
Syifa berjalan dengan perasaan antara takut dan gugup. Entahlah, tidak seperti biasanya ia seperti ini. Biasanya kalau ingin bertemu Reyhan dirinya akan melakukannya dengan senang hati. Namun hari ini, mengapa terbanding terbalik. Syifa mengetuk pintu kelas, membuat semua orang yang ada di dalam kelas menoleh.
Iqbal berjalan ke arah Syifa. "Mau ngapain fa?" Tanya nya.
"Assalamualaikum kak" Ujar Syifa.
"Waalaikum salam. Ada apa?"
Syifa melirik Reyhan, membuat Iqbal mengerti tujuan Syifa. "Mau ketemu Reyhan?"
Syifa mengangguk.
Iqbal tersenyum lebar. "Lo tunggu sini. Gue panggilin dulu"
Syifa kembali mengangguk. Iqbal berjalan cepat menuju meja Reyhan. "Han, tuh Syifa pengen ketemu Lo"
"Syifa?" Tanya Reyhan memastikan.
"Iya, sana temuin." Jawab Iqbal. "Heh, emang Lo udah baikan ya sama Syifa?" Tanya nya dengan menaik nurunkan alisnya.
Reyhan berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju Syifa yang menunggunya di ambang pintu. "Ada apa?" Tanya Reyhan dingin.
Syifa meremas jemarinya. "Ad-Ada yang mau Syifa omongin kak"
"Apa?"
"Tapi jangan di sini"
Reyhan mengangguk.
Syifa membalikan badannya, berjalan menuju rooftop. Dengan Reyhan yang mengikutinya dari belakang, mengikuti kemana Syifa pergi. "Ada apa?" Tanya Reyhan.
"Em,, selamat ya atas kemenangan kakak" Ujar Syifa.
Tadi pagi, memang semua murid di suruh berkumpul di halaman sekolah, untuk mengumumkan kemenangan atas lomba olimpiade matematika hari kemarin. Dengan Reyhan yang mendapat medali emas, Naira medali perunggu dan kelas sebelas lainnya yang mendapat dua perak.
"Cuma itu?" Tanya Reyhan. Dengan refleks Syifa menggelengkan kepalanya.
"Terus, Lo mau ngomong apa?"
Syifa menundukkan kepalanya dengan menghela pelan. "Dulu...kakak pernah bilang kan, kalau Syifa udah..."
"Tunggu tunggu. Gue lupa, kalau ada yang harus gue kerjain. Gue duluan ya. Assalamualaikum"
"Tapi..." Syifa menatap Reyhan yang berjalan keluar rooftop tanpa mempedulikannya membuat Syifa hanya menghela pasrah. "Waalaikum salam" Jawab Syifa pelan.
•••••
"Syifa mana?" Tanya Dinda.
"Tadi Syifa bilang, katanya kita di suruh pulang duluan" Jawab Aisyah.
"Kenapa gitu?" Tanya Lina.
"Ga tau juga"
"Ya udah kalau gitu, kita langsung pulang aja yuk" Ujar Lina yang diberi anggukan Aisyah dan Dinda.
Ketiganya langsung berjalan beriringan pulang menuju pesantren. Dengan sesekali berbincang hal hal yang terjadi hari ini. Suara klakson mobil yang terus berbunyi dari arah belakang membuat mereka sedikit merasa kaget sekaligus jengkela dan langsung minggir di tepi jalan. "Siapa sih? ga sabaran banget jadi orang!" Gumam Lina kesal.
Mobil putih besar itu berhenti tepat di depan mereka. Perlahan pintu mobil terbuka, dengan sasa yang keluar dari dalamnya. "Heh, jangan penuhin jalan dong! Mobil gue mau lewat jadi ga bisa!" Ujar Sasa nyolot.
"Kayaknya Lo harus periksa mata Lo ke dokter deh. Lo ga lihat, ini jalan luas. Mobil Lo mau lewat juga muat. Ribet banget sih jadi orang" Jawab Lina.
"Beda lagi kalau mobil sultan" Ucap Sasa dengan kesombongannya.
"Heh, sombong banget ya Lo jadi orang. Besok kalau Lo berangkat pulang jalan kaki, gue sukurin Lo"
"Iri ya Lo?" Ujar Sasa dengan menaikkan sebelah alisnya. "Lagi pula, ga mungkinlah gue berangkat dan pulang sekolah itu jalan kaki"
Lina berdecih kecil. "Sultan mana? Sombong banget!"
Sasa melipat tangannya di depan dada dengan melihat mereka bertiga satu persatu. "Kalian itu...bersahabat kan? Tapi kok ga ada yang bener ya?"
Sasa mengangkat sudut bibir kirinya. "Yang Lo..." Sasa menunjuk Lina. "Lo itu orang yang sok jadi pahlawan, yang satunya lagi perempuan murahan. Satunya lagi sok alim, sok suci dan Lo..." Sasa menunjuk Aisyah.
"Lo itu udah kampungan, cadel, kusut, item dan sok cantik. Pake Deket Deket sama kak Fariz lagi"
Lina mengepalkan tangannya, ingin sekali ia menonjok nonjok orang yang kini di hadapannya. "Lo bener benar ya, punya mulut ga bisa di jaga!"
"Bukannya ga bisa di jaga, tapi itu emang kenyatannya" Jawab Sasa. "Udahlah, ngapain juga gue ngomong sama kalian. Buang buang waktu aja"
Sasa membalikkan badannya, lalu kembali masuk ke dalam mobil. "iiihh,,, untung cewek kalau cowok udah gue bonyokin tu muka" Gerutu Lina.
"Kalo miskin baru tahu rasa Lo!" Teriak Lina kesal sendiri.
"Lina,, jaga ucapan. Ucapan itu doa" Tegur Dinda. "Baca istighfar gih"
Lina menghela panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. "Astaghfirullahaladzim.... Astaghfirullahaladzim Ya Allah..." Gumamnya meredam emosi dan kejengkelannya.
Dinda menatap mobil Sasa dari kejauhan dengan menggelengkan kepalanya. Jujur, ia juga kurang suka dengan sifat Sasa.
"Ketika Allah akan menciptakan kita, Dia mengatakan bahwa 'mereka akan menjadi karya-Ku yang paling sempurna'. Namun saat dibumi kita malah sering mendengarkan ih kurus, gemuk banget, ih item, kok pendek dan lainnya. Aneh memang. Yang menciptakan mengatakan kita sempurna, tapi yang di ciptakan? Justru menuhankan kesombongan dirinya. Itulah manusia."
•••••
Syifa memandangi jalanan perkotaan dengan lalu lalang kendaraan yang lewat. Siang ini, memang tak seramai saat pagi atau sore di mana orang orang berangkat dan pulang kerja pada waktu tersebut. Saat ini, dirinya memang ingin sendirian. Kesunyian, mungkin bisa menjadi teman.
"Syifa..."
Syifa menoleh saat ada yang memanggilnya. "Assalamualaikum" Kata reyhan.
"Waalaikum salam. Kak, kakak kok ada di sini?"
"Bel udah bunyi dari tadi, kenapa ga langsung pulang?"
Syifa menggeleng pelan. "Lagi pengen sendiri"
Reyhan melangkah, lalu duduk beberapa centi dari syifa. "Tadi waktu istirahat, lo mau ngomong apa?" Tanya reyhan.
"Itu...syifa mau ngomong..." Syifa menggantungkan kalimatnya.
"Mau ngomong kalau nyerah?"
Mata Syifa melotot dengan menatap reyhan bingung. Bagaimana dia bisa tau? "Kok kakak tahu?!"
Reyhan menatap rumah rumah penduduk yang berjajar, berbagai kendaraan yang lewat di jalan sekaligus gedung gedung bertingkat yang terlihat dari rooftop sekolah. Tidak ada yang saling membuka suara. Membuat suasana menjadi hening. "Dan, gue minta lo jangan bilang itu ke gue?" Ujar reyhan memecah keheningan.
Syifa mengerutkan keningnya. "Maksutnya?" Tanya syifa. "Tapi kan kakak sendiri yang bilang gitu. Kalau syifa udah nyerah buat ngejar kak reyhan, syifa bilang aja ke kakak. Pasti kakak bakalan seneng. Syifa inget banget kak reyhan bilang gitu ke syifa"
Syifa menatap reyhan yang masih terdiam dengan tatapan menghadap depan. "Kak, bukannya kak reyhan harusnya seneng ya syifa bilang gitu?"
Reyhan menghela pelan. Ia membuka tasnya, mengeluarkan selembar kertas putih kosong sekaligus dengan crayon, yang membuat syifa semakin tidak paham dengan apa yang akan di lakukan cowok di hadapannya. "Kak,, kak reyhan. Kak reyhan mau gambar apa? Kok gambarnya di sini? Kakak dapat tugas gambar ya dari gurunya kakak, tapi kok di sini gambarnya. Nanti waktu pulang di pesantren aja kan bisa. Oh ya, kakak mau gambar apa? Gambar gunung? Gambar sawah? Pantai? Ondel ondel?" Tanya syifa yang sifat aslinya sepertinya sudah muncul kembali setelah beberapa hari ini lenyap entah kemana. Berbicara panjang lebar pada reyhan seolah olah tidak terjadi apa apa di antara mereka.
Reyhan menunggu syifa untuk menyelesaikan kalimatnya. "Dengerin gue" Ujar reyhan membuat syifa langsung mengangguk.
"Kertas ini, ibaratnya gue..." Kata reyhan dengan mengangkat kertas kosong tersebut. "Dan crayon ini, ibaratnya lo" Lanjutnya lagi.
Reyhan mulai memberikan coretan pada kertas tersebut dengan warna warna yang cerah. Membuat syifa semakin merasa kebingungan. "Kakak mau gambar apa sih? Kok gambarnya gini, ga jelas. Coret coretan kayak gambarnya anak kecil?!" Tanya syifa.
"Ini.." Reyhan menyodorkan kertas tersebut kepada syifa. "Buat lo"
Syifa menunjuk dirinya sendiri. "Buat syifa?" Reyhan mengangguk.
Syifa mengambil kertas tersebut, lalu mengamatinya dengan seksama. "Buat apa?" Tanya syifa bingung.
Reyhan menggendong tasnya, lalu berdiri dari tempat duduknya. "Pahami" Ujarnya singkat lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
"Pahami?" Gumam Syifa tak mengerti. Ia kembali melihat kertas yang sudah di berikan coret coretan oleh Reyhan. "Apanya yang harus di pahami? Ini aja gambar coret coretan ga jelas!" Ucap Syifa dengan membolak balikkan kertas tersebut.
Tak lama bibirnya terbuka setengah. "Atau jangan jangan, selama ini kak Reyhan ga bisa gambar?" Tanya Syifa pada dirinya sendiri. "Apa yang dimaksud pahami itu..."
"Apa kak Reyhan tadi mau bilang gini ya 'Syifa, tolong pahami ya, walaupun gue ganteng, pinter tapi tetep punya kekurangan. Dan kekurangan gue itu ga bisa gambar" Ujar Syifa. "Masa iya yang di maksud kak Reyhan kayak gitu?"
•••••
"Lo kenapa sih, dari tadi lihatin gambar itu terus. Gambar coret coretan kayak gitu, emang ada apanya?" Tanya Lina.
Syifa menatap Lina. "Gini Lin, jadi gue disuruh pahami ini gambar sama kak Reyhan. Dari tadi udah gue lihatin, amati, udah gue bolak balik tapi tetep aja ga ngerti yang harus di pahami itu bagian mana? Malah pusing kepala gue mikirin ini" Jawab Syifa.
"Ini yang kasih kak Reyhan?" Tanya Lina memastikan.
"Iya"
"Udah,,, ga marahan?"
Syifa menghela pelan. "Sebenarnya gue masih marah sih sama kak Reyhan." Jawab Syifa. "Ya tapi gue itu udah capek marah, sok cuek sama kak Reyhan. Berhenti dulu lah marahnya nanti di lanjut lagi"
"Ada ya orang marah modelan kayak Lo" Ujar Lina.
"Ya ada lah" Jawab Syifa. Ia kembali melihat kertas tersebut. "Aduh,, gue malah pusing mikirin ini" Gumamnya dengan memegangi keningnya.
"Coba tanya Aisyah. Dia kan pinter, mungkin dia tahu" Usul Lina.
"Iya juga ya"
"Aisyah..." Panggil Syifa. Aisyah yang kala itu sedang menuliskan jawaban di bukunya langsung menoleh ke arah Syifa.
"Iya?!"
"Sini bentar"
Aisyah mengangguk.
Ia menutup bukunya, lalu berjalan mendekat Syifa dan Lina. "Sini duduk" Ucap Syifa.
Aisyah mengangguk, lalu duduk di samping Syifa. "Ada apa?"
"Coba pahami.." Ujar Syifa dengan menyodorkan kertas tersebut.
"Pahami?"
"Iya,, coba Lo pahami ini maksutnya apa?"
Aisyah mengambil alih kertasnya, lalu melihat coretan warna tersebut dengan baik. Dengan sesekali membolak balikkan kertas tersebut. Namun, ia juga sama sekali tak paham apa yang dimaksudkan. "Emm fa, ini punya siapa?" Tanya Aisyah.
"Kak Reyhan. Terus, gue di suruh pahami" Jawab nya.
"Kak Reyhan kayak ngomong apa gitu sama kamu tentang gambar ini?"
Syifa terdiam sejenak. Berusaha mengingat. "Enggak tuh" Jawabnya, namun di saat itu juga ia teringat sesuatu. "Eh iya ya"
Lina mengerutkan keningnya. "Iya apa nggak? Yang bener dong"
"Iya. Gue tadi lupa"
"Kak Reyhan ngomong apa" Tanya Aisyah.
"Katanya kertas kosong itu ibarat kak Reyhan, dan crayon itu ibaratnya gue"
"Ini kak Reyhan pakai crayon coret coretnya?" Syifa mengangguk.
Aisyah kembali melihat kertas yang sudah penuh coretan tersebut. Belum ada 5 detik, dirinya sudah paham apa yang dimaksudkan. "Artinya kamu udah kasih warna di diri kak Reyhan" Ujar Aisyah.
Syifa terdiam sejenak. "Tapi gue ga coret coret warna ke tubuh kak Reyhan."
"Bukan gitu konsepnya syifaaa..." Ujar Lina.
"Terus gimana maksudnya?" Tanya Syifa yang belum sepenuhnya paham.
•••••
Keesokan harinya...
"Assalamualaikum, kak Reyhan mana?" Tanya Syifa.
"Waalaikum salam" Jawab Iqbal dan Ilham.
"Tumben Lo nyariin. Udah ga marahan nih Yee.." Ujar Iqbal.
"Kak,, sekarang kak Reyhan dimana?"
"Dia pembinaan di lab komputer" Jawab Ilham.
"Pembinaan?"
"Iya. Emang kenapa?"
"Oh ga papa. Makasih ya kak, Syifa duluan dulu. Assalamualaikum" Ujar Syifa.
"Waalaikum salam" Jawab mereka berdua.
Syifa langsung berlari pergi menuju lab komputer. Dari ambang pintu ia melihat Reyhan, naira, bu Isma dan dua murid lainnya. "Masuk ga ya?"
"Tapi kalau masuk malah ganggu" Gumam Syifa. "Apa gue tanya nya nanti aja ya?"
Syifa menatap kertas yang sedari tadi dibawanya. Ia membalikkan badan. "Huwaa..." Kagetnya saat tiba tiba ada seseorang di belakangnya.
"Kok ada di sini? Ngapain?" Tanya Adit.
"Harusnya gue yang tanya, Lo ngapain di sini?" Tanya Syifa dengan mengusap dadanya. "Ngagetin aja tau ga!"
"Maaf. Gue tadi cari Lo, dan gue lihat Lo ada di sini" Jawab Adit.
"Mau ngapain?"
Adit menyodorkan kue kering yang dibawanya. "Apa ini?" Tanya Syifa.
"Ini namanya kue kourabiedes dari luar negeri" Ujar Adit.
Syifa mengerutkan alisnya. "Apa?"
"Kue kourabiedes"
"Ribet banget sih, nama kue gitu aja"
"Udah ini, terima ya. Bisa tahan 4 Minggu. Jangan lupa di makan"
Syifa mengambil kue tersebut. "Makasih ya"
"Iya. Kalau gitu gue ke kelas"
Syifa mengangguk.
Adit membalikkan badannya. "Eh dit..." Panggil Syifa.
"Iya?"
"Kan udah dibilang, kalau ketemu, datang atau pergi harus ngucap salam"
Adit tersenyum kikuk. "Iya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Syifa.
Adit melanjutkan langkahnya. Sedangkan Syifa mengamati kue itu baik baik. "Masa sih ni kue dari luar negeri? Ga percaya gue" Gumam Syifa.
__ADS_1
"Kamu ngapain di sini?" Tanya Bu Isma yang secara mendadak ada di samping Syifa.
"Astaghfirullah..." Syifa mengelus dadanya. "Ibu kenapa ngagetin saya sih?"
"Siapa yang ngagetin? Saya tanya!"
"Iya,, tapi jangan mendadak gitu munculnya. Jadi kaget kan saya" Ujar Syifa.
"Kamu ngapain ada di sini?" Tanya Bu Isma lagi.
"Nggak ngapa ngapain kok Bu,, cuma kebetulan lewat" Jawab Syifa. "Oh iya Bu, ini kue buat ibu. Kue dari luar negeri katanya. Bisa awet 4 Minggu."
Bu Isma melihat kue itu sekilas. "Kue apa namanya?"
"Kue apa ya tadi?" Gumam Syifa. "Kue ka-kou kou,, koubrin koubred apa gitu Bu. Saya lupa. Namanya susah"
"Kue koubrin koubred?"
Syifa mengangguk.
"Kok saya ga pernah denger ya?" Tanya Bu Isma.
"Ya kan dari luar negeri Bu. Jadi ibu mau ga?"
"Iya deh" Jawab Bu Isma tanpa pikir panjang. Kapan lagi kan bisa merasakan sensasi makan kue kering dari luar negeri. Bu Isma membuka tutupnya, mengambil salah satu kue tersebut, lalu memakannya. "Gimana Bu? Enak?" Tanya Syifa dengan mengangkat kedua alisnya.
Bu Isma terdiam dengan mulutnya yang masih mengunyah pelan kuenya. "Ini itu kue putri salju."
"Putri salju?"
"Iya"
"Jadi bukan kue koubrin koubred?"
"Bukan"
Wah, gue di bodohin nih sama si Adit. Batin Syifa.
"Oi ya Bu, saya lupa kalau harus ngerjain soal dari Bu Mila. Saya pergi dulu ya, Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Bu Isma dengan geleng geleng kepala.
Bu Isma kembali memasuki lab komputer. Melangkah mendekat pada murid muridnya. "Naira, mau kue ini?" Tanya Bu Isma.
"Nggak Bu"
"Shila, Kevin mau?" Tanya Bu Isma pada kedua murid lainnya.
"Saya kurang suka sama kue kering Bu" Jawab Shila.
"Nggak Bu" Jawab Kevin.
Karena semuanya menolak, Bu Isma menaruh kue tersebut di depan reyhan. "Ini buat kamu Reyhan. Kalau ga mau, kasih ke temen kamu aja, biar bisa di makan sama sama di pesantren" Ujar Bu Isma.
"Kue ini namanya kue koubrinbred dari luar negeri katanya. Bisa tahan 4 Minggu"
•••••
"Han, pulang nanti Lo pembinaan lagi gak?" Tanya Iqbal.
"Kenapa?"
"Kalau Lo pembinaan, gue tinggal. Kalau ga, ayo pulang bareng" Ujar iqbal yang hanya di beri anggukan oleh Reyhan yang sedang sibuk membereskan bukunya lalu memasukkan nya ke dalam tas.
Reyhan mengeluarkan kue kering dari Bu Isma tersebut dari kolong meja, hendak memasukkannya ke dalam tas. "Eh han Han.."
"Hm"
"Kue apa itu? Boleh gue coba dong?!" Tanya Iqbal. Kalau soal makanan Iqbal yang terdepan.
"Ambil, buat Lo"
"Beneran?"
"Hm" Reyhan menyodorkan kue tersebut yang langsung di ambil oleh iqbal. "Namanya kue koubrinbred, bisa tahan 4 bulan. Dari luar negeri katanya" Ujar Reyhan.
"Wih, kapan lagi bisa makan kue dari luar negeri" Gumam iqbal kegirangan dengan mengambil satu buah kue tersebut, lalu memakannya.
"Kok gue ga asing ya sama rasanya" Ujar Iqbal. Reyhan mengedikkan bahunya, tak peduli dengan Iqbal.
Ia langsung melangkah keluar kelas. "Kak Reyhan..." Panggil Syifa.
Reyhan menghentikan langkahnya. "Lo ngapain ke sini?"
"Mau ketemu sama kakak. Aku udah lama nunggu di sini" Jawab Syifa.
"Eh, ada Lo fa..." Ucap Iqbal.
"Iya kak"
"Kalian berdua mau ngobrol penting?"
"Iya"
"Nggak"
Jawab mereka secara bersamaan.
"Yang bener mana nih? Yang cowok nggak, yang cewek iya"
"Iya kak. Syifa mau ngobrol sama kak Reyhan. Cuma sebentar" Ujar Syifa.
Iqbal mengangguk pelan. "Ya udah kalau gitu, gue duluan Han. Gue tunggu Lo di gerbang sekolah. Kalian ngobrol dulu"
"Assalamualaikum" Ujar Iqbal.
"Waalaikum salam" Jawab Syifa dan Reyhan.
"Kak, maksudnya ini apa?" Tanya Syifa langsung dengan mengangkat kertas tersebut ke arah Reyhan.
"Udah Lo pahami?"
Syifa mengangguk.
"Sekarang Nemu jawabannya?" Tanya Reyhan lagi.
Syifa menggeleng. "Belum sih, tapi kata Aisyah syifa udah kasih coretan warna di kehidupan kakak"
Reyhan tersenyum tipis, senyum yang bahkan belum tentu bisa dilihat oleh sebagian orang bahwa dirinya kini tengah tersenyum. Reyhan mengambil kertas tersebut. "Gue udah bilang, kalau kertas kosong ini ibaratnya gue. Dan itu meliputi diri, hati dan perasaan gue. Dan crayonnya itu adalah Lo" Ujar Reyhan mulai menjelaskan.
"Hati, diri dan perasaan gue, dulunya kosong kayak kertas ini. Hampa, sepi, ga ada siapa dan apa apa. Tapi tiba tiba Lo datang, dan tanpa gue sadari perlahan Lo udah kasih coretan warna di kehidupan gue" Ujar Reyhan membuat Syifa manggut manggut mengerti.
"Lo tahu warna apa yang ada di kertas ini?"
Syifa menyipitkan matanya. "Warna pink, kuning..."
"Bukan! Warna cerah atau warna gelap?!"
"Cerah" Jawab Syifa.
"Itu artinya Lo udah beri warna cerah di kehidupan gue. Yang dimana cerah itu melambangkan keceriaan. Gue awalnya emang ga sadar akan hal itu. Gue sadar, saat Lo udah mulai menjauh waktu kemarin. Dan rasa hampa itu kembali gue rasain saat Lo ga ada" Ujar Reyhan.
Bukannya ingin apa, ia hanya ingin Syifa mengetahui apa yang di rasakannya sekarang. Itulah kenyataannya. Bukan mengada Ngada untuk tujuan agar Syifa baper, bukan. Karena Reyhan adalah tipe cowok yang dingin dan kaku, susah untuk berkata hal hal yang membuat orang lain menjadi baper. Terutama bagi perempuan. Karena sejatinya Reyhan akan mengatakan semua yang dirasakan nya, dari dalam lubuk hatinya sendiri.
Syifa mengangguk paham. "Kehidupan kakak, hampa, sepi. Maksutnya selama ini kakak merasa kesepian?" Tanya Syifa.
"Kesepian karena apa? Di tinggal mantan pacar waktu jaman dulu?" Tanya Syifa.
__ADS_1
Reyhan menghela pelan. Kenapa sampai membahas mantan pacar? Lihatlah, Reyhan saja enggan dekat dengan perempuan. Hanya beberapa saja yang dekat dengannya. Mana mungkin dia mempunyai pacar. "Suatu hari Lo juga akan tahu!" Ujar reyhan. Nada bicaranya kini sudah berubah seperti biasanya. Dingin dan cuek. Tidak seperti saat ia menjelaskan beberapa menit lalu.
...*******...