
Rabu, 13 Oktober
Dalam mobil, Aisyah menenangkan hatinya. Memberi kekuatan. Tangannya ia letakkan di depan dadanya, Aisyah menghela panjang dengan memejamkan matanya. Ya Allah, untuk apapun yang terjadi nanti, lapangkanlah hati hamba, berikan lah keikhlasan atas apa yang sudah menjadi takdir Mu. Walau semua yang terjadi memang tidak sesuai dengan harapan. Bila hari esok jauh lebih berat dari ini, berilah hamba kekuatan serta ketegaran. Buatlah hamba percaya bahwa takdir Mu memang yang terbaik.
"Sudah sampai neng."
Aisyah membuka matanya. Matanya terarah ke kaca mobil.
"Oh iya pak. Sudah di bayar lewat aplikasi ya pak."
"Iya neng."
Aisyah tersenyum dengan membuka pintu mobil, lalu turun. Matanya pelan,,, memandangi rumah besar yang kini terpasang dekorasi di depannya. Akad nikahnya memang di adakan di rumah, dan resepsi nya akan di laksanakan hotel. Sekali lagi Aisyah kembali menguatkan hatinya.
Dia mulai melangkah masuk ke dalam. Dari pintu, ia melihat sudah ada mempelai yang duduk berdampingan. Aisyah hanya bisa melihatnya, dirinya diam terpaku saat tangan Fariz mulai terulur lurus menjabat tangan ayah Ghea.
"Bismillahirrahmanirrahim. Ananda Muhammad Habibie Al Farizi, saya nikahkan engkau dengan putri saya Ghea Leani Magnolya binti Dani Aryanto dengan mas kawin berupa emas seberat 200 gram di bayar tunai."
Namun nyatanya, hatinya tidak sekuat baja. Seberapapun sering Aisyah membuat hatinya untuk kuat, air matanya tetap akan luruh begitu saja.
"Bismillahirrahmanirrahim...Saya terima nikah dan kawinnya Ghea Leani Magnolya..." Saat Fariz mulai mengucapkan ijab Qabul itu, Aisyah langsung membalikkan badan dan berjalan beberapa langkah. Suara fariz yang mengucapkan ijab Qabul membuat tangisnya semakin tak tertahankan. Aisyah membungkam mulutnya, menekan sekuat mungkin agar suaranya tak terdengar. Suara SAH Itu terdengar di ucapkan kompak oleh para saksi. Hari ini,,, tidak akan dirinya lupakan. Atas apa yang semuanya telah terjadi. Lelaki yang ia cintai, hari ini, menit ini dan detik ini sudah sah menjadi suami dan milik wanita lain.
Ingin rasanya Aisyah masuk ke dalam, namun juga hatinya takut semakin tergores terlalu banyak, hingga terluka terlalu dalam. Aisyah menyeka air matanya, tatapannya terpaku pada depan. Apa lebih baik dirinya pulang??
Beberapa saat, dirinya mulai tenang. Iya, lebih baik pulang dari pada melihat mereka berdua akan bersanding mesra di pelaminan. Yang membuat satu goresan luka lagi di hatinya.
"Ghea...Ghea bangun sayang!!"
Aisyah membalikkan badan. Matanya membulat kaget saat melihat Fariz yang menggendong Ghea dari depan. Gadis itu terpejam. Pingsan kah? Tapi karena apa?
Dengan cepat Fariz membawa Ghea ke dalam mobil, membuat Aisyah juga mengikuti nya dari belakang. Gadis itu, di letakkan dalam posisi terlentang. Mamanya langsung duduk dan menaruh kepala Ghea di pangkuannya.
"Kak, Mbak Ghea kenapa?" Tanya nya.
Fariz menatap Aisyah. "Gue ga tahu." Jawabnya lalu langsung masuk ke dalam mobil. Tak lama mobil itu melaju cepat. Ada apa dengannya? Apa yang terjadi sebenarnya?
•••••
Di dalam kamarnya Aisyah melepaskan tasnya, menaruh di atas meja rias yang memang ada di sana. Matanya kembali menatap undangan itu. Rasa sesak kembali menelisik dalam dadanya. Matanya mendadak kembali terasa panas.
"MBAK..."
Dirinya tersentak kaget, dengan cepat Aisyah menoleh ke arah pintu. Seorang gadis tengah tersenyum lebar menatapnya. "OKTA...!!"
Adiknya langsung berjalan menghambur ke pelukan kakaknya. Antara senang dan bingung Aisyah mengelus puncak kepala adiknya. Ia melepaskan pelukannya. "Kamu kok bisa ada di sini? Sama siapa?"
"Ya umi Abi lah mbak. Emang Okta berani ke Jakarta sendirian?"
"Tapi kok ga bilang sama mbak sih. Kenapa nggak ngabarin kalau mau ke sini?"
Okta hanya mengedikkan kedua bahunya. "Sekarang Abi umi di mana?"
"Di ruang tamu."
"Mbak kesana dulu ya."
Okta mengangguk.
Dengan perasaan senang yang membuncah Aisyah berlari ke arah ruang tamu. "UMI...ABI..." Panggilnya lalu memeluk uminya dan mencium pipi perempuan hebat baginya itu. Lalu beralih mencium punggung tangannya Abinya. "Ya Allah, kok ke sini ga bilang bilang umi...bi..."
"Ya kan kita mau kasih surprise buat kamu. Sekalian pengen lihat kondisinya Bu lek mu." Jawab uminya.
"Ya Allah, tapi seenggaknya kasih tau Aisyah dong umi..."
"MBAK......MBAK AISYAH!"
"Umi, Aisyah ke kamar ya..."
"Iya. Ngobrol sepuasnya. Mumpung ketemu sama adikmu."
Aisyah mengangguk lalu berjalan pergi menuju kamar. Menghampiri Okta dan duduk di sebelahnya. "Hssst jangan teriak teriak. Ada bayi lho di sini..."
Okta langsung membungkam mulutnya. "Lupa mbak..." Jawabnya lirih.
"Ada apa?"
"Ini..." Okta memperlihatkan undangan di tangannya. "Mbak ga hadiri pernikahan temen mbak? Kan hari ini nikahannya. Iya kan?"
Aisyah terdiam. "Haduh sayang Lo mbak, kenapa ga datang? Di sana pasti ada makanan banyak iya kan?"
__ADS_1
Aisyah mengambil alih undangan nya, lalu kembali meletakkan di atas meja rias. "Mbak tadi udah datang kok."
"Terus? kenapa ada di sini."
"Emmm, mbak ada urusan jadinya habis akad langsung pulang."
"Yah...ga seru mbak Aisyah ma......harusnya sampe selesai dong. Masa cuma pas akad doang." Ujar Okta. "Terus mbak kapan nikah?"
Lagi lagi pertanyaan itu yang harus ia hadapi. "Temen temen mbak udah pada nikah lho, masa mbak belum sih. Aku kan juga pengen cepet cepet punya ponakan mbak." Lanjut Okta.
"Nikah itu bukan sembarang hubungan yang bisa kapan aja kita lakuin. Nikah itu hubungan sakral dek, kalau bisa satu kali dalam hidup. Dan harus benar benar memilih pasangan yang tepat untuk menemani kita, selamanya."
"Yah, tapi semoga aja mbak cepet cepet dapat jodoh deh. Tapi mbak, saat ini mbak lagi cinta nggak sama seseorang?" Tanya Okta. "Kalau iya, nikah aja sama dia. Ya,,, kecuali kalau orang itu udah punya pacar atau istri malahan."
Aisyah terdiam. "Eh kamu udah gede ya sekarang. Umur berapa?"
Okta berdecih pelan. "Mbak kebiasaan deh mengalihkan pembicaraan."
"Mbak kan tanya, masa jawabnya gitu sih?"
"Lagian mbak sih. Tapi masa iya mbak ga tau umur adeknya berapa?"
"Berapa emang. 17?"
Okta bergumam.
"Sebentar lagi kuliah ya?"
"Kalau udah lulus. Mbak doain ya biar Okta bisa lulus dengan nilai terbaik."
"Aamiin. Terus kamu maunya kuliah di mana?"
"Ya di mana aja sih mbak."
"Kok di mana aja. Kamu itu harus punya target mau kuliah di mana. Ambil jurusan apa. Kalau bisa terbaik kenapa milih yang biasa biasa aja?"
"Tapi kalau kuliah terbaik kan mahal"
"Kan bisa cari jalur beasiswa."
"Kalau ga bisa?" Tanya Okta.
"Emang mbak punya uang. Kan mbak belum kerja."
"Emang sih mbak belum kerja, tapi ada beberapa tawaran."
"Apa aja?"
"Ada yang minta jadi guru madrasah di desa, ada juga yang nyuruh ngajar di sekolah SMA nya mbak yang dulu. Terus ada juga yang nawarin mbak jadi dosen. Terus pak lek mu itu, nawarin mbak buat kerja di kantornya."
"Terus, mbak Aisyah pilih yang mana?"
Aisyah menggeleng. "Nggak tahu. Mbak bingung."
"Mbak jadi dosen aja. Ya? Terus kalau jadi dosen, ngajar di universitas apa?"
Tiba tiba suara dering dari ponsel Aisyah terdengar. "Bentar ya, mbak angkat telepon dulu." Ujar Aisyah dengan berdiri dan mengambil ponsel yang ada di dalam tas selempang nya.
"Siapa mbak yang telepon?" Tanya Okta.
Aisyah menggeleng. "Nggak tahu, nomornya ga di kenal." Jawabnya dengan memencet tombol hijau di layar ponselnya. "Halo, Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam, Syah ini gue Fariz."
Aisyah terdiam. Fariz? Ada apa dia menelepon nya?
"Iya. Ada apa kak?"
"Lho bisa ke rumah sakit sekarang? Ghea pengen ketemu sama Lo."
"Mbak Ghea?"
"Iya. Nanti gue sharelock. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
"Mbak, jadi dosen di mana?" Tanya Okta lagi.
"Maaf dek, nanti aja ya di lanjut. Mbak mau ke rumah sakit."
__ADS_1
"Yah mbak, kok udah mau pergi sih...ga bisa nanti nanti ya?"
"Nggak bisa. Mbak pergi dulu ya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
•••••
Aisyah melangkah cepat menuju ruangan yang telah di beri tahu oleh salah satu suster tadi. "Assalamualaikum" Salamnya dengan berhenti di hadapan beberapa orang yang tengah duduk.
"Waalaikum salam."
"Syah, masuk aja." Ujar Fariz membuat Aisyah mengangguk. Gadis itu berjalan pelan ke arah ruangan lalu membuka pintunya. Melihat Ghea yang sedang berbaring di sana.
"Assalamualaikum mbak..."
Ghea menoleh, lalu tersenyum. "Waalaikum salam."
Aisyah menatap wajah Ghea yang begitu pucat. "Mbak kenapa? kecapean?"
Ghea menggeleng. "Bukan. Duduk dulu syah." Pinta ghea. Aisyah langsung menarik kursi di samping ranjang lalu mendudukinya. "Aisyah, gue mau minta maaf sama Lo. Maaf ya, atas semua kesalahan gue." Ujarnya lirih.
"Jauh sebelum mbak minta maaf, Aisyah udah maafin mbak."
"Tapi tetep aja hati gue belum tenang. Syah, gue dulu udah jahat banget sama Lo. Gue udah melakukan kesalahan besar, yang semuanya Lo tanggung. Gue masih belum tenang, walaupun Lo udah maafin gue. Jadi gue punya satu permintaan buat Lo." Ujar Ghea. Tangannya dengan pelan mulai memegang tangan Aisyah. "Gue mohon sama Lo buat..."
Aisyah terdiam, menatap Ghea dengan serius. "Buat apa mbak?" Tanya nya.
"Gue mohon, tolong Lo menikah ya sama Fariz."
Deg...
Muka Aisyah langsung terkejut bukan main. Ia melepaskan tangan Ghea secara refleks. "Nggak..." Jawabnya dengan menggeleng. "Aisyah nggak mau. Mbak ngomong apa sih? Mbak baru aja sah jadi istri kak Fariz, tapi kenapa ini udah minta wanita lain untuk nikah sama suami mbak??"
"Karena Fariz ga bahagia sama gue." Jawab ghea. Tangisnya pecah begitu saja. "Fariz ga menginginkan pernikahan ini, Fariz hanya terpaksa Syah. Dia cuma nggak mau mengecewakan ibunya. Kita hanya di jodohkan. Sama, gue juga ga berharap sama pernikahan ini. Gue emang cinta sama Fariz, tapi gue pengennya menikah dengan laki laki yang mencintai gue."
"Tapi tetep aja mbak. Nggak bisa gitu. Mbak, sekarang mbak udah jadi istrinya kak Fariz. Jadi terpaksa atau nggaknya pernikahan ini, kak Fariz harus bisa menerima mbak. Harus berusaha untuk mencintai mbak. Mbak salah kalau harus nyuruh perempuan lain buat menikah sama suami mbak."
"Tapi buat apa? Umur gue udah ga lama lagi Syah! Gue sama sekali udah gak ada gunanya jadi seorang istri!"
Aisyah meneguk ludahnya. "Mbak bilang apa sih? Umur itu cuma Allah yang tau mbak."
"Tapi itu emang kenyataan nya..." Jawab ghea dengan menangis tersedu sedu. "Asal Lo tahu, gue.....gue sakit kanker rahim, dan udah stadium akhir. Umur gue ga akan lama lagi." Lanjutnya dengan suara yang gemetaran.
Jantung Aisyah berdebar cepat. Apa? Kanker? Stadium akhir?
"Buat apa Fariz punya istri kayak gue? Penyakitan, ga bisa kasih keturunan, nggak bisa apa apa, bahkan buat sekedar melayani Fariz sebagai suami, gue aja ga bisa. Terus apa? Apa gunanya dia berusaha buat mencintai gue, kalau pada akhirnya gue juga akan pergi." Tangis Ghea semakin menjadi-jadi. Tangannya kembali menggenggam tangan Aisyah. "Syah,, gue cuma pengen Fariz bahagia. Gue cuma pengen dia bahagia dengan orang yang dia cintai. Satu hal lagi, kesalahan yang membekas di hati gue adalah fitnah Lo dan buat hubungan antara Lo dan Fariz rusak. Gue pengen nebus semua itu Syah, gue pengen lihat kalian bersatu di hadapan gue. Syah, banyak yang gak rela sebenarnya sama pernikahan kita. Salah satunya papa Fariz sama adiknya. Mereka ga suka sama gue, karena semua kesalahan gue di masa lalu. Hanya mama Fariz yang bersikeras buat jodohin dan nyuruh kita buat cepet cepet nikah. Dan Lo tahu, itu karena mama Fariz belum tahu kalau gue orang jahat. Belum tahu atas semua yang sebenarnya terjadi."
"Tolong ya Syah, gue mohon. Cuma satu kali ini aja. Penuhi permintaan terakhir gue. Buat gue pergi dengan tenang, tanpa menanggung dosa dan kesalahan terhadap Lo. Walaupun Lo udah maafin gue, tapi tetep aja gue ga bisa tenang. Kesalahan itu terus menghantui gue Syah. Gue mohon..."
Aisyah menatap Ghea dengan matanya yang berkaca-kaca. Entahlah, harus berbicara apa dirinya saat ini.
"Gue tahu Lo juga cinta sama Fariz. Tapi kalau gue udah ga ada, Lo akan sulit buat bersatu sama dia." Ujarnya lagi. "Tolong, penuhi permintaan pertama dan terakhir gue. Cuma ini aja yang gue mau."
Aisyah mengulum senyum. Walaupun memang di paksakan. Dia mengelus lembut genggaman tangan Ghea, lalu melepaskan nya secara perlahan. "Aisyah ga tau mbak. Aisyah bisa atau ga. Aisyah pergi dulu, semoga mbak selalu di beri kekuatan ya. Assalamualaikum." Pamitnya dengan berdiri dari kursi lalu beranjak pergi.
"Aisyah...Syah...!!" Panggil Ghea dengan melihat gadis yang keluar dari ruangannya. Air matanya kembali mengalir. Masih ada kesalahan yang membekas di hatinya. "Waalaikum salam"
Fariz yang tengah terduduk di kursi bersama kedua orang tuanya dan kedua mertua nya melihat Aisyah yang keluar dari ruangan, gadis itu terlihat mengelap air di pipinya. Dia hanya mengulum senyum kepada mereka, lalu pergi begitu saja.
Fariz langsung berdiri dan berjalan masuk menemui Ghea. "Lo tadi ngomong apa sama Aisyah??"
Ghea yang sedikit terkejut akan pertanyaan yang tiba tiba itu langsung menoleh. Dia menggeleng. "Nggak. Gue ga ngomong apa apa"
Fariz menduduki kursi yang tadinya di duduki Aisyah. "Kalau Lo ga ngomong apa-apa kenapa Aisyah nangis?"
Ghea tersenyum tipis. "Secinta itu ya sama Aisyah Riz, sampe lihat Aisyah nangis aja khawatir banget." Ujar Ghea. "Gue tadi......" Ghea menghela berat. "Gue tadi cuma mohon sama Aisyah untuk menikah sama Lo Riz."
Mata Fariz melotot kaget. "Bisa bisanya Lo bilang gitu saat Lo baru aja sah jadi istri gue Ghea!"
"Emang kenapa?? Emang kenapa Riz? Lo cinta kan sama Aisyah? Terus apa yang Lo tunggu buat halalin dia? Nunggu gue mati dulu? Iya? Lo nggak inget sama perjanjian yang keluarga kita sepakati sebelum menikah?"
Fariz terdiam. "Dan perjanjian itu, nggak bisa di langgar oleh salah satunya. Riz, Lo bakal susah buat bersatu sama Aisyah kalau gue udah ga ada. Gue minta Aisyah buat ngelakuin hal kayak gitu, karena gue punya alasan. Riz, gue pengen pergi dengan tenang. Gue pengen nanti setelah gue pergi, ga ada lagi hati yang tersakiti. Lo tahu kan, gimana rasanya menanggung dosa? Itu ga enak Riz, hati gue selalu aja resah, gelisah ga bisa tenang. Bahkan Lo mau gue mati pun dalam keadaan kayak gitu? Udah lama Riz, udah lama gue juga pengen ketemu Aisyah. Pengen minta maaf dan nebus semua kesalahan gue sama dia. Gue pengen lihat kalian bersatu. Tapi situasi nya,,,, sulit!! Saat gue pertama ketemu sama Aisyah, gue pengen batalin pernikahan ini dan gue pengen Aisyah mengganti kan posisi gue. Tapi gue juga ga bisa bikin malu keluarga kita!"
Fariz terdiam. Lalu dia mengangguk. "Iya iya,, mendingan Lo istirahat. Jangan banyak stress, itu sangat berpengaruh sama kesehatan Lo."
Ghea menghapus air matanya. "Riz, kalau Lo emang cinta sama Aisyah, kejar dia sampe dapet. Genggam dia Riz. Jangan biarin, orang lain mengambilnya. Jangan biarin orang lain, memilikinya. Karena kalau udah gitu, kita bisa aja nyesel. Dan penyesalan, pasti akan membuat kekecewaan. Jangan sampai Lo menyesal, untuk yang kedua kalinya Riz!" Ucap Ghea dengan suaranya yang lemah.
...*******...
__ADS_1