
"KAK FARIZ AWAS DI BELAKANG!!" Teriaknya sekencang mungkin agar bisa di dengar oleh fariz. Tanpa berpikir panjang, Aisyah langsung berlari menghampiri. Tanpa takut, apa yang akan terjadi nanti.
Fariz yang mendengarnya langsung menendang kedua preman di hadapannya secara bergantian. Setelah mereka terjatuh, Fariz membalikkan badannya menghadap belakang. Ingin melihat apa yang ada. Di saat itulah, tusukan ia terima. Namun Fariz menahan pisaunya agar tidak menusuk terlalu dalam. Dengan sisa sisa tenaganya yang ada, dia kembali menendang tepat di perut preman itu, tidak tanggung tanggung. Tendangan itu keras hingga membuat lelaki terjungkal.
Sementara Aisyah yang melihatnya, langsung mengalir rasa nyeri di badannya melihat Fariz. Tidak sampai di sana ternyata, salah satu dari preman yang posisinya di belakangi oleh fariz itu langsung terbangun dan mengambil batang kayu pohon yang ada di sana.
Sementara di sisi lain, Syifa yang keluar dari warung langsung kebingungan karena tidak menemukan Aisyah di tempat. "Aisyah!! Kemana sih Lo? Demen banget Ngilang...!"
Syifa berjalan mondar mandir untuk mencari. Hingga dia pun melihat ke arah belakang sekolah. "Lhoh, ada apa ini?? " Syifa memicingkan matanya. "Itu kan Aisyah, lhah mau ngapain di sana Ya Allah..." Tanya nya saat melihat Aisyah yang berlari dan berhenti membelakangi punggung Fariz, hingga pukulan si preman itu pun tak terelakkan. Syifa yang melihat nya langsung terkejut bukan main. "AISYAAAH...Ya Allah temen gue.....!!" Pekik Syifa gelagapan lalu berlari secepat mungkin untuk menghampiri.
Awalnya, Aisyah hanya berniat menangkis kayunya. Namun kalah cepat dengan preman itu hingga mengenai wajahnya. Tepatnya di bagian kening. Tidak berdarah memang, tapi lecet. Perih. Kepalanya juga mulai pusing. Keras sekali tadi.
"WOY...." Teriakan itu membuat mereka menoleh. Ilham, Iqbal, Reyhan beserta para guru sekaligus penjaga sekolah berdatangan ramai ramai. Di tambah lagi, para murid yang belum pulang juga ikut ikutan karena penasaran.
"CABUT!!" Perintah bos diantara mereka. Dengan menahan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya, Fariz mencabut pisau yang masih ada di perutnya. Lalu melemparkan pisau itu ke arah orang yang tadi menusuknya. Tepat menancap mengenai kaki orang tersebut.
"AAAARRRRGGHHH..." Teriaknya kesakitan. Tak lama reyhan langsung menangkapnya dan menahan. Tiga di antara preman itu lolos, namun empat lainnya berhasil kabur.
"Ya Allah Aisyaaah...." Ujar Syifa yang baru sampai. Melihat cemas sahabatnya. Begitupun Fariz, dia mengalihkan pandangannya ke Aisyah. Menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Maafin gue.... Batinnya.
"Riz, ayo gue anter ke rumah sakit" Ujar Iqbal tiba tiba. Tak lama, Ilham juga datang bersama pak kepala sekolah.
"Langsung aja, naik ke mobil bapak. Saya anterin kerumah sakit" Ujar pak kepala sekolah berbaik hati. Mereka berdua langsung membawa Fariz ke halaman sekolah, di mana mobil terparkir di situ.
"Ya Ampuuunn,, gue ngeri lihatnya"
"Astaga, kak Fariz!! Aduh, ga tega lihatnya. Kok bisa sih?"
"Haduuh,, gue aja deh yang rawat"
"Kak, Boleh ikut ga?"
Iqbal berdecih lalu menoleh. "NGGAK! Diem kalian!" Ketus Iqbal.
"Pak, tolong Langsung bawa ke kantor polisi" Ujar Reyhan menyerah alihkan preman yang di tahannya kepada penjaga sekolah.
"Iya"
"Saya pergi dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Dengan sedikit berlari, Reyhan menyusul ketiga temannya itu.
•••••
"Kania" Sapa sheren dengan memasuki ruang tamu rumah temannya. Memang hari ini mereka sudah janjian untuk belajar kelompok setelah sekolah.
"Hai" Balas Kania. "Sheren Lo tahu ga sih? Lihat ini di grub sekolah rame banget."
"Tau apa? Gue belum buka hape soalnya"
"Katanya kak Fariz..."
"Kenapa?"
"Udah mendingan Lo baca aja. Ga tega gue"
Sheren langsung membuka tasnya, lalu membuka ponsel dan membaca semua chat heboh di grub wa nya. "Ya Ampuun, ih iya, kok bisa ya? Aduh, gimana ya sekarang kak Fariz?"
"Eh lihat deh, ada yang bilang juga Aisyah luka. Ya Allah... Sebenarnya ada apa sih, sampe ada kejadian kayak gitu?"
"Kalau Aisyah luka mah ga papa. Bagus malahan. Biar tahu rasa dia" Balas sheren.
"Kok Lo ngomong gitu sih?"
"Ya,,,,,, kenapa emang?"
"Lo seberapa benci sih sama Aisyah? Apa cuma gara gara dia lebih unggul dari Lo, terus Lo jadi benci sama dia?"
"Bukan cuma itu,, lo lihat kan Minggu lalu. Dia ngunci gue di toilet. Lo masih inget kan? Kalau dia emang bener bener baik, dia ga bakalan ngelakuin itu. Buat apa coba??"
"Niat Aisyah juga baik ren"
"Baik dari mananya? Untung Lo bukain, kalau sampe pagi gue kekunci di sana gimana? Heran aja sih, kenapa Lo selalu belain dia?"
"Gue jelasin semuanya sama Lo. Biar Lo ga salah paham lagi sama Aisyah." Ujar Kania. "Waktu itu, gue lagi pergi ke cafe. Dan ga sengaja lihat kevin, mantan pacar lo"
"Kevin?"
"Iya. Lo tahu kan, dulu dia bucin banget sama Lo. Dan tahunya Lo malah putusin dia karena udah punya pacar lain. Makannya dia mau kasih pelajaran ke Lo, mungkin karena sakit hati" Jelas Kania. "Dan waktu itu dia sama dua orang cowok, yang dia suruh buat bawa Lo ke suatu tempat yang udah di rencanakan. Dan di situ rencananya Lo akan di kasih pelajaran. Dia bilang sih, dia akan buat Lo nyesel ninggalin dia. Malam itu, meja gue sama mejanya Kevin itu sebelahan makannya gue bisa denger semuanya."
"Dan waktu itu cuma Aisyah yang tahu kekhawatiran gue. Dia yang bantu gue buat nahan Lo biar ga keluar dari sekolah dulu, karena di depan gerbang udah ada orang suruhan Kevin yang cari Lo. Makannya Aisyah terpaksa ngunci Lo di toilet. Dan dia juga suruh gue buat selalu jagain Lo. Karena bisa aja sewaktu-waktu mereka datang lagi cariin Lo"
"Dan waktu ke sekolah, kita ketemu dua preman. Apa Lo masih ingat? Dia bawa Lo kan, tapi ga berhasil karena denger suara mobil polisi dari ponsel gue. Mereka berdua itu orang suruhannya Kevin" Lanjut Kania menjelaskan panjang lebar. "Apa Lo juga masih mau benci sama Aisyah? Dia ga pernah jahat sama Lo sheren. Dia juga sama kayak Lo, mau bikin bangga orang tuanya melalui prestasi. Jadi ga ada yang salah kalau dia terus terusan dapat nilai bagus. Ga ada yang salah kalau dia jadi juara kelas. Ga ada yang salah kalau dia di percaya guru guru. Karena emang Aisyah pantas!!"
"Coba bilang sama gue. Apa di saat Lo jahat sama dia, Aisyah pernah balas? Nggak kan?! Apa saat Lo marah dan hina dia, apa Aisyah juga bales? Nggak pernah kan? Terus kenapa Lo bisa sebenci itu sama dia? Aisyah itu terlalu baik buat menerima kebencian dari Lo. Harusnya Lo sadar itu. Iri, dengki, benci semuanya itu ga berguna. Kalau Lo emang pengen dapet peringkat satu kayak dulu, harusnya lebih banyak belajar sheren. Bukan malah membenci orang. Apa dengan Lo benci sama Aisyah, Lo jadi naik peringkat satu? Apa benci bisa buat nilai Lo lebih unggul dari dia? Nggak kan?"
Sheren terdiam membisu. Memang benar apa yang dikatakan Kania. Dia juga ingat, waktu Aisyah meminjamkannya topi saat upacara. Alhasil, Aisyah lah yang harus menerima hukuman bukan dirinya.
Sheren menghela panjang. "Udahlah, gue ga mau ribut sama Lo. Mendingan kita lanjut belajar aja" Ujar Kania.
"Kania, gue mau ke sekolah sekarang. Pengen lihat keadaannya sekarang gimana di sana. Lo mau ikut?" Tanya sheren.
•••••
"Sudah ibu obatin. In Syaa Allah sebentar lagi juga lukanya kering. Yang penting istirahat yang cukup" Ujar Bu Wahyu. Dia adalah guru IPA kelas sebelas. Sekaligus orang yang biasanya menangani masalah kesehatan di sekolah.
Aisyah mengangguk. "Iya Bu. Terima kasih banyak"
"Sama sama. Ibu pergi dulu ya. Permisi"
"Iya"
Bu Wahyu berdiri lalu berjalan keluar dari UKS. "Gimana Syah?" Tanya Syah.
"Udah mendingan"
"Alhamdulillah. Langsung pulang, atau Lo istiharat sebentar di sini?"
__ADS_1
"Langsung pulang aja ya fa. Istirahat nya biar di pesantren aja"
"Oke" jawab Syifa dengan membantu Aisyah turun dari ranjang UKS. "Sini tas Lo biar gue yang bawa"
"Eh ga usah. Nanti malah kerepotan lhoh kamu"
"Ga papa. Sini,,, lepas tasnya"
"Nggak usah fa"
"Beneran?"
"He'em. Ga usah"
"Ya udah. Eh Syah, gue jadi kepikiran kak Fariz. Gimana ya keadaannya sekarang?" Tanya Syifa. "Ya walaupun gue kesel sama dia, tapi tetep aja gue khawatir. Nanti kalau kenapa napa gimana?"
"Tadi darahnya keluar banyak lhoh Syah. Ih ngeri gue lihatnya. Kalau sampe dehidrasi darah gimana kak Fariz?"
Aisyah mengerutkan keningnya. "Dehidrasi darah?"
"Iya. Kayak kekurangan darah gitu lhoh Syah maksutnya" Ujar Syifa menjawab.
Aisyah menghela pelan. Sampai di halaman sekolah, mereka berpapasan dengan sheren dan Kania. "Kak Fariz mana?" Tanya sheren.
"Ya di rumah sakit lah" Jawab Syifa.
"Terus kenapa kalian ga kesana?"
"Ya emang kenapa??"
"Ya udah mendingan kalian ke rumah sakit aja, bareng kita. Masa ga di jengukin sih" Sheren menggandeng tangan Aisyah. "Ayok"
"Nggak!" Tolak Aisyah. "Emm,,, aku ga bisa sheren. Aku ga bisa ke sana"
"Kenapa?"
Aisyah melepaskan pegangan tangan sheren dengan halus. "Kepalaku pusing" Jawabnya.
"Ah iya. Aisyah mau istirahat tadi. Kalian kalau mau jenguk kak Fariz pergi aja. Kita kapan kapan deh" Sahut Syifa. "Gue sama Aisyah pergi dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
•••••
Berita akan kejadian itu langsung tersebar luas. Baik di sekolah, maupun di pesantren. Hal yang membuat Abah langsung cemas dan pergi ke rumah sakit bersama ustadz Rizwan.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan pak. Beruntung, tusukan yang di terimanya tidak terlalu dalam. Kami tadi juga sudah melakukan pengobatan medis agar tidak terjadi infeksi." Ujar dokter. "Tapi kami sarankan untuk rawat inap beberapa hari di sini, agar kami bisa memantau keadaan dari santri bapak. Walaupun tusukannya tidak terlalu dalam, namun tusukan itu terjadi di bagian perut. Di mana di bagian tersebut, ada banyak organ penting di dalamnya. Jadi kami harus bisa memastikan kondisi semuanya baik baik saja. Bagaimana pak??"
Abah mengangguk. "Iya dok. Lakukan yang terbaik untuk anak saya" Jawab abah. Santrinya memang sudah beliau anggap sebagai anak anaknya sendiri.
"Baik pak. Namun sebelum itu, mohon untuk segera membayar administrasi nya ya."
"Iya dok"
"Saya permisi"
"Iya silahkan"
"Iya"
"Kami memohon maaf atas kejadian seperti ini yang terjadi di sekolah kami. Jujur, saya malu sebagai kepala sekolah tidak bisa melindungi para murid saya. Tidak bisa manjaga ketertiban, keamanan dan kenyamanan di sekolah." Ucapnya dengan tertunduk.
"Bapak tidak perlu meminta maaf. Kita memang sebagai manusia tidak tahu apa yang kedepannya terjadi. Kejadian ini, sebelumnya tidak pernah kan terpikir di bapak kalau hal ini akan terjadi?"
"Iya pak kyai. Kalau begitu, nanti biaya rumah sakit Fariz biar sekolah yang menanggung"
"Ndak usah. Biar saya saja yang menanggung semuanya. Lebih baik uang itu di gunakan sebaik baiknya untuk mencukupi kebutuhan di sekolah" Jawab Abah lembut.
"Ya sudah kalau begitu. Pak kyai, saya pamit pulang. Besok In Syaa Allah saya akan kembali kesini menjenguk Fariz"
"Njih, silahkan..."
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh"
Bapak kepala sekolah itu langsung menyalami tangan Abah. Lalu berjalan pergi. Sedangkan Abah berjalan memasuki ruangan untuk menghampiri Fariz. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"
Fariz menoleh. "Waalaikum salam, Abah" Jawabnya dengan berusaha duduk menyalami tangan Abah.
"Sudah sudah, jangan banyak bergerak" Ujar Abah. "Abah ke sini cuma mau memastikan keadaan kamu baik baik saja"
Abah menghela pelan. "Nak, kalau ada masalah sebesar apapun jangan di selesaikan dengan amarah. Kita tidak bisa mengambil keputusan yang benar, saat diri kita sudah di kuasai oleh emosi. Abah tahu kamu punya masalah, tapi alangkah baiknya di selesaikan dengan baik baik."
"Seperti dalam hadits riwayat at thabrani. La taghdob walakal Jannah. Yang artinya, jangan marah maka bagimu syurga."
"Iya bah, Fariz minta maaf"
"Jadikan apa yang terjadi sebagai pembelajaran sekaligus pengalaman. Jangan di ulangi lagi ya. Ndak ada manfaatnya, malah awakmu sendiri yang rugi. Kalau marah, lebih baik diam." Ucap Abah. "Ya sudah Abah pulang ke pesantren lagi ya. Salah satu diantara kalian bertiga, jaga Fariz di sini. Dua lainnya ikut Abah dan ustazd Rizwan pulang ke pesantren. Besok hari Ahad, kalau mau ke sini silahkan. Abah tidak melarang kalian untuk menjenguk orang sakit, apalagi Fariz ini temen sekamar. Pasti Deket banget to??"
"Cepet sembuh gih. Walaupun sakit ibadahe jangan sampe di tinggalkan. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh"
"Yok Riz, cepet sembuh. Ustadz juga mau pamit. Assalamualaikum" Ujar ustadz rizwan.
"Waalaikum salam ustadz."
"Biar gue aja yang di sini. Kalian pulang aja" Ucap iqbal.
"Ya udah kita pulang dulu. Assalamualaikum" Pamit Ilham.
"Waalaikum salam"
"Cepet sembuh" Ujar Reyhan lalu berjalan pergi bersama Ilham.
Iqbal menatap Fariz yang terdiam melamun. Hal yang membuatnya geleng geleng kepala. "Heran gue Riz, Lo kenapa ga pingsan ya??"
Fariz menoleh. "Lo ngarep gue pingsan?"
__ADS_1
"Ya nggak gitu. Lo habis ketusuk lho, masak biasa aja sih. Makan apaan dah? Ketusuk Riz, bukan kepukul!!"
Fariz menghela berat. "Sakit ini, ga seberapa sama sakit hatinya Aisyah"
Iqbal terdiam. "Emmm,, gue mulai merasakan ada tanda tanda penyesalan dari Lo"
"Udah berapa kali kan gue bilang, kalau penyesalan di akhir bukan di awal. Lo sih ngeyel. Goblok!"
Fariz menatap tajam Iqbal. "Bilang apa Lo?"
"Pinter!! Saking pinternya Lo mau di bodohin gitu aja sama Ghea!" Jawab Iqbal.
"Lo bikin mood gue turun drastis bal! Pergi sana" Usir Fariz.
"Ya udah gue pergi. Mendingan Lo istirahat aja. Jangan banyak pikiran. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Iqbal langsung berjalan keluar ruangan. Dan di saat itulah dirinya langsung bertemu Ghea. Gadis itu terlihat sangat khawatir. "Bal, Fariz di dalem?" Tanya nya.
Tanpa berpikir panjang, Iqbal langsung membawa paksa Ghea untuk pergi menjauh. "Lo ngapain di sini?"
"Ya mau jengukin Fariz lah. Lo kenapa malah bawa gue ke sini?!"
"Lo mendingan pergi aja!"
"Lo nggak berhak ngusir gue! Gue mau ketemu sama Fariz!"
"Dengerin gue, Fariz udah tahu semuanya. Tahu kalau Lo pelaku yang sebenarnya. Jadi jangan coba coba ketemu sama Fariz, atau Lo malah akan buat dia emosi dan buat suasana jadi rusuh. Fariz sekarang lagi istirahat, jadi dia ga boleh di ganggu!!"
"Gue cuma mau ketemu!!" Balas Ghea bersikeras.
"Lo yang udah buat Fariz kayak gitu! Jadi Lo jangan memperburuk keadaannya dia! Lihat sekarang, gara gara ulah Lo Fariz yang jadi korbannya. Dan Aisyah juga sampe terluka. Lo bener bener cewek ga tau malu ya Ghea. Sekarang gue bilang pergi"
"Gue ga mau pergi sebelum ketemu sama Fariz!!"
"PERGI!!" Bentak Iqbal. "Lo pergi sendiri, atau gue yang bakal paksa Lo buat pergi"
Ghea terdiam menatap sinis Iqbal. Ia membalikkan badan, memilih untuk pergi walau masih menyimpan rasa kekhawatiran dan ingin segera bertemu dengan Fariz.
•••••
20.57
Iqbal memijat mijat kepalanya. Melihat pusing ke arah para perempuan yang masih berkerumun di dalam kamar ruang inap Fariz. Dari tadi, mereka belum juga pulang. Apalagi, setiap jamnya selalu ada yang datang.
"Heh heh heh,,,, udah kalian mendingan pulang aja. Udah malam. Fariz juga mau istirahat" Ujar Iqbal.
"Yah, boleh nginep di sini ga kak?" Tanya salah satunya.
"Ngadi Ngadi lo! ga boleh"
"Yah kak, padahal kita baru datang Lo"
"Udah satu jam kalian di sini hey! Udah sana pulang. Sumpek tau ga kalau kalian di sini semua"
"Ya udah deh, kita pulang. Tapi besok kita kesini lagi boleh ya? Aduh, masih pengen temenin kak Fariz nih"
"Terserah. Udah sana pulang!"
"Iya iya. Kita permisi. Cepet sembuh ya kak"
Fariz mengangguk kecil. "Hm. Makasih udah Dateng"
"Oh ya pasti dong kak. Masa kakak sakit ga di jengukin."
"Udah udah sana pulang!" Usir Iqbal.
"Iya iya. Da-Dah kak" Ujar perempuan itu dengan melambaikan tangan. Di susul juga oleh teman temannya yang mendoakan agar Fariz cepat sembuh.
Iqbal langsung menghela lega setelah kamar kembali kosong. Hanya tersisa mereka berdua. "Gila Riz, dari sore sampe malam gini rame terus lapak kamar Lo. Haduh, tau gini biar Ilham atau Reyhan aja yang jaga"
"Ga ikhlas Lo jagain gue?"
"Bukan ga ikhlas. Tapi mereka itu yang bikin gue pusing. Di sini bisanya cuma gosip aja. Lihat nih, coba mau di apain buah segini banyaknya?" Tanya Iqbal melihat parcel buah yang sampe di taruh di lantai karena tidak cukup di taruh di atas meja. Tidak hanya buah, mereka juga membawakan kado yang entah apa isinya.
"Ya udah nanti Lo makan aja di pesantren. Udah diem, ga usah ngomel lagi" Balas Fariz ikut ikutan pusing. Fariz memejamkan matanya. Pikirannya kembali tertuju kepada Aisyah.
"Bal"
"Hm..."
"Gimana keadaannya Aisyah sekarang?"
"Ya mana gue tahu. Gue kan di sini"
Fariz membuka matanya. "Kenapa ya dia masih peduli sama gue? Padahal, gue udah ngomong yang ga pantas sama dia"
"Ya itu dia mana bedanya perempuan yang bener bener baik sama perempuan yang pura pura baik"
Fariz melihat ke arah Iqbal yang duduk santai di kursi. "Apa Aisyah masih mau maafin gue??"
Iqbal mengedikkan bahunya. "Mana gue tahu. Aisyah itu orangnya baaeeek banget. Mungkin aja di maafin. Tapi kayaknya..."
"Kayaknya apa?"
"Kayaknya dia bakal jauhin Lo deh" Jawab Iqbal ngasal.
Fariz menghela panjang. "Asal dia tahu, sekecewa apapun gue sama dia. Gue ga pernah bisa benci sama dia. Sekuat apapun usaha gue buat bisa menghilangkan nama Aisyah dari hati dan pikiran gue, gue juga ga pernah bisa. Dan baru pertama kali ini, gue merasakan hal kayak gitu."
"Hilih bucin" Sahut Iqbal tanpa beban.
Fariz menghela pelan, berusaha untuk bersabar. Padahal dia sedang berbicara serius, dari hatinya yang paling dalam. Namun sepertinya, Iqbal memang tidak cocok untuk di ajak curhat. Bukannya membuat hatinya tenang, malah membuat moodnya jadi buruk.
•••••
رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi"
__ADS_1
(Q.S Al A'raf : 23)
...*******...