Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Semur jengkol


__ADS_3

Seperti biasa saat pulang sekolah mereka saling menunggu satu sama lain untuk pulang bersama. Dan saat inilah yang dilakukan oleh mereka bertiga. Menunggu Dinda didepan gerbang sekolah.


"Assalamualaikum" Ujar Dinda.


"Waalaikum salam" Jawab mereka serempak.


"Em, kalian pulang duluan aja ya. Aku hari ini ga langsung pulang kepesantren"


"Kenapa Din?" Tanya Aisyah .


"Lo mau kemana? Gue boleh ikut ga?" Tanya Syifa.


"Emm..Aku mau.."


"Gue ikut ya" Potong Syifa. "Ya, boleh ya, boleh lah, boleh dong. Dinda pliss" Ujar Syifa dengan memohon.


Dinda menggeleng pelan "Maaf ga bisa" Jawabnya pelan.


Syifa terdiam sejenak. Lalu ia memperhatikan Dinda dari bawah sampai atas. "Oke ga papa" Ujarnya singkat.


Dinda tersenyum "Ya udah kalau gitu aku duluan ya. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab mereka bersamaan.


Dinda pun mulai melangkah meninggalkan mereka.


"Aisyah, Lina kita ikutin Dinda yuk!" Ajak Syifa.


Aisyah menggeleng "Tadi kan ga boleh sama Dinda"


"Udah ga papa gue penasaran nih Dinda mau kemana, ga kayak biasanya kan dia ga langsung pulang pesantren. Lo gimana Lin?"


"Emm,, sebenernya gue ogah sih buat ngikutin Dinda tapi gue juga penasaran dia mau kemana" Jawab Lina.


"Ya udah kalau gitu ayo kita ikutin Dinda. Yuk" Ujar Syifa dengan menarik pergelangan tangan Lina.


"Aisyah, kita duluan ya" Ujar Lina. Aisyah mengangguk. "Assalamualaikum" Ujar Lina dan Syifa bersamaan.


"Waalaikum salam" Jawab Aisyah.


Mereka pun segera pergi mengikuti Dinda, dari arah belakang. Dengan Syifa yang kembali menoleh ke arah Aisyah.


"Da-da aisyah" Kata Syifa dengan melambaikan tangannya. Membuat Aisyah tersenyum dan melakukan hal yang sama. Hingga mereka hilang dari pandangan Aisyah.


Mereka terus melangkah pelan mengikuti Dinda. Dengan sesekali mereka sembunyi dibalik batang pohon dan semak semak, karena Dinda yang sering menoleh kebelakang. Merasa ada yang mengikutinya. Hingga sampailah Dinda ke toko bunga. Ia membeli bunga mawar merah dan mawar pink.


"Dinda beli buat siapa?" Tanya Syifa yang bersembunyi dibalik pohon yang tak jauh dari toko bunga.


"Ya mana gue tahu" Jawab Lina.


Tak lama, Dinda kembali berjalan menuju sebuah desa. Sesekali ia menyapa dan tersenyum kepada orang orang yang tengah beraktivitas atau hanya bersantai di depan rumahnya.


Syifa berdecak sebal. "Ih sebenernya si Dinda mau kemana sih, dari tadi jalan terus ga sampe sampe. Capek nih gue"


"Ya udah ikutin aja, kan Lo sendiri yang mau ngikutin Dinda." Jawab Lina. "Fa, sembunyi sembunyi" Kata Lina yang langsung menarik Syifa agar bersembunyi dibalik pohon besar dipinggir jalan. Ia mengintip Dinda yang kini sedang menoleh kebelakang. Setelah Dinda kembali berjalan, mereka pun langsung keluar dari persembunyiannya dan mulai kembali mengikuti Dinda.


"Kok gue malah berasa kayak orang yang mau ngejahatin Dinda gitu ya" Gumam Syifa yang terus melangkah pelan dengan mata yang masih mengamati dinda.


Dan tak lama dari itu, Dinda memasuki sebuah gang sempit. Dimana di gang itu hanya ditemui pohon pohon rindang yang tumbuh ditepi jalan. Syifa mengusap ngusap lengannya, karena tiba tiba saja ia merasa merinding.


"Duh, Dinda ni mau kemana sih" Lirihnya dengan nada berbisik.


Setelah 50 meter mereka berjalan di gang untuk mengikuti Dinda, mata Syifa membulat sempurna. Pasalnya dinda sedang berjalan memasuki sebuah pemakaman.


"Loh, kok Dinda kesini. Mau ngapain. Lin kita pulang aja yuk, gue takut nih" Rengeknya pada Lina.


"Gimana sih, kita kan udah jauh jauh ngikutin Dinda kesini, masak mau pulang. Lagi pula kita ga tau jalan arah pulang. Gue ga tau ini ada di desa apa. Lo mau malah jadi tersesat" Jawab Lina.


Syifa menggeleng. "Iya juga ya. Ya udah deh"


Mereka langsung melanjutkan langkahnya hingga memasuki pemakaman tersebut. Dengan segera mereka mencari tempat untuk mengintip.


Dinda berhenti disalah satu makam, lalu ia berjongkok dan mengusap pelan batu nisan yang ada dihadapannya.


"Assalamualaikum" Ujar Dinda, dengan air mata yang tak bisa ia bendung. Dengan segera Dinda memanjatkan do'a dan mengeluarkan buku kecil yang bertuliskan surah Yasin dari tasnya, lalu membacanya hingga selesai. Setelah semuanya selesai, Dinda memasukkan buku itu kedalam tas, Dan ia kembali mengusap lembut batu nisan tersebut, lalu menatap sendu nama yang tertulis di atasnya.


"Ibuuu,,," Lirihnya dengan suara yang gemetar. Dan, air matanya kembali mengalir deras.


"Ibu gimana kabarnya disana? Ibu baik baik aja kan?" Tanya Dinda. Walaupun ia tahu bahwa tidak ada yang akan menjawab pertanyaan nya saat ini.


"Ibuuuu..." Dinda mengusap air matanya. "Dinda kangen sama ibu. Apa ibu juga kangen sama Dinda?"


"Ibu,,, Dinda kapan bisa ketemu ibu sama ayah. Dinda pengen lihat wajah kalian, Dinda pengen Buu" Ucapnya lagi. Lidahnya mendadak terasa Kelu. "Ibu sama ayah kenapa ga Dateng buat nemuin Dinda. Walaupun itu hanya dalam mimpi, kenapa ga pernah sekalipun. Apa Dinda juga harus meninggal dulu biar bisa ketemu kalian"


Lina dan Syifa yang masih setia mengintip Dinda, pun ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya tersebut.


Dinda memeluk batu nisan tersebut dengan menangis tersedu-sedu. "Ibu,,, ibu tahu kan Dinda seneng dan bersyukur bisa diasuh sama umi Abi. Tapi Dinda akan lebih beruntung kalau ibu sama ayah yang ngerawat Dinda, ngebesarin dinda. Dinda pengen dibesarin sama orang tua kandung Dinda, kayak anak anak lain Buu" Dinda semakin mempererat pelukannya.


"Aaa,, Dinda gue jadi sedih nih" Ucap Syifa dengan mengusap satu tetes air matanya yang tak sengaja turun.


"Iya kasian dinda" Jawab Lina juga menatap sendu sahabatnya dari balik pohon tempatnya untuk mengintip.


"Dinda pengen meluk ibu, Dinda pengen bisa dicium sama ibu, Dinda berharap ibu ngelus kepala Dinda kayak yang dilakuin ibu ibu lain. Tapi kapan Bu,, kapan ibu bisa gituuu"


"Jawab ibuu,, kapan? Ibu jangan diem... Dinda pengen"


Matanya saat ini terasa panas, napasnya pun mulai tidak beraturan. Dinda berusaha menenangkan dirinya sejenak, lalu matanya terpejam sembari menikmati semilir angin yang menerpa lembut wajahnya.


Deg


Matanya terbuka saat ia merasakan seperti ada yang mengelus lembut kepalanya. Ia melepas pelukan dari batu nisan, lalu mengedarkan pandangan ke segala arah. Namun sayang Dinda tak menemukan seseorang disana. Lalu ia kembali menatap makam yang ada dihadapannya. Matanya mendadak berbinar dan bibirnya membentuk seulas senyum. Dinda langsung mengusap air matanya.


"Ibu,, apa ibu yang abis ngelus kepala Dinda? Iya kan Bu? Ibu kan yang abis ngelus kepala Dinda?" Tanya Dinda namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Dinda membersihkan dedaunan kering yang ada di atas makam ibunya.


Dinda kembali mengatur nafasnya, karena hidungnya yang mulai tersumbat membuatnya merasa susah untuk bernafas. Dinda membalikkan badannya. Lalu kembali mengelus lembut makam yang ada dihadapannya.


"Ayahh" Lirihnya. Entah kenapa air matanya kembali mengalir. Dengan susah payah ia menenangkan dirinya, namun itu sangatlah susah baginya saat berhadapan dengan mereka. Ayah dan ibunya.


"Ayah juga kenapa ninggalin Dinda. Bahkan sebelum Dinda lahir kedunia, kenapa ayah udah pergi. Kan Dinda pas lahir juga mau di adzanin sama ayah, bisa digendong sama ayah" Ucapnya dengan suara yang gemetar.


"Kata om sama Tante ayah waktu itu sakit, ayah sakit apa? Kalau Dinda waktu itu udah lahir dan udah gede, pasti Dinda mau kok ngerawat ayah sampai sembuh. Dinda mau yah. Dinda rela ga sekolah, Dinda rela harus kerja siang malam demi beli obat buat ayah. Dinda akan ngelakuin itu yah, tapi asalkan ayah bisa kembali lagi kesini, didekat Dinda, disamping Dinda."


Dinda memeluk batu nisan ayahnya.


"Ayah disana lagi ngapain? Ayah disana sehat? Ayah disana bahagia kan? Ibu lagi ngapain yah? Ayah, doain Dinda ya biar Dinda bisa jadi anak Sholehah. Dinda disini juga akan selalu ngedoain ayah ibu biar kalian bisa bahagia disana. Ayah,, janji ya sama Dinda kita akan selalu menjaga walau dalam dunia yang berbeda" Bisik Dinda pada batu nisan yang kini dipeluknya.


"Ayah tolong jaga ibu ya. Tolong selalu berdoa ya yah, agar kita semua bisa kumpul disyurga Allah. Dinda sayang sama ayah" Ucap Dinda lalu mencium batu nisan tersebut. Dan melepaskan pelukannya. Ia mengeluarkan bunga mawar merah yang tadi sempat dibelinya, lalu menyandarkan dibantu nisan ayahnya.


Lalu ia kembali membalikkan badannya, mengeluarkan bunga mawar pink, dan menyandarkan dibatu nisan ibunya. Dinda kembali menghapus air matanya, dan mulai mengatur nafasnya. Ia mencium batu nisan ibunya. Setelah itu Dinda berdiri.


"Ayah ibu, Dinda pulang dulu ya. Jaga diri kalian Baik baik disana. Dinda sayang kalian" Ujarnya lalu tersenyum. "Assalamualaikum" Lanjutnya lagi.


Sebelum ia melangkah pergi, Dinda melambaikan tangannya. Setelah ia merasa cukup mengadukan segala rasa rindu yang membuncah dalam dirinya, Dinda berjalan pelan dan mulai menjauh dari rumah sebenarnya dari kedua orang tuanya.


•••••


"Huuuaaa,,, Aisyaaahh tolongin kita. Aisyah Aisyah" Teriakan dari arah luar kamar membuat Aisyah menghentikan aktivitasnya. Aisyah menutup buku yang baru saja dibacanya. Lalu menoleh ke arah depan, dimana tiga gadis sedang berlari terbirit-birit menuju arahnya.


Syifa dan Lina duduk disampingnya, sedangkan Dinda duduk ditempat tidurnya sendiri. Mereka terlihat lelah, dengan nafas yang tersengal dan keringat yang mengucur diwajah mereka.


"As- salam- mualai-iikum" Ucap mereka dengan nafas yang masih ngos ngosan.


"Waalaikum salam" Jawab Aisyah. "Kalian kenapa kok lari lari gitu"


"Air air.." Lirih Syifa seperti orang yang kehausan karena kekeringan.


Dinda dan Lina mengeluarkan botol minum lalu meminumnya. Sedangkan Syifa mengambil paksa botol minum lina, padahal Lina sedang meminumnya. Membuat Lina tersedak, dan kerudungnya basah karena air minumnya yang tumpah. Dengan cepat syifa langsung meminumnya membuat Lina memukul lengan Syifa.


"Ih fa, gimana sih itu minuman gue" Rengeknya.


"Ah,, Alhamdulillah seger. Nih makasih ya Lin" Ujar Syifa tanpa dosa.


"Makasih makasih, gue masih haus nih"

__ADS_1


"Nih Lin" Ujar Dinda dengan menyodorkan botol minumnya. Membuat Lina tersenyum.


"Makasih ya Din" Kata Lina lalu segera meneguknya hingga hampir habis.


"Kalian kenapa kok lari lari gitu?" Tanya Aisyah lagi.


Dinda menyeka keringat Yang ada di dahinya. "Kita dikejar anjing Syah"


Aisyah melotot. "Dikejar anjing? Kok bisa?" Tanya Aisyah.


"Ini semua gara gara Syifa" Kata Lina.


"Kok gue,, enak aja Lo" Jawab Syifa tak terima.


"Ya iya lah Lo yang salah, coba aja itu anjing gak Lo pelototin kayak gitu. Dia ga bakal ngejar kita" Ketus Lina.


"Kok kalian bisa dikejar anjing sih" Tanya Dinda. Ya, karena mereka lah Dinda juga harus ikut ikutan dikejar.


Dinda menatap jalanan dengan tatapan sendu. Pikirannya masih tertuju pada kedua orang tuanya. Tak lama ia mendengar teriakan seseorang, yang suaranya sangat Dinda kenal. Dinda menoleh kebelakang, terlihat Lina dan Syifa sedang berlari terbirit-birit dan berteriak histeris. Membuat kening Dinda berkerut, tak lama terdengar suara gonggongan anjing.


Gug gug gug


Suara itu terdengar sangat nyaring. Terlihat anjing hitam besar sedang mengejar mereka dari arah belakang. Membuat Dinda juga melotot kaget. Karena juga merasa takut, Dinda ikut ikutan lari. Bergabung bersama mereka.


"SEPY, SEPY TOLONGIN GUE. GUE DIKEJAR ANJING. HUAAA" Teriak Lina.


"MAMA, PAPA TOLONG!! HUAA,, ANJIING KAMU BERDOSA BANGET NGEJAR NGEJAR GUE KAYAK GITU." Teriaknya. "GUE KALAU DIKEJAR KAK REYHAN MAU MAU AJA, TAPI JANGAN LO" tambahnya lagi.


"YA ALLAH, TOLONG..!!" Teriak Dinda.


"Jadi ceritanya itu kita kan lagi jalan, nah kebetulan lewat rumah yang ada anjingnya. Nah pas waktu itu, Syifa malah melototin tu anjing, jadi ya anjing ngegonggong gitu. Bukannya si Syifa nya pergi, eh malah tambah dipelototin tu anjing. Syifa juga bilang gini ke anjingnya Apa Lo liat liat gue? Dia bilang Gitu. Nah pas itu kebetulan gerbangnya kebuka sedikit, jadi si anjingnya itu ngejar kita" Jelas Lina dengan melirik tajam ke arah Syifa. Sedangkan yang dilirik hanya memberikan cengiran tak berdosanya.


"Oo gitu, terus kalian kok lewat ke situ? Mau ngapain?" Tanya Dinda.


"Jadi mereka itu lagi ngi..." Lina membungkam mulut Aisyah. Menyuruhnya agar tidak berkata terlalu jujur.


"Ngi apa?" Tanya Dinda yang penasaran.


"Em,, maksutnya Aisyah itu.. ngi,,, ngiii..em..ngii" Kata Lina yang kebingungan sendiri mencari alasan yang tepat.


Syifa menepuk kedua tangannya dengan keras. "Ngidam. Kita ngidam iyakan Lin" Jawab Syifa dengan menyenggol lengan Lina.


"E-e iya" Lina tersenyum kikuk.


"Ngidam? Ngidam apa?"


"Ngidam mangga muda" Jawab Syifa ngasal membuat Lina melotot.


Dinda menaikkan kedua alisnya. "Ngidam mangga muda? Kok kayak orang hamil ya"


"Emm,,, yang ngidam itu Syifa. Gue gak ngidam. Beneran deh gue ngidam apa apa" Ujar Lina dengan menggelengkan kepalanya.


"Jadi,, jadi itu..oh iya jadi gue itu pengen makan asem asem pedes gitu, jadi gue beli mangga muda deh buat gue jadiin rujak" Kata Syifa.


"Emm" Dinda manggut manggut. "Terus mangga mudanya mana?"


"Mangga muda?" Syifa terlihat kebingungan. "Mangga muda ya, mangga..." Lalu tak lama Syifa menepuk jidat keras. "Oi ya gue lupa mangga mudanya jatuh. Soalnya kan tadi dikejar anjing, saking takutnya gue gak sengaja jatuhin tu mangga" Elak Syifa.


"Gitu ya" Kata Dinda dengan menatap aneh Syifa.


"Iya Din, gitu ceritanya" Jawab Syifa dengan menampakkan deretan gigi putihnya.


•••••


Seperti biasa, setiap malam mereka selalu mengerjakan tugas bersama sama.


"Ki hadjar Dewantara lahir tanggal berapa ya?" Tanya Syifa.


"2 Mei 1889" Jawab Aisyah.


"Makasih Syah" Kata Syifa. Lalu ia kembali menulis dibuku nya.


"Selesai" Katanya lagi lalu menutup bukunya.


Syifa terdiam. "Kalau lahirnya kak Reyhan tanggal berapa ya"


"Ya ga kenapa napa. Gue itu pengennya waktu kak Reyhan ultah, gue bisa kasih kejutan ke dia" Jawabnya.


"Oh ya Syah, tugas bahasa Inggris Lo udah?" Tanya Syifa.


"Udah"


"Lo udah siap kalau disuruh maju kedepan"


"In Syaa Allah siap"


"Duh, gue gimana nih ya. Gue gak bisa bahasa Inggris. Pusing gue" Keluhnya.


"Emang tugas bahasa Inggris Lo apa?" Tanya Lina. Kepo.


"Disuruh buat ya kayak cerita tentang cita cita, terus disuruh maju kedepan. Tanpa membawa bacaan. Gue itu ga paham sama bahasa Inggris. Gue aja baca bahasa Inggris ga becus...Uuuuhh bingung gue" Ujar syifa dengan memegangi kepala dengan kedua tangannya.


"Kan masih ada waktu satu hari buat kamu bisa belajar" Kata Aisyah.


"Emm,, Syah bantuin gue ya. Lo kan bahasa Inggris pinter"


"Aisyah ma gak bahasa Inggris doang yang pinter, semua mata pelajaran dia bisa. Pinter" Ucap Lina.


"Iya ya, Heran gue sama Aisyah" Jawab Syifa.


"Udah udah kok kalian malah jadi ngomongin aku" Kata Aisyah dengan mengerucutkan bibirnya.


•••••


Aisyah, syifa, Dinda dan Lina.Mereka berempat berjalan bersama memasuki gerbang sekolah.


"Hai fa" Sapa Adit.


"Assalamualaikum" Kata Syifa.


"Waalaikum salam" Jawab Adit.


"Fa btw gue udah lama ga ketemu Lo"


"Udah lama? Perasaan cuma beberapa hari deh" Ujar Syifa membenarkan.


"Iya emang baru beberapa hari, tapi bagi gue itu lama" Jawabnya. "Oh ya fa,, gimana Lo suka sama kalungnya?"


Syifa mengangguk mantap. "Iya, suka banget. Makasih ya dit"


"Kalungnya Lo pake?"


"Iya, kebetulan gue ga punya kalung."


"Bagus kalau gitu." Ujar Adit tersenyum puas. "Oh ya fa, Lo mau ga nanti gue ajak ngobrol ngobrol?"


"Ngobrol?"


"Iya, ya kan kita ga pernah ngobrol ngobrol berdua"


"Emm,, oke deh"


Adit tersenyum riang. "Lo nanti gue tunggu di kantin Bi Yuni"


"Oke"


"Ya udah gue duluan ya fa, Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab mereka serempak.


Lalu Adit segera beranjak pergi.


"Aelah,, diajakin makan berdua.." Goda Lina.

__ADS_1


"Gue sebenarnya ogah, ya tapi gimana dia kan udah baik sama gue, pakai dikasih kalung segala. Jadi kalau nolak kan gak enak juga." Jelas Syifa.


"Em..Lin, Syah, fa aku ke kelas dulu ya" Pamit Dinda. Mereka bertiga mengangguk. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab mereka bertiga bersamaan.


"Gue juga mau ke kelas deh. Duluan ya fa, Syah. Assalamualaikum" Ujar Lina.


"Waalaikum salam"


Lina pun segera pergi menuju kelasnya, menyisakan Syifa dan Aisyah.


"Ke kelas yuk fa" Ajak Aisyah.


"Ayok" Jawab Syifa dengan disertai anggukan. Lalu mereka berjalan beriringan menuju kelas.


•••••


Braak


Line menggebrak meja, membuat suara dentingan piring dan sendok terdengar nyaring dikantin. Suasana yang ramai berubah hening, saat ini,, semua mata tertuju pada meja mereka. Tepatnya tertuju pada Lina.


"Linaa" Ucap Aisyah dengan suara berbisik. Dengan mata melotot ke arah Lina, menyuruhnya agar menjaga sikap ditempat umum.


"Maaf maaf" Ujar Lina."Gue lupa hari ini gue kan harus ketemu si.." Kalimatnya terpotong.


"Si siapa?" Tanya Syifa.


"Ya pokonya gue harus ketemu sama seseorang."


Syifa terdiam. Lalu tak lama ia menepuk jidatnya."Oh iya gue juga lupa, gue kan udah janji mau makan sama Adit diwarung Bu Yuni" Ujarnya.


Secara bersamaan, mereka berdiri dari tempat duduknya. Dan berjalan dengan arah berlawanan.


"Aduuhhh" Ucap mereka secara bersamaan. Karena mereka malah tak sengaja bertabrakan.


"Gimana sih Lo" Ujar mereka secara bersamaan.


"Mau kemana sih fa" Tanya Lina.


"Mau kesana" Jawab Syifa dengan menunjuk arah timur.


"Mau kemana sih Lin?" Kali ini Syifa yang bertanya.


"Mau kesana" Jawab Lina dengan menunjuk arah barat.


"Ya udah kalau gitu"


"Ya udah"


Lina menggeser tubuhnya beberapa centi kerah kanan, lalu melewati Syifa begitu saja. Sedangkan Syifa ia segera berlari menuju kantin Bi Yuni.


"Mbak Windi mbak Windi" Teriak Lina dengan menghampiri mbak Windi. "Mbak makanan yang saya pesen kemarin udah siap kan?"


"Iya, tunggu sebentar ya saya ambilin" Kata mbak Windi. Setelah beberapa detik, mbak Windi memberikan makanan yang kemarin dipesan Lina.


"Sama kerupuknya mbak" Ujar Lina.


"Ini" Jawab mbak Windi dengan menyodorkan satu bungkus kerupuk.


"Ini mbak" Ucap Lina dengan menyodorkan beberapa lembar uang.


"Makasih ya mbak Windi" Tambahnya lagi


Belum lagi mbak Windi membuka suara untuk berbicara, Lina sudah berlari kencang menuju rooftop. Dengan cepat Lina menaiki setiap tangga, untuk menuju rooftop.


"Lo telat 12 menit" Ujar Iqbal, namun tak digubris oleh Lina yang masih mengatur nafasnya yang tersengal.


"Push up 36 kali" Tambah Iqbal. Lina melotot.


"Apa? 36 kali" Teriaknya. Iqbal mengangguk tanpa dosa. "Ya gak bisa gitu dong. Itu kebanyakan" Ujar Lina tak terima.


"Bodo amat, gue laper itu gara gara nungguin makanan yang Lo bawa. Cepet push up" Lanjut Iqbal dengan menunjuk ke arah bawah.


"Gak gue gak mau" Tegas Lina. "Kurangin lah hukumannya, masak 36 kali sih"


"Oke gue kurangin, jadi 35"


"Heeehh,, pelit benget sih jadi orang" Geram Lina uang sudah terlanjur kesal. "Pokoknya gue mau kalau hukuman gue itu sesuai dengan waktu telat gue. Kalau gue telat 12 menit, push up nya ya harus 12 kali"


"Gak bisa" Ketus Iqbal dengan menyilangkan tangannya didepan dada.


"Kalau gitu, gue juga gak mau kasih ni makanan ke Lo" Ujar Lina.


Iqbal terdiam. Perutnya sedari tadi sudah meronta ronta untuk diberi makanan. Dan, untuk kali ini ia harus mengalah, namun tidak untuk lain kali. "Oke, gue ngalah. Udah mana makannya"


"Beneran ya cuma 12 kali ya"


"Hm"


Lina tersenyum puas, lalu memberikan makanan plus kerupuknya kepada Iqbal. Lina segera menelungkup kan badannya, dan mengambil posisi orang push up. Sedangkan Iqbal, dia duduk dikursi kayu Yang ada dirooftop. Membuka makannya, lalu melahapnya dengan santai. Ditemani dengan kerupuk yang menambah kenikmatan dalam cita rasa makanan itu. Dengan semilir angin segar pada hari ini. Ah, sungguh nikmat mana yang engkau dustakan.


Beda lagi dengan lina, yang dirinya dikuasai oleh amarah. Kalau tidak demi rencananya, ia pun tidak akan mau untuk melakukan ini semua, apalagi dihukum seenaknya oleh laki laki yang dibencinya saat ini. Lina melirik sinis Iqbal, yang dengan nikmatnya menyantap makanan yang dibawanya.


"Dasar berengsek" Gumamnya.


Setelah selesai push up, Lina menyejajarkan kakinya dan mulai mengatur nafasnya. Setelah itu, ia berdiri dan berjalan menuju arah Iqbal.


"Gimana? Enak?" Tanya Lina.


Iqbal mengangguk.


"Bagus" Lirihnya.


"Kwenwapwa bwaagwus" Tanya iqbal dengan makanan yang masih berada di mulutnya.


"Kalau makan ya makan, jangan sambil ngomong" Tegur Lina.


Iqbal menelan makanannya, hingga beralih tempat menuju perutnya. "Lo gak bawa minuman?"


Lina menggeleng.


"Gimana sih Lo, harusnya Lo bawain minuman"


"Lah Lo kan cuma bilang bawain kerupuk, ga suruh gue buat bawain minuman juga" Elak Lina.


"Kalau ada makanan ya harus ada minumannya juga" Omel Iqbal.


"Tau ah, serba salah gue sama Lo. Mendingan gue pergi dari sini" Ujar Lina lalu melangkah pergi.


"Mau gue bayar gak nih makanannya?" Tanya Iqbal membuat Lina membalikkan badannya.


"Ya maulah. Itu kan pake duit gue, jadi ya Lo harus bayar"


"Nih" Ujar Iqbal dengan menyodorkan uang merah pada Lina. Lina berjalan beberapa langkah menuju Iqbal. Lalu mengambilnya, dan merogoh saku roknya.


"Mau ngapain?" Tanya Iqbal.


"Mau ambil kembalian lah, ini kebanyakan" Ujarnya.


"Udah gak usah, buat Lo semua aja"


Mata Lina berbinar. "Bener?" Tanya Lina memastikan. Iqbal mengangguk. "Nah gitu dong kali kali baik sama gue, gak bikin gue darah tinggi Mulu"


"Ya udah gue mau kekelas dulu. Assalamualaikum" Lanjutnya lagi.


"Waalaikum salam" Jawab Iqbal. "Jangan lupa besok juga bawain gue makanan ini"


Lina mengangguk, lalu segera berjalan keluar rooftop, dengan sesekali menoleh kearah Iqbal dengan tersenyum puas. Mungkin, beberapa hari kedepan ia akan menerima hukuman jika telat. Tapi itu tidaklah mengapa, karena Lina pastikan Iqbal juga akan mendapatkan hal yang setimpal. Atau mungkin, malah lebih parah.


Baiklah, kalian tahu apa yang dibawa Lina untuk Iqbal? Makanan yang mungkin sebagian dari kalian tidak menyukainya.


Semur jengkol.

__ADS_1


Dan, tunggu apa yang akan terjadi nanti.


...*******...


__ADS_2