
Cerita Iqbal___ tentang Anastasia Eveline
•
•
•
Namanya Anastasia Eveline. Seorang perempuan mualaf yang kini telah menjadi istri sekaligus ibu bagi anak anakku. Perempuan yang memiliki banyak sejuta cerita yang akan aku sampaikan.
Dia adalah seorang mualaf...
Berada dan hidup di lingkungan islami membuatnya selalu tertarik dan selalu ingin mengetahui tentang agama islam. Ketertarikannya bahkan membuat ia belajar agama dari orang orang sekitar secara sembunyi sembunyi. Dan pernah juga ia belajar Al Quran hingga hafal ayat ayat pendek beserta artinya.
Di umur 12 tahun, perempuan yang biasa di sapa Elin itu memiliki kemantapan dalam hatinya untuk mengikuti ajaran agama islam. Namun ada sedikit ketakutan saat ia selalu teringat konsekuensi apa yang akan ia terima nantinya.
Hingga pada suatu hari, gadis remaja itu tak sengaja terbangun pada waktu shubuh. Sudah hal yang biasa mendengarkan adzan yang di lantunkan di wilayah rumahnya. Namun shubuh itu, hatinya seperti bergetar. Ia menangis tanpa sebab.
Dan pada pagi harinya, dengan sembunyi-sembunyi Elin berlari pergi menuju masjid. Di sana dia mengatakan keinginannya. Dari hati, bukan karena paksaan dari orang lain.
Maka hampir pukul sembilan pagi, ia dengan keyakinan penuh mengucapkan syahadat. Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah. Iya, di usia 12 tahun dia menjadi seorang mualaf.
Maka sesampainya di rumah, mau tidak mau dia menyampaikan kebenaran yang barusan terjadi terhadap kedua orang tuanya. Meski dirinya takut, namun hatinya memaksa mengatakan kebenaran dan meyakinkan bahwa apapun yang terjadi ada Allah yang selalu bersamanya.
Dan nyatanya, semua pikiran negatif tentang respon kedua orang tuanya salah. Mereka berdua justru dengan legowo menerima keputusan Elin, meski ada sedikit kekecewaan...namun apapun yang di pilih sang putri selama itu menurut Elin benar maka mereka tidak bisa memaksa. Karena ini menyangkut sebuah keyakinan dari hati.
Semakin bertambahnya usia, Elin selalu berusaha untuk menjalankan agama barunya dengan taat. Dan kepercayaannya bertahan hingga sekarang dan semoga hingga akhir hayat.
Katanya, suatu ketika saat usianya menginjak 25 tahun. Dia sedang mencari pekerjaan. Ingin hidup sebagai seorang perempuan mandiri. Dan kebetulan, di waktu yang sama aku sedang membutuhkan seorang sekretaris. Dengan syarat bila seorang perempuan, ia harus memakai pakaian tertutup menutup aurat selama bekerja.
Datanglah Elin, dia melamar pekerjaan waktu itu. Dan aku menerimanya.
Setiap hari sudah menjadi hal yang biasa bila aku harus menjemput Aluna pulang sekolah, mengajaknya pulang untuk ganti baju lalu mengajaknya pergi ke kantor untuk aku jaga di sana. Iya...awalnya terasa berat. Namun tidak setelah kehadiran Elin.
Dia, dengan senang hati mengajak Aluna bermain tanpa mengurangi kualitas kinerja kerjanya. Dia menenangkan Aluna saat putriku itu mulai merengek, menangis atau bosan. Dan karenanya, Aluna seperti mendapatkan seorang ibu baru.
Hari kian berganti, 5 bulan berlalu Aluna dan Elin bagai seorang ibu dan anak yang tak bisa di pisahkan. Bahkan aku bertanya heran, "Mengapa bisa dalam waktu singkat Aluna bisa sedekat itu dengan orang yang tadinya asing dan sama sekali tidak kenal sebelumnya."
Namun pikiranku selalu menjawab, mungkin karena Elin memang memberikan kasih sayang dan ketulusan hatinya saat bersama Aluna.
Hingga suatu malam, Aluna menyatakan keinginannya untuk mempunyai ibu baru. Dia bertanya "Ayah, apakah tante Elin bisa menjadi Bunda untuk Aluna??"
Dan saat itulah, aku meyakini bahwa Aluna memang membutuhkan seorang ibu. Bahkan, semua apa yang aku lakukan pun tidak bisa menggantikan posisi seorang ibu sekaligus ayah bagi dia.
Setiap malam, putriku itu menanyakan hal yang sama. Kerap kali dia bercerita, tentang dia yang iri dengan teman-temannya. Yang selalu di antar ibunya, selalu di bawakan bekal masakan ibunya, selalu tidur bersama ibunya.
__ADS_1
"Lalu Ayah, apakah Aluna juga tidak belhak untuk itu semua? Apa Aluna juga tidak boleh melasakan apa yang teman teman Aluna lasakan?"
Pertanyaan, yang membuat mulutku bungkam. Kamu berhak nak, iya kamu berhak mendapatkan kasih sayang ibumu kembali. Kamu berhak bahagia, kamu berhak merasakan apa yang teman mu rasakan.
Hari itu, aku mulai berusaha mencintai Elin. Meski sulit, karena Lina masih begitu melekat di hati ini. Sering kali aku berdoa, semoga Allah memberi jalan dan selalu memudahkan.
Masih ku ingat tanggalnya, 8 Juli aku melamar Elin. Dan selang tiga bulan setelahnya kami menikah.
Apakah itu berarti posisi Lina terganti? Tidak! Sampai kapanpun Lina tidak akan pernah terganti sedikitpun. Dalam hati dan kehidupanku.
Lina dan Elin, mereka berdua memiliki kedudukan dan posisi yang sama di hati ini. Sebagai wanita hebat yang berarti dalam kehidupanku. Kehidupan Iqbal.
•
•
•
Tengah malam Iqbal berjalan menuju kamar Aluna. Ia berhenti sejenak, mendengar suara isakan dari luar. Tangannya bergerak memegang gagang pintu, lalu membukanya secara perlahan.
Sejurus dengan itu, netranya melihat Aluna yang duduk di atas kasur dengan memeluk sesuatu. Iqbal mulai masuk, melangkah pelan mendekati sang putri. Tangannya terangkat mengelus puncak kepala Aluna yang tidak terbalut hijab saat ini.
Perempuan itu lantas mendongak, menatap siapa yang baru saja datang dengan mata sembab.
"Kenapa?" Tanya Iqbal.
Namun, tanpa di jawab pun Iqbal sudah tahu saat matanya melihat sebuah foto jadul yang di dalamnya ada foto dirinya, Lina dan Aluna saat masih kecil.
"Kangen sama Bunda??"
Aluna mengangguk. "Banget. Pengen ketemu bunda yah hiks,,,"
Menahan Rindu itu memang sesak. Terlebih saat rindu itu sudah memuncak namun tak ada cara sama sekali yang bisa kita lakukan untuk bertemu. Dan mungkin, cara untuk menyalurkan rindu itu adalah doa dan air mata sebagai saksinya.
•••••
Paginya kedua pasang suami istri itu tengah berada di meja makan. Yang satu menyantap makanan, yang satunya lagi tengah mempersiapkan sarapan untuk Aluna.
"Aluna kenapa belum turun?" Tanya Iqbal.
"Ga tau ya mas. Aku panggilin sebentar..." Elin berjalan menaiki tangga, menuju sebuah kamar di lantai dua.
Tok tok tok!
"Aluna, turun ayo sarapan dulu. Ini udah hampir jam tujuh, kamu ga kesiangan kalau ke rumah sakit?!"
__ADS_1
Tok tok tok!
"Aluna, ayo sarapan dulu sayang!"
Tok tok tok!
"Lun...kamu di dalem?"
Merasa tidak mendapat respon sama sekali, membuat Elin memutuskan membuka pintu. Matanya mengedar untuk mencari keberadaan Aluna. Merasa tidak ada orang, ia berjalan menuju kamar mandi. Membukanya, namun di dalamnya tidak ada siapapun.
Dengan cepat ia bergegas keluar. "Mas!" Panggilnya dari lantai atas.
Iqbal yang mendengar panggilan pun langsung mendongak. "Mas Aluna ga ada di kamar."
"Yakin kamu?" Tanya Iqbal.
"Iya. Dia kemana mas??"
Iqbal terdiam sejenak. "Coba kamu cari di lantai atas, biar mas cari di lantai bawah." Putusnya yang di beri anggukan oleh sang istri. Keduanya mulai sibuk masing masing.
Setelah memastikan tidak ada orang di lantai dua, Elin turun kembali ke bawah. Menunggu Iqbal di ruang tamu. Beberapa menit, suaminya itu muncul. Belum juga melontarkan pertanyaan, namun Iqbal sudah menggeleng duluan.
"Aluna ga ada. Motornya masih ada di garasi."
"Terus kalau gitu, Aluna pergi kemana mas?" Tanya Elin kebingungan. Tak biasanya Aluna menghilang. Paling paling kalau mau pergi gadis itu selalu meminta izin terlebih dahulu.
Tak tinggal diam, lelaki separuh baya itu menelepon Aluna. Berharap agar putrinya mengangkat. Hapenya berdering, namun sayang ternyata tertinggal di kamar.
Iqbal terdiam. Ingatannya tertuju pada waktu tengah malam kala itu. "Ayo ikut!!"
Elin sedikit terjingkat kaget. "Kemana?"
"Ke makamnya Lina."
"Ngapain mas?" Dengan bergegas mengikuti Iqbal keluar rumah, Elin masih melontarkan pertanyaan bingung.
Saat keduanya sudah memasuki mobil, barulah Iqbal menjawab. "Dengar, tadi malam Aluna nangis kangen sama Lina. Mungkin sekarang dia ke makam."
Elin langsung terdiam. "Tapi makamnya mbak Lina lumayan jauh dari sini. Kalau ke makam kenapa ga pakai motor aja?"
"Mungkin Aluna pesen ojol. Udah ya kamu diem sebentar. Mas ga fokus."
Mendengar itu, Elin langsung menutup mulut rapat rapat. Sepanjang perjalanan keduanya tak ada yang angkat bicara. Sesampainya di sana, sepasang suami istri itu dengan langkah cepat melewati satu persatu makam.
Langkah keduanya terhenti. Masing masing mengedarkan pandangan.
__ADS_1
Iqbal menghela gusar kala yang di cari tidak ada. Di sini juga sepi. "Kalau ga ada di sini, dia kemana?"
...*****...