
"Heh fa! Berhenti! Ih, lagi hamil masih aja nakal." Tak mau kalah, Lina juga melakukan hal yang sama. Mengarahkan gelombang air ke arah Syifa dengan kakinya.
"Nih nih rasain..."
Mereka saling membalas, tak sadar akan gamis bagian bawah sudah basah.
"Hsst hsst... Lina." Panggil Iqbal.
Lina langsung menghentikan kegiatannya.
"Udah jadi emak juga masih main air kayak gitu."
"Ya ga papa, sekali kali. Ada apa?"
"Aluna pengen main bareng."
Bola mata Lina langsung mengarah pada bocah yang di gendong suaminya. "Emangnya Aluna pengen main apa sayang?" Lina berjalan mendekat.
"Kejal-kejalan yuk bun."
"Emmm...." Lina terdiam. Anaknya ini memang suka sekali bermain kejar-kejaran. Memangnya besok cita citanya mau jadi apa ya? Polisikah? yang suka mengejar-ngejar penjahat, atau apa?
Entah apapun yang jadi profesi putrinya nanti, semoga bisa bermanfaat bagi banyak orang. Lina tersenyum, tangannya mengelus lembut pipi Aluna. "Ya udah yuk, kita ke sana aja yang luas. Biar puas ngejarnya."
Iqbal menurunkan Aluna dari gendongannya. "Kalau gitu yang ngejar bunda. Jadi Aluna dan ayah langsung lariiii!!!" Seru Iqbal yang langsung berlari di ikuti sang putri.
"Lhoh lhoh kok bunda? Ya udah bunda kejar, awas ya nanti kalau ketangkap kalian!" Seru Lina lantang agar di dengar keduanya. Kakinya mulai berlari mengejar mereka yang sudah menjauh berpencar. Berlari ria di atas lembutnya pasir pantai.
Ketiga sahabatnya yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Semoga kebahagiaan yang kalian rasakan, akan terus tertanam dan bertahan. Batin Aisyah.
"Pasti nanti kalau putra dan putri kita udah lahir, kita bakal ngerasain gimana bahagianya mereka saat ini." Gumam Dinda.
Dilihatnya Lina yang sudah berhasil menangkap Aluna. "Naah...ketangkep kan? Hm??" Ujarnya dengan menggelitik perut sang putri, seketika tawa pecah pada keduanya.
"Ih bunda...jangan. Bunda..." Aluna berusaha menjauh dan menepis jemari bundanya yang masih menari di perutnya, menciptakan rasa geli. "Ayah..." Panggil Aluna.
Seperti tahu apa yang Aluna butuhkan, Iqbal langsung menyambar putrinya. Dengan sedikit berlari, Iqbal mengangkat aluna ke atas. Hingga kaki kedua putrinya bertengger di kedua pundaknya. "Aluna pegangan kuat kuat."
Yang di suruh hanya manut, Iqbal mulai mempercepat larinya. "Ayo bundaa!! Kejal lagi kalau bisa." Teriak Aluna.
"Kok bunda lagi? Ya udah, bunda tangkep kalian! Lihat ya..."
__ADS_1
"Hem, jadi ga sabar pengen ngelahirin. Ya walaupun kayaknya ngeri." Sahut Syifa. "Udahlah, mendingan foto foto lagi buat
di jadiin kenangan." Syifa kembali memanggil Reyhan, meminta suaminya untuk kembali memotret dirinya.
Sementara itu Aisyah dan Dinda memilih menepi, menghampiri suami masing masing. Aisyah mendudukkan tubuhnya di atas batang kayu tua yang lumayan besar, sepertinya para warga sengaja meletakkan kayu ini untuk duduk duduk santai. Dari sepanjang pantai hanya ada tiga batang kayu yang terlihat.
"Mas kok diem aja? Ga mau foto foto sama yang lainnya? Tuh mumpung kak Reyhan bawa camera." Ujar Aisyah dengan sorot mata mengarah pada Reyhan sekilas.
Fariz menggeser tubuhnya agar lebih dekat, tangannya merengkuh pinggang Aisyah dari samping. "Kamu lihat ombak itu?" Tanyanya membuat Aisyah mengernyit. Tadi yang di bahas foto kok malah nyambung ke ombak.
"Iya, emangnya kenapa?"
"Dalam bahasa cinta, ombak itu sangat gigih dalam mendapatkan pasir. Lihat itu, menggulung mendekat walaupun pada akhirnya harus terbawa arus, lalu mendekat lagi, terbawa arus lagi...sampai terus berulang ulang. Namun nyatanya ombak ga pernah berhenti untuk terus mendekat pada pasir pantai ini, dia terus berusaha. Walaupun dia tahu usaha itu akan sia-sia. Walaupun dia tahu, kalau ombak dan pasir pantai ga akan pernah bisa menyatu."
Aisyah terdiam sejenak. "Kalau ombak menyatu sama pasir, yang ada serem dong mas. Bisa bisa malah memakan korban."
"Nah makannya itu, sebenarnya pasir juga mau sama ombak. Tapi dia sadar dan tahu, kalau mereka bersatu, akan banyak hati yang tersakiti. Dan pada akhirnya pasir lebih memilih untuk menepis egonya, dia hanya diam. Tidak mendekat juga tidak menjauh, namun dia berusaha untuk membentang luas hingga susah untuk di gapai. Mereka terus bersama, mereka dekat, tapi tak pernah bisa bersatu. Kecuali kalau takdir Allah berpihak pada mereka." Jelas Fariz lagi.
Aisyah tersenyum, entah dari mana perumpamaan seperti ini bisa terlintas. Memang perlu mempertahankan dan memperjuangkan apa yang kita cintai, namun terkadang kita juga harus mengalah. Dimana segala keegoisan, harus di tepis jauh jauh...agar masih ada hati yang tetap terjaga dan tak tersakiti.
Hampir setengah jam mereka di sini, menikmati waktu bersama. Yang mungkin entah kapan bisa seperti ini lagi. Semburat orange mulai terlukis tipis di langit barat. Apa hari ini mereka akan menghabiskan senja di sini?
Kini hanya ada mereka, beberapa orang yang sempat ada di sana sudah pulang. Kebahagiaan itu terpancar dari setiap pasang keluarga.
Mereka menikmati senja dengan caranya sendiri. Jam hampir menunjukkan pukul lima sore, mereka memutuskan untuk pulang sebelum maghrib.
Aisyah dan Syifa yang berjalan paling belakang. "Syah... kok tadi tumben ya mas Reyhan kasih gue cincin." Gumam Syifa dengan melihat intens cincin yang melingkar di jari tengahnya.
"Sama ya fa, tadi mas Fariz juga tiba tiba kasih kalung." Balas Aisyah.
"Oh...jangan jangan tadi mereka pergi bareng emang sengaja mau beliin kita perhiasan. Woaah, so sweet juga ya suami kita."
"Hsst hsst...Dinda Lina."
Yang merasa terpanggil langsung menoleh
ke belakang.
"Suami kalian tadi kasih perhiasan juga?" Tanya Syifa dengan berbisik.
"Emang kenapa?"
__ADS_1
"Bukan kenapa-napa sih, cuma tadi itu mas Reyhan tiba tiba aja kasih gue cincin, Aisyah juga di kasih kalung sama suaminya."
"Oh tadi gue di kasih gelang. Nih..." Lina memperlihatkan gelang miliknya. Juga berwarna emas dengan dua buah gelang yang di jadikan satu. Bagian atas keras dan polos sedang bagian bawahnya berbentuk rantai kecil dengan love di bagian tengah.
"Wah, kalau lo din?"
"Iya di kasih, tapi anting."
•••••
20.27
Setelah selesai menyimak hafalan para santri, Dinda dan Ilham melangkah menuju rumah tamu. Khusus malam ini, mereka sempatkan untuk makan malam bersama teman-temannya. Di ruang tengah, mereka sudah berkumpul dan keduanya ikut bergabung. Tadi sebelum sampai di pesantren, mereka sempat memesan ayam geprek.
Itu karena tiba tiba saja Syifa ngidam pengen makan yang pedes pedes, jadi sekalian pesan yang banyak ayam geprek untuk makan malam bersama.
Makan di awali doa, lalu di lanjut para istri yang mengambilkan nasi sekaligus lauknya untuk para suaminya secara bergantian. Mereka ini sungguh seperti kakak adik yang sudah saling menikah dan mempunyai pasangan masing-masing. Sahabat? Kata itu seperti hilang terganti oleh kata saudara, atau bahkan keluarga.
Saat makan, hanya suara dentingan sendok yang terdengar. Sesekali suara Syifa juga mendominasi karena mengoceh enak.
"Harusnya ini beli yang lebih banyak."
"Masih laper gue nya."
"Wih sambelnya mantep banget."
"Hm hm, pesen lagi yuk."
Begitulah bumil yang satu itu, mulutnya tak lelah untuk berbicara ini itu.
Mereka menyelesaikan makan malam bersama untuk yang terakhir mungkin? Karena besok semuanya juga akan kembali berpisah. Sesekali mereka berbincang dan terkekeh, suasana kekeluargaan sangat kental ada di tengah tengah mereka.
Baiklah nikmati kebersamaan untuk hari ini, karena besok entah akan bisa seperti ini lagi atau tidak. Atau bahkan mungkin, ini benar-benar kebersamaan mereka untuk yang terakhir kalinya. Karena kita tidak tahu, apakah saat takdir mempertemukan...mereka akan bertemu dengan anggota lengkap, atau malah ada yang menghilang dan pergi. Entah tidak bisa bertemu karena suatu kendala, atau...malah memang pergi untuk selamanya.
•••••
Senja, selalu memberikan kebahagiaan dan ketenangan bagi siapa yang melihatnya. Menciptakan seulas senyum bagi siapa yang menikmatinya. Namun nyatanya semua itu tidak bertahan lama, senja yang indah akan terganti oleh hening dan sunyinya malam. Langit orange akan tergantikan oleh gelapnya malam.
Namun meski begitu, masih ada bulan dan ribuan bintang yang menemani kita. Berusaha untuk terus bertahan dalam malam yang panjang, menunggu kapan pagi datang. Hingga semua kegelapan itu tergantikan oleh terangnya pagi yang menyambut. Ayo terus melangkah, ada telapak tangan yang harus kita genggam, menuju masa depan.
-Lina-
__ADS_1
...*******...