Batinnya.
Syifa Anggreani : Kak aku mau tanya boleh?
Syifa Anggreani : 1+2 berapa hasilnya?
Syifa Anggreani : Kalau 5+7 berapa?
Syifa Anggreani : Kak besok tugas aku apa aja
ya? Kakak tau?
Syifa Anggreani : O L I M P I A D E bacanya
apa?
Syifa Anggreani : Kak bales dong. Kata Lina
kalau ngirim pesan ke kakak harus tentang tugas, mtk, olimpiade dan lainnya biar
kakak bales pesan aku.
Ish,,, apa yang salah sih. Batinnya masih tidak mengerti.
'tok tok tok'
Suara ketukan pintu memecahkan keheningan di antara mereka. Dinda langsung beranjak untuk membukakan pintu.
"Waalaikum salam, Aisyah!!!" Jawab Dinda. Ia langsung memeluk erat gadis yang ada dihadapannya, membuat Syifa dan Lina langsung ikut keluar. Menyadari aisyah sudah kembali, keduanya pun tak tanggung-tanggung untuk ikut memeluk Aisyah.
"Ya Allah Aisyah, gue kangen banget" Ujar Syifa sambil melepas pelukannya.
"Kamu sendirian?" Tanya Dinda.
"Iya"
"Ya udah kalau gitu langsung masuk aja Syah" Ujar Lina yang langsung diberi anggukan oleh Aisyah.
"Lah kaki Lo kenapa Syah?" Tanya Syifa yang menyadari gaya berjalan Aisyah yang tidak seperti biasanya.
"Memar" Jawab Aisyah sambil mendudukan tubuhnya dikasur.
"Kok bisaaa" Tanya Syifa sedikit berteriak, membuat Lina mendengus sebal.
"Lo itu bisa ga sih ga usah teriak teriak" Ujar Lina sebal.
"Ya maaf,,,, ih Syah kok bisa memar?"
"eh?!" Aisyah kaget saat Dinda berjongkok untuk melihat memar yang ada di kakinya.
"Udah diobatin?" Tanya Dinda dengan mendongakkan kepalanya ke arah Aisyah.
"Udah" Jawab Aisyah. Dinda mengangguk lalu kembali memandang memar di kaki aisyah. Merasa penasaran, Syifa pun ikut ikutan berjongkok untuk melihatnya.
"Memarnya kok sampe gitu? Kenapa syah? jatoh? kepeleset? kesandung? kena besi? kena tanah? kena batu? kena kayu? Aduh, kena apa Syah?" Tanya Syifa berbondong-bondong membuat Aisyah tersenyum singkat.
"Kenapa Syah?" Kali ini Lina yang bertanya.
"Emm,,, Waktu itu aku sempet jatuh ya terus memar. Tapi kalian ga usah khawatir, ini pasti gak lama lagi sembuh kok"
"Kok sampe gitu sih" Gumam Syifa bergidik nyeri. Namun tak lama ia menepuk dahi. "Oh ya Syah gue hampir lupa, Lo dapet salam dari kak Fariz" Ujarnya sambil kembali berdiri. Aisyah terdiam sejenak. Lalu kembali menatap syifa.
"Beneran?"
"Iya beneran. Jadi gini ceritanya, kan waktu Lo pulang kampung kak Fariz Dateng nyariin Lo, karena Lo nya ga ada jadi dia nitip salam buat Lo" jelasnya panjang lebar, membuat Aisyah ber-oh pelan.
"Ih kok jawabnya cuman oh. Ni ya, kalau gue jadi Lo udah seneng banget. Lo sadar ga sih? Kak Fariz itu salah satu idola di sekolah plus pesantren, banyak cewek di luar sana yang antri sampe berpuluh puluh meter demi apa? demi bisa Deket sama kak Fariz. Dan dari dulu sampe sekarang ga ada yang pernah diterima sama dia, jadi Lo harusnya bersyukur syaahh. Seneng. Aneh banget sih Lo"
Drrttt drrtt drttt
Aisyah mengambil ponselnya dari saku gamisnya. Membuka aplikasi WhatsApp, terdapat satu pesan dari nomer yang tak dikenal membuat kedua alisnya menyatu.
+62 856 49** **** : Assalamualaikum
__ADS_1
Siapa? Batinnya. Ia masih fokus menatap layar ponselnya.
•••••
"Aisyah Lo mau pesen apa? biar gue pesenin" Tanya Syifa.
"Ga usah, ntar ngerepotin kamu"
"Ga papa gue kasian sama Lo, jarak kelas ke kantin kan jauh. Kaki Lo kan lagi sakit"
"Beneran nih"
"Iya, buruan mumpung gue kasih gratis atas kebaikan gue. Ga usah kasih upah. Lo mau pesen apa?"
"Mmm,,, es cappucino cincau" Ujarnya sambil menyodorkan selembar uang ungu kepada Syifa.
"Oke, Lo tungguin di sini"
"Iya, makasih ya fa" Ujarnya namun tak digubris oleh Syifa yang tengah berlari keluar kelas.
5 menit sudah Aisyah menunggu, rasa bosan mulai menyelimuti dirinya. Jari telunjuknya mengetuk ngetuk meja beberapa kali. Dikelas tidak ada siapapun, Aisyah benar benar bosan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membaca buku di taman belakang. Ya, tempat yang menurutnya nyaman dan damai. Jauh dari keramaian, tanpa kebisingan. Aisyah mulai berjalan menuju taman belakang ditemani novel yang ada di genggaman nya.
"Eh, ada cantik lewat" Suara yang secara refleks membuat Aisyah menoleh. "Ups, ga salah gue bilang Lo cantik" Tambahnya lagi. Dia adalah Sasa.
"Lo itu kan cantik ga,, burik iya!" Tambahnya memanas manasi. Ya, Sasa adalah orang yang memang paling sering untuk menghina Aisyah. Katakanlah sudah menjadi hobinya saat ini. Ya, memang ia tidak tanggung-tanggung untuk melontarkan kalimat pedasnya, membuat Aisyah harus super sabar dalam mengahadapinya.
"Mau kemana Lo?" Tanya Sasa, dengan pandangan merendahkan.
Aisyah tersenyum. "Mau ke taman belakang"
"Sendirian? Mana temen temen Lo?"
"Oh, apa jangan jangan mereka udah sadar ya. Kalau Lo itu ga pantes jadi teman mereka. Gini ya, secara,, bisa dibilang Syifa itu manis dan imut, Dinda cantik, kalau Lina? Ya,,, lumayan lah. Kalau Lo?" Sasa tertawa. Meremehkan.
"Menurut gue temen Lo itu ya yang biasa di lampu lalu lintas, yang nyanyi nyanyi ga jelas, yang dekil. Ya,,, sama kaya Lo" Ujar nya lagi. Membuat Aisyah terus mengucap istighfar dalam hatinya. Aisyah menghela pelan, berusaha agar emosi tidak menguasainya. Lalu ia menatap sasa.
"Udah selesai ngomongnya?" Tanya Aisyah. Membuat Sasa mengerutkan dahinya.
"Maksud Lo?"
"Kamu udah selesai ngomongnya? Kalau belum silahkan dilanjutin, kalau udah aku mau pamit dulu. Assalamualaikum" Ujar aisyah lalu pergi. Membuat Sasa mengepalkan kedua tangannya.
"DASAR SOMBONG, ORANG KAYAK LO GAK PANTES BUAT SOMBONG! SADAR DIRI LO!!" Ujarnya dengan berteriak namun tak digubris oleh Aisyah. Aisyah terus melanjutkan langkahnya, tak peduli dengan beberapa pasang mata yang tengah memandangnya.
Aisyah menjatuhkan tubuhnya dikursi besi panjang berwarna putih. Tatapannya kosong mengahadap depan. Ya Allah, kapan semua ini akan berakhir. Batinnya. Memori pikirannya saat ini sedang dipenuhi dengan kehidupannya selama ini. Ya, dari dulu sampai sekarang hanya hinaan. Apa seburuk itu dirinya di mata orang lain? Apa hanya karena cadel semua orang berhak menghina sesuka hatinya seperti itu? Aisyah menghela berat. Ia memejamkan matanya sekejap, lalu menatap novel yang ada di pangkuannya. Membuka halaman 57, lalu membacanya. Ya, lebih baik ia membaca dari pada memikirkan yang tidak tidak. Hingga ia terlelap dalam dunia novelnya, yang semakin ia baca semakin menarik ceritanya. Tak sadar bahwa ada seseorang yang tengah duduk disampingnya.
"Ini" Ujarnya dengan menyodorkan es cappucino cincau.
"Eh?! Oh iya makasih fa" Jawabnya dengan mengambil alih minumannya, lalu meletakkan di sampingnya.
"Kok kamu tau aku ada disini. Mana kembaliann..." Kalimatnya terpotong saat menyadari yang disampingnya bukanlah Syifa tapi Fariz.
"Ini" Ujar Fariz sembari menyodorkan uang lima ribu ke arah Aisyah.
"Makasih" Jawabnya. Lalu memasukkan uangnya kedalam saku roknya. Setelah itu, menggeser tubuhnya. Ingin menjaga jarak lebih tepatnya.
"Kenapa ngejauh gitu"
"Bukan muhrim. Gak baik kalau Deket Deket" Jawabnya enteng. "Kok es nya yang ngasih kakak, Syifa mana?"
"Dia di kantin, gue sengaja nganterin es yang Lo pesen. Ada yang mau gue omongin" Jawab Fariz. Aisyah mengangguk.
"Gue minta maaf sama Lo Syah, soal waktu itu. Gue..."
"Ekhem, udah saya maafin kak" Ujarnya memotong kalimat Fariz.
"Gue sebenernya udah biasa bilang gitu ke cewek lain. Maksut gue kata kata yang mungkin bisa membuat mereka sadar bahwa gue gak suka dikejar kejar kayak gitu. Tapi ga tau kenapa pas bilang gitu ke Lo gue malah ngerasa bersalah"
"Iya. Ada yang mau diomongin lagi" Tanya Aisyah membuat Fariz menggeleng.
"Ya udah saya pergi dulu kalau gitu. Assalamualaikum" Aisyah langsung berdiri dan melangkah pergi. Baru saja delapan langkah, namun Fariz secara tiba tiba mengahadangnya.
"Kaki Lo kenapa?"
"Gak kenapa Napa" Jawab Aisyah acuh tak acuh. Aisyah kaget saat melihat Fariz berjongkok dan hampir melihat memarnya. Aisyah melangkah mundur, membuat Fariz menatapnya dengan tatapan kenapa?
"Saya ga papa" Ujar Aisyah datar, dan langsung melangkah melewati Fariz begitu saja.
"Aisyah.." Panggil Fariz, membuat Aisyah seketika langsung menghentikan langkahnya. Fariz melangkah mendekat Aisyah, ia menatap gadis itu dari samping, membuat Aisyah menundukkan kepalanya. Fariz mengamati gadis itu dengan seksama. Bulu matanya begitu lentik, hidungnya mancung, matanya indah, bibirnya manis. Ternyata Aisyah begitu sempurna saat diamati dari dekat. Cantik. Batin Fariz.
"Ada apa?" Tanya aisyah. Membuat fariz langsung tersadar.
"Oh, emm gue mau bilang. Mulai sekarang Lo manggil gue pakai aku- kamu aja ga usah pakai saya"
"Kenapa?"
"Ya ga papa biar enak aja"
"Udah itu aja?"
"Emmm,,, oi ya satu lagi. Gue mau kasih tau kalo gue kemarin chat Lo jadi save nomer gue ya" Ujarnya cukup membuat Aisyah terkaget. Ia menoleh ke arah Fariz. "Kakak dapet dari mana nomer saya, emm... maksutnya aku"
"Mau tahu?" Tanya Fariz dengan sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Aisyah, membuat Aisyah merasa tidak nyaman. Sangat sangat tidak nyaman. Aisyah melangkah ke samping, berusaha menjauh. Ia kembali menundukkan kepalanya.
"Assalamualaikum" Ujar Aisyah, lalu pergi begitu saja.
"Waalaikum salam" Jawab Fariz.
__ADS_1
"Gue bener bener ga ngerti sama cewek. Dulunya aja bilang kalau suka, sekarang malah nge jauh. Emang bener kalau cewek susah ditebak." Gumamnya lagi sambil geleng geleng heran. Tatapannya masih tertuju pada Aisyah, yang berjalan pelan meninggalkan taman belakang.
...******...