Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Flashback On#3


__ADS_3

"Bundaaaa...." Ke empatnya teralihkan oleh suara anak kecil. Aluna, gadis kecil itu berlari masuk dengan membawa sebuah senyuman yang lagi lagi membuat hati Iqbal kembali teriris.


Ya Allah, mungkinkah gadis kecil ini akan kembali tersenyum lagi saat mengetahui takdir yang baru saja terjadi?


Melihat Aluna yang datang Syifa langsung menghapus air matanya, meminta Aisyah untuk membantunya berdiri. Bagaimanapun dia juga tidak mau Aluna bertanya tanya, mengapa semua orang bersedih hari ini?


Dua pasang bola mata itu terarah pada sosok Dinda yang berjalan mendekat. Beberapa detik mata mereka saling bertatapan dengan menyiratkan duka yang mendalam. Tak lama, Dinda memeluk keduanya secara sekaligus. Mungkin hanya dekapan ini yang bisa membuat mereka saling menguatkan.


Sedangkan Aluna berhenti tepat di depan ayahnya. Kepala kecilnya mendongak. "Ayah..."


Kedua tangannya terangkat. "Ingin belsama bunda." Ujar Aluna yang membuat Iqbal mengangguk kecil.


Dengan tersenyum dia mengangkat tubuh putrinya, lalu mendudukkan di tepian brankar. Beberapa saat Aluna terdiam mengamati bundanya.


"Bunda..." Panggilnya lirih. Jari mungilnya perlahan terangkat menyentuh luka yang ada di kening dengan lembut. "Bunda tel-luka ya, sakit?"


Merasa tidak ada respon, Aluna menoleh ke arah Iqbal. "Ayah, Apakah bunda tidul?"


Awalnya Iqbal hanya tersenyum, namun perlahan kepalanya mengangguk.


Mendapatkan respon itu, Aluna kembali melihat Lina. "Bunda sakit ya? Habis teljatuh? Bunda...kalau ingin tidul, di lumah saja ya...di sini kasulnya kelas."


"Bund..." Panggilannya terhenti saat tangan itu menyentuh tangan Lina. "Apakah bunda kedinginan?"


"Ayah...Bunda sangat dingin, ambilkan selimut ayah. Kasihan kedinginan." Ujarnya dengan sorot memohon.


Karena tak mendapat jawaban dari Iqbal, Aluna pun kembali merengek. "Ayah...ambilkan selimut."


"Di sini ga ada selimut nak..." Balas Iqbal lembut.


Seketika Aluna pun kembali mengajak sang ibunda untuk berbicara. "Bunda di sini tidak ada selimut?! Lebih baik bunda tidul di lumah saja."


Diam...Seketika hening.


Ekspresi Aluna kini berubah saat sedari tadi berbicara namun bundanya belum juga terbangun. Lama sekali mata bulat itu mengamati sang ibunda, dalam hatinya begitu terasa janggal. Namun dia tidak tahu penyebab kejanggalan itu, yang pasti hatinya merasa bundanya tidak seperti biasanya.


"Apakah Aluna boleh memeluk bunda?" Pertanyaan yang terlontar pun mendapat anggukan dari sang ayah.

__ADS_1


Lantas, Aluna langsung merentangkan tangan. Tubuhnya mulai memeluk sang bunda, kepalanya ia sandarkan di atas dada Lina. "Bunda jangan pelgi...Aluna sayang bunda."


•••••


Suara ambulan berbunyi nyaring memecah keramaian bising di jalanan. Menyita perhatian penghuni jalan.


Setelah menempuh perjalanan Semarang-Surabaya, kini mobil putih itu memasuki halaman rumah besar milik Iqbal. Di sana, sudah ada orang tuanya dan sang mertua yang menunggu. Di susul lagi, dua mobil yang di isi oleh teman temannya juga mulai terparkir di halaman rumah.


Iqbal keluar dari mobil, lihatlah kini penampilannya benar benar kusut dengan mata memerah. Matanya tak lagi memperhatikan beberapa orang yang sudah berkumpul di teras depan melainkan fokus kepada sepasang suami istri yang berdiri lemas menyambut mereka.


Kakinya berjalan menghampiri, tak lama ia langsung bersimpuh di bawah kaki ibu mertua. Menangis sesenggukan di sana.


"Maafin Iqbal ma..." Suaranya bergetar hebat.


Melihat menantunya melakukan hal itu, ibu Lina memegang ke dua bahu Iqbal...menyuruhnya untuk berdiri, tak lama lalu memeluknya erat.


"Maafin Iqbal..." Lagi lagi ia bersuara. "Iqbal ga bisa lindungin Lina, Iqbal ga bisa jaga dia...maaf Iqbal ga bisa melaksanakan amanah mama. Maaf ma...hiks."


Dalam dekapan itu mama Lina menggeleng, ia langsung melepas pelukan. "Dengerin mama ya nak,, ga ada yang perlu di sesali. Kamu ga perlu minta maaf. Mama berterima kasih bangeet sama kamu, terima kasih udah jadi suami yang baik buat putri mama, terima kasih sudah memperlakukan Lina sebagai ratu dalam hidupmu, terima kasih kamu sudah menjadikan Lina sebagai bidadarimu."


Tangannya bergerak menghapus air mata sang menantu, lalu mengangkat dagunya. "Jangan tertunduk, cepat gih segera sholati istrimu...jangan lupa nanti selalu doakan dia."


•••••


Sore yang cerah di langit Surabaya, cerah yang melambangkan keceriaan. Namun tidak dengan barisan orang orang yang berjalan memanjang menuju pemakaman. Rasanya hanya ada duka dan sakit yang mendalam.


Langit mungkin cerah, namun kali ini hari bagai mendung. Nyatanya, tetesan demi tetesan air dari pelupuk mata yang menggambarkan akan ketulusan itu terus mengalir tiada henti. Entah berapa kali air mata itu di hapus, hati di paksa untuk tegar namun nyatanya diri mereka tetap tidak bisa bohong.


Di antara barisan itu, Syifa dengan lemas berjalan, tangannya mendekap foto sang sahabat. Dengan Dinda dan Aisyah yang menjadi kekuatan dan sandarannya saat ini. Suami suami mereka? Tentu membantu Iqbal untuk memikul keranda yang di selimuti sebuah kain hijau bertuliskan kalimat istirja' dan rangkain bunga yang di susun memanjang.


Bola mata Syifa sedikit terarah ke atas, memandang benda yang tengah di pikul beberapa orang itu dengan hati pilu.


Sepanjang proses pemakaman, seperti ada rasa tak rela bila sahabatnya harus di kubur di dalam sana. Seperti ada keinginan untuk menemani agar Lina tak sendirian di dalam sana.


"Lina...aku pengen meluk kamu..." Lirih Syifa, matanya kini benar benar bengkak. Namun tak peduli dengan itu, ia semakin mempererat dekapan foto sang sahabat.


Dan kini, hanya ada beberapa orang saja yang masih di pemakaman. Lainnya sudah pergi saat selesai berdoa. Ketiga perempuan dan ke empat laki laki itu berjongkok lalu menaburi bunga.

__ADS_1


Tangan Syifa dengan gemetar menyentuh tanah gundukan itu, hatinya sakit bukan main. Bahkan sampai saat ini, dia masih belum rela.


Selanjutnya tangannya bergerak mengelus sebuah papan bertuliskan nama sahabatnya. Tak tahan lagi, tubuh itu langsung memeluk papan dengan membawa kedukaannya.


Menumpahkan semua rasa di sana. Sedih, luka, pilu, tidak rela, tidak percaya dan rindu menjadi satu. Dinda langsung mengelus punggung Syifa dengan lembut. Hati Syifa masih bertanya tanya 'mengapa harus Lina? mengapa harus dia yang pergi? Mengapa secepat ini?' meski dia tahu jawabannya karena 'Takdir'.


Sedangkan dua orang laki laki paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah papa dan mertua kandung Iqbal kini ikut berjongkok. Tadinya mama Lina juga ingin ikut, namun keadaannya mendadak nge-drop jadi mau tak mau mama Iqbal harus mendampingi besannya di rumah.


"Pulang nak..." Ujar sang mertua. "Nduk..." Kini pandangan matanya menatap Syifa.


"Sudah ya,,, kita pulang. Om mohon jangan sedih terlalu berlebihan, nanti Lina juga ikut sedih. Pulang, kalian istirahat di rumah." Ucapnya lembut.


Syifa mengangguk lemah, lalu menghapus air mata dan melepas dekapannya dari papan. Tangannya di genggam oleh Aisyah, membuat keduanya saling bertatapan.


"Jangan sedih, masih ada aku sama Dinda." Kata Aisyah yang di beri anggukan dan senyuman perih dari Syifa.


Kini Iqbal mendekatkan kepalanya, mencium hangat papan nama yang tertancap di atas tanah. Mata sendunya menatap tulisan tulisan yang terpampang di sana. Tangannya mengelus lalu berkata "Baik baik di sana ya sayang, kami pergi dulu."


Cup


"Assalamualaikum."


Setelah berpamitan, barulah Iqbal berdiri yang di susul oleh lainnya. Dengan berat hati, ia melangkah meninggalkan tempat yang kini akan menjadi rumah baru untuk sang istri.


Dinda terdiam kala melihat Syifa yang hanya membisu. Berdiri dengan masih setia menatap gundukan tanah itu. "Fa..." Panggilnya. "Ayo pulang, istirahat. Kamu lagi hamil, jangan kecapekan."


Mendengar itu membuat Syifa melirik perutnya. Ia menarik nafas dalam, lalu mengangguk.


"Lin, gue pergi dulu hiks... Assalamualaikum."


Selamat jalan Lina, kamu baik dan akan selamanya menjadi yang terbaik bagi kami. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya di sana. Dan segala amal ibadahmu di terima di sisi-Nya.


Kini, tugasmu telah usai di sini. Terima kasih, atas kebersamaan kita. Terima kasih atas momen dan kenangan yang kamu berikan. Tunggu kami bertiga, semoga bisa kembali bersama di Jannah-Nya. Semoga Allah memberikan Ridho-Nya untukmu.


Dari Syifa, Aisyah dan Dinda untuk sahabat terbaik kami Almh. Lina.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2