
FLASHBACK ON
"Terima kasih mbak..."
"Iya sama sama." Mbak kasir membalas senyuman Lina.
Perempuan itu segera keluar setelah mendapatkan susu untuk Aluna. Kakinya berhenti di pinggir jalan. Kepalanya beberapa kali menoleh ke kanan kiri. "Ya Allah kok rame ini..." Gumamnya.
Setelah beberapa saat menunggu, Lina kembali melangkah saat sudah memastikan terlebih dahulu kondisi jalanan sedikit lengang. Namun suara motor ngebut membuatnya menoleh. Motor yang layaknya di pakai untuk balap liar melaju kencang dari arah barat ke timur.
"Astaghfirullah..." Jantungnya sudah berdegup tak karuan, dengan cepat Lina hendak menghindar. Namun nyatanya terlambat.
Seorang yang mengendarai motor pun susah kelimpungan untuk menghentikan motor yang sudah terlanjur melaju dengan kecepatan tinggi. Hingga akhirnya motor itu menabrak seorang wanita yang tengah menyebrang, membuat keduanya sama sama terpental kejalan.
Kalimat takbir sempat terucap dari bibir Lina saat tubuhnya terpental.
Bruuk
"BUNDA!!"
Tubuh itu kembali tertabrak oleh mobil yang melaju dari arah berlawanan. "Astaghfirullah..." Ucap sang pengemudi yang kaget bukan main.
Kini jalan aspal di penuhi oleh cairan merah yang mengalir. Tubuh itu tergeletak lemas di jalanan. Nafas Lina langsung sesak, pandangannya kabur, bahkan kini air matanya sudah berkumpul di pelupuk karena saking sakitnya rasa yang di rasakan kali ini.
Tubuhnya benar benar sudah tak ada daya. Sekujur tubuh bagaikan di tikam seribu tombak, entah ini sulit di diskripsikan. Ini sakit luar biasa. Kepalanya teras pusing, berat bukan main. Dari mulutnya keluar darah yang memuncrat secara mendadak.
Perempuan itu menarik nafas dalam dengan air mata yang sudah mengalir. "Laa___il__"
Lina berusaha untuk menghirup oksigen sebisa mungkin. "laa__ha__illa"
"Allah..." Kalimat terakhir sebelum matanya tertutup, dan rasa sakit yang di rasakan lenyap. Kini yang di lihatnya hanyalah kegelapan. Suara bising yang meminta tolong tak lagi kembali terdengar.
"Woy Woy tolongin!!"
Jalanan semakin riuh. Banyak kendaraan yang menghentikan lajunya untuk melihat.
Iqbal langsung membuka pintu mobil dan berlari kala mendengar kericuhan yang terjadi. Jantungnya berdegup kencang, perasaannya mendadak tak enak.
Badannya berusaha menyelinap dalam kerumunan. Hingga akhir di mana dia menyaksikan keadaan istrinya yang tergeletak lemah di atas aspal jalan.
Di sisi lain, dua keluarga yang masih berada di halaman pesantren juga langsung menghentikan pembicaraan. Empat pasang mata itu melihat jauh ke depan.
"Kok rame rame?" Gumam Syifa dengan memicingkan mata.
Merasa ada sesuatu yang tak beres, ibu hamil itu berjalan cepat untuk keluar. Tak lama sampai gerbang ia bertanya kepada satpam. "Pak ada apa?"
"Itu mbak, kayaknya ibu yang tadi baru keluar dari sini kecelakaan."
"Hah?" Syifa terdiam. "Ibu mana?" Tanyanya mulai panik.
"Ibu temennya ustadzah."
Mata Syifa membola kaget.
"Astaghfirullah..."
Cepat cepat ia keluar, memacu langkah untuk membelai kerumunan. Tubuhnya langsung lemas melihat darah yang mengalir. Juga melihat keadaan temannya. Air matanya langsung lirih.
__ADS_1
"Linaa!!" Panggilnya dengan berjongkok. Suaranya menjadi gemetaran.
"Syifa! Tolong ambil Aluna! Bawa dia ke dalam." Titah Iqbal yang panik bukan main.
Mendapat perintah, Syifa langsung melaksanakan. Dia berjalan dan membuka pintu mobil, mengambil Aluna yang menangis histeris memanggil Bundanya.
Perempuan itu setengah berlari masuk pesantren. "Dindaaa!!"
"Tolong ambil Aluna, tenangin dia!" Ujarnya dengan menghapus air mata.
"Ada apa?"
"Linaaa..." Syifa kembali menangis. "Hiks... kecelakaan." Jawabnya yang lalu kembali pergi tanpa peduli respon apa yang akan di berikan Dinda.
Sedangkan Iqbal segera menggendong sang istri masuk ke dalam mobil. Setelah mengecek keadaannya, ada sedikit harapan untuk membuat Lina selamat. Dia masih hidup.
Syifa langsung ikut nyelonong masuk ke dalam mobil tanpa di perintah. Dia mengangkat kepala Lina untuk di pangku. Jangan di tanya lagi, matanya sudah sembab memerah.
"Hiks...hiks Liiin...!!" Lirihnya dengan menepuk pipi sang sahabat.
Kini mobil itu mulai melaju kencang. Tak peduli lagi akan rambu rambu lalu lintas yang di terobos Iqbal, karena di pikirannya adalah bagaimana Lina bisa di selamatkan.
"Linaaa hiks,, gue mohon jangan kenapa napa ya? Hiks...Liin!" Tangisnya semakin pilu saat darah terus mengucur dari mulut, kening dan punggung sahabatnya.
Lihatlah gamisnya kini, penuh dengan warna merah. Tubuhnya semakin di buat gemetar kala mengetahui suhu tubuh Lina yang semakin dingin. "Liiin...jangan pergiii hiks! Demi Aluna sama hiks...kak Iqbaaal!!"
Dari balik kaca spion, mata iqbal melirik ke belakang. Dia juga menangis, namun tak ada yang tahu.
"Hiks..." Syifa menghapus air mata dengan lengannya. Dia langsung merogoh saku, mengetik nomor seseorang dengan gemetar.
"Halooo!!"
"Hiks...Aisyah! Puter balik sekaraang hiks...tolong plis!"
"Ada apa? Kenapa?"
"Linaaa....hiks. Lina kecelakaan Syah. Tolong puter balik!"
"Innalilahi. Iya, sekarang mau di bawa ke rumah sakit mana?"
Mata sembab Syifa melirik Iqbal. Mengerti maksud dari Syifa, Iqbal pun menjawab. "Rumah Sakit Kasih Bunda."
"Rumah sakit Kasih Bunda cepetaaan hiks..."
"Iya iya, kamu tenang ya...baca sholawat dan doa yang banyak. Assalamualaikum." Aisyah menutup teleponnya. "Mas berhenti! Puter balik..."
"Ada..."
Belum selesai Fariz bertanya Aisyah sudah memotong.
"Lina kecelakaan! Cepetan!" Perintahnya dengan nada tinggi. Ah, saking khawatirnya sampe tidak bisa mengontrol.
"Iya. Tenang!" Jawab Fariz. Dia memperhatikan keadaan jalan, di rasanya tepat...mobil itu memutar balik dan melaju dengan cepat
Fariz melirik sang istri yang kini sudah menangis. Tangannya bergerak mengambil lalu menggenggam tangan Aisyah. "Tenang ya... Lina baik baik aja." Ucapnya menenangkan.
"Ga... perasaanku ga enak." Gumam Aisyah, menatap kosong jalanan dengan harapan besar.
__ADS_1
Mobil putih itu berhenti di depan rumah sakit yang di tuju. Cepat cepat Iqbal turun, membuka pintu dan menggendong Lina. Berlari dengan memanggil suster sekencang mungkin.
"Tolongin istri saya..."
Ujarnya yang tak lama di respon oleh beberapa suster yang membawa brankar.
Dengan cepat mereka membawa Lina menuju ruang UGD. Tak lama seorang dokter laki laki juga ikut masuk, dan pintu di tutup.
Detik demi detik terasa begitu sangat lama bagi mereka. Syifa hanya bisa sesenggukan dengan badan lemas di kursi tunggu. Hatinya terus melantunkan doa. Iqbal, mana bisa dia diam? Sedari tadi hanya mondar mandir, menahan air mata untuk jangan jatuh sekarang. Meyakinkan hatinya bahwa Lina akan baik baik saja, istrinya akan pulih seperti dulu.
Waktu, seakan berputar lambat. Entah sudah berapa menit dokter ada di dalam untuk memeriksa, namun juga belum keluar. Membuat perasaan mereka semakin resah.
Sementara itu di pesantren, Dinda sudah kewalahan dengan Aluna. Dia sudah angkat tangan. Sedari tadi gadis kecil itu terus meronta ronta ingin pergi menemui bundanya. Iming iming ice cream, jajan, mainan semuanya di tolak.
"Hussst sayang sayang..." Jari manis Dinda mengusap kepala Aluna. Menaruh anak kecil itu dalam dekapannya. "Bunda baik baik aja, tenang ya..."
Bagaimana anak itu bisa tenang bila jelas jelas dia sudah melihat kejadian secara langsung tadi? Kalimat bunda baik baik saja pun hanyalah sebuah kebohongan yang tak bisa di percaya.
"Bunda...hiks! Bunda tidak baik baik saja..." Katanya. Tangannya mendorong tubuh Dinda.
"Bunda, Aluna ingin beltemu bunda sekalang!"
Reyhan yang sedari tadi diam akhirnya ikut bersuara. "Kita ke rumah sakit!" Putusnya.
"Percuma, Aluna tenang kalau ketemu bundanya." Lanjutnya.
Mendengar itu Dinda langsung menoleh ke arah sang suami. Ilham yang di lihat terdiam sejenak, lalu mengangguk.
"Tenang ya Aluna pinter hem...kita ketemu Bunda sekarang ya?"
"Cepatt!!" Rengek Aluna.
"Iya iya ayo..."
Ketiganya mulai berjalan cepat keluar dari dalem rumah.
Sementara Ilham menyiapkan mobil, Reyhan menelepon Syifa. "Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
"Lina ada di rumah sakit mana?"
"Rumah sakit Kasih Bunda hiks..."
"Iya kamu tunggu di sana. Tenang sayang,,,"
"Ga bisa tenang! Gimana bisa hiks tenang kalau Lina kedaannya hiks separah itu??" Tangisnya semakin pecah.
"Oke kita mau ke sana. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Tepat setelah telepon di matikan, Ilham sudah datang dengan mobil. Cepat cepat Reyhan dan Dinda masuk ke dalam. Sementara Dinda yang masih berusaha menenangkan, Ilham memacu mobil dengan kecepatan lebih tinggi. Namun tidak sampai melanggar aturan lalu lintas.
Di sisi lain, Syifa dan Iqbal mulai gundah kala dokter belum juga keluar. Memangnya separah itukah lukanya? Sampai selama ini memeriksanya?
Syifa memejamkan matanya. Berusaha mengatur nafas dan menenangkan hati. Tangannya mengelus perut. "Tenang Syifa. Lina baik baik aja. Pasti! Jangan terlalu sedih, kasihan bayi lo!" Gumamnya pelan.
__ADS_1
Ia langsung berdiri saat mendengar pintu terbuka. "Gimana dok? Istri saya selamat kan? Dia baik baik aja?" Tanya Iqbal.
...*****...