
Fariz melihat jam tangannya. Sudah 5 menit semenjak bel berbunyi ia sudah menunggu, namun para murid belum juga keluar untuk istirahat. Entahlah, entah apa yang sedang di lakukan guru yang mengajar kelas 10 MIPA 1 sekarang. Namun tak lama, segerombolan orang keluar berhamburan dari kelas. Sudah Fariz amati baik baik, namun Aisyah tidak terlihat di antara mereka. Hingga akhirnya Syifa keluar dari kelas.
"Syifa..." Panggil Fariz.
Syifa menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke samping. "Kak Fariz? Ada apa kak?"
Fariz melihat ke dalam kelas sekilas. "Aisyah mana? Kok Lo sendirian?"
"Oh aisyah. Aisyah nya ga masuk sekolah"
Fariz mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Sakit" Jawab Syifa. "Tadi malam, waktu sampai ke pesantren badan Aisyah dingin banget. Terus mukanya dia juga pucet. Aku tanya, dia udah makan belum? Terus dia jawab kalau sejak kemarin pagi belum makan sampe malam, terus kayaknya dia mag. Tadi shubuh badan dia panas terus katanya juga pusing. Makannya hari ini ga masuk sekolah" Jelas Syifa dengan sedetail-detailnya.
Fariz terdiam sejenak. "Aisyah cerita ke Lo, siapa yang udah ngelakuin hal itu ke dia?"
Syifa menggeleng.
"Tadi malam sempet aku tanya, tapi kata Dinda sama Lina biarin Aisyah istirahat. Gitu."
Fariz manggut manggut. "Ya udah kalau gitu, makasih ya"
"Iya sama sama"
"Kalau gitu gue pergi dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Syifa.
Syifa menatap Fariz yang mulai menjauh pergi. Syifa menghela pelan. Ia membalikkan badannya, lalu kembali masuk ke dalam kelas. Mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantin. "Males banget kalau ga ada Aisyah" Gumamnya.
"Mendingan tidur kali ya. Mending lah, masih ada waktu 10 menit" Syifa langsung meletakkan kepalanya di atas meja, lalu mulai memejamkan matanya.
Belum saja satu menit penuh matanya terpejam, seseorang memanggilnya dengan suaranya yang keras. "SYIFAA....WOY BANGUN!!"
Syifa mengangkat kepalanya, dengan menutupi telinga kanannya. "Umpil!! Apaan sih Lo. Ganggu orang aja" Ucap Syifa dengan memanyunkan bibirnya kesal.
"Lo ngapain malah tidur?"
"Bukan urusan Lo. Gue mau tidur, mau mandi, mau ngelamun ga ada sangkut pautnya sama hidup Lo!" Jawab Syifa dengan nada kesalnya. "Lagian Lo mau ngapain sih di sini! Baru aja gue tidur, udah Lo bangunin"
Umpil tersenyum miring. "Aaa gue tau nih,, Lo tidur gara gara ga ada temen kan? Aisyah kan ga masuk sekolah, terus Lo ga ada yang ngajak ngobrol. Makannya tidur, iya kan? Kasian banget sih Lo"
Syifa memutar bola matanya. "Bukan ga ada yang ngajak ngobrol, tapi gue yang males ngobrol"
"Masa iya?"
"Lah ini Lo ngajak ngobrol gue"
Umpil terdiam. "Iya juga ya..." Gumamnya.
"Udah deh Lo pergi aja. Buat video kucing kesangkut di pohon kek, gigi Lo yang copot kek, kadal kejepit kayu kek atau apa. Yang penting Lo pergi"
"Gigi gue ga ada yang copot!! Oh ya, gue tadi juga sebenarnya mau buat video sih. Video pasangan terhits hari ini" Ujar umpil. "Lo tau ga pasangan terhits hari ini siapa?"
"Ga tau dan ga mau tau. Titik" Ketus Syifa lalu kembali tidur di mejanya. Mengabaikan umpil yang ada di depannya.
Syifa mulai memejamkan matanya, tak ingin mendengar apa yang akan di katakan umpil. "Pasangan terhits hari ini itu kak Reyhan sama kak Naira..." Ujar umpil membuat Syifa secara refleks membuka matanya dan mengangkat kepalanya.
"Apa?"
Umpil mengangguk.
Syifa terdiam sejenak. "Lo bohong apa beneran?"
Umpil berdecih kecil. "Lo pikirannya negatif Mulu ya sama gue. Ya beneran lah, buat apa gue bohong. Kalau ga percaya cek aja sendiri"
"Heh, Lo katanya suka sama kak Reyhan, kok diam aja. Samperin noh kak Reyhannya"
"Gak ah" Jawab Syifa.
"Kenapa?" Tanya umpil. "Ooo gue tahu, Lo ga berani kan nyamperin kak Reyhan. Waktu kemarin kan Lo habis di bentak bentak tuh sama dia" Lanjut nya lagi.
Syifa menghembuskan nafas kasar. "Udah udah, sana pergi. Ngomong sama Lo itu malah nambah mood gue jadi buruk tau ga" Ujar Syifa lalu ia kembali tidur di mejanya.
"Heh fa,, gue belum selesai ngomong nih. Kalau Lo itu emang suka sama kak Reyhan harusnya Lo labrak tuh kak Naira. Masa iya Lo biarin cowok yang Lo suka sama cewek lain"
Syifa mengambil tasnya, lalu digunakan tas tersebut untuk menutupi wajah sekaligus telinganya. "Fa,, bukannya di dengerin malah tidur. Woy, ga sopan banget ya Lo jadi orang. Dasar siput kw"
Syifa kembali mengangkat kepalanya. "Apa Lo bilang? Udah sana pergi,, ganggu gue aja"
"Pergi pergi" Usir Syifa.
"Heh iya ya. Pantes ga punya temen" Gerutu umpil dengan berdiri dan pergi.
"Berisik Lo!!" Kata Syifa setengah berteriak.
Syifa menundukkan kepalanya dengan menghela pelan. Apa bener yang dibilang umpil. Batinnya
••••••
"Aisyah, ini aku bawain makanan." Ujar Dinda dengan menyodorkan piring. "Kamu belum makan kan?"
Aisyah menggeleng. "Makasih ya Din"
Dinda mengangguk.
"Assalamualaikum" Ujar Syifa dan Lina yang baru saja memasuki kamar.
"Waalaikum salam" Jawab Dinda dan Aisyah.
"Baru makan Syah?" Tanya Syifa.
"Iya"
"Kok baru makan, kita aja udah makan. Nanti kalau mag kamu tambah parah gimana?"
Aisyah tersenyum. "Udah ga papa kok. Badan aku juga udah mendingan"
"Ya udah cepetan makan, biar cepet sembuh. Kalau sembuh nanti kan bisa masuk sekolah. Gue bosen di sekolahan ga ada Lo" Ujar Syifa.
"Halah baru aja satu hari udah kayak Aisyah ga masuk satu Minggu aja." Timpal lina membuat Syifa memanyunkan bibirnya.
"Gue ke toilet dulu ya" Ujar Syifa. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab ketiganya.
Syifa langsung berjalan menuju toilet. Dengan sesekali melamun karena pikirannya akhir akhir ini dipenuhi oleh Reyhan. Langkahnya terhenti saat melihat Reyhan berjalan bersama Iqbal. Tatapan mereka saling bertemu, namun dengan segera Reyhan memutusnya. "Assalamualaikum" Salam Reyhan saat mereka saling bertemu.
"Wa-Waalikum salam" Entah kenapa untuk kali ini Syifa merasa canggung bertemu Reyhan.
Tanpa mengatakan satu dua patah kata Reyhan langsung pergi begitu saja tanpa mempedulikan nya. Membuat Syifa merasa kebingungan dengan sikap Reyhan yang berubah-ubah. "Han,, jadi orang cuek amat!" Teriak Iqbal.
"Fa, gue duluan ya" Ujar iqbal.
Syifa mengangguk.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawabnya. Iqbal langsung pergi berlari mengejar Reyhan.
Syifa menundukkan pandangannya, memejamkan matanya lalu kembali membukanya. Syifa membalikan badannya, tidak jadi pergi ke toilet. Hanya melihat sikap Reyhan yang seperti itu pada dirinya, sudah membuatnya menjadi enggan untuk melakukan sesuatu.
Syifa mendudukkan tubuhnya di kasur. "Cepet banget ke toiletnya" Ujar lina namun tak di tanggapi oleh Syifa.
"Lo kenapa sih? Balik balik wajah kusut lagi kayak gitu" Kata Lina.
"Kamu kenapa Syifa?" Tanya Dinda.
Syifa menghela pelan. "Katanya perempuan yang Susah di tebak, tapi kenapa ini kak Reyhan yang susah di tebak. Kadang baik kadang jutek, kadang perhatian kadang juga cuek, ga peduli. Kadang juga dingin banget sikapnya. Kenapa sih jadi cowok ribet banget" Ujar Syifa kesal sendiri.
"Jadi karena kak Reyhan?!" Tanya Lina.
•••••
"Gue ke kelas dulu ya" Pamit Lina.
"Iya" Jawab Syifa.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Aisyah dan Syifa.
Syifa menatap Aisyah. "Syah, Lo beneran udah sehat?"
__ADS_1
Aisyah mengangguk. "Iya, In Syaa Allah"
"Tapi, Lo masih kayak lemes gitu. Kalau emang belum sembuh seharusnya istirahat dulu Syah"
Aisyah menggeleng pelan. "Aku ga papa"
"Ya udah, beneran ya ga papa"
"Iya"
"Assalamualaikum, Syah..."
Keduanya menoleh ke arah sumber suara. "Waalaikum salam"
"Syah Lo udah sembuh?" Tanya Fariz.
"Belum kak, tapi Aisyah maksa maksa buat sekolah" Jawab Syifa.
Aisyah menggeleng. "Nggak kak, udah sembuh kok"
"Syah,, gue mau bicara sama Lo" Ujar Fariz. "Empat mata"
Aisyah menoleh pada Syifa, membuat gadis yang ditoleh mengangguk pelan. "Udah sana" Ujarnya.
"Mau ngobrol dimana kak?"
"Di belakang sekolah"
Aisyah mengangguk.
"Fa, aku ke belakang sekolah dulu ya"
"Iya"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Syifa.
Keduanya langsung pergi menuju belakang sekolah. Sedangkan Syifa, berjalan menuju kelas.
"Reyhan..." Panggil Naira.
Reyhan menghentikan langkahnya. "Lo udah sarapan?"
Reyhan menggeleng.
"Nih, roti buat lo,"
"Ga usah"
"Ih biar nanti kita lebih semangat, masa iya ngerjain soal tapi perut kosong. Biar nanti ada energinya" Ujar Naira.
Reyhan tersenyum singkat, lalu menerima kotak bekal dari Naira. "Langsung dimakan ya" Kata Naira.
Reyhan mengangguk. Lalu ia berjalan beberapa langkah, dan duduk di kursi. Di ikuti Naira yang duduk di sampingnya. Reyhan langsung membuka kotak bekalnya, lalu memakan sepotong roti yang di isi selai coklat di dalamnya. Hal yang membuat Naira langsung tersenyum senang.
"Enak ga?"
"Iya, makasih ya"
"Sama sama" Jawab Naira dengan tersenyum lebar.
Sedangkan Syifa yang tak sengaja melihatnya hanya bisa menghela pasrah. Dari kak Naira aja langsung dimakan, kalau makanan dari aku? aku aja ga tau itu makanan di makan, di kasih ke orang atau bahkan di buang. Waktu aku suruh kak Reyhan buat langsung makan brownis, kak Reyhan ga mau sampe marah marah. Giliran kak Naira yang nyuruh? Batinnya.
Syifa menggelengkan kepalanya. Udalah fa, jangan terlalu berharap sama kak Reyhan. Lo harusnya sadar diri, sadar diri Syifa.
Tatapan Naira terhenti pada Syifa yang tengah memejamkan matanya dengan menggelengkan kepalanya pelan. Tak lama, gadis itu kembali membuka matanya dan kembali melihat ke arah mereka. "Han, ada Syifa tuh!" Ujar Naira membuat Reyhan langsung mengedarkan pandangannya.
Tatapan mereka saling bertemu. Mempunyai makna tersendiri di setiap tatapan tersebut. Syifa menghela pelan, lalu kembali melanjutkan langkahnya melewati mereka tanpa menyapa. Membuat Naira menatap tidak suka Syifa. "Sombong banget jadi orang" Gumam Naira.
Naira mengalihkan pandangannya, dari Syifa ke Reyhan. "Ga Lo kejar si Syifa. Kayaknya dia lagi ada masalah sama Lo" Ujar Naira.
Reyhan menutup kotak bekalnya. "Gak!" Ketusnya lalu berdiri. "Cepet temuin Bu Isma, jangan sampe telat" Ujarnya dingin lalu melangkah menuju ruang guru.
••••
"Siapa Syah?" Tanya Fariz dengan rasa ketidak sabarannya.
Aisyah menundukkan kepalanya. "Kalau aku beritahu kakak, apa kakak akan percaya?" Tanya Aisyah.
Fariz mengangguk pasti. "Gue, akan selalu percaya sama Lo. Jadi Lo jangan takut buat kasih tahu ke gue" Kata Fariz dengan pasti.
Aisyah semakin menundukkan kepalanya. "Yang ngelakuin itu..."
Fariz terdiam menunggu jawaban Aisyah. "Dia..."
"Dia siapa?" Tanya Fariz.
Aisyah meneguk ludahnya. "Yang ngunci di gudang waktu itu"
Kring kring kring
"Kak udah bel masuk, Aisyah masuk ke kelas dulu ya"
"Mau gue anter?" Tanya Fariz.
"Ga usah, makasih kak"
"Syah, nanti pas istirahat ketemuan lagi di sini"
Aisyah mengangguk pelan. "Iya. Ya udah kalau gitu aku ke kelas dulu kak. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
•••••
"Mereka yang waktu itu nampar aku di kantin"
Fariz terdiam, berusaha untuk mengingat apa yang dikatakan Aisyah. Tak lama dari itu tangannya mengepal erat, dengan mengeraskan rahangnya karena emosi. Bisa bisanya mereka berani sama perempuan. Fariz berdiri dari tempat duduknya. Membuat Aisyah juga melakukan hal yang sama. "Mau kemana kak?" Tanya Aisyah.
"Mau beri pelajaran sama mereka" Jawab Fariz dengan emosi yang tertahan.
"Jangan kak! Lupain aja. Aku ga mau kakak berantem!" Ujar Aisyah namun tak di gubris oleh Fariz. Ia justru mempercepat langkahnya, mencari lelaki itu.
Bugh
Naufan terpental jatuh ke lantai. Fariz mencengkeram kerah seragam naufan dengan amarahnya. "Berani beraninya Lo sama cewek! Pengecut Lo!! Kalau berani, ayo sama gue!" Ujar Fariz lalu kembali memukul lelaki di hadapannya.
Tidak ada yang berani memisahkan mereka, apalagi kalau Fariz sudah marah seperti ini. Hanya teman teman terdekatnya yang berani memisahkan mereka. Namun kemana iqbal dan Ilham saat ini.
"Gue di suruh sama orang!!" Jawab naufan juga dengan amarahnya yang tertahan.
"Siapa?" Tanya Fariz dengan menatap tajam naufan. "Siapa? kasih tau gue!!" Bentak Fariz.
"Ghea" Jawab naufan. Mulut Fariz terbuka setengah. Ghea dia bilang?
"Jangan bohong Lo!"
"Gue gak bohong, Ghea yang suruh gue buat kunci Aisyah di gudang"
Fariz melepaskan cengkeramannya secara kasar, dengan tangannya yang masih terkepal. "Ghea..." Gumamnya.
Ia langsung berjalan cepat dengan langkah pasti menuju kelas Ghea. Tak lama Aisyah datang. "Kemana kak Fariz?" Tanyanya.
Naufan berdiri dengan memegangi ujung bibirnya yang memerah. Ia langsung berjalan menuju Aisyah. Dan mencengkeram lengannya. "Bilang apa Lo ke Fariz ha? Lo aduin semuanya ke dia kan?" Ujar naufan setengah berteriak.
"Dasar ya Lo cewek berengsek!" Bentaknya dengan mengeratkan cengkeramannya.
"Lepasin dia!!" Suara yang terdengar lantang itu membuat semuanya menoleh. Tak terkecuali aisyah dan naufan.
Devan berjalan mendekati mereka. "Lepasin!"
Naufan tersenyum miring. "Heh, udah berapa orang yang Lo bayar buat belain Lo di depan semuanya ha?" Tanyanya pada Aisyah.
"Gue bilang lepasin!" Bentak Devan.
Naufan melepaskan cengkeramannya. "Lo jangan ikut campur urusan gue"
Devan melihat Aisyah sekilas. Gadis itu tengah memegangi keningnya. "Syah Lo kenapa?" Tanyanya halus.
Aisyah menggeleng. "Ga kenapa napa kak"
Devan menatap naufan. "Gue lagi gak mau cari masalah sama Lo!" Ketusnya pada naufan.
__ADS_1
"Gue anterin ke UKS, biar Lo bisa istirahat di sana"
Aisyah menggeleng. "Nggak kak, ga usah"
"Syah,,,pokoknya gue anterin Lo ke UKS" Ucap Devan lalu menuntun gadis itu menuju UKS.
"Kak maaf, kita bukan mahram" Kata aisyah membuat Devan langsung melepaskan kedua tangannya yang memegangi kedua lengan Aisyah. Bermaksud untuk membantunya berjalan karena kepala Aisyah yang mendadak pusing. "Aku bisa jalan sendiri kak" Lanjutnya seakan akan mengerti isi pikiran Devan.
Keduanya langsung berjalan menuju UKS. "Lo istirahat di sini dulu" Kata Devan membuat Aisyah mengangguk kecil.
Aisyah membaringkan tubuhnya di ranjang UKS dengan memijat pelipisnya yang terasa masih pusing. Sedangkan Devan berdiri dengan manatap gadis yang kini bersamanya.
•••••
"GHEA..." Panggil Fariz dengan berjalan ke arah menuju Ghea. Membuat semua mata tertuju padanya.
"Ikut gue"
"Kemana?" Tanya ghea yang merasa heran dengan sikap Fariz.
"Ikut!!" Ketus Fariz.
Fariz kembali berjalan keluar kelas dengan di ikuti Ghea yang berjalan di belakangnya. "Ada apa Riz?" Tanya Ghea.
"Kenapa Lo ngunci Aisyah di gudang?"
Ghea terdiam sekaligus terkejut dengan apa yang ditanyakan Fariz. Bagaimana dia bisa mengetahuinya?
"Maksud Lo apa sih Riz. Gue-gue ga tau"
"Ga usah pura pura ya Ghea" Tegas Fariz. "Atas dasar apa Lo ngelakuin itu ke Aisyah!"
"Gue ga ngelakuin apa apa ke Aisyah!"
"Jujur Ghea!" Ujar Fariz dengan nada membentak membuat gadis itu sedikit merasa tersentak.
Ghea terdiam sejenak. "IYA!! GUE YANG NGELAKUIN ITU" Jawab Ghea dengan penuh penekanan.
Fariz membuang muka dengan memijat pelipisnya. "Kenapa? Kenapa Lo ngelakuin itu? Dulu, Lo jebak Aisyah seolah olah dia seorang pencuri, sekarang Lo kunci dia di gudang. Mau Lo apa sih?"
"Dan Lo masih tanya kenapa gue ngelakuin itu?"
Fariz geleng geleng kepala. "Untuk kali ini gue kecewa ya sama Lo" Ujarnya lalu membalikkan badannya dan melangkah pergi.
"Fariz Fariz..." Cegah Ghea. "Lo harusnya ngertiin alasan dan perasaan gue."
Fariz menatap Ghea. "Belajar buat ngertiin perasaan orang lain dulu, nanti gue bakal belajar buat ngertiin perasaan Lo. Lo tau ga, selama ini Lo itu terlalu sibuk mikirin diri Lo sendiri. Sibuk mikirin gimana caranya biar apa yang Lo mau bisa terpenuhi"
"Assalamualaikum" Ucap Fariz lalu kembali melangkah pergi mencari Aisyah.
"Maaf...gue mau tanya" Ujar Fariz kepada seorang gadis.
Gadis itu tersenyum lebar, kapan lagi dia bisa mengobrol dengan idola sekolah. "Iya tanya apa kak? Tanya banyak juga ga papa" Jawabnya dengan merapikan rambutnya lalu menatap senang Fariz.
"Lo lihat Aisyah dimana?"
Gadis itu menggeleng. "Ya udah kalau gitu, makasih" Ujar Fariz lalu beranjak pergi.
"Kak Fariz, yakin cuma itu yang mau di tanya. Kakak kali kali deh ngobrol sama aku..." Kata gadis itu setengah berteriak. "Kak Fariz ganteng deh..." Lanjutnya lagi.
Sedangkan Fariz yang mendengarnya terus melanjutkan langkahnya dengan risih. Ia kembali bertanya kepada seseorang. Kali ini lelaki. "Oh tadi gue lihat Aisyah jalan ke arah UKS. Kayaknya sih" Jawabnya.
"Makasih ya"
Lelaki itu mengangguk.
Fariz mempercepat langkahnya menuju UKS. Dilihatnya Devan yang juga ada di sana. "Ngapain Lo di sini?" Tanya Fariz dengan nada tidak suka.
"Gue cuma nungguin Aisyah"
"Udah ada gue. Sekarang Lo pergi"
Devan mengangguk kecil. "Gue pergi dulu"
"Syah, jaga kesehatan ya..." Ujarnya.
"Iya, makasih ya kak"
"Udah sana pergi..." Ujar Fariz.
Devan langsung melangkah pergi keluar UKS. "Syah, Lo ga papa?" Tanya Fariz.
Aisyah menggeleng pelan.
Aisyah mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. "Kakak dari mana?" Tanya Aisyah.
"Habis ketemu Ghea"
"Ngapain?"
"Gue udah tahu, kalau yang ngunci Lo itu Ghea" Jawabnya.
Aisyah menghela pelan. "Kakak jangan marah ya sama mbak Ghea"
Fariz menatap gadis yang kini wajahnya sedikit pucat. Mungkin belum sehat seratus persen. "Maafin gue, karena ga bisa jagain Lo.." Ujar Fariz pelan.
"Syah, gue bakal jagain Lo. Gue takut Lo kenapa napa, Ghea orangnya nekat. Dia bisa ngelakuin lebih dari ini" Ucap Fariz.
Kring kring kring
Untuk ketiga kalinya suara itu berbunyi. "Gue masuk ke kelas dulu ya"
Aisyah menurunkan kakinya dari ranjang UKS. "Mau ngapain?" Tanya Fariz.
"Ke kelas"
"Ga usah, Lo istirahat di sini dulu."
"Tapi..."
"Syah, Lo belum sembuh total. Muka Lo masih kelihatan pucet, lebih baik Lo istirahat dulu. Kalau udah mendingan, baru masuk ke kelas"
"Tapi..."
"Nanti gue datang ke kelas lo buat bilang kalau Lo sakit. Jadi Lo ga usah khawatir. Tetap istirahat"
Aisyah hanya bisa menghela pasrah mendengar perkataan Fariz. "Gue pergi dulu ya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Aisyah.
•••••
"Assalamualaikum" Ujar Reyhan dengan membuka pintu kamar lalu memasukinya.
"Waalaikum salam, eh Han gimana tadi. Lancar?" Tanya Iqbal.
Reyhan menaruh tasnya lalu mendudukkan tubuhnya di tempat tidur. "Gimana menang ga?" Tanya Iqbal lagi.
"Hm"
Iqbal tersenyum lebar dengan menepuk bahu Reyhan. "Wih, udah ga ragu lagi sih Han gue sama Lo. Turut bangga gue jadi temen Lo" Ujarnya.
"Kalau Naira menang?" Tanya Fariz.
"Besok juga Lo semua tahu" Jawab Reyhan.
"Tadi kenapa Devan ga ikut lomba? Tumbenan banget tu anak"
"Beda yang dilombakan" Jawab Reyhan.
"Eh Han, gimana Lo tadi? Seharian sama Naira. Puas ga? Jam segini baru pulang" Ujar iqbal. "Oi ya gue baru inget. Tadi Syifa nyariin Lo. Udah ga marah lagi dia sama lo?"
Reyhan terdiam mendengar ucapan iqbal. "Beneran?"
"Ya iyalah. Tapi sayangnya Lo ga ada" Jawab Iqbal.
Ilham yang dari saja diam mulai bergabung bersama mereka. "Gue kasih tau" Ujarnya.
"Kasih tahu apa?" Tanya iqbal.
"Jangan remehkan marahnya orang yang terkenal sabar, kecewanya orang yang terkenal setia dan sedihnya orang yang terkenal periang." Ucap Ilham membuat Iqbal dan Fariz seketika melirik Reyhan secara bersamaan. Merasa bahwa Ilham sedang menyindir seseorang.
...*******...
__ADS_1