Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Pulang


__ADS_3

Keesokan harinya...


Syifa terduduk di kursi perpustakaan menunggu Reyhan. Tadi saat istirahat, dia sudah meminta Reyhan untuk menemuinya di perpustakaan setelah pulang sekolah.


Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Reyhan datang memasuki perpustakaan.


"Kak!! Sini...." Teriak Syifa dengan melambaikan tangannya.


Reyhan berjalan santai mendekati Syifa dengan tangan kirinya yang di masukkan ke dalam saku celananya dan tangan kanan memegangi ransel tasnya yang ia sampirkan di bahu.


"Duduk kak..."


Reyhan duduk Di depan Syifa, hanya meja saja yang menjadi pembatas antara mereka. "Ada apa?" Tanya Reyhan.


Syifa tersenyum manis. "Ini buat kakak..." Syifa menyodorkan sebuah kotak dengan balutan kertas kado warna biru.


Reyhan menatap Syifa. "Hari ini kakak ulang tahun kan? Kan hari ini tanggal 17 Desember."


"Kok Lo tau?"


"Ya tau lah. Kan dulu pernah di kasih tau sama kak Iqbal" Jawab Syifa. "Kak, ini Syifa kasih hadiah ke kakak dalam rangka pemberian hadiah, bukan dalam rangka perayaan ulang tahun. Karena kata dinda, kalau kita kasih hadiah dalam rangka perayaan ulang tahun itu ga boleh." Jelas Syifa lagi.


"Kak, buka dong!!" Pinta Syifa.


Reyhan mengangguk kecil. Ia dengan santainya membuka kertas kado yang membungkus isi hadiahnya tersebut. Reyhan mengerutkan alisnya, menatap hadiah yang diberikan Syifa.


"Pesawat mainan?" Tanya Reyhan dengan tatapan yang masih fokus pada pesawat mainan dengan tulisan 'Garuda Indonesia' dan bendera merah putih yang tertempel di sisi sampingnya.


Syifa mengangguk. "Iya"


"Buat apa?"


"Sebenarnya Syifa itu bingung mau kasih kado apa ke kakak, tapi Syifa inget kan kalau cita cita kakak pengen jadi pilot. Ya udah Syifa beliin aja pesawat mainan" Jelasnya. "Syifa cuma bisa beli itu kak,,, ga bisa beli pesawat yang beneran, soalnya Syifa ga punya uang sebanyak itu. Kalaupun Syifa mampu buat beli, terus pesawatnya mau di taruh mana? Pesewat kan gede!! Lapangan sekolah aja ga cukup buat parkir satu pesawat."


"Ini nanti jadiiin pajangan aja kak. Mungkin kalau kakak suatu hari nanti lagi ada di fase pengen nyerah, kakak bisa lihat pesawat mainan ini buat bangkitin semangat kakak lagi untuk mencapai apa yang kakak cita citakan" Tambah Syifa.


Reyhan terdiam, lalu mengangguk paham. "Oi ya kak, satu lagi. Ini juga buat kak Rey..." Ujar Syifa dengan kembali menyodorkan sebuah buku. "Jangan lupa di baca ya kak!!"


Reyhan mengernyitkan keningnya. "1001 Gombalan Receh" Gumamnya dengan membaca tulisan besar yang tertera di sampul depan buku tersebut.


"Ini buat gue?" Tanya Reyhan memastikan. Agak aneh baginya kalau dia harus membaca buku tentang gombalan gombalan receh seperti ini. Buat apa? Mendingan membaca buku buku yang mungkin akan menambah wawasannya.


Syifa menyengir tanpa dosa. "Iya itu buat kakak. Biar sekali kali lah kakak gombal, pasti bakalan lucu. Biar bisa gombaliin..." Syifa kembali tersenyum malu. "Gombalin Syifa hahahaha.....canda atu kak..."


"Itu simpen aja lah kak. Nanti bisa di baca pas waktu luang" Lanjut Syifa.


Reyhan menatap kedua barang yang baru saja ia terima dari syifa. "Kak..."


"Hm?!"


"Kakak kok diem aja? Ga suka ya sama hadiah yang Syifa kasih?"


Reyhan menggeleng. "Makasih ya, udah kasih ini buat gue"


"Iya sama sama"


"Kalau gitu gue pergi dulu"


"Lhah kan baru sampe, di sini sebentar lagi aja ya kak"


"Gue masih ada urusan" Jawab Reyhan dengan berdiri membuat Syifa seketika menjadi cemberut.


"Jangan cemberut gitu..." Ujar reyhan


"Biarin, Syifa pengennya cemberut!!" Jawab Syifa dengan mengalihkan perhatiannya menatap lantai.


Reyhan menatap Syifa dengan tersenyum tipis. Gadis itu, tingkahnya masih sebelas dua belas dengan anak kecil. "Assalamualaikum" Ujar Reyhan.


"Waalaikum salam"


Reyhan melangkah, namun kembali menoleh ke belakang. Menatap Syifa yang masih cemberut tak mempedulikan nya.


"Fa,,, Apapun yang Lo suka pasti gue suka." Ujar Reyhan.


•••••


Setelah satu Minggu lebih menjalani ujian, raport juga sudah di bagikan, kini saatnya yang di nanti nanti oleh semua rakyat yang menjadi anggota lingkungan sekolah untuk libur panjang akhir semester. Untuk yang mondok di pesantren, mereka ada yang pulang ke rumah masing-masing ada juga yang memilih untuk menghabiskan waktu Liburannya untuk tetap di pesantren, menjalani hari hari mereka seperti biasanya.


"Apa??"


"Tapi Lina ga mau pah..." Ujar Lina berbicara dengan orang dibalik telepon tersebut. Karena hari libur telah tiba, maka otomatis ponsel para santri pun akan di bagikan kepada pemiliknya masing-masing.


"Denger ya sayang, papa bener bener ga bisa jemput kamu. Kamu tolong ngertiin keadaan papa ya Lin" Suara seorang lelaki di balik telepon itu terdengar berbicara lembut kepada Lina.


"Tapi Lina ga mau pulang sama Iqbal pah. Kalau gitu Lina pulang ke Surabaya sendirian aja!"


"Jangan sayang!! Kamu itu kan perempuan, nanti kalau terjadi apa apa sama kamu gimana? Lagi pula, kamu kan ga pernah naik bus, kalau kamu bingung gimana nanti... Udah pokoknya kamu dengerin apa kata papa, siap siap sekarang ya sayang... Nanti sebelum jam satu siang kamu harus sampai di terminal oke?"


Mendengar papa nya yang begitu yakin ingin dirinya untuk pulang bersama Iqbal, membuat Lina hanya bisa menghela pasrah. "Ya udah kalau itu emang maunya papa. Udah dulu ya pa,, Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Lina menutup sambungan telepon nya dengan kesal. Malas sekali rasanya kalau harus pulang dengan si singa lebay itu. "Jadi, pulang kapan Lin?" Tanya Dinda.


"Nanti sebelum jam satu di suruh udah sampe terminal" Jawab Lina. "Kesel banget tau ga, masa harus sama si Iqbal"


"Lo di suruh pulang sama kak Iqbal?" Tanya Syifa.


"Iya. Karena papa ga bisa jemput, terus gue di larang pulang sendirian"


"Kenapa ga bisa jemput?" Tanya Syifa.


"Katanya papa ada tugas di luar kota, makannya ga bisa jemput" Lina menatap Dinda. "Emang ga papa ya Din, Pulang berdua sama Iqbal?"


Dinda terdiam. "Kalau menurutku sih ga papa, soalnya kan kamu pulang berdua bukan karena keinginan kamu sendiri tapi perintah dari papa kamu. Lagi pula, kan kamu pulang berdua juga bukan punya niat berbuat maksiat kan? Maksutnya biar bisa berdua duaan terus sepanjang jalan. Yang penting itu harus tetap jaga jarak, tetap jaga pandangan, jangan sampai bersentuhan sama yang bukan mahram"


"Jadi ga papa nih?"


"Ga papa. Asal niatnya jangan keliru"


"Lagi pula ya Lin, sekuat apapun Lo bujuk bokap Lo buat nggak minta lo pulang sama kak Iqbal pasti bokap Lo tetep ga mau. Dia tetep bersikeras buat nyuruh lo pulang sama kak Iqbal. Soalnya emang bokap Lo itu khawatir sama Lo, kalau Lo pulang sama kak Iqbal pasti bokap Lo merasa lebih tenang, karena anak semata wayangnya ini ada yang jagain" Sahut Syifa. "Udah lah Lin, jangan kesel gitu. Gue yakin bokap Lo ga punya niat apa apa, dia cuma khawatir sama keadaan Lo!"


"Kalau Lo fa? Mau pulang kapan?" Tanya Lina dengan dirinya yang sibuk melipat baju lalu memasukkannya ke dalam tas besar.


"Kata mama sih bakalan di jemput nanti malam"


"Kok malem malem?"


Syifa mengedikkan bahunya. "Ga tahu" Jawab Syifa singkat. "Oh ya, Aisyah udah sampe rumah belum ya?" Tanya Syifa. Memang Aisyah sudah pulang lebih awal sejak tadi pagi.


"Palingan juga udah" Balas Lina.


Tak lama dari itu suara adzan Dzuhur terdengar lantang, membuat semuanya langsung bergegas ke masjid. Setelah selesai sholat, dengan cepat Lina membereskan semua bajunya lalu memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu dirinya bersiap siap untuk pergi.


"Gue duluan dulu ya, din, fa..."


"Iya hati hati" Jawab dinda.


"Assalamualaikum" Ujar Lina.


"Waalaikum salam"

__ADS_1


Lina lalu pergi keluar kamar dengan tas besar yang dibawanya juga membawa tas selempang kecil yang ia sandarkan di bahu kanannya. Dengan sedikit kesulitan karena membawa tas besar, Lina berjalan ke arah gerbang pesantren. Tadi, saat tepat selesai sholat dirinya sudah meminta izin terlebih dahulu kepada Bu nyai untuk langsung pergi pulang.


Terlihat Iqbal yang juga sudah berdiri di luar gerbang pesantren dengan posisi membelakanginya. "Pak....tolong bukain gerbangnya" Pinta Lina meminta tolong.


Pak Maman mengangguk. Dengan sedikit berlari dirinya melangkah ke arah gerbang lalu membukanya. "Silahkan neng..."


"Iya pak, makasih"


"Sama sama neng"


"Bal..." Panggil Lina saat sudah sampai di samping Iqbal, membuat lelaki itu seketika menoleh.


Iqbal menatap tas besar yang kini Lina taruh di bawah. "Lo ngapain bawa tas gede kayak gitu?" Tanya nya.


"Emang kenapa?"


"Lo itu udah kayak orang mau pindah tau ga, kita itu cuma libur sementara doang"


"Ih...terserah gue dong! Baju baju gue, kenapa Lo yang sewot" Balas Lina tak mau di salahkan.


Iqbal kembali mengalihkan pandangannya ke ponsel yang ada di tangannya. "Mau ngapain?" Tanya Lina.


"Pesen taksi online"


"Ih ngapain, pake angkot aja!"


"Enak aja, panas panas gini di suruh naik angkot"


"Udah deh naik angkot aja, ongkosnya lebih sedikit! Hemat dikit kek jadi orang"


Lina menoleh ke kanan kiri jalan, memastikan kalau ada angkot yang lewat siang siang seperti ini. Setelah beberapa menit menunggu..


"Mana angkotnya? Ga ada yang lewat!"


"Tunggu bentar"


Iqbal berdecih kecil. "Ini kalau kelamaan bisa ketinggalan bus!"


"Nah itu apa!!" Ujar Lina dengan menunjuk angkot yang melaju dari arah barat, dengan cepat Lina mengayunkan tangannya ke arah depan, membuat angkot itu seketika berhenti.


Keduanya langsung naik angkot satu persatu. "Lo ribet banget sih!" Ucap Iqbal melihat Lina yang kesusahan membawa tasnya.


"Bantuin kek, berat ini.."


"Bawa aja sendiri. Lagian bawa tas gede gitu!"


Setelah keduanya duduk, angkot mulai perlahan berjalan maju. Iqbal melirik seorang kakek yang sedang membawa ayam jagonya. "Kek,,, ga takut apa ayamnya mencret di sini?" Tanya iqbal namun tak digubris oleh kakek tersebut. "Kek,, nanti kalau sampai tai ayamnya kakek jatuh di angkot ini,, kakek bisa di suruh tanggung jawab lhoh buat..."


"Diem Lo bal...!!" Bisik Lina. "Udah biasa orang bawa ayam naik angkot!!" Ujar Lina lagi. Iqbal hanya menganut saja apa yang dikatakan Lina. Selang beberapa menit angkot berhenti menepi di pinggir jalan, menurunkan kakek yang membawa ayam tersebut, setelah itu kembali melaju pergi.


Iqbal menghela panjang dengan mengibaskan kerah bajunya. "Gerah banget sumpah!" Gumamnya.


"Pak, besok besok ini angkot di pasang AC ya,, biar penumpangnya ga kegerahan" Ujar iqbal.


"Bal, itu kan ada AC alami,,," Ujar Lina dengan menatap pintu yang terbuka di hadapannya dengan udara yang masuk karenanya. "Ngapain minta di pasangin AC, mau Lo kasih modal bapaknya?"


"Diem Lo Lin!"


Lina menghembuskan nafas kasar. "Lo yang diem!! Dari tadi ngoceh Mulu..."


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di terminal. Tanpa basa basi, Iqbal langsung membeli tiket untuknya dan Lina dari Semarang-Surabaya. Mereka langsung menaiki bus, namun sebelum itu Iqbal mengambil tas besar Lina untuk di masukkan ke dalam bagasi bus. "Ngapain Lo duduk di samping gue?" Tanya Lina nyolot.


"Kenapa emang?"


"Udah cari kursi lain aja sana..."


"Diem bisa ga Lo?! Nanti kalau yang duduk di samping Lo copet gimana? Mau?" Tanya iqbal membuat Lina terdiam dengan mengalihkan tatapannya ke arah jendela.


Iqbal langsung duduk di samping Lina, sembari menunggu keberangkatan bus dan juga penumpang lainnya masuk, Iqbal memilih untuk fokus pada ponselnya. Sekitar pukul satu siang lebih, bus mulai berangkat dari terminal. Kursi yang tadinya di isi oleh beberapa orang kini sudah terisi penuh semuanya. Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara, keduanya fokus pada dunianya sendiri.


Bus berhenti tepat di pom bensin entah daerah mana itu. Membuat semua penumpang langsung turun untuk sholat ashar ataupun sekedar buang air kecil di toilet SPBU. Iqbal menoleh ke arah Lina yang ternyata tertidur lelap.


"Woy Lin, bangun..." Ujar Iqbal namun gadis itu tidak memberinya respon. "LINA... BANGUN WOY!!" Teriaknya di dekat telinga Lina membuatnya tersenyum saat melihat lina terbangun dengan menutupi sebelah telinganya.


"Haduh,, Lo bisa ga sih kalau ga teriak teriak!" Gumam Lina lesu.


"Ayo turun! Belum sholat ashar kan?!"


Lina mengucek matanya dengan bergumam, dengan lesu dirinya berdiri dan langsung turun menuju mushola. Setelah mengambil wudhu Lina langsung mengenakan mukena yang ia bawa dan menunaikan sholat ashar. Setelah selesai, Lina kembali merapikan penampilan nya dan duduk di teras mushola dengan menunggu Iqbal selesai sholat. Beberapa detik berlalu, Iqbal duduk di dekat Lina. "Udah makan?"


"Belum" Jawab Lina.


"Ya udah gue beli cemilan dulu" Jawab Iqbal yang langsung berdiri dan berjalan ke arah mini market. Karena pom bensin yang satu ini, selain di lengkapi dengan mushola dan toilet juga di lengkapi dengan mini market. Setelah beberapa menit berada dalam mini market, Iqbal berjalan kembali duduk di samping Lina.


"Nih..." Ujarnya dengan menyodorkan sekantong plastik yang penuh jajan.


"Banyak banget!"


"Udah makan aja"


"AYO SEMUANYA YOK, KEMBALI MASUK KE DALAM BUS!!" Teriakan seseorang itu membuat para penumpang secara berbondong bondong masuk ke dalam bus dan duduk di kursinya masing masing. Tak terkecuali Lina dan Iqbal.


Setelah bus berjalan, Lina baru membuka jajan cemilannya lalu memakannya dengan menikmati pemandangan jalan raya yang ramai oleh lalu lalang kendaraan. Dirinya sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah.


Iqbal mengambil kantong plastik yang di pegang Lina. Lalu mengambil sebotol minuman dan cemilan, menikmatinya dengan santai. Seperti perjalanan sebelumnya, perjalanan kali ini juga tidak ada yang membuka suara. Mereka hanya bisa mendiamkan satu sama lain.


Dari yang tadinya matahari bersinar kekuningan, perlahan berubah menjadi semburat orange ke merah merahan yang melukis indah di langit kota hari ini. Dan semakin lama posisi si raja siang ini pun di gantikan oleh sang ratu malam. Remang remang lampu kendaraan terlihat indah, lampu lampu kota dan lampu lainnya yang berasal dari rumah penduduk membuat suasana kota itu begitu hidup oleh cahaya kemerlap yang di ciptakan.


Tak terasa setelah melewati sekitar 8 jam kurang perjalanan akhirnya mereka sudah sampai di terminal Surabaya, membuat penumpang seketika langsung turun dengan membawa barangnya. Iqbal mengambil tas besar Lina yang berada di bagasi bus.


"Ini tas Lo..."


"Bawain dong, gue laper. Ga punya tenaga ini" Pinta Lina.


"Nggak nggak! Enak aja, manja banget Lo!" Jawab Iqbal langsung. "Gue mau cari toilet dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Lina.


Lina menatap kesal Iqbal, ia lalu melihat ke arah perutnya yang terasa keroncongan. Lina mengedarkan pandangannya, walaupun sudah jam 9 malam tapi suasana terminal di kota besar ini masih terasa ramai. Dengan sedikit keberatan Lina membawa tasnya lalu dirinya berjalan untuk mencari makanan.


Pandangannya menyapu pada sekeliling terminal. Dirinya langsung berjalan ke arah pedagang gerobak yang sepertinya menjual makanan seperti hotdog, kebab, burger dan lainnya.


"Pak..."


"Iya neng?"


"Saya pesen hotdog satu ya"


"Yang jumbo atau yang biasa neng"


"Jumbo dong pak, kan saya lagi laper" Balas Lina.


"Iya, tunggu bentar. Silahkan duduk dulu"


Lina mengangguk.


Ia lalu duduk di kursi dekat gerobak yang sepertinya memang sudah di sediakan oleh si bapak penjual. Sembari menunggu pesanannya jadi, Lina memilih untuk bermain ponsel. Beberapa detik, Tak ia sadari bahwa Iqbal sudah berjalan mendekatinya setelah tadi Iqbal sempat merasa bingung karena Lina tidak ada di tempat semula.


"Neng,,, mau yang pedas atau nggak?" Tanya bapak penjual nya lagi.


"Pedas pak. Saos tomatnya di banyakin, sama kasih saus yang warna kuning itu,,,, apa ya namanya?" Lina terdiam. "Murtad?"

__ADS_1


"Heh Lin!" Lina terpelonjak kaget dengan mendongakkan kepalanya, melihat Iqbal yang sudah berdiri di depannya.


Lina berdiri. "Apa?"


"Lo mau murtad?" Tanya Iqbal serius dengan nada tak percaya.


Lina mengerutkan keningnya. "Siapa yang mau murtad?"


"Lo!!! Ngapain sih mau pindah agama segala ha? Agama yang Lo anut ini udah bener"


"Siapa yang mau pindah agama coba?" Tanya Lina.


"Ya Lo lah. Lo tadi bilang murtad!!"


"Gue tadi bilang saos!!"


"Maksud neng saus mustard?" Tanya si bapak penjual.


"Nah iya mustard maksudnya" Ujar Lina membenarkan.


"Terus kenapa tadi bilang murtad?" Tanya Iqbal.


"Ya gue lupa namanya"


Iqbal menghembuskan nafas kasar. "Mau makan aja pake pindah agama segala!!"


"Siapa yang mau pindah agama sih?!!" Tanya Lina nyolot sekaligus kesal.


"Ini neng..." Ujar bapak dengan menyodorkan hotdog yang sudah jadi.


"Makasih pak.. Ini uangnya, kembaliannya ambil aja" Ujar Lina dengan menyodorkan uang biru.


"Terimakasih neng"


"Sama sama pak" Jawab Lina dengan kembali duduk di kursi lalu menyantap hotdog nya dengan nikmat.


Lina melirik ke arah Iqbal. "Mau??" Tawarnya.


"Nggak!!" Ketus Iqbal.


"IQBAAL..." Keduanya langsung menoleh ke belakang. Seorang lelaki dengan menggunakan jas hitam rapi berjalan ke arah mereka.


"Pa..." Ujar Iqbal dengan menyalami tangan papanya.


Lina berdiri. "Om Hary..." Sapa Lina.


"Lina,, nanti kamu pulang sama om ya. Soalnya papa kamu kan lagi ada di luar kota"


"Iya om" Jawab Lina menurut. Memang ayah Lina dan ayahnya Iqbal bisa dibilang cukup dekat karena mereka adalah rekan bisnis sejak Lina dan Iqbal masih duduk di bangku sekolah dasar. Hanya saja anak anak mereka yang terlihat selalu tidak akur.


"Ini tasnya biar om yang bawa ya..."


"Eh jangan om!"


"Nggak papa biar om aja"


"Jangan om, Lina aja yang bawa" Sergah Lina tidak mau merepotkan.


Hary terdiam dengan melirik Iqbal. "Ya udah kalau gitu biar Iqbal aja yang bawa"


Lina tersenyum. "Iya om" Jawabnya membuat Iqbal melotot. "Bal, bawa tasnya..." Perintah Lina.


Iqbal hanya berdecak sebal menatap Lina kesal, sedangkan Lina sibuk menghabiskan hotdognya secepat mungkin. Ketiganya langsung berjalan ke arah mobil Hary. Setelah semuanya masuk, mobil pun secara perlahan melaju membelah jalanan kota.


Setelah sekitar 15 menit lebih menempuh perjalanan, mobil mewah putih itupun berhenti tepat di depan rumah besar milik Lina. "Makasih ya om, udah mau nganterin"


"Iya sama sama"


"Lina pamit dulu ya om. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab hary.


Lina langsung turun dari mobil dengan tak lupa juga membawa tas besarnya. "Sekali lagi terima kasih ya om!!" Ucap Lina dari depan rumahnya.


Hary hanya mengangguk dengan tersenyum, lalu ia kembali melajukan mobilnya. Kini, hanya Iqbal dan ayahnya yang tersisa. Mendadak suasana di antara mereka menjadi berubah, tak seperti tadi yang Hary terus mengajak Lina berbicara. Kini tidak ada yang angkat bicara membuat suasana menjadi hening. Hanya suara kendaraan yang sibuk berlalu lalang yang menjadi penyuara keheningan di antara mereka.


"Pa..." Panggil Iqbal dengan nada dingin.


"Hm"


"Gimana hubungan mama sama papa?" Tanya Iqbal.


•••••


Di samping itu, Syifa juga sudah di jemput ibunya sejak jam tujuh malam tadi. Syifa mengedarkan pandangan nya menatap jalanan. "Ma..." Panggil Syifa.


Anggun, ibu Syifa menoleh. "Iya sayang?"


"Ini kita mau kemana? Ini bukan jalan ke Jogja kan?"


"Iya sayang, kita bukan pulang kerumah. Kita mau ke Jakarta" Jawab anggun.


"Ngapain?"


"Kan tiga bulan lalu papa pindah kerja di Jakarta, jadi liburan ini mama mau ngajak kamu buat kesana. Biar bisa ketemu papa."


Mendengar jawaban ibunya membuat Syifa tersenyum senang. "iiihhh mama tau aja kalau Syifa kangen sama papa"


"Ma, mama tau ga?"


"Nggak!"


"ih kan syifa belum kasih tahu"


"Emang mau kasih tau apa ke mama?" Tanya Anggun.


"Syifa itu lagi suka sama seseorang"


"Oh ya? Kok tumben kamu suka sama seseorang, biasanya kalau kamu lagi di tembak cowok kamu nolak. Katanya ga mau cinta cintaan kayak gitu?..."


"Emmm yang ini kayak beda aja di mata syifa ma. Namanya kak reyhan, dia kakak kelas syifa. Orangnya itu pinter, multitalent, ganteng, baik ya walaupun kadang kadang cuek. Tapi kak Reyhan itu jadi idola sekolah, pada di serbu sama cewek cewek." Cerita Syifa.


"Terus?"


"Ya terus..." Syifa terdiam. "Ya terus Syifa sebel lah. Jadi selama ini Syifa ngejar ngejar kak Reyhan biar bisa Deket, ga tau aja gitu. Padahal Syifa itu bukan tipe orang yang suka ngejar ngejar kayak gitu" Curhatnya lagi.


Anggun tersenyum. "Itu namanya cinta sayang..." Balasnya. "Pas kamu cerita tadi, mama jadi inget masa lalu mama sama papa kamu tau ga."


"Mama waktu dulu juga ngejar-ngejar papa kamu"


Syifa mendekatkan dirinya ke arah anggun. "Oi ya ma?"


"Iya. Dulu itu, sama kayak si yang kamu suka itu. Papa, jadi idola satu sekolah, bedanya papa kamu itu orangnya suka bolos sekolah, terlambat sekolah, melanggar peraturan sekolah jadi guru guru sering kesal sama papa kamu. Tapi meskipun gitu, papa kamu tetep aja jadi incaran cewek cewek sekolah. Termasuk mama"


Syifa tersenyum. "Terus?"


"Sampai akhirnya papa kamu juga jatuh cinta sama mama, cinta mati malah. Makannya sampe sekarang papa kamu masih jadi suami mama..."


"Berarti Syifa bisa dong jadi istrinya kak Reyhan?"


Anggun tertawa kecil. "Bisa kalau emang jodoh. Kalau ga jodoh, kan ga bisa di paksa" Ujarnya lagi.

__ADS_1


"Doain ya mah, semoga aja jodoh. Biar kak Reyhan bisa jadi menantu mama.." Pinta Syifa. "Katanya doa ibu itu manjur. Jadi siapa tahu, nanti doa mama dikabulin" Lanjut Syifa membuat anggun kembali tertawa.


...******...


__ADS_2