Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Tentang Durian


__ADS_3

Satu bulan berlalu....


Sudah satu bulan usia pernikahan mereka saat ini. Satu bulan mereka jalani layaknya seperti seorang pasangan normal. Tidak ada perdebatan, semuanya berjalan baik baik saja. Saling memberi perhatian, kasih sayang dan saling mengerti satu sama lain.


Jam 03.57 Fariz terbangun dari tidurnya. Tangannya meraba tempat tidur di sampingnya. Kosong. Matanya mengarah pada depan. Dalam keadaan gelap, Aisyah duduk di atas sajadahnya dengan memurajaah hafalannya. Gadis itu terlihat menggunakan mukena, mungkin sudah selesai sholat tahajud. Maka Fariz langsung bangun, dia berjalan ke arah toilet untuk mengambil wudhu. Menggelar sajadah, lalu mulai menunaikan sholat tahajud dua rakaat. Di lanjut dengan dzikir dan doa. Saat sudah selesai, Fariz langsung mendekatkan dirinya pada Aisyah. Dia menyandarkan kepalanya di pangkuan gadis yang tengah duduk bersila. Mendengarkan bacaan Ayat Al Qur'an yang sedang di baca istrinya.


وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ(١٣)وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ(١٤) وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ(١٥)


“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."


Bacaan itu terus terdengar hingga perlahan Fariz memejamkan matanya. Tertidur di pangkuan Aisyah. Tepat lima menit sebelum adzan subuh, Aisyah mengakhiri bacaannya dengan membaca Tashdiq. Matanya yang sedari tadi terpejam saat membaca Al Qur'an melihat ke arah bawah. Memandang Fariz dalam kegelapan yang kini benar benar dekat dari matanya. Akhir akhir ini laki laki itu memang sering tidur di pangkuannya.


Tangan Aisyah mulai menyentuh puncak kepala Fariz, mengusap nya dengan pelan. Sembari mulutnya yang kembali mengucap dzikir. Suara adzan mulai terdengar tanpa terasa, lima menit secepat itu berlalu. Aisyah mulai membangunkan Fariz.


"Kak, bangun udah adzan..." Ujarnya lirih. "Kak bangun...." Aisyah menepuk nepuk pipi Fariz dengan pelan. "Kak,,, sholat subuh udah adzan."


Fariz mulai membuka matanya, dia terbangun dan mengambil posisi duduk. Rasanya selalu lelap bila dia tidur di pangkuan Aisyah. Nyaman saja. "Gue ambil wudhu dulu ya..." Aisyah mengangguk. Fariz berdiri dan berjalan ke toilet. Setelah selesai, kini giliran Aisyah yang masuk ke toilet untuk mengambil wudhu. Keduanya langsung melakukan sholat subuh. Dengan posisi Fariz di depan, dan Aisyah di belakangnya bagian kanan. Mereka sholat berjamaah, Imam dan Makmum. Saat Fariz membaca Al Fatihah, Aisyah yang mengaminkan, saat Fariz meramalkan doanya setelah habis sholat juga Aisyah yang mengaminkan. Satu amin dalam sholat Dan doa mereka.


Setelah berdoa, Fariz membalikkan badan. Aisyah mulai menyalami dan mencium punggung tangan suaminya. "Syah..." Panggil Fariz. Aisyah mengangkat kedua alisnya. Menanyakan ada apa?


"Lepas mukena Lo..." Pintanya.


Aisyah mengangguk.


Tanpa basa basi dia mengambil kerudung yang tersampir di sofa. Lalu mukenanya mulai di lepas, namun tidak sepenuhnya. Hanya setengah. Tangan Aisyah mulai menyelip masuk ke dalam, dan memakai jilbab di dalam mukena. Fariz pun hanya bisa terdiam melihat istrinya, mengapa gadis itu enggan sekali untuk memperlihatkan rambutnya? Sekalipun itu kepada dirinya.


"Syah..." Panggil Fariz kepada Aisyah yang tengah melipat mukena saat jilbab sudah benar benar terpasang sempurna menutupi auratnya. "Gue pengen lihat Lo tanpa hijab." Ujar Fariz jujur.


"Hm? Tapi... Aisyah malu."


"Kok malu? Kenapa?" Tanya Fariz. Selama pernikahan, dia selalu terbayang bayang dengan rambut Aisyah. Membayangkan bagaimana bila istrinya itu melepaskan hijabnya, memperlihatkan bagaimana kondisi rambutnya. Luruskah? Kriting kah? Pendek atau panjang? Banyak atau sedikit? Lepek atau tidak. Itu yang selalu di bayangkan.


Namun Aisyah tidak pernah memberinya kesempatan untuk itu semua. Dia selalu melepas hijabnya bila di toilet saja. Selain itu tidak pernah. Bahkan tidur pun selalu dia pakai. Seolah dia tidak mau memperlihatkan auratnya kepada siapapun kecuali dirinya. Karena jilbab sudah sangat melekat pada diri Aisyah. Ibaratnya sama seperti baju yang sudah melekat pada diri kita. Yang mana pasti kita akan keberatan dan malu bila di lepas di depan orang, sekalipun itu suami.


"Kapan kapan aja ya. Aisyah mau ke dapur, bantuin mama masak. " Jawab Aisyah dengan tersenyum lalu berdiri. Melepas bawahan mukena dan melipatnya bersama sajadah. Menaruhnya di atas sofa. Dia mulai berjalan keluar. Saat dua langkah kakinya berjalan, Fariz memegang pergelangan tangannya. Menahan, agar gadis itu tidak pergi terlebih dahulu.


Fariz berdiri, memposisikan badannya tepat di depan Aisyah. "Syah, satu kali ini aja ya. Buka hijab Lo. Gue pengen lihat." Ujar Fariz yang sungguh mati penasaran.


Aisyah menghela pelan. Ya dia tahu itu halal. Ah, tapi tetap saja yang namanya tidak terbiasa ya mau di apakan lagi? Bahkan dia jarang membuka jilbab di depan umi Abinya. Fariz memberikan tatapan yang paling serius kepada Aisyah. "Syah..." Panggilnya membuat Aisyah yang tadinya menunduk, mengangkat kepala menatapnya.


Tangan Fariz mulai terangkat. Hijab Aisyah mulai di pegangnya, lalu di tarik secara perlahan hingga benar benar lepas. Melemparkan hijab itu di atas kasur begitu saja. Sebenarnya Aisyah ingin menahan, namun ya bagaimana. Dia hanya bisa terdiam.


Fariz terdiam. Rambut gadis itu tengah di kuncir kuda. Kakinya mulai melangkah mendekat. Badannya sedikit ia condongkan


ke depan. Tangannya mulai menyelinap ke belakang gadis itu, memegang kuncir lalu menariknya secara perlahan. Aisyah hanya terdiam memaku. Dia menahan nafas saat dada bidang Fariz begitu dekat dengan wajahnya. Bakan aroma dari lelaki itu begitu mudah tercium oleh hidungnya.


Saat kuncir Aisyah sudah terlepas, Fariz kembali memposisikan badannya seperti semula. Terdiam, terpana melihat rambut Aisyah yang begitu tebal dan hitam dengan panjang melebihi bahu. Lurus namun sedikit bergelombang di bagian bawahnya. Bibirnya mulai tersenyum melihat itu.


Fariz berjalan ke arah meja lampu tidur, mengambil kotak persegi panjang berwarna merah yang baru di belinya kemarin. Dia kembali berjalan ke arah Aisyah. "Coba deh pakai ini..." Ujarnya memperlihatkan sebuah kalung emas di dalam kotak itu.


Aisyah mengangguk. Dia membalikkan badan membelakangi Fariz. Semua rambutnya di jadikan satu dan di arahkan seluruhnya ke bagian samping kanan. Tangan Fariz mulai mengarah ke depan. Memasangkan kalung itu di leher istrinya.


"Gimana?" Tanya nya. Aisyah kembali menghadapkan tubuhnya menghadap Fariz.


"Bagus kak." Jawabnya dengan tersenyum.


Melihat kalung yang begitu cocok di pakai oleh istrinya membuat Fariz semakin terdiam mencerna kecantikan yang saat ini dilihat nya. Kepalanya mulai terarah maju, mendekat


ke telinga Aisyah. "Lo cantik." Bisiknya dengan jarak yang begitu dekat.


Kedekatan itu yang membuat jiwa jahilnya muncul. Bibirnya yang tadi membisik ke telinga Aisyah, mulai di arahkan ke samping. Perlahan kepalanya maju, hingga jarak antara bibirnya dan pipi Aisyah tak lagi bisa di hitung entah berapa 0, cm saat ini.


Sedikit lagi, begitu dekat. Sedikiiiit lagi hampir kena dan


Tok tok tok...


Aisyah langsung bergerak cepat mengambil hijabnya. Memakainya secara asal dengan cepat. Hal yang membuat Fariz mendengus kesal. Pintu terbuka.


"Hei, lagi apa kalian? Berduaan terus." Ujar mama Fariz dengan masuk ke dalam. "Ini mama buatin teh anget, kan ini lagi dingin.


Di minum ya..."


"Iya ma. Makasih." Balas Aisyah.


"Iya sama sama."


"Ma, pagi ini mama mau masak apa buat sarapan?" Tanya aisyah.


"Nasi goreng aja."


"Aisyah bantuin ya."


"Oh nggak usah. Cuma nasi goreng."


"Nggak papa ma. Aisyah bantuin ya..."


"Ya udah, mama tunggu di dapur." Jawab mamanya lalu kembali pergi.


"Syah..." Panggil Fariz dengan nada Masih kesal.


"Iya?"


"Nanti aja bantuin mamanya, di sini dulu sama gue."


"Kalau nanti, keburu udah selesai masaknya kak. Ya udah ya Aisyah pergi dulu." Ujarnya dengan melangkah namun lagi lagi di tahan oleh Fariz.

__ADS_1


"Syah, kita kan belum pernah malam pertama..." Ucap fariz. "Jadi gue pengen belah duren sama lo. Ya...walaupun terlambat."


Aisyah tersenyum. "Lhoh kok terlambat? Nggak ada kata terlambat. Ya udah nanti kita belah duren sama sama."


Fariz tersenyum lebar. Huh, hatinya bersorak ria dengan semangat. "Yakin?"


"Iya. Tapi Aisyah bantuin mama dulu ya..."


Fariz mengangguk mantap. Setelah mendapat izin, aisyah berjalan keluar.


Fariz mengepalkan kedua tangannya. "YES...!! Akhirnya yang gue tunggu tunggu!!" Soraknya yang begitu senang tak tertahan seperti seseorang yang baru saja memenangkan sebuah perlombaan berharga dan bergengsi.


•••••


Fariz berjalan ke arah dapur. Dia akan bertanya dan menagih kapan hal itu akan di lakukan. "Ma, Aisyah kemana?" Tanya nya saat tidak mendapati Aisyah di dapur.


"Oh tadi kan mama suruh Bu Inah buat belanja bahan bahan masak di pasar. Terus Aisyah ikut, katanya ada yang dia mau beli sekalian."


Fariz mengangguk. "Lama ga ma?"


"Mungkin. Soalnya tadi belanjaannya banyak."


"Baru berangkat atau udah dari tadi."


"Baru. Mau ngapain emangnya? Tadi kan kamu udah berdua-duaan sama Aisyah. Belum puas?"


"Ya belum lah ma. Kan tadi belum apa apa malah mama datang."


"Emangnya apa apanya ngapain?" Tanya kaila yang tiba tiba datang.


"Bercocok tanam." Jawab Fariz dengan rasa senang.


"Ya udah, sambil nunggu mbak Aisyah pulang kan bisa tuh nyiapin bahan bahannya." Balas kaila enteng.


"Emang Lo tahu bahan bahannya apa aja?"


"Ya tahu lah. Gampang."


"Lo udan pernah??" Tanya Fariz was-was.


"Ya udah lah. Gitu doang ma,,, masak ga pernah!"


"SAMA SIAPA??! HA?" Tanya Fariz marah. Bisa bisanya masih kecil sudah melakukan hal seperti itu.


Kaila mengerutkan keningnya. "Lhah kok ngamok sih?"


"YA KAMU SAMA SIAPA? KALAU SAMPE DIA GA MAU TANGGUNG JAWAB GIMANA KALAU SAMPE TERJADI APA APA SAMA KAMU! KAMU ITU MASIH KECIL JAGA PERGAULAN!"


Kaila semakin terlihat bingung. "Tunggu tunggu, kok sampe tanggung jawab? Jaga pergaulan? Emang apa yang salah sama cocok tanam bang?"


"Fariz tenangin emosi kamu." Ucap mamanya.


"Ga bisa tenang ma. Bisa bisanya dia...kalau sampe hamil gimana? Kaila masih kecil!!"


"Eh bang! Ngadi Ngadi lo!!! Kenapa sampe bahas hamil sih??! Gini ya bang, kita kan bercocok tanam. Nah harus di siapin dulu kan bahannya. Contohnya kayak bibit anggur, pupuk, tanah yang subur, air kayak gitu. Ini Abang kenapa sih?" Tanya kaila kesal. "Semua orang kan boleh bercocok tanam, kenapa harus jaga pergaulan? Sampe bahas bahas hamil!! Bukannya kalau bercocok tanam itu bagus. Nanti kalau pohonnya tumbuh, kita yang akan menuai. Buahnya yang enak, bunganya yang bagus, pohonnya yang rindang. Gimana sih? Abang kesurupan apa dah???"


"Maksut Lo bercocok tanam di tanah?? Yang pohon itu?" Tanya Fariz.


"Ya iya!! Emang bercocok tanam di mana?? Di kamar? Di genteng? Di toilet? Ngadi Ngadi lo bang!! Mana bisa tumbuh pohonnya."


Mama Fariz terdiam menahan tawa atas kesalahpahaman kecil yang terjadi. Fariz menghela lega. Untung adiknya masih polos.


"Jadi, bang Fariz mau bercocok tanam buah apa?? Atau tanaman apa?" Tanya kaila.


"Nggak paham Lo. Masih kecil."


"iih, gede gini di bilang masih kecil."


Fariz berjalan keluar dapur. Dia berjalan kembali ke arah kamar.


•••••


Tok tok tok...


Aisyah membuka pintu. "Kak, sarapan dulu."


Fariz langsung turun dari kasur dan bergegas mendekat. "Syah kapan?"


"Kapan apanya?"


"Belah duren." Jawab Fariz.


"Oh, nanti ya kalau habis sarapan."


"Yakin kalau habis sarapan? Nggak malem aja."


"Habis sarapan aja. Tapi kalau di double sama malam ya ga papa."


Mata Fariz membulat. "Wah yakin??" Tanya nya semangat. Hatinya begitu menggebu-gebu.


"Iya. Tapi sarapan dulu ya."


Fariz mengangguk.


Keduanya langsung berjalan ke arah meja makan. Sarapan bersama sama pagi ini. Sedari tadi, Fariz hanya bisa senyam senyum dengan menatap Aisyah. Rasa ketidaksabaran nya terus meningkat. Membayangkan gerakan seperti apa yang akan dia lakukan bersama Aisyah. Fariz mempercepat makannya. "Udah habis, Syah ayok ke kamar." Ajaknya.

__ADS_1


"Lho Riz, kok buru buru??" Tanya mamanya.


"Eh bentar ya kak. Aisyah belum habis makannya. Habis ini, Aisyah harus bantu Bu Inah cuci piring nya dulu."


"Udahlah Riz, duduk dulu. Biarin Aisyah makan." Sahut papanya.


Fariz menghela pelan. Dia kembali duduk di kursinya, melatih hatinya untuk Sabar.


Setelah semuanya selesai, Aisyah membereskan semua piring dan menaruhnya di dapur untuk di cuci. Setelah semua piring sudah di bereskan, dirinya langsung membersihkan meja dan menatanya agar terlihat rapi seperti sedia kala.


"Syah, udah belum beres beresnya?" Tanya Fariz.


"Udah kok."


"Ya udah, kalau gitu sekarang ayok."


"Belah duren?" Tanya Aisyah memperjelas.


"Iya."


"Oh kalau gitu tunggu...sebentar." Ucap Aisyah dengan berjalan menuju dapur. Tak lama dia kembali dengan membawa tas belanjaannya. Menaruhnya di atas meja. Mengeluarkan apa yang ada di dalamnya.


"Tadaaa....nah ini kak. Sekarang ya belahnya. Aisyah ambilin pisau dulu."


"Hah??"


"Hah? Hah apa?" Tanya Aisyah saat melihat Fariz yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Entah tatapan apa itu, dia tidak bisa menjelaskan.


Aisyah mempercepat langkah kakinya untuk mengambil pisau dan membawanya ke meja makan. "Kakak tahu ga, ini itu duriannya montok montok. Aisyah pilihin yang besar, yang dagingnya tebel biar lebih puas."


Seketika kaki Fariz melemas. Dia menatap Aisyah kecewa. Rasa bahagia dan semangat nya hilang. Hal hal indah sudah terbayang di pikirannya, namun ternyata istrinya tidak seperti yang dia duga. Masih polos.


"Terus ini tadi Aisyah beliin empat sekalian, biar bisa di makan bareng bareng." Ujar Aisyah lagi. Dengan mengeluarkan sisa durian yang masih ada di tas belanjaannya.


"Wih,mbak beli apa nih?" Tanya kaila yang baru datang.


"Durian. Mau?"


"Boleh. Cuma beli durian mbak? Nggak beli buah lain?"


"Kak Fariz pengennya belah durian. Bukan belah buah yang lain."


"Oh gitu. Kenapa ga sekalian beli semangka? Biar bisa belah semangka. Seger banget tau pas di makan siang siang."


"Ya udah kak ini pisaunya." Aisyah mendekatkan pisau ke arah Fariz. Dengan rasa kesal, kecewa, lemas dan rasa lainnya yang ada karena kebahagiannya runtuh seketika Fariz mulai membelah durian. Huuh, kesal sekali rasanya.


"Ayo belah durennya...belah durennya....belah durennya sekarang juga....sekarang juga...sekarang juga!!" Nyanyi kala dengan bertepuk tangan. Sudah lama dia tidak makan si raja buah ini, tentu saja kangen. "Ayo dong bang, yang semangat dikit. Lemes amat. Kalau mau belah duren itu harus punya tenaga ekstra." Ujar kaila. "Mbak, tadi bang Fariz juga mau bercocok tanam lhoh sama mbak."


"Oh ya? Kapan kak? Kakak mau tanam apaan?"


"Ga jadi." Jawab Fariz jutek.


"Kenapa?"


"Kasihan istri gue."


Aisyah terdiam bingung. "Aisyah maksutnya? Kok kasian sama Aisyah. Kenapa?"


"Gue ga mau merusak kepolosannya."


Aisyah mengernyit bingung. Meskipun banyak pertanyaan tentang jawaban Fariz di pikirannya, namun dia memilih untuk diam.


Saat durian benar benar membelah jadi dua, Fariz langsung berjalan menjauh. Dia sama sekali tidak suka dengan baunya juga rasanya. Ia menjepit hidungnya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. Tidak rela bila bau durian itu masuk menelisik lubang hidungnya, menggelitik bulu-bulu halus hidungnya dan mengganggu ketentraman masyarakat yang tinggal di dalamnya. Yang membuatnya tidak nyaman dan ingin muntah bila sampai bau itu masuk.


"Kak, kenapa di situ? Ini duriannya di makan." Ujar Aisyah.


"He'em enwak bangwet lho bwang!!" Jawab kaila dengan mengunyah lahap durian tersebut. "Montok montok, dagingnya twebel. Enak. Cobain deh bang."


"Nggak! Gue ga suka."


"Tapi tadi kakak yang minta buat belah duren kan? Kok sekarang jadi ga suka?" Tanya Aisyah. Padahal tadi dia yang meminta minta, dan saat Aisyah mengiyakan Fariz juga terlihat begitu senang dan semangat.


"Bukan durian buah yang gue maksud!" Jawab Fariz lalu berjalan pergi. Bau duriannya yang begitu menyengat tak bisa ia tahan untuk tidak masuk ke dalam lubang hidungnya.


"Bukan durian buah? Terus durian apa?" Gumam Aisyah bertanya tanya bingung.


Kaila pun ikut terdiam. Dia mulai mengambil ponselnya. "Coba search di google ah..." Gumamnya mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. Beberapa saat mulutnya menganga.


"Hah? Jadi yang di maksud duriannya itu mbak."


Aisyah semakin di buat kebingungan olehnya. "Aku jadi durian?" Tanya nya tidak paham.


"Bukan, duriannya itu di ganti sama mbak."


Aisyah terdiam. Belah duren. Kalau duriannya di ganti dirinya maka yang di belah?? Aisyah menganga. Dia meraba tubuhnya. "Hah? Berarti nanti tubuh mbak yang di belah belah dong?! Kalau di belah belah kan mbak jadi meninggal..." Jawabnya antara takut dan khawatir.


"Kenapa jadi meninggal?"


"Kan tubuh mbak di belah belah pakai pisau sebagai gantinya durian gitu kan? Jadinya nanti mbak kan bisa meninggal kalau di belah belah." Jawab Aisyah ngeri ngeri sedap membayangkan hal itu. Tidak tidak,,, dia tidak akan melakukan hal itu. Ya, dia tidak akan belah duren bersama Fariz. Tidak akan pernah. Dia masih sayang dengan nyawanya. Dia ingin mati baik baik,, bukan dengan di belah seperti itu. Kejam sekali.


"Aduuh mbak bukan gitu maksutnya!!! Ini lho..." Kaila menyodorkan hasil penelusuran nya agar bisa di baca oleh Aisyah.


Setelah membacanya, ada sedikit rasa lega di hatinya. Namun tetap saja, dia tipe orang yang mudah geli. Kalau soal itu, dirinya juga masih enggan untuk melakukannya. Huuh,, setidaknya nyawanya tidak akan melayang.


Dari lantai atas, Fariz yang sedari tadi sebenarnya mengamati pembicaraan mereka langsung menepuk jidatnya. "Ya Allah,,, kenapa istriku begitu polos??" Tanya nya mengadu.

__ADS_1


...******...


__ADS_2