
Sudah 3 Minggu berlalu, namun tak ada yang berubah. Dengan Fariz yang pada ketetapannya untuk menjauhi Aisyah, dengan Syifa yang masih mengejar reyhan, dengan Iqbal dan Lina yang sering bertengkar dan Dinda yang belum bisa menemukan orang yang memberinya surat.
Fariz berjalan menyusuri koridor sekolah. Langkahnya memelan saat melihat dua orang gadis tengah berjalan sambil berbincang bincang seru dari arah berlawanan. Namun mereka juga langsung terdiam saat melihat Fariz.
"Assalamualaikum" Ujar Fariz.
"Waalaikum salam" Jawab Aisyah dan Syifa.
Tak mengucapkan sepatah atau Dua patah kata pun Fariz langsung pergi begitu saja.
"Syah,, kak Fariz kenapa sih? Lo berantem sama kak Fariz? Ada masalah apa?" Tanya Syifa. Aisyah menggeleng.
"Terus kenapa sikap kak Fariz gitu. Berubah, udah beberapa Minggu ini dia kalau ketemu Lo bawaannya pengen ngehindar Mulu" Kata Syifa. "Kalau ketemu ga pernah disapa, palingan cuma bilang salam doang. Terus habis itu nyelonong pergi gitu aja. Senyum juga ga,, pasti ada yang ga beres Syah" Lanjutnya.
Aisyah terdiam. "Udah,, ke kantin aja yuk. Lupain soal itu."
Fariz terus berjalan hingga memasuki kelas, dia menjatuhkan tubuhnya begitu saja di kursi. Mengacak-ngancak rambutnya. Frustasi.
"Kenapa Lo Riz, ha?" Tanya Iqbal dengan duduk disamping Fariz.
"Gue udah ga betah gini terus!!!" Ujarnya dengan nada kesal. Kesal dengan dirinya sendiri.
Ya, selama 3 Minggu sudah Fariz menjauh dari Aisyah. Namun selama itu pula Fariz malah uring uringan tidak jelas.
"Ga betah kenapa?" Tanya Iqbal.
"Gue udah ga betah buat ngejauhin Aisyah. Gue malah kayak ke siksa sama ketentuan gue sendiri buat jauhin dia"
"Nah kan Lo,, gue bilang juga apa...Jangan jauhin Aisyah. Kan,, malah Lo sendiri yang uring uringan kayak gini"
"Terus gue harus apa?" Tanya Fariz.
"Terus gue harus apa? Ya Lo harus deketin Aisyah lagi lah kayak dulu." Tegas Iqbal.
"Gimana caranya?"
Iqbal berdecih kecil. "Ya Lo tinggal deketin lah,, gitu aja pake tanya"
Fariz menghembuskan nafas kasar. "Masalahnya semenjak gue jauhin Aisyah, Aisyah itu malah kayak masa bodoh sama gue. Gak peduli. Dia aja ga nanyain kenapa gue jauhin dia? Kenapa gue berubah,, dia sama sekali ga nanya"
"Sukurin!! Salah sendiri" Ujar Iqbal membuat kekesalan Fariz bertambah. Ia kembali mengacak-ngacak rambutnya. Menyesali keputusannya sendiri. Ya,, bukannya rasa itu hilang malah semakin menjadi jadi di diri Fariz. Semakin Fariz menjauh semakin pula hatinya untuk ingin dekat dengan Aisyah, semakin Fariz ingin membuang semua perasaan itu,, semakin pula perasaan itu memaksa untuk masuk kembali.
"Gue kangen sama dia...Ah..." Gumam Fariz.
Iqbal menoleh kebelakang, menatap Gilang yang sibuk dengan para pacar halunya. "Lang,, lagunya matiin kenapa sih. Blackpink Mulu yang Lo urusin!!" Ujar Iqbal yang tak digubris oleh Gilang. "Lang matiin lagunya,, si Fariz lagi stres nih"
"Stras stres Lo yang stres!!" Ketus Fariz.
Gilang mematikan lagu blackpink miliknya. Lalu duduk dihadapan Fariz dan Iqbal.
"Bawa ke RSJ aja" Usulnya.
Fariz memukul lengan Gilang. "Ngawur aja Lo. Gue masih waras" Ujar Fariz nyolot.
"Jangan positif an Riz..." Kata iqbal.
"Emang gue positif apa?"
"Positif masak Lo ga tau sih. Orang yang gampang marah marah"
"Sensitif maksut Lo?" Tanya Ojit yang ikut bergabung bersama mereka.
"Ya itulah pokoknya"
"Mungkin si Fariz lagi PMS kali" Timpal Gilang.
"Ngawur aja Lo Lang kalau ngomong. Kayaknya gue harus cuci otak Lo deh" Ucap Fariz.
"Gilang,,,, Alang Alang selasih lidah buaya... Kalau panas dalam minum saja bintang Toedjoe panas dalam" Nyanyi Ojit. Tidak karuan.
"Noh kan,, kayaknya obat Lo habis deh jit" Kata Iqbal.
"Eh,, gue denger denger ada murid baru ya. Pindahan dari Jakarta" Ujar Ojit.
"Kelas berapa?" Tanya Gilang.
"Dia masuk kelas 12 IPS,, Padahal udah kelas 3 lho,, tapi kok pindah ya. Bentar lagi palingan juga lulus" Kata Ojit.
"Mungkin pindah karena pekerjaan orang tuanya kali" Jawab Fariz.
"Ya mungkin aja..."
"Eh jit,, mau ngapain ngumpulin uang receh kayak gini" Tanya Gilang.
"Mau beliin Paijo makanan. Kasian makanannya udah mau habis. Nanti kelaperan lagi"
"Ayam itu dikasih apa aja juga mau,, Lo kasih nasi juga dia pasti mau,,," Timpal Iqbal.
"Gini gini gue relain ga beli nasi demi beli makanan si paijo..." Curhat Ojit.
"Ck, ck, ck, kasian banget Lo...Sabar ya" Kata Gilang dengan menepuk nepuk bahu Ojit. "Nanti gue traktir beli cireng deh"
"Beneran?!"
"Iya,, tapi satu biji aja ya"
Ojit membuang nafas kasar. "Niat ga sih Lo traktir gue" Ujar Ojit kesal.
•••••
Drrtt,
Sebuah pesan masuk. Devan membuka ponselnya.
Ghea H : Temuin gue sekarang di kafe Amora!
Devan terdiam. Dia langsung mengambil jaket lalu memakainya. Berjalan cepat menuruni anak tangga, lalu mengeluarkan mobilnya. Mengendarainya dengan kecepatan sedang.
Devan berjalan memasuki kafe, pandangannya terhenti pada sosok perempuan yang melambaikan tangan kearahnya.
"Hai" Sapa Ghea.
"Hai,, ada apa?" Tanya Devan.
"Gue butuh jawaban Lo sekarang"
Devan terdiam. "Gue gak bisa bantu Lo"
"Van,, gue mohon sama Lo.. Sekali ini aja. Habis itu gue gak bakal minta apa apa sama Lo. Pliss,, bantu gue" Ujar ghea memohon.
"Tapi gue gak mau ngelakuin apa yang Lo minta" Jawab Devan.
"Pliss,,, gue mohon sama Lo" Ucap Ghea dengan wajah memelas.
Devan terdiam,, apa pantas Devan menolak permintaan Ghea padahal keluarga Ghea pernah menyelamatkan perusahaan papa nya dari kebangkrutan.
"Kasih gue waktu 3 hari buat mikirin ini,,, Gue akan kasih jawaban buat Lo"
Ghea mengangguk. "Gue harap Lo mau bantu gue."
•••••
tok tok tok
"Assalamualaikum" Ujar seorang gadis.
"Waalaikum salam,, ada apa?" Tanya Lina.
"Ini,, buat Aisyah" Kata gadis itu dengan menyodorkan kotak berwarna hitam.
__ADS_1
"Dari siapa?" Tanya Lina.
"Kak Fariz" Jawabnya. "Gue duluan ya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Gadis itu lalu pergi entah kemana. Lina memandang kotak yang kini ada di tangannya. Lalu dia menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju Aisyah yang tengah membaca buku.
"Syah,,,"
"Hm"
"Ini, buat Lo" Kata Lina dengan menyodorkan kotak itu.
Aisyah menutup bukunya, lalu mengambil alih kotaknya. "Dari siapa?!" Tanya nya.
"Kak Fariz" Jawab Lina membuat Aisyah sedikit terkejut. Bukankah Fariz marah kepadanya sampai untuk berbicara saja enggan, lalu kenapa tiba tiba memberinya barang ini. Aisyah membuka kotaknya, yang ternyata isinya adalah jam tangan cantik berwarna biru tua.
Lina membelalakkan matanya. "Syah,, jamnya bagus banget..." Kata Lina yang menarik perhatian kedua sahabatnya. Khususnya Syifa.
"Mana mana lihat!!" Ujar Syifa. "Ih Syah,, ini jam harganya mahal.... mana cantik banget lagi!," Lanjutnya.
Buat apa kak Fariz kasih jam tangan ini?! Tanya Aisyah pada dirinya sendiri yang pasti dirinya sendiri pun tidak mengetahui jawabannya.
•••••
"Assalamualaikum" Ujar Fariz dengan duduk dihadapan Aisyah.
"Waalaikum salam" Jawab aisyah. "Ada apa kak?"
"Nggak papa,, cuma pengen kesini"
Aisyah mengerutkan keningnya. "Udah ga marah?"
"Gue gak marah"
"Terus?!"
Fariz menghela pelan. "Kalaupun gue marah, gue gak bisa marah terlalu lama sama Lo"
"Kenapa?"
"Ya karena gue gak bisa jauh dari Lo" Jawab Fariz jujur membuat Aisyah sedikit tersentak. "Lagian Lo tahu sikap gue berubah kok ga ditanyain sih. Seenggaknya Lo itu basa basi, tanya tanya dikit kek. Lah, Ini nggak sama sekali" Lanjut Fariz cemberut.
"Aku pikir kakak itu marah,, biasanya kalau orang marah itu butuh waktu sendiri buat tenangin diri" Jawab Aisyah.
"Kenapa ga Lo hibur?!"
"Karena penghibur terbaik adalah diri kita sendiri" Jawab Aisyah. "Oh ya kak,, sebentar"
Aisyah membuka tasnya, lalu mengeluarkan kotak hitam yang berisi jam tangan. "Ini,, maaf kak, aku ga bisa terima jam nya" Ujar Aisyah dengan menyodorkan kotak itu pada Fariz.
"Kenapa?" Tanya Fariz yang terlihat sedikit kekecewaan pada sorot matanya.
Aisyah menghela pelan. "Bukannya apa, tapi lebih baik uang kakak buat beli yang lebih bermanfaat aja. Jujur sebenernya aku ga suka pakai beginian. Aku lebih suka sederhana. Jadi takutnya, jam ini ga kepake kalau ada di aku" Jawab Aisyah.
"Terus ini jamnya harus gue apain?!" Tanya Fariz.
"Kakak bisa jual lagi kok, ini jamnya sama sekali belum aku pakai. Pasti laku. Atau kakak kasih ke seseorang aja" Usul Aisyah.
Fariz terdiam. "Lagi pula aku ga pantes pakai jam mahal kayak gitu" Lanjut Aisyah.
"Hssstt,,, jangan ngomong gitu!!" Ujar Fariz dengan menggeleng kepalanya.
•••••
"Kak reyhaann!!!" Sapa Syifa lalu duduk disamping Reyhan.
"Kok sendirian kak?" Tanya Syifa. "Mau ini? Cimol" Tawar Syifa dengan menyodorkan cimolnya.
"Nggak!!"
"Kak,, kakak cita cita nya mau jadi pilot?" Tanya Syifa.
"Hm"
"Kakak ga mau tanya aku tahu cita cita kakak dari mana?!" Ucap Syifa.
"Nggak"
Syifa berdecak sebal. "Ya udah deh ga papa. Eh kak kok kebetulan ya. Kakak cita citanya jadi pilot, aku pramugari. Apa jangan jangan kita jodoh?!" Ucap Syifa dengan tersenyum lebar.
Halu aja terus...
Syifa mengerucutkan bibirnya saat melihat Reyhan yang tidak peduli padanya. Namun tak lama dia kembali tersenyum. Baiklah, dia akan pura pura tersedak Agar Reyhan mengalihkan perhatiannya.
"Ehek ehek,,, ehm,,, ehek ehek" Syifa melirik Reyhan yang masih tidak mempedulikannya. "Ehm,, ehk ehek...ehek..." Syifa kembali melirik Reyhan.
"Kak Reyhan!!" Ujar Syifa setengah berteriak.
"Apa?" Ketus Reyhan.
"Kak Reyhan ga punya niatan apa buat kasih atau ambilin aku minum"
"Punya kaki?!"
"Ya punya lah!!" Jawab Syifa sebal.
"Punya tangan?!"
"Kakak ga lihat,, nih tangan ku masih lengkap semua. Jarinya juga masih lengkap 10" Kata Syifa.
"Ya udah,, ambil aja sendiri" Kata Reyhan dingin.
"Tapi kan aku lagi tersedak. Kakak ga lihat??"
"Cuma pura pura doang kan?!" Ucap Reyhan santai.
Syifa menghentakkan kakinya. "Kok tahu sih?"
"Gue bisa bedain mana yang pura pura mana yang nggak" Jawab Reyhan.
Syifa memonyongkan bibirnya. Lalu menyandarkan punggungnya. Menghembuskan nafas kasar. "Otaknya kebuat dari apa sih. Semuanya bisa tahu,, gue sumpel tu otak pake tisu basah biar mampet. Biar ga bisa mikir sekalian baru tahu rasa!!" Gumam Syifa. Reyhan yang mendengarnya hanya memilih untuk diam.
Syifa kembali melirik Reyhan. Lihatlah, cowok itu sama sekali tidak mempedulikannya. Syifa berdiri dari tempat duduknya. "DASAR COWOK GA PEKA!!" Teriak Syifa tepat di depan Reyhan. Membuat Reyhan menatap Syifa bingung. "Dasar,, jadi cowok nyebelin banget sih!!" Tambahnya lagi.
Syifa menghentakkan kakinya. Lalu pergi begitu saja dengan membawa sisa sisa kekesalan yang ada.
"Maaf.." Ujar seseorang menghentikan langkah Syifa.
"Gue mau tanya,, Lo kenal sama yang namanya Iqbal?!" Tanya cowok itu.
"Oh iya, kenal. Kenapa?"
"Dia kelas berapa?!"
"Kak Iqbal itu kelas 12 MI..."
"SYIFAA!!" Teriak Lina. Lina berlari menuju Syifa.
"Ikut gue,," Lanjutnya.
"Kemana?!" Tanya Syifa.
Lina melihat sekilas cowok di hadapan Syifa lalu kembali menatap Syifa. "Udah,, ikut aja. Em,, maaf gue ganggu. Tapi gue harus bawa Syifa. Ada hal yang penting. Ga papa kan?" Tanya Lina pada cowok tersebut.
"Iya" Jawabnya.
Lina memegang lalu menarik tangan Syifa, membawanya pergi dari hadapan cowok itu.
__ADS_1
•••••
Syifa terbangun dari tidurnya, perutnya sedari tadi berteriak agar Syifa memberinya makanan.
"Duh,, laper banget!!" Gumamnya.
Syifa mengambil jam tangan yang ia taruh di atas lemarinya. Jam menunjukkan pukul 2 dini. Ia menggeledah tasnya, berharap menemukan jajan yang bisa ia makan. Namun hasilnya nihil. Tidak ada jajan yang masih tersisa, hanya ada satu bungkus mie instan goreng di sana.
"Duuhh,, kok ga ada jajan. Mana laper banget lagi." Syifa melihat ketiga sahabatnya yang masih tertidur pulas. "Masak iya gue ke dapur buat masak mie. Tapi jam segini,, nanti kalau tiba tiba ada hantu Dateng gimana? Terus gue di tarik diajak main kayak di film film horor gimana? Gue kan ga mau..."
Syifa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia kembali menggeledah tasnya, mengeluarkan botol minum yang airnya hanya tersisa setengah.
"Kalau gue kasih air biasa, bisa ga ya?!" Tanya nya pada diri sendiri. "Ah Bodo amat,, yang penting gue bisa makan!!"
Syifa membuka bungkus mie instan nya, lalu mengeluarkan bumbu bumbunya. Menuangkan air minum beberapa mili ke dalamnya. "Berapa lama nih gue harus nunggu ya"
15 menit kemudian...
"Haduuh,, kok mienya masih keras. Cepetan dong,, gue udah laper nih.." Gumam Syifa dengan menatap mienya.
"Lo juga bisa diem ga. Dari tadi ngrepotin gue Mulu heran deh" Ucap Syifa pada perutnya. "Heh,, cepetan!! Gue laper nih. Lama banget siih"
Syifa menghembuskan nafas kasar. "Heh mie,, Lo itu sama kayak kak Reyhan tau ga. Keras,, susah banget buat di lunakin. Dikasih apa aja juga ga mempan. Lo sama kak Reyhan sama aja, sama sama ngeselin!"
Syifa kembali terdiam dengan menatap mienya. "Tuh, kan gue malah jadi curhat,,"
"Fa..." Panggil Aisyah dengan menepuk pundak gadis itu,, membuat Syifa menjadi terkejut.
"Aisyah,, kirain gue hantu" Katanya.
"Kamu,, lagi ngomong sama siapa?!" Tanya Aisyah.
"Ini,, mie. Dari tadi ga jadi jadi,, gue kan jadi sebel!!"
Aisyah menyentuh bungkus mienya. "Ini tadi Pake air biasa?!"
"Iya,, pake air minum"
"Ya pantesan lama"
"Lo kok bangun? Gara gara gue ya?!" Tanya Syifa tidak enak.
"Nggak kok, aku emang sering bangun jam segini buat sholat tahajud" Jawab aisyah. "Ya udah ke dapur aja gih"
"Tapi katanya Lo mau sholat tahajud"
"Masih ada waktu kok"
"Tapi gue gak berani ke dapur jam segini Syah,,"
"Ya udah, aku temenin. Yuk!"
Syifa mengangguk.
Keduanya langsung berjalan menuju dapur. Sesampainya di dapur, aisyah langsung merebus air. Setelah mendidih, mie tersebut ia masukkan kedalamnya. Sedangkan Syifa menuangkan semua bumbunya kedalam piring.
Beberapa menit berlalu,, mie pun sudah jadi. Bau harum khasnya, membuat Syifa tidak sabar untuk menyantapnya. "Pelan pelan makannya" Kata Aisyah.
"Gwee lwapwerr sywaahh.." Jawab Syifa yang dengan lahap memakan mie nya.
•••••
"Ngapain Lo ada disini?" Tanya Iqbal dengan nada tidak suka.
"Kenapa? Gue sengaja pindah ke sekolah ini cuma mau ketemu sama Lo"
"Ada apa?" Tanya Iqbal yang masih menatap tidak suka cowok di hadapannya.
"Lo,, bilangin sama perempuan murahan itu buat jauhin bokap gue!!" Tegasnya.
Iqbal mengepalkan tangannya. "Jangan pernah berani Lo hina nyokap gue,," Bentak Iqbal.
"Kenapa? Itu kan kenyataannya. Nyokap Lo itu cuma perempuan murahan!!"
Bugh
Iqbal memukul telak wajah cowok itu,, membuat cowok itu mundur beberapa langkah. Laki laki yang bernama verel itu maju beberapa langkah, lalu menarik kerah seragam Iqbal dengan tatapan marah.
"Gara gara nyokap Lo,, keluarga gue hancur!!" Ucapnya marah di hadapan Iqbal. Ia lalu memukul tak kalah hebat dari pukulan Iqbal.
"Lo ga bisa nyalahin nyokap gue sepenuhnya,, bokap Lo juga salah. Lo pikir keluarga gue baik baik aja. Keluarga gue juga hancur!!" Jawab Iqbal juga tak kalah marah, namun ada rasa ketidak berdayaan saat mengucapkannya.
"Gue gak peduli sama keluarga Lo. Yang gue tahu nyokap Lo itu PELACUR!!" Bentak verel. Iqbal kembali memukul verel tepat di bagian rahangnya, membuat cowok itu tersungkur jatuh ke tanah.
"JAGA MULUT LO!!" Bentak Iqbal.
"Emang itu kan kenyataannya!!" Jawab verel. "Nyokap Lo itu cuma perempuan murahan, sampe kapan Lo mau belain ibu model begituan ha??!!!"
"Dan itu juga salah bokap Lo yang kepincut sama nyokap gue!" Kata Iqbal membuat verel juga langsung memukul wajah iqbal beberapa kali. Tak mau tinggal diam, Iqbal juga memukul verel beberapa kali.
Hingga Lina tiba tiba datang memisahkan mereka. "STOP KALIAN STOP!!" Teriak Lina berusaha memisahkan keduanya. Untungnya mereka berada di belakang sekolah atau sebut saja taman belakang, yang pasti tempat itu sepi dan jauh keramaian.
"Kalian ngapain sih berantem kayak gitu!!" Tanya Lina dengan sedikit membentak. Lina menatap keduanya secara bergantian. Sedangkan Iqbal dan verel saling menatap dengan amarah yang sangat terlihat jelas di kedua mata mereka. Luka lebam juga keringat mengucur dari wajah mereka.
Lina menatap verel. Itu kan cowok yang kemarin sama Syifa. Batinnya.
"Urusan kita belum selesai" Kata verel dengan nafas yang masih memburu. Lalu ia pergi dari hadapan mereka berdua. Iqbal membuang muka dengan memegangi ujung bibirnya yang lebam.
"Lo kenapa bisa ada di sini?" Tanya Iqbal.
"Gue tadi mau cari Aisyah, gue pikir Aisyah ada di sini, ya karena pas istirahat dia juga sering Dateng kesini" Jawab Lina.
"Duduk!" Perintah Lina. Iqbal duduk di kursi panjang taman. Dengan di ikuti Lina yang duduk disampingnya.
"Kenapa berantem kayak gitu ha? Ada masalah apa Lo sama dia?" Tanya Lina.
"Bukan urusan Lo!!" Ketus Iqbal.
Lina menghela pelan. "Tunggu disini gue mau ambil obat!!" Ujar lina yang langsung berdiri lalu pergi ke UKS untuk megambil obat.
Beberapa menit berlalu, Lina datang dengan membawa kotak obat di tangannya. Lina langsung mengambil kapas lalu meneteskan obat luka beberapa tetes di atasnya.
"Mau ngapain Lo?!" Tanya Iqbal.
"Mau ngobatin Lo lah, ya kali mau ngupil" Jawab Lina dingin.
"Ga usah!!"
"Mumpung gue baik nih!!" Ketus Lina.
"Kalau Lo aja tega buat gue jadi dihukum satu Minggu bersihin toilet, kenapa Lo ga tega lihat gue kayak gini?!"
Lina terdiam. "Ga usah banyak ngomong deh,, mau diobatin aja ribet!" Ucap Lina. Lalu dia mulai mengobati luka lebam Iqbal di bagian ujung bibir dan pelipisnya.
Iqbal menatap Lina yang sibuk mengobati lukanya. "Sejak kapan Lo mulai peduli sama gue?!" Tanya Iqbal membuat lina menghentikan gerak tangannya. Lina melihat Iqbal sekilas, namun setelah itu ia kembali melanjutkan mengobati luka Iqbal.
"Udah selesai" Ucap Lina dengan membereskan semuanya.
"Lo belum jawab pertanyaan gue. Semenjak kapan Lo mulai peduli sama gue kayak gini"
Iqbal terdiam dengan menatap kotak obat di genggamannya. Entah kenapa suasana mendadak terasa canggung baginya. "Ng-Nggak kok. Lo aja yang ga nyadar"
"Ga nyadar kenapa?!" Tanya iqbal.
"Gue itu orangnya emang baik. Peduli sama siapa aja,, judes judes gini gue juga masih punya hati kali. Masih punya perasaan. Lo nya aja yang ga nyadar" Jawab Lina.
"Udah ah, gue mau ngembaliin obatnya dulu ke UKS" Ujar Lina dengan berdiri. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Iqbal.
__ADS_1
...******...