Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Kejadian


__ADS_3

Hari ini sekolah masih libur. Rencananya ustadzah Rani dan ustadz rizwan akan berkunjung di panti jompo dan panti asuhan. Biasanya mereka akan mengajak juga beberapa anak santri untuk ikut. Kali ini Iqbal, fariz, Ilham Dinda dan dua santriwati lain juga akan ikut. Mereka berangkat menggunakan mobil. Tempat pertama yang mereka tuju adalah panti jompo.


Mereka masuk dipanti jompo, ustadz dan ustadzah langsung menemui pemilik panti. Sedangkan para santri mereka menemui dan mengajak bicara kakek/nenek yang ada disana. Iqbal mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mendapati sosok nenek nenek yang sedang duduk sendirian. Ia menghampirinya.


"Hai nek" Sapanya sambil duduk di sebelah nenek tersebut. Sedangkan yang disapa hanya diam saja.


"Nek saya punya lagu buat nenek" Katanya penuh semangat. "Saya nyanyi in ya nek"


Burung kakak tua


Tinggal dijendela


Nenek sudah tua


Giginya...


"Gigi nenek tinggal berapa nek?" Tanyanya tanpa dosa.


"Coba nenek senyum perlihatkan gigi nenek, kayak gini nek ... iiiii...." Ujar Iqbal dengan tersenyum dan memperlihatkan semua deretan gigi putihnya.


"iiiii...." Nenek hanya ikut ikutan. Mata Iqbal membulat hampir sempurna.


"Buset, nenek ga punya gigi... Abis makan apa nek? Permen? Coklat? Sampe habis semua tu gigi" Ujar Iqbal nyeri.


"Makan coklat 2" Ujar nenek jujur.


"Dua? Dapat dari mana"


Nenek terdiam.


"Itu..." Ujar nenek sembari menunjuk nunjuk seorang kakek kakek yang tengah berjalan pelan, entah mau kemana.


"Dikasih sama kakek kakek itu?" Tanya Iqbal.


Nenek mengangguk pelan.


"Kenapa dikasihnya ke nenek?"


"Dia suka sama saya" Ucap nenek.


"Bener bener ya Orang tua jaman sekarang" Gumam Iqbal sambil geleng-geleng kepala.


"Yaudah saya lanjutin nyanyi nya ya nek"


Nenek sudah tua


Giginya ompong semua


Begitulah Iqbal, menyanyi dengan penuh semangat tanpa dosa.


"Nenek kalau ga punya gigi kenapa bisa makan cokelat?"


"Ini" Ujar nenek, menunjukkan gigi palsunya, yang sejak tadi ada disampingnya. Iqbal meneguk ludahnya.


"Udah udah nek, simpen aja" Jawab Iqbal menolak. Tidak mau melihat gigi palsu nenek.


"Nenek punya suami?"


"Dia selingkuh" Ujar nenek, membuat bibir Iqbal kembali terangkat.


"Selingkuh? Sama cewek cantik apa cewek jelek nek"


Nenek terdiam. Ia mengedarkan pandangan keseluruh ruangan.


"Kayak itu" Ujar nenek menunjuk Dinda yang sedang mengobrol dengan nenek nenek lain.


"Buset, udah tua bukan inget umur malah selingkuh, ceweknya kok mau pacaran sama kakek kakek" Ujar Iqbal lalu terdiam.


"Suami saya tiga" Ucap nenek, membuat Iqbal yang masih diam menoleh cepat. Nenek menyodorkan tangannya dengan jari tengah dan jari telunjuk terangkat.


"Itu dua nek, tiga itu gini..." Ucap Iqbal sambil membenarkan posisi jari nenek.


"Itu yang selingkuh nenek atau suaminya nenek"


"Dua duanya" Iqbal kembali menggeleng gelengkan kepalanya.


"Nenek dibuang sama anak nenek?" Tanya Iqbal ngasal.


"Tersesat"


"Anak nenek namanya tersesat?" Tanya Iqbal ngotot.


"Saya diusir sama suami saya gara gara ketahuan nikah sama orang lain, terus suami saya ikut ikutan selingkuh. Saya pas pergi dari rumah ga tau jalan, sampe tersesat. Terus ibu itu nyuruh saya buat tinggal disini" Jawab nenek jujur, pandangannya mengarah pada sosok ibu ibu pemilik panti jompo. Iqbal manggut manggut. Apakah Cerita yang disampaikan nenek itu khayalan, karangan atau nyata. Entahlah.


"Kamu mau jadi pacar saya" Ujar nenek menawarkan. Membuat Iqbal terkejut bukan main. Mata dan mulutnya membulat sempurna.


"Saya kan cantik" Ucap nenek dengan kepercayaan diri setinggi langit. Iqbal menatap nenek itu ngeri. Baru pertama ia bertemu nenek seperti itu.


"ihh.. kepedean" Gumam Iqbal. Merasa risih dengan nenek yang disampingnya.


"Nek, nenek udah tua. Giginya ompong semua. Nih liat kulit nenek mengkerut, udah ga mulus kaya dulu. Rambut nenek juga udah putih semua. Jalan aja pakai tongkat kayu. Mendingan tobat aja nek" Ujar Iqbal tanpa rasa bersalah.


"Jangan mikir aneh aneh nek, apalagi jadi pacar saya. Ih amit amit."


"Bal..." Panggil seseorang. "Yok kita lanjut ke panti asuhan" Iqbal mengangguk.

__ADS_1


"Nek, saya pulang dulu. Inget ya nek tobat aja. Assalamualaikum" Ujar Iqbal namun tak ditanggapi oleh nenek tersebut.


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke panti asuhan kasih bunda. Disana banyak sekali anak anak yang bermain dan belajar bersama. Sesampainya disana, ustadz dan ustadzah langsung menghampiri pemilik panti dan berbincang bincang. Ilham dan Iqbal menghampiri seorang gadis kecil yang sedang asyik bermain di halaman panti.


"Halo Adek, Adek lagi main apa" Sapa Ilham ramah.


"Main boneka" Jawabnya lucu.


"Ini boneka apa?"


"Boneka beruang sama boneka lumba lumba"


"Adek umurnya berapa tahun?"


Gadis itu mengangkat kelima jari tangannya.


"Lima tahun" Tanya Ilham, lalu perempuan kecil itu mengangguk.


"Oh iya, kakak lupa kita kan belum kenalan. Kenalin nama kakak, Ilham. Nama kamu siapa?"


"Farah"


"Ih Farah, ga mau kenalan sama Abang ganteng juga?" Tanya Iqbal. Farah menggeleng. Membuat Iqbal menjadi cemberut.


"Kenapa?" Tanya Iqbal.


"Abang bukan ganteng tapi sok ganteng" Jawab Farah polos. Membuat Iqbal semakin cemberut ditempatnya.


"Kakak Ilham" Panggilnya.


"Hmm"


"Kakak cocok sama kakak cantik itu" Ujar Farah sambil menunjuk nunjuk gadis yang juga sedang bercanda gurau dengan anak panti lainnya. Dinda. Seketika dua ujung bibir Ilham terangkat. Membentuk senyum kecil.


"Ehm ehm...Jangan senyam senyum sendiri" Ujar Iqbal membuat Ilham salah tingkah.


"Farah manis, kalau Abang ganteng cocoknya sama siapa"


Farah menepuk pipinya beberapa kali dengan jari telunjuknya. Mencoba untuk berpikir.


"Ria ricis" Jawabnya ngasal.


"Ria ricis? Wah kebetulan Abang ganteng juga nge fans sama ria ricis" Ujar Iqbal dengan senyum yang mengembang.


Farah terdiam. Pandangannya mengahadap kedepan. Tak lama Farah kembali tersenyum.


"Kalau sama yang itu kayaknya lebih cocok" Ujar Farah dengan menunjuk seseorang, Iqbal dan Ilham mengikuti arah dari jari telunjuk Farah.


"Eh jangan itu, itu udah punya suami Farah. Tu lihat dia lagi mesra mesraan sama suaminya" Jawab Iqbal ngasal.


"Kok sama orang gila" Nada bicara Iqbal menjadi meninggi. Sedangkan Ilham tertawa tanpa dosa. Farah juga ikut ikutan tertawa. Sekarang Iqbal menjadi sangat tidak mood. Ia memutuskan untuk pergi dari situ.


"Eh eh kenapa Lo? Kusut banget tu muka" Tanya Fariz.


"Tau ah" Jawab Iqbal acuh tak acuh. Fariz menoleh pada Ilham, mengangkat kedua alisnya menanyakan kenapa?, lalu Ilham menghampiri Fariz, mendekatkan wajahnya ditelinga Fariz. Berusaha memberitahukan apa yang sedang terjadi. Fariz tertawa.


"Anak kecil ga pernah bohong. Kalau dia milihnya itu berarti Lo cocok sama itu" Jawab fariz. Iqbal mendesis pelan.


"Gini aja, Lo mau ga sama temennya ria ricis. Dia juga cantik" Ujar Fariz.


"Siapa?" Tanya Iqbal, mood nya masih belum normal.


"Kekeyi" Jawab Fariz ngasal membuat Ilham kembali tertawa.


"Sial" Ujar Iqbal. Wajahnya seperti singa yang siap menerkam kedua sahabatnya kapan saja. Tadi diajak pacaran nenek nenek, Farah bilang dia lebih cocok sama orang gila dari pada ria ricis. Dan sekarang kekeyi? Ah, hari ini entah ada apa dengan Iqbal. Iqbal memutuskan untuk pergi menjauh dari Fariz dan ilham yg masih sibuk menertawakannya. Ia mendengus sebal. Mood nya saat ini benar benar sedang tidak baik baik saja.


•••••


Seperti kemarin, hari ini yang masak sarapan pagi adalah Aisyah.


"Syah, bikinin Abi kopi"


"Iya bi, tunggu bentar" Aisyah yang mengupas bawang merah, menghentikan pekerjaannya.


"Umi bantuin ya Syah"


"Ga usah mi"


"Udah ga papa, kamu bikinin kopi buat Abi kamu"


Aisyah mengangguk.


Tak lama dari itu, Aisyah sudah selesai membuat kopi. Lalu ia berjalan menuju depan untuk mengantarkan kopinya.


"Bi, ini kopinya"


"Iya taruh aja disitu" Jawab pak Agus, tanpa menoleh. Tatapannya menuju pada koran yang kini tengah dibaca. Lalu Aisyah menaruh kopi di meja yang berada di depan abinya. Setelah itu, ia kembali masuk.


"Ini udah siap semua bumbunya" ujar Bu Vita.


"Makasih mi"


Tanpa basa basi, Aisyah langsung membuat nasi goreng. Gadis itu memang sangat ahli dalam hal memasak. Masakannya selalu enak. Brownis, bolu, jajanan tradisional, masakan rumahan, sampai makanan modern, semuanya Aisyah bisa.


"Aisyah tolong kamu belanja dipasar ya, ini umi udah catet daftar belanjanya" Perintah Bu Vita. Aisyah yang baru saja selesai sarapan mencuci piringnya. Lalu mengambil daftar belanja yang ada di atas meja makan. Biasanya pasar akan tutup jam 9 pagi, hari ini baru jam 7.25

__ADS_1


"Ini uangnya" Ujarnya lagi dengan menyodorkan beberapa lembar uang kepada Aisyah.


"Iya mi, Aisyah siap siap dulu" Bu Vita mengangguk. Aisyah langsung beranjak menuju kamarnya. Bersiap siap untuk pergi ke pasar. Tak lupa juga membawa tas belanja.


"Pakai motor aja Syah, biar cepet" Teriak Bu Vita.


"Iya mi.." Jawab Aisyah dengan sedikit berteriak.


Selang beberapa menit setelah itu, Aisyah sudah melaju pergi menuju pasar.


08.05


Dan akhirnya Aisyah sudah selesai berbelanja. Setelah berkeliling untuk mencari belanjaan yang murah, berdesak desakan dengan ibu ibu, berdebat untuk menawar barang dan mengantri untuk membayar. Ia melangkah menuju motornya. Mengecek setiap barang belanjaannya. Tanpa sengaja, pandangannya mengarah pada gadis kecil, Aisyah mengernyitkan dahinya, tak lama ia terkejut melihat dari arah berlawanan terdapat mobil melaju dengan kecepatan tinggi.


"Ya Allah" Ujarnya kaget.


Tanpa basa basi dan teriak teriak terlebih duhulu, Aisyah langsung berlari secepat yang ia bisa untuk menghampiri anak kecil itu. Tidak peduli barang belanjaannya saat ini jatuh begitu saja dari genggamannya. Saat sudah dekat, Aisyah menggenggam tangan perempuan kecil itu erat erat, lalu sedikit mengangkatnya. Tidak, kalau Aisyah menggendongnya terlebih dahulu ia tidak punya waktu untuk menyelamatkan gadis itu. Namun saat Aisyah akan berlari menuju tepi jalan, kaki kanan aisyah sempat terkena mobil, Sehingga Aisyah hampir terjatuh. Dengan menahan rasa sakit di kaki kanan nya, Aisyah setengah berlari, menuju tepi jalan. Dan saat itu juga Aisyah terjatuh, ia memeluk erat tubuh gadis itu, berharap agar dia tidak terluka. Seketika semua mata tertuju pada Aisyah. Aisyah menghela nafas lega, ia berusaha mengatur nafasnya yang masih ngos ngosan. Dan menahan rasa sakit di kaki nya.


"Kamu ga papa?" Tanya Aisyah, namun gadis kecil yang kini berada dipangkuannya itu diam. Sepertinya dia juga cukup kaget atas kejadian tadi.


"KAILAAA...." Teriak seorang ibu ibu berpakaian hijau dengan belanjaan ditangan kanannya, yang sedikit berlari dari seberang jalan. Mukanya terlihat sangat khawatir. Setelah sampai, ibu itu langsung menggendongnya, mengelus pipi putrinya. Berharap ia baik baik saja. Sedangkan Aisyah, dibantu ibu ibu yang ada disitu untuk berdiri dan membersihkan bagian belakang pakaian Aisyah yang kotor.


"Ya Allah Kaila,,, kamu ga papa kan nak" Ujarnya masih dengan raut khawatir. Lalu mencium kening anaknya.


"Kamu ga papa?" Tanya ibu itu, sepertinya ia juga khawatir dengan kondisi Aisyah.


"Ga papa kok Bu, cuman kaki saya..."


"Kenapa kaki kamu"


"Ga papa Bu, sakit sedikit aja kok"


Ibu itu menghela pelan.


"Makasih ya, kamu udah menyelamatkan anak saya" Ucapnya sambil menatap Aisyah.


"Iya Bu sama sama. Lain kali anaknya dijaga dengan baik ya Bu. Jangan sampai kejadian tadi terulang lagi. Apalagi anak ibu masih kecil, masih belum ngerti apa apa" Jawab Aisyah, masih berusaha mengatur nafasnya.


Ibu tersebut terdiam. Lalu mengangguk dan tersenyum.


"Kamu ngapain sih nak, kalau mau apa apa tinggal bilang sama mama, jangan bikin Mama khawatir"


"Ice crem,,, balon" Ucapnya polos sambil menunjuk nunjuk seorang pedagang ice crem sekaligus balon yang tak jauh dari situ.


"Lain kali kalau mau apa apa bilang mama, jangan pergi sendiri ya sayang" Ucap ibu itu sambil mencium pipi putrinya.


"Bu, saya pamit pulang dulu ya kalau begitu"


"Tunggu tunggu, nama kamu siapa?"


"Aisyah"


Lalu ibu itu membuka tasnya, dan mengeluarkan tiga lembar uang biru.


"Ini buat kamu" Ujarnya sambil menyodorkan yang tersebut.


"Nggak usah Bu, saya ikhlas"


"Tapi,,,"


"Udah Bu, ga papa saya ikhlas kok. Saya langsung pamit pulang ya Bu. Assalamualaikum"


"Ya udah kalau gitu, hati hati ya. Wa'alaikum salam. Sekali lagi terima kasih ya Aisyah" Aisyah mengangguk, lalu pergi dari situ.


Sesampainya di motor, Aisyah hendak membereskan belanjaannya yang terjatuh. Namun dicegah oleh seorang ibu ibu.


"Udah saya aja yang beresin" Ujar ibu itu lalu berjongkok dan memasukkan sayur sayuran kedalam tas belanjaan Aisyah.


"Bu, ga usah repot-repot biar saya aja"


"Ga papa, saya tau kaki kamu lagi sakit, ini" Ujarnya, berusaha untuk berdiri dan memberikan belanjaan pada Aisyah.


"Terima kasih ya Bu" Jawab Aisyah juga dengan senyuman nya. Ibu itu mengangguk, lalu pergi begitu saja dari hadapan Aisyah. Dan tanpa basa basi Aisyah langsung melaju pergi bersama motornya menuju rumah.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


"Mi, ini belanjaannya"


"Iya, taruh didapur" Aisyah mengangguk. Lalu berjalan menuju dapur dengan sedikit pincang.


"Kaki kamu kenapa Syah"


"Ga kenapa Napa mi"


"Terus kenapa kamu jalannya gitu"


"Tadi Aisyah sempet jatuh, makannya kaki aisyah jadi sakit"


"Tapi ga papa kan?"


"Iya mi, ga papa" Bu Vita mengangguk. Lalu melanjutkan membaca majalah. Aisyah menaruh barang belanjaannya didapur. Lalu ia pergi ke kamar. Duduk diatas tempat tidur, mencoba melihat keadaan kakinya yang kini tengah sakit. Warna ungu ke merah merahan yang kini berada dikakinya membuat Aisyah bergidik nyeri. Memar. Tadi memang kakinya terbentur agak keras dengan mobil, mungkin karena mobil itu berjalan dengan kecepatan tinggi. Aisyah menghela pelan. Ia membaringkan tubuhnya diatas kasur. Mungkin tidur dapat mengurangi rasa sakitnya.


********

__ADS_1


__ADS_2