
Syifa dan Aisyah berjalan beriringan mencari kelas yang akan mereka tuju. Hari ini, adalah hari pertama ulangan tengah semester di adakan. Semuanya acak, dari mulai kelas sampai teman satu meja. Untuk kali ini Syifa dan Aisyah menjalani ujian dengan ruangan nomor 7 yaitu kelas 11 bahasa 3. Dengan Aisyah nomor meja A.36 dan Syifa A. 47. Dalam satu ruangan di isi oleh 30 orang siswa. 15 Siswa dari kelas 10 MIPA 1 dan sisanya di isi kelas lain.
Aisyah mendudukkan tubuhnya dikursi. Ia mulai membuka tasnya, dan mempelajari pelajaran yang akan diujikan hari ini. Beberapa menit setelah itu bel berbunyi, membuat para murid memasuki kelas satu persatu untuk memulai ujian. Nampak seorang laki laki yang tengah berjalan menuju aisyah, lalu duduk disampingnya. Ah, kenapa juga Aisyah harus mendapatkan teman satu meja yang laki laki. Kalau laki laki, itu akan membuatnya tidak leluasa untuk berkenalan.
Pak andip memasuki kelas sebagai guru pengawas pada kelas ini. "Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh"
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" Jawab semua murid.
"Selamat pagi anak anak"
"Pagi pak,,,"
"Baik, hari ini kita akan memulai ulangan tengah semester ya." Ujarnya. "Kamu,,, kelas berapa?" Tanya pak andip pada Kania, teman satu kelas Aisyah yang mejanya berada tepat dihadapan guru.
"10 MIPA 1 pak" Jawabnya.
"Ini,, tolong bagikan ke temen kamu" Pinta pak andip dengan memberikan beberapa lembar soal juga lembar jawab. Kania mengangguk, langsung membagikan lembaran putih itu pada temannya. Tak terkecuali Aisyah dan Syifa. Juga seorang perempuan yang kebetulan satu meja dengan Kania,, dia juga membagikan lembaran itu pada teman teman satu kelasnya.
"Baik,, sebelum mengerjakan alangkah baiknya kita awali dengan bacaan basmalah"
"Bismillahirrahmanirrahim" Ucap semua murid.
"Kerjakan dengan baik ya, jangan terburu buru. Jangan menyontek. Jangan berisik, tetap tenang" Kata pak andip.
•••••
"Aisyah,, ayok beli jajan" Ajak Syifa.
Aisyah mengangguk.
Keduanya berjalan beriringan. "Syah, beli siomay aja yuk. Yang sama Abang Abang itu" Ujar Syifa dengan menunjuk seorang lelaki separuh baya, yang berjualan siomay di gerobak motornya.
"Mumpung sepi" Tambahnya lagi.
"Iya"
Mereka berdua langsung berjalan menuju penjual siomay nya. "Pak, beli siomay satu" Ucap Syifa.
"Iya bentar neng..."
"Nggak beli Syah?!" Tanya Syifa.
Aisyah menggeleng.
"Kenapa?"
"Nggak, kamu aja" Jawab Aisyah.
"Assalamualaikum" Ujar Fariz yang tiba tiba datang, menghentikan pembicaraan mereka. Dia tidak datang sendirian, melainkan bersama Ghea.
"Eh Aisyah,, lagi beli apa?!" Tanya Ghea. Berbasa basi.
"Bukan Aisyah yang beli, tapi gue" Jawab Syifa.
Ghea memutar bola matanya malas. Kalau tidak ada Fariz, ia juga ogah pura pura baik terhadap Aisyah. "Oh ya,,, gimana tadi. Ujiannya lancar?" Tanya Ghea lagi.
Aisyah mengangguk dengan tersenyum kikuk. "Bagus kalau gitu,,, aku doain semoga kamu dapet nilai yang bagus ya"
"Lo juga ga doain gue?" Tanya Syifa.
Ghea menghembuskan nafas kasar. "Iya, semoga Lo juga dapat nilai yang bagus" Katanya dengan tersenyum. Senyum yang dipaksakan.
"Aamiin" Jawab Syifa. "Syah Lo ga bilang aamiin?!"
"Eh iya. Aamiin"
"Eh Riz, kita kesitu yuk" Ajak Ghea yang dibalas anggukan oleh Fariz.
"Syah gue duluan ya" Ucap Fariz.
"Iya Syah, gue sama Fariz mau kesana dulu ya."
"Assalamualaikum" Ujar mereka berdua.
"Waalaikum salam" Jawab Aisyah dan Syifa.
"Semangat ya ujiannya" Ujar Ghea lagi, membuat Aisyah tersenyum kecut. Hebat sekali aktingnya.
Mereka berdua langsung berjalan beriringan, seperti sepasang kekasih. Memang,, keduanya sangat cocok. Yang satu ganteng dan yang satu cantik.
"Eh Syah, itu namanya siapa. Yang cewek"
"Ghea"
"Dia udah cantik, baik lagi ya Syah" Ujar Syifa.
"Neng, ini siomaynya"
"Eh iya pak. Ini uangnya" Ujar Syifa dengan menerima siomay lalu memberikan bapak itu selembar uang lima ribuan.
•••••
Satu Minggu sudah berlalu, dan ulangan tengah semesternya hanya tinggal dua hari saja. Waktu memang berjalan sangat cepat, benar benar tak terasa.
Aisyah selama satu Minggu ini pun sama sekali belum kenal siapa lelaki satu mejanya. Ah, bukannya sombong tidak mau kenalan. Namun, Agak terasa aneh bagi Aisyah saat berkenalan dengan seorang lelaki. Namun jujur saja, lelaki yang duduk disampingnya berbeda dengan yang lain. Tidak jahil, tidak berisik, tidak nakal dan yang lainnya. Tidak seperti kebanyakan lelaki pada umumnya. Justru Lelaki seperti itulah yang Aisyah suka. Pendiam. Diam diam menghanyutkan.
Ya, namun aneh. Kalau Aisyah sangat sangat tidak nyaman bila harus berdekatan dengan laki laki, dan ingin selalu menghindar. Namun kali ini, ia justru nyaman nyaman saja satu meja dengan orang itu.
Dan, untuk kedua kalinya Aisyah mengecek semua jawabannya. Setelah yakin, Aisyah menaruh lembaran kertas itu di meja dengan kondisi terbalik. Ya, pastinya agar tidak ada yang menyontek jawabannya. Mungkin lelaki yang disampingnya tidak akan menyontek karena beda kelas, namun depan dan sampingnya adalah teman satu kelasnya. Yang ada kemungkinan untuk mereka menyontek jawaban, entah itu dengan melirik atau pura pura bertanya.
Aisyah memainkan bolpoin yang ada di tangannya. Masih ada waktu satu jam untuk mengerjakan, sedangkan dia sudah selesai bahkan sudah sampai mengecek jawabannya sebanyak dua kali. Ia membenamkan kepalanya di atas meja. Bosan sekali pikirnya, kalau saja di sampingnya perempuan, pasti sudah Aisyah ajak kenalan dan berbincang bincang. Ya, walaupun hanya membahas masalah yang tidak penting. Tapi setidaknya itu akan mengobati rasa bosannya. Jarak meja Aisyah dan meja Syifa pun cukup jauh. Haaah,, lalu saat ini dia harus apa?
Aisyah mengangkat wajahnya yang sedari tadi ia benamkan. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan. Memperhatikan semua murid yang masih sibuk mengerjakan soal soal ujian. Termasuk Syifa. Dan iseng iseng Aisyah melirik soal lelaki yang ada di sampingnya. Secara perlahan ia membacanya. Yang ada di sampingnya adalah lelaki kelas 12 MIPA 1. Mungkin soalnya akan lebih sulit, tapi Aisyah iseng saja membacanya. Siapa tahu tiba tiba dia dapat pencerahan untuk menjawab soal kelas 3 SMA. Lalu ia membaca jawaban pilihan yang tertera. Sekali baca saja Aisyah pun sudah mengetahui jawabannya.C. Dia yakin jawabannya adalah C. Itu,, soalnya cukup mudah untuk dipecahkan. Karena kebetulan hari ini adalah pelajaran agama yang di ujikan. Pelajaran yang sangat sangat mudah menurut Aisyah.
"Kak, ini udah kakak isi?" Tanya Aisyah dengan menunjuk soal nomor 13.
"Belum"
Aisyah tersenyum singkat. Lalu menjelaskan dengan detail. Lelaki itu terdiam melihat Aisyah yang sibuk menjelaskan.
"Paham?!"
Lelaki itu mengangguk. Bagaimana ia tak paham, penjelasan Aisyah begitu singkat namun jelas dan mudah di mengerti.
Setelah beberapa menit Aisyah tersadar. Tunggu tunggu, sejak kapan ia mulai berani menjelaskan padahal tidak diminta pada lelaki yang tak di kenal. Dan lebih parahnya lagi, itu adalah kakak kelasnya. Bagaimana kalau dia sudah mengetahui jawabannya namun memang belum di jawab. Pasti Aisyah akan di bilang sok ngerti, sok paham dan lain sebagainya.
Aisyah memijat pelipisnya. Ia merutuki kebodohan dirinya. Namun tak lama lelaki itu menyentuh tangannya dengan jari telunjuknya.
"Iya?!" Tanya Aisyah.
"Kalau ini apa?" Tanya nya.
Aisyah mulai membacanya, lalu kembali menjelaskan dengan detail.
"Makasih" Ucapnya.
Aisyah mengangguk.
"Kak, tadi yang nomor 13 kakak udah tahu jawabannya?"
"Udah. Kan Lo yang ngasih tau"
"Sebelum aku ngejelasin kakak udah tahu jawabannya?"
"Belum"
"Maaf ya kak, kalau aku tadi lancang. Aku beneran ga ada niatan apa apa" Jelas Aisyah.
•••••
Keesokan harinya....
Aisyah sibuk menulis jawaban. Hari ini pelajaran IPA. Yang kebanyakan adalah soal biologi. Jadi dia harus menuliskan jawaban sedetai detailnya. 3 pertanyaan essay sudah ia jawab. Aisyah meraba mejanya, mencari lembar soal.
"Loh kok ga ada?!" Gumamnya. Lalu Aisyah mencarinya di kolong meja. Tidak ada. Di bawah meja, namun hasilnya juga tetap sama.
Dirinya mulai panik. Ada beberapa soal yang masih belum ia isi. Bagaimana kalau kertas itu benar benar hilang? Aisyah terkejut saat lelaki di sampingnya menyodorkan beberapa lembar soal miliknya. Dan yang lebih mengejutkan, semua soal sudah ada jawabannya.
"In-ini..."
"Gue yang isi"
Aisyah mengernyitkan dahinya. "Kenapa di isi?" Tanya Aisyah.
__ADS_1
"Kemarin Lo udah ngejelasin jawaban sama gue. Jadi gue isi semua soal punya Lo" Jawabnya.
Aisyah terdiam. Sudahlah biarkan saja. Sebenarnya ingin sekali Aisyah mengomel, namun waktunya tidak tepat. Aisyah, harus tetap menjaga ketenangan saat ujian masih berlangsung. Ia kembali mengerjakan. Walaupun semua soalnya sudah di isi oleh lelaki tersebut, tetapi Aisyah tetap kokoh pada jawabannya. Aisyah kembali membaca soalnya, dan menjawabnya dengan jawabannya sendiri.
"Nama Lo siapa?" Tanya nya.
"Aisyah" Jawab Aisyah yang masih fokus menulis jawabannya.
"Gue Devan," Sambungnya lagi yang hanya dibalas anggukan oleh Aisyah.
Beberapa menit kemudian...
"Baik anak anak, waktu mengerjakan sudah habis. Jadi jawabannya segera di kumpulkan di depan" Ujar Bu Ita. Guru pengawas pada hari itu.
Secara serentak, mereka mengumpulkan jawabannya di depan. Sesuai kelasnya masing masing.
"Baik anak anak, kalau begitu kalian boleh istirahat" Ujar Bu Ita. Dengan membereskan semuanya, lalu menaruh tas nya di pundak kanannya. "Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh"
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" Jawab semua murid.
"Lo ga istirahat?" Tanya Devan.
Aisyah menggeleng.
"Kenapa? Istirahat sama gue aja yuk. Ya,,, ngobrol ngobrol sebentar. Biar kita lebih akrab lagi. Boleh??"
Aisyah terdiam sejenak. "Oke"
Mereka lalu berjalan keluar kelas menuju kantin. "Mau pesen apa?" Tanya Devan saat mereka sudah duduk dikantin.
"Emm,,, jus alpukat satu"
"Makanannya?!"
"Gak. Cuma pesen minuman aja" Jawab Aisyah. Devan mengangguk, lalu berjalan ke arah bi Yuni untuk memesan makanan.
"Lo tinggal di Deket sini?" Tanya Devan saat sudah kembali duduk dihadapan Aisyah.
"Aku mondok di pesantren kak"
"Pesantren Al hidayah?!"
"Iya, kok tahu"
"Ya kan itu satu satunya pesantren yang cukup Deket sama sekolah ini" Jawabnya.
"Emm,, kak. Kakak itu punya darah apa?" Tanya Aisyah.
"Darah manusia?" Jawabnya.
Aisyah menggeleng. "Bukan,, bukan itu maksut aku. Emm,, Kakak itu cowok blasteran?"
Devan tersenyum. "Iya,, gue punya darah Italia" Ujarnya. "Kenapa?"
"Nggak papa,, pantesan..."
"Pantesan kenapa? Pantesan ganteng?!" Katanya dengan kepercayaan tingkat dewa membuat Aisyah tertawa kecil.
"Iya deh. Ganteng"
"Sama Fariz gantengan mana?!" Tanya nya.
"Ganteng semua"
"Masa sih. Oi ya Lo itu Deket sama Fariz?"
Aisyah terdiam. "Lumayan"
"Lo ada hubungan sama Fariz? Soalnya gue sering lihat Fariz belain Lo, terus dia juga sering ngobrol sama Lo"
"Bukan. Kita cuma temen kok. Ga lebih" Ucap Aisyah. "Oh ya kakak ternyata asik ya kalau di aja ngobrol. Aku kira kakak orangnya pendiam"
"Gue emang pendiem orangnya. Tapi sekalinya ngobrol sama orang sampe ga kenal waktu" Ujarnya.
"Permisi,,, ini makanannya" Ujar Bi Yuni, dengan menaruh satu persatu pesanan di atas meja.
"Makasih bi" Ujar Devan. Bi Yuni mengangguk.
"Lo suka jus alpukat?" Tanya Devan.
"Suka apa doyan?!"
"Doyan sih sebenarnya" Jawab aisyah di sertai tawa kecilnya. "Kak, kalau makan mie rebus lebih enak lagi kalau dikasih telur tau kak" Lanjut Aisyah.
"Gak ah.."
"Kenapa?!"
"Nanti kalau gue makan telur terus, berat badan gue bisa nambah. Gue bisa gendut dong. Kalau gue gendut, kegantengan gue ga kelihatan. Dan kalau ga kelihatan, ga ada yang naksir sama gue dong.." Katanya. Dan untuk persekian kalinya Aisyah kembali tertawa mendengar jawaban devan dengan menggelengkan kepalanya.
"Aisyah" Panggil Fariz yang tiba tiba datang dengan ghea.
Aisyah berdiri. Begitu pula dengan devan. "Kak Fariz"
"Ngapain ada disini sama Devan?!"
"Kita cuma ngobrol biasa kok kak"
"Ikut gue"
Aisyah terdiam."Ngapain?!"
"Ikut" Tegas Fariz.
Aisyah menatap Devan sejenak. Lalu kembali menatap Fariz. "Iya... Kak, aku duluan dulu ya" Ujarnya pada Devan.
"Tapi ini jusnya, belum lo minum sama sekali" Ujar Devan.
Aisyah merogoh saku roknya. "Ini kak, aku titip. Nanti tolong bayarin ya" Ucap Aisyah dengan menaruh beberapa lembar uang di meja. "Aku duluan ya kak. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Devan.
Fariz melangkah keluar kantin dengan Aisyah yang mengikutinya dari belakang. Menyisakan Ghea dan Devan. Juga beberapa orang disana.
Ghea berjalan pelan mendekati Devan. "Nanti habis pulang sekolah temuin gue di rooftop" Ucapnya.
"Duduk!" Perintah Fariz. Aisyah duduk di samping Fariz, dengan tetap menjaga jarak.
"Ada apa kak?!" Tanya Aisyah.
Fariz terdiam. Lalu menatap tajam Aisyah. "Sejak kapan Lo Deket kayak gitu sama Devan"
"Tadi"
"Kok bisa kenal?"
"Kan soalnya kak Devan temen satu meja aku"
"Berarti Lo udah Deket sekitar satu Minggu"
"Belum,, aku deketnya baru tadi" Jawab Aisyah.
Fariz menghela pelan. "Lo jangan Deket Deket sama Devan ya" Pinta Fariz.
"Kenapa? Kak Devan orangnya baik tau"
"Gue gak suka Lo Deket sama Devan" Jawab Fariz. Aisyah terdiam. "Nggak cuma Devan doang. Gue juga minta tolong sama Lo buat jauhin semua cowok" Tambahnya.
"Ya udah,, kalau gitu aku juga bakal jauhin kak Fariz" Kata Aisyah.
"Jangan!!"
"Katanya disuruh jauhin semua cowok?!"
"Kecuali gue.." Ujarnya.
Aisyah menghela pelan. "Kenapa sih kak. Aku kan juga punya hak, buat Deket sama siapa aja"
"Gue tahu,, tapi gue..."
"Iya,,, aku tahu maksud kakak. Ya udah, aku pergi ke kelas dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
__ADS_1
Fariz menatap Aisyah yang berjalan pergi. Fariz menundukkan kepalanya, lalu menghela nafas pelan.
Gue juga ga ngerti Syah, kenapa perasaan ini harus ada? Kenapa gue harus cemburu lihat Lo Deket sama yang lain? Batinnya.
Dulu,, gue bener bener ga kenal siapa Lo yang sebenarnya. Dulu,,, Lo hanyalah orang asing bagi gue. Tapi,, seiring berjalannya waktu.. kenapa perasaan ini muncul. Kenapa Lo yang harus buat gue nyaman.
Fariz memejamkan matanya. Gue gak tahu,, apa saat ini gue mulai suka sama Lo atau itu cuma perasaan gue aja. Gue,,, juga bingung sama diri gue sendiri. Kenapa diantara banyaknya wanita, Lo yang harus ada di hidup gue. Gue bener bener ga ngerti Syah...
•••••
Devan mengedarkan pandangan. Ya, pulang sekolah dia harus bertemu dengan Ghea.
"Lo udah Dateng?" Ujar Ghea dari ambang pintu rooftop.
"Ada apa?" Tanya Devan.
Ghea berjalan ke arah Devan. "Ada sesuatu yang harus gue omongin"
"Langsung aja, gue ga suka basa basi"
Ghea tersenyum miring. "Gue butuh bantuan Lo"
•••••
Setelah berdoa, ustadz rizwan melarang para santri untuk bubar terlebih dahulu, Karena ada sesuatu yang akan disampaikan oleh Abah kyai.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh" Ucap Abah.
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" Jawab semuanya.
"Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini kita masih diberikan kesehatan untuk berkumpul bersama di mushola ini. Sholawat serta salam tak lupa kita haturkan kepada junjungan Nabi Agung Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam"
"Allahhumma sholli alaih" Jawab semuanya.
"Yang mana kita nantikan syafaatnya di Yaumul qiyamah nanti. Baik, kali ini Ada beberapa hal yang ingin Abah sampaikan kepada anak anakku tercinta. Yang pertama,,, adalah kita akan mengadakan ujian yaitu praktek wudhu dan sholat. Kenapa harus itu? Karena di sinilah banyak yang masih terjadi kesalahan dalam melakukannya namun di anggap sepele. Yang nanti akan kita bahas saat ujian selesai. Ujian ini,, akan dimulai besok sampai selesai. Jadi dimohon untuk anak anakku para santriwan santriwati untuk menjalani ujian dengan sebaik baiknya."
"Lalu yang kedua adalah sekitar satu bulan lagi,, kita akan mengadakan sholawatan untuk memperingati berdirinya pondok pesantren Al hidayah. Sholawat ini bersifat umum,,, jadi tidak hanya untuk anak pesantren saja. Namun juga masyarakat diluar pesantren juga boleh ikut dalam gema sholawat yang Nantinya juga akan dihadiri oleh para habaib dan juga kyai lainnya. Maka dari itu kita akan menyiapkannya mulai dari sekarang. Sedangkan untuk penyiapannya akan diatur oleh ustadz dan ustadzah."
"Abah rasa cukup sekian, yang ingin Abah sampaikan. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh"
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh"
Abah kyai berjalan keluar mushola. "Baik, jadi silahkan kalian bisa kembali ke kamar masing masing" Ujar ustadz rizwan membuat para santri seketika langsung pergi berhamburan keluar mushola.
"Haaah,,, baru aja ujian sekolah selesai,, sekarang udah ada ujian lagi" Keluh Syifa.
"Sabar,,," Kata Lina
"Hidup ini terlalu berat..."
"Gak usah dipikirin kenapa. Hidup itu tinggal ikuti alurnya, nikmati prosesnya,, Allah tahu kapan kita akan sukses" Ujar Lina.
Mereka berempat berjalan keluar mushola. "Haduh,, kepala gue kayak udah di isi sama bom"
"Emang bisa kepala di isi bom?" Tanya Aisyah.
"Kayak,, cuma kayak Syah, nggak beneran..kalau beneran kepala ada bom nya mati dong gue"
"Aisyah,,,?!" Panggil seorang gadis yang entah itu siapa.
"Iya?!"
"Dipanggil sama pak maman?"
"Pak Maman?!" Tanya Aisyah memastikan.
"Iya"
Aisyah terdiam. Untuk apa pak Maman memanggilnya. "Iya,, makasih ya"
"Ya udah, aku duluan ya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab ke empatnya.
"Ada apa? Kok pak Maman panggil kamu?" Tanya Dinda.
"Aku juga ga tahu. Ya udah, aku pergi dulu ya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab syifa, Dinda, dan Lina.
Aisyah berjalan menuju gerbang pesantren, menemui pak Maman.
"Assalamualaikum, " Ujar Aisyah. Pak Maman yang kala itu sedang duduk santai santai dengan meminum kopi pun menoleh.
"Waalaikum salam. Kamu Aisyah?"
"Iya. Ada apa pak?" Tanya Aisyah.
"Ini,, buat kamu"
Aisyah mengernyitkan keningnya. "Buat saya?"
"Iya, ini ambil" Kata pak Maman dengan menyodorkan kotak martabak manis.
Aisyah mengambilnya. "Tapi saya ga pesen martabak pak"
"Ini katanya dari mas...mas Devan kalau ga salah"
Aisyah mengangkat kedua alisnya. "Bapak beneran? Ini dari kak Devan?"
"Iya,, saya dengernya sih dari mas Devan kata yang nganterin"
Aisyah menghela pelan. Untuk apa kak Devan memberinya martabak seperti ini. "Ya udah, makasih ya pak. Saya ke kamar dulu kalau gitu"
"Iya neng"
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam" Jawab pak Maman. "Eh neng"
"Iya?!"
"Emm,,, bapak boleh minta satu ga martabaknya?" Tanya pak Maman.
Aisyah tertawa kecil. "Iya boleh dong pak" Aisyah membuka kotak kardusnya, lalu menyodorkannya pada pak Maman. Lantas, pak Maman langsung mengambil satu potong martabak yang menurutnya paling besar dengan toping paling banyak.
"Makasih ya neng"
Aisyah mengangguk. "Duluan pak"
"Iya ya,, silahkan"
Aisyah kembali membalikkan badannya, lalu melangkah pergi menuju kamar. Langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Fariz. Namun seperti ada yang berbeda. Mereka berdiam satu sama lain, sama sekali tak membuka suara. Membuat suasana mendadak menjadi canggung.
"Assalamualaikum" Ujar Fariz setelah lama mereka saling berdiam. Ia melihat sekilas kotak martabak di tangan Aisyah.
"Waalaikum salam" Jawab Aisyah. "Kak Far..." Aisyah menghentikan kalimatnya saat Fariz memilih untuk pergi, tanpa mengatakan apapun.
Aisyah terus menatap punggung tegap Fariz yang terus menjauh dari pandangannya. Kak Fariz kenapa ya,, kok sikapnya beda. Batin Aisyah.
Aisyah menghela pelan. Lalu ia kembali melanjutkan langkahnya. Memilih untuk tidak memikirkan hal itu.
"Assalamualaikum" Aisyah membuka pintu kamar.
"Waalaikum salam" Jawab mereka bertiga.
"Gimana?Ada masalah apa Syah?" Tanya Syifa.
Aisyah menggeleng."Nggak ada apa apa. Cuma dikasih martabak ini sama pak Maman"
Syifa langsung mengambil alih martabaknya. "Minta ya"
Aisyah mengangguk.
Aisyah terus terdiam,, memikirkan Fariz yang secara tiba tiba sikapnya berubah. Sekali lagi, Aisyah menolak untuk memikirkan hal itu,, mungkin Fariz ada masalah pribadi atau yang lainnya. Namun,, sekeras apapun Aisyah menolaknya,, justru hal itu terus memaksa untuk masuk ke dalam pikirannya.
"Syah,, ni martabak Lo,,, mau dihabisin sama Syifa" Teriak Lina.
Aisyah yang kala itu melamun, langsung menoleh ke arah Syifa yang mulutnya belepotan dengan coklat.
"Udah ga papa. Kalian habisin aja"
"Terus Lo gimana?!" Tanya Lina.
__ADS_1
Aisyah menggeleng. "Buat kalian aja. Aku lagi ga mau makan"
...*******...