Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Awal Baru


__ADS_3

8 Tahun kemudian...


Seorang gadis dengan menggunakan baju navy serta hijab pashmina panjang berwarna senada itu tengah terduduk di kursi bandara. Dengan dua koper yang berdiri di depan dirinya dan tas selempang yang tergeletak di sisi kanan nya. Di pangkuannya, dirinya sedang mencoretkan tulisan di sebuah buku diary berwarna pink miliknya.


Langkah demi langkah, hari demi hari


Di atas ombak kita berjalan,


Di atas badai kita berlari,


Karena bertahan bukan lagi pilihan,


Namun sebuah keharusan.


Dirinya menutup buku saat suara pengumuman akan keberangkatan pesawat itu terdengar. Dengan cepat dirinya langsung memasukkan bukunya di tas selempang, dan membawa dua koper di tangan kanan dan kirinya.


••••••


20.08


Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.


Dengan berjalan pelan sembari menyeret kedua kopernya, gadis yang kini sudah berusia 26 tahun ini menyapu pandangannya ke seluruh area bandara. Sangat ramai. Dia mulai berjalan mencari mushola yang ada di sana untuk melaksanakan sholat. Sesampainya di mushola, dirinya langsung berjalan mengambil wudhu dan menunaikan sholat. Mengusir segala lelahnya hari ini. Penerbangan yang memakan waktu 9,5 jam pastinya sangat melelahkan. Namun sholat, harus tetap di utamakan. Terlepas dari rasa lelah sekalipun.


Wajah yang masih basah oleh air wudhu itu, dengan khusyu' mulai membaca Al Fatihah, ayat pendek dan bacaan sholat lainnya dengan tetap memperhatikan makharijul huruf dan panjang pendeknya. Selesai, langsung ia lanjut dengan berdzikir lalu berdoa. Mengucapkan segala rasa syukur atas apa yang telah Allah beri untuknya.


Setelah selesai gadis itu langsung melipat mukenanya, dan kembali memasukkan ke dalam tas nya. Dia mulai berjalan keluar dan duduk di sebelah koper yang ia tinggal di depan mushola. Setelah mengambil ponsel di tas nya ia lalu kembali mengaktifkan kembali hp nya. Beberapa saat setelah ponselnya kembali aktif, nada dering ponsel terdengar pelan. Ia langsung mengangkat teleponnya.


"Halo, Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam. Kamu sudah sampai bandara?"


"Sudah pak lek."


"Sekarang kamu di mana?"


"Di mushola dekat bandara."


"Oh iya ya. Kamu tunggu di sana ya. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Sambungan terputus.


Gadis itu terdiam. Jemarinya mulai mencari nama yang ada di kontaknya. Lalu memencet dan membaca semua chat yang ada dari awal. Tidak banyak. Hanya beberapa pesan yang ada. Namun perlahan, mampu membuat nya tersenyum dengan menatap lama layar ponselnya. Rasa rindu kembali membelenggu dalam hatinya. Entah bagaimana keadaannya sekarang? Di mana dia? Apakah baik baik saja? Yang pasti dia selalu ada di dalam ceritanya kepada Allah, ceritanya akan rasa rindu yang ingin segera bertemu. Senyumannya semakin lebar saat pikirannya melayang pada masa masa itu.


"AISYAAAH..!!"


Dirinya terkejut. Pandangannya mulai teralihkan ke depan, melihat pamannya yang berjalan cepat menghampirinya.


Aisyah tersenyum lalu berdiri. Ia berjalan mendekat. "Pak lek..!" Panggilnya dengan menyalami tangan lelaki yang berusia 35 tahun itu. Dia adalah adik kandung uminya, dan anak ke tiga dari neneknya. Maka masih mahram dalam nasabnya. Dan kebetulan pamannya ini tinggal di Jakarta.


"Wah wah...ini kamu toh??" Tanya nya membuat Aisyah mengangguk. "Ya Allah,, cantik banget lho sekarang kamu." Ujarnya membuat Aisyah tertawa kecil.


"Eh tapi pak lek, kok cepet banget nyampek nya?"


"Tadi pak lek pas telepon kamu udah ada di depan sana. Pak lek kan ga mau buat kamu nungguin kelamaan, nanti malah tambah capek, ya sudah, langsung pulang ya."


"Iya"


Pamannya langsung mengambil kedua koper Aisyah yang tak jauh dari jangkauan nya. "Ini biar tak bawa."


"Ayok..." Ajaknya dengan melangkah meninggalkan mushola. Berjalan di depan, menunjukkan di mana mobil miliknya terparkir.


"Langsung masuk aja Syah..." Ujarnya.


"Iya" Jawab Aisyah lalu membuka pintu mobil dan memasukinya. Sementara itu pamannya memasukkan koper Aisyah di bagasi mobil.

__ADS_1


Aisyah menghela panjang dengan memejamkan matanya. Merasakan setiap rasa lelah yang merasuki tubuhnya. Punggungnya ia sandarkan di kursi mobil. Mencari posisi duduk ternyaman bagi dirinya.


Pelan, suara mobil terdengar membuat Aisyah membuka matanya. Mobil itu mulai berjalan pelan. "Udah gede ya nduk kamu sekarang. Dulu aja pas terakhir ketemu kamu, kamunya masih gadis."


Aisyah tersenyum. "Iya pak lek. Waktu emang berjalan cepat ya..."


"Kamu itu hebat lho nduk, udah cantik, pinter pula. Beruntung kamu itu bisa dapat beasiswa sekolah di Madinah. S2 pula."


"Alhamdulillah, ini semua juga karena atas izin Allah kan?! Dukungan dan doa dari semuanya, itu juga pasti. Aisyah mungkin ga jadi apa apa tanpa orang orang di sekeliling Aisyah."


Pamannya mengangguk mantap. "Ah, kalau begitu anakku tak kasih nama Aisyah juga kali ya. Biar bisa sukses kaya kamu."


Aisyah memajukan badannya. "Bu lek udah lahiran??" Tanya Aisyah.


"Iya. Tapi belum di kasih nama. Bingung mau tak kasih nama apa."


"Sekarang di rumah sakit?"


"Di rumah. Orang Bu lek mu itu Alhamdulillah lahirannya ga pakai acara operasi kok."


"Alhamdulillah kalau gitu. Kapan lahirannya pak lek?"


"Satu hari lalu. Hari apa ya? Kemarin itu kan hari....Kamis, nah hari Rabu. Eh apa iya ya??"


"Pak lek lupa ya sama kelahiran anak sendiri?" Tanya Aisyah.


"Ah bukan lupa, tapi ga inget. Masa Yo lupa. Ya Ndak lah." Elaknya. "Emmm...eh bener kok nduk, hari Rabu lahirannya. Ya sudah kamu istirahat aja gih, nanti kalau sudah sampai tak kasih tahu."


"Iya."


•••••


Mereka berdua turun saat sudah sampai. Aisyah berdiri menunggu pamannya yang tengah sibuk mengeluarkan koper dari bagasi mobil. "Sini Aisyah bantuin pak lek."


"Eh mau ngapain? Ndak usah. Biar aku aja. Kamu masuk aja gih. Istirahat,,,"


"Nggak papa ya?"


Aisyah mengangguk. "Ya udah kalau gitu." Ujar Aisyah dengan berjalan membalikkan badan menuju rumah.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum"


Dirinya mengetuk pintu membuat pamannya geleng geleng kepala.


"Haduh, di rumah om e sendiri kok pake ketok pintu segala." Gumamnya. "AIS...Langsung buka aja nduk ga papa."


Aisyah terdiam. Ingin membuka tapi tetap saja rasanya tidak sopan. "Waalaikum salam..." Suara pintu terbuka membuat Aisyah mengalihkan perhatiannya.


"Lhoh...ini Aisyah??"


Aisyah tersenyum lebar.


"Bu lek..." Panggilnya lalu mencium tangan bibinya tersebut.


"Ya Allah cantiknya kamu...." Balas bibinya memekik pelan lalu memeluk gadis di hadapannya. "Ih sekarang kamu juga udah tinggi ya..."


"Padahal dulu waktu terakhir ketemu kamu, bibi sama kamu masih tinggian bibi lho..."


"Namanya juga udah gede, ya pasti bakal modot lah" Timpal pamannya dengan berjalan melewati mereka.


"Oh iya duduk duduk. Kita ngobrol ngobrol."


"NGGAK USAH DI AJAK NGOBROL MA...AISYAH CAPEK ITU, HARUS ISTIRAHAT!" Sahut pamannya lagi.


"Oh iya, kamu pasti capek ya. Mau bu lek buatin minuman apa? Teh anget mau?" Tawarnya, namun Aisyah menggeleng.

__ADS_1


"Nggak usah Bu lek. Aisyah cuma pengen lihat dedek bayi nya, boleh?"


"Oh iya tentu, kenapa tidak? Ayo ayo, sini bu lek tunjukin kamarnya..." Jawab bibinya dengan berjalan ke arah kamar di mana anak kecilnya tengah tertidur di sana. "Nah ini..." Ujarnya bersuara lirih.


Aisyah tersenyum. "Cantik banget, Masyaa Allah..."


"Iya dong, siapa dulu ibunya??"


"Namanya siapa ini Bu lek?"


"Ah belum di kasih nama sama pak lek mu..."


"Mmmm, Bu lek lahirannya di rumah sakit?"


"Nggak, lahirannya di Bu bidan ayu yang Deket sama sini itu. Alhamdulillah lahirannya langsung brojol euy,,,," Jawabnya dengan tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah..."


"Lhoh, kok kamu ada di sini Syah?" Tanya pamannya saat datang ke kamar. "Nggak langsung istirahat aja?"


"Sebentar, mau lihat dedek bayinya dulu pak lek..."


"Oh iya iya..."


"Mas, ini anak kita namanya siapa?" Tanya bibinya.


"Kita namakan Aisyah bagaimana hm?"


"Lhah, berarti sama dong kayak Aisyah yang ini..." Ujar bibinya melirik Aisyah.


"Lho...ya itu, biar anak kita bisa sukses kayak keponakan ku ini. Iya to??"


"Tapi ibu pengennya namanya Fatimah."


"Fatimah atau fatiha?" Tanya pamannya.


"Fatimah aja."


"Fatimah atau Farida?"


"Fatimah aja!!" Jawab bibinya menegaskan.


"Fatimah atau fariha?"


"Fatimah! Udah itu pokoknya!"


Aisyah hanya terdiam melihat perdebatan sepele antara keduanya. "Aduh mama, kalau namanya Fatimah di panggil apa? Imah? Kan jadul. Kalau di panggil fatim, takutnya pas besar nanti jadi judes dia. Kayak penjual toko sebelah itu, namanya fatim tapi judes!"


"Ya manggilnya terserah, yang penting namanya Fatimah."


Pamannya menghela pelan. "Ya sudah kalau begitu, nanti tak Carikan nama panjangnya yang bagus."


"Nah gitu dong mas, harus mengalah!"


"Hm, kan emang mas yang setiap hari harus ngalah." Ucapnya. "Aisyah, kamu istirahat aja ya. Ayok tak antar ke kamar mu..."


Aisyah mengangguk. "Iya..."


Mereka berdua langsung berjalan keluar kamar. Pamannya berjalan di depan, sedangkan Aisyah berada di belakangnya. "Ini kamarmu untuk sementara...Udah pak lek bersihin, tinggal kamu tidurin aja."


Aisyah tersenyum. "Makasih ya pak lek..."


"Iya sama sama. Udah istirahat, tidur yang nyenyak. Pak lek mau ke kamar dulu ya.."


"Iya"


Setelah Aisyah mengiyakan, pamannya baru berjalan pergi. Aisyah berjalan memasuki kamar lalu menutup pintunya. Tatapannya ia arahkan ke setiap sudut kamar. Lumayan luas. Dirinya mulai melangkah ke arah jendela. Menyingkap tirai besar yang menutupi nya. Bola matanya mulai terarah ke atas, menatap hamparan langit luas. Sepertinya tidak ada awan mendung malam hari ini. Bulan bersinar terang, dan bintang bertabur indah di langit malam. Seulum senyum mulai terlukis di wajahnya.

__ADS_1


Untuk mu yang sedang jauh, ternyata penantian ini begitu panjang. Bahkan dalam pertemuan singkat pun kita tak mampu. Sering ku bertanya, di mana kamu? Apakah baik baik saja? Dalam doa ku, nama mu selalu ku sebut. Ku keluhkan semua rasa rindu yang semakin membelenggu. Berharap agar kita bisa bertemu, bila perlu bersatu. Karena aku sama sekali tidak bisa melupakan mu, aku benar benar mencintai mu. Tidak, ini benar benar cinta. Bukan hanya ***** yang lewat semata.


...*******...


__ADS_2