Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Amarah


__ADS_3

"Lina Lina Lina....." Panggil Syifa dengan memegang pergelangan tangan Lina.


"Apa?"


"Gue minta tolong dong sama Lo" Ujar Syifa.


"Minta tolong apa?"


Syifa tersenyum. "Cepetan bilang, malah senyum senyum" Ketus Lina.


"Bantuin gue buat ngomong ke mbak Windi untuk...."


Lina terdiam, menunggu Syifa agar meneruskan kalimatnya. "Untuk apa?" Tanya nya.


"Untuk izin"


"Izin apa? Ngomong yang jelas" Kata Lina judes.


"Buat masak di rumahnya"


"HAH?" Mulut Lina terbuka setengah. "Ngapain?" Tanya nya nyolot.


"Gue pengen buat brownis. Kalau buat di pesantren pasti ga boleh" Jelas Syifa.


"Ngapain buat brownis, beli kan bisa"


"Iya makannya itu, kalau gue beli terus kak Reyhan pasti bosen. Nah,, kali kali kan kak Reyhan makan brownis buatan gue"


"Jadi itu brownis buat kak Reyhan?"


Syifa mengangguk.


Lina geleng geleng kepala. Ia membalikkan badannya, hendak pergi. Namun segera di tahan oleh Syifa. "Jadi gimana dong Lin?"


"Nggak!" Ketus Lina.


"Plis lah Lin,, bantuin gue" Bujuk Syifa.


"Nggak! Kalau mau brownis. Beli aja. Nyusahin hidup banget sih" Ketus Lina.


"Aaahh,, Lina pliiiss. Gue kan udah bilang, gue itu pengen buat brownis untuk kak Reyhan. Biar sekali kali kak Reyhan ngerasain brownis buatan gue" Ucap Syifa. "Jadi gimana,, mau ga? Mau ya Lin...pliss"


"Nggak! Sekali nggak ya nggak. Lo ajak si Aisyah atau si Dinda kek"


"Aisyah sama Dinda itu ga bisa bujuk bujuk orang. Lagian Lo kan yang lumayan Deket sama mbak Windi"


"Lin...katanya sahabat. Di minta bantuan gitu aja ga mau" Kata Syifa cemberut.


Lina menghembuskan nafas kasar. "Oke,, oke gue mau. Tapi jangan bikin gue malu!" Ujar Lina.


"Emang gue pernah bikin Lo malu?"


"Seringlah. Lo itu malu maluin"


"Biar malu maluin tapi tetep cantik kan?" Kata Syifa dengan menaik nurunkan alisnya.


"Kepedean Lo"


"Ya udah yok, bantuin gue buat ngomong ke mbak Windi" Ujar Syifa dengan menarik narik pergelangan tangan Lina. "Ayok Lin..."


"Iya ya..."


Keduanya langsung pergi ke kantin mbak Windi. "Assalamualaikum" Ujar mereka berdua.


"Waalaikum salam. Ada apa?"


"Lin bilang..." Ucap Syifa pelan.


"Kok gue? Kan Lo yang punya urusan sama mbak Windi"


"Plis lah..." Lina menghela panjang, lalu menghembuskan nya secara perlahan. "Jadi gini mbak. Temen saya, mau numpang masak di rumah mbak Windi"


"Iya mbak. Gimana boleh kan?" Tanya Syifa.


Mbak Windi terdiam. "Kapan?"


"Besok. Kebetulan besok ekskul saya libur mbak" Jawab Syifa.


"Jam?"


"Habis sekolah. Gimana? Bisa ga mbak?"


Mbak Windi kembali terdiam. "In Syaa Allah bisa. Besok pulang sekolah langsung kerumah saya"


"Eh satu lagi mbak. Mbak Windi bisa buat brownis kan?" Tanya Syifa.


Mbak Windi mengangguk.


"Kalau gitu saya minta resepnya dong mbak."


"Iya sebentar" Mbak Windi mengambil secarik kertas. Lalu menuliskan bahan bahan membuat brownis juga beserta takarannya.


"Ini" Ujarnya dengan menyodorkan kertas tersebut.


"Makasih ya mbak"


"Iya"


"Oh ya, ngomong ngomong rumah mbak Windi dimana?"


"Deket kok dari sini. Di pertigaan depan, itu belok kanan. Terus belok kiri. Nah terus jalan kira kira 50 meter dari situ, rumah saya yang warnanya biru. Ada di sebelah kanan jalan" Jelas mbak Windi.


"Oh iya ya. Makasih mbak" Kata Syifa.


Mbak Windi mengangguk.


"Ya udah kita pergi dulu ya mbak" Pamit Lina. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Mereka berdua langsung pergi keluar kantin. "Lin..." Panggil Syifa.


Lina menghentikan langkahnya. "Apa lagi?"


"Gue butuh bantuan Lo lagi"


"Apa?" Tanya Lina judes.


"Lo temenin gue ya di rumah mbak Windi besok."


"Kenapa harus gue sih??"


"Ya soalnya Aisyah itu ga bisa. Gue tahu besok dia itu ada jadwal ekskul" Jawab Syifa.


"Dinda?"


"Nggak tau sih"


"Ya udah ajak Dinda aja" Ujar Lina acuh tak acuh.


"Lin,, gue maunya sama Lo. Nanti kalau ada apa apa dijalan gimana? Lo kan yang bisa nonjok nonjok orang"


"Dih, apaan sih. Pokoknya gue ga mau ya titik. Lagi pula masih ada kerjaan yang lebih penting buat gue dari pada nemenin Lo" Ketus Lina.


"Oke,, gue bakal minta Dinda nemenin gue. Tapi...kalau Dinda ga bisa, Lo yang harus temenin gue"


•••••


"Jadi gimana nih yang bener. Yang itu atau yang ini?" Tanya Syifa bingung.


"Yang ini kali" Kata Lina. "Kata mbak Windi kemarin kan ada di sebelah kanan rumahnya"


Ya, seperti yang di ucapkan Syifa kemarin. Bahwa kalau Dinda tidak bisa, maka Lina lah yang harus menemaninya. Karena Dinda hari ini harus ikut suatu organisasi, maka Lina mau tidak mau harus menemani Syifa untuk melakukan hal yang menurutnya tidak terlalu penting.


Tok tok tok


"Assalamualaikum" Ujar mereka berdua.

__ADS_1


Hening.


Mereka kembali mengetuk pintu. "Assalamualaikum"


Tak lama pintu terbuka, menampakkan perempuan berusia 33 tahun itu. "Waalaikum salam" Jawab mbak Windi.


"Ini bener kan rumahnya mbak?" Tanya Syifa.


Mbak Windi mengangguk.


"Tadi kita bingung mbak, soalnya rumah itu juga biru warnanya" Kata Syifa dengan menunjuk rumah yang ada di depan rumah mbak Windi.


"Ya udah silahkan masuk" Kata mbak Windi mempersilahkan. Mbak Windi langsung membawa mereka ke dapur. "Masaknya di sini ya"


"Iya mbak" Jawab Lina.


"Oi ya mbak, saya kan ga bisa tutorialnya" Ujar Syifa.


Mbak Windi merogoh saku gamisnya. Lalu mengeluarkan ponselnya. "Ini saya punya videonya, nanti tinggal ikuti petunjuk yang ada di situ"


Syifa mengangguk. "Makasih mbak"


"Iya. Saya ke kamar dulu ya"


Keduanya mengangguk.


Syifa langsung mengeluarkan bahan bahan yang sudah ia beli sebelum ke rumah mbak Windi. "Lo ngapain sih nyusahin diri banget. Segitunya Lo sama kak Reyhan" Tanya Lina.


"Hssstt Lin, biarin gue fokus"


"Terus gue ngapain di sini?" Tanya Lina kesal.


"Lo duduk di situ aja. Nungguin gue"


"Aelah, tau gitu gue ogah nemenin lo"


Hingga hampir Maghrib mereka baru datang ke pesantren. Ya karena adonan brownis Syifa yang beberapa kali gagal. Hingga harus pulang petang begini. "Dari mana saja kalian? Jam segini baru pulang" Tanya ustadzah Rina.


Mereka terdiam. Ingin rasanya berbohong, tapi tidak. Ingat dosa. "Tadi kita....emm"


"Karena kalian melanggar peraturan pesantren karena pulang pada jam seperti ini, Ustadzah hukum kalian untuk menghafalkan juz 30!"


"Surat apa ustadzah?" Tanya Syifa polos.


"Semua surat dalam juz 30. Dari an naba sampai an nas" Jawab ustdazah Rina. "Ustadzah kasih waktu kalian untuk satu Minggu menghafalkan"


"Hah? Satu Minggu ustadzah?" Tanya Lina memastikan. Ustadzah mengangguk.


"Tapi ustadzah"


"Ga ada tapi tapian. Cepat kalian bersiap siap, sebentar lagi adzan Maghrib" Ujar ustadzah Rina, lalu pergi.


"Ah, Lo sih fa. Buat brownis lama banget!!" Ucap Lina kesal.


"Ya maaf"


Lina menghentakkan kakinya. "Tau ah" Lalu berjalan pergi menuju kamar.


•••••


Syifa memasukkan sebutir baso kecil ke dalam mulutnya. "Oiywa gwue lwupwa" Ujarnya dengan mengunyah basonya. Dengan cepat Syifa menelannya. "Gue lupa kasih brownis buatan gue ke kak Reyhan" Lanjutnya lagi. "Eh gue duluan dulu ya"


"Iya" Jawab Aisyah.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Ujar Dinda, Lina dan Aisyah.


Syifa langsung berlari menuju kelasnya, lalu mengambil brownis di tasnya. Dengan segera ia mencari Reyhan.


"Syah, Din. Gue ke kelas dulu ya" Pamit Lina.


"Mau ngapain Lin? Ini istirahatnya masih 10 menit lagi" Ujar Dinda.


"Mau hafalin juz 30"


"Bukan, ini itu gara gara gue dihukum karena kemarin pulang telat" Jawab Lina.


"Oh gitu"


"Ya udah gue ke kelas dulu ya. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab keduanya.


"Kak reyhaan!!" Panggil Syifa dengan duduk beberapa centi di samping Reyhan.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Reyhan.


"Tadi aku cariin kemana mana tau kak, ternyata di sini" Ujar syifa. "Oh ya kak ini,, brownis. Tapi yang buat aku sendiri. Cobain deh"


Reyhan melirik kotak bekal sekilas, lalu kembali fokus membaca buku. Syifa membuka kotak bekalnya, lalu mengeluarkan sepotong brownis coklat. "Kak cobain,, biar aku bisa tau gimana pendapat kakak tentang rasanya"


"Nanti aja"


"Ih kok nanti, sekarang aja. Aku pengen pendapat kakak"


"Nih..." Syifa menyodorkan sepotong brownis tersebut untuk Reyhan. Reyhan menutup bukunya, berdiri lalu melangkah pergi. "Ya Allah, kak Reyhan mau kemana?"


Syifa segera berdiri lalu menyejajarkan langkahnya dengan langkah Reyhan. "Kak Reyhan kebiasaan deh" Ujar Syifa dengan mengerucutkan bibirnya. "Kak,, ini cobain. Dikit aja"


"Gue bilang nanti, ya nanti"


"Sekarang aja, aku cuma pengen tahu pendapat kakak tentang brownis buatan Syifa. Kak ayolah, dikit aja"


"Gue udah kenyang"


"Cuma secuil gini, ga bakalan buat perut kakak buncit" Ujar Syifa. "Kak tolonglah makan dikit aja, nanti sisanya makan kapan kapan ga papa"


"Yah kak,, ini ni..." Syifa mendekatkan brownisnya pada mulut Reyhan. "Kak, makan dikiiit aja ya. Pliss, aku pengen tau kakak suka atau ga"


"Kak, cuma demi ini aku sampe dihukum. Masa kakak cuma di minta tolong buat makan dikit ga mau"


"Mau ya kak. Nih...Kak coba ini dik..."


"SYIFA" Bentak Reyhan dengan menepis kasar tangan gadis tersebut. Hingga membuat brownis di tangan Syifa jatuh. Syifa yang mengalaminya hanya bisa melotot terkejut dengan menatap brownis cokelatnya yang sudah terjatuh di lantai. "GUE BILANG NANTI YA NANTI" Gertak Reyhan penuh penekanan.


Mulut Syifa terbuka setengah. Entah kenapa mendengar gertakan Reyhan, matanya menjadi memanas. Jantungnya kini berdetak lebih cepat. Sungguh, selama hidupnya belum pernah ada cowok yang berani membentaknya. Sekalipun ayahnya. Seketika semua orang yang melihatnya langsung berkerumun. Ingin menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi. "Kak..." Gumam Syifa dengan menatap sendu Reyhan.


"Stop buat berbuat kayak gini! Lo pikir dengan Lo berbuat kayak gini, Lo bisa buat gue jadi suka sama Lo. Bukan suka, tapi gue malah tambah muak sama sikap Lo" Ujar Reyhan tak tanggung-tanggung. Dia kali ini memang terlihat antara kesal, marah dan muak dengan Syifa. "Lo itu udah dewasa, jadi stop bersikap ke kanak-kanakan kayak gini! Ngerti?!"


"Lo juga egois tau ga!" Syifa meneguk ludahnya kuat kuat. "Lo harusnya tau perasaan itu ga bisa di paksa Syifa!!" Lanjut Reyhan penuh penekanan. Reyhan menghela berat. "Mana harga diri Lo sebagai seorang perempuan ha?"


Syifa terdiam membisu."Ma-maksutnya?" Tanya Syifa dengan suaranya yang gemetar.


"Lo tahu,,, dengan Lo bersikap kayak gini, Lo ga lebih dari seorang perempuan murahan!" Tegas Reyhan.


Seperti ada duri yang menancap dalam hatinya, Syifa sekuat tenaga menegarkan hatinya. Juga berusaha untuk menahan air matanya, agar tidak jatuh. "Kak..." Panggilnya dengan suara gemetar.


"Emang itu kenyataanya. Lo harusnya sadar. Dan Lo juga seharusnya jaga harga diri Lo sebagai seorang wanita" Satu tetes air mata jatuh, namun dengan segera Syifa menghapusnya. Ia menundukkan kepalanya, kali ini seluruh air matanya luruh seketika.


"Kodrat wanita itu di kejar, bukan mengejar. Dan Lo,, harusnya tahu itu Syifa." Kata Reyhan lagi. "Jangan bersikap bodoh lagi kayak gini. Ngerti!!"


"Dan satu hal lagi. Gue gak akan pernah suka sama lo karena lo bukan cewek tipe gue. Dan lo,,," Reyhan mengarahkan jari telunjuknya ke arah syifa. "Lo jangan pernah berharap lagi sama gue" Tutupnya lalu pergi begitu saja. Tepat saat itu Lina datang menemui Syifa yang dari tadi juga ada di tengah tengah para murid yang berkerumun. Saat itu, Lina juga tidak tahu harus berbuat apa.


Dan bisik bisik mulai terdengar. "Kalian ngapain di sini. Bubar!" Teriak Lina. "Cepet bubar, ga ada tontonan ya disini!"


Seketika semuanya langsung bubar dengan disertai suara sorakan. Lina menatap Syifa yang tengah menundukkan kepalnya dalam dalam. "Fa, Lo ga papa?" Tanya Lina. Namun hanya suara isakan yang ia dengar. Syifa berlari pergi.


"Fa,,, Syifa..." Panggil Lina dengan mengejar Syifa.


Gadis itu mendudukkan dirinya di bangku taman. Dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Berusaha untuk menahan air matanya, namun sayang air mata itu malah terus memaksa untuk keluar. "Fa..." Panggil Lina dengan duduk di samping sahabatnya.


"Fa, udah jangan nangis"


Syifa membuka kedua tangannya yang sedari tadi menutupi wajahnya. Wajah manisnya yang kini merah juga basah menatap sendu Lina. "Lin, gue salah ya?" Tanya Syifa dengan suara serak. Lina menggeleng pelan.

__ADS_1


Lina memeluk sahabatnya tersebut. "Lin, gue cuma mau kak Reyhan makan brownis buatan gue. Itu aja kok, gak lebih" Ujarnya. "Gue cuma mau ituuu..gue tahu gue gak bisa masak, gue tahu kalau gue masak ga pernah enak. Tapi ga berarti, kak Reyhan bisa seenaknya buang brownisnya sampe jatuh. Gue bahkan udah mati Matian buat ini cuma biar kak reyhan bisa makan brownis buatan gue..." Curhatnya dengan suara tersendat-sendat.


Lina mengangguk. Teringat akan Syifa yang terus membuat adonan brownis karena beberapa kali gagal hingga mereka harus pulang hampir Maghrib. Juga semangat dan senyuman Syifa saat brownis yang ia buat berhasil. Ya, walaupun tidak seenak buatan orang orang. Tapi untuk ukuran orang yang tidak bisa memasak, itu cukup lumayan. "Iya gue tahu..." Jawab Lina.


"Gue juga mau tanya Lin"


"Tanya apa?"


"Gue perempuan murahan ya? Apa yang semua dibilang kak Reyhan itu bener?"


"Nggak, Lo jangan dengerin semua omongan kak Reyhan"


Kring kring kring


"Tuh, udah bel. Mendingan Lo masuk ke kelas Lo" Ujar Lina.


•••••


Syifa menatap sendu kotak bekal di tangannya. Dengan satu, dua tetes air mata yang terjatuh. Semua kata kata Reyhan masih terekam jelas dalam memori pikirannya. Dengan angin sepoi Sepoi yang menyapa lembut wajahnya.


"Kenapa belum pulang?" Suara berat yang tak asing baginya itu membuat Syifa mendongakkan kepalanya. Terlihat seorang lelaki dari ambang pintu rooftop tengah berdiri. Ia kembali mengusap sisa sisa air mata yang masih membasahi pipinya, lalu kembali menundukkan kepalanya. Samar samar, Syifa mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat padanya.


Reyhan duduk di samping Syifa. Dengan menatap gadis yang ada di sampingnya.


Hening. Tidak ada yang saling membuka suara. "Gue minta maaf" Ujar reyhan pelan. Dengan nada seperti biasanya. Datar dan dingin.


Syifa menggeleng. "Kak reyhan ga salah" Jawab syifa dengan suara serak. "Emang di sini syifa yang salah. Syifa yang egois. Syifa yang terlalu bersikap ke kanak kanakan" Lanjutnya dengan menangis. Namun ia berusaha agar tangisnya tak sampai di dengan oleh reyhan. Syifa mengusap air katanya, lalu menatap reyhan yang juga masih menatapnya.


"Tapi kak,, syifa ga punya maksut apa apa. Syifa Cuma pengen kak reyhan makan brownis ini. Brownis buatan syifaa...itu aja ga lebih"


Syifa menghela berat. Ia berdiri dari tempat duduknya. "Syifaaa..." Syifa menutup matanya, lalu membukanya secara perlahan. "Syifa emang perempuan murahan. Assalamualaikum"


Syifa melangkah cepat menuruni anak tangga. "Fa,, Syifa tunggu" Cegah Reyhan.


"Gue minta maaf. Ga seharusnya gue ngomong kayak gitu" Ujar Reyhan.


Syifa terdiam. "Ini...Kalau kakak ga suka buang aja" Kata Syifa menyodorkan kotak bekal berisi brownis tersebut. Reyhan mengambil alih kotak tersebut.


"Assalamualaikum" Ujar Syifa pelan.


"Waalaikum salam"


•••••


Dinda, Syifa dan Aisyah terdiam melihat Syifa yang tak seperti biasanya. "Syifa kenapa?" Tanya Aisyah pelan.


"Kita keluar kamar, nanti gue ceritain. Ga enak juga kalau cerita disini. Nanti bisa kedengaran sama orangnya" Jawab Lina dengan suara berbisik.


Aisyah mengangguk. "Em fa,, kita keluar dulu ya"


Syifa yang sedari tari menunduk, langsung mendongakkan kepalanya. "Iya"


Ketiganya langsung pergi keluar. "Jadi gini, syifa itu kemarin kan buat brownis. Lo semua kan tau, dia itu orangnya keras kepala. Nah, pas gue tadi Balik ke kelas, ga sengaja lihat dia sama kak reyhan. Nah ternyata dia mau kasih brownisnya, eh kak reyhannya Malah marah. Sampe ga sengaja tangan syifa di dorong kasar, jadi brownisnya jatuh. Terus juga kak reyhan ngomong kata kata yang mungkin buat syifa sakit hati" Jelas lina panjang lebar.


Aisyah dan dinda manggut manggut "Jadi gitu..." Gumam aisyah.


"Iya"


"Ya udah kalau gitu aku sama dinda ke mushola dulu ya"


"Oh sekarang?" Tanya dinda.


Aisyah mengangguk.


"Ya udah kalau gitu aku ganti seragam dulu ya" Ujar dinda.


Aisyah mengangguk. "Aku tungguin di mushola aja ya din"


"Iya"


"Ya udah semuanya aku duluan ya, Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab lina dan dinda.


Aisyah langsung berjalan pergi menuju mushola. "Assalamualaikum."


Aisyah menoleh. Lalu tersenyum singkat. "Waalaikum salam"


"Kamu,,, yang kemarin di mushola?" Tanya guz fahmi. Aisyah mengangguk.


"Mau mengaji lagi?"


"Iya guz,,"


"Dinda mana?"


"Dinda lagi ganti seragam. Nanti nyusul katanya" Jawab aisyah.


Guz fahmi manggut manggut. "Ya sudah kalau begitu. Saya duluan ya, Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Aisyah kembali melangkah. "Assalamualaikum"


"Ada apa lag...." Aisyah menghentikan kalimatnya. "Eh,, waalaikum salam"


"Kenapa? Lo pikir gue guz fahmi?" Tanya Faris dengan mengangkat kedua alisnya.


"Iya kak, maaf"


"Jangan deket deket"


Aisyah mundur beberapa langkah membuat Fariz mengerutkan keningnya. "Kenapa mundur?"


"Katanya ga boleh deket deket"


"Ga boleh deket deket sama guz fahmi. Sama laki laki lain juga. Gue gak suka" Jelas Fariz. "Sekarang maju" Perintahnya.


Aisyah maju selangkah. "Kok Cuma selangkah?" Tanya fariz. "Maju tiga langkah lagi"


Aisyah hanya mengikuti perintah Fariz. "Udah?"


"Nah, ini udah deket"


"Ada apa kak?"


"Gimana keadaan syifa?" Tanya fariz.


Aisyah terdiam. "Baik. Emangnya kenapa?"


"Tadi reyhan nyuruh gue buat tanya keadaan syifa ke lo"


"Kenapa ga tanya ke syifa nya langsung aja?"


Fariz mengedikkan bahunya. "Eh tapi, syifa tadi kelihatannya sedih kak" Lanjut aisyah.


"Ya iyalah sedih, reyhan ngomongnya ga dijaga banget tu orang" Jawab fariz sedikit kesal.


"Emang, kak reyhan ngomong apa ke syifa?"


Fariz terdiam. "Lupain aja" Ia tersenyum dengan menatap aisyah.


"Kenapa senyum?" Tanya aisyah.


Fariz menggeleng. "Gue kangen"


Aisyah terdiam, lalu menundukkan kepalanya. "Kok, pipi lo merah?" Tanya fariz sontak membuat aisyah langsung memegangi pipinya.


"Masa sih? Tapi tadi aku ga pake blush on loh kak. Kok bisa merah" Gumam aisyah. Seketika membuat Fariz tertawa renyah. "Besok makan sama gue ya waktu istirahat"


"Kalau ga bisa?"


"Kalau ga bisa di istirahat pertama, di istirahat ke dua aja. Bisa ya? Kita kan udah lama ga ngobrol"


Aisyah terdiam. Lalu mengangguk kecil.


"In Saya Allah"

__ADS_1


...*******...


__ADS_2