
"Assalamualaikum bi.." Ujar Dinda dengan menyalami tangan ayahnya yang tengah duduk di kursi ruang tamu dengan tangannya yang memegang Al Qur'an.
"Waalaikum salam" Jawab Abah kyai. Beliau lalu menutup Al Qur'an dan menciumnya.
"Duduk dulu Din"
Dinda mengangguk.
Dirinya langsung duduk di kursi samping abah kyai. "Ada apa Din? Kok tumben awakmu(dirimu) ke sini?"
"Dinda cuma pengen ketemu Abi. Kangen"
"Biasanya juga ketemu setiap hari"
"Umi mana bi?"
"Umi mu lagi baca Al Quran di kamar. Mau ketemu umi?" Tanya Abah.
Dinda menggeleng. "Nanti aja bi"
"Em bi, Dinda mau minta izin sama Abi"
"Izin apa?"
"Besok setelah pulang sekolah Dinda pengen ke makam ayah sama ibu, itu pun kalau Dinda masih punya waktu. Kalau emang ga sempet, ya kapan kapan aja"
"Kamu mau ziarah kok izin dulu, ya silahkan. Abi pasti mengizinkan" Jawab Abah dengan tersenyum.
Tok tok tok
"Biar Dinda aja bi yang bukain" Ujar dinda dengan berdiri lalu membuka pintu.
"Abah ada?"
"Ada kak. Ada kepentingan apa ya sama Abah?" Tanya dinda.
"Gue mau minta izin sekaligus mau minta doa" Jawab Reyhan.
Syifa terdiam lalu mengangguk. Dirinya mempersilahkan Reyhan untuk masuk ke dalam. Reyhan berjalan lalu mencium tangan Abah.
"Ada apa Han?" Tanya Abah.
"Saya mau minta izin untuk pergi ke Jakarta atas kepentingan sekolah yang harus saya jalani, sekaligus meminta doa pada Abah agar di beri keselamatan dalam perjalanan dan di beri kemudahan agar bisa memberikan yang terbaik bah" Jawab Reyhan.
Abah manggut manggut. "Loh tapi kok berangkatnya malam malam kayak gini? Apa Yo Ndak bisa besok aja?"
"Saya juga kurang paham soal keberangkatan kenapa harus berangkat malam, Karena keputusan dari sekolah"
Ternyata Kak Reyhan berangkat nya malam ini? Batin Dinda.
"Din, panggilkan umi mu ke sini"
Dinda mengangguk. "Njeh bah" Ujarnya dengan bahasa Jawa.
Tanpa membuang waktu Dinda langsung pergi ke kamar dan mengetuk pintu. "Umi,, umi..." Panggilnya pelan. Tak lama pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita paruh baya dengan balutan mukena putih yang masih di pakainya. Dinda langsung menyalami tangan uminya.
"Ada apa to Din?"
"Umi, di panggil Abi"
Bu nyai mengangguk. Lalu berjalan ke arah ruang tamu. Sedangkan Dinda tetap di dalam, menguping. Eh, ralat mendengarkan pembicaraan mereka. Setelah mendapatkan doa sekaligus izin Reyhan pergi keluar rumah dengan di ikuti Abah. Mereka berdua berjalan ke arah gerbang pesantren. Yang mana orang orang sudah menunggunya di sana.
Iqbal, Ilham dan Fariz memeluk Reyhan secara bergantian. Bahkan di saat seperti ini pun, Iqbal masih sempat sempatnya drama menangis di depan semuanya.
Fariz melirik Iqbal. "Drama Lo nggak banget deh bal"
"Gue beneran ini nangis" Elaknya.
"Nangis apaan, keluar air mata aja nggak"
"Keluar! Orang air mata bercucuran kayak gini ga lihat. Neh gue nangis sampe sesenggukan. Hiks hiks hiks..." Ujar Iqbal dengan meniru orang menangis dengan sesenggukan.
Sedangkan Fariz menggeleng tak paham. "Kayaknya Lo udah ketularan gilanya duo Tarzan"
"Duo Tarzan siape?"
"Gilang sama Ojit"
"Eh eh,,, gue di samain sama mereka. Ga level kali, kalau mereka itu gilanya VIP. Lagian gue beneran nangis, nih air mata ghaib. Ga lihat kan? Ya iyalah ga lihat. Orang ghaib!!" Balas Iqbal.
"Gue duluan ya..." Ujar Reyhan.
"Nantian juga ga papa lah Han" Sahut Iqbal.
"Doain ya."
"Iya semoga Lo sukses dan diberi keselamatan dalam perjalanan" Jawab ilham.
"Assalamualaikum" Ucap Reyhan.
"Waalaikum salam" Jawab semuanya.
"Pak kyai, pak ustadz semuanya kita duluan ya." Pamit Bu Isma. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
"Bu jaga temen saya ya,, jangan sampai di godain cewek lain, bisa brabe semua kalau kejadian." Ujar Iqbal.
Abah kyai menatap Iqbal. "Iqbal, kalau minta tolong yang sopan"
Iqbal menoleh lalu Tersenyum kikuk. Aduh gue kok ga tau kalau ada Abah.
"Iya bah" Jawab Iqbal.
Mereka kembali mengalihkan perhatiannya pada orang-orang yang sudah menaiki mini bus. Ya karena hanya 4 orang yang akan mengikuti lomba, dan beberapa guru saja. Perlahan mini bus tersebut berjalan pergi dengan mereka yang melambaikan tangannya.
Sedangkan di sisi lain dinda berjalan menuju mushola, menghampiri kedua sahabatnya yang tengah membaca Al Qur'an di sana.
"Assalamualaikum" Ujar Dinda dengan duduk di depan Aisyah dan Syifa.
__ADS_1
"Waalaikum salam" Jawab keduanya.
"Tumben baca Al Quran nya di sini. Biasanya di kamar"
"Lagi pengen Din hehehe" Jawab Syifa.
Dinda tersenyum singkat. "Oh ya fa, kak Reyhan berangkatnya kok malam malam ya? Apa ga bisa besok pagi?" Tanya Dinda.
Syifa mengerutkan keningnya. "Berangkat kemana?"
"Lomba ke Jakarta. Tadi habis aja pamitan sama Abah"
"Malam ini?!" Tanya Syifa lagi.
Dinda mengangguk.
"Kenapa gue ga tahu?" Syifa menutup Al Qur'an nya. "Shodaqollahul'adziim"
"Aisyah tolong bawain Al Qur'an nya sebentar" Pinta Syifa dengan menyodorkan Al Qur'an, membuat Aisyah langsung menerimanya.
"Gue duluan dulu ya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Dengan cepat Syifa langsung berlari keluar mushola menuju gerbang pesantren. Benar saja beberapa orang ada di luar gerbang. "Assalamualaikum" Ujar Syifa yang baru saja datang dengan tersenyum dan menganggukkan kepala pada Abah dan ustadz Rizwan.
"Waalaikum salam"
"Abah masuk ke dalam dulu ya" Ujar Abah yang di angguki ustadz rizwan.
"Iya bah"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab semuanya.
Abah lalu berjalan pergi dengan mulut yang tak henti hentinya mengucapkan Tasbih, tahmid, Takbir dan tahlil secara bergantian. "Ustadz juga mau ke dalam dulu. Kalian jangan lama lama di luar gerbang kayak gini. Assalamualaikum"
"Iya ustadz, waalaikum salam" Jawab semuanya.
Syifa melihat sekelilingnya. "Kak Reyhan mana?" Tanya Syifa.
"Reyhan nya kan udah pergi" Jawab Fariz.
"Kapan? Kok Syifa nggak di kasih tahu? Harusnya kasih tahu dong kak biar Syifa bisa ketemu kak Reyhan dulu. Ih kan, Syifa jadi ga bisa ketemu sama kak Rey. Terus kenapa berangkatnya malam malam gini sih kak? Kenapa ga besok aja sekalian?!" Tanya Syifa panjang lebar sekaligus menggerutu kesal.
Iqbal menghela pelan. "Ya mana gue tahu. Tanya aja ke Reyhannya langsung."
Syifa mengerucutkan bibirnya. "Mungkin, biar besok waktu istirahatnya lebih banyak" Sahut Ilham.
"Nah bener tuh, mungkin berangkat malam biar Reyhan punya waktu lebih buat istirahat di sana. Buat merefreshkan pikiran biar ga stress mikirin lombanya. Kalau berangkat pagi kan sampe sana mungkin sore atau malem jadi ya cuma sedikit waktu istirahat nya" Jelas Iqbal.
Syifa terdiam dengan bibir yang semakin ia majukan beberapa centi. Tetap saja dirinya merasa kesal karena tidak bertemu Reyhan. Kak Reyhan juga, ga ada niatan apa apa gitu buat ketemu Syifa?! Batinnya kesal.
•••••
"Aisyah mana? Kok dari tadi ga kelihatan?" Tanya Dinda.
Syifa berdecih. "Gini gini aja gue udah kangen sama kak Reyhan" Gumamnya setelah makanan yang ia kunyah sudah berpindah menuju perutnya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab ketiganya dengan mendongakkan kepalanya secara bersamaan.
"Nah ini apa Aisyah..." Ucap Syifa.
Aisyah hanya melempar senyuman pada ketiga sahabatnya lalu duduk di samping Dinda. "Duduk sa..."
Sasa mengangguk, lalu duduk di samping Aisyah. "Lo ngapain bawa Sasa ke sini?" Tanya Lina.
"Sasa mau ngomong sama kalian"
"Ngomong apa sa?!" Tanya Syifa.
"Em, gue mau minta maaf sama kalian kalau selama ini gue udah ngomong yang ga baik, yang nyakitin hati kalian"
"Ya bukannya emang semua omongan Lo nyakitin ya?!" Ujar Lina pelan dengan mengaduk ngaduk es jeruk miliknya.
"Lina, kalau ada orang minta maaf. Itu di maafin" Sahut Dinda.
Lina menghela pelan. "Iya gue maafin."
Sasa tersenyum tipis. "Gue mau temenan sama kalian. Boleh?!"
Syifa dan Lina membulatkan matanya, mereka saling menatap satu sama lain. "TEMENAN?!" Tanya mereka nyolot.
"Iya"
"Nggak nggak! Gue ga mau temenan sama Lo" Sela Lina langsung.
"Lina, jangan gitu, kan Sasa udah minta maaf. Dia bener bener mau temenan sama kita" Ujar Aisyah.
"Tapi Syah,, gue itu..." Lina menggantungkan kalimatnya dengan menatap Sasa. Kekesalannya pada gadis itu belum sepenuhnya lenyap. Masih terekam jelas di memorinya kata kata Sasa yang bagaikan pisau tajam itu. Yang selalu menghina teman temannya khususnya Aisyah. "Gue itu masih kesel sama dia" Lanjutnya.
"Maaf ya Lin, gue bener bener minta maaf kalau omongan gue nyakitin kalian semua. Tapi kali ini gue bener bener mau temanan sama kalian." Jawab Sasa memohon.
"Lina, walaupun kamu emang masih kesel sama Sasa tapi tetap ukhuwah Islamiyyah harus di pertahankan" Timpal Dinda.
Ukhuwah Islamiyyah adalah persaudaraan antar sesama umat Islam, dengan Al Qur'an dan Hadist merupakan landasan utamanya. Hubungan yang dijalin dengan rasa cinta dan di dasari oleh akidah dalam bentuk persahabatan bagaikan satu bangunan yang kokoh. Ukhuwah Islamiyyah, persaudaraan yang harus dibangun dan di pertahankan dengan sesama umat islam untuk menumbuhkan kasih sayang dan kemuliaan terhadap saudara seakidah
Sebenarnya orang orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah diantara dua saudara kamu (yang bertelingkah itu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beroleh Rahmat.
- Al Hujurat ayat 10 -
Berilah ribuan kesempatan bagi musuhmu untuk menjadi temanmu, tapi jangan pernah memberi kesempatan temanmu untuk menjadi musuhmu.
"Gue juga sebenarnya ogah temanan sama Sasa. Tapi ya, gue juga kasian sama dia. Ga punya temen..." Sahut Syifa jujur.
"Oke, kita mau temenan sama Lo" Ujar Lina.
__ADS_1
"Beneran?" Tanya Sasa dengan raut wajahnya yang bahagia.
"Tapi ga semudah itu, ada syaratnya"
"Syarat apa?"
"Kalau Lo mau jadi temen kita, Lo harus penuhi beberapa syarat"
Aisyah dan Dinda mengerutkan keningnya. Dulu saat mereka jadi sahabat, mereka tidak mengeluarkan syarat apapun. Sedangkan Syifa masa Bodo dengan syarat syarat yang mau di ajukan lina, mau jadi teman atau tidak yang terpenting persahabatan mereka tetap utuh.
"Syarat apa?" Tanya sasa.
Aisyah dan Dinda menatap Lina bingung, entah syarat apa yang akan di ajukan oleh sahabatnya yang satu ini. Berbeda dengan Syifa yang sibuk menyantap cirengnya sekaligus dengan bumbu pedasnya. Membuat mulutnya sesekali ber huh-hah karena kepedasan.
Lina menatap Sasa. "Mulai sekarang Lo harus pake hijab!"
Wahai Saudariku, Matahari tidak kehilangan keindahannya saat tertutup awan, begitu juga dengan kecantikanmu yang tidak akan pudar saat dirimu memakai jilbab.
"Hijab?"
Lina mengangguk.
"Tapi gue ga nyaman pake hijab. Gue aja pake hijab satu hari entah bisa atau nggak"
"Belajar dulu sa, nanti kalau udah terbiasa juga pasti nyaman" Balas Aisyah.
"Sa, sehelai rambut wanita yang terlihat oleh laki laki yang bukan mahramnya aja 70.000 tahun di neraka. Itu pun baru sehelai" Sahut Dinda. "Sa, apapun itu untuk kebaikan jangan pernah di tunda"
"Jadi mau ga Lo? Kalau ga mau ya udah cari temen lain aja" Ancam Lina.
"Eh iya ya mau" Sergah Sasa. Walaupun dirinya masih ragu untuk menggunakan hijab.
Lina, Dinda dan Aisyah tersenyum. "Denger ya, pake hijabnya jangan cuma di sekolahan. Di rumah, di jalan juga harus tetep pake. Mentang mentang kita ga lihat, Lo lepas hijab seenaknya. Kita emang ga lihat ya sa, tapi Allah lihat semuanya. Jadi kalau Lo udah sepakat pake hijab Lo harus pake di manapun dan sampai kapan pun. Paham?" Tanya Lina membuat Sasa mengangguk ragu.
"Tapi hijabnya yang di lilitin kayak orang orang itu, biar ga terlalu gerah ya. Atau di sampirkan ke belakang boleh kan?" Pinta Sasa.
"Heh rontokan gorengan, Mana ada konsep hijab di lilitin. Kala pake hijab harus nutupin dada, leher Lo kasian tertekan. Kalau kelilit beneran apa ga mati Lo?" Sahut Syifa yang sedari tadi sibuk memakan cirengnya. "Huh hah,, pedes bener ya ni bumbu cirengnya. Di kasih cabe berapa coba?!" Lanjutnya lagi.
"Bener. Kalau pake hijab sekalian yang bener nutupin dada jangan yang di sampirin ke belakang. Ga ada konsep hijab begituan" Timpal Lina. "Syarat yang kedua..."
"Lo harus sering sering pake gamis. Kalau ga punya, pake baju dan rok panjang. Jangan keluar rumah pake celana" Ujar Lina.
"Sebenarnya pake celana juga ga papa kok Lin. Asal bukan celana yang memperlihatkan lekuk tubuh" Sahut Dinda.
"Iya. Yang penting ga pake rok mini. Terus seragamnya juga, Lo punya seragam panjang kan?"
"Iya"
"Nah mulai sekarang ganti seragam Lo yang pendek ini pake seragam panjang"
"Terus apalagi?" Tanya Sasa.
Lina menatap Sasa dari ujung rambut hingga kaki. "Kuku Lo, jangan di panjangin. Kuku harus pendek. Dan jangan di warnai dengan kutek warna warni yang bisa buat wudhu ga sah. Sampe sini paham?" Tanya Lina.
"Iya paham. Ada lagi?"
"Udah"
"Jadi setelah gue penuhin semua syarat itu, gue bisa temenan sama kalian?" Tanya Sasa. Mereka mengangguk.
"Beneran? Gue boleh temenan sama kalian?"
Mereka kembali mengangguk.
"Beneran sekarang Kita teman?"
"IYA SASA!!" Jawab mereka kompak.
Carilah Sahabat yang mampu mengingatkan kamu kepada Allah.
- Al Habib Ali Zaenal Abidin Al Hamid -
•••••
Iqbal memicingkan matanya, ia melangkahkan kakinya mendekati ustadz rizwan. "Assalamualaikum ustadz" Ujarnya dengan menyalami lelaki di depannya.
"Waalaikum salam. Mau kemana bal malam malam begini?"
"Cuma muter muter cari udara segar"
"Udara malam ini aja dingin"
"Ustadz sendiri Mau kemana? Kok ustadz bawa bantal sama selimut?!" Tanya Iqbal dengan memperhatikan ustadz Rizwan.
Ustadz rizwan menghela pelan. "Gini lho bal, ustadz itu bingung sama ustadzahmu..." Ujarnya.
"Bingung kenapa ustadz?"
"Semenjak ustadzah Rina hamil, dia itu jadi banyak maunya. Sikapnya juga berubah"
"Berubah gimana ustadz?" Tanya Iqbal lagi.
"Pertama dia minta makan rendang berkuah, kedua ustadzah pengen main kuda kudaan"
Iqbal membulatkan matanya. "Kuda kudaan?"
"Kamu tahu bal? Beberapa hari lalu ustadzah Rina pengen main kuda-kudaan. Sampe ustadz bingung harus gimana, dan akhirnya ustadz yang jadi kudanya. Ustadzahmu itu naik ke punggung ustadz, seperti anak kecil. Ustadz di suruh jalan sana jalan sini. Ya Allah,,, ustadz itu benar benar bingung"
Iqbal yang mendengar hanya bisa menahan tawanya. "Malamnya ustadz Ndak bisa tidur karena punggung ustadz pegel semua, lutut ustadz juga ga kalah pegelnya!"
"Terus ustadz?!" Tanya Iqbal lagi kepo.
"Terus ustadzah juga pernah minta ustadz buat manjatin pohon mangga, dari pagi rewel banget pengen makan mangga muda"
"Itu udah biasa ustadz. Namanya orang hamil pasti pengen ini itu. Tapi harus di turutin, kalau nggak, katanya anaknya bisa ileran ustadz" Ujar Iqbal.
"Iya bal. Terus ini ustadz juga di buat bingung lagi sama ustadzah Rina. Dari tadi pagi setiap lihat ustadz bawaannya mual terus. Dan dia bilang apa? Muka ustadz tidak enak dilihat. makannya mual. Ya Allah,, Padahal dari dulu ustadz selalu di bilang ganteng, tapi sekarang bilangnya muka ustadz ga enak di lihat" Curhatnya. "Terus ustadz langsung ambil cermin, padahal muka ustadz ga berubah, masih ganteng kayak dulu"
Iqbal menutup mulutnya, menahan tawanya. "Terus malam ini ustadz di suruh tidur di tempat lain, kalau tidur bareng pasti ustadzahmu itu bakal mual lagi. Ya Allah, piye Iki to? Bingung Ustadz mau tidur dimana?! Aneh aneh tenan ustadzahmu iki" Ujar ustadz dengan logat Jawanya.
__ADS_1
"Sabar aja ustadz,, demi calon anak." Ujar Iqbal. "Kalau soal itu, ustadz bisa tidur di kamar saya. Kebetulan Reyhan kan lagi ke Jakarta"
...*******...