
"PAK!! PAK BUKAIN..." Teriak Syifa dari luar gerbang. "Aduuhhh,, ini kenapa pake buku tugas ketinggalan segala sih. Telat kan jadinya" Gerutu Syifa pada dirinya sendiri.
"PAK BUKAIN" Teriak Syifa lagi dengan memukul mukul gerbang.
"Iya neng bentar" Ujar pak Afif.
"Lama banget sih pak..."
"Masuk!!" Kata pak Afif dengan membuka gerbang.
"Makasih pak"
"Iya"
Syifa melangkah memasuki pintu gerbang. Dilihatnya para murid berbaris rapi melaksanakan upacara bendera. "Kenapa terlambat?" Tanya Bu Desi dengan muka judesnya.
"Maaf bu, tadi buku tugas saya ketinggalan"
Bu Desi menggelengkan kepalanya. "Cepat kamu segera berbaris, ikut upacara. Setelah upacara selesai kamu menghadap ibu"
Syifa mengangguk kecil. "Iya Bu..." Ia langsung berlari ke barisan kelasnya. Beberapa menit setelah itu, upacara telah selesai dilaksakan. Barisan pun dibubarkan. Semua murid berlari menuju kelasnya masing masing, kecuali Syifa. Yang langsung menghadap Bu Desi.
"Karena kamu terlambat, ibu hukum kamu untuk lari 15 kali mengelilingi lapangan"
"15 kali?"
"Iya. Cepat! Sekarang!" Tegas Bu Desi. Mau tak mau Syifa harus melaksanakan hukumannya sekarang juga.
"Iya Bu"
Syifa menghela pelan. Lalu segera melaksanan hukumannya mengelilingi lapangan. Diputaran ke tujuh Syifa menghentikan langkahnya, dengan membungkuk sesekali menyeka keringatnya yang mengucur di wajahnya. Syifa meneguk ludahnya dengan mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Tatapannya terhenti pada sebotol air mineral yang di julurkan oleh seseorang padanya. Secara perlahan, Syifa mendongakkan kepalanya dan mendapati sesosok yang saat ini sedang menempati semua ruang di pikirannya.
Syifa melihat sekilas air minum tersebut, lalu kembali menatap Reyhan dengan tatapan yang sulit di artikan. "Ini, minum" Ujar Reyhan dengan masih setia menyodorkan air tersebut pada Syifa.
Syifa menghembuskan nafas kasar. Semua kata kata Reyhan terus melintas dalam pikirannya. Syifa kembali melanjutkan langkahnya dengan sengaja menabrak bahu Reyhan tanpa peduli seperti apa reaksinya saat ini. Sedangkan Reyhan terus melihat Syifa yang berlari mengelilingi lapangan. Menatapnya tanpa ekspresi.
•••••
Lina tengah membaca buku di taman belakang. Sendirian. Entahlah, saat ini ingin saja dirinya membaca buku di sini. Padahal sebelumnya ia jarang datang ke taman belakang.
"Aaww..." Dirinya meringis saat kepalanya tertimpa mangga muda dari atas pohon. Lina berdiri dari tempat duduknya, berjalan dan mengambil mangga yang terjatuh di tanah.
Lina mendongakkan kepalanya, matanya melotot saat melihat seorang lelaki yang tengah asiknya makan mangga di atas pohon yang tumbuh di dekat kursi taman.
"Lo ngapain di sana?" Tanya Lina setengah berteriak dengan nada kesal. Sedangkan Iqbal malah tertawa tidak jelas dengan melanjutkan memakan mangga. "Singa lebay turuun!!"
"Enak ga lemparan gue?" Tanya Iqbal.
"Jadi yang lempar mangga ini Lo?"
"Iya"
"Sengaja ya Lo"
"Iya. Emang kenapa?"
"Turun nggak!! Ngapain sih disana!! Udah kayak monyet tau ga"
Iqbal memutar bola matanya, lalu membuang mangga yang sudah habis ia makan. Tak butuh waktu lama untuk Iqbal turun kebawah. "Heh,, maling ya Lo"
"Enak aja"
"Terus apa tadi,, makan mangga di atas pohon. Kalau Bu Desi lihat habis Lo. Jadi orang gitu amat" Ujar Lina.
"Hssstt,, udah diem. Cerewet banget, masalah mangga nanti gue bilang ke Bu Desi"
"Halah, masa iya? Heh, Lo tanggung jawab nih. Kepala gue benjol"
"Ya Bodo amat"
"Eeehh,,, nyebelin banget ya jadi cowok!" Kata Lina kesal dengan melempar mangga tepat di wajah Iqbal.
"Eh aduh,, berani Lo sama gue?" Tanya Iqbal nyolot.
"Ya berani lah, emang siapa Lo?"
Iqbal terdiam, tak lama senyum jahilnya tercetak dalam wajahnya. "Berani ya?"
"Berani lah. Mau ngapain? Mau gelud? Ayo sekarang kalau bisa" Jawab Lina.
Iqbal tetap terdiam mendengar ucapan Lina. Ia justru menatap Lina seperti seorang lelaki yang ingin berbuat macam macam terhadapnya. Melihat Iqbal yang menatapnya seperti itu Lina pun langsung menendang kaki Iqbal. "Ngapain natap gue kayak gitu?!!" Kata Lina setengah teriak.
Gila ni cewek, bukannya takut malah kaki gue di tendang. Batin Iqbal kesal. Namun Iqbal tetap menatap Lina dengan tatapan mautnya, rencananya tidak boleh gagal hanya karena kakinya yang di tendang oleh gadis di hadapannya.
Lina meneguk ludahnya. "Bal, Lo ngapain. Jangan macem macem ya.." Iqbal mulai melangkah pelan mendekati Lina. Membuat Lina juga ikut melangkah mundur. "Bal, Lo kesurupan apa sih,, jangan tatap gue kayak gitu!!"
"Bal, Lo mau ngapain? Jangan macem macem ya..."
Duh ni orang mau ngapain sih,, mana sepi lagi di sini. Batin Lina.
Iqbal terus menatap Lina seperti lelaki mabuk yang ingin berbuat lancang terhadap perempuan. "Iqbal,, Lo kesurupan iblis apa. Jangan macem macem ya.." Ujar Lina. Karena tak kunjung mendapat jawaban, Lina memukul pipi kiri Iqbal.
"Weh bal,, sadar Lo..."
"Hssttt..." Hanya itu yang keluar dari mulut iqbal. Baru kali ini Lina merasa takut terhadap lelaki di hadapannya, bagaimana kalau Iqbal akan melakukan hal yang tidak di inginkan padanya. Lina menghentikan langkahnya yang tadinya terus mundur, ada dinding di belakangnya. Sedangkan Iqbal terus berjalan mendekat.
Nah loh rasain, gue tatap gitu aja udah takut. Batin Iqbal.
"Bal,, Lo kenapa..." Ucap Lina dengan rasa takutnya. Iqbal mendekatkan wajahnya pada wajah Lina, hingga jarak mereka tinggal beberapa centi. Menatap Lina dengan tatapan maut.
"HAACHIIMMM" Lina mengusap hidungnya yang mendadak gatal. Sedangkan Iqbal menjauhkan tubuhnya. "Kurang ajar banget sih Lo.." Ujar Iqbal kesal dengan mengusap wajahnya yang terkena cipratan air liur Lina.
"Hueekk,, jorok banget Lo..." Lanjutnya lagi dengan berusaha membersihkan wajahnya.
"HAACHIIMMM" Untuk kedua kalinya Lina bersin. "Sorry,, gue ga sengaja"
"Kalau bersin bilang, jadi gue bisa pergi" Ujar Iqbal.
"Ya mana gue tahu, tiba tiba hidung gue gatel." Jawab Lina. Tak lama ia tersenyum miring. "Mungkin, bersinnya pengen kasih Lo pelajaran karena mau macem macem sama gue"
"Siapa yang mau macem macem sama Lo"
"Terus tadi apa? Makannya ga usah macem macem sama gue"
"Macan betina, tanggung jawab. Wajah gue banyak kumannya nih gara gara Lo"
"Yee,, Bodo amat. Siapa suruh Lo tadi ngelakuin hal kayak gitu tuh kayak tadi. Rasain, emang enak!!" Ujar Lina lalu pergi begitu saja.
"Aduh,, nasib nasib. Niat mau ngejahilin eh malah gue yang kena.." Gumam Iqbal kesal.
•••••
Hari ini pak Asep, guru olahraga tidak masuk. Menyebabkan jam kosong pada pelajaran olahraga kali ini. Semua murid kelas 10 MIPA 1 dipersilahkan untuk melakukan olahraga semaunya. "Fa, main bola yuk" Ajak Aisyah.
Syifa menggeleng. "Nggak Syah, Lo aja deh. Gue lagi males"
Aisyah menghela pelan. "Fa Kam..."
"Aawww,,," Ringis Syifa karena wajahnya baru saja terkena bola.
"Fa, kamu ga papa?" Tanya aisyah yang melihat syifa kesakitan dengan menutupi hidungnya. "Fa...."
Syifa menatap ke arah sheren. Ia berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan cepat menuju sheren. "Lo gimana sih?" Tanya syifa marah.
"Ya salah sendiri lo ada di sana!!" Ujar sheren.
"Kalau lo ga bisa main bola,, ga usah main!!"
"Fa, fa udah udah" Lerai aisyah. Aisyah terkejut melihat hidung syifa yang berdarah. "Fa kamu mimisan"
Syifa langsung menyentuh lubang hidungnya, lalu melihat jemari telunjuknya yang terkena darah. "Ke Uks ya" Ujar aisyah.
"Fa,, ayok ke Uks" Ajak aisyah dengan menarik tangan syifa. Mengajak nya agar mau pergi ke uks. Syifa mengangguk kecil, mereka berdua langsung pergi ke uks.
__ADS_1
"Sheren, kamu hati hati dong" Ucap kania lembut.
"Gue ga sengaja, lagian dia juga ngapain duduk di sana. Males banget sih jadi orang" Jawab sheren tak mau di salahkan.
"Udah Syah, udah ga papa kok" Ujar Syifa.
"Kok bisa mimisan sih?"
"Palingan juga gara gara kena bola tadi. Udah, lo ga usah khawatir. Gue ga papa"
Aisyah mengangguk kecil.
"Nanti, kamu ekskul?" Tanya aisyah.
"Nggak. Gue lagi males" Jawab syifa. "Syah, gue ke toilet dulu ya"
"Iya"
Syifa berdiri dari ranjang uks yang ia duduki. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab aisyah.
Syifa melangkah keluar. "Syifa..." Panggil seseorang membuat langkah syifa terhenti. Syifa menoleh ke arah samping.
"Lo ga papa?" Tanya reyhan.
"Emangnya syifa kenapa?" Ujar Syifa yang malah balik bertanya.
"Gue denger hidung lo berdarah. Ga papa kan?"
Syifa terdiam dengan menatap reyhan. Kenapa sih Kak reyhan harus tanya kayak gitu. Bertanya seakan akan peduli sama syifa. Dan, kak reyhan tau ga sih, dengan Kak reyhan nanya kayak gitu sama aja Kak reyhan udah bikin syifa kembali berharap sama kakak. Kakak sendiri yang Suruh syifa buat jauhin kakak, tapi giliran syifa udah lakuin itu kenapa kakak Malah bersikap manis kayak gini? Batin syifa. Yang bertanya tanya pada dirinya sendiri.
"Kak,, aku boleh tanya?"
Reyhan mengangguk. "Hm"
"Apa iya, syifa harus terluka dulu untuk buat kak reyhan peduli sama syifa?" Tanya syifa yang membuat reyhan hanya terdiam tak berkutik.
"Oi ya kak, waktu itu kakak bilang kan, kalau kakak terganggu sama sikap syifa. Maafin syifa ya kak, maaf syifa udah datang bertamu dan hanya menjadi pengganggu sekaligus benalu di hati kakak" Ujarnya pelan.
"Eh, ada kak reyhan?" Ujar aisyah yang baru saja keluar dari uks.
"Syah, yuk kita pergi" Ajak syifa.
Aisyah mengangguk.
"Kak, aisyah sama syifa pergi dulu ya. Assalamualaikum" Kata Aisyah.
"Waalaikum salam" Jawab reyhan.
•••••
16.37
Aisyah berjalan seorang diri di lorong sekolah. Sepi. Hanya tersisa beberapa orang saja di sekolahan. Hari ini, aisyah ada ekskul sekolah. Harusnya syifa juga ada ekskul, namun yah karena dirinya yang malas jadi untuk hari ini syifa tidak masuk ekskul.
Langkahnya memelan saat melihat tiga cowok yang berjalan dari arah berlawanan. Naufan dan kedua temannya. "Ketemu lagi kita" Ujar naufan.
Aisyah memegangi tali tasnya erat erat. "Lo sendiri yang mau cari masalah sama kita" Lanjutnya lagi. "Kalian berdua,, tangkap dia"
Mendengar perintah naufan pada kedua temannya, mata aisyah melotot lebar. Aisyah memundurkan langkahnya, membalikkan badan dan hendak berlari karena firasatnya sedari tadi sudah tidak enak. Namun dirinya segera di tahan oleh kedua cowok tersebut.
"Kalian ngapain sih, lepasin ga?!" Ujar aisyah yang terus memberontak agar dirinya di lepaskan.
"Bawa dia" Perintah naufan.
"Ih,, lepasin ga? Mau dibawa ke mana?"
"Diem lo" Bentak salah satunya.
"Lepasin!! TOLONG...."
"Heh percuma lo teriak, ga ada yang bakalan denger" Ujar naufan.
Mereka terus menarik dan memaksa aisyah agar berjalan menuju tempat yang mereka inginkan. "Ngapain sih bawa aku ke gudang?" Tanya aisyah dengan sedikit berteriak.
"Ah, berisik lo jadi cewek" Ketus naufan.
Aisyah di paksa untuk duduk di atas kursi yang ada di gudang. Dengan cepat mereka langsung mengikut kedua tangan aisyah di belakang kursi, tubuh hingga kaki. "Ih lepasin ga!! Kalian tu mau ngapain sih" Ujar aisyah yang terus berusaha melepaskan ikatan talinya.
"Kalian jahat banget ya jadi orang!"
"Apa? Jahat? Heh,, kita itu ga sejahat yang lo kira. Ini semua itu bukan ulah kita, tapi ada yang nyuruh" Jawab naufan.
"Siapa yang nyuruh?" Tanya aisyah. Ada sedikit nada marah di pertanyaannya.
"Gue yang nyuruh" Suara seorang gadis dari ambang pintu membuat mereka langsung mengarahkan arah pandangnya.
Gadis yang bisa dijuluki sebagai salah satu jajaran gadis tercantik di sekolah itu dengan angkuhnya memasuki gudang. Mendekati aisyah yang masih terkejut dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Mb-mbak ghea?" Gumam aisyah dengan menatap ghea dengan rasa tak percayanya.
"Iya gue. Gue, yang nyuruh mereka" Jawab ghea santai.
Aisyah menggelengkan kepalanya. "Tapi kenapa mbak?"
"Lo masih tanya alasannya kenapa?" Ujar ghea dengan nada nya yang mendadak tinggi. "Lo bego atau pura pura ga tahu?"
Ghea mendekatkan wajahnya. Lalu menarik kasar dagu aisyah membuat aisyah sedikit meringis kesakitan. "Gue itu benci sama lo aisyah!!" Gertaknya tepat di hadapan aisyah. Membuat gadis itu tersentak kaget.
"Gue benci sama lo, gue gak suka sama lo. Dan kalau lo masih tanya alasannya kenapa, berarti lo bodoh!" Lanjutnya lagi dengan melepas kasar dagu aisyah.
"Lo,,, lo udah buat fariz jauh dari gue. Bahkan dulu, dulu gue satu satunya cewek yang paling deket sama fariz. Yang apa apa fariz selalu minta bantuan gue, dulu dia selalu perhatian sama gue. Karena gue satu satunya temen masa kecil dia, yang nemenin dia dari kecil sampe sekarang"
"Tapi sekarang apa? Semuanya hilang gitu aja. Yang dulunya buat gue, sekarang beralih ke lo. Perhatian fariz, kepedulian fariz, semuanya hilang karena lo. Lo udah rebut semuanya. Dan gue benci sama lo aisyah!!" Bentak ghea.
Aisyah kembali menggelengkan kepalanya. "Ini semua ga seperti yang mbak pikirin"
"Tapi itu kenyataannya. Itu yang gue rasain!"
Ghea menghembuskan nafas kasar. Lalu menatap naufan juga kedua temannya secara bergantian. "Cepet, tutup mulutnya"
"Siap" Jawab naufan. Ia lalu mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya.
"Mbak, jangan mbak...jangan" Ujar aisyah memohon dengan mata berkaca kaca.
Dengan segera naufan menutup mulut aisyah dengan sekuat mungkin. "Selamat menikmati malam lo di sini ya" Kata ghea membuat aisyah kembali menggelengkan kepalanya. Mengisyaratkan bahwa ia tidak mau jika harus berada di dalam gudang sendirian malam ini.
"Semuanya keluar. Dan jangan lupa kunci pintunya" Perintah ghea. Ia membalikkan badan, berjalan cepat keluar dari gudang. Di ikuti oleh ketiga cowok tersebut, tak lupa juga naufan menutup serta mengunci pintu gudang seperti apa yang di katakan ghea. Meninggalkan aisyah seorang diri di dalamnya.
Sedangkan aisyah, air matanya kini sudah luruh membasahi pipi juga sapu tangan yang menutupi mulutnya. Kakinya juga tangannya terus berusaha untuk membuka tali yang mengikat badannya. Namun sepertinya tali tersebut terlalu erat. Di dalam gudang, saat ini hanya gelap yang menemani meskipun hari masih sore. Hanya suara nyamuk yang mengisi kebisingan di dalamnya.
Hari semakin gelap, namun Aisyah masih terkunci di dalam gudang. Ya Allah, tolong hamba. Batin Aisyah. Di gudang, keadaan sangat gelap gulita. Hanya cahaya lampu dari luar yang menembus ventilasi jendela gudang. Hanya itulah yang dijadikan sebagai cahaya pada saat itu. Rasa takut dan khawatir pun mulai bertambah pada diri Aisyah.
Dirinya merasa sedikit lega karena sapu tangan yang menutupi mulutnya terlepas begitu saja. "TOLONG!! TOLONG...." Teriak Aisyah dengan menghentakkan kakinya dengan sekuat tenaga. Meski hanya sebiji jagung kemungkinannya untuk keluar dari gudang, namun Aisyah tidak mau menyerah. Bagaimana tidak, jam sudah menunjukkan bahwa waktu petang telah tiba. Dan kemungkinan semua orang yang ada di sekolah sudah pulang, biasanya hanya pak Afif yang pulang paling akhir. Karena beliau lah yang biasanya mengunci semua ruangan di sekolahan. Namun jam segini, biasanya beliau juga sudah pulang. Beruntungnya, hari ini Aisyah sedang haid. Mungkin kalau suci, ia juga tidak tahu harus sholat Maghrib menggunakan apa.
"Haduuh,,, ini aisyah kemana ya?" Gumam Syifa yang sedari tadi berjalan mondar mandir.
"Duduk dulu lah fa, dari tadi mondar mandir terus. Pusing gue lihatnya" Timpal Lina.
"Gue lebih pusing. Ini gimana Aisyah? Kenapa belum pulang!!" Ucap Syifa khawatir.
"Mungkin lagi di jalan kali"
"Biasanya jam segini dia itu udah pulang. Lihat, langitnya udah petang. Bentar lagi pasti mau adzan." Jawab Syifa. "Duh, kalau dia kenapa Napa gimana?"
"Tunggu dulu fa, kalau sampai habis Maghrib belum pulang juga, nanti kita lapor ke ustadzah" Kata Dinda menenangkan.
Syifa menghela pelan. "Kalau gue tadi ikut ekskul pasti gue bakal bareng sama Aisyah. Kalau bareng, pasti gue bisa mastiin keadaan dia. Kalau gue bisa mastiin keadaan dia, pasti Aisyah udah pulang hari ini. Kalau udah pulang..."
"Hssstt,, diem kenapa sih. Bukannya doain malah ngoceh kayak gitu" Ucap Lina.
"Gimana gue ga ngoceh,, ga tenang gue."
__ADS_1
Allahuakbar Allahuakbar...
"Tuh kan,, udah adzan. Kenapa belum pulang?!"
"Udah fa, kamu tenang aja. Habis sholat kita lapor ke ustadzah. Sekarang kita sholat Maghrib dulu ya " Ujar Dinda.
Syifa mengangguk. Mereka bertiga langsung bersiap siap untuk ke mushola dan melaksanakan sholat Maghrib berjamaah. Setelah dzikir dan doa, ketiganya langsung melaporkan kepada ustadzah kalau Aisyah sampai sekarang belum datang ke pesantren.
"Iya, kalian tenang dulu ya. Ustadzah akan lapor hal ini ke ustadz rizwan" Ujar ustadzah Rina.
"Iya ustadzah" Jawab ketiganya.
Ustadzah Rina langsung bergegas menemui ustadz rizwan yang kala itu mengajar mengaji bersama Abah kyai. Mendengar semua ucapan ustadzah, ustadz langsung meminta izin kepada Abah untuk mencari Aisyah secepatnya. Untuk hal itu, Abah pun mengizinkan. Ustadz rizwan langsung bergegas keluar mushola. "Ustadz..." Panggil Fariz.
"Iya ada apa?"
"Maaf sebelumnya, tadi saya dengar ada sedikit masalah. Ada apa ya ustadz?"
"Aisyah, sampai sekarang belum pulang. Maka dari itu, ustadz akan segera mencari Aisyah"
Mendengar jawaban ustadz rizwan, Fariz langsung bergelut dengan kekhawatirannya. "Saya ikut ya ustadz" Katanya tanpa berpikir panjang.
"Assalamualaikum ustadz.." Ujar mereka bertiga yang baru saja datang.
"Ustadz mau cari Aisyah?" Tanya Lina.
Ustadz rizwan mengangguk.
"Saya ikut ustadz" Timpal Lina.
"Maaf, ustadz mau cari dimana?" Tanya Dinda.
"Yang pasti tujuan pertama kita adalah sekolah" Jawab ustadz.
"Saya juga ikut ustadz kalau begitu" Ucap Dinda.
"Kamu? Kamu ga ikut?" Tanya ustadz pada Syifa. Syifa terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan.
"Saya ga ikut ustadz, saya di sini aja. Soalnya saya ga berani malam malam di sekolah" Jawab Syifa jujur. Ya karena memang Syifa adalah seorang yang penakut.
Ustadz rizwan mengangguk. "Baik kalau begitu. Fariz, Dinda dan kamu ikut saya untuk mencari Aisyah. Kita akan mencari di sekolah, kalau di sekolah tidak ada kita akan cari di tempat lain"
Ketiganya mengangguk. "Ustadz, bawa senter ya" Usul Lina.
"Iya, sebentar ustadz ambilkan. Kalian tunggu ustadz di gerbang pesantren"
"Iya ustadz"
"Ustadz ambil senter dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab ke empatnya.
"Lin, Din, kak Fariz jangan lupa buat bawa Aisyah pulang ya..."
"Iya Lo tenang aja" Jawab Lina. "Ya udah, kalau gitu kita nunggu ustadz di gerbang pesantren ya"
"Fa, kita duluan ya. Assalamualaikum" Ujar Dinda.
"Waalaikum salam" Jawab Syifa.
Ketiganya langsung bergegas menuju gerbang pesantren, dan menunggu ustadz di sana. Beberapa menit menunggu, akhirnya ustadz datang dengan membawa senter yang diberikan pada Fariz. Ke empatnya langsung berjalan cepat menuju sekolah.
"Yah, gerbangnya di kunci" Gumam Lina. "Gimana ustadz? Kunci sekolahan termasuk gerbang di bawa sama pak Afif. Sedangkan rumah pak Afif itu lumayan jauh dari sini" Ujar Lina.
"Kalau gitu kita panjat gerbang nya aja"
Semuanya hanya mengiyakan. Tidak mungkin juga mereka harus datang kerumah pak Afif terlebih dahulu, itu akan membuang waktu. Satu persatu mereka memanjat gerbang sekolahan. Hanya Dinda yang kesulitan melakukannya, karena ia memang tidak pernah melakukannya. Sedangkan bagi Lina, tidak masalah baginya untuk memanjat gerbang.
"Sebenarnya kita ga terlalu butuh senter ini ustadz" Ujar Fariz saat mereka sudah berada di dalam sekolah.
"Udah kak, buat jaga jaga aja. Kalau tiba tiba mati lampu gimana?" Kata Lina.
"Ya sudah, kita langsung mulai mencari saja. Kita bagi menjadi dua, kalau terus bergerombol akan sulit untuk menemukan Aisyah. Karena memang sekolah ini luas. Fariz, kamu sama Dinda mencari ke sebelah Barat. Saya sama kamu"
"Saya Lina ustadz"
"Iya, saya sama Lina biar mencari ke sebelah sana" Ujar ustadz dengan menunjuk arah timur.
"Baik ustadz" Jawab Dinda.
"Ya sudah, ayo berpencar"
Mereka berempat langsung berpencar menjadi dua bagian untuk mencari Aisyah. "AISYAH, AISYAH LO DIMANA?" Teriak Fariz.
"AISYAH, AISYAH..." Teriak Dinda. Fariz menyorotkan senter ke dalam beberapa kelas yang gelap. Namun tidak ada siapapun di dalamnya. Hingga toilet dan ruang guru namun hasilnya tetap nihil.
"Kak, kayaknya Aisyah ga ada di sini" Ujar Dinda.
"Kita cari lagi." Jawab Fariz dengan masih setia menyorot cahaya senter ke seluruh arah.
Pandangan Dinda terhenti pada sesuatu benda yang terjatuh ke lantai. Dengan setengah berlari Dinda mendekati benda tersebut, lalu mengambilnya. "Kak..." Panggil Dinda.
Fariz yang merasa terpanggil langsung melangkah ke arah Dinda. "Ada apa?"
Dinda menunjuk benda yang kini ada di tangannya. "Ini, ini tasnya Aisyah!!" Ujarnya dengan antara senang, khawatir dan lega. "Berarti aisyah, Aisyah ada di sini"
Fariz mengangguk. "Lo bener, gue yakin Aisyah ada di sekitar sini" Gumam Fariz. "AISYAH...LO DIMANA?" Teriak Fariz.
"AISYAH, AISYAH KAMU DIMANA? AISYAH..." Teriak Dinda.
"Kita cari disana"
"Tapi kak, disana itu gudang. Ga mungkin kan Aisyah ada di gudang malam malam."
"Siapa tahu kita dapat petunjuk di sana. Ayok"
Dinda mengangguk.
Keduanya langsung kembali berjalan dengan terus berteriak menyebut nama Aisyah. Sedangkan di dalam gudang Aisyah tak hentinya terus mengucapkan ayat kursi, Al Falaq juga An-Nas sembari sesekali membaca sholawat nabi. Karena itulah satu satunya pelindungnya saat ini. Pelindung dari segala kejahatan yang ada. Hanya nama-Nya lah yang Aisyah ingat dan sebut. Perutnya yang sedari tadi mengguncang karena lapar, tubuhnya yang sedari tadi gatal di gigit nyamuk sama sekali tak ia hiraukan. Dirinya terus bergelut oleh ketakutan, memikirkan nasibnya malam ini. Matanya terus terpejam, tidak berani menatap betapa gelapnya gudang malam itu.
"AISYAH...AISYAH..." Suara yang tak asing bagi Aisyah itu terdengar meski tak begitu jelas, membuat Aisyah membuka matanya secara perlahan. "AISYAH, LO DIMANA?" Dan, suara itu kembali muncul. Kali ini lebih jelas.
Seulas senyum itu muncul, secercah harapan datang. Dirinya yang sedari tadi merasa sesak, kini bisa sedikit bernafas lega. Aisyah beberapa kali menghentakkan kakinya di lantai. "TOLONG!! TOLONG!!..." Teriaknya. "TOLONG...SIAPAPUN DISANA TOLONG!!"
"Kak... itu suara..."
"Dari arah gudang, cepat kesana!" Ujar Fariz yang langsung berlari menuju pintu gudang. Di ikuti dinda di belakangnya. "TOLONG!!..." Suara itu kembali muncul.
"AISYAH LO DISANA...AISYAH..." Teriak Fariz dengan mendekatkan telinganya pada pintu.
"TOLONG,, KAK TOLONG!!"
"Kak,, Aisyah di dalam" Gumam Dinda.
Fariz membuka gagang pintunya, namun tidak bisa dibuka. "Pintunya di kunci"
"Pegang ini..." Ujar Fariz dengan menyodorkan senternya. Dinda mengambil alih senter tersebut. Sedangkan Fariz langsung memundurkan tubuhnya, mendobrak pintu satu dua kali, namun belum bisa terbuka. Untuk yang ketiga kalinya, kali ini cukup keras dobrakan dari Fariz membuat pintu itu langsung terbuka. Menampakkan suasana gudang yang sunyi dan gelap gulita.
Fariz langsung mengambil alih senternya dari tangan Dinda. Menyorotkan senter pada seluruh ruangan gudang. Tepat pada Aisyah senter itu terhenti. Gadis itu, tengah duduk di kursi dengan tubuhnya yang di ikat. Juga dengan matanya yang sembab oleh air mata dan bibirnya yang terlihat pucat.
"AISYAH..." Teriak Dinda histeris yang melihat kondisi sahabatnya tersebut. Dinda langsung berlari menuju Aisyah juga Fariz yang langsung membukakan ikatan tali di tangan, tubuh dan kaki Aisyah. "Aisyah, kamu ga papa kan?" Tanya dinda khawatir.
Sedangkan yang di tanya, malah menangis sesenggukan dengan memeluk Dinda. "Dinda..." Panggil Aisyah dengan tangisnya yang pecah.
"Ya Allah Syah, badan kamu dingin banget" Gumam Dinda.
"Dinda,,, aku takut..." Gumam Aisyah pelan yang masih di sertai air matanya.
"Iya,, kamu tenang aja. Kamu sekarang udah aman" Ujar Dinda dengan mengusap halus punggung sahabatnya.
Sedangkan Fariz berdiri melihat Aisyah yang menangis sesenggukan di pelukan dinda. Tangannya terkepal erat, ia mengeratkan gigi gerahamnya. Fariz juga terlihat marah, namun hanya saja keadaan yang gelap dan situasinya yang tidak membuat mereka tersadar bahwa saat ini Fariz tersulut emosi. Lihat saja, akan ia beri pelajaran bagi siapapun yang sudah melakukan ini pada Aisyah.
...******...
__ADS_1