Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Menyerah?


__ADS_3

"Iqbal!!" Panggil Fariz dengan menggedor gedor pintu. "Bal cepetan ah!! lama banget Lo" Geram fariz. Sudah berapa lama cowok itu ada di kamar mandi? Sedari tadi juga belum keluar-keluar.


"Iq...."


Pintu kamar mandi terbuka. "Iya ya... Ga sabaran banget sih Lo!" Ujar Iqbal.


"Heh kalau Lo lagi di rumah silahkan aja berjam jam mandinya. Masalahnya ini di pesantren bal,, antri. Jadi jangan bikin naik darah Lo!" Balas Fariz.


"Gue juga ngelakuin ini demi kebaikan semua. Tanggung jawab nih namanya"


"Tanggung jawab tanggung jawab. Apanya yang tanggung jawab"


"Gini ya Riz gue..."


"Udahlah cepet. Ga usah pake ngobrol. Masih banyak yang mau mandi" Selak orang di belakang Fariz yang sepertinya ikut kesal.


"Kalau ada orang ngomong jangan di potong. Hargai dikit kek" Sahut Iqbal. "Asy syaikh Abdul Aziz As Salman rahimahullah berkata. Termasuk adab jelek berbincang ialah kamu memutus ucapan temanmu dan mendahului dia untuk melengkapi ucapan yang dia mulai. Dalam rangka menampakkan padanya bahwa kamu lebih tahu tentang hal yang di bahas dari pada dia" Ujar Iqbal bijak. Entah sejak kapan dia mulai berbicara seperti ini. Biasanya juga Ilham yang sering menasihati menggunakan kata kata seperti itu.


"Iya ana tahu. Tapi sebaiknya kalau ngomong memperhatikan waktu. Antum ngomong, tapi waktunya tidak tepat. Masih ada orang yang menunggu buat antri di sini, sedangkan antum malah sibuk mengobrol. Apa itu juga baik?" Balasnya.


Iqbal menghela pelan. "Ya udah kalau gitu. Gue pergi aja"


"Kenapa ga dari tadi?" Tanya Fariz membuat Iqbal melotot kesal.


"Assalamualaikum" Ujar Iqbal.


"Waalaikum salam" Jawab semua orang yang mendengarnya.


Fariz membaca doa, lalu memasuki kamar mandi. Kali ini dia harus cepat cepat mandi. Tidak enak dengan mereka yang sudah lama mengantri di balelakangnya karena Iqbal.


Setelah 5 menit lamanya, Fariz keluar dari kamar mandi dan langsung berjalan menuju kamarnya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab ketiga temannya yang berada di dalam kamar.


Iqbal langsung menatap Fariz yang sedang berjalan dengan tangannya yang sibuk menggosokkan handuk ke rambut basahnya. "Riz, sini gue jelasin" Ujar iqbal. "Jadi itu gue habis makan jengkol. Dan gue harus sikat gigi berkali kali sampe baunya hilang. Terus tadi itu gue harus bersihin lantai kamar mandinya biar ga bau. Emang Lo mau mandi kebauan?"


"Kenapa harus jengkol yang Lo makan?" Tanya balik Fariz.


"Ya karena gue doyan" Jawab Iqbal.


•••••


Lina berjalan ke arah pintu. Menoleh ke kanan kiri. Setelah di rasa aman, dia kembali masuk ke dalam kamar. Duduk di sebelah Syifa.


"Fa," Panggilnya. "Gue minta tolong ya sama Lo"


Syifa mengangkat kedua alisnya. "apa?"


Lina melihat sekilas ke arah pintu. Memastikan keberadaan Aisyah untuk tidak masuk ke kamar terlebih dahulu. "Tolong nanti Lo dandanin Aisyah. Oke?"


"Ha? Emang ada apa? kok harus di dandanin?"


"Udahlah ikutin aja kata gue. Kasih make up nya ga usah ketebalan. Cukup kasih bedak sama yang biasa Lo pake itu di bibir."


"Liptint?"


Lina mengangguk. "Iya itu lah"


"Tapi bilang ke gue ada apa?"


Lina terdiam. "Eemm,,nanti deh gue kasih tahu"


"Kalau gitu kenapa ga sekalian Lo juga gue dandanin?" Tanya Syifa.


"Ga ah. Gue udah cantik alami" Balas Lina.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Lina dan Syifa.


Aisyah melempar senyum pada mereka dengan berjalan ke arah lemarinya. Ia merapikan seragamnya agar lebih rapi. Lina menatap Syifa. Dia memberi instruksi melalui mata dan wajahnya. Syifa mengangguk.


"Aisyah..." Panggil Syifa.


Aisyah menoleh. "Iya?"


"Sini dong"


Aisyah berjalan mendekat. "Ada apa fa?"


"Gue kok rasanya pengen dandanin Lo ya?!"


Aisyah terdiam. "Boleh ya?" Tanya Syifa.


"Eum,, nanti malam aja ya fa. Soalnya kan ini mau sekolah"


"Ya sekarang aja ga papa. Cuma sebentar, ga lama kok ya...cuma di kasih bedak sama merah merah dikiiit aja di bibir"


Aisyah menatap Syifa. "Boleh ya Syah, gue pengen banget. Cuma satu kali ini aja" Bujuk Syifa.


"Udah Syah turutin aja" Sahut Lina meyakinkan.


Aisyah menghela pelan. "Ya udah"


Syifa tersenyum. "Lin,, ambilin punya gue. Aisyah duduk sini..."


Lina mengangguk lalu berdiri. Berjalan mengambilkan dompet besar yang biasa Syifa gunakan untuk menyimpan beberapa barang miliknya. "Nih..."


Syifa mengambil dompet yang di sodorkan. Dia langsung membukanya dan mengambil toner. Aisyah mengerutkan keningnya. "Apa itu?"


"Toner"


"Biar apa?"


"Mengangkat sisa kotoran. Sini..." Syifa mendekatkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Aisyah. Setelah toner, dia langsung mengoleskan sedikit pelembab, lalu bedak. Di lanjut dengan mengoleskan tipis liptint di bibir Aisyah agar tidak begitu mencolok.


"Mau pakai celak juga ga Syah?" Tawarnya.


Aisyah dengan cepat menggeleng.


"Ga usah fa. Ini udah cukup"


"Oh oke kalau gitu. Ga papa ya gitu aja, gue cuma punya itu aja soalnya"


Aisyah mengangguk. "Iya ga papa"


"Assalamualaikum" Ucap Dinda dengan masuk ke dalam kamar. Membawakan makanan untuk Syifa.


"Waalaikum salam" Jawab ketiganya


"Syifa, ini aku taruh di sini ya. Jangan lupa di makan..."


Syifa mengangguk. "Makasih ya Din. Baik banget lhoh kamu"


"Iya sama sama" Dinda melihat ke arah Aisyah. "Lhoh tumben Syah kamu..."


Aisyah tersenyum kikuk. "Jelek ya??"


"Nggak. CANTIK KOK" Jawab mereka bertiga kompak.


"Ini make up-nya ketebalan ga?" Tanya Aisyah lagi.


"Nggak kok. Itu kelihatan natural. Orang cuma bedak sama lip..." Lina terdiam. "Lip apa tadi ya fa?"


"Tint"


"Oh liptint"


"Ya udah berangkat sekolah yuk" Ujar Dinda yang di angguki oleh Lina dan Aisyah. "Fa, kita duluan. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam. Hati hati"


"Iya"


Mereka bertiga langsung bergegas keluar kamar untuk pergi ke sekolah. Sepanjang perjalanan Aisyah hanya menunduk malu. Entahlah, sangat tidak nyaman dengan apa yang sudah di tempelkan Syifa pada wajahnya. Saat sudah sampai di sekolah, dirinya langsung bergegas ke toilet untuk menghapus dan menghilangkan make up make up ini. Namun Lina mencegahnya.


"Udah syah, ga papa. Itu kelihatan cocok di wajah Lo. Sayang kalau di hapus"


"Tapi Lin, aku..."

__ADS_1


"Udah ga papa"


"Tapi lin kalau sampe mengundang syahwat gimana?"


Lina terdiam. "Syah, yang mengundang syahwat itu orang yang penampilannya berlebihan. Pake make up menor, bibir di buat merah kayak cabe kecombrang, pakai pakaian ketat, tipis. Terus suka jalan lenggak lenggok dan lainnya. Nah kalau Lo ini nggak kok. Lagian kan suatu perbuatan tergantung dari niatnya. Lo kan ga punya niat apa apa" Ujar Lina meyakinkan.


Dari sinetron sinetron sih biasanya caranya dandan kayak gini biar bisa luluh hatinya cowok. Tapi gue dosa ga ya kalau ngelakuin ini? Ah tapi kan juga tujuannya baik biar bisa cepet cepet selesai masalahnya aisyah. Batin Lina.


"Ya udah syah, mendingan Lo ke kelas ya" Ujar lina.


Aisyah mengangguk.


"Iya. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Lina.


•••••


"Ssstt sssttt,, Han..." Panggil Gilang dengan berbisik. Sekali kali matanya melirik ke arah depan, memastikan agar Bu Desi tidak melihatnya.


Reyhan melirik Gilang. "Tolong kasih contekan dong ke gue" Bisiknya meminta. "Tiga nomor aja pliss...Lo kan baik"


"Nomor?" Tanya Reyhan.


"Tujuh, dua belas sama enam belas" Jawab Gilang.


Reyhan kembali fokus pada soalnya. Sedang Gilang menunggu jawaban yang akan di lontarkan Reyhan kepadanya. Namun nyatanya reyhan hanya terdiam fokus pada soalnya.


"Han..." Panggilnya lagi. "Han, cepet dah lama banget lo!!" Reyhan hanya meliriknya sekilas. "Han!!"


"Jujur ga bisa?" Ketus Reyhan.


"Kalau gue punya otak kayak Lo gue pasti bakal jujur. Ga bakalan dah gue minta jawaban ke lo!" Balas gilang. "Han!! Baik sama tem..."


BRAAAK


Gilang tersentak kaget. Dia melirik ke depan mejanya. Melihat Bu Desi yang melotot menatapnya membuat Gilang menyengir lebar. "Eh ada bidadari turun dari kentongan" Ujarnya. "Eh kahyangan maksutnya"


"DIEM KAMU!! GA USAH BASA BASI!!" Gertak Bu Desi.


"Ada apa Bu? kok ke sini? kangen ya sama saya?" Tanya Gilang kepedean.


"Kangen kangen! yang ada saya eneg sama kamu. MAJU KE DEPAN!!"


"Ngapain Bu?"


"Ga usah banyak tanya. MAJU KE DEPAN!" Perintah Bu Desi. "AYO!! KAMU GA DENGER IBU NGOMONG APA TADI?"


"Denger denger Bu. Gendang telinga saya masih sehat kok" Gumam Gilang dengan berdiri dan maju ke depan di ikuti Bu Desi yang berjalan di belakangnya. Bu Desi mulai menuliskan soal ke papan tulis.


"Coba kerjain!"


"Hm? Saya?"


"YA SIAPA LAGI KALAU BUKAN KAMU!!"


Dengan santainya Gilang mengambil spidol lalu mulai menuliskan jawaban ngawur di papan tulis. "Udah Bu"


Bu Desi memicingkan matanya, melihat ke arah papan tulis. Padahal itu adalah Soal yang mudah, namun Gilang menjawabnya dengan asal. Bagaimana emosinya tidak meledak coba? Di suruh jawab delapan kali sembilan aja jawabannya delapan puluh sembilan.


"BESOK KAMU HAFALIN PERKALIAN DI DEPAN! HARUS HAFAL!!" Bentak Bu Desi


"Harus ya Bu? Ga bisa Sunnah?"


"Jangan banyak ngomong kamu!! Di suruh jawab perkalian gitu aja ga bisa! otak kamu itu kesumbat apa ha? Mau kamu saya kirim ke SD lagi?" Tanya Bu Desi dengan nada tinggi.


"Sekarang push up lima puluh kali. Sekarang!!"


"Dan yang lainnya kumpulkan soal ulangan. Waktu mengerjakan sudah habis" Ujar Bu Desi dengan kembali melihat ke arah Gilang. Memastikan agar dia benar benar melakukan apa yang ia perintahkan.


Beberapa murid langsung maju ke depan mengumpulkan tugas. Bu Desi kembali melirik Gilang yang tengah push up dengan menghitung dengan cepat.


"Udah selesai Bu" Ucap Gilang dengan berdiri.


"Saya suruh kamu buat push up lima puluh kali, bukan lima puluh detik!"


"Kan sama aja Bu" Jawab Gilang lesu.


"Hah?"


"AYO CEPET! ULANG LAGI DARI AWAL" Ujar Bu Desi dengan nada tinggi. "Punya murid gini amat ya Allah..."


Kring...kring...kring....


"ALHAMDULILLAH..." Pekik Gilang senang.


"Alhamdulillah Alhamdulillah,,, pokoknya hukuman kamu tetap jalan. Ga boleh istirahat kalau belum push up lima puluh kali!" Balas Bu Desi dengan nada yang sama sekali tak bersahabat.


Gilang menghembuskan nafas kasar, sekilas dia melihat ke arah Iqbal yang menahan tawa karena melihat dirinya. Mau tak mau alhasil dia harus push up lima puluh kali. Setelah genap lima puluh kali, Bu Desi baru beranjak keluar kelas.


Dengan langkah pelan Gilang berjalan duduk di depan Ojit. Memijat otot lengan nya yang menjadi pegal karena push up. Gilang mengerutkan keningnya. Tumben Ojit hari ini diam saja?


"Jit Lo kenapa?" Tanya Gilang yang mendapati ekspresi sedih di wajah Ojit.


Ojit menatap Gilang dengan berkaca kaca. "Lang,,, udah mati" Ujarnya.


"Hah? Siapa yang mati??"


Ojit membuka tasnya, lalu mengeluarkan kotak makanan dan membukanya. Seketika membuat perut Gilang langsung terasa lapar. "Wih, buat gue nih jit?"


"Enak aja."


"Ya elah, bagi bagilah sama temen. Masa di makan sendiri opor ayamnya"


"Lang..." Panggil Ojit sedih. "Ini bukan sembarang ayam, gue ga tega makan Paijo...!!"


"Maksutnya?"


"Paijo udah mati Laaang...!!" Ujar Ojit merengek sedih.


Gilang melotot. "Ini Paijo yang di jadiin opor?"


Ojit mengangguk lemah. "Kok bisa?"


"Kemarin Paijo di sembelih emak tanpa sepengetahuan gue. Gara gara ada saudara jauh yang mau datang jadi mau di masakin opor. Heh Maaak,, pengen marah tapi juga ga bisa" Jelas Ojit. "Coba aja kalau Paijo itu ayam kesayangannya Mak, terus gue sembelih diem diem pasti gue udah di coret dari KK. Kalau gue gini pengen marah marah, pasti udah di cap anak durhaka." Lanjut nya kesal.


"Ya emang gitu jit. Lo harus inget ini. Pasal satu emak ga pernah salah. Pasal dua, emak ga bisa di salahin. Pasal tiga kalau emak emang terbukti salah, kembali ke pasal satu dan dua. Inget itu!!" Ucap Gilang.


"Terus gue harus gimana menurut Lo? Kesepian banget gue tanpa Paijo" Curhat Ojit.


"Ya udah tinggal beli ayam jago lagi apa susahnya? Nanti tinggal di beri nama. Paije nah...kan bagus itu. Paije saudara almarhum Paijo. Cakep kan?? Atau Lo kasih nama paija, Paiji, atau Paiju. Tinggal pilih"


"Lo pikir beli ayam itu kayak beli cirengnnya mbak Windi? Kalau mau beliin lah buat gue"


"Enak aja. Gue duit aja lagi ngirit. Suruh beliin Iqbal noh!"


Seketika Ojit langsung mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan kelas. "Iqbalnya mana?"


"Ga tau, ke kantin mungkin"


Ojit menutup kotak bekalnya. "Opornya jangan Lo makan! Awas aja" Ujar Ojit lalu beranjak pergi ke arah kantin. Siapa tahu kan Iqbal berbaik hati untuk memberikan ayam pengganti Paijo.


Gilang menatap kotak makanan di meja Ojit. "Makan ga ya? Kalau gue makan juga ga tega. Tapi kalau ga di makan sayang, kapan lagi kan makan opor ayam? Tapi ga di bolehin sama ojit."


Gilang menatap kedua bahunya secara bergantian. "Tapi kan di bahu gue ada malaikatnya. Ah, ga deh. Dosa nanti nanges di neraka" Gumam Gilang lalu berjalan pergi meninggalkan kelas.


•••••


"Aisyah" Panggil Lina.


"Iya?"


"Ini, kasih ke kak Fariz" Lina memberikan sekotak salad buah kepada Aisyah. Entah dari mana dia mendapatkan nya. Mungkin beli. "Tapi bilang kalau dari lo, bukan dari gue"


"Kenapa gitu?"


"Udah pokoknya ini Lo kasih ke kak Fariz. Terus kalau udah di terima, Lo baru ngomong baik baik sama dia. Coba Lo minta kak Fariz buat jelasin kenapa dia bisa sampe semarah itu sama Lo" Jelas Lina. "Tapi Lo ngomongnya yang baik biar kak Fariz bisa buka suara. Paham?"


Aisyah terdiam lalu mengangguk. Dia menerima salad buah yang di berikan Lina. "Sekarang Lo cari kak Fariz. Semoga berhasil!!" Ujar Lina.


Aisyah tersenyum. "Iya makasih ya Lin. Aku pergi dulu." Ujarnya walaupun tak begitu yakin.

__ADS_1


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


•••••


"Hei bal..." Sapa Ojit dengan langsung duduk dan merangkul bahu Iqbal.


"Salam dulu kali jit"


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Iqbal, Fariz, Ilham dan Reyhan.


"Ada apa?"


"Beliin ayam dong" Pinta Ojit tanpa beban. Bukan tidak punya malu, dirinya hanya bercanda kok. Bener deh,,


"Berapa?" Tanya Iqbal.


"Emang Lo mau beliin gue ayam?"


Iqbal mengangguk.


"Bener?"


"Iya, mau beli berapa? Besok gue bawain uangnya" Jawab Iqbal enteng.


Ojit terdiam. "Ah ga usah dah, gue cuma bercanda kok. Ga usah serius gitu kali"


"Kalau Lo mau ya ga papa. Emang Lo udah ga sayang lagi sama ayam Lo siapa itu? Paijo"


"Udah mati dia. Di sembelih sama emak"


Iqbal melotot. "Yang Bener?"


"Ya masa bohong?!"


"Duh kasihan ya. Ya udah lo mau gue beliin ayam berapa?" Tanya iqbal tanpa beban.


"Lo ikhlas kasih gue ayam?"


"Kenapa? kalau ga mau ya udah"


"Ya mau lah. Maksutnya cuma mastiin aja ayam yang lo kasih karena ikhlas" Balas Ojit.


"Karena kasihan makannya jadi ikhlas!" Ujar iqbal.


"Ya udah beliin satu"


Iqbal mengangguk. "Oke"


"Assalamualaikum"


Kelima orang itu langsung menoleh. Kecuali Fariz. Dari suaranya dia sudah mengetahui siapa yang datang. "Waalaikum salam"


Seperti biasa Aisyah memberikan seulum senyum pada mereka. "Kak, ini ada salad buah..." Ujarnya lembut dengan menyodorkan salad yang ada di tangannya. Lelaki itu hanya terdiam tak merespon.


Iqbal melirik fariz. Lalu menatap aisyah. "Oh iya Syah, nanti juga saladnya bakal di makan Fariz. Taruh situ aja"


Aisyah mengangguk. Tangannya mulai menaruh saladnya di atas meja. "Hai Riz" Langkah tangannya terhenti.


Dia menoleh ke arah Ghea. Begitupun dengan gadis itu, dia menatap tajam aisyah. "Ini riz gue bawain salad sayur, yang pastinya lebih sehat dari salad buah"


"Heh kata siapa salad sayur lebih sehat dari salad buah. Rasanya juga enakan salad buah" Sahut iqbal nyolot.


Fariz menatap Ghea. Dia menggeser tubuhnya. "Ya udah, sini duduk di samping gue"


Seketika mata Ghea langsung berbinar senang. Tanpa pikir panjang dia langsung duduk di samping Fariz. "Ini riz, makan ya.." Ucapnya dengan membuka kotak salad sayur miliknya.


"Lo yang bikin?" Tanya Fariz.


Ghea mengangguk.


"Iya, makan deh"


Fariz langsung memakannya tanpa ragu. "Gimana? Enak ga?" Tanya Ghea.


"Hem, enak. Pinter ya ternyata Lo bikin salad ini"


"Iya dong..." Balas Ghea.


Aisyah menundukkan kepalanya. Kakinya mulai berjalan mundur beberapa langkah. Sepertinya dia tidak perlu memberikan salad buahnya kepada Fariz. "Aisyah pergi dulu, Assalamualaikum" Ujarnya memilih untuk pergi dari pada terus terusan dalam kondisi yang sama sekali tak ia inginkan seperti ini.


"Waalaikum salam"


Aisyah membalikkan badannya lalu berjalan cepat keluar kantin. Dia berhenti sesaat kala berpapasan dengan Devan. "Syah..." Panggilnya.


Aisyah hanya tersenyum lalu beranjak pergi. Devan terdiam dengan menatap Fariz dan Ghea dari kejauhan.


Iqbal menghembuskan nafas kasar. Dia berdiri. "Mau kemana bal?" Tanya Fariz.


"Minggat ke hongkong!!" Jawabnya lalu berjalan pergi.


Ilham berdiri. "Kalau lo?" Tanya Fariz.


"Pergi dari sini" Balas Ilham. Tepat setelah itu Reyhan juga berdiri.


"Lo?" Tanya Fariz lagi


"Sama"


Reyhan berjalan pergi.


"Lo juga mau pergi jit?" Tanya fariz.


"Ya,, mendingan gue pergi dari pada lihat Lo berdua pacaran. Bay,"


Fariz menatap ojit yang mulai melangkah menyusul ketiga temannya yang sudah berjalan pergi. Fariz melihat ke arah Ghea. "Lo udah makan?"


Ghea mengangguk. "Udah. Riz, ga usah di pikirin sikap temen temen Lo itu lah. Mereka emang kan ga suka sama gue"


•••••


Aisyah berjalan menuju toilet. Dia menyalakan keran lalu membasuh wajahnya dengan air hingga beberapa kali. Ia menatap wajahnya sendiri di kaca. Dengan berusaha untuk menenangkan diri.


Aisyah menutup kerannya. Dia kembali berjalan keluar dari toilet menuju kelas X MIPA 4 untuk menemui Lina.


•••••


Lina menatap salad buah yang di sodorkan Aisyah. "Kok di balikin? Belum ketemu ya sama kak Fariz?" Tanya Lina.


Aisyah menggeleng. "Nggak. Tadi udah ketemu kok sama kak fariz"


"Terus?"


Aisyah terdiam.


"Kak Fariz ga mau nerima ini?" Tanya Lina lagi.


"Lin" Aisyah menghela pelan. "Kayaknya aku harus udahan"


"Udahan apa?"


"Lin, aku rasa semua yang aku lakuin itu sia-sia. Kak Fariz tetep ga mau bilang apa masalahnya. Dan aku juga udah minta maaf kan sama kak fariz, udah ngomong baik baik sama dia. Aku juga udah usaha biar kak Fariz ga marah lagi sama aku. Tapi hasilnya tetap sama." Ujar aisyah. "Jadi lebih baik aku stop mulai sekarang."


"Jangan dong Syah, Lo jangan stop dulu" Ucap Lina. "Maksutnya gini, Lo harus selesaikan Masalah Lo dulu. Ga bisa Lo biarin kesalahan pahaman ini berkelanjutan. Pokoknya masalah Lo harus selesai. Kalau udah nanti Lo boleh terserah mau putusin apapun. Lo mau jaga jarak sama kak fariz, Lo mau Deket lagi sama kak fariz, Lo mau tetep jaga hubungan baik Lo sama kak Fariz atau Lo mau menjauh dari kak Fariz itu terserah. Tapi yang penting ini masalah nya harus selesai dulu"


"Gini deh nanti coba gue tanya ke Iqbal. Gue yakin banget iqbal tau semuanya. Okey?" Ujar Lina.


•••••


اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ


Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).


(Q.S Al Kautsar : 1-2)


#Selamat Hari Raya Idul Adha 1442 H🙏


...*******...

__ADS_1


__ADS_2