Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
SAH!!


__ADS_3

Sabtu, 3 Maret


Dinda menatap dirinya sendiri di depan cermin, seulas senyum langsung terpancar saat balutan make up sudah menyentuh manis wajahnya. Dirinya pun sudah menggunakan gaun putih dengan hijab yang tetap syar'i, di tambah pula mahkota kecil di atas kepalanya.


Matanya kian cantik dengan sentuhan airliner dan maskara, bibirnya manis dengan balutan lipcream merah cantik dengan pewarnaan yang natural. Semuanya tidak menor, dan terlihat fresh benar benar perfect untuk hari ini.


Dinda menunduk, matanya menatap punggung tangannya yang di balut henna warna merah. Seketika dia langsung teringat akan perkataan Ilham.


Nanti kalau akad nikah, saya akan memberimu hadiah din. Kamu ingin saya bacakan surah apa?


Senyum Dinda semakin lebar. Hatinya begitu tidak sabar menanti cincin yang akan melingkar di jari manisnya.


Tok...tok...tok...


Dinda menoleh, bersamaan itu pintu terbuka. Ketiga sahabatnya dengan memakai pakaian yang sama namun dengan model yang berbeda. Mereka begitu ceria dan semangat.


"Dinda..."


"Ya Allah...Cantik banget sahabat gue!!" Ucap Syifa terkagum sekaligus pangling.


"Iya dong, temennya siapa dulu?!" Timpal Lina.


"Din, gimana udah siap?" Tanya Aisyah membuat Dinda menghela panjang lalu mengangguk kecil. "Bismillah, In Syaa Allah..." Jawabnya lalu tersenyum.


"Assalamualaikum..." Bu nyai datang memasuki kamar.


"Waalaikum salam." Jawab mereka serentak.


"Dinda, ayo nduk..."


Dinda mengangguk dengan berdiri.


"Eh din kamu pakai heels gak?" Tiba tiba Syifa bertanya dengan melihat ke arah bawah melihat kaki Dinda yang tertutupi gaun.


"Hssst, diem...!" Titah Lina. "Cuma tanya lin..." Balas Syifa cemberut. Apa salahnya cuma bertanya?


Mereka bertiga beserta bu Nyai langsung menuntun menemani Dinda untuk datang ke arah masjid.


•••••


Dinda yang datang langsung duduk di barisan depan bersama para tamu. Sedangkan Ilham sudah berada di depan penghulu dan Abah, hanya meja yang menjadi pembatas antara mereka. Ilham mengambil mic, bacaan taawudz dan basmalah di mulai dengan merdu, lalu di lanjut dengan membaca surah


Ar Rahman. Dinda hanya terdiam memaku. Baik suara, nada, makhraj semuanya...mengapa begitu tidak asing? Seolah dirinya sering mendengar bacaan ini sebelumnya. Dinda mencoba mengingat, kapan? Namun tidak bisa.


Angin berembus lembut melewati celah celah yang ada di masjid. Cuaca yang cerah sekaligus panas itu berangsur menjadi sejuk seketika. Dari dalam sama sekali tidak terlihat bahwa gerimis halus telah turun di luar. Apakah akan hujan nanti?


Sebanyak 18 ayat telah di baca, dan Ilham menutupnya dengan tashdiq. Surah ini di bacanya bukan untuk mahar, namun sebagai hadiah untuk calon istrinya. Berharap agar Allah selalu menyertakan keberkahan dalam rumah tangga mereka nanti, Amiin...


Dinda berdiri di bantu oleh Aisyah dan uminya, dia berjalan pelan dan duduk tepat di samping Ilham. Perempuan itu menunduk tenang. Sementara itu Reyhan langsung menyiapkan kamera miliknya. Jangan di tanya, hasil jepretan Reyhan juga tidak kalah dengan fotografer lainnya.


Ilham menjabat tangan Abah. Beberapa saat setelah Abah selesai mengucapkan kalimat sakral untuk menikahkan keduanya, Ilham menarik nafas panjang. "Bismillahirrahmanirrahim..." Dengan segenap keyakinan pada dirinya, Ilham mengucapkan Ijab Qabul itu hingga selesai. Dan lancar...


"SAH!!"


Satu kata yang membuat kebahagian membuncah, tidak hanya pada keduanya namun pada semua tamu yang ada di sana. Hingga saking senangnya, sampai Dinda tak sanggup menahan air mata kebahagiaan itu. Tepuk tangan meriah langsung datang dari para santri yang ikut menyaksikan acara akad nikah di masjid. Tampak sekali wajah mereka yang ikut memancarkan kebahagiaan.


Dirinya bergetar saat tangannya di sentuh Ilham untuk di pasangkan cincin, jujur sebelumnya dia hanya berani menyentuh tangan Abah. Dan saat Ilham menyentuhnya rasanya,,, sangat berbeda...


Setelah keduanya saling memasangkan cincin, Dinda mencium tangan lelaki yang kini sudah sah menjadi suaminya. Hatinya begitu berdebar, apalagi saat ciuman hangat mendarat di keningnya. Begitu tulus, hangat dan penuh kasih sayang...tubuhnya langsung panas dingin. Sekali lagi Dinda mengatur dirinya agar tetap tenang.



•••••


طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا‎


مِنْ ثَنِيَاتِ الْوَدَاعْ‎


“Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita


Dari lembah Wadā’.”


وَجَبَ الشُّكْرُ عَليْنَا‎


مَا دَعَى لِلّٰهِ دَاعْ‎


“Dan wajiblah kita mengucap syukur


Di mana seruan adalah kepada Allah.”


أَيُّهَا الْمَبْعُوْثُ فِيْنَا‎


جِئْتَ بِالْأَمْرِ الْمُطَاعِ‎


“Wahai Nabi yang diutus pada kami


Kau datang dengan kata yang harus dipatuhi”


جِئْتَ شَرَّفْتَ المَدِينَة‎


مَرْحبََاً يَا خَيْرَ دَاع‎


“Anda telah membawa kemuliaan kepada kota ini


Selamat datang penyeru terbaik ke jalan Allah”


طَلَعَ النُّورَ المُبِينُ‎


نُورُ خَيرِ المُرْسَلِين‎


“Telah keluar cahaya yang terang


Cahaya sebaik baik utusan”


نُورُ أَمْنِِ وَسَلَامِِ‎


نُورُ حَقِّ ويَقِين‎


“Cahaya keamanan dan keselamatan


Cahaya kebenaran dan keyakinan”

__ADS_1


سَاقَهُ الَلَّهُ تَعَالَى‎


رَحْمَةََ لِلْعَالَمِين‎


“Allah (ta’ala) mencurahkan padanya


Sebagai rahmat bagi sekalian alam”


فَعَلَى البَرِّ شُعَاعٌ‎


وَعَلَى البَحْرِ شُعَاع‎


“Maka didaratan ada sebuah pancaran


dan dilaut juga ada pancaran”


مُرْسَلُ بِالحَقِّ جَاءَ‎


نُطْقُةُُ وَحْيُ السَّمَاء‎


“seorang utusan yang telah membawa kebenaran


ucapannya bimbingan wahyu dari Allah”


قَوْلُهُ قَوْلٌ فَصِيحٌ‎


يَتَحَدَّى البَلْغَاء‎


“perkataannya fasih


mudah di paham”


فِيهِ للْجِسْمِ شِفَاءٌ‎


فِيه لِلرُّوحِ دَوَاء


“beliau sebagai penyembuh


luka dan pengobat jiwa”


أَيُّهَا الهَادِي سَلَامٌ‎


مَا وَعَى القُرآنَ وَاع


“wahai sang petunjuk jalan..


keselamatan untuk mereka yg belajar Alquran"


Suara itu terdengar kompak beriringan dengan suara alat musik rebana yang di tabuh. Sepasang kekasih yang kini sudah sah menjadi suami istri berjalan bersama. Sedangkan di sisi kanan dan kirinya terdapat para santri yang berdiri berjajar dengan terus menabuh rebana.


Sapuan sejuk menerpa wajah Dinda, membuat gaun, hijabnya, bunga bunga dan dedaunan berayun pelan. Hujan gerimis yang tadinya turun, telah berhenti. Hari ini sinar cerah, namun udara di pesantren itu cukup menyejukkan dengan angin sepoi sepoi yang terus berhembus halus.


Lagu Tholaal Badru itu selesai, lalu di lanjut dengan lagu sholawat lainnya. Dan, suasana di sana bertambah sejuk dengan sholawat yang terus menggema merdu. Dan untuk acara kali ini, Dinda dan Ilham memilih dekorasi pernikahan outdoor.



•••••


"Satu dua...." Cekrek


"Satu dua..." Cekrek...


"Satu dua..." Cekrek...


"Udah mbak..."


Syifa mengangguk. "Oke. Eh din, kita ke bawah dulu...nanti kalau kita asik foto foto yang lainnya ga kebagian lagi. Lagian itu kak Ilham kasian menyendiri." Ujar Syifa melirik Ilham yang menepi untuk mempersilahkan mereka berempat berfoto bersama.


Dinda tersenyum. "Iya."


"Sekali lagi selamat ya din..." Timpal Aisyah.


"Iya makasih ya..."


Ketiganya langsung berjalan turun dan duduk di dekat suaminya masing-masing.


"Fa...lihat ini." Reyhan menyodorkan kamera yang di bawanya. Dia menunjukkan hasil jepretannya yang di ambil diam diam saat mereka berempat asik berfoto.


"Wah,,, bagus bagus. Mas Syifa saranin deh mas punya kerjaan sampingan. Fotografer. Kan keren itu..."


"Pilot udah cukup." Balas Reyhan singkat namun jelas.


"Em ya udah,,, kan cuma saran. Mas mau makan ga? Syifa ambilin."


"Boleh."


"Apa?"


"Terserah."


"Ya udah aku ambilin baso aja."


"Oke."


Syifa berdiri dan berjalan ke arah meja yang menyediakan makanan di sana. Dia tinggal menaruh kecap dan sambal di dalamnya, karena baso sudah di siapkan plus dengan kuahnya. Jadi tinggal mengambil dan di beri tambahan rasa sesuka hati.


Syifa kembali duduk di samping Reyhan. "Ini..."


"Makasih." Balas Reyhan dengan menerima mangkuk tersebut.


"Oke."


"Lo ga makan?"


Syifa berdecak. "Lo lagi lo lagi...Nggak gue ga makan!"


Reyhan menghela pelan. "Kamu ga makan fa?"


"Nggak! Udah kenyang. Tadi subuh kan udah di kasih tahu, coba panggil sekali kali yang romantis."


"Sayang??!" Tanya Reyhan.

__ADS_1


"Jangan sayang, itu udah jadi panggilannya kak Fariz sama Aisyah. Mas harus berani berbeda."


"Apa?"


"Ya kan masih ada ayang...beby...Pilih yang mana?"


Reyhan menggeleng geli. "Harus pake panggilan kayak gitu?"


"Nyenengin istri mas...dapat pahala. Bukan istri doang, anak juga ikut seneng. Jadi pahalanya gede." Jawab Syifa.


"Udah ya fa, panggil Syifa aja." Mendengar itu,


Syifa berdecih.


"Di kasih lowongan pahala ga mau." Ujar Syifa jutek. Sebenarnya ia hanya ingin melatih Reyhan dari laki laki dingin dan kaku, menjadi laki laki perayu. Tapi sepertinya tidak mungkin. Mana mau Reyhan merayu rayu, memberinya gombalan receh yang membuatnya tersipu? Itu sama sekali bukan sifat Reyhan yang mau berbasa basi.


"Fa..." Panggil Reyhan, namun Syifa mendiamkannya. "Syifa??"


"Fafa,,, lo__maksutnya kamu dulu kan pengennya di panggil fafa?!"


"Sekarang udah nggak!!" Balas Syifa dengan nada sedingin-dinginnya.


"Kamu marah?"


"Lo jangan tanya tanya gue!" Balas Syifa sengaja menggunakan lo-gue, biarkan saja. Dia ingin ngambek sekarang.


"Fa maaf..."


"Basi!"


Reyhan menggaruk tengkuknya. Harus bagaimana lagi dia menghadapi ibu hamil satu ini? Dia melihat sekeliling, untung tidak ada yang melihat perbincangannya dengan Syifa saat ini. Mereka sibuk dengan keluarganya masing-masing.


Syifa berdiri. "Mau kemana?" Tanya Reyhan.


"Pergi."


"Kemana?"


"Diem deh mas, gue lagi ngambek. Lagi ga mood!!" Balas Syifa kesal.


"Syifa..." Panggil Reyhan dengan nada halus. Berharap dia akan luluh, tapi ternyata tidak. "Syifa..." Panggilnya lagi, namun Syifa terus melanjutkan langkahnya.


Sekarang Reyhan berdiri. "Ayaaang!!" Barulah Syifa berhenti, senyumannya langsung mengembang dan terpancar. Sedangkan Reyhan, hanya berdiri kaku.


Dia melihat sekeliling yang melihat dirinya. "Ehm...jiaah ayang...hahaha!!" Balas Iqbal lalu tertawa. Lucu saja dia melihat ekspresi malu Reyhan saat ini.


"Han,,, sebucin itu ya lo?" Tanya Fariz dengan senyum lebarnya.


"Ayo mas,,, duduk lagi." Balas Syifa menarik tangan Reyhan untuk duduk. Dia dengan semangatnya membalikkan badan untuk menghampiri suaminya tadi.


"Nah gitu dong." Lanjutnya dengan cengengesan. "Sering sering ya panggil gitu."


Reyhan terdiam. Kenapa dia begitu geli dengan panggilannya tadi?


"Baksonya ga di makan?" Tanya Syifa.


"Ga jadi, makan kamu aja." Reyhan menyerahkan mangkuknya.


"Wah bener? Kebetulan dong, tadi juga Syifa mau pergi buat ambil bakso." Jawabnya dengan melahap satu butir bakso dengan kuahnya.


Syifa terdiam saat mengingat sesuatu. Tunggu, selama hamil dia lebih sering makan. Alhasil, berat badannya juga nambah. "Mas..."


"Hm?"


"Nanti kalau Syifa gendut jangan kepincut sama wanita lain ya?!!"


"Nggak akan."


"Beneran lhoh! Awas kalau sampe bener, Syifa bakal..." Syifa mengepalkan tangan kirinya erat, lalu memperlihatkannya pada Reyhan. "Syifa bakal tonjok tonjok mas sampe babak belur. Sampe mukanya jelek, sampe ungu ungu semua. Sampe nyeri, sampe perih. Sampe tulangnya pengen patah. Sampe....ya pokoknya itulah. Sampe kapok!!" Lanjut Syifa dengan melotot dan memasang muka angkuhnya. Sepertinya jiwa emak emak sudah merasuk dalam tubuhnya.


Reyhan hanya terdiam dengan geleng-geleng kepala heran. "Dan Syifa ingetin lagi ya mas, pokoknya sering sering panggil Syifa pakai kamu jangan lo. Kalau lebih bagus sih panggil..." Syifa mendekatkan wajahnya. "Panggil ayang. Oke?" Ujarnya dengan berbisik.


"Harus ya?"


"Ya nggak harus sih. Cuman kan apa salahnya nurutin istri. Ini juga termasuk ngidam tau..." Jawab Syifa asal.


"Oh ya?"


"Iya. Coba mas pikir pikir lagi deh. Dulu sebelum Syifa hamil, apa Syifa pernah minta mas buat panggil ayang? Buat panggil beby? Buat ngomong pake aku-kamu? Nggak kan? Tapi semenjak hamil, Syifa minta di panggil kayak gitu. Artinya Syifa ngidam di panggil kayak gitu. Dan harus di turutin."


"Terus?"


"Terus...ya terus kalau ga di turutin kata orang sih anaknya bakal ileran. Mas mau anaknya ileran?" Tanya Syifa melihat Reyhan serius. "Mas, coba deh bayangin kalau anak kita udah gede. Terus dia lagi makan. Bayangin pas lagi makan air liurnya jatuh ke makanan." Ujar Syifa dengan menunjuk bakso yang di bawanya.


"Tes...tes...tes...terus makanan yang kena air liur di makan lagi. Kebayang ga sih?? Terus ya mas, kalau anak kita lagi duduk bengong...terus air liurnya keluar dari mulut...meler! Terus dia bilang ayang.. ayang...aku pengen ayang. Kenapa dia gitu? Karena dulu pas ibunya ngidam pengen di panggil ayang, nggak di turutin!!" Jelas Syifa yang ceritanya ngawur.


"Gitu ya?" Tanya Reyhan risih.


Dengan santainya Syifa mengangguk. "Ya iya...kayak gitu emang."


"Emang beneran bakal kayak gitu?"


"Iya mas..." Balas Syifa dengan nada penuh meyakinkan. "Berarti kalau istri ngidam harus di...di apain mas?" Tanya Syifa dengan nada seperti memberi tebakan.


"Turutin?!" Jawab Reyhan.


Syifa tersenyum lebar. "Nah pinter..."


•••••


20.25


Ilham menutup pintu kamar. Dia membalikkan badan dan melihat Dinda yang terduduk di tepi ranjang. Rasa lelah dengan acara seharian ini tak terasa karena tertutupi oleh kebahagiaan yang ada.


Ilham duduk di samping Dinda. "Capek dek?"


"Hm? Eh...iya. Lumayan..." Jawab Dinda. Oh Ya Allah, bagaimana ini? Dia tidak bisa mengendalikan jantungnya yang berdegup cepat. Wajar, baru pertama ada seorang lelaki yang memasuki kamarnya selain Abah.


Ilham tersenyum tulus dengan menatap Dinda yang menunduk. Dia mengambil tangan Dinda dan menggenggamnya, memberi kehangatan. Dia seperti merasakan tangan Dinda yang sedikit bergetar. Ilham tahu, alasannya karena apa. Karena Dinda adalah sosok wanita yang sangat menjaga kesuciannya.


"Dek...kalau capek langsung bersih bersih terus tidur. Ya??"

__ADS_1


Dinda mengangguk. "Njih...mas."


...*******...


__ADS_2