
"Bal, bangun. Woy Lo ga sekolah"
"Apaan sih, ganggu tidur gue aja"
"Tau ah, sebelum gigi nenek gue tumbuh lagi Lo gak bakalan bangun. Dasar. Susah banget sih bangunin lo" Ujar Fariz dengan nada kesal. Lalu beranjak pergi dan berangkat sekolah. Sedang Iqbal masih terlelap dari tidurnya. Namun tak lama kemudian, ia terbangun.
"Oh iya...ini tadi kan udah masuk sekolah" Ujarnya sambil menepuk jidat, lalu segera beranjak untuk mandi.
Dengan hati yang gundah, ia berlari menuju sekolah.
"Mati gue kalau ketahuan terlambat sama Bu Desi" Perasaan khawatirnya memuncak saat melihat pintu gerbang sudah tertutup. Dengan khawatir Iqbal berdiri didepan gerbang, sambil berpikir bagaimana caranya agar ia bisa masuk ke dalam tanpa sepengetahuan Bu Desi.
"IQBAAAALL...." Teriakan itu melengking keras, membuat Iqbal terperanjat kaget. Guru dengan bertubuh besar, berjalan cepat menghampiri Iqbal. Lalu membukakan gerbang agar Iqbal bisa masuk.
"Kenapa kamu terlambat lagi, ha?" Tanya Bu Desi dengan nada tinggi.
"Maaf Bu saya bangunnya kesiangan" Jawabnya jujur.
"Kamu itu udah seragamnya lucek, rambut acak acakan kayak gitu, muka kusut, dan sekarang terlambat. Mau jadi apa kamu kalau udah gede"
"Mau jadi suaminya Bu Desi aja" Jawabnya ngasal membuat, guru itu melotot galak.
"Jangan harap kamu jadi suami saya" Ujarnya.
"Kenapa? Bu Desi kan jomblo"
"Saya udah cinta sama orang lain" Jawabnya dengan nada pelan. Membuat Iqbal melotot kaget.
"Siapa?" Tanya Iqbal menggoda. Bu Desi terdiam cukup lama. Ia menyipitkan matanya.
"OJIIIITTT, GILAAANG..." Teriak Bu Desi membuat iqbal seketika langsung menutupi telinganya.
"Buset, ibu suka sama ojit dan gilang Bu?" Tanya Iqbal geleng geleng kepala. Ojit dan Iqbal adalah teman satu kelasnya.
"Lihat ulah teman kamu itu" Ujar Bu Desi sambil menatap galak ojit dan gilang yang tengah memanjat gerbang sekolah karena terlambat. Iqbal mengikuti arah pandang Bu desi, membuatnya menggut manggut. Lalu ia mendengus sebal.
"Tapi ga usah teriak teriak gitu Bu. Ibu aja kalau ga teriak teriak suaranya udah keras. Kalau ibu teriak terus kayak gini saya yakin pasti ni sekolahan perlahan lahan runtuh denger teriakan ibu. Kuping saya juga pengeng nih bu"
"DIAM KAMU IQBAL" Bentak Bu Desi yang membuat Iqbal langsung menutup mulutnya rapat rapat. Lalu Bu Desi berjalan menghampiri ojit dan gilang.
"TURUN KALIAN" Mereka hanya menuruti perintah Bu Desi, lalu Bu Desi membukakan gerbang, menyuruh mereka untuk masuk.
"Kenapa kalian terlambat?"
"Ojit kenapa kamu terlambat?"
"Emm,, anu Bu... itu saya mandiin si paijo dulu Bu. Soalnya udah 2 Minggu gak saya mandiin"
"Siapa paijo?"
"Ayam saya Bu" Ujar ojit menjelaskan.
"Halah alesan aja kamu, Gilang kenapa kamu juga terlambat"
"Anu Bu, kalau saya tadi emm,,, ngapain ya. Anu aduh" Ujar Gilang mencoba mencari alasan yang tepat. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ona anu, ngomong yang jelas" Bentak Bu Desi.
"Oi ya Bu tadi saya mau cari semur jengkol, keliling terus tapi ga ketemu. Malah sampai Arab Saudi Bu saya kelilingnya"
"Lain kali kalau nyari alasan yang nyambung. Cari jengkol sampai Arab Saudi segala. Ibu minta kalian lari lapangan 10 kali, sekarang" Tanpa banyak tanya mereka langsung melepaskan tasnya masing masing. Bukan, bukan karena mereka anak penurut, hanya saja mereka malas mendengar segala ocehan Bu Desi nantinya.
"Titip Bu" Ujar mereka bertiga, sambil menaruh tas di tangan Bu Desi.
"Kalian kira saya pembantu hah?" Ujar Bu Desi namun tak dihiraukan oleh ketiganya. Dengan sedikit kesulitan Bu desi membawa ketiga tas muridnya itu di depan ruangan guru.
"Tas isinya apaan sih? Berat banget" Gumamnya. Setelah meletakkan tas di kursi yang berada di depan ruangan guru, Bu Desi memantau mereka dari kejauhan.
"Kapan kalian itu bisa waras. Kalau saya terus terusan ngajar kalian bisa stres saya" Ujarnya mengasihani diri sendiri. Selang beberapa menit, mereka bertiga berlari ke arah Bu Desi dengan nafas tersengal.
"Udah Bu" Ujar Gilang berusaha mengatur nafasnya.
"Bagus. Sekarang kalian harus menulis saya tidak akan terlambat kesekolah 50 kali. Kalau sudah kumpulkan di ibu"
"Kapan Bu?" Tanya Iqbal.
__ADS_1
"Bulan depan, ya sekarang" Ujarnya sambil menggebrak meja yang ada disampingnya menggunakan penggaris panjangnya.
"Nggak bisa dikurangin 40 Bu" Tanya Iqbal.
"Nggak bisa di kurangin 45 Bu" Tanya Gilang.
"Jangan Bu jangan, kurangin 50 aja" Jawab Ojit.
"Cepat!! ga usah banyak tanya. Atau ibu akan tambah menjadi 100"
"SIAP KOMANDAN, LAKSANAKAN" Ujar ojit dengan sikap hormat. Membuat Iqbal dan gilang menganga. Kesamber apa ni bocah?
"PRAJURIT, AYO KITA LAKSANAKAN PERINTAH KOMANDAN. MAJUUUU JALAN" Ujarnya semangat 45.
"Ibu minggir dong, kan saya mau melangkah maju untuk menjalankan tugas" Ujar ojit pada Bu Desi.
"Oh iya iya, silahkan" Ujar Bu Desi sambil memberikan jalan. Membuat Ojit tersenyum lebar.
"MAJUUU JALAN" Ujarnya lagi, lalu berjalan layaknya seorang paskibra. Setelah sampai di tempatnya, Ojit angsung membuka buku dan mulai menulis.
"Kalian berdua ngapain masih disitu, Cepet selesaikan hukuman kalian."
"I- iya Bu" Mereka berdua berjalan lalu duduk disamping Ojit. Mereka mulai menjalankan sesi hukumannya
"Ibu akan terus awasi kalian dari lantai atas" Ujarnya lalu pergi.
"Tumben Lo semangat. Kesamber apa Lo?" Tanya Iqbal.
"Sebenernya gue juga males ditambah banget. Tapi dari pada di omelin" Jawabnya tanpa dosa.
"Lagian ya besok kan hari Minggu. Nanggung banget sih. Kalau hari ini libur kan enak." Ucap Gilang menambah nambahi.
15 menit kemudian...
"Iqbal udah nulis berapa kalimat kamu?" Tanya Bu Desi. Membuat Iqbal langsung menghitung kalimat yang ditulisnya.
"27 Bu"
"Kamu Gilang?"
"19 Bu"
"3 Bu" Seketika Bu Desi langsung melotot. "15 menit baru nulis 3 kalimat?" Tanya Bu Desi, dengan nada tinggi. Ojit mengangguk mantap.
"NGAPAIN AJA KAMU HAH? GAYA KAMU AJA SEMANGAT KEMERDEKAAN NULIS 15 MENIT BARU 3 KALIMAT"
"Ya saya nulisnya itu hati hati Bu, biar bagus. Bisa kayak tulisan di komputer. Ini. Tulisan saya bagus ga?" Tanya Ojit sambil memberikan bukunya. Bu Desi melihat nya sebentar, lalu kembali menatap Ojit galak.
"TULISAN KOMPUTER TULISAN KOMPUTER. TULISAN KAYAK CEKER AYAM GINI. BELAJAR NULIS DARI MANA KAMU HAH?"
"Ya wajar atu Bu kalau tulisan saya kayak ceker ayam. Saya aja belajar nulis dari si paijo. Ayam saya" Jawabnya tanpa dosa, membuat Bu Desi melotot tambah galak.
"Terserah kamu ya Ojit, bisa gila saya ngeladenin kamu terus. CEPAT!!! 10 menit lagi ibu cek harus udah selesai semua. Kalau belum selesai juga ibu hukum kalian buat bersihin sampah ditaman belakang saat istirahat"
"SIAP DAH BU" Ujar ojit.
"Awas kamu Ojit kalau belum selesai" Ujar Bu desi. Menatap Ojit dengan sorot mengancam.
Setelah 10 menit Bu Desi kembali untuk mengecek, benar saja dugaanya, si Ojit belum selesai menulis kalimatnya. Selama dua puluh lima menit hanya 5 kalimat yang dapat ia tulis. Itupun dengan tulisan yang tidak karuan. Membuat Bu Desi geleng geleng heran, seperti apa orang tua Ojit dulu sampai anaknya sekarang menjadi begini. Hingga mau tidak mau saat istirahat Ojit harus membersihkan sampah ditaman belakang.
•••••
"KAK REYHAAN!!!" Teriak seorang gadis yang tengah berlari ke arah Reyhan. Ya, siapa lagi kalau bukan Syifa.
"Kakak disini ternyata. Tadi Aku cariin ke kelas kakak, ke kantin, ke UKS, ke perpustakaan, ke LAB, ke rooftop, ke toilet tapi ga ada"
"Kakak kok tumben ga ke kantin sama temen temen kakak, atau kakak emang sering ya ke sini. Aku kok ga tau? Kakak udah makan? Kakak lagi ngapain" Tanyanya sambil melihat buku yang di baca Reyhan.
"Kakak ga pusing apa mikirin matematika terus. Aku kan juga mau dipikirin terus sama kak Reyhan"
"Ih, kak Reyhan jawab dong. Kakak tau ga sih, aku tu kayak berasa ngomong sama patung" Ujarnya dengan cemberut.
"Ya udah kita main tebak tebakan aja yuk" Tawar Syifa namun tak ditanggapi Reyhan.
"Apa bedanya kak Reyhan sama tahi ayam" Tanya Syifa tanpa dosa membuat Reyhan meliriknya tajam. Enak aja gue disamaian sama tahi ayam. Batin Reyhan, lalu mendengus sebal.
__ADS_1
"Kalau kak Reyhan wangi kalau tahi ayam bau" Sambungnya lagi membuat Reyhan membuang nafas kasar. Dasar cewek ga jelas. Batinnya.
"WAH WAH ENAK AJE LO YE,,, PAKAI BILANG PAIJO BAU LAGI" Suara yang tiba tiba muncul membuat mereka terkejut. Seorang laki laki tengah berjalan mendekati mereka dengan membawa plastik hitam berisikan sampah.
"BISA BISANYA LO YE BILANG GITU" Ujarnya sambil menunjuk nunjuk Syifa.
"eh?!" Syifa menatap laki laki itu dengan raut wajah kebingungan.
"Lo kalau nyamain yang bener. Kalau bau badan ya sama bau badan kalau tahi ya sama tahi. Nih ye gue bilangin walaupun kegantengan Paijo beda jauh sama si Reyhan, tapi Paijo kagak mandi 30 hari juga gak akan bau, ni si Reyhan coba aja gak mandi 3 hari ntar baunya menyengat sampe kemana mana,, emang Lo pikir tahi nya si Reyhan wangi gitu?"
"Ojit" Panggil Reyhan sambil melotot.
"Apa?, gue gak terima sodara gue dijelek jelekin gitu"
"Emm, emm aduh aku lupa kalau Lina sama Dinda udah nungguin aku. Duluan ya" Ujarnya lalu setengah berlari dan meninggalkan mereka berdua.
"Siapa sih tu cowok, gangguin gue aja. Jadinya kan gue gak bisa ngomong lebih lama lagi sama kak Reyhan. Lagi pula kan tadi cuma main tebak tebakan kenapa dia marah. Lagi pula siapa paijo? Dasar ga jelas!" Gumam Syifa, masih merasa kesal dengan Ojit.
"Ga jelas" Ujar reyhan kepada Ojit. Lalu pergi begitu saja.
"GUE GAK TERIMA TAHI PAIJO DI SAMAIN SAMA BAU BADAN LO" Ujarnya sambil meneriaki Reyhan yang meninggalkannya seorang diri. Lalu Ojit mendengus sebal.
•••••
tok tok tok
"Masuk"
"Udah selesai?" Tanya Bu Vita.
"Udah mi"
"Kok ga tidur"
"Ga bisa tidur mi"
"Kenapa?"
Aisyah menghela pelan. Wajahnya terlihat sedih.
"Kamu ada masalah di sekolah?" Tanya Bu Vita.
"Aisyah selalu dihina mi disana"
"Tapi kan kamu udah biasa dihina gitu. toh, pas kamu MTs sama SD juga kan?"
"Tapi mi kalau udah biasa di hina bukan berarti hati Aisyah gak sakit. Kenapa Aisyah harus cadel. Aisyah juga pengen kayak mereka. Dari kecil yang Aisyah dapetin dari temen temen hanya hinaan mi."
"Kamu gak boleh gitu. Setiap manusia itu punya kekurangan dan kelebihan. Mungkin, cadel adalah kekurangan kamu tapi kamu juga punya kelebihan kan? Pinter, bisa masak, bisa melukis, rajin, baik dan masih banyak lagi kelebihan kamu. Inget, Diluar sana banyak yang fisiknya kurang sempurna, ga bisa jalan, ga bisa ngomong, ga bisa mendengar dan lain sebagainya. Kamu harusnya bersyukur, walaupun cadel tapi fisik kamu sempurna. Justru orang hebat adalah orang yang menjadikan kekurangannya sebagai kekuatannya bukan kelemahannya. Lagi pula orang yang menghina kamu bukan berarti dia lebih hebat dan lebih baik dari kamu."
"Jangan menghakimi takdir hanya karena keadaan. Semua hanya soal bagaimana kita sabar dan bersyukur. Umi tau sabar itu gak mudah, Namun akhirnya pasti indah. Karena itu kamu jangan mudah menyerah."
Aisyah mengangguk. Setelah mendengar ucapan uminya, hatinya menjadi lebih tenang.
"Iya mi,, maafin Aisyah"
"Minta Maaf sama Allah. Kamu harus lebih banyak bersyukur. Lihat yang ada dibawah kamu jangan yang diatas. Kalau kamu melihat yang ada di atas kamu, kamu gak akan pernah bisa bersyukur" Aisyah mengangguk paham. Ya Allah maafin Aisyah, belum bisa menjadi hambamu yang bersyukur. Batinnya.
"Kamu sekarang tidur, besok pagi kamu harus berangkat kepesantren"
"Iya mi"
Bu Vita tersenyum, lalu mencium kening putrinya. Aisyah menghela pelan. Ia berjalan menuju meja belajarnya. Mengambil buku diary nya. Dihalaman pertama adalah Foto seorang perempuan dengan balutan hijab abu-abu dan jas putih dengan stetoschope hitam melingkar di lehernya.
"Ya Allah, apa Aisyah bisa jadi dokter?" Gumamnya sambil menatap Foto seorang dokter yang ada di diary nya. Lalu ia membuka halaman ke dua. Terdapat lukisan ka'bah yang berdiri megah.
"Terus bisa gak ya Aisyah bawa umi sama Abi kesini?" Terselip rasa rindu di hatinya. Ingin sekali rasanya ia bisa pergi ke tanah suci. Namun, apakah bisa? untuk makan saja pas-pas an. Lalu Aisyah membuka lembaran kosong, mengambil bolpoin biru kesukaannya. Menulis kata demi kata yang ia rangkai.
Bermimpi setinggi langit
Bersabar seperti ibu
Berjuang seperti ayah
Dan, berproses seperti padi
__ADS_1
Perlahan namun pasti...
...*******...