
"Sabar aja ustadz,, demi calon anak." Ujar Iqbal. "Kalau soal itu, ustadz bisa tidur di kamar saya. Kebetulan Reyhan kan lagi ke Jakarta"
"Oi ya.... jadi ustadz boleh tidur di kamar mu bal?"
"Iya boleh dong ustadz!"
"Ya udah ayok kalau gitu"
Keduanya langsung berjalan bersama menuju kamar. Iqbal melirik ustadz Rizwan yang masih terlihat bingung dan pusing memikirkan istrinya. "Udah ustadz ga usah di pikirin. Malahan ya ustadz di luar sana ada perempuan yang ngidam minta di pijitin sama suami orang!" Ujar Iqbal.
"Masa Ya ada yang ngidam kayak gitu bal?!"
"Ada ustadz"
"Kalau istri ustadz ngidam pengen lihat wajahnya suami orang gimana ya bal? Waduh ustadz bisa ga tidur tujuh hari tujuh malam ini" Gumam ustadz dengan wajah yang semakin bingung. "Kalau ustadzah itu ndak mau lihat wajah ustadz selama 9 bulan? terus ustadz kudu piye to bal?(terus ustadz harus gimana to bal?)"
"Ya udah jalanin aja ustadz"
Iqbal membuka pintu. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Ilham dan Fariz yang berada di dalam kamar. Mereka berdua langsung berdiri dan berjalan ke arah Iqbal.
"Assalamualaikum" Salam ustadz rizwan.
"Waalaikum salam" Jawab keduanya dengan menyalami tangan ustadz secara bergantian.
"Ham, Riz. Malam ini ustadz mau tidur di sini!" Kata Iqbal.
"Tidur di sini? Emang kenapa ustadz? Ustadzah Rina Kan lagi hamil, jadi ada baiknya kalau Ustadz nemenin ustadzah Rina tidur" Sahut Fariz.
"Ya itu permasalahan nya Riz, ustadzah Rina itu bilang kalau muka ustadz jelek, kalau lihat ustadz bawaannya mual terus. Jadi ya ustadz di suruh tidur di tempat lain." Jelasnya. "Jadi Ustadz boleh tidur di sini kan?!" Tanya ustadz.
"Oh ya silahkan aja ustadz, silahkan masuk" Timpal Ilham mempersilahkan.
"Nanti ustadz tidur di kasur atas aja ya, biar saya sama Fariz tidur di kasur bawah" Ucap Iqbal.
Ustadz Rizwan mengangguk paham. "Ustadz tidur dulu ya, pusing ustadz mikirin ustadzah mu setiap hari. Kalian juga tidur, selesai nugas langsung tidur, jangan di tunggu dulu sampe larut malam! Paham?"
"Paham ustadz"
"Ya sudah ustadz tidur dulu" Ustadz Rizwan berjalan mendekati salah satu tempat tidur bertingkat itu, lalu menaikinya. Membersihkan kasurnya, berdoa, lalu tidur. Haah, setidaknya dirinya bisa tidur nyenyak malam ini.
Sedangkan ketiganya langsung meneruskan kegiatannya mengerjakan tugas. "Kasian ustadz Rizwan, pusing banget kelihatan nya" Gumam Fariz.
"Ya gimana ga pusing, ustadzah aja ngidamnya yang aneh aneh. Masa ngidam pengen main kuda kudaan, ustadz di suruh jadi kudanya. Di suruh jalan kesana kesini, katanya pas malam ustadz ga bisa tidur gara gara pegel semua tubuhnya karena ditunggangi ustadzah" Ujar Iqbal.
"Jangan ghibah!!! Saya masih denger, mendingan tidur aja kalian!" Ucap ustadz Rizwan dengan matanya yang masih tertutup membuat ketiganya menoleh ke atas.
"Yah masih denger ternyata!!" Gumam Iqbal pelan.
Beberapa menit berlalu, mereka membereskan semua bukunya lalu tidur masing masing. Kecuali Ilham yang keluar kamar berjalan ke arah mushola, malam ini dia akan beri'tikaf di mushola/masjid pesantren, berdiam diri hanya untuk semata mata beribadah dan mengingat Allah SWT.
•••••
Iqbal melongokkan kepalanya. "Lagi nulis apa ham?!"
Dengan cepat Ilham menutup bukunya. "Bukan apa apa"
Iqbal mengangkat sebelah alisnya. "Ada yang Lo sembunyiin dari kita?"
"Nggak!"
"Terus itu nulis apa? Gue itu heran sama Lo, tertutup banget orangnya. Ada masalah nggak mau curhat, seneng juga ga mau cerita. Kita itu temenan udah 3 tahun, 3 tahun bareng terus. Tapi Lo sama sekali ga mau berbagi cerita apa apa sama kita, padahal gue udah nganggap Lo itu saudara sendiri! Reyhan juga sama aja, kalau dia malah diem Mulu, ngomong cuma Ham Hem aja. Sariawan ya tu orang, nggak asik banget!" Omel Iqbal. "Heran gue, modelan gitu banyak yang suka" Tambah nya lagi.
"Fariz!!" Panggil Gilang.
"Apa?!"
"Gue mau daftar deh"
"Daftar apa?"
"Jadi pacar Lo!!"Jawab Gilang. "Capek gue jomblo Mulu..."
"Sono otak Lo servis dulu. Dari dulu gilanya ga hilang hilang!" Ucap Fariz kesal.
"Ayolah Riz, jadi pacar gelap juga ga papa. Jadi simpenan Lo juga ga papa, ikhlas Adek bang!!"
Fariz berdecih. "Minggir Lo!!" Usirnya.
"Lhah malah di usir, jadi gue di terima ga?"
"Maaf, tidak menerima orang gila seperti anda!" Jawab Fariz santai.
"Cakep cakep gini di bilang gila" Gumam Gilang.
"Mendingan Lo ngurusin pacar halu Lo aja, si siapa? Ros Ros..."
"Rose!" Ujar Gilang membenarkan. "Emang emaknya Upin Ipin namanya Ros!"
"Kakaknya itu bego! Bukan emaknya..." Sahut iqbal.
"Sama aja. Ya kali setiap hari gue harus halu terus!! Jones banget gue" Ujar Gilang.
"Bal, ambilin congkelan!" Pinta fariz.
"Buat apa?" Tanya Iqbal.
"Heeeh buat apa sih Riz cari congkelan segala?" Tanya Gilang.
"Congkel otak lo!!"
"Weee mati dong gue.." Balas Gilang. "Sumpah, Lo jadi orang kejam banget mau congkel otak gue!"
"Makannya diem! Jangan pengaruhi gue buat ikut ikutan gila kayak Lo" Ujar Fariz.
"Heh Riz buat apa congkel otak gue, ga ada guna! Otak bodoh kayak gini mau Lo apain?!"
"Di jual juga dapet duit banyak!" Timpal Iqbal.
"Dari tadi nyahut terus Lo bal"
"Terserah gue dong! Mulut mulut gue..." Balas Iqbal acuh tak acuh.
"Haduh plis lah Riz, gue capek gini Mulu. Ngejar ngejar cewek pada ga ada yang mau!" Keluh gilang.
"Diem, atau gelud sekarang?!" Ancam fariz.
"Iya ya diem!"
Fariz berdiri dengan menatap tajam Gilang, lalu berlalu pergi. "Yaelah cuma bercanda juga dibuat serius" Gumam Gilang.
Iqbal duduk di samping Gilang. "Makannya muka cakepan dikit!"
"Ini aja udah cakep!! Muka gue itu mirip mirip lah sama jungkook"
Iqbal mengerutkan keningnya. "Jongkok maksut Lo?!"
"Jungkook itu nama orang bego!"
"Udahlah ga tau gue. Lo tadi butuh pacar kan? Sama gue aja, nanti gue kasih nama kesayangan. Jeki aja gimana?"
"Ogah gue kalo sama lo!" Jawab Gilang.
•••••
Seperti biasa, mereka berempat menghabiskan jam istirahat untuk ke kantin bersama, bedanya kali ini ada Sasa yang juga ikut, jadi khusus hari ini dan kedepannya mungkin akan terus berlima.
Syifa meletakkan kepalanya di atas meja dengan mukanya yang cemberut. Dari tadi hanya dirinya yang diam, tidak seperti biasanya yang selalu mengomel panjang kali lebar.
"Nah gitu kan enak dilihat, jadi tambah cantik Lo" Ujar Lina menatap Sasa yang kini dalam balutan hijab. Sasa hanya membalasnya dengan senyuman.
Dari Sasa, Lina alihkan pandangan nya ke arah Syifa. "Lo kenapa sih fa, lemes banget!!"
"Bete gue, ga ada kak Reyhan ga asik" Jawab Syifa lesu.
Lina berdecih pelan. " Kak Reyhan terus yang dipikirin"
"Gimana kalau kita main aja. Biar ga bete" Usul Sasa.
Syifa mengangkat kepalanya. "Main apa?"
Sasa terdiam nampak berpikir. "Truth or dare?!"
"Boleh" Jawab Lina langsung. "Aisyah, Dinda kalian ikut juga kan?"
Aisyah dan Dinda hanya mengangguk kecil. "Lo ga ikut fa?!" Tanya lina.
__ADS_1
"Nggak ah, males"
"Pokoknya Lo harus ikut!"
"Nggak mau"
"Syifa,, ikut aja ya." Ucap Aisyah.
Syifa menghela pelan. "Ya udah iya"
"Yee nurutnya kalau cuma sama Aisyah doang!" Gumam lina.
Syifa mengambil botol yang ada di sampingnya, lalu menaruhnya dengan membaringkan botol tersebut di meja bagian tengah. Setelah itu memutarnya hingga putaran botol tersebut perlahan memelan. Membuat semuanya gigit bibir, berdoa agar botol tersebut tidak berhenti tepat mengarah padanya.
"Dindaaaa" Ucap Syifa setengah berteriak saat mengetahui botol itu mengarah tepat pada Dinda.
"Truth or dare?!" Tanya Syifa.
"Truth" Jawab Dinda.
Syifa terdiam. "Siapa cowok yang Lo suka selama ini?" Tanya Syifa.
Dengan cepat Dinda langsung menggeleng. "Ga ada"
"Beneran?"
Dinda mengangguk.
Syifa terdiam, sahabatnya sang satu ini adalah tipe orang yang tidak suka berbohong. Kalau pun berbohong dia kan terdiam lama terlebih dahulu sebelum menjawab. "Oke kalau gitu. Kita lanjut lagi"
Syifa kembali memutar botolnya, perlahan botol tersebut berputar dan berhenti tepat mengarah pada Lina. "Truth or dare?" Tanya Syifa.
"Dare" Jawab Lina.
Seketika Syifa langsung tersenyum lebar dengan menatap jahil Lina. "Oke dare berarti tantangan"
"Tantangan Lo kali ini adalah...."
Lina menatap curiga Syifa. "Tunggu tunggu bisa di ganti ga jadi truth?!" Tanya Lina.
"Ya ga bisa lah. Kalau dare ya dare, ga bisa di ganti" Balas Syifa bersikokoh.
"Awas aja kalau kasih tantangan yang aneh aneh" Gumam Lina.
"Tantangan Lo adalah bilang I love you ke kak Iqbal" Ujar Syifa mantap.
Lina melotot kaget. "Nggak! Gue ga mau"
"Ya harus mau dong Lin!!"
"Nggak gue ga mau"
"Apa susahnya sih bilang i love you gitu doang ke kak Iqbal" Kata Syifa.
Lina menghembuskan nafas kasar. "Kalau gue ngomong gitu, mau di taruh mana muka gue. Nanti dia kepedean lagi"
"Pokoknya Lo harus lakuin tantangan itu titik!" Ucap Syifa.
"Oke gini aja deh, kasih gue pilihan kedua. Nanti gue bakal milih"
Syifa terdiam, nampak menimang nimang tawaran Lina. "Oke, gue kasih Lo pilihan kedua"
"Pilihan kedua adalah Lo gue tantangin buat cabut bulu ketek Lo!" Ujar Syifa ngawur namun mampu membuat mulut Lina terbuka setengah.
"Kok gitu sih tantangan nya?" Tanya Lina nyolot.
"Ya gitu. Jadi Lo harus milih, bilang i love you ke kak Iqbal atau cabut bulu ketek?!" Ujar Syifa. "Dan,,, cabutnya harus di depan kita." Tambah Syifa lagi dengan senyumannya yang semakin mengembang.
"Sumpah, ni cewek cari ribut banget sih sama gue!!"
"Ih cabutnya di kamar kok, bukan di tempat umum" Kata Syifa tak mau di salahkan.
"Ya sama aja!! Gue tetep malu..." Balas Lina sebal. Kalau dirinya benar benar melakukan hal itu, bisa jatuh harga dirinya sebagai seorang santri.
"Ya udah kalau Lo ga mau ngelakuin tantangannya ga papa. Tapi Lo harus dapet hukuman. Dan hukumannya muka Lo kita Coret coret pake spidol, dan selama di sekolah dan di jalan muka Lo ga boleh di tutupin pake apapun!" Ujar Syifa yang semakin membuat Lina bingung.
Ni bocah demen banget mempersulit hidup gue. Batin Lina kesal.
"Ga tantangan satu, tantangan dua, hukuman. Tetep aja dong gue dapet malu!" Gumam Lina.
"Janji ya..."
Lina mengangguk.
Sedangkan Aisyah, Dinda dan Sasa hanya melihat perdebatan mereka berdua tanpa ada niat mengikut campuri. Entah kapan masalah ini akan selesai.
"Pilihan tantangan yang ketiga Lo harus cabut bulu kumis Lo"
Seketika Lina langsung memegangi bagian atas bibirnya. "Ya mana bisa syifaaa,, gue ga punya kumis!!" Balas Lina.
"Ya Bodo amat. Pokoknya gue udah baik ya, gue kasih tantangan, Lo minta pilihan kedua, gue kasih. Tapi Lo tetep ga mau, terus minta lagi pilihan yang ketiga, gue kasih. Kurang baik apa coba gue?" Tanya syifa dengan menatap Lina.
"Tapi gue ga punya kumis, yang mau di cabut kalau gitu apanya coba?"
"Ya Bodo amat."
"Syah,,, Din..." Rengek Lina dengan menatap mereka berdua.
"Ayo cepet lin, pilih!!" Pinta syifa gemas. "Oke, gue hitung sampe lima. Kalau Lo ga milih juga, Lo harus penuhin tantangan yang pertama"
"Satu..." Gumam Syifa mulai menghitung.
"Dua...."
Lina melirik Syifa tajam. "Tiga..." Hitung Syifa.
"Empat....lima..."
"Lo harus bilang I love you ke kak Iqbal!" Ucap Syifa pasti.
Awas aja, gue bales Lo! Ancam Lina dalam hati.
Syifa menarik paksa tangan Lina. "Ayolah Lin!"
Dengan sangat sangat terpaksa, Lina berdiri dan berjalan ke kelas Iqbal. Sedangkan Sasa, Aisyah dan Dinda masih terduduk di tempatnya.
"Kalian juga ikuut!!" Teriak Syifa dari kejauhan.
"Ikut Din?" Tanya Aisyah.
"Iyain ajalah!" Jawab Dinda.
Secara bersamaan Aisyah dan Dinda berdiri dari tempat duduknya. "Ga ikut sa?"
Sasa menggeleng. "Gue ke kelas aja" Ujarnya juga dengan berdiri. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
"Ayo Lin cepet dikit jalannya" Ujar Syifa dengan menarik paksa tangan sahabatnya itu.
"Kak iqbaaaal" Teriak Syifa dari ambang pintu membuat semua yang ada di dalam kelas menoleh.
Iqbal berjalan cepat ke arah pintu. "Ada apa?"
"Ini Lina mau ngomong sesuatu sama kakak" Jawab Syifa.
Iqbal menatap Lina yang berdiri kesal di depannya. "Mau ngomong apa?"
Lina hanya bisa terdiam dengan mengucapkan sumpah serapah dalam hatinya. "Ayo Lin ngomong" Bisik Syifa penuh penekanan.
"Gue..."
"Gue mau ngomong......gue"
"Gue gue gue. Mau ngomong apa cepetan!" Ucap Iqbal.
Lina berdecak sebal. "Gue itu..."
"Gue..." Syifa memukul pelan punggung Lina. "Cepetan ngomong jangan gue gue aja" Ujar Syifa pelan.
Sementara itu Aisyah dan Dinda yang baru saja datang hanya terdiam di samping mereka. Melihat Lina yang sepertinya kesal setengah mati dengan Syifa.
"Aisyah?!" Aisyah menoleh. "Kok Lo di sini, mau ngapain?" Tanya Fariz.
"Cuma ikut Lina sama Syifa kak"
Fariz melirik kedua gadis yang sedang asik sendiri dengan Iqbal, entah mau ngomong apa. Dirinya kembali melihat ke arah Aisyah. "Mau minum?" Tanya Fariz dengan menyodorkan minuman kopi susu yang dikemas dalam botol.
__ADS_1
Aisyah menggeleng. "Nggak usah kak, makasih. Itu buat kakak aja"
Merasa gemas dengan Lina yang hanya bilang gua gue saja, Syifa pun memutuskan untuk membuka mulut. "Sebenarnya Lina itu pengen bilang gini. I..."
"Eh bukan!!" Sela Lina langsung.
"Terus mau bilang apa?" Tanya iqbal.
"Gue...gue...."
"Gue apa???" Geram Iqbal.
"GUE GEDEG SAMA LO!" Ujar Lina tepat dihadapan Iqbal.
"iiiihhh,,, kok bilang gitu sih Lin,!" Ucap Syifa dengan menoel lengan Lina.
Iqbal menghembuskan nafas kasar. "Heh macan betina, Lo kesini buang buang waktu gue aja tau ga?! Lo bilang apa tadi? Lo Gedeg sama gue, gue juga Gedeg sama Lo!!"
"Eh eh Abang, jangan kasar dong sama calon makmum" Ujar Gilang yang datang bersama Ojit.
Iqbal memutar bola matanya malas. Kenapa duo Tarzan ini harus datang juga. "Udah mendingan Lo pergi deh!" Usir Iqbal pada Lina.
"Heh, jodoh Lo ini. Jangan main usir usir dong" Sahut Ojit.
"Awas nanti jatuh cinta" Nyanyi Gilang.
"Cinta kepada dirinya" Lanjut Ojit dengan menunjuk Lina.
"Jangan jangan dia jodohmu. Kamu terlalu membenci. Membenci dirinya ini. Awas nanti jatuh cinta padanya..." Nyanyi mereka secara kompak.
"Heh Jeki diem! Pergi sana..." Usir Iqbal.
"Ya udah gue pergi" Balas Gilang lalu berjalan pergi melewati Iqbal.
"Eh eh Riz, berduaan Mulu nih sama Aisyah" Ujar Gilang. "Seenggaknya hargai gue dong sebagai pacar gelap Lo!" Tambahnya lagi.
Fariz menghela pelan. Kenapa tidak dibasmi saja sih manusia seperti ini. "Syah, mendingan Lo pergi aja ya" Pinta Fariz yang diangguki oleh Aisyah.
"Dinda pergi yuk!"
Dinda mengangguk.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Fariz.
Keduanya langsung pergi yang tak lama di susul oleh Lina. "Lin!! Linaaa...Lo belum ngomong ke kak Iqbal" Teriak Syifa pada Lina yang sudah Bodo amat dengan tantangan tersebut.
"Kak, sebenarnya Lina tadi mau bilang i love you lhoh ke kakak" Ucap Syifa jujur.
"I love you?"
"Iya. Tapi mungkin Lina nya malu. Ya udah kak, Syifa pergi dulu ya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Iqbal. Beberapa detik Iqbal terdiam. "Tu cewek bener bener suka sama gue apa nggak sih?" Gumamnya.
•••••
Pukul 02.10 dini hari.
Syifa mengucek matanya, ia mengangkat tubuhnya untuk duduk. Pandangan nya menyapu ke sekeliling kamar yang masih gelap, membuatnya langsung turun dari kasur dan menghidupkan lampunya. Perutnya yang lapar ini tidak membiarkannya untuk tidur dengan nyenyak kali ini. Syifa menatap ketiga sahabatnya yang masih tertidur pulas dibalik selimutnya masing-masing.
Dia berjalan mengambil tasnya, mencoba untuk mencari makanan yang setidaknya bisa mengganjal lapar dalam perutnya. Namun nihil, dirinya sama sekali tak menemukan makanan ringan kecuali mie cup yang satu Minggu lalu ia beli namun sampai sekarang belum sempat Syifa makan.
"Kok adanya cuma ini sih??" Gumam Syifa dengan menatap mie cup di tangannya. "Masa iya gue harus pergi ke dapur dulu?! Nggak nggak, nanti kalau ketemu setan gimana?"
Syifa kembali menggeledah tas nya, mengambil botol air yang ia bawa di sekolah tadi. "Terpaksa gue harus pake air minum"
Dengan cepat Syifa membuka penutup mie cup tersebut, lalu menuangkan sisa air minum ke dalamnya. "Kalau pake air minum berapa lama ya gue harus nunggu?" Tanya nya pada dirinya sendiri.
Beberapa menit berlalu, namun mie nya belum juga lunak, membuat Syifa merasa geram karena lelah menunggu. "Ayo cepetan dong!! Gue laper nih" Ujarnya dengan memukul mukul mie tersebut dengan garpu plastik.
Dirinya semakin kesal saat lapar dalam perutnya yang semakin menjadi jadi, padahal tadi dirinya sudah makan malam dengan porsi lumayan banyak, namun sepertinya perutnya ini masih merasa belum puas untuk makan. Bertepatan dengan itu Dinda bangun, ia langsung berjalan ke tempat tidur Aisyah untuk membangunkan gadis itu. Seperti hari hari biasa, mereka saling membangunkan untuk melaksanakan sholat tahajud.
"Din mau kemana?" Tanya Syifa yang melihat Dinda terbangun pada jam seperti ini.
"Sholat tahajud." Jawab dinda.
...Hai orang orang yang berselimut. Bangunlah lalu berilah peringatan! Dan Agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaian mu, dan tinggalkan lah segala perbuatan yang keji....
...(Q.S Muddatsir: 1-5)...
Dinda mengerutkan alisnya. "Kamu ngapain fa? Tumben jam segini bangun?"
"Laper!" Jawabnya singkat. "Din, anterin gue ke dapur yuk! Dari tadi mie nya ga lunak lunak ini.."
"Iya, tunggu bentar"
"Eh tapi emang boleh ke dapur jam segini?"
"Kenapa enggak? Kan itu dapur umum, jadi siapapun boleh kesana. Lagian kita kesana kan juga ga mau berbuat jahat" Jawab Dinda. "Bentar ya aku bangunin Aisyah dulu" Dinda menepuk lengan Aisyah beberapa kali, tak membutuhkan waktu lama untuk Aisyah bangun dari tidurnya. Kalau membangunkan Aisyah itu memang lebih mudah, tidak perlu mengeluarkan ekstra energi seperti membangunkan Lina dan Syifa.
"Syah, kamu duluan ke mushola juga ga papa. Aku mau nganterin Syifa ke dapur dulu"
Aisyah mengangguk. "Aku juga mau mandi dulu, nanti baru ke mushola"
"Ya udah aku duluan ya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
"Syah gue ke dapur dulu ya. Assalamualaikum" Ujar Syifa.
"Waalaikum salam" Jawab Aisyah.
Keduanya langsung berjalan ke dapur, sedangkan Aisyah bersiap mandi untuk menghilangkan rasa kantuknya. Selain itu mandi pada jam seperti ini juga akan membuat tubuhnya menjadi lebih segar.
Sesampainya di dapur, Syifa langsung mengambil panci dan merebus air hingga hangat. Setelah itu Syifa membuang air minum yang sudah terlanjur ia tuang pada mie cup nya dan menggantinya dengan air hangat, tak lupa juga bumbu bumbu penyedap lainnya yang juga turut ia masukkan ke dalamnya.
Beberapa detik, Syifa langsung memakan mie cup nya itu dengan lahap. Walaupun tidak mengenyangkan, tapi setidaknya bisa membungkam para penghuni perutnya yang sedari tadi berteriak agar diberi makanan. "Habis ini sholat tahajud ya.." Ujar Dinda memecah keheningan.
Syifa menoleh. "Tapi gue ngantuk"
"Cuma sebentar, dua rakaat juga udah cukup"
"Tapi Din,, gue ngantuk banget. Pengen nerusin tidur" Balas Syifa dengan nada lesu membuat Dinda hanya bisa menggeleng heran.
"Fa, mumpung kamu bangun ini. Biasanya kamu dibangunin juga susah banget"
"Tapi Lina ga Lo bangunin?!"
"Lina kan lagi menstruasi"
"Oh ya juga ya. Tapi Din, gue bener bener ngantuk ini. Ga nahan. Besok aja ya, gue janji."
Surga tidak akan diraih dengan bersikap malas, tidur dan bersantai namun syurga itu diraih dengan berletih letih dalam amalan amalan Sholih.
- Syaikh Sholeh Al Fauzan -
Dinda menghela pelan. "Fa, Allah itu selama ini udah baik lhoh sama kamu. Allah udah kasih apa yang kamu mau, Allah selalu ada buat kamu. Tapi apa pantas sikap kamu kayak gini? Di suruh sholat dua rakaat aja ga mau. Lebih mentingin tidur dari pada beribadah sama Allah. Apa ga malu?"
Syifa menundukkan kepalanya dalam dalam. Benar, mendengar apa yang dikatakan Dinda membuatnya merasa malu pada dirinya sendiri juga pada Allah.
"Fa, bisa jadi ini sinyal Allah buat kamu. Ga kayak biasanya kan kamu bangun jam segini? Allah itu sengaja bangunin kamu, agar kamu bisa beribadah sama Allah. Allah rindu sama kamu fa, Allah rindu sama rintihan kamu, Allah rindu sama curhatan kamu, Allah rindu sama cerita kamu. Tapi kamunya ga peka..." Ujar Dinda lagi. "Fa..."
Syifa menoleh. "Temui Allah sekarang, cerita semua yang kamu alami sama Allah. Allah akan dengan senang hati mendengar semua cerita kamu. Jangan bikin Allah kecewa, karena selama ini Allah juga ga pernah ngecewain kamu. Pergi, cerita dan minta ampun sama Allah. Allah itu rindu mendengar rintihan hambanya..." Lanjut Dinda.
Syifa meremas jemarinya, semua rasa salah kini berkumpul pada dirinya. Syifa mengangguk pelan. "Ya udah ayok sholat" Ujarnya pelan.
Dinda mengangguk dengan seulas senyum di wajahnya. Keduanya langsung berjalan keluar dapur, menuju kamar untuk mengambil mukena. "Din..." Panggil Syifa.
"Iya?!"
"Mulai sekarang kamu bangunin aku ya. Kita sholat tahajud bareng bareng"
Dinda menoleh dengan senyum bahagianya. "Beneran?"
"Iya"
"Fa kamu tahu ga, Allah itu ga butuh kita. Tapi kita yang butuh Allah" Ucap Dinda. "Kamu tahu gimana rasanya punya teman yang datang cuma pas maunya aja?"
"Tahu. Kesel banget, datang cuma pas ada maunya, nanti kalau udah keturutan ngilang gitu aja. Ga peduli sama yang udah bantu" Jawab syifa.
"Tapi kamu juga ga bisa nyalahin orang itu, karena orang itu sama kayak sikap kita ke Allah. Kalau kita susah, lagi butuh kita datang sama Allah dengan air mata. Kita cerita sama Allah, kita minta biar Allah bisa bantu kita. Tapi giliran kita udah dibantu, kita lupa berterima kasih sama Allah. Saat kita di kasih kebahagiaan kita juga lupa sama Allah. Kita itu cuma datang pas maunya aja. Tapi apa pernah Allah marah sama kita? Nggak kan? Allah tetep kasih kita kebahagiaan, kesehatan, rezeki. Karena Allah sayang sama kita." Dinda menghela pelan. "Entah itu kita yang ga punya malu, atau memang kasih sayang Allah yang ga ada batasnya"
"Tapi apapun itu, kita harus tetap merasa kalau kita membutuhkan Allah. Jangan pernah melupakan apalagi meninggalkan Allah di kala susah maupun senang. Jangan pernah meninggalkan Allah hanya karena sesuatu, tetapi tinggalkan lah sesuatu hanya karena Allah."
...******...
__ADS_1