
Pagi ini mentari sama sekali tak menyapa, awan hitam nan redup menghalangi sinarnya. Cuaca pagi ini tak mendukung. Langit pagi yang seharusnya penuh kehangatan kali ini sangat gelap.
Syifa, Lina dan Dinda. Mereka bertiga berjalan beriringan memasuki gerbang, dengan Lina yang memakai cardigan biru muda. Aisyah? Hari ini dia berangkat lebih awal karena ada piket.
"Lin, fa. Aku ke kelas dulu ya" Ucap Dinda pada kedua sahabatnya.
"Oh ya silahkan Din" Jawab Lina.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab mereka serempak.
Syifa menatap Dinda yang melangkah menjauh dari mereka, dan tanpa sengaja tatapannya terhenti pada seseorang dengan menggunakan jaket hitam, matanya pun ikut berbinar.
"KAK REYHAAN!!" Teriaknya membuat Lina secara refleks menutup kedua telinganya. Lina menoyor kepala Syifa. Kesal pastinya.
"Kalau teriak teriak jangan disini, bisa budeg kuping gue" Bentak lina.
"Kenapa sih Lin Lo bawaannya emosi Mulu"
"Ya gimana gue gak emosi Lo teriak teriak gak inget tempat. Bisa bisa budeg kuping gue denger teriakan Lo terus. Noh liat orang orang juga liatin Lo" Ujar Lina, membuat Syifa langsung mengarahkan pandangan ke sekeliling nya.
"Bodo amat. Gue mau ngejar kak Reyhan dulu. Assalamualaikum" Kata Syifa acuh tak acuh.
"Waalaikum salam" Jawab lina yang hanya bisa mengelus dada dengan tingkah sahabatnya.
"Kak Reyhan kak Reyhan tunggu!!" Ujar Syifa setengah berteriak dengan berlari tergopoh-gopoh mengejar Reyhan. Yang tentu mengundang perhatian orang orang yang ada di lorong sekolah. Namun apa pedulinya Syifa terhadap mereka.
"iiihh kak Reyhan tungguu!!" Pintanya lagi.
Reyhan tetap berjalan dengan setiap langkah lebarnya, tak peduli dengan Syifa yang terus berteriak memanggilnya.
"Kak Reyhan ganteng bisa berhenti sebentar ga? Aku capek nih ngejar ngejar kak Reyhan terus. Kak Reyhan!!"
Reyhan berhenti saat mendengar sesuatu dari arah belakang dengan disusul suara robekan. Cowok itu melihat Syifa yang tengah menatap sendu dengan kedua tangan yang menutupi roknya. Reyhan melangkah pelan ke arah Syifa.
"Ceroboh banget sih jadi orang" Ketusnya lagi. Syifa menatap Reyhan dengan wajah memerah.
"Yah rok gue Robek" Lirihnya pelan.
"Salah sendiri" Jawab Reyhan jutek.
Reyhan menghela pelan. Lalu ia melepas jaket hitamnya. Reyhan memasangkan jaketnya di pinggang Syifa, dengan bagian punggung jaketnya berada di samping rok Syifa. Membuat Syifa berdiri mematung. Tidak percaya. Tapi tenang, tidak sampai bersentuhan.
Momo tolooong!! Gue butuh oksigen. Jeritnya dalam hati.
"Lain kali hati hati" Kata Reyhan memberi peringatan, lalu ia kembali melangkah pergi.
"Huuuaaaa momoo gue butuh oksigen" Jerit Syifa saat Reyhan sudah menjauh. Sedangkan mereka yang menyaksikan kejadian itu hanya berdiam diri.
"Oksigen mana oksigen mana?!!!" Gumam Syifa dengan menghentakkan kedua kakinya dilantai dan mengibaskan kedua tangannya. Jangan tanya seberapa senangnya Syifa saat ini.
•••••
"Itu jaket siapa?" Tanya Lina dengan menyantap bakso hangatnya.
"Ini?" Tanya Syifa dengan menunjuk jaket yang dipakainya.
"Hm"
"Kak Reyhan" Jawab Syifa.
Lina manggut manggut, namun tak lama ia melotot. Cepat cepat ia menelan bakso yang masih ada di mulutnya. "Kak Reyhan?"
Syifa mengangguk. "Kok bisa?" Tanya Lina yang masih belum percaya.
Syifa tersenyum. "Bisa Dooong"
Lina menaikkan kedua alisnya. "Jadi ceritanya gini..." Ucap Syifa menggantungkan kalimatnya. "Jadi gue tadi ngejar kak Reyhan. Pas sampe lorong taunya rok gue robek. Ya udah ni jaket, kak Reyhan di pinjemin buat gue?"
"Rok Lo robek?" Tanya Lina.
"Hm"
Lina berdecih. "Ceroboh banget sih" Ujarnya.
"Bodoo,, yang penting kak Reyhan jadi peduli sama gue" Kata Syifa santai.
"Terus gimana nasib rok kamu yang robek" Tanya Aisyah membuat Syifa secara refleks menatap roknya yang robek dan ditutupi dengan jaket reyhan.
"Iya juga ya" Lirihnya.
"Emm,, fa, Lin, Syah, aku ke toilet dulu ya" Ucap Dinda menengahi pembicaraan mereka. Secara kompak mereka bertiga mengangguk. Lantas Dinda langsung berdiri dan pergi menuju toilet.
"Eh Lo Dinda kan?" Tanya seorang lelaki bersuara berat, membuat Dinda menghentikan langkahnya. Entahlah, siapa lelaki itu. Dinda pun tak mengenal nya.
"Iya" Jawab Dinda dengan menundukkan kepalanya.
Lelaki itu berjalan mendekat, sedangkan Dinda memundurkan langkahnya untuk menjaga jarak. "Kenapa mundur? Aku ga bakal gigit loh" Canda nya.
"Maaf, ada apa?" Tanya Dinda yang tidak mau berbasa basi.
"Nggak ada apa apa sih, cuman gue cuma mau tau aja. Gue denger Dinda itu orangnya cantik" Katanya. "Mau kemana?"
"Toilet"
"Gue temenin"
"Gak usah" Ketus Dinda. "Aku pergi dulu assalamualaikum"
"Eh mau kemana?" Tanya lelaki itu berusaha mencegah Dinda. Sungguh, saat ini Dinda merasa sangat risih dengannya.
"Minggir!!" Tegas Dinda. Bukannya lelaki itu minggir malah semakin mendekat kepada Dinda. Hal yang membuat dinda langsung terkejut karena lelaki itu ingin menyentuhnya. Dengan cepat Dinda langsung menjauhkan tubuhnya.
"Kamu kenapa sih? Aku ga bakal ngapa ngapain kamu" Jelasnya.
"Jangan sentuh sentuh. Kita bukan mahram" Jawab dinda.
Namun tetap saja, lelaki itu mendekat pada Dinda, dan kedua kalinya ia ingin menyentuh Dinda. Namun tangannya segera dicegah oleh Ilham yang tak sengaja melihatnya.
"Kalau dia ga mau jangan dipaksa" Ujar Ilham dingin.
"Lo siapa?"
"Lo ga harus tahu gue siapa"
Lelaki itu tertawa remeh. "Gak usah ngatur ngatur gue"
"Gue paling ga suka lihat perempuan yang dipaksa, mendingan Lo pergi dari sini" Usir Ilham. Lelaki itu menatap kesal Ilham. Selang beberapa detik ia pergi menjauh dari mereka. Ilham menatap Dinda yang sedari tadi masih menunduk.
"Lo ga papa?"
Dinda menggeleng.
"Gue pamit dulu, Assalamualaikum" Kata ilham.
"Eh tunggu" Ujar Dinda membuat langkah Ilham terhenti. "Makasih" Lanjutnya lagi yang hanya dibalas anggukan kecil oleh ilham.
"Assalamualaikum" Ucap Ilham.
"Waalaikum salam" Jawab Dinda.
•••••
13.45
__ADS_1
Lina dan Syifa berjalan beriringan melewati halaman sekolah. Hari ini Lina sedang ada ekskul futsal sedangkan Syifa, dia ekskul marching band. Ya, hanya iseng saja untuk mengikuti ekskul marching band. Namun samar samar mereka mendengar suara perempuan yang sedang bertengkar, Alhasil mereka langsung dilanda rasa penasaran. Dengan segera mereka mencari sumber suara, hingga sampailah mereka di depan kelas 11 IPS 3, dimana ada seorang perempuan dan laki laki disana. Ya, kalau tidak mengintip bukan Lina dan Syifa namanya.
"Kenapa itu?" Bisik Syifa.
"Mana gue tahu" Jawab Lina.
"Emang ya semua cowok itu sama aja" Ujar cewek itu berkacak pinggang.
Cowok yang ada dihadapannya pun terdiam. "Berarti aku kayak Taehyung" Jawabnya.
"Kayaknya mereka itu pacaran deh" Ujar Lina pelan. "Kayaknya si ceweknya marah sama yang cowok" Lanjutnya lagi.
"Marah kenapa?" Tanya Syifa.
Lina berdecih. "Ya mana gue tahu"
"Engga" Jawab gadis itu.
"Katanya semua cowok itu sama aja!?" Tanya cowok itu. Polos.
"Sama sifatnya maksutnya" Ketus gadis itu. "Sama sama berengsek"
"Berarti Taehyung berengsek"
Gadis itu terdiam. "Cowok indo yang berengsek" Ujarnya setengah berteriak.
"Emm..." Cowok itu terlihat berpikir. "Berarti pak presiden juga berengsek"
"Ih bukaaan!!" Geram gadis itu kesal. "Cowok yang pernah aku temuin" Tegasnya.
"Berartii....Emm,, berarti bapak kamu berengsek" Jawab nya polos. Lina dan Syifa yang mendengarnya pun hanya bisa menahan tawa. Dari sini pun mereka sudah mengetahui titik permasalahan nya
"Ihh,, tau ah. Ngomong sama Lo itu bikin gue stress!" Bentak gadis itu yang sepertinya sudah mulai kesal.
"Kamu stres kenapa?"
"Gara gara ngomong sama kamu. Udah ah pokonya mulai sekarang kita putus!!" Tegasnya.
"Dasar, semua cowok emang sama aja. Sama sama nyebelin, sama sama nyakitin, sama sama berengsek." Teriaknya.
"Berarti Taehyung juga..."
"Diam!!" Ketus gadis itu.
"Sebel gue,, heh!!" Geramnya dengan menghentakkan kakinya. Lalu ia pergi begitu saja.
"Oh ternyata gara gara itu..." Lirih Syifa pelan dengan tertawa kecil.
"Eh tapi bener loh, semua laki laki itu berengsek" Kata Lina.
"Kecuali kak Reyhan" Ujar Syifa. "Sama papa gue" Lanjutnya.
Lina menoyor pelan kepala Syifa. "Dasar!!"
"Gue heran deh sama orang orang yang pacaran. Udah tau dosa tetep aja dilakuin. Udah tau resikonya sakit hati masih aja dijalanin" Lanjut Lina dengan menyilangkan tangannya didepan dada.
"Iya. Awal awal seneng, bahagia, happy. Akhir akhir bilangnya gini 'Kamu tega banget sih sama aku'.." Tambah Syifa dengan tertawa kecil. Pikirannya melayang terhadap orang yang sering menangis hanya karena berpacaran.
"Menurut Lo bodoh ga sih orang yang pacaran itu" Tanya Lina.
"Banget lah, udah tau jodoh itu udah ada yang nentuin. Kalau mereka pacaran kan sama aja mereka jagain jodohnya orang. Yang jagain siapa, yang milikin siapa" Jawab Syifa membuat Lina tersenyum miring.
"Terus kenapa lo ngejar ngejar kak Reyhan? Udah tau kak Reyhan jodohnya orang" Ucap Lina.
Syifa menghela pelan. "Iya juga ya. Eh tapi kan gue ngejar kak Reyhan bukan karena gue mau ngajak pacaran. Tapi biar kak Reyhan suka sama gue. Biar kita saling cinta" Elak Syifa.
"Kalau pun kak Reyhan cinta sama Lo, tapi cinta itu ga akan bertahan lama. Karena apa? Suatu hari nanti cinta itu akan diberikan sama istrinya kak Reyhan"
"Dan istrinya itu gue" Jawab Syifa dengan penuh percaya diri membuat Lina geleng geleng kepala.
"Ih Lin tungguin ngapa. Hobi banget sih ninggalin gue" Ucap Syifa.
•••••
Lina memainkan bolpoin yang ada dijemarinya. "Kok gue kepikiran orang yang tadi ya"
"Orang yang mana?" Tanya Aisyah.
"Eh Syah, Din kalian tau ga. Tadi pas kita mau pulang ga sengaja lihat orang bertengkar" Jelas Syifa.
"Terus kalian ngintip?" Tanya Aisyah yang sudah tau kebiasaan kedua sahabatnya itu.
"Hehehe iya..." Jawab Syifa. "Itu semua cuma gara gara pacaran" Lanjutnya lagi. "Tapi kalau si ceweknya nangis gimana?"
"Apa pedulinya Lo sama dia. Kenal aja ga" Ujar Lina.
"Gue bukannya peduli. Tapi gue pernah denger kalau satu tetes air mata wanita itu 1000 dosa bagi laki laki yang menyakitinya. Bener ga sih?"
"Iya gue juga pernah denger kalimat itu" Timpal Lina.
Dinda yang sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka menjadi tersenyum miris. "Aneh ya" Gumamnya mengalihkan perhatian ketiga sahabatnya.
"Aneh gimana?" Tanya Syifa dengan mengerutkan keningnya.
"Ya aneh" Jawab Dinda. "Banyak wanita yang menyindir laki laki dengan satu kalimat, yaitu satu tetes air mata wanita 1000 dosa bagi laki laki yang menyakitinya. Tapi anehnya, wanita itu ga sadar bahwa satu helai rambut wanita yang sengaja diperlihatkan pada laki laki yang bukan mahramnya maka balasannya adalah 70.000 tahun di neraka" Jelas Dinda mampu membuat ketiganya terdiam.
Dinda terdiam. Lalu menghela pelan "Kalau di pikir pikir wanita itu emang ribet sama dosa. Kalau ga pake jilbab dosa, kalau udah pake jilbab eh malah ga nutupin dada, udah gitu pakaiannya tipis atau ketat masih dosa. Udah di tebelin, eh jilbabnya kayak punuk unta, dosa lagi. Udah diubah, ditambah pake parfum. Eh taunya malah mengundang syahwat eh dosa lagi... Tapi dibalik keribetan dosa itu adalah cara Allah memuliakan wanita. Agar menjadi wanita yang sederhana. Para penghuni syurga" Tambah Dinda.
•••••
Pagi ini seperti kemarin. Mendung, dingin dan gelap. Namun saat jam istirahat tiba, matahari sepertinya sudah mulai muncul dan bersinar. Namun udara tetap tidak berubah. Dingin. Aisyah menyusuri koridor sekolah. Langkahnya memelan saat melihat Sasa yang berjalan ke arahnya.
"Hai Syah" Sapa Sasa yang hanya dibalas senyuman singkat dari Aisyah.
"Lo mau kemana?" Tanya nya namun tidak dijawab oleh Aisyah.
"Ini" Ujarnya dengan menyodorkan air mineral.
Aisyah menggeleng pelan. "Ga usah, makasih"
"Ga papa ambil aja. Tenang aja ini air gak gue kasih racun" Ujarnya.
"Gak usah"
"Gak papa ambil aja" Kata Sasa sedikit memaksa.
Aisyah terdiam sejenak. Lalu ia mengambil air mineral yang disodorkan Sasa kepadanya. Namun saat hendak mengambilnya, Sasa malah menarik botolnya. "Eiittss.."
"Ini bukan buat Lo minum" Tambah Sasa.
"Terus buat apa"
Sasa membuka tutup botolnya. "Ini itu buat..." Sasa menumpahkan seluruh air dalam botolnya ke tubuh Aisyah. Membuat gadis itu menggigil kedinginan.
"Seger kan Syah" Ujarnya dengan melihat Aisyah yang kedinginan. Lantas Sasa tertawa remeh disertai senyuman liciknya.
"Lo itu..." Kalimatnya terpotong saat ia merasakan ada air yang mengalir dari ujung kepalanya. Semakin deras, hingga air itu mengalir ke tubuhnya. Pasti ada yang menyiramnya, pikirnya.
Sasa membalikkan badan, terlihat tiga orang gadis tengah berdiri di belakangnya.
"Kurang ajar Lo ya" Teriaknya dengan menunjuk Lina.
"Kenapa? Gak terima? Ha?" Jawab Lina santai.
"Anjing Lo" Ujar Sasa tak tanggung tanggung.
__ADS_1
"Astaghfirullah, cantik doang mulut ga bisa dijaga" Kata Syifa nyolot.
"Diem Lo!" Bentaknya
"Dih kenapa? Mulut mulut gue" Jawab Syifa.
Sasa melemparkan botol minumnya tepat di wajah Syifa, membuat gadis itu secara refleks menyentuh wajahnya. Namun selang beberapa detik, wajahnya juga dilempar botol oleh Lina. Membuat Sasa semakin emosi.
"Dasar Lo!!" Tegasnya.
"Gampang aja kok, kalau Lo baik kita juga akan baik. Kalau Lo jahat, kita,,, khusunya gue bisa lebih jahat" Ucap Lina tenang dengan menyilangkan tangannya di depan dada.
Sasa mengarahkan pandangannya ke arah samping. Dengan paksa ia mengambil minuman es jeruk dari seorang gadis. Lalu menyiramnya ke arah Lina.
"Gila Lo. Beneran mau ngejak gelud ni orang" Ucap Lina berkacak pinggang. Lina mengarahkan pandangan keseluruh arah, lalu ia berlari entah kemana. Namun tak lama, gadis itu kembali membawa minuman coklat lalu menyiramnya tepat di wajah Sasa.
"Ba*****"
"Mulut bisa di jaga ga!" Bentak Syifa, yang sudah muak dengan kata kata kotor Sasa.
"Heh sa, wanita yang berkata kasar, dia lebih menjijikkan dari air liur anjing. Jadi jaga perkataan kamu" Ujar Dinda.
"Lo juga diem?!" Bentak Sasa dengan menunjuk Dinda.
"Ga usah nunjuk nunjuk juga kali" Kata Lina dengan memukul jari telunjuk Sasa yang masih mengarah pada Dinda.
"Bilang aja Lo semua iri sama gue"
"Iri? Kita iri sama Lo? Waras Lo?" Kata Syifa.
"Dasar berengsek Lo semua. Awas aja gue akan bales" Ujar Sasa penuh pengancaman.
"Dari pada Lo habisin waktu buat ngancem kita, mendingan Lo habisin waktu buat taubat. Inget!! Dosa Lo udah numpuk" Ucap Lina.
Sasa menatap tajam Lina. "Ga usah ngatur ngatur gue" Gumamnya tepat dihadapan Lina. Namun setelah itu Sasa beranjak pergi, dengan seragamnya yang kotor karena minuman cokelat.
"Bener bener pengen gue tampol mulut tuh bocah. Gak bisa dijaga banget" Gumam Syifa dengan manatap Sasa yang kian berjalan menjauh darinya.
"Aisyah mana?" Tanya Dinda mengembalikan kesadaran mereka.
"Oh ya Aisyah mana" Timpal Lina.
"Tadi di situ kan?! Kok ga ada" Tambah syifa.
"Eh Lo semua ada yang lihat Aisyah ga?" Tanya Lina memandangi mereka satu persatu yang sedari tadi menonton perdebatan sasa dan Lina.
"Tadi dia jalan ke arah situ" Jawab salah seorang gadis.
"Makasih ya" Ucap Lina. Mereka bertiga langsung berjalan cepat menuju arah yang di tunjuk gadis itu.
Aisyah menyeruput teh hangat. "Gimana udah mendingan kan?" Tanya Fariz. Aisyah mengangguk pelan.
"Bentar ya, Lo tunggu disini. Gue nanti balik ke sini lagi" Ujar Fariz.
"Iya"
"Beneran tunggu ya"
Aisyah mengangguk.
Fariz pun segera berlari entah menuju kemana. Udara dingin kembali mengalir, menyapa lembut setiap tubuh. Aisyah kembali meyeruput teh hangatnya, ia benar benar merasa kedinginan. Selang beberapa menit menunggu, akhirnya Fariz datang dengan membawa jaket kulit berwarna cokelat tua.
"Ini pake aja. Biar Lo ga kedinginan" Ujar Fariz dengan menyodorkan jaketnya.
"Makasih" Jawab Aisyah. Kali ini dia tidak bisa menolak, mungkin jaket ini akan memberikannya kehangatan. Aisyah langsung mengenakan jaket Fariz di tubuhnya. Sedikit kebesaran, namun tak mengapa.
"Kak nanti jaketnya jadi ikut basah" Ujarnya.
"Udah ga papa," Jawab Fariz.
"Aisyah Aisyah" Panggil Syifa heboh sendiri.
"Aisyah" Panggil Lina. "Ternyata Lo di sini, kirain ngilang kemana"
"Lin, baju kamu kok basah?!" Tanya Aisyah.
"Habis di siram es jeruk sama mak lampir"
Aisyah mengerutkan keningnya. "Mak Lampir siapa?"
"Ya Sasa lah"
"Lin ga boleh panggil orang kayak gitu" Tegur Dinda.
Lina menghela pelan. "Iya,, habisnya sifat nya dia ga jauh beda sama Mak Lampir" Jawab Lina yang diberi anggukan oleh Syifa.
"Jaketnya siapa Syah?" Tanya Syifa. Aisyah yang mendengar pertanyaan itu hanya bisa melirik Fariz.
"Jaketnya kak Fariz?!" Tanya Syifa. Aisyah mengangguk pelan, sangat pelan. Namun masih bisa terlihat.
Melihat hal itu Syifa langsung menyenggol Lina. "Tuh Lin"
"Apa?" Kata Lina judes.
"Aisyah aja dikasih jaket sama kak Fariz. Sono Lo minta jaket sama kak Iqbal" Pintanya.
"Dih, apaan sih. Gue bawa jaket sendiri tadi" Jawab Lina.
••••
"Sendirian?" Tanya Fariz membuat Aisyah mendongakkan kepalanya, lalu berdiri.
"Assalamualaikum" Kata Aisyah.
"Waalaikum salam" Jawab Fariz. "Sendirian?!"
"Em,,, aku lagi nu..."
"Jemaah aja" Ucap Fariz memotong kalimat Aisyah. Saat ini mereka sedang berada di mushola, dan sudah sepi. Hanya tinggal mereka berdua, Eh, tidak juga. Ada dua orang lelaki disana, namun mereka sudah menjalankan sholat secara berjamaah. Mungkin sebentar lagi selesai.
"Tapi..."
"Udah ayok jemaah. Biar pahala yang di dapat itu lebih banyak. 10 menit lagi bel bunyi" Ucap Fariz yang langsung menggelar sajadah dan menempatkan posisinya di depan Aisyah sebagai imam.
Lina sama Syifa mana sih. Lama banget, katanya tadi mau ke sini. Jadi keduluan sama kak Fariz kan. Duh,, linaa syifaa. Gerutu aisyah dalam hati. Sampai Fariz memulai takbiratul ihram pun mereka belum juga muncul batang hidungnya, membuat Aisyah menghela pasrah. Lalu berniat untuk menjadi makmum.
Saat mereka sudah berada pada rakaat kedua, Lina dan Syifa baru datang. Ya tentu saja mereka terkejut melihat Fariz dan Aisyah yang sholat berjamaah.
"Kok Aisyah sholatnya gak nungguin kita" Gumam Syifa.
"Ya gara gara Lo lah, kelamaan" Ketus Lina.
"Ya Allah, mereka sholat berjamaah gue yang baper" Kata Syifa dengan memandang mereka berdua.
"Udah kayak suami istri ya" Tambah Lina.
"Iya" Jawab Syifa dengan mengangguk. "Cocok banget sumpah. Inikah yang dinamakan jodoh dunia akhirat" Tambahnya lagi.
Lina berdecih, "Kan kita malah jadi ngintipin mereka, ya udah yok mendingan ambil wudhu terus sholat. Bentar lagi mau bel" Ujar Lina.
"Iya"
Lantas mereka langsung mengambil wudhu dan bergabung bersama Aisyah dan Fariz yang sudah berada pada rakaat ke tiga.
...*******...
__ADS_1