Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Flashback Off


__ADS_3

Malamnya Iqbal benar benar kewalahan menghadapi Aluna yang sedari tadi menangis. Hanya kata Bunda yang ia sebut. Bahkan Syifa, Aisyah dan Dinda juga turut membantu menenangkan namun gadis kecil itu tak kunjung tenang.


Hingga akhirnya Iqbal memilih untuk diam dan membiarkan. Biarkan Aluna mengekspresikan apa yang dia rasakan saat ini, biarkan dia menangis sampai hatinya benar benar tenang. Ada saatnya untuk dia berhenti. Nyatanya benar, kini Aluna tertidur tanpa sadar. Mungkin karena lelah menangis.


Iqbal menarik selimut, tangannya bergerak mengelus rambut putrinya. Di kecuplah kening Aluna dengan lembut. Selanjutnya Iqbal terdiam mengamati wajah Aluna. Dalam hatinya merintih sakit.


Mengapa bocah kecil seusia Aluna harus kehilangan sosok ibu secepat ini? Kemana dia harus mendapatkan kasih sayang seorang ibu? Bagaimana kehidupan selanjutnya? Apakah Aluna bisa menerima kenyataan bahwa bundanya tak akan pernah kembali untuk selamanya?!


Iqbal menghela dalam. "Nak, Ayah akan berusaha buat jadi Ayah sekaligus Bunda buat kamu. Meski ayah ga akan pernah tahu, apakah ayah sanggup atau ga?!"


Sebuah senyuman paksa tersungging dari bibir yang kini bergetar. Matanya menatap dinding di depan sana. Menerawang bagaimana kehidupan yang akan di laluinya tanpa Lina?


Tidak akan ada lagi yang menyiapkan sarapan untuknya saat akan pergi bekerja. Tak akan ada lagi omelan omelan Lina. Tidak akan ada lagi wajah judes dan galak yang malah membuatnya tersenyum saat melihatnya. Tak ada lagi yang menemaninya tidur selain Aluna.


Kini mata Iqbal berkaca kaca. Dengan cepat tangan kekar itu menghapus air mata. Harusnya ia tidak selemah ini, masa yang akan datang di ciptakan untuk di hadapi bukan hanya di takuti. Apapun yang akan terjadi, sakit atau tidak, bisa atau tidak namun dirinya harus memaksa untuk kuat. Karena saat ini hanya Aluna kekuatannya untuk bertahan.


Iqbal beranjak dari kasur, kaki yang tak setegap biasanya berjalan menghampiri koper di samping lemari. Ia berjongkok lalu membukanya.


Ini...semua yang ada di koper ini adalah Lina yang menyiapkan malam sebelum mereka pergi dari pesantren. Iqbal pikir, mereka bertiga dapat menjalani kehidupan seperti biasanya malam ini. Iqbal pikir, malam ini akan seperti biasa. Tidur bertiga dengan kehangatan dan kebersamaan. Namun...


Mengingat semua itu rasanya hanya menambah luka yang mendalam di lubuk hatinya.


Iqbal mengeluarkan satu persatu pakaian yang ada di dalam koper. Air matanya tak bisa ia bendung kala mengeluarkan pakaian Lina dari dalam. Masih jelas kenangan itu tersimpan, masih begitu nyata memori itu ada. Namun kini, apakah harus di paksa untuk di pendam?


Hingga di bagian paling bawah, netranya menangkap sebuah buku. Tangan itu terulur untuk mengambil. Merasa buku itu milik Lina, Iqbal langsung berdiri. Ia berjalan cepat keluar kamar dan berjalan menuju loteng.


Di sana, ia langsung di sambut dinginnya angin malam. Iqbal mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi yang biasa di gunakan untuk bersantai saat di loteng.


Perlahan buku itu ia buka. Terpampang di sana Lina menuliskan identitas dirinya. Mulai dari nama, tempat tanggal lahir, hobi dan masih banyak lagi.


Iqbal membuka halaman pertama. Dimana di situ tertulis tanggal saat mereka masih SMA. Ini sudah sangat lama, namun buku diary ini masih bertahan hingga mereka menikah dan mempunyai anak.


Mata yang masih sembab itu mulai membaca curhatan awal yang di tulis Lina.


Hari yang indah. Selama gue di sini semuanya indah, lebih indah lagi waktu ketemu dan kenal sama tiga cewek yang menjelma jadi sahabat gue wkwkw. Mereka baik, tapi ada satu yang nyebelin. Syifa. Nyebelin, tapi juga sayang hahaha...


Sebuah senyuman langsung muncul kala membaca apa yang di tuliskan sang istri sewaktu dulu.


Matanya tersorot ke halaman sebelah. Ia kembali membaca...


Iqbal!! Demi Allah, gue tandain lo! Ya Allah...kenapa harus ketemu cowok itu?? Bikin gue naik darah aja...


kalau ketemu gue lagi, pengen gue ubek ubek itu wajahnya.


Sebuah kekehan kecil langsung terdengar. Iqbal membayangkan bagaimana wajah Lina dulu saat menulis ini. Memang seperti yang kalian ketahui, dulu memang mereka tidak pernah akur.


Satu persatu halaman Iqbal membacanya, yang tanpa sadar ia tersenyum meski beberapa kali hatinya terasa kembali perih. Dari sini pun, ia tahu istrinya jarang menulis di buku ini. Kalaupun dia menulis tidak seperti orang lain yang panjang lebar menggambarkan ini itu.


Hari ini, masa gue di jodohin sama Iqbal? Ga kebayang gimana rumah tangga gue nanti...setiap hari mungkin bakal di buat naik darah sama dia.


Ini di tulis tepat saat satu hari sebelum Iqbal datang ke rumah untuk melamar Lina. Ya, mereka memang menikah karena di jodohkan bukan karena keinginan sendiri.


Malam ini, malam pertama gue sama Iqbal. Bukannya dia romantis, masa dia minta kerokan?? Mana ngelunjak lagi...


Iqbal terdiam, dengan bibir yang masih setia tersenyum. Tiba tiba dia teringat sesuatu. Teringat akan hari dimana dia memikul tanggung jawab besar. Menjadi seorang suami, menjadi seorang pemimpin bagi istrinya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Lina Putri Gunawan binti Gunawan Mahendra dengan mas kawin tersebut, tunai!"


"SAH!!"

__ADS_1


"Nak, sekarang Lina sudah menjadi istrimu. Papa titip dia ya, bimbing dia jadi lebih baik lagi."


"Iya, mama juga titip Lina. Dia putri satu satunya mama, tolong jaga dia...lindungi dia, bahagiakan dia. Jangan sakiti Lina ya nak, sekarang tanggung jawab kami sebagai orang tua, kami serahkan kepadamu. Didik putri kami dengan baik."


Beberapa pesan yang waktu itu Iqbal menjawab dengan sebuah anggukan dan senyuman meyakinkan. Namun, entah mengapa kejadian yang baru saja menimpa Lina, membuat ia merasa bahwa dirinya tidak bisa menjalankan amanah itu dengan baik. Membuatnya merasa bahwa ia gagal menjadi seorang pelindung bagi istrinya.


Iqbal kembali membaca beberapa halaman. Hingga sampailah di halaman terakhir. Untuk halaman selanjutnya sudah tidak ada tulisan yang di goreskan Lina. Di halaman itu tertulis tanggal malam terakhir sebelum ia pergi, juga tertulis jam kapan Lina menulisnya.


06/03


00.30


Untuk mas Iqbal, malam ini ga tahu kenapa aku ngerasa ada sesuatu yang aneh. Entah itu firasat yang aku rasain bener atau nggak, tapi di sini aku mau bilang bahwa aku, Lina, merasa bahagia hidup dengan kamu, Iqbal.


Terima kasih mas, udah menjadi suami yang baik buatku. Terima kasih kamu udah banyak berjuang buat aku sama Aluna. Terima kasih kamu udah buat aku jadi wanita beruntung yang bisa memiliki kamu.


Seribu syukur aku panjatkan sama Allah. Bisa kenal dan menjalani hidup ini dengan kamu. Jujur, aku takut pergi secepat itu. Aku masih pengen menjalani hidup ini sama kamu dan Aluna.


Tapi kenapa setelah aku sholat barusan, aku merasa firasat yang aku rasain bener mas. Aku cuma berharap Allah dan kamu Ridho terhadap aku. Kalaupun sinyal yang di beri ini nyata, aku akan terima. Dan aku minta tolong kamu dan yang lainnya ikhlas.


Suatu hari nanti kalau kamu butuh seorang ibu untuk Aluna, menikahlah. Asalkan wanita yang kamu pilih bisa menyayangi dan mendidik anak kita dengan baik. Ga usah bicara tentang kesetiaan. Kamu udah setia mas, dan aku ikhlas. Bisa mengenal kamu, bisa mencintai kamu, dan menghabiskan waktu dengan kamu hingga ajal menjemput adalah sebuah anugerah tersendiri bagi aku.


Kalaupun aku ga sempet pamitan sama kamu, semoga kamu bisa baca ini. Mungkin ini saatnya...mas aku pamit ya,,


•••••


Dua orang yang kini berjalan bergandengan melewati satu per satu makam. Kini mereka telah sampai di depan makam di mana bunga masih banyak bertebaran, dan tanah masih basah.


Iqbal mengarahkan pandangannya ke arah Aluna yang di gandengnya. Tak lama dia berjongkok, mengarahkan tubuh Aluna untuk berhadapan dengannya. Sebuah senyuman, Iqbal paksa untuk ia keluarkan.


"Bunda mana?" Akhirnya pertanyaan yang sedari tadi Aluna simpan, ia keluarkan.


"Bunda?"


Kini senyuman itu bertambah lebar. Bola mata Iqbal mulai terarah menatap sendu gundukan tanah itu dengan hati tersayat. "Bunda ada di sini..."


Pandangan Aluna pun teralihkan pada makam di sampingnya. "Di mana ayah?" Tanyanya lagi.


"Di sini, bunda tidur di dalam sini." Balas Iqbal lirih. Menahan air mata di depan sang putri. Sungguh, dia sangat lemah bila harus bersangkutan dengan orang yang ia cintai. Apalagi berbicara soal kehilangan. Sesak rasanya.


Aluna terdiam menatap ayahnya. "Ayah belbohong? Kenapa bunda halus tidul di dalam tanah? Bunda punya lumah, bunda punya kamal. Kenapa bunda tidak tidul di kamal saja?!"


Tak lama setelah itu, Aluna tersadar. "Ayah! Bagaimana bunda bisa belnafas di dalam sini? Katakan ayah! Kenapa bunda tidul di sini?? Ayah kelualkan bunda dali sini, kasihan bunda tidak bisa belnafas. Siapa yang belani taluh bunda Aluna di dalam tanah. Kenapa jahat??!" Kini nada bicara Aluna semakin meninggi. Seperti tidak terima bila bundanya harus di perlakukan seperti ini.


"Kenapa ayah diam?!" Aluna menggoyangkan bahu Iqbal. "Ayah! Kelualkan bunda dali sini! Aluna pengen ketemu bunda. Ayah...tolong..."


Iqbal memalingkan wajahnya, dia menghapus sejenak air mata yang sebisa mungkin ia tahan.


Setelah beberapa saat di rasanya tenang, Iqbal menoleh. Mencoba untuk melihat putrinya.


Namun di saat itu, ia melihat Aluna yang tengah menyingkirkan gundukan tanah dengan tangan mungilnya. Dengan terisak putri kecilnya berkata. "Bunda hiks...tunggu...Aluna akan selamatkan bunda." Katanya yang terus menggaruk tanah.


Makin sesaklah dada Iqbal saat melihat pemandangan itu. Ia memegang tangan Aluna, namun dengan cepat Aluna menepis tangan sang Ayah. "Ayah juga mengapa jahat? Hiks...mengapa ayah membialkan bunda di dalam tanah? Memangnya bunda apa? Hiks...Katakan! Ayah sudah tidak sayang dengan bunda?!"


Iqbal dengan lembut membawa Aluna ke dalam dekapannya. Meski tubuh kecil itu meronta, namun tak cukup untuk menandingi tenaga sang ayah yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Sayang, bunda udah meninggal. Bunda udah ga ada di sini lagi. Dan ini, sekarang adalah tempat istirahatnya bunda." Iqbal melepaskan pelukannya. Ibu jarinya bergerak menghapus air mata Aluna. "Ga ada yang jahat. Semuanya baik, semuanya sayang sama bunda. Tapi bunda ga bisa selamanya sama sama terus bareng kita sayang. Bunda..."


Iqbal mengambil nafas dalam. "Bunda udah pergi."

__ADS_1


Pernyataan Iqbal itu langsung di balas gelengan oleh putrinya. "Tapi Aluna tidak mau bunda pelgi. Aluna tidak mau ayah...Aluna ingin beltemu bundaa hiks hiks...Aluna ingin pelgi belsama bunda sajaa hiks... Aluna tidak mau bunda pelgi..."


•••••


Hari di mana kamu dinyatakan pergi,


Hari dimana duniaku seolah hancur secara mendadak,


Hari dimana setengah nyawaku hilang,


Hari itu dunia seolah berhenti berputar,


Waktu seolah berhenti berdetak,


Setengah dari kehidupanku telah pergi,


Bagian dari jiwa dan nadiku telah hilang,


Namun, apa yang bisa aku lakukan?


Dan aku akan berkata,


Bahwa mungkin mengikhlaskanmu adalah jalan terbaik untuk saat ini


-Iqbal-


FLASHBACK OFF


•••••



Satu tetesan air mata tanpa sengaja jatuh di atas foto tersebut. Foto di mana ada Lina tengah berdiri di dalamnya. Dengan rasa yang tak bisa ia ungkapkan, Iqbal mendekap foto tersebut dengan erat. Batinnya menjerit rindu, ingin sekali bertemu.


"Aku ga tahu Lin, sampai kapan aku harus kayak gini?! Dulu, kalau aku kangen sama kamu tinggal pulang ke rumah. Tapi sekarang,,, aku cuma bisa lihat foto kamu." Iqbal mengelus foto tersebut dengan jemarinya.


Tok Tok Tok!


Mendengar ketukan pintu membuatnya langsung menghapus air mata. Karena posisinya sekarang tengah berada di kantor, mana mungkin ia membiarkan ada orang yang melihatnya menangis di sini. "Masuk!"


Tak lama, seorang perempuan yang tiga tahun lebih muda dari Iqbal berjalan masuk ruangan dengan tersenyum. Tangannya menenteng sebuah kotak bekal. "Assalamualaikum mas," Ujarnya dengan menyalami tangan sang suami.


Iqbal tersenyum. "Waalaikum salam. Ada apa? Kok ke kantor?"


"Tadi mas kan belum sempet sarapan, ini aku bawain. Sarapan sekarang ya?!" Ujarnya dengan menaruh kotak bekal di atas meja kerja Iqbal. Bersamaan dengan netranya yang menangkap foto Lina di sana.


Beberapa saat terdiam, Wanita itu melihat Iqbal. "Kangen ya mas sama mbak Lina??"


Yang di tanya hanya terdiam lama. Tak ada jawaban, ia kembali bersuara "Ya udah nanti sore kita datang ke makam mbak Lina ya? Biar kangennya mas juga terobati." Lanjutnya yang di beri anggukan oleh Iqbal.


"Sekarang makan dulu."


Tanpa di sadari olehnya, Iqbal menatap lekat setiap gerak gerik sang istri. Senyumannya semakin mengembang.


Namanya Anastasia Eveline. Sosok perempuan yang sudah bertahun tahun lamanya meneruskan tugas Lina untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anakku. Bersyukur, Allah mempertemukan aku dengan dia. Perempuan yang tidak hanya menerima dan mencintaiku, namun juga menerima dan mencintai Aluna layaknya putri kandung sendiri. Perempuan yang telah memberikan kembali kasih sayang seorang ibu kepada Aluna.


Perempuan yang mempunyai seribu cerita yang akan aku ceritakan nanti, kepada kalian


_Iqbal_

__ADS_1


...*****...


#Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menunaikan🙏


__ADS_2