
Maka Pagi itu Dinda langsung membuka lemari dan mengeluarkan niqab yang sudah di simpannya. Dia mulai memasang niqab itu untuk wajahnya, tepat di depan suaminya. Bahkan Ilham pun turut membantunya.
"Bismillah..."
Dalam hatinya memantapkan niat untuk keputusan besarnya kali ini. Untuk kebaikan dunia, juga akhiratnya.
"Gimana reaksi kak Ilham din?" Tanya Syifa lagi, mengulangi pertanyaan nya.
"Ya...mas Ilham cuma tanya alasan aku kenapa memilih buat berniqab mulai hari ini." Jawab Dinda. "Kalian___ada yang keberatan sama...
keputusan aku?" Tanya Dinda hati hati.
"Nggak kok. Buat apa kita keberatan? Justru kita itu akan selalu dukung keputusan kamu din..." Ucap Aisyah.
"Iya bener, jangan ngomong gitu deh din...selama itu positif dan baik buat kamu kita akan selalu support." Timpal Lina.
"He'em, kan dari dulu kita emang gitu. Saling support, saling dukung, saling kasih semangat, saling mendoakan...Iya kan?" Kini Syifa yang gantian menyahuti.
Dinda tersenyum. Walau lengkungan senyum di bibir manisnya kini tak terlihat oleh mereka bertiga. "Makasih ya."
"SAMA-SAMA..." Jawab mereka bertiga kompak.
"Eh ngomong-ngomong, kamar kita dulu gimana? Berubah juga din?" Tanya Syifa.
"Iya, sekarang lebih luas. Kalau dulu satu kamar cuma di isi empat orang, sekarang di isi sepuluh orang per kamar."
"Hah? Yang bener?" Tanya Lina kaget. Sebanyak itu?
"Iya kan tempat tidurnya bertingkat gitu kan, jadi bisa di isi dua orang. Satu di kasur bawah, yang satunya lagi di kasur atas."
"Oh iya, kita kan dulu emang gitu tempat tidurnya ya?!" Ujar Syifa.
Dan mereka, kembali bernostalgia pada zaman saat mereka masih menjadi gadis SMA. Mengingat akan hari hari itu kembali. Ah...kangen sekali rasanya. Sungguh!!
•••••
17.18
Dinda membuka lemari, memasukkan tumpukan baju Ilham yang sudah ia lipat rapi. Lemarinya ini memang di bilang cukup besar. Ada tempat untuk menyimpan baju yang sudah di lipat, ada juga untuk baju yang ingin di gantung dan juga terdapat dua laci di bagian bawah lemari.
Dinda kembali menutup lemari saat baju sudah di letakkannya dengan rapi. Dia berjalan kembali ke arah tempat tidur, mengambil beberapa dalaman hijab dan manset tangan miliknya. Lalu meletakkan di laci lemari bagian bawah. Seketika mata Dinda teralihkan oleh sebuah buku. Buku? Milik siapa ini? Seingatnya dia tidak pernah menaruh buku apapun di laci lemari ini. Dinda mengambil dan kembali menutup laci lemari, menatap lekat buku itu.
Kakinya melangkah dan duduk di kasur. Sedangkan tangannya mulai membuka pelan buku tersebut.
Muhammad Ilham maulana
Sebuah tulisan pena yang tertulis di kertas polos pada halaman pertama.
"Punyanya mas Ilham toh?"
Dinda kembali membalik untuk menuju halaman selanjutnya, membacanya dengan seksama. Setiap halaman, tertulis beberapa kalimat dengan susunan kata indah. Dan,,,semua itu seperti sudah Dinda baca sebelumnya. Tapi kapan ya?
Dinda kembali terdiam mengingat. Dia kembali membaca satu per satu kalimat itu berulang kali. Hingga akhirnya memori masa lalu itu kembali teringat. Iya, dia ingat...kalimat ini, kata katanya begitu persis seperti surat yang pernah dia baca. Dulu, masih ingatkah kalian dengan surat yang sering di terima Dinda? Dan sampai saat ini Dinda belum pernah tahu siapa yang berani mengirim surat ini. Dan ya, kalimatnya persis seperti yang ada pada buku Ilham ini.
Bukan hanya satu, namun hampir lima halaman yang berisi seperti surat yang di terimanya dulu. Ya, Dinda sekarang begitu ingat dengan semuanya. Dinda kembali membaca halaman selanjutnya, dan kali ini sepertinya kalimat itu belum Dinda baca sebelumnya.Di pojok kanan atas kertas tertulis tanggal, bulan dan tahun...
Di mana semua itu, bertepatan saat Ilham pamit pulang dari pesantren ini saat sudah menyelesaikan sekolah di SMA nya dulum
Hari ini, tepat di mana apa yang semua tersimpan di hati akhirnya bisa terucapkan...
Jujur kepada Abah, dan juga sekalian restunya..
Dan ternyata, Dinda juga tahu itu,
Tahu akan perasaanku selama ini,
Syukurlah...
Kini, tugasku hanya untuk memenuhi janji...
Nanti, saat semua sudah tercapai,
Cita cita dan keinginan,
Aku akan datang ke sana untuk meminangnya,
Dinda langsung tersenyum, tersipu malu. Baru kali ini dia di buat baper oleh laki laki. Dia lalu membaca halaman di sampingnya.
Dan Dinda, nama itu aku janji untuk selalu menjaganya dari jauh,,,
Dari setiap ramalan doa yang aku panjatkan,
Ya Allah, jaga dia untuk ku...
Senyum Dinda semakin lebar. Tak berselang lama dari itu, suara mengaji dari masjid terdengar. Dan lagi lagi, Dinda di buat berpikir olehnya. Sama!! Sama seperti kalimat di buku Ilham yang tak asing baginya, suara mengaji itu pun juga terasa tak asing. Seperti...dia pernah mendengarnya. Bukan pernah, tapi memang sering. Tapi kapan? Di mana?
Dinda tidak terlalu mau memikirkan itu. Dia menutup buku Ilham dan menaruhnya di dalam laci lemari seperti tadi. Dirinya melangkah ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Bersiap siap untuk pergi ke masjid. Bila suara mengaji sudah terdengar dari masjid pesantren, artinya waktu adzan maghrib sudah dekat.
__ADS_1
Dinda sudah siap dengan mukena atas yang sudah terpasang. Sedangkan mukena bawahan dan sajadah di bawa oleh tangan kanannya. Dinda mulai berjalan keluar rumah, menuju masjid.
Sesampainya di masjid, dirinya melangkah menuju shof perempuan yang paling depan. Sedangkan masjid, kini sudah ramai oleh para santri yang bersiap siap juga untuk sholat. Memang begitu, Dinda dan Bu Nyai selalu di beri tempat di shof paling depan.
Dinda duduk di samping uminya. Tangannya mulai mengulur tasbih, dan bacaan Al Quran itu masih berlanjut. Sepertinya hampir akan selesai. Mata Dinda tertuju pada depan,
di mana tirai yang terlihat menghalangi antara shof laki laki dan perempuan. Dan...ya,,, tirai ini yang sudah membuat Dinda ingat, kapan dan di mana dia mendengar suara mengaji yang persis seperti saat ini.
•••••
Malam saat di mana kegiatan pesantren sudah terselesaikan, dan sekarang para santri sudah mendekam di kamarnya masing masing untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolah. Sementara itu Dinda, dia memilih berdiam diri di kamar dengan melanjutkan membaca diary Ilham. Dia sungguh tidak menyangka, ternyata Ilham suka menulis diary. Dan kalian tahu? Hampir sepenuhnya yang Ilham tulis, adalah mengenai dirinya...Dinda.
Pintu tiba tiba terbuka, membuat Dinda terperanjat dan melihat depan. Ilham yang baru saja mengobrol kecil bersama Abah, kini datang memasuki kamar dan langsung menutup pintu. Jantung Dinda langsung berdegup kencang. Hatinya langsung mengucap deretan istighfar.
Dirinya baru tersadar, apa yang di lakukannya adalah suatu kelancangan. Bukankah buku diary itu termasuk privasi seseorang? Walaupun Ilham sudah menjadi suaminya, tetap dia harus izin terlebih dahulu. Astaghfirullah Dinda...
Ilham duduk di samping istrinya, dengan senyum yang terlukis di wajahnya. Sedangkan Dinda sudah gemetar takut, sebelumnya dia belum pernah seperti ini. Lancang, tanpa izin. Baiklah, kalaupun nanti Ilham marah karena kesalahannya dia siap. Ini memang salah.
"Itu....buku diary mas kan?" Tanya Ilham saat melihat buku miliknya kini berada di tangan sang istri. "Kamu tadi habis baca?"
Baru saja Dinda ingin membalasnya untuk meminta maaf, namun Ilham sudah angkat bicara lagi. "Mau baca buku diary yang lain?" Tawar Ilham.
Dinda langsung terdiam. Apakah suaminya itu tidak marah? Bahkan di wajahnya, hanya ada senyuman meneduhkan yang terarah kepada dirinya.
"Mas...ga marah?"
"Kenapa harus marah? Sebentar." Ilham berdiri dan membuka lemari. Mengeluarkan koper yang dia taruh di dalamnya. Di dalam koper itu, dia mengeluarkan sebuah buku dan membawanya ke arah Dinda.
"Ini." Buku dengan warna dan ukuran yang sama, namun dengan cover yang berbeda. "Kalau kamu mau baca lagi. Buku yang kamu pegang, itu buku lama. Dan ini, buku yang mas baru beli beberapa tahun lalu. Anggap aja lanjutan dari buku itu."
"Mas ga marah? Maaf ya mas, tadi Dinda baca buku punya mas tapi ga izin." Ujar Dinda dengan rasa bersalah. Ilham hanya membalas dengan senyuman lalu mengelus kepala Dinda. "Ga papa." Balasnya dengan kelembutan.
"Oh ya mas, tadi yang ngaji di masjid sebelum adzan itu siapa ya??"
"Ya suamimu ini, memangnya kenapa?" Tanya Ilham.
"Yakin? Beneran?"
"Iya, kenapa emangnya?"
"Dinda merasa ga asing aja. Padahal Dinda kan baru dua kali denger mas ngaji, pertama waktu akad lalu kedua waktu tadi maghrib. Tapi, Dinda ngerasa kayak sering denger."
"Emangnya kamu pernah denger dimana dek?"
"Dulu, waktu Dinda masih SMA tepatnya waktu masih kelas sepuluh. Dinda sering ke masjid sama Aisyah di waktu sepertiga malam terakhir buat sholat tahajud. Nah setiap Dinda sholat, itu selalu ada orang yang ngaji. Dan, persis kayak mas. Nadanya, suaranya...semuanya. Persis!" Jelas Dinda. Dia teringat saat melihat tirai masjid tadi saat hendak sholat maghrib. Tirai itu yang mengingatkan, bahwa dirinya dulu pernah mendengar suara itu untuk pertama kalinya. Suara yang begitu indah, merdu, menenangkan dan menghanyutkan.
Al Qur'an yang begitu membuatnya terkagum. Dan...sampai sekarang dia belum mengetahui siapa dia...tapi jujur, Dinda begitu mengaguminya.
"Itu karena, orang yang membaca adalah orang yang sama." Jawab Ilham santai membuat istrinya tersentak.
"Orang yang sama? Maksutnya..."
"Mas." Jawab Ilham memberi jawaban. "Kamu tahu dek, mas yang dulu sering ke masjid...sama kayak kamu, sholat tahajud.
Di setiap sepertiga malam terakhir. Dan mas sempatkan untuk selalu membaca Al Qur'an. Tapi ternyata, di masjid itu juga ada kamu hm?"
Dinda terdiam. Apakah ini hanya kebetulan?
"Mas tahu, dan orang itu yang udah buat Dinda kagum...dalam diam." Ujar Dinda. Jadi selama ini Ilham orangnya, Ilham yang dia kagumi. Ilham, suaminya sendiri?!
"Dan tanpa kita sadari rencana Allah sangat indah,,, tersusun begitu rapi. Di sisi lain kamu mengagumi mas dalam diam, dan di sisi lainnya ada mas yang mencintai kamu dalam diam." Balas Ilham membuat Dinda tersadar. Benar juga, mengapa bisa bersamaan seperti itu? Seindah itu?
"Satu lagi hal yang perlu kamu ketahui. Dulu mas, bukan cinta sama kamu. Tapi kagum. Awal kagum itu, di mulai saat mas tanpa sengaja lihat kamu yang lagi ngaji di teras rumah." Ilham kembali mengingatnya. Dulu, waktu dirinya baru masuk pesantren sebagai santri baru dan ingin menuju rumah Abah untuk izin dan sowan. Tanpa sengaja, di sana ada Dinda yang duduk mengaji di teras rumah. Dia begitu khusyuk, suaranya begitu lembut dan halus. Wajahnya putih bening dengan aliran air wudhu yang masih terlihat mengalir basah di wajah Dinda. Membuat rasa kagum langsung mengikat hati Ilham. Dia tahu betul, waktu itu Dinda masih kecil. Masih duduk di bangku kelas 2 MTs.
"Dan itu yang buat mas kagum sama kamu." Lanjut Ilham. "Rasa kagum yang bukan hanya karena parasmu dek, tapi akhlakmu, budi pekertimu, sopan santun yang terterap pada dirimu...semuanya. Perlahan, kagum itu berubah jadi cinta."
"Dan di sini sudah terbongkar. Kita kini memang saling mencintai, dan cinta itu
sama sama berasal dari rasa kagum. Sedangkan rasa kagum itu sama sama berasal dari lantunan Ayat suci Al-Quran yang terdengar di antara kamu dan mas." Jelas Ilham menyimpulkan. Rasa kagum Dinda kembali memuncak, kagum terhadap rencana Allah. Memang benar, rencana-Nya tidak pernah salah...selalu indah. Dan kini, Dinda benar benar merasakan ini.
Oh Ya Allah... Subhanallah... Allahuakbar,,, begitu besarnya Keagungan-Mu, begitu tinggi Kekuasaan-Mu,,,,
Dan di ingatkan lagi, bahwa ada kekuasaan yang tidak pernah bisa di hitung dengan apapun, sekali Dia berkehendak...semua akan berjalan sesuai rencana dan perintah-Nya...
Tiba tiba Dinda kembali teringat akan surat itu. "Mas, Dinda dulu pernah dapat surat...itu udah lama banget tapi. Waktu masih SMA juga, surat itu ga tahu siapa yang kasih...tapi di surat itu selalu tertulis 'Untuk Dinda'. Dan kalimatnya itu seingat aku persis sama tulisan yang ada di buku diary mas. Apa itu juga mas yang kirim surat ke Dinda diam diam waktu itu?"
Ilham mengangguk mantap. "Iya, kenapa?"
"Kenapa ga jujur aja kalau itu dari mas. Dinda waktu itu bingung banget itu surat dari siapa." Jawab Dinda. "Mas kenapa kasih surat kayak gitu??"
"Biar kamu tahu, ada seseorang yang sedang mencintai kamu dek." Ujar Ilham. Kata katanya begitu tulus terdengar.
"Mas....berapa lama mencintai Dinda??"
"Dari kelas sepuluh, sampai lulus. Dan tiga tahun itu, cuma kamu yang mas suka. Lalu di tambah delapan tahun perpisahan kita, dan tetap sama. Cuma kamu yang mas cinta. Ya udah tinggal hitung, tiga tahun di tambah delapan tahun."
11 tahun. Dinda begitu terkejut saat mengetahui berapa tahun Ilham mencintainya. Sebelas tahun, bukan waktu yang singkat...itu tidak berlalu begitu cepat. Sangat lama. Namun lihatlah Ilham, hatinya yang begitu setia menggenggam satu nama. Sebesar itukah cintanya? hingga hanya ada Dinda di hatinya.
__ADS_1
"Sebelas tahun? Apa mas ga pernah cinta sama perempuan lain?" Tanya Dinda.
"Dek, di hidup mas dulu yang paling mas cintai itu ibu dan saudara perempuan mas. Lalu ada kamu hadir,,, dan cuma kamu seorang perempuan yang berhasil buat mas suka dan tertarik."
Dinda geleng geleng kepala. Sebelas tahun, Dinda yakin Ilham banyak sekali bertemu wanita wanita cantik di luar sana. Yang lebih cantik paras dan hati dari pada dirinya, yang lebih baik dari pada dirinya. Namun...Entahlah, bahkan Dinda bingung ingin mengatakan apa.
Sebuah rasa keberuntungan besar langsung hadir pada hati Dinda. Ya Allah, bagaimana dia merasa tidak beruntung mendapatkan suami yang begitu setia, yang memiliki rasa cinta yang begitu besar terhadap dirinya...tidak hanya terhadap dirinya saja, Dinda tahu Ilham juga mempunyai cinta terhadap Abah dan umi. Dia, yang selalu memberikan perlakuan lembut terhadap dirinya...dan Dinda yakin Ilham adalah sosok imam baginya yang dapat membimbing dirinya, anaknya dan juga keluarganya untuk masuk ke dalam Jannah-Nya nanti.
"Mas...."
"Hm?"
"Dinda boleh ga peluk sebentar?"
Pertanyaan Dinda itu sontak membuat Ilham tertawa kecil. Hey, mereka sudah menjadi suami istri...lalu kenapa istrinya itu harus meminta izin dulu saat ingin memeluk?
"Lama juga boleh." Balas Ilham...Dinda tersenyum. Tubuhnya langsung di rengkuh erat oleh Ilham. Di dirasakannya kehangatan dan kenyamanan yang mulai mengalir dalam tubuhnya. Pelukannya, yang begitu erat seperti siap melindungi dan memberinya rasa aman.
Oh Ya Allah, terima kasih atas semuanya. Atas semua rencana indah yang telah Engkau susun dan takdirkan untuk kami.
Mereka saling melepaskan pelukan. Ah,,, rasanya Dinda mulai ketagihan untuk memeluk suaminya itu. Mereka saling menatap penuh arti satu sama lain.
Usaha yang telah di lakukan Ilham selama ini, tidaklah sia sia. Doanya, usahanya, semuanya telah di bayar lebih oleh Allah. Begitulah rasanya saat kita berjalan sesuai jalan yang di Ridhai Allah...berjalan dengan kepercayaan dan keyakinan penuh terhadap Allah.
Laki laki yang benar benar mencintai seorang wanita, adalah mereka yang tetap berusaha untuk menjaga kesucian wanita yang di cintainya. Bukan malah mengajaknya untuk berzina...berjalan di atas jalan yang tidak
di Ridhai Allah. Ilham, dia begitu menjaga Dinda.
Menjaganya lewat ucapan doa maupun perbuatan yang nyata. Kenyataannya saat mereka sudah lamaran, mereka sama sekali tidak pernah saling menghubungi satu sama lain. Karena apa? Karena mereka tahu belum menjadi sepasang suami istri yang sah, yang halal, yang belum menjadi mahromnya. Dan bagaimanapun, walaupun sudah lamaran mereka harus tetap menjaga jarak dan komunikasi.
Begitulah arti cinta yang sebenarnya. Cinta memiliki makna yang begitu mendalam. Membawa kebahagian, kedamaian, kenyamanan, kesenangan...namun bila cinta itu sudah berubah arah ke jalan yang salah...maka jangan salahkan jika cinta itu yang akan membawa musibah, kecewa, kesedihan dan sakit hati yang mendalam.
Karena sesungguhnya kita hidup di dunia ini hanya untuk mencapai keridhoan dari Allah.
•••••
Malam yang gelap, menunjukkan pukul hampir jam setengah sebelas malam. Namun Dinda masih terjaga, semalaman dia ngebut ingin baca diary Ilham. Rasa penasaran yang begitu besar terhadap apa saja yang sudah di tulis suaminya itu mengalahkan rasa kantuknya malam ini. Dan sepanjang kalimat yang dia baca, selalu membuatnya tersipu malu. Oh kata katanya, begitu terasa tulus dari hati.
Hingga sampailah Dinda di halaman di mana itu adalah tulisan terakhir yang di tulis Ilham dalam buku diary nya. Halaman selanjutnya, di biarkan kosong begitu saja. Dia kembali membaca, baiklah ini yang terakhir. Setelah itu dia akan bersiap siap tidur untuk malam ini.
Di pojok kiri atas ,Dinda membaca tanggal di mana Ilham menulis kalimat tiga baris itu.
03/03/18
Yang di mana itu adalah tanggal, bulan, dan tahun mereka menikah.
Di pesantren ini, kami di pertemukan
Di pesantren ini, kami di pisahkan
Namun di pesantren ini pula, kami dipersatukan
•••••
VISUAL
°°°°°°°°°
AISYAH
SYIFA
LINA
DINDA
NB. Assalamualaikum semua, episode kali ini author kasih bonus visual☺️. Dan mohon maaf kalau mungkin menurut kalian visual ada yang kurang/ga cocok. Foto foto di atas yang author upload sudah mendapatkan izin dari orangnya langsung. Jadi, mungkin author cuma bisa kasih visual yang tokoh utama dulu🙏. Untuk yang lainnya sesuai imajinasi kalian saja ya teman teman. Sekali lagi author mengucapkan banyak banyak terima kasih kepada kalian yang sudah selalu mendukung karya author sampai episode kesekian kalinya🙏🙏 Wassalamu'alaikum.
#JagaKesehatanUntukSemuanya
...*******...
__ADS_1