
Semua orang yang berkerumun pun segera bubar. Begitu pula dengan Sasa dan kedua temannya. Fariz menatap Aisyah, seketika pandangan mereka bertemu. Namun dengan cepat Aisyah mengalihkan pandangannya dan bergegas pergi.
Aisyah berjalan menuju taman belakang dengan langkah cepat.
"Aisyah" Panggil seorang gadis. Dari arah berlawanan.
"Aisyah Lo ga papa kan? Syah Lo diapain sama Sasa?" Tanya Lina.
"Maaf Syah, kita baru tau kalau tadi lo bertengkar sama Sasa" Ucap Syifa.
Aisyah hanya menatap mereka secara bergantian, lalu pergi begitu saja.
"Lah lah Syah mau kemana?" Tanya Syifa.
"Heeehh,, tu si Sasa maunya apa sih cari ribut Mulu. Awas aja kalau ketemu sama dia" Gumam Lina.
"Tau tu Sasa. Ga ada kapok kapok nya tu anak" Tambah Syifa.
"Gue harus cari dia sekarang" Kata Lina lalu bergegas pergi, membuat Syifa langsung mengekorinya dari belakang. Sedangkan Dinda, dia melangkah pelan menuju taman belakang. Mungkin untuk saat ini Aisyah sedang membutuhkan teman. Namun, saat sampai ditaman belakang, Dinda mendapati Fariz yang tengah duduk disamping aisyah. Karena tidak mau mengganggu akhirnya Dinda memutuskan untuk mencari keberadaan kedua temannya. Syifa dan Lina.
Fariz duduk disamping Aisyah. Ia memandangi gadis itu lekat lekat. Sedangkan aisyah, dia belum menyadari akan kedatangan Fariz. Wajahnya ia tutupi dengan kedua tangannya. Masih tenggelam dalam kesedihannya.
"Lo ga papa?" Tanya Fariz pelan, membuat Aisyah langsung mengarahkan pandanganya ke arah samping. Mata dan pipi Aisyah sedikit basah. Menangis mungkin. Dengan gesit Aisyah langsung mengusap air matanya. Lalu menggeser tubuhnya. Menjaga jarak lebih tepatnya.
"Ga papa" Jawab Aisyah pelan. Tatapannya kosong menghadap bawah.
"Jangan pernah bersedih. Kalau banyak orang yang menyakiti Lo, itu tandanya Lo orang baik. Ingat, hanya pohon yang berbuah, yang banyak di lempari" Kata Fariz yang membuat Aisyah langsung menatap Fariz. Sendu.
"Sebaik apapun seseorang, pasti ada aja yang benci, yang gak suka. Tapi, tugasnya saat ini, bukan memikirkan semua itu. Yang perlu dilakukan adalah menjadi diri sendiri dengan versi terbaik" Tambahnya lagi.
"Kenapa kak Fariz belain aku kayak gitu" Tanya Aisyah, membuka suara. "Kenapa kak Fariz bilang kalau yang menghina aku bakal berhadapan sama kakak. Apa maksut kakak ngomong kayak gitu?" Lanjutnya lagi. "Kenapa kak Fariz bilang kalau kakak mau jadi pelindung aku"
Fariz terdiam. "Lo jangan mikirin yang aneh aneh. Gue ngomong gitu cuma kasian sama Lo. Mungkin dengan ngomong gitu Lo gak bakalan di gangguin sama mereka" Ujar Fariz membuat Aisyah terdiam.
"Aku mau bilang makasih karena kak Fariz baik sama aku. Tapi kalau Kak Fariz kasian sama aku, maaf kak Fariz harus tau kalau aku gak suka dikasihani kayak gitu"
"Gue tahu saat ini Lo lagi pengen sendiri buat numpahin semua kesedihan Lo. Dan Lo ga usah sedih. Entah gue ngelakuin ini atas dasar kasian ataupun tulus dari hati, gue tetep bakal lindungin dan ngebelain Lo." Ucap fariz.
"Oh ya ngomong ngomong masakan Lo enak"
"Masakan?"
"Iya, tumis kangkung buatan Lo enak" Ujar Fariz dengan tersenyum "Gue pergi dulu ya, ada urusan"
"Iya"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Aisyah. Lalu Fariz beranjak pergi.
Aisyah menatap bunga bunga yang kian tumbuh segar. Mereka bergerak gerak tersipu oleh sejuknya angin. Aisyah menghela pelan. Hari ini ia benar benar habis kesabaran. Sampai sampai Aisyah berani menampar Sasa didepan orang lain.
Ya Allah hamba mau cerita, bahwa hari ini hamba telah lupa. Lupa, bahwa kesabaran itu tidak ada batasnya.
•••••
Lina dan Syifa berjalan cepat untuk mencari Sasa. Hari ini mereka harus memberikan pelajaran kepada nya. Saat itu juga mereka melihat Sasa dan kedua temannya yang sedang berjalan dikoridor sekolah. Dengan mempercepat langkahnya, mereka menghampiri Sasa, Carin dan Rara.
"Minggir kalian semua" Ucap Lina kepada orang orang, agar memberinya jalan. Tepat dihadapan Sasa, Lina berhenti. Ia melotot tajam ke arah Sasa.
"Dasar tepung bumbu, kenapa sih Lo cari ribut Mulu ha? Kurang tenang hidup Lo?" Tanya Lina.
"Lo apaan sih, Dateng tiba tiba marah marah. Ga jelas tau ga"
"Lo yang ga jelas. Cari ribut Mulu sama Aisyah. Punya salah apa sih Aisyah sama Lo ha? Ga punya kan. Dan kalian berdua ngapain sih kalian berdua juga ikut ikutan si biang kerok ini ha? Dibayar berapa kalian" Kata Lina lagi dengan menunjuk Rara dan Carin secara bergantian.
"Lo gak usah sok sok an belain Aisyah. Jangan sok jadi pahlawan Lo" Kata Sasa dengan memukul jari telunjuk lina yang masih terarah kepada kedua temannya.
Lina maju satu langkah. "Mendingan jadi pahlawan dari pada jadi penjajah bego!!" Ucap Lina tepat dihadapan wajah sasa.
"Sumpah, Lo ga sikat gigi ya. Bau banget mulut Lo tau" Ujar Sasa dengan menutupi hidungnya.
"Ya emang lah bau. Gue aja abis makan semur jengkol." Jawab Lina jujur, membuat Sasa memasang wajah ingin muntah. "Halah, Lo ga usah mengalihkan pembicaraan deh, pakai bawa bawa bau mulut gue lagi" Ucap Lina nyolot.
"Ayo terus Lin, jangan kasih kendor" Bisik Syifa, membuat Lina mengangguk.
"Lo itu siapa sih, jadi manusia ga punya hati banget"
"Oo,, Atau jangan jangan Lo punya hubungan darah ya sama jin" Tambah Lina.
"Enak aja Lo ya kalau ngomong, cantik cantik gini dibilang ada hubungan darah sama jin" Ucap Sasa dengan mengibaskan rambutnya kebelakang. Membuat Lina memandangnya dengan pandangan tidak suka.
"Halah gaya Lo aja masuk pesantren, tapi pakai kerudung aja gak"
Ya begitu lah Sasa, saat dipesantren memakai hijab, saat diluar pesantren hijabnya selalu dilepas.
"Lah Lo kok jadi ngurusin hidup gue. Mau pakai hijab kek, mau gak kek terserah gue dong" Ujar Sasa enteng.
"Wah bener bener Lo ya" Lina mengambil jepit rambut mutiara ala Korea milik Sasa dengan paksa. Membuat rambut Sasa juga ikut tertarik.
"Aww,, Lo ngapain ambil jepit rambut gue. Itu mahal harganya. Kembaliin ga" Kata sasa berusaha mengambil jepit rambut miliknya.
"Lihat aja ni ya" Ujar Lina, lalu ia membanting sekaligus melempar jepitan rambut milik Sasa. Hingga terjatuh beberapa meter dari mereka. Lina tersenyum puas.
"Kurang ajar Lo" Kata Sasa tak terima. Lalu ia menarik keras kerudung Lina. Tak mau kalah, Lina juga ikut menarik juga menjambak rambut Sasa. Mereka yang ada dikoridor sekolah dengan semangat bertepuk tangan, saling mensuport jagoannya. Ada tontonan baru. Mungkin itulah pikirnya.
Lina,,, Lina,,, ayo Lin jangan kasih kendor gue dukung lo
Sa, jangan mau kalah sa. Semangat sa.
Sasa, Sasa, Sasa.
Lina, Lina, Lina. Go go go!!!
Itulah mereka berteriak semangat 45.
"Aduh ini gimana ceritanya malah jadi gelud gini" Gumam Syifa bingung, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"STOP!!! Stop kalian. Jangan bertengkar disini" Teriak seorang gadis yang berusaha memisahkan mereka dengan sekuat tenaga.
"Kalau bertengkar jangan di sini!! Ini sekolah buat belajar" Tambah Dinda.
"Dia noh yang mulai" Ujar Lina menunjuk Sasa, sekaligus merapikan kerudung dan seragamnya yang berantakan.
"Lo yang mulai duluan" Ujar Sasa tak terima. Ia juga merapikan rambutnya yang berantakan.
"Apa Lo" Ucap Lina dengan melotot ke arah Sasa.
__ADS_1
"Lo yang apaan" Kata Sasa tak mau kalah.
"Udah udah, kalian mau dihukum Bu Desi. Dan kalian yang ada disini tolong bubar. Ini bukan tontonan. Lina ayo kita pergi" Ujar Dinda menarik lengan temannya.
"Bilang aja Lo iri sama gue" Kata Sasa.
"Gue? Iri sama Lo. Gak akan mungkin"
"Udah Lin jangan diladenin. Gak bakal selesai selesai masalahnya kalau kayak gini. Ayo mendingan kita pergi dari sini"Kata Dinda yang terus menarik pergelangan tangan Lina. Akhirnya Lina pun menuruti perintah Dinda, walaupun sebenarnya ia masih ingin memberikan pelajaran kepada Sasa.
"Iri? Maaf gue lebih suka nganan dari pada ngiri" Kata Syifa.
"Gak jelas!!" Ujar Rara dan Carin bersamaan. Sedangkan Syifa sudah melangkah pergi menyusul kedua sahabatnya.
•••••
Hari ini Aisyah pulang terlambat, karena ia harus mendaftar dulu sebagai anggota PMR. Ya, PMR adalah ekskul yang paling Aisyah sukai. Aisyah bernafas lega, setelah semuanya sudah selesai, dan ia juga sudah diterima sebagai anggota PMR. Aisyah lalu pergi ke kelas untuk mengambil tas, dan segera pergi dari sekolah. Namun secara tiba tiba ada orang yang menarik tangannya secara paksa. Aisyah menatap gadis yang kini berada dihadapannya, ia pernah melihat gadis itu. Ya, gadis yang dilihatnya bersama Fariz saat dikantin.
"Punya tujuan apa Lo deketin Fariz" Tanya gadis itu dengan menatap Aisyah. Tidak suka.
"Maaf mbak ini siapa?"
"Gue Ghea pacarnya Fariz. Jadi Lo ga usah sok sok an cari perhatian ke Fariz. Lo harus nya itu sadar diri"
"Mbak Ghea saya ga ada apa apa sama kak Fariz"
"Terserah Lo mau ngomong apa, tapi yang pasti gue gak suka kalau pacar gue Deket sama cewek lain. Lo sama sekali ga pantes buat Deket sama Fariz. Gue lihat akhir akhir ini Fariz lebih sering nemuin Lo dari pada gue. Dan gue juga udah tau kalau Fariz tadi belain Lo dihadapan orang lain. Makannya gue minta Lo jauhin Fariz."
"Iya mbak, saya minta maaf"
"Awas aja ya Lo, kalau sampai gue lihat Lo deketin fariz, gue gak bakalan tinggal diem" Ucap ghe penuh ancaman.
"Iya mbak" Jawab Aisyah. Lalu ghe pergi begitu saja dari hadapannya.
Ternyata kak Fariz punya pacar. Batin aisyah.
"Eh, hei ngapain bengong" Ucap seorang bersuara berat membuat Aisyah terlonjak kaget. Dihadapannya ada seorang laki laki dengan menggunakan baju hitam, dan ikat pinggang hijau.
"Eh kakak ngapain disini"
"Gue mau ngajar ekskul pencak silat" Ucap Fariz.
"Oh gitu"
"Lo kok belum pulang"
"Iya, soalnya tadi aku sebelum pulang daftar anggota PMR dulu. Ya udah kak, kalau gitu aku pulang dulu" Kata Aisyah. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam, hati hati Syah" Ucap fariz, membuat Aisyah terdiam. Apa dia bilang? Hati hati?
"Kenapa masih diem, katanya mau pulang"
"Eh, oh iya ini-- ini juga mau pulang" Jawab Aisyah sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Membuat Kedua sudut bibir Fariz terangkat membentuk seulas senyum. Tanpa berbasa basi, Aisyah langsung melangkah pergi. Kalau dilihat ghea, bisa rumit masalah nya.
•••••
"Riz, Lo ada rasa sama Aisyah" Tanya Iqbal.
"Kenapa emang?"
"Gue gak punya perasaan apa apa sama dia" Kata fariz enteng.
"Lo beneran ga ada perasaan sama dia. Terus kenapa Lo akhir akhir ini sering nemuin dia" Kali ini Ilham yang buka suara. Sedangkan Reyhan dia lebih memilih untuk diam, dan fokus pada pelajarannya.
"Kalian itu kenapa sih, pada kepo sama urusan gue"
"Yaelah kayak sama siapa aja Lo. Gue ini kan temen Lo wajar lah kalau gue kepo" Jawab Iqbal.
"Nih ya gara gara Lo Deket sama Aisyah, ghea jadi marah sama kita. Iqbal kenapa kamu nyenyenye, Fariz mana ha? Nyenyenye Kalian nyenyenye" Ujar Iqbal dengan memonyongkan bibirnya. Menirukan gaya bicara Ghea. "Heran gue sama si Ghea. Lo kok betah sih sama cewek kayak gitu" Lanjut Iqbal.
"Kalau bukan karena bokapnya gue juga ogah Deket sama dia" Kata Fariz.
"Eh, emang si Ghea itu beneran pacar Lo?" Tanya Iqbal.
•••••
Hari ini jam pertama dan kedua adalah pembelajaran olahraga bagi kelas 10 MIPA 4. Seperti biasa, sebelum olahraga para siswa diminta untuk melakukan pemanasan, lalu lari 10 kali memutari lapangan.
"Baik anak anak, Materi pada pembelajaran kali ini adalah sepak bola" Ucap pak Zen selaku guru olahraga. Membuat Lina bersorak riang. Semangat sekali rasanya. Pak Zen menjelaskan beberapa hal yang harus dilakukan siswa dalam pembelajaran praktek sepak bola kali ini. Setelah semuanya paham, pak Zen mulai mengabsen siswa untuk melakukan praktek satu persatu.
"Adel, kamu itu kalau nendang pakai tenaga. Jangan lemes gitu dong, yang semangat." Ujar pak Zen yang merasa gemas, karena tendangan dari Adel begitu tak bertenaga. Bahkan bola yang ditendang hanya menggelinding sekitar kurang dua meter dari tubuhnya.
"Baik, selanjutnya Lina" Ujar pak Zen, membuat Lina dengan semangat memposisikan tubuhnya didepan bola. Ia memandang lurus ke arah gawang, setelah itu dengan begitu semangat Lina menendang bolanya.
1 detik
2 detik
3 detik
"GOOOLLL!!!" Teriak Lina kegirangan, karena bolanya tepat sasaran.
"Woy Lin, sepatu Lo" Ujar Adel menepuk bahu Lina. Dengan menunjuk ke arah atas, membuat Lina mengikuti arah jari telunjuk Adel.
Matanya membelalak kaget. Lalu ia menepuk jidatnya. "Heh SEPATU GUE KOK TERBANG!! Woy tolongin sepatu gue, aduh kok bisa. Ini gimana, sejak kapan sepatu gue punya kekuatan super kayak gitu!!" Ucap Lina bingung sendiri. Lina segera berlari, ingin mengejar sepatunya yang tiba tiba saja ikut terpental bersamaan dengan bola yang ia tendang. Namun tak lama, ia kembali. Melepas sepatu sekaligus kaos kakinya.
"Lah kenapa sepatu sama kaos kaki Lo lepas kayak gitu!!" Tanya Adel.
"Ini kaki gue yang satu gak ada sepatunya. Nanti kaos kaki gue jadi kotor" Ujar Lina yang masih sibuk melepaskan sepatu kirinya. Setelah selesai, ia segera berlari meninggalkan lapangan.
"Haduuuhhh,,, ni sepatu kemana lagi" Ucap Lina dengan mengedarkan pandangan ke segala arah. "Ih, kenapa sepatu gue tiba tiba punya kekuatan super buat terbang kayak git..." Ucapan Lina terhenti saat ia melihat seorang laki laki yang berdiri didekat tempat sampah dengan memegang sepatu. Lina menyipitkan matanya.
"Lah itu sepatu gue!!" Teriak Lina histeris saat melihat sepatunya yang akan dibuang seseorang ketempat sampah.
"Woy!! sepatu gue itu,,, jangan dibuang!!" Teriak lina dengan berlari. Ia mengambil paksa sepatunya, saat sudah berada didekat lelaki tersebut.
"Mau Lo apain sepatu gue!!"
"Buang ke tempat sampah!!" Tegas iqbal.
"Lah, Lo ngapain mau buang sepatu gue!!"
"Lo ga lihat ni ha? Dahi gue jadi benjol kayak gini gara gara sepatu Lo" Kata Iqbal dengan menunjuk dahinya yang benjol.
"Ya maaf, habisnya sepatu gue tadi tiba tiba terbang. Kayak nya dia punya kekuatan super deh" Jawab Lina ngawur.
"Emang Lo habis ngapain"
__ADS_1
"Ya tadi gue kan lagi mau nendang bola, pas bola itu gue tendang eh tiba tiba sepatu gue terbang. Aneh kan"
"Ukuran kaki Lo berapa?"
"39 deh kayaknya kalau ga ya 40 gue lupa?"
"Terus ukuran sepatu itu berapa" Tanya Iqbal, membuat Lina langsung melihat ukuran yang ada di alas sepatu.
"44"
"Berarti tu sepatu kegedean buat Lo"
"Iya, biasanya aja nih gue sumpelin pakai kaos kaki yang gak kepake. Biar pas. Tapi gue tadi gak sumpelin pakai kaos kaki, soalnya kaos kaki gue yang ga kepake tiba tiba ilang. Ini yang beliin mama gue." Jawab Lina jujur.
"Ya itu namanya bukan terbang bego!" Geram Iqbal. "Pokoknya gue gak mau tahu Lo harus tanggung jawab, Lo harus ganti rugi"
"Ganti rugi pake apa?"
"Ya uanglah. 20 ribu aja"
"20 ribu? 2 ribu aja itu udah cukup banget!"
"Seenak jidat Lo kalau ngomong. Dua ribu dapet apa?"
"Dua ribu udah dapet permen banyak"
"Gue gak mau tau, Lo harus tanggung jawab"
"Ya tapi hari ini gue cuma bawa 15 ribu doang"
"Bodo amat. Ya udah mana uang 15 ribu kasih gue semua"
"Terus gue nanti makan apa?"
"Ya serahlah, itu bukan urusan gue"
"Gue nanti kalau pingsan gimana? Lo mau tanggung jawab? Gue tadi belum sarapan" Tanya Lina. Lalu ia terdiam. "Gini aja, gimana kalau besok gue bawain Lo makanan. Tenang aja makanannya enak kok. Itu sebagai ganti rugi gue"
"Emm,,," Iqbal terdiam sejenak. "Oke gue tunggu Lo pas istirahat pertama di roftoop"
"Oke deh. Ya udah kalau gitu gue mau balik ke lapangan dulu. Nanti pak Zen ngomelin gue lagi"
"Pokoknya makanannya yang enak"
"Tenang aja Lo ga usah khawatir. Ya udah gue balik dulu. Assalamualaikum" Ujar Lina lalu membalikkan badannya. Sekilas, ia tersenyum jahil.
"Waalaikum salam" Jawab iqbal.
Lantas Lina langsung berlari menuju lapangan. Sesampainya di lapangan. "Maaf pak, tadi saya harus cari sepatu saya dulu" Katanya dengan ngos-ngos an.
"Makannya, kalau mau nendang itu ya sewajarnya jangan terlalu keras. Jadi mental kan sepatu kamu" Ujar pak Zen.
"Ya kan saya semangat pak, jadi tenaga saya bertambah 2 kali lipat" Jawab Lina, yang sibuk memakai kaos kaki nya. "Nih gara gara ga ada sumpelannya jadi ikut mental kan sepatu gue" Gumamnya.
•••••
"Eh, kalian punya kaos kaki yang ga kepake?" Tanya Syifa sembari menyeruput jus alpukat nya.
"Gak" Jawab Dinda dan Aisyah secara bersamaan.
"Emang kenapa?" Tanya Aisyah. Belum lagi Syifa membuka mulut untuk berbicara, tiba tiba Lina datang dan duduk di samping Dinda.
"Kok baru Dateng Lin" Tanya Syifa.
"Oh ada yang harus gue urus dulu" Jawab Lina membuat Syifa manggut manggut.
"Mbak Windi" Ujar Lina setengah berteriak, melambaikan tangannya ke arah mbak Windi. Pemilik kantin. Seketika mbak Windi pun berjalan ke arah Lina.
"Iya?"
"Mbak saya pesen es jeruk sama batagor" Kata Lina.
"Iya, tunggu bentar mbak" Ucap mbak Windi, lalu segera pergi untuk membuatkan pesanan.
"Eh, makanan yang enak tapi ga mahal itu apa ya,," Tanya Lina.
"Banyak Lin, ada cilok, cireng, sempolan, telur gulung, terus yang barusan Lo pesen. Batagor itu juga enak" Kata Syifa.
"Emmm,,," Lina nampak berpikir, dengan mengetuk ngetukkan jari telunjuknya diatas meja. Dan menggigit kuku tangan kirinya.
"Mikirin apa sih Lin, kayaknya pusing banget" Tanya Dinda.
Mikirin caranya biar besok bisa ngerjain Iqbal. Batin Lina.
"Ga papa kok" Jawab Lina.
"Ini batagor sama es jeruknya" Ucap mbak Windi sembari menaruhnya ke atas meja.
"Makasih ya mbak Windi" Jawab Lina dengan mendekatkan pesanan ke arahnya. Mbak Windi mengangguk. Lalu pergi.
"Eh mbak Windi" Panggil Lina, membuat mbak Windi kembali membalikkan badannya.
"Iya ada apa?"
Lina berdiri, dan mendekatkan wajahnya kearah telinga mbak Windi. Nampak seperti membisikkan sesuatu, sedangkan mbak Windi nampak serius dengan apa yang di bisikkan Lina.
"Iya" Jawab mbak Windi. Lalu Lina kembali membisikkan sesuatu kepada mbak Windi.
"Bisa?" Tanya Lina, menatap mbak Windi.
"Bisa" Kata mbak Windi.
"Ya udah besok saya ambil" Mbak Windi mengangguk. "Eh satu lagi" Kata Lina kembali membisikkan sesuatu.
"Gimana?" Tanya Lina.
"Iya boleh"
"Sip, makasih mbak Windi" Ujar Lina dengan mengacungkan jempolnya. Membuat mbak Windi tersenyum, lalu kembali ke arah dagangannya.
"Lagi bisik bisik apa sih sama mbak Windi, serius amat Lo" Tanya Syifa yang merasa penasaran.
"Ada deh,," Ujar Lina dengan senyum jahilnya.
Ya Allah, semoga rencana hamba berhasil. Batinnya.
...*******...
__ADS_1