Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Di jodohkan?


__ADS_3

Iqbal membuka pintu rumah. Dengan hatinya yang gusar memikirkan di mana Aluna berada.


"Aluna...?!" Gumaman Elin sontak membuat kepala Iqbal yang tadinya tertunduk menjadi terangkat.


Jauh di ruang makan sana, kedua netra itu menangkap sang putri tengah menyantap makanan dengan lahap. "Ya Allah Aluna..." Panggil Iqbal dengan sedikit memekik. Antara bingung dan tak percaya. Dari mana saja bocah ini?


Keduanya berjalan menghampiri Aluna. Perempuan 25 tahun itu langsung angkat bicara. "Ayah! Bunda! Dari mana aja? Kok rumah sepi tadi...??"


"Harusnya ayah yang tanya sama kamu lun, kamu dari mana aja? Kenapa ga ada di rumah?"


"Hehehe, Aluna habis dari makamnya bunda Lina."


"Kenapa ga izin sayang?" Tanya Elin.


"Soalnya tadi Aluna kangeen banget sama bunda. Kepikirannya cuma pengen cepet-cepet ketemu sama Bunda Lina. jadi ga kepikiran buat izin. Maaf."


"Tadi kamu jalan kaki?"


"Iya..."


"Ya Allah lun, kan makamnya bunda jauh. Kamu bikin ayah khawatir aja! Jangan di ulangi! Kalau kamu pergi izin dulu, kalau kangen sama Bunda bilang sama Ayah. Ada ayah yang bakal nganter kamu ke sana. Paham?!"


Aluna mengangguk sebagai jawaban.


"Hari ini ga ke rumah sakit?" Tanya Elin.


"Libur dulu bun, dokter juga butuh istirahat." Jawab Aluna, lalu kembali menyantap nasi goreng di depannya.


Melihat tingkah putrinya yang begitu santai padahal dirinya khawatir, Iqbal hanya bisa menghela panjang. "Ya udah, ayah pergi ke kantor dulu."


"Maaf ya yah, ke kantornya jadi telat gara gara Luna."


"Hm..." Iqbal mengangguk dengan mengulurkan tangan, yang langsung di sambut dan di cium oleh sang putri. Begitu juga dengan Elin.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam." Jawab anak dan ibu secara bersamaan.


Beberapa saat setelah Iqbal pergi, Elin bergerak merapikan meja. Hendak membawa sisa sisa alat makan yang kotor untuk ia cuci di dapur.


"Eh bunda..." Namun tangannya tiba tiba di cegah Aluna. "Ga usah, udah biar aku aja yang cuci."


"Ya udah, ini bunda mau taruh di dapur. Nanti kamu cuci ya?!"


"Ga usah juga, biar Aluna aja yang bawa. Bunda istirahat aja hari ini. Mumpung aku di rumah, lagi pula juga ga bisa setiap hari aku bantuin bunda terus kan?!"


Elin menarik kursi, duduk di samping Aluna. "Terus bunda ngapain hari ini?"


"Istirahat. Tiduran, makan..."


"Hemm justru itu, kalau bunda tiduran terus yang ada malah pusing."


"Bun, sekali aja deh nurut sama Aluna. Aluna ga mau bunda kecapekan. Terus nanti sakit gimana?"


"Terus kenapa kalau bunda sakit? Kan ada kamu yang bisa obatin dan rawat bunda." Balas Elin.


Aluna terdiam lama. Kini mereka saling bertatapan.


"Bukan masalah itu..." Suara Aluna merendah. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu kembali berucap dengan menahan air mata yang sudah terkumpul di pelupuk matanya.


"Aluna cuma ga mau kehilangan sosok bunda lagi...Aluna pengen bunda sehat terus, dan selalu ada buat kita semua sampai kapanpun." Ujarnya dengan sorot mata sayu menatap Elin.


•••••


Ting tong, ting tong!


Aluna menoleh sekejap ke arah pintu, dengan cepat ia langsung meninggalkan pekerjaannya yang tengah membersihkan ruang tamu. Berlari cepat menuju kamar untuk mengambil hijab.


Beberapa menit, bel dari luar masih berbunyi. "Iya, sabar!" Ujarnya setengah berteriak dari dalam.


Pintu ia buka. Matanya langsung menangkap sosok pria yang ia kenal. "Kevin? Kok bisa tahu alamat rumah aku."


Cowok itu tersenyum. "Apa yang nggak aku tahu tentang kamu." Mata kevin mulai menelisik ke dalam rumah. "Oh, jadi ini rumah lo yang baru?"


"Bukan baru, udah dari lama kok."


"Iya in deh."


"Ya udah masuk vin."


Kevin mengangguk.

__ADS_1


Dia berjalan di belakang Aluna yang mengarahkan ia untuk duduk di sofa tamu. "Lagi beres beres?" Tanya Kevin saat melihat sebuah kemoceng tergeletak di atas meja.


"Iya. Mumpung hari ini libur." Dengan mengambil kemoceng di atas meja, Aluna bertanya "Mau minum apa?"


"Terserah."


"Jawabannya kayak cewek ih." Balas Aluna dengan terkekeh. "Ya udah tunggu bentar, aku buatin es sirup dulu ya..."


"Ya."


Dengan langkah cepat Aluna pergi ke dapur. Membuatkan minuman sekaligus menyiapkan kue kering sebagai jamuan. Setelah semuanya tertata di atas nampan, ia membawanya ke arah depan. Menaruh segelas minuman dan setoples kue kering di atas meja.


"Silahkan..."


Kevin mengangguk. Tangannya lebih tertarik mengambil kue dari pada minuman, lalu memakannya. Satu gigitan, ia menoleh ke arah Aluna. "Yang buat lo?"


"Bukan. Lagi pula aku mana ada waktu buat bikin kuker kayak gitu. Orang tiap harinya ke rumah sakit."


"Berarti lo ga bisa masak?"


"Ih ngeledek."


Alis kevin saling bertautan. "Kok ngeledek? Gue tanya Lun."


"Pertanyaan berkedok ngeledek itu. Yah bisa lah, walaupun masakan aku masih belum seenak bunda."


"Ya banyakin belajarlah, biar bisa masakin yang enak buat suaminya." Balas Kevin lalu berdehem.


"Emm...nanti juga pasti belajar kalau udah jadi istri."


"Kapan nikah?"


Aluna terdiam lama saat temannya melontarkan pertanyaan tersebut.


"Nikah? Calonnya aja belum dapet."


"Ehm."


"Kalau kamu kapan nikah?" Kini gantian Aluna yang bertanya.


Kevin menyandarkan tubuhnya. Dengan menahan senyum ia menatap Aluna.


Sontak jawaban itu membuat Aluna sedikit terkejut. "Udah punya calon? Siapa namanya? Lagi nunggu apa? Kuliah? Atau apa?"


"Lagi nunggu calonnya peka sama apa yang gue omongin."


Aluna terdiam bingung. "Peka?" Gumamnya bertanya. Setelahnya itu ia kembali bodo amat.


"Ya udah sih, aku bodo amat. Asalkan nanti kalau nikah, jangan lupa kamu ngundang aku."


"Ya pasti ngundang lah, kan kamu yang bakal duduk di samping aku."


Keduanya terdiam. Yang satu terdiam ingin melihat respon, yang satu terdiam bingung mencerna.


Tak lama, Aluna tertawa. "Kevin...kevin. Kok aku? Ya calon istri kamu lah yang bakal duduk di samping kamu nantinya. Nanti kalau aku malah jadi apa?"


Kevin menghela panjang. Dengan mengumpat geram ia berkata lirih. "Gitu aja ga peka. Heran gue, padahal dokter lhoh. Harusnya pinter nangkep omongan gue."


"Aluna!"


Keduanya menoleh ke arah tangga rumah. Di mana Elin tengah berjalan turun dan menghampiri mereka.


"Ini temenmu?"


Aluna mengangguk. "Ini kevin. Bunda masih inget?"


Mata Elin langsung beralih melihat Kevin yang berdiri. Tak lama ia manggut-manggut.


"Tante..." Kevin mengulurkan tangan hendak menyalami, namun dengan cepat Elin menangkupkan kedua tangannya.


Mengerti, Kevin pun melakukan hal yang sama. Menangkupkan tangan dengan tersenyum. "Tente boleh kan ikut ngobrol sama kalian?"


"Oh ga papa dong tante."


•••••


"Hati hati...da!" Sambil melambaikan tangan dan tersenyum ke arah Kevin yang mulai melajukan mobilnya.


"Lun."


Aluna menoleh.

__ADS_1


"Bunda tahu kamu sama Kevin dulu deket banget, tapi saat ini kamu udah dewasa jadi harus bisa jaga jarak. Hindari interaksi yang ga penting sama Kevin, terlepas dia temen atau sahabat kamu, tapi tetep kamu jangan sampe melanggar batas aturan agama. Paham kan?" Nasehat Elin.


Aluna tersenyum. "Iya bunda. In Syaa Allah. Emang sih, kalau bagi Aluna menjaga interaksi sama lawan jenis masih susah. Tapi tetep di usahakan."


Elin mengangguk. "Ya udah, yang penting kamu selalu ingat pesan bunda." Setelah mengucapkan itu Elin berlalu masuk ke dalam rumah.


Meninggalkan Aluna yang menghela pelan dengan sebuah senyuman. Ia terdiam dengan memandangi punggung sang bunda yang tengah berjalan. Dalam hatinya rasa syukur itu kembali hadir saat mengingat bagaimana perlakuan Elin selama ini.


Di luar sana, mungkin tak banyak yang seberuntung dirinya. Mendapatkan sosok ibu sambung yang begitu baik dan penyayang.


"Ya Allah terima kasih, Engkau telah menghadirkan bunda Elin setelah bunda Lina pergi."


•••••


21.56


Aluna membuka pintu kamar. Dari lantai atas, terlihat kedua orang tuanya yang masih menonton TV bersama. Membuat hatinya tergerak untuk menghampiri dan ikut duduk bersama mereka.


"Ayah, bunda, Raka kapan pulang?" Tanyanya beberapa saat setelah ia mendudukkan diri di sofa empuk ruang keluarga.


"Nggak tahu, paling besok." Jawab Elin.


"Lun..." Iqbal meletakkan laptop yang tadinya ia pangku di atas meja. "Gimana tentang puskesmas yang mau kamu bangun? Jadi kapan rencananya?"


"Oh itu,,, iya Aluna belum mikirin kapan. Tapi, ini udah dapat lahan buat bangunannya."


"Lhoh, kamu mau bangun puskesmas dimana?" Tanya Elin ikut nimbrung.


"Di kampung pasir putih bun. Di sana tingkat kesehatannya rendah. Mau berobat pun susah. Jadi, Aluna pengen bantu mereka melalui pengobatan gratis."


"Masya Allah anak bunda..." Elin mencium kening Aluna. "Mulia banget niat kamu."


"Iya makannya itu cepet cepet di bangun aja." Sahut Iqbal. "Atau gini, masalah pembangunan biar ayah yang urusin. Nanti kamu kasih uangnya ke ayah berapapun yang kamu punya, kurangnya pakai uang ayah."


Aluna mengangguk senang. "Iya..."


"Besok ajak ayah ke sana, bisa?"


"Emm...ga tau yah. Nanti lihat kondisi."


Iqbal tersenyum lalu mengangguk. "Kapan kamu punya waktu luang buat ke sana, langsung bilang."


"Iya ayah."


Suara deringan ponsel mengalihkan perhatian ketiganya. "Sebentar." Iqbal mengambil ponsel dengan berdiri lalu berjalan keluar untuk mengangkat telepon.


•••••


Tok tok tok!


"Kak!"


Aluna menoleh ke arah pintu. "Raka?"


Cepat cepat ia beranjak dari kasur dan membuka pintu. Benar saja, sang adik tengah berdiri di hadapannya. "Kapan pulang?"


"Barusan." Jawab Raka yang langsung nyelonong masuk ke dalam kamar Aluna. Membaringkan tubuhnya di sana.


Aluna menutup pintu, berdecih kecil saat melihat tingkah sang adik yang di rasanya kurang sopan. "Mau masuk kamar permisi dulu dek!"


"Ya ga papa. Kak, tolong pijitin gih!"


Aluna melotot. "Enak aja! Nggak!"


"Ya Allah kak, aku capek ini. Banget! Tolong dong...masa suruh pijitin ayah bunda, kan ga sopan." Raka menatap sang kakak dengan tatapan memohon. "Ayolah, plis. Remuk semua ini rasanya."


"Salah sendiri, siapa suruh daki gunung?!" Balas Aluna dengan judes, sedikit tidak ikhlas ia mulai memijat tangan Raka.


Dengan santainya Raka menjawab. "Namanya juga hobi."


Beberapa saat keduanya terdiam, kesunyian itu terpecah saat Raka bertanya sesuatu. "Btw, emang bener kakak mau di jodohin?"


Gerak tangan Aluna terhenti. Ia melirik Raka. "Ngomong apa sih?"


"Aku tanya kak. Soalnya tadi waktu aku sampe, kebetulan pas ayah teleponan di luar. Bukan nguping, tapi ga sengaja denger. Katanya ayah punya rencana buat jodohin kakak." Penjelasan Raka membuat Aluna sedikit tersentak kaget. Apa iya benar?


"Salah denger kali."


"Nggak mungkin lah." Jawab Raka yakin.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2