
11.25
Siang itu di pekarangan yang berada di halaman belakang rumah fariz, Mereke semua berkumpul. Hari ini, kebetulan Abi, umi dan Okta datang untuk berkunjung. Pasalnya, besok mereka harus kembali ke desa. Okta dan kaila menggelar karpet kecil di bawah pohon besar yang rindang. Tentu saja mereka mencari tempat yang nyaman untuk di jadikannya bergosip satu sama lain. Di kursi teras belakang, yang tak jauh dari taman. Abi dan papa Fariz saling mengobrol satu sama lain dengan di temani dua cangkir kopi panas yang masih mengepul.
Sementara di dapur, umi membantu mama Fariz untuk memasak makan siang untuk semuanya. "Ini neng minumannya...biar makin seger." Ujar Bu Inah dengan mendatangi Okta dan kaila. Membawa beberapa gelas yang berisi sirup dengan beberapa rasa.
"Makasih Bi..." Ujar kaila. "Mbak Okta mau rasa apa??"
"Melon."
Kaila langsung mengambil sirup rasa melon dan rasa framboze untuk dirinya. Lalu Bu Inah berjalan ke arah Fariz yang duduk di kursi taman sendirian. "Den, mau minum??" Tanya nya.
"Oh nggak usah bi. Makasih."
Bu Inah mengangguk.
Dia berjalan kembali masuk ke dalam rumah. Tak lama Aisyah datang dengan membawa beberapa buah buahan di atas keranjang buah kecil. "Kak,,, mau?"
Fariz mengangguk dengan mengambil buah apel merah. Setelah itu ia berjalan melangkah mendekati adik adiknya. "Ini...mbak bawain buah. Di makan ya.."
"Makasih mbak." Balas Okta.
"Iya sama sama."
"Mbak ga ambil?" Tanya kaila.
"Kalian makan aja." Jawab Aisyah mengulum senyum lalu membalikkan badan. Kembali melangkah dan duduk di samping Fariz. "Sampai kapan sih Lo harus panggil gue kak?" Tanya Fariz.
Aisyah menoleh. "Terus maunya di panggil apa?"
"Ya kira kira aja."
"Mas??"
"Hm."
"Jadi kakak maunya di panggil mas."
Fariz mengangguk.
"Tapi, kalau Aisyah panggil mas,, mau ga kakak panggil Aisyah pake kamu. Jangan pake Lo."
Fariz kembali mengangguk menyanggupi. "Oke."
"Sekarang coba kamu panggil gue mas."
"Gue nya juga harus di ubah jadi aku. Kalau kamu gue kan kurang cocok kak."
"Ya udah. Ayo panggil aku mas..."
"Mas."
"Mas siapa?" Tanya Fariz.
"Mas....Mas Fariz."
Mendengar itu Fariz langsung tersenyum lebar. "Nah gitu dong..."
"Mau?" Fariz memberikan buah sisa gigitannya.
Aisyah menggeleng.
"Nggak usah kak."
"Apa?"
Aisyah terdiam. "Oh maksutnya mas..."
"Beneran nggak mau? Ini apelnya manis. Beneran deh manis banget."
Aisyah kembali menggeleng menolaknya. Namun semakin dirinya menolak, semakin Fariz bersikeras memaksanya untuk memakan buah apel itu.
"Ayo makan..." Ujarnya dengan lebih mendekat kepada Aisyah.
Aisyah memajukan kepalanya, memakan apel yang masih setia di pegang oleh Fariz. Namun saat belum sepenuhnya apel tergigit oleh mulutnya, Aisyah merasakan sesuatu yang lembut hangat di pipinya. Bola mata hitamnya langsung melirik ke samping. Melihat Fariz yang langsung nyosor begitu saja mencium pipinya. Aisyah mengubah posisinya. "Ih kak Fariz...nakal!!" Ujarnya pelan dengan
mengusap ngusap pipi bekas ciuman suaminya. Bukan apa, dia tidak terbiasa di cium. Setiap di cium pasti selalu ia elap. Entah kenapa seperti itu, tapi itu sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Geli sekali rasanya.
"Eh jangan di elap dong..." Ucap Fariz menghentikan tangan Aisyah.
"ADUUUH....KALIAN KALAU MAU MESRA PLISS DEH JANGAN DI SINI!!" Teriak kaila membuat mereka menoleh.
"Iya mbak Aisyah ga sopan banget." Timpal Okta.
"Kok mbak??" Tanya Aisyah. Memang di mana titik ketidaksopanan nya?
"Kenapa sih kalian? Iri banget lihat kita mesra" Ujar Fariz mempertanyakan.
"Kalau mau mesra....ya mesra aja. Tapi jangan di depan kita dong. Kalian tahu ga, usia kita yang saat ini itu lagi awal awal tumbuh bibit cinta. Yang mana pengen di perhatiin sama laki laki, pengen punya pacar. Iya kan mbak?"
Okta mengangguk mendengar penuturan kaila. "Jadi,,, kalian kalau mau mesra jangan di sini. Di depan kita lagi. Ya jiwa jomblo kita meronta-ronta lah...Ga bisa menghargai banget!" Lanjut kaila.
"Lha terus di mana?" Tanya Fariz.
__ADS_1
"Di kamar sana...bisa puas." Jawab kaila enteng. Fariz menyengir.
"Syah, yuk ke kamar."
Aisyah menggeleng.
"Aisyah ga mau belah duren kak..." Jawab Aisyah. "Eh, maksutnya mas."
"Nggak bakalan belah duren kok."
"Terus ngapain?"
Fariz terdiam. Susah juga kalau harus punya istri seperti Aisyah. Mudah geli, tidak bisa romantis-romatisan seperti yang lain, susah juga untuk melepas keperawanan nya.
Fariz menghela pelan. "Ya udah di sini aja. Tapi gimana? Manis kan?"
Aisyah mengangguk. "Iya manis. Enak."
"Mau lagi??"
"Boleh." Jawab Aisyah. Namun dia mengernyitkan dahinya saat Fariz kembali mendekat, seperti ingin melakukan hal yang sama seperti tadi. "Eh, mau ngapain mas?"
"Katanya mau lagi."
"Apelnya... Aisyah maunya apel. Karena apelnya manis. Bukan ciumannya yang manis." Mendengar itu Fariz menghela berat. "Ya udah ini..." Dia memberikan apel yang kini tersisa setengah kepada Aisyah.
"Makasih."
"Ya Allah, berikanlah kesabaran kepada hamba." Gumam Fariz lirih. "Huufft,,, susah banget. Dulu waktu belum halal ga bisa, sekarang udah halal malah susah." Ucapnya lesu.
Tak lama, adzan Dzuhur terdengar. Mereka langsung bergegas menunaikan sholat Dzuhur berjamaah. Kebetulan ruangan sholat di rumah ini lumayan luas. Sehabis sholat, di lanjut dengan makan siang bersama sama. Dengan masakan yang sudah di persiapkan sebelumnya. Meja makan yang panjang, tentu bisa untuk banyak orang. Senda tawa, denting suara antara piring dan sendok, suara kaila yang mendominasi karena heboh sendiri, dan beberapa suara lirih yang saling berbicara. Ramai, dan penuh warna. Semuanya menikmati makanan itu dengan lezat.
Tentu saja melihat keadaan ini membuat hati Aisyah tak henti hentinya bersyukur karena bahagia. Dia memang berstatus istri kedua, namun saat ini Allah menjadikannya sebagai istri satu satunya, istri seutuhnya yang
di miliki oleh fariz. Dia memang bukan yang pertama memiliki, namun takdirnya adalah yang selalu menemani hari ini hingga esok nanti. Bersama untuk selama-lamanya.
Keyakinannya terhadap takdir Allah semakin kuat. Sesulit apapun untuk menggapainya, Sejauh apapun jaraknya, Serumit apapun kisah cintanya, yang di takdirkan untukmu, dia akan tetap menjadi milikmu dan datang kepadamu. Bahkan dari yang tidak mungkin untuk dimiliki, bisa saja Allah membalikkan semuanya bila Dia berkehendak. Tentang apapun kondisimu saat ini, tetap optimis dan yakin bahwa kamu pasti bisa melewati semuanya. Percayalah di saat kamu ikhlas akan keadaanmu, di situlah Allah sudah menyiapkan kebahagiaan untukmu. Maka jangan sampai kamu menyerah, terus berjalan meskipun lelah. Jemput kebahagiaan yang telah menantimu. Yang lalu, jadikanlah sebagai pembelajaran dan bekal untuk mencapai sebuah masa depan indah dalam kehidupanmu.
.....................
25 November, Jakarta Timur
23.20
Seorang perempuan yang kini berada di ruang tamu, sedari tadi mondar mandir kesana kemari. Dia menggigit jemarinya, mencemaskan keadaan suaminya. Dirinya kembali melangkah ke arah jendela, menatap ke depan. Di mana hujan deras tengah mengguyur di tengah malam yang sunyi ini. Di tambah lagi dengan cahaya cahaya petir yang terlihat dari langit. Hatinya begitu gundah. Semoga suaminya baik baik saja.
"Ya Allah..." Gumamnya dengan menarik nafas dalam. Dia kembali mencoba untuk menghubungi, namun sayang tidak ada jawaban. Bagaimana ini??
Ia membalikkan badan, memilih untuk duduk di atas sofa ruang tamu. Menenangkan hatinya. Dia pasti baik baik saja, ya suaminya pasti akan datang ke rumah dengan selamat. Matanya terarah pada foto yang berada di dinding. Dengan latar belakang pesawat, dan suaminya memakai baju pilot. Dia tampak begitu gagah
di balas huufft....
00.18
Pintu terbuka, menampakkan sesosok lelaki yang masih menggunakan seragam pilot lengkap. Dia kembali menutup pintunya dan berjalan ke arah sofa. Matanya tertuju pada istrinya yang tengah terduduk dengan memejamkan mata di sana. Dia pasti ketiduran menunggunya.
Dirinya langsung meletakkan semua barang yang dia bawa di atas meja, sekaligus melepaskan topi pilotnya. Tangan kanannya terselip di belakang leher sang istri, sementara tangan kiri ia selipkan di bawah kedua lutut perempuan itu. Mengangkat dan membawanya ke arah kamar. Dia menempatkan istrinya di atas kasur, membenarkan posisi badannya, menarik selimut hingga bahu dan yang terakhir mencium keningnya.
•••••
Syifa mulai membuka matanya. Dia merubah posisi tidurnya menghadap ke kanan. Merasa ada yang kurang, dia membuka matanya lebar lebar. "Lhoh mas..." Panggilnya refleks dengan terbangun dan duduk. Mendapati Reyhan yang tidak ada di sampingnya, membuatnya semakin merasa gelisah. Tadi malam katanya dia pulang, apa sampai jam segini masih belum sampai rumah?
Syifa lekas berdiri menyalakan lampu kamar. Niatnya yang ingin keluar untuk mencari Reyhan tertahan saat mendapati cowok itu tidur di sofa. "Lhoh kok tidurnya di sofa??" Gumam Syifa bertanya. Tanpa berpikir panjang dia langsung mengambil selimut dan membawanya untuk Reyhan. Menyelimuti cowok itu agar tidak kedinginan.
Matanya terarah pada handuk yang tersampir
di sofa, membuat ia langsung mengambil dan menaruhnya di tempat biasanya. Syifa memegang keningnya. Entah kenapa akhir akhir ini dia sering merasa pusing dan lelah. Bila di perhatikan, sepertinya berat badannya juga naik. Hanya sepertinya. Semoga saja jangan, kalau sampai dia gendut, uhhh...bagaimana dia bisa manja manja di gendong Reyhan. Apalagi gendongnya tidak bisa setiap hari. Hanya edisi saat suaminya pulang ke rumah saja.
Pukul 06.50
Mereka berdua sarapan pagi bersama. Reyhan terdiam melihat Syifa yang makan dengan lahap. "Fa..."
"Hm??"
"Kapan kita punya anak?"
Deg
Syifa melepaskan sendok yang ada di tangannya. Dia terdiam saat Reyhan menanyakan itu. "Kapan Lo bisa hamil?"
Sudah hampir tiga tahun mereka menikah, namun belum juga di karunia seorang anak. Syifa tersenyum meski di paksa. "Syifa juga ga tahu mas, tapi In Syaa Allah pasti Allah akan memberi kok. Ah mas tenang aja, di luar sana ada banyak kok yang kayak kita. Malahan ada yang sampe lima, tujuh tahun."
"Kita udah usaha, tapi ga ada yang berhasil." Ujar Reyhan.
Syifa meneguk ludahnya. "Ah lihat deh mas perut Syifa,,, sekarang kok buncit ya. Apa kebanyakan makan??" Ucap Syifa berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia mengelus-elus perutnya. "Syifa udahan dulu ya makannya..."
Syifa berdiri, dia berjalan ke arah kamar. Duduk di atas kasur. Menarik nafas dalam, menghembuskan nya secara perlahan. Dia melihat perutnya. "Andai, ini itu isinya bayi. Bukan lemak lemak yang bikin buncit. Ih,,, kenapa sih pake buncit segala. Kan berkurang kecantikan gue....!!"
"Apa gue harus diet ya...Ah,,, tapi males banget. Mana mungkin gue bisa diet kalau gue aja ga tahan lihat makanan. Tapi kalau ga diet, terus gue gendut, gemuk, kan ga pantes kalau jalan sama mas Reyhan. Masa si gendut dan si tampan. Ih nggak deh...uh..."
Syifa menoleh saat Reyhan datang masuk ke kamar. "Mas, makannya udah selesai?" Reyhan mengangguk. Dia duduk di atas sofa dan membuka laptop, mulai fokus untuk mencari sesuatu. Syifa duduk di samping Reyhan. "Mas kemarin malam pulang jam berapa? kenapa telepon Syifa ga di angkat? Mana lama lagi sampe rumahnya. Mas tau ga sih Syifa khawatir. Terus kenapa tadi malam tidur di sofa? Kenapa ga di kasur aja?!"
"Jam dua belas, baterai lowbat, macet, terus ketiduran di sofa." Jawab Reyhan lengkap.
__ADS_1
Syifa terdiam. Hanya satu yang terlintas di pikirannya. Suaminya memang berbeda dari yang lain. "Kenapa bisa ketiduran?"
"Capek."
"Haaah...Syifa juga sama. Akhir akhir ini capeeek banget badannya. Kenapa ya? Gampang lemes mas...padahal ga kerja
apa apa lho."
Reyhan menoleh. "Masih capek?"
"He'em."
Reyhan langsung berdiri dan berjalan keluar, namun tak terlalu lama dia kembali masuk ke kamar. "Apa itu?" Tanya Syifa.
"Balsem."
"Buat siapa?"
"Kamu."
"Ihhh nggak nggak Syifa ga mau. Nanti bau nya kayak orang yang udah tua tua."
"Biar pegelnya ilang."
"Nggak!!" Tolak syifa, namun Reyhan tetap kekeh untuk mengoleskan balsem di tangan istrinya.
"Huueek,,,, ga enak. Ini bau apa sih???" Syifa menutupi hidungnya.
Reyhan hanya melirik dengan terus memijat tangan Syifa. Hal itu di lakukan juga pada kedua kaki gadis itu. Ya biar dia merasa lebih baik. "Udah udah mas. Syifa ga betah baunya."
"Gimana?"
"Bau...ga suka!!"
"Pegelnya udah ilang?"
"Belum. Malah panas ini badan."
"Di tunggu." Balas Reyhan yang masih sabar.
"Hueeek,,,, ga suka ga suka."
"Penciuman Lo bermasalah."
"Nggak. Sehat kok penciuman Syifa." Elaknya. "Orang masih bisa bedain mana wangi mana bau."
Driiing
Reyhan merogoh saku celananya, lalu mengangkat telepon. "Halo..."
"Waalaikum salam. Gimana?"
"Bisa kesana sekarang?"
"Oke. Jam berapa?"
"Iya."
"Hm."
"Waalaikum salam."
•••••
Sore, setelah mereka berdua sholat berjamaah. Reyhan langsung pamit pergi.
"Mau kemana? Terus sama siapa?" Tanya Syifa.
"Temen."
"Syifa ikut."
"Jangan!!"
"Kenapa ga boleh sih?, Emang ga bisa besok besok ya..."
Reyhan menggeleng.
"Penting??"
"Iya." Jawab Reyhan.
"Ya udah kalau gitu." Jawab Syifa dengan menyalami tangan Reyhan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Jawab Syifa cemberut. Melihat itu membuat Reyhan tersenyum tipis lalu mengelus puncak kepala istrinya, dia langsung berjalan pergi setelah itu.
•••••
Jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam, namun Reyhan belum juga kunjung untuk pulang. Apalagi seperti malam kemarin, malam hari ini juga hujan. Tentu saja itu membuat Syifa khawatir.
Ting tong...Ting tong...
__ADS_1
Syifa tersenyum lega, dengan cepat dia berjalan untuk membuka kan pintu. Memang benar Reyhan yang datang, namun bukan sendirian melainkan bersama seorang perempuan.
...********...