
"Permisi..."
"Masuk."
Tak lama seorang wanita empat puluh tahun masuk ke dalam ruangan Aluna. Duduk di depan dokter muda tersebut.
"Bu, hasil rongent Rifky sudah keluar." Tutur Aluna memberitahu. Tangannya mulai mengambil selembaran yang di dalamnya ada gambaran organ tubuh yang di lihat melalui radiasi sinar X.
Beberapa saat setelah pandangan itu mengamati selembaran di tangan, Aluna mengangkat kepala menatap ibu di hadapannya. "Dari hasil rongent yang keluar, Rifky menderita kanker getah bening. Dan ini memasuki stadium ke dua."
Spontan ibu itu langsung mengeluarkan ekspresi kaget tak percaya. "Astaghfirullah..." Gumamnya. "Lalu bagaimana dok? Apakah masih ada kemungkinan untuk sembuh?"
"Masih. Yang pasti Rifky harus tetap di rawat di sini sampai keadaannya benar benar membaik. Kami di sini juga pasti akan rutin melakukan pemantauan dan pengobatan secara rutin. In Syaa Allah dengan usaha dan doa, Rifky bisa sembuh."
•••••
Ting!
Suara dentingan dari ponsel menandakan ada pesan masuk. Aluna membuka layar ponselnya.
Kevin : Lun, nanti waktu jam istirahat gue tunggu di kantin rumah sakit.
•••••
"Assalamualaikum." Salam Aluna yang di balas anggukan dan senyum dari sahabatnya.
Ia mendudukkan tubuhnya di kursi. "Udah lama nunggu?"
Kevin menggeleng. "Belum."
"Jadi ada apa?" Tanya Aluna.
Sebelum berbicara, Kevin menarik nafas panjang. Ia menarik kursi untuk lebih maju. "Gue mau jujur."
Aluna manggut-manggut dengan memasang wajah serius.
Kevin menunduk, lalu mengangkat kepalanya. Menatap intens seorang perempuan berjas putih di hadapannya. "Gue suka sama lo lun."
"Ehm..." Aluna meneguk ludahnya. "Yakin? Ga bercanda?"
"Kenapa gue harus bercanda soal perasaan?" Balas Kevin. "Gue udah suka sama lo dari kecil lun. Perasaan itu udah ada, tapi waktu kecil gue ga tahu kalau itu namanya cinta."
"Gue awalnya emang suka, tapi kalau sampai bertahun tahun kayaknya bukan lagi suka, tapi udah cinta." Lanjutnya.
Aluna menarik nafas panjang, menetralkan deru jantungnya yang mendadak tak teratur. "Oke. Itu aja?"
__ADS_1
"Iya. Maaf kalau apa yang barusan gue bilang, buat lo ga nyaman."
Aluna mengangguk. "Iya. Lagi pula wajar kalau kamu punya rasa suka sama lawan jenis. Hati emang ga bisa milih kepada siapa kita akan jatuh cinta." Sebuah senyuman tulus itu keluar, menambah kecantikan di wajah dokter muda itu.
•••••
23.05
Aluna berjalan membuka pintu rumah. Matanya langsung menyorot ruang tamu yang sudah gelap. Mungkin keluarganya sudah tidur. Dengan segera ia masuk dan menguncinya dari dalam.
Kakinya melangkah masuk lalu menaiki tangga. Bertepatan saat melewati kamar kedua orang tuanya, pintu kamar terbuka. Langkahnya pun terhenti.
"Kenapa baru pulang lun?" Tanya Iqbal dengan melepas kaca mata yang biasa ia gunakan saat bekerja.
"Assalamualaikum." Aluna mencium tangan Iqbal. "Maaf yah, tadi itu banyak banget yang harus Aluna selesaikan. Pasien di rumah sakit bertambah, jadi kerjanya juga harus extra."
Iqbal mengangguk. "Ayah hanya khawatir sama kamu. Kamu itu satu satunya putri ayah, kalau terjadi apa apa gimana? Apalagi ini hampir tengah malam."
"Jangan khawatir." Aluna mengambil dan menggenggam tangan Iqbal. "In Syaa Allah, Aluna akan baik baik aja."
"Ya tetep aja, namanya orang tua khawatir. Kecuali kalau ada yang jaga kamu.",
Gadis itu terdiam. Dia tersenyum lalu berkata "Aluna ke kamar ya yah, mau istirahat. Soalnya ini badan capeek banget."
"Ada hal yang mau ayah bicarakan. Sebentar saja."
"Ayah mau menjodohkan kamu." Jawab Iqbal to the point.
Deg!
Aluna tertunduk. Pikirannya langsung tertuju pada omongan Kevin siang tadi.
"Bagaimana?" Tanya Iqbal saat melihat respon putrinya yang hanya terdiam menunduk.
"Maaf yah, Aluna ga bisa menentukan sekarang."
•••••
Paginya saat semua berkumpul untuk sarapan, justru Aluna izin untuk langsung pergi tanpa duduk sejenak ataupun menyantap sarapan yang sudah di siapkan. Sengaja, untuk menghindari pembicaraan dari sang ayah...yang mungkin saja ia akan membahas tentang perjodohan lagi.
Sepanjang perjalanan pikirannya sudah tidak fokus. Dan alhasil terbawa hingga sampai rumah sakit.
Pukul 16.21 dirinya duduk menyendiri di kursi tunggu rumah sakit.
"Dok..."
__ADS_1
Kepalanya mendongak.
"Iya?"
"Dokter kenapa? Lagi ga enak badan?" Tanya dokter Reza.
Kedua bibirnya memaksa untuk tersenyum. "Nggak, saya sehat Alhamdulillah. Cuma banyak pikiran aja."
"Em, dok... saya izin pergi sebentar boleh?" Ujar Aluna meminta izin.
"Baik. Lagi pula, kemarin juga dokter kerjanya lembur." Tutur dokter Reza.
"Terima kasih, nanti kalau butuh bantuan telepon saya saja dok. Saya akan segera kesini." Ujarnya yang di angguki oleh dokter Reza.
Tak lama, Aluna berjalan memasuki ruangannya. Membereskan semua barangnya dan memberi pesan kepada beberapa suster tentang kondisi pasien.
Sembari berjalan keluar rumah sakit, tangannya sibuk mencari kontak seseorang. Lalu meneleponnya. Dan beberapa detik, sambungan terhubung.
"Halo, kita ketemuan sekarang bisa? Ada hal yang pengen aku omongin. Sebentar aja,,,"
•••••
"Aku mau di jodohin sama Ayah." Ujar Aluna tanpa basa basi. Kini mereka duduk berdua. Di temani dengan ramainya orang orang di cafe sederhana pinggiran jalan.
"Menurut kamu gimana?"
Kevin terdiam lama. "Lo cuma mau ngomongin ini?"
Alis Aluna saling tertaut. "Kok gitu tanyanya? Aku butuh pendapat dari kamu. Apa yang harus aku lakuin vin."
Kevin menghembuskan nafas kasar. "Lun, ini pilihan lo dan yang akan menjalani hidup juga lo. Jadi ga perlu minta pendapat orang lain. Pilih apa yang lo yakin."
"Makannya itu, kalau aku milih iya aku ragu. Tapi kalau aku nolak, aku juga ga yakin."
"Apa yang buat lo ragu buat milih iya. Dan apa yang buat lo ga yakin buat nolak perjodohan itu?" Tanya Kevin. Sejak Aluna membicarakan perjodohan, hatinya cemburu. Ada sedikit rasa tidak rela.
"Gimana aku tega buat nolak permintaan Ayah. Aku ga bakalan tega kalau inget gimana perjuangan ayah sampai saat ini. Yang jadiin aku kekuatannya, yang jadiin aku ratunya, bidadarinya. Dari dulu aku selalu berjanji sama diri aku, aku ga bakal buat ayah kecewa. Aku takut ayah kecewa kali ini." Jelas Aluna dengan kalimat yang menggebu-gebu.
"Aku yakin Ayah bakal milihin laki laki yang baik buat aku. Ayah mau aku jatuh di tangan laki laki yang tepat, buat melanjutkan tugasnya selama ini. Tapi di sisi lain,,,," Aluna memejamkan mata, ia meneguk ludahnya. Menarik nafas pelan, dan kembali melanjutkan kalimatnya. "Ada kamu yang buat aku ragu vin."
"Omongan kamu kemarin siang itu, entah kenapa buat aku ragu buat milih iya." Lanjutnya.
Keduanya sama sama terdiam.
Aku ga tahu apa aku juga suka sama kamu vin? Tapi entah kenapa jauh di dalam lubuk hati ini, ada rasa pengen untuk bersama kamu. Bukan orang lain. Apa artinya, aku juga punya perasaan yang sama? Tapi semenjak kapan?
__ADS_1
__Aluna__
...*****...