
"Gimana dok? Istri saya selamat kan? Dia baik baik aja?" Tanya Iqbal.
"Sebelumnya saya harus menjelaskan bahwa istri anda mengalami keretakan tengkorak bagian belakang yang menyebabkan pembuluh darahnya pecah."
"Saya rasa akibat benturan yang cukup keras saat istri anda mengalami kecelakaan pak." Lanjut sang dokter. "Selain itu pasien juga mengalami keretakan di bagian tulang punggung, juga pendarahan di beberapa bagian. Dan baru saja beberapa saat kami memeriksa, pasien sudah di ambil oleh yang Maha Kuasa."
Deg!
Jantung yang tadinya berpacu cepat karena khawatir, kini seolah berhenti berdetak. Mereka berdua terdiam kaku seolah waktu berhenti berputar detik itu juga. Air mata yang tadinya sempat terhenti, kini malah semakin deras mengalir.
"Kami mohon maaf, tapi istri anda terlambat untuk kami selamatkan." Kata dokter yang membuat tangis Syifa semakin menjadi. Ibu hamil itu menggeleng keras.
"Nggak mungkin dok..." Lirihnya dengan suara gemetar. Ia menangkupkan kedua tangan. "Dok hiks... saya mohon, periksa lagi! Dokter pasti salah hiks...saya mohon."
Namun permohonan itu di tolak dengan gelengan. "Tidak ada yang salah mbak, ini semua memang takdir yang Maha Kuasa. Saya permisi..."
Lelaki berjas putih itu langsung melangkah melewati seorang sepasang suami istri yang juga ikut terdiam membisu beberapa meter dari Iqbal dan Syifa berdiri. Tangis Aisyah langsung pecah detik itu juga.
Syifa,,, ia berlari lemah ke dalam dengan membawa rasa tak percaya akan hal yang baru saja terjadi. Langkah lemasnya membawanya untuk terus mendekat kepada seorang wanita tanpa nyawa yang tidur di atas brankar. Sama sekali tidak peduli dengan dua orang suster yang tengah mengurusi ini itu di sana.
Lihatlah, wajah Lina yang kini pucat bukan main di tambah lagi dengan sisa sisa darah yang habis di bersihkan. Tubuhnya penuh luka. Namun bagi Syifa, wajahnya begitu damai.
Syifa menatap lama wajah Lina. Membayangkan saat saat yang selalu mereka lewati.
'Hai, nama Lo siapa? Gue Syifa'
"Gue Lina."
"Oke jadi sekarang kita sahabat ya deal?"
'Deal...'
"Udah udah, jangan berantem. Apalagi malam malam kayak gini." Ujar Dinda mencoba menengahi mereka.
'Lina yang mulai '
"Kok gue"
'Ya emang Lo'
"Lo tau yang bikin gue eneg"
'Ngapain malah balik gue yang salah'
"Ya emang Lo"
"Syifa, Lo ngapain sih pake di situ segala. Ayo berangkat, sebelum hujan nih"
'Bentar bentar Lin, gue kedinginan nih...'
"Udah ayok...atau kita tinggalin Lo"
'Eh jangan jangan. Iya ya...'
'Lina? LINA IIHHH!! '
"Lepas!! Lepas ih fa..."
'Kenapa sih? '
"Kalau mau meluk ya silahkan. Tapi jangan buat gue kayak orang kecekik!!"
'Kangen tau...'
'Pilihan kedua adalah Lo gue tantangin buat cabut bulu ketek Lo! '
__ADS_1
"Kok gitu sih tantangan nya?" Tanya Lina nyolot.
'Ya gitu. Jadi Lo harus milih, bilang i love you ke kak Iqbal atau cabut bulu ketek?! '
"Syifa!! lo tadi yang nge-chat iqbal? "
'hehehe '
"Bener bener lo ya!"
"Hssst!! Udah mulai nih, udah mulai keluar lagi jiwa cerewet lo."
"Kok sendirian? Kamu,,, maksutnya lo lagi hamil kan?"
'Iya. Emang kenapa kalau gue hamil?'
"Haduh fa, kan ga baik. Apalagi Jakarta Semarang, pergi sendirian. Hamil lagi, kalau ada kenapa-napa gimana?"
"Ya lo sih!! Kok bisa bisanya sih lari kayak gitu?"
'Aduh aduh...apa gue mau lahiran ya ini?? '
Lina berdecih. "Kandungan aja masih lima bulan gimana mau lahiran!"
"Semuanya, gue minta maaf sama kalian. Gue tahu gue banyak salah, maaf ngerepotin. Dan tolong maafin dosa dosa gue ya."
"Terutama sama lo fa, maaf sering galak dan marah marah. Tapi kan marahnya gue karena sayang sama lo."
"Ga papa, gue paham Lin.
Di maafin jauh jauh hari...dari dulu malah."
"Eh kapan kapan kalian ke rumah gue yuk." Lina kembali mengajak.
Tubuh itu seketika merosot jatuh ke bawah. Air matanya bercucuran, dadanya sesak melihat sahabatnya yang kini sudah tidak ada.
"Tadi lo hiks ngajak biar kita ke rumah lo hiks...ayo...! Bangun sekarang hiks, kita kumpul kumpul lagi di rumah lo..."
Syifa terdiam, dalam hatinya sangat sangat berkeinginan untuk di respon sang sahabat.
"Permisi bu..."
Kepala Syifa mendongak, dia menghapus air mata lalu berdiri susah payah dengan sisa sisa tenaga yang ada. "Sus..." Panggilnya. "Tolong, ini sahabat saya tidur kan? Hiks...sahabat saya kuat, dia kuat, dia pasti belum meninggal."
Kini bola mata Syifa mengarah kembali melihat Lina. "Lihat,,, dia itu sahabat saya yang hiks kuat..."
"Sus..."
Suster yang tadinya terdiam kini bergerak merespon. Mengelus pundak Syifa dengan lembut. "Ikhlaskan mbak. Saya hanya ingin menyampaikan pengurusan jenazah..."
"Diam!" Bentak Syifa. Dengan tegas Syifa menghapus air matanya, ia memasang wajah seolah menantang. "Jenazah, jenazah siapa??! Hiks...jenazah siapa yang kalian maksut??!"
"Saya minta kalian pergi hiks...peergiii...!!" Melihat wanita di hadapannya yang semakin frustasi, suster itu menunduk.
"Maaf...kami permisi." Ujarnya pelan lalu berjalan keluar.
Nafas Syifa semakin tak beraturan, kini dengan perlahan wajahnya ia dekatkan ke arah Lina. "Lina...buka mata hiks. Tolong,,, jangan gini lah hiks. Bercandanya ga lucu ih...hiks. Bangun ya?"
Beberapa saat menunggu, tak ada respon sama sekali. Jangankan untuk membuka mata, bernafas saja Lina begitu enggan. Perempuan itu sudah nangis sesenggukan, dirinya benar benar belum rela.
Sementara itu, di luar suster tadi tengah menjelaskan pengurusan jenazah yang akan di lakukan. Iqbal hanya mengangguk lemas sebagai tanda persetujuan.
Sedari tadi dirinya hanya bisa berdiam di luar, hatinya ingin sekali masuk, melihat sang istri untuk terakhir kali. Namun, di sisi lain ia merasa tak kuat untuk melihat kondisi Lina.
Kini Fariz yang sudah berjalan mendekat langsung mendekap tubuh Iqbal dengan erat. Memberinya kekuatan penuh, sampai di situ ia masih bisa menahan tangisnya. Entah kenapa, kali ini dia berusaha untuk sok tegar meski hatinya begitu rapuh.
__ADS_1
"Gue yakin lo kuat, ini yang terbaik. Innalilahi wa innailaihi rojiun...sesungguhnya semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya." Bisik Fariz membuat Iqbal mengangguk dengan menghapus air matanya.
Fariz melepaskan pelukan kala Aisyah menepuk punggungnya. Lelaki itu menatap lekat wajah sang istri yang sudah sembab, mengerti isyarat yang di tunjukkan Aisyah, Fariz pun mengangguk.
Wanita yang tengah hamil muda itu langsung masuk, di ambang pintu ia sedikit terkejut melihat Syifa yang menangis sesenggukan duduk di atas lantai. Langsung saja Aisyah berjalan mendekat, berjongkok dan memeluk tubuh Syifa dari samping.
Matanya mengarah di mana Lina sedang terbaring tanpa nyawa di sana. Tiba tiba saja rasa sesak semakin menyeruak dalam dirinya. "Ya Allah..." Lirih Aisyah dengan mengeratkan pelukan.
"Lina Syah, Lina....haaa hiks. Gue ga percaya hiks..." Syifa melepaskan pelukan, dia menatap Aisyah lekat. "Syah hiks...tadi Lina mau pamit kan? Hiks,, iya dia mau pamit hiks hiks ke rumah. Gue pikir mau hiks ke rumah dia sama kak hiks Iqbal, tapiii...."
Aisyah menghapus air mata yang tak henti hentinya mengalir dari pelupuk mata Syifa. Sungguh, melihat kondisi Syifa seperti ini saja sudah membuat hatinya juga semakin terpukul.
"Tapi ternyata gue hiks salah, salah besaaar. Lina hiks, dia pulang ke rumah Allah hiks...Gimana gue bisa hiks ketemu dia lagi? Nanti kalau kangen gi__hiks, gimanaaa??"
"Aisyah, nanti ga ada yang hiks marah marah sama gue hiks__yang ngomel? Yang hiks hiks galak? Gue masih hiks pengen Lina di sini sama kita..."
Kepala Aisyah mengangguk. "Iya, sama. Aku, Dinda semuanya masih pengen Lina di sini. Tapi hari ini takdir Allah berkata lain fa... hiks. Tolong ya, ikhlas. In Syaa Allah, Lina akan lebih bahagia di sana. Ya?!"
Tak lama, dua orang pria masuk ke dalam ruangan. Membuat atensi keduanya teralihkan. Mungkin tadi Iqbal bisa menahan tangisnya, namun tidak setelah melihat sang istri. Air matanya langsung berlomba untuk berjatuhan.
Iqbal sedikit membungkukkan badannya, tangannya tergerak mengelus puncak kepala Lina. Di lihatnya wajah yang kini begitu pucat. Mengamati setiap inci dari wajah yang tidak akan pernah ia lihat kembali nanti.
"Sayaang..." Panggilnya dengan suara bergetar.
"Kok tidurnya nyenyak? Hm...ga mau bangun?" Tanyanya dengan sedikit berbisik.
"Istriku..." Iqbal tersenyum dengan mata yang tak mau melihat selain wajah Lina saat ini. "Kamu cantik banget sayaang..."
"Lin, kamu mau ninggalin mas sama Aluna? Katanya mau lihat Aluna sukses? Bukannya tadi malam kita udah janji buat rawat Aluna sampai gede hm? Kamu masih inget kan?" Rentetan pertanyaan yang tak mendapat respon itu membuat hati Iqbal semakin remuk.
Dia menenggelamkan kepalanya di tepian brankar, menangis tersedu di sana.
Lina sayang, mungkin kalau mas yang pergi kamu masih bisa menggantikan posisi mas sebagai seorang ayah. Tapi kalau kamu yang pergi, gimana mas bakalan bisa rawat Aluna sampai gede? Mas ga akan pernah bisa gantiin posisi kamu sebagai seorang ibu. Mas ga sehebat kamu sayang...Rintihnya dalam hati.
Fariz langsung mengelus punggung Iqbal yang bergetar hebat. Sungguh, sepanjang mengenal Iqbal, ia sama sekali tidak pernah melihat Iqbal sampai sehancur ini. Lelaki yang di kenalnya sebagai sosok periang, ceria, banyak tingkah kini seperti laki laki yang kehilangan akan dunianya.
Iqbal kembali mengangkat kepala. Tiba-tiba sebuah kalimat yang di ucapkan Lina kembali hadir dalam pikirannya.
"Mas, maafin aku kalau selama ini belum bisa jadi istri yang baik."
"Mas...kamu ridho sama aku?"
"Iya."
"Berapa persen?"
"Seratus, bahkan seribu persen aku ridho sama kamu." Balas Iqbal tak tanggung tanggung. Memang benar adanya.
Barulah Lina tersenyum lega.
"Kenapa Lin?"
"Ga papa mas, seenggaknya nanti kalau aku udah ga ada dan kamu ridho itu akan jadi ketenangan sendiri buat aku."
Sebuah senyuman pun tersungging manis di bibir Iqbal. Tak lama lelaki itu mendaratkan sebuah kecupan terakhir, cukup lama dan begitu manis. Sangat hangat dan lembut di kening Lina.
Setelahnya ia berbisik. "Mas Ridho sama kamu. Mas sangat sangat Ridho. Sekarang kamu pergi dengan tenang ya, ternyata Allah lebih sayang sama kamu Lin. Pergi, temui Allah dengan senyuman bahagia. Di sini mas akan selalu berdoa untuk kamu, dan kamu jangan lupa berdoa buat mas dan Aluna ya?"
Kalimatnya terjeda beberapa saat. Bibirnya yang gemetar kembali berucap. "Tugas kamu di sini udah selesai. Tunggu mas sama Aluna di Syurga, istriku..."
Perlahan Iqbal kembali menegapkan tubuhnya. Dia menarik nafas dalam, lalu mengangguk. Ridho mas selalu menyertai mu. Batinnya kembali menambahi.
"Bundaaaa...." Ke empatnya teralihkan oleh suara anak kecil. Aluna, gadis kecil itu berlari masuk dengan membawa sebuah senyuman yang lagi lagi membuat hati Iqbal kembali teriris.
Ya Allah, mungkinkah gadis kecil ini akan kembali tersenyum lagi saat mengetahui takdir yang baru saja terjadi?
__ADS_1
...*****...