
Allahuakbar Allahuakbar...
Suara adzan menggema di seluruh pelosok sekolah. Menandakan bahwa waktu Dzuhur telah Tiba. Sebagian siswa berhamburan ke mushola, untuk melaksanakan ibadah sebagai tanda ketaatannya pada Allah. Begitu pula dengan Aisyah, Dinda, Lina dan Syifa. Mereka sholat berjamaah di mushola. Dengan khusyu' dan tuma'ninah mereka melaksanakan setiap gerakan sholat. Dzikir dan doa juga menjadi rutinitas mereka setiap selesai melaksanakan sholat.
Terlihat Syifa sedang melipat mukena yang baru saja ia pakai. Sesekali ia menggaruk punggung kaki nya yang gatal.
"Aduuhhh,,, ni kaki gatel banget" Ujar Syifa yang menggaruk punggung kaki, sesekali ia juga menggaruk sela sela jari kakinya.
"Jangan digaruk terus fa, nanti bisa luka" Kata Aisyah.
"Aduh Syah, gatel banget" Ucap Syifa. "Atau ini gara gara gue pakai kaos kaki itu ya"
"Kaos kaki apa?"
"Ayo, sini ikut gue" Kata Syifa yang menarik tangan Aisyah. Meminta agar Aisyah mengikutinya. Tepat dihadapan sepatunya, Syifa duduk. Lalu ia mangambil kaos kaki hitam yang ia taruh di lubang sepatunya.
"Coba deh Lo cium" Pinta Syifa sembari mendekatkan kaos kakinya ke arah Aisyah. Aisyah membuang nafas kasar.
"Ih fa bau banget" Kata Aisyah yang berusaha menjauhkan wajahnya dari kaos kaki. Bertepatan dengan itu, Lina dan Dinda juga keluar dari mushola.
"Dinda, ini kaos kaki Lo?" Tanya Syifa dengan memperlihatkan kaos kakinya. Dinda mengamatinya dengan baik baik. Lalu ia menggeleng kuat.
"Bukan, itu bukan punya aku"
"Ini punya Lo Lin?" Tanya Syifa, membuat Lina yang sedang memakai sepatu menghentikan aktivitasnya. Ia mengambil alih kaos kaki itu. Lalu mulutnya terbuka setengah.
"Oi ya, ini kaos kaki sumpelan gue. Kok ada di Lo!!" Tanya Lina.
"Ya gue pakai kaos kaki itu"
"Ya pantes, tiba tiba kaos kaki sumpelan gue ilang. Ternyata Lo yang maling"
"Molang maling molang maling, enak aja Lo ngomong."
"Ya terus ini apa buktinya"
"Gue Nemu ini didepan kamar, karena nganggur ya udah gue pakai. Soalnya kaos kaki punya gue baru dicuci, belum kering. Ya udah dari pada ga pakai kaos kaki dan dihukum Bu Desi, mendingan gue pakai deh itu kaos kaki"
"Gimana sih fa kok ga bilang bilang gue. Nih ya gara gara kaos kaki ini ga ada, sepatu gue terbang sampe kena jidatnya orang. Sekarang gue yang disuruh ganti rugi"
"Emang sepatu bisa terbang?" Tanya Dinda.
"Nyatanya sepatu gue bisa!" Kata Lina.
"Ih, tu kaos kaki udah berapa bulan sih Lin ga Lo cuci. Sumpah bau banget. Gara gara gue pakai itu, kaki gue jadi gatel gatel kayak gini. Pasti itu kumannya banyak banget" Ucap Syifa, dengan menunjukkan kakinya yang mulai memerah.
"Ini kaos kaki ga pernah gue cuci, lha abisnya cuma gue jadiin sumpelan di sepatu gue. Biar sepatu gue pas, ga kegedean" Ucap Lina jujur.
•••••
"Empat enam"
"Empat tuju"
"Empat delapan"
Iqbal menggeleng kagum. Bayangkan saja, dalam satu hari, Fariz dapat menerima kurang lebih 50 coklat dari fans nya. Kalau saja cokelat dari Reyhan tidak diambil Syifa, pasti kini cokelat yang ada dihadapannya hampir mencapai seratus biji.
"Cokelatnya Lo jual harga berapa sih?" Tanya Fariz.
"Ya terserah dari ukuran"
"Kalau itu dijual kira kira dapet uang berapa?"
"Ya ini kan 48, anggep aja satunya harganya sepuluh ribu. Berarti 10 dikali 48. Ya dapet kurang lebih 480 ribu an lah"
Fariz berdecak sebal. "Yang di kasih siapa, yang dapet uangnya siapa" Sindir Fariz.
"Aelah Riz, Lo juga ga peduli kan sama ni cokelat, mau gue makan mau gue jual yang penting loker sama kolong meja Lo bebas dari cokelat"
"Iya deh iya, terserah Lo. iya, iya terserah. Terserah deh, gue terserah. Terserah Lo. Iya deh iya terserah. Terserah Lo gue ma. Terserah bal, terserah" Kata Fariz. Gabut mungkin.
"Lah Riz, Lo ngapa jadi terserang penyakit terserah gitu"
"Bodo amat dah. Eh jidat Lo kenapa benjol kayak gitu?!"
"Kena sepatunya si Lina" Jawab Iqbal jutek.
"Kok bisa?!"
"Ni ya pas gue lagi balik dari kamar mandi. Tiba tiba ada sepatu yang terbang, eh taunya kena jidat gue. Ya benjol lah ni jidat. Mana tu sepatu keras banget pas kena jidat gue"
"Terus?!" Tanya Fariz.
"Terus?!" Ujar Iqbal. Ikut ikutan.
"Ya terus gimana, Lo marah sama Lina?"
"Ya terus gimana, gue ya suruh dia buat ganti rugi lah. Besok dia mau bawain gue makanan"
"Ngapain? Eh kok malah udah kayak istri yang bawain suaminya makanan pas kerja ya"
"Maksut Lo? Gue sama Lina kayak suami istri gitu" Tanya Iqbal. Fariz mengangguk mantap.
"Amit amit dah gue sama dia. Dia bawain makanan gue itu sebagai ganti rugi, karena sepatu dia udah buat jidat gue benjol"
"Ooo gitu. Eh tapi kenapa sih Lo ga mau sama Lina. Kalau dilihat lihat nih Lina itu lumayan cantik deh" Kata Fariz.
"Gue sama dia musuh bebuyutan. Sampai kapan pun gak akan pernah bersatu. Ibaratnya gue air dia minyak. Gak bakalan pernah nempel. Gue lihat muka dia aja, udah sebel banget"
"Aelah jangan terlalu membenci gitu. Nanti lama lama jadi cinta" Kata Ilham, yang sembari tadi hanya mendengarkan percakapan mereka.
Iqbal tertawa remeh. "Gak bakalan mungkin" Kata Iqbal penuh penekanan.
"Eh, awas aja Lo. Kalau suatu hari nanti Lo jadi bucin sama Lina" Ujar Fariz.
•••••
Lina melangkah cepat menaiki anak tangga. Ah, karena hari ini ia harus bertemu Iqbal, Lina tidak bisa makan dikantin bersama sahabatnya. Lina berhenti tepat di ambang pintu. Ia melihat Iqbal sedang berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celana. Lina maju beberapa langkah, lalu berdehem. Membuat Iqbal secara refleks membalikkan badannya. Ia melirik jam tangan hitam dipergelangan tangannya.
"Assalamualaikum" Ujar Lina.
"Waalaikum salam" Jawab Iqbal. "Lo telat 5 menit" Katanya dengan santai, membuat Lina menganga.
"Maksut Lo?"
"Push up lima kali?"
"Ha?" Lina kebingungan. "Push up lima kali" Ujar Iqbal lagi.
"Ngapain gue Lo suruh push up"
"Lo telat, jadi Lo harus gue hukum"
"Lah kok gitu. Harus banget gitu ya gue dihukum" Ujar Lina membuat Iqbal mengangguk.
"Kok gue berasa jadi babu Lo ya, yang Lo suruh suruh ini itu, kalau salah, kalau telat Lo bisa hukum gue seenaknya" Celoteh Lina.
"Ya udah kalau Lo ga mau, kasih gue uang 20 ribu"
"Lah ini makanannya gimana? gue udah terlanjur beliin buat Lo. Lagi pula kalau gue kasih uangnya ke Lo, nanti gue jajan apa? Gue bisa pingsan kelaperan"
"Ya makannya Lo push up lima kali"
"Heehh" Geram Lina dengan mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali ia menonjok cowok yang ada dihadapannya habis habisan.
"DASAR NYEBELIN!!" Teriak Lina. Membuat Iqbal tersenyun puas. Dengan sangat sangat terpaksa, lina push up selama lima kali.
"Udah, puas Lo?" Tanya Lina dengan nada marah, setelah selesai push up lima kali.
"Bagus, mana makanannya"
"Hih,, Dasar Lo ya" Lina menghentakkan kakinya. Kesal.
"Nih" Ujarnya lagi dengan menyodorkan kotak bekal. Iqbal meraih, lalu membuka nya. Ia mengamati makanan yang dibawa Lina dengan baik baik.
"Kayaknya gue pernah lihat deh makanan ini" Ucap Iqbal. "Ini makanan apa?"
"Udah jangan banyak tanya, tinggal makan aja susah banget sih" Ketus Lina.
Iqbal duduk di kursi kayu yang ada di roftoop, dengan mata yang masih mengamati makanan itu baik baik. "Gue pernah lihat ini, tapi gue gak tahu namanya apa. Gue juga gak tau rasanya gimana" Gumamnya.
Tinggal dimana sih dia, sampai sampai makanan yang gue bawa dia gak tahu. Batin Lina.
"Kok baunya gini" Ucap Iqbal membuat Lina kesal.
__ADS_1
"Kalau ga mau ya udah sini" Ujar Lina dengan merebut kotak bekal dari tangan Iqbal, namun dengan kokoh Iqbal mempertahankannya.
"Kan gue belum coba" Jawab Iqbal kesal.
"Ya Lo sih, tinggal makan doang ribet banget"
"Iya ya, ini gue makan" Iqbal menyendok makanannya, lalu mulai menyantapnya.
"Rasanya aneh" Kata Iqbal. Dengan terus mengunyah makanannya.
1 detik
2 detik
3 detik
"Tapi enak juga ya" Gumamnya membuat Lina tersenyum puas.
"Enak kan, makannya jangan banyak komen" Ucap Lina. "Nih, gue bonusin kerupuk"
"Makasih" Ujar Iqbal dengan mengambil kerupuknya. Membuka lalu memakannya.
"Kalau Lo lain kali pengen makanan ini lagi, bilang gue aja ya, biar gue pesenin"
"Tumben baik" Katanya dengan masih asik menyantap makanannya. Membuat Lina cengengesan.
"Jangan lupa dihabisin"
"Hm"
"Ya udah kalau gitu gue mau balik ke kelas dulu"
"Hm"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Lina melangkah pergi dengan pandangan yang masih mengarah pada Iqbal. Ia tersenyum puas. Kali ini sesuai rencana nya.
•••••
"Assalamualaikum kak" Ujar Syifa.
"Waalaikum salam" Jawab Ilham dan Fariz bersamaan.
"Kok cuma berdua، kak Iqbal sama kak Reyhan mana?"
"Iqbal mau ketemu sama Lina" Jawab Fariz.
"Ha? Lina? Lina temen ku itu kak?"
"Iya Lina siapa lagi emang?"
"Wah, ada batu dibalik gajah nih" Gumam Syifa namun masih terdengar oleh Ilham dan Fariz.
"Ada gajah dibalik batu syifaaa" Ucap Ilham dan Fariz secara bersamaan.
"Eh iya itu maksutnya" Kata Syifa dengan cengirannya. "Oh ya kalau kak Reyhan ada dimana?"
"Reyhan ada lab komputer. Kayak nya sih" Jawab Ilham.
"Oke kalau gitu makasih kak. Syifa mau ke lab dulu ya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Fariz dan ilham serempak.
Dengan hati yang semangat Syifa melangkah menuju ruang lab. Sesampainya didepan ruang lab, Syifa langsung mengetuk pintu. Namun ia justru memilih untuk mengurungkan niatnya. Pelan, Syifa menurunkan tangannya. Ia meneguk ludahnya kuat kuat. Pasalnya di samping Reyhan ada seorang perempuan. Dengan rambut hitam lebat, bergelombang. Dengan kulit putih bersih dan postur tubuh yang ideal. Sangat cantik.
Jarak antara mereka sangat dekat, membuat Syifa memandang dengan tidak suka. Cemburu? Itu pasti. Ingin rasanya Syifa masuk, lalu memarahi gadis itu. Namun siapa dirinya? Dia tidak berhak untuk melakukan itu. Syifa mundur satu langkah. Dengan tatapan yang masih mengarah pada mereka berdua.
"Ngapain Lo kesini" Tanya seorang lelaki, membuat Syifa terkejut.
"Eh, siapa? aku?"
"Iya Lo. Ngapain Lo kesini"
"Anu, aku, itu...emm. Ngapain ya.." Kata Syifa gugup sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sesekali ia memberanikan untuk melirik Reyhan dan gadis itu. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat saat melihat gadis itu berjalan menuju mereka berdua.
"Devan mana soalnya?" Tanya gadis itu dengan menyodorkan tangannya.
Gadis itu adalah Naira.
"Lo siapa? Ngapain disini?" Tanya Naira dengan muka datar. "Ngintipin gue sama Reyhan?" Tambahnya lagi. Membuat Syifa menunduk lalu memejamkan matanya erat.
Duh gue harus jawab apa nih. Batin Syifa.
"Kenapa diem?"
"Anu, em... itu saya kebetulan lewat"
"Lewat? Tapi kok berhenti disini"
Syifa mengarahkan pandangannya ke arah samping, tidak berani menatap kakak kelasnya yang kini memandangnya dengan penuh curiga. Syifa, lebih baik ia menatap dinding dari pada kakak kelas yang judes itu.
"Kenapa diem? Kalo diem berarti Lo tadi beneran ngintipin gue sama reyhan" Ujar Naira, membuat Syifa semakin gelagapan.
"Gak kak, bukan, anu saya.." Kata Syifa berusaha mencari alasan yang tepat.
"Dinding, dinding anu cicak di dinding" Gumamnya dengan memencet mencet dinding dengan jari telunjuknya. Membuat Naira mengerutkan keningnya.
"Ngomong yang jelas!" Tegasnya.
"Iya ini, dinding tadi ada dinding cicak." Ucapnya ngasal. "Maksutnya cicak ada di dinding. Iya,, cicak cicak di dinding. Diam diam merayap" Lirihnya pelan.
Duh, kok gue malah nyanyi. Batinnya.
Syifa melirik ke arah Naira, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya. Seram sekali melihat Naira yang melotot tajam ke arahnya.
"Dasar gadis aneh!" Kata Naira.
"Anu Kak, tadi aku lihat cicak lagi merayap merayap di dinding. Unyu unyu gitu deh, makannya aku berhenti. Iya gitu cicak. Ada dinding" Kata Syifa yang makin ga karuan saking gugupnya. Apa dia bilang? cicak? unyu? Syifa saja merasa jijik jika melihat cicak. Ia menggigit bibirnya kuat kuat. Berharap ada seseorang yang menyelamatkan nya kali ini. Belum lagi Naira membuka suara, teriakan seorang gadis membuatnya mengurungkan niat untuk mengkomplein adik kelasnya yang satu ini.
"SYIFAA!!" Panggil seorang gadis membuat Syifa menoleh kebelakang.
"Aduh fa, gue cariin kemana mana ternyata Lo disini" Kata Hasna. Teman sekelas Syifa.
"Ada apa?"
"Lo dicariin ketua kelas" Ujar Hasna, membuat Syifa terdiam. Ini kesempatan gue buat kabur.
"Ya udah kalau gitu" Syifa kembali membalikkan badannya, menatap kedua kakak kelasnya. Devan dan Naira. Dengan cengengesan.
"Kak aku ke kelas dulu ya dicariin ketua kelas, assalamualaikum" Ucapnya tersenyum ramah. Lalu pergi secepatnya dari situ. Entahlah, salamnya dijawab atau tidak, yang pasti kali ini Syifa bisa bernafas lega. Untung Hasna datang diwaktu yang tepat. Kalau tidak? Hah, entahlah.
"Aduh Hasna makasih banget. Gue bener bener ga tau harus gimana kalo Lo ga Dateng"
"Emang Lo tadi kenapa?"
"Haduh gue itu tadi rasanya udah kayak ada dikandang buaya. Deg deg an banget." Kata Syifa. Membuat kening Hasna mengkerut. Kandang buaya?
•••••
Hari ini adalah hari Ahad. Ya seperti biasa, ponsel akan dibagikan kepada santri masing masing agar dapat menghubungi keluarganya. Juga diberikan izin keluar pesantren bila ada urusan.
Dan untuk hari ini Syifa mengajak Aisyah untuk menemaninya membeli cemilan di minimarket yang tak jauh dari pesantren. Dan karena Lina pun sama, ingin membeli cemilan jadilah mereka bertiga pergi bersama. Mereka cukup lama berada di minimarket. Melihat lihat berbagai makanan dan produk yang dijual, ya cukup lama berada disitu, namun hanya beberapa cemilan saja yang dibeli. Setelah membeli cemilan yang cukup, mereka langsung pulang kepesantren.
"Eh eh" Syifa merentangkan tangan kirinya. Membuat langkah Aisyah dan lina terhenti.
"Tuh lihat!! Kita kesana yuk!" Ajak Syifa sembari menunjuk ke arah tiga lelaki yang sedang berbincang bincang.
"Ih ga mau ah, Lo aja" Jawab Lina. Yang melihat Iqbal ada diantara mereka.
"Kenapa?" Tanya Syifa sembari mengangkat kedua alisnya. Lalu ia menatap ke arah Reyhan, Iqbal dan Fariz. Tiba tiba Syifa Teringat akan kata Fariz kemarin, yang mengatakan bahwa Iqbal mau bertemu dengan Lina. Hal yang membuat Syifa menggut manggut dan tersenyum miring.
"Malu ya ketemu kak Iqbal" Goda Syifa.
"Malu? Yang ada gue males ketemu dia"
"Lin, Lo suka ya sama kak Iqbal" Tanya Syifa dengan menaik nurunkan alisnya.
"Bener Lin?" Tanya Aisyah. Ikut penasaran.
"Apaan sih, gue gak akan pernah suka sama dia. Amit amit deh!"
"Terus apa kalau ga suka, benci?" Kata Syifa yang mendapat anggukan mantap dari Lina.
__ADS_1
"Pantesan kemarin dibawain makanan. Ternyata bencii alias benar benar cinta. Ciee
Lina"
"Lo apaan sih fa. Ngawur aja kalau ngomong. Gue kemarin bawain dia makanan itu sebagai ganti rugi gara gara jidat dia benjol karena kena sepatu gue"
"Ooo gitu, eh Syah yuk kesana" Ajak Syifa.
Aisyah melirik Fariz dari kejauhan yang sedang meneguk air di botol plastik. "Gak deh fa, maaf ya. Aku mau ngerjain tugas soalnya"
"Kok ga mau semua" Ujar Syifa dengan mengerucutkan bibirnya.
"Yee, kan Lo yang mau kesana, gue sama Aisyah balik ke kamar dulu. Bye" Ucap Lina dengan menarik pergelangan tangan Aisyah. Lalu pergi dari hadapan Syifa.
"Gak asik!" Gumam Syifa masih dengan wajah cemberutnya. Lalu ia melangkah ke arah Reyhan. Yang entah sedang membicarakan apa dengan kedua temannya.
"Assalamualaikum kak Reyhan, kak Iqbal, kak Fariz" Ujarnya dengan tersenyum manis.
"Waalaikum salam" Jawab mereka bersamaan.
"Kak Reyhan lagi ngapain?" Tanya Syifa dengan melirik Reyhan yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Bukan urusan Lo" Ketus Reyhan.
"Adek sayang, Adek masih kecil. Jadi jangan kepo urusan orang gede ya" Ujar iqbal. Lembut. Membuat Syifa mendengus sebal.
"Jangan panggil aku anak kecil paman!!" Kata Syifa dengan cemberut. "Namaku Syifa panggil aku Syifa" Tambahnya lagi membuat Fariz tertawa.
"Kok Lo panggil gue paman sih? Cakep gini di bilang paman" Kata Iqbal tak terima.
"Eh salah ya kak. Ya udah kalau gitu Di ulang. Jangan panggil aku anak kecil kakak. Namaku Syifa panggil aku Syifa" Ucapnya lagi membuat Reyhan menggeleng heran dengan tingkah laku Syifa.
"Eh ngomong ngomong gue kayak pernah denger tu kalimat deh. Tapi dimana ya"
"Di tv, yang film Shiva. Yang punya sepeda ajaib, bisa terbang, bisa punya sayap. Terus sukanya ngejar penjahat. Kalau udah ketemu penjahat dianya bilang Jangan panggil aku anak kecil paman!" Jelas Fariz.
"Yang mana sih"
Fariz berdecak kecil. "Yang ada inspektur konyol nya, siapa ya namanya?"
"Inspektur ladu Singh kak" Kata Syifa.
"Nah iya, yang ada inspektur ladu Singh nya"
Iqbal terdiam sejenak. " Oi ya gue baru inget. Yang film kartun itu kan?" Jawab Iqbal membuat Fariz dan Syifa mengangguk.
Kenapa jadi pada ngomongin kartun sih. Batin Reyhan. Lalu kembali fokus pada ponselnya.
"Eh btw itu film kesukaan adik gue" Kata fariz dengan melipat tangannya. "Sama si botak kembar itu juga kartun kesukaan adik gue"
"Upin Ipin maksut Lo?"
Fariz mengangguk.
"Ah tau ah, bosen gue sama si botak. Ga gede gede. Dari dulu sampe sekarang masih aja kecil. Kak Ros juga gak nikah nikah" Ujar Iqbal.
"Assalamualaikum" Ilham datang dan mulai bergabung dengan mereka.
"Waalaikum salam" Jawab mereka serempak.
"Siapa yang abis dari toilet?" Tanya Ilham.
"Kan Lo yang abis dari toilet" Kata Iqbal.
"Maksutnya yang masuk toilet sebelum gue siapa?" Jelas Ilham. Membuat fariz dan Iqbal mengedikkan bahunya.
Syifa mengangkat tangannya ke atas. "Lo yang abis dari toilet?" Tanya Ilham.
"Ih fa, kok Lo masuk toilet laki laki sih. Perempuan kan juga punya toilet sendiri" Ucap Iqbal. Membuat Syifa menggeleng.
"Bukan, aku cuma mau tanya. Emang nya ada apa?"
"Kamar mandinya bau banget sumpah!" Ujar Ilham.
"Masa sih?"
"Kalau Lo ga percaya coba aja!" Ujar Ilham. Iqbal terdiam sejenak. Lalu ia menyenggol lengan Fariz.
"Yuk!" Ajaknya.
"Yuk kemana?"
"Ke toilet"
"Ngapain?!"
Iqbal mendekatkan wajahnya ke telinga Fariz.
"Udah ayok ke toilet, biar Reyhan bisa berduaan sama Syifa" Bisik Iqbal, membuat Fariz memukul lengannya. Refleks.
"Ah, sa ae Lo bang! Hayuk kalau gitu" Kata Fariz dengan tertawa kecil.
"Emm, fa, Han, gue ke toilet dulu ya. Mau mengintrogasi siapa yang udah buat toilet pesantren jadi bau" Kata Iqbal. Lalu mereka berdua pergi.
"Lo juga ikut! Ayok!" Ucap Iqbal kepada Ilham. Lalu menarik paksa tangannya.
"Assalamualaikum" Kata Ilham.
"Waalaikum salam" Jawab Reyhan dan Syifa bersamaan.
Syifa menatap kepergian ketiga kakak kelasnya, lalu ia kembali menatap Reyhan yang seperti tak menganggap keberadaaanya. Syifa duduk disamping Reyhan dengan hati hati, merasa terlalu dekat. Ia menggeser tubuhnya beberapa centi kearah kanan. Pikirannya kembali mengingatkan atas kejadian kemarin. Saat ia melihat Reyhan berduaan dengan perempuan diruang lab.
"Kak Reyhan lagi ngapain?"
"Gue udah bilang, Bukan urusan Lo" Tidak membentak ataupun marah, tapi cukup membuat Syifa sedikit merasa takut. Entahlah, selama ini Syifa tidak pernah merasa takut pada reyhan.
"Emm,, kak" Panggil Syifa, pelan.
"Hm"
"Kemarin..." Syifa meneguk ludahnya kuat kuat. Bagaimana kalau Syifa tanya soal siapa perempuan yang kemarin bersamanya, justru akan membuat reyhan marah?
"Kemarin,, ka- kakak..." Kalimat Syifa terpotong saat mendengar nada dering dari ponsel Reyhan. Membuat Syifa melirik, bukan kepo. Hanya ingin tau saja. Tercantum nama Naira dilayar ponsel Reyhan.
Naira? Apa Naira itu cewek judes yang kemarin ada di lab sama kak Reyhan? Batinnya.
"Halo, assalamualaikum" Ucap Reyhan, dengan mendekatkan ponsel kearah telinganya.
"Iya, nanti gue share ke Lo"
"Udah gue kirim ke Bu Isma"
"Ya"
"Hm"
"Nanti gue tulis rumusnya"
"Hm"
"Assalamualaikum" Ujarnya diakhir percakapan, lalu memencet tombol merah. membuat sambungan menjadi terputus.
"Pacar?" Tanya Syifa. Sontak membuat Reyhan menatap Syifa tajam. Sedangkan Syifa, ia menunduk dengan memainkan jemarinya.
"Bukan, cuma temen" Ketusnya lalu kembali fokus pada ponselnya.
"Tapi ke- kemarin aku em, Li.."
"Jangan mikir yang aneh aneh. Gue sama dia mau lomba bareng" Jawab Reyhan, membuat Syifa melotot. Seolah olah, reyhan bisa membaca pikirannya.
"Namanya siapa?"
"Naira"
Tuh kan bener, berarti yang barusan telpon itu juga Naira. Batin Syifa.
"Lombanya cuma berdua?" Tanya Syifa dengan nada waspada. Ya, waspada kalau sewaktu waktu Reyhan marah padanya. Karena terus bertanya tentang Naira.
"Sama Devan juga" Jawab Reyhan membuat Syifa ber-oh pelan.
"Kenapa? cemburu?" Tanya Reyhan.
"Ya iyalah gue cemburu" Jawab Syifa setengah berteriak dengan wajah yang cemberut. 2 detik kemudian ia melotot, lalu membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.
Duh pakai keceplosan lagi. Batinnya. Dan tunggu tunggu, sejak kapan Syifa berbicara dengan Reyhan menggunakan gue bukan aku?
__ADS_1
...******...