
Tok tok tok...
"Syifa..."
Mendengar suara Dinda yang memanggilnya, Syifa dengan cepat beranjak turun dari kasur dan membuka pintu. "Dinda..." Sapanya ceria.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Ada apa din?"
"Mau ikut ke halaman belakang bareng temen temen?"
"Ke halaman belakang? Ngapain?"
"Mereka mau coba memanah sama berkuda. Mau ikut?"
Syifa membelalak berbinar. "Woaah!! Ya mau din!! Ayo ayo..gue ga sabar pengen manah. Jeder jeder...pasti panah gue tepat sasaran semua."
Dinda tertawa kecil. "Ya Allah Syifa, mood banget bumil yang satu ini." Ujar Dinda gemas.
Syifa menyeringai, dia menggandeng tangan sahabatnya. "Ayok." mereka berjalan bersama ke arah halaman belakang. Sedangkan Reyhan? Dia mendesis pelan. Sedikit cemburu bila Syifa lebih dekat dengan orang lain ketimbang dirinya. Tak banyak basa-basi, segera mungkin Reyhan menyusul keduanya untuk pergi ke halaman belakang.
"Ayo kita duel!!" Tantang Iqbal kepada istrinya.
"Oke, siapa takut?" Balas Lina.
"Oke, yang paling banyak tepat sasaran. Dia pemenangnya..."
"Halah ga usah di kasih tahu juga udah tahu." Potong Lina.
"Kalau gue yang menang, kamu sebagai istri nanti malam wajib ngerokin punggung mas. Capek banget ini." Jawab Iqbal membuat Lina mengangkat sebelah alisnya. "Kerokan doang? Oke, ga masalah. Tapi kalau aku yang menang, mas harus pijitin aku." Balas Lina.
Setelah keduanya deal, Lina dan Iqbal mulai bertarung. Mereka mengangkat busur dan anak panah masing masing. "Aluna, kamu harus dukung bunda nak." Ujar Lina dengan melirik putrinya yang tengah berdiri melihat tingkah kedua orang tuanya.
"Dukung ayah juga nak." Balas Iqbal tak mau kalah. Yang di suruh hanya mengangguk bingung. Dukung apa? Aluna juga tidak terlalu paham.
Tak lama Syifa, Dinda dan Reyhan datang. "Wih, asik nih panah-panahan." Seringai Syifa. Sedang Dinda menyiapkan papan sasaran dan memberikan busur plus anak panah kepada temannya itu.
Mengabaikan Lina dan Iqbal yang sedang berduel, Syifa mulai fokus pada dunianya sendiri. "Ya udah aku tinggal dulu ya." Ujar Dinda membuat Syifa mengangguk.
Dia mulai mengangkat busur panah sekaligus anak panahnya. Ya, walaupun sebenarnya baru pertama juga Syifa mencoba hal ini...namun dia rasa dia akan langsung bisa menembakkan panah tepat sasaran.
Sreet
Anak panah di lepaskan dari genggamannya. Namun bukan lagi mengenai papan sasaran, anak panah itu malah terbang terlalu tinggi dan jatuh jauh dari dimana dirinya berdiri. "Lhoh kok ga kena sih?"
Syifa mulai mencoba lagi, percobaan kedua gagal. Lantaran saat ini dia memberi energi yang terlalu lemah, sebelum sampai di papan sasaran, anak panah itu sudah terjatuh. Syifa berdecak kesal. "Gimana sih? Ini ga ada yang bener semua heran." Desisnya. "Mas...ini gimana? Ajarin Syifa dong."
Reyhan yang sedari tadi memang mengamati istrinya berjalan mendekat. "Segala sesuatu itu ada teorinya, kalau ga pake teori ya ga akan bisa." Ujar Reyhan datar dengan memposisikan tubuhnya di belakang Syifa.
Tangan kirinya memegang busur, dan tangan kanan memegang akan panah hingga kedua tangannya benar benar bersentuhan erat dengan tangan Syifa. Reyhan mulai mengangkat panahnya, bersamaan dengan dirinya yang sedikit maju hingga punggung Syifa benar benar menempel dengan dada bidang Reyhan.
Syifa memejamkan matanya dengan menahan nafas. Aduh, gini aja walaupun udah nikah tetep aja deg-degan. Batinnya.
"Matanya fokus, jangan merem kalau mau bisa." Suara tegas Reyhan membuat mata Syifa terbuka seketika.
"Iya mas."
"Fokus, tatap sasaran di tengah."
Syifa melakukan sesuai instruksi sang suami.
Anak panah mulai di tarik ke belakang, beberapa detik mata Reyhan benar benar fokus menatap tajam depan.
Sreet
Anak panah di lepaskan. Keduanya menunggu apa yang terjadi. ***,,, tepat sasaran.
"WOOAAH,,, Hebat mas!! Tepat sasaran...wah hebat banget." Ujar Syifa dengan bertepuk tangan riang. Ekor matanya tak sengaja melihat Dinda dan Aisyah yang sedang naik kuda masing masing dalam satu tempat yang memang di khususkan untuk berlatih kuda.
"Wah...mas main kuda yuk." Ajak Syifa. Tanpa meminta persetujuan boleh atau tidak dari suaminya, ia langsung menarik tangan Reyhan secara paksa.
"Dinda... Dinda gue juga mau." Teriak Syifa dengan melambaikan tangan ke atas. Berharap Dinda meresponnya.
"Fa, tunggu Dinda nya selesai dulu." Tegur Reyhan. Syifa menoleh dengan cengengesan.
Tak lama dilihatnya kuda Dinda yang berjalan mendekat. Wanita itu turun dari tunggangannya, berjalan membuka pintu kayu dan mendatangi Syifa. Memang di sini ada sebuah lapangan yang di beri batasan kayu setinggi kurang lebih se-pinggul lebih orang dewasa.
"Itu fa, naik aja." Ujar Dinda.
"Eh kamu udah selesai berkudanya?"
Dinda mengangguk.
"Yes, ayo mas kita naik kuda bareng." Syifa kembali menarik tangan Reyhan dan memaksanya masuk. Melihat apa yang akan mereka lakukan, tentu saja Fariz juga ingin.
"Aisyah!!" Panggilnya. "Aisyah."
Setelah beberapa kali usahanya memanggil sang istri, akhirnya Aisyah menghentikan laju kudanya. Tentu, dengan semangat 45 Fariz langsung masuk dan menghampiri Aisyah. Ikut menunggang kuda dengan posisi dirinya yang berada di belakang dan Aisyah di depan.
Dinda tersenyum melihat dua pasang suami istri yang sedang menikmati sesi berkuda itu. "Uuiih,,, enak tuh kayaknya berkuda berdua." Timpal lina yang tiba tiba datang.
Dinda menoleh dengan masih tersenyum manis di balik cadarnya. "Lin, rencana pulang kapan?"
Lina terdiam. "Hari Rabu. Ga cuma gue aja sih Din, Aisyah sama Syifa juga pulang hari Rabu."
__ADS_1
"Oh gitu...ga mau di sini lebih lama?" Tanya Dinda.
"Pengennya sih gitu. Masih kangen banget gue, tapi ya...gimana lagi, suami pada sibuk kerja. Jadi ga bisa lama lama di sini." Jawab Lina lesu. "Bisa kumpul lagi ketemu kalian aja gue udah bersyukur banget. Bisa lihat kalian baik baik aja, bisa lihat kalian bahagia dengan kehidupan kalian saat ini itu udah lebih dari cukup."
Lina menarik kedua sudut bibirnya. "Din, gue udah nganggap kalian lebih dari sahabat. Sikap kalian selama ini itu bener bener kayak kita itu seakan bersaudara. Dan lo udah gue anggap sebagai kakak." Ujar Lina lalu menatap Dinda.
Di sisi lain, Syifa sudah cerewet karena kesal. "Ah mas, ayolah! Masa kudanya cuma jalan pelan gini sih, mana asik? Itu kayak Aisyah sama kak Fariz dong. Kalau kudanya lari kan lebih enak, biar bisa dapet angin banyak." Cerocosnya.
"Kalau nanti kudanya lari terus perut kamu kenapa-napa gimana?" Balas Reyhan yang hanya di balas decakan kecil oleh sang istri.
Ada Syifa yang sedang cemberut kesal, ada juga Aisyah yang sedari tadi tertawa kecil. Bagaimana tidak? Fariz saja selalu melemparkan gombalan recehnya di tengah mereka dengan jarak yang begitu dekat. Tangan kanan Fariz memegang tali kuda, sedang tangan kirinya melingkar sempurna di pinggang Aisyah. Mereka begitu sangat menikmati momen momen ini.
Namun entah kenapa tiba tiba Aisyah memegang erat tangan suaminya. Awalnya Fariz rasa tidak ada masalah, dia berpikir Aisyah memegang ya karena ingin saja atau bahkan karena istrinya itu ketakutan naik kuda. "Mas!!"
Fariz mendekatkan wajahnya. "Ada apa?"
"Mas kepala Aisyah pusing hhss," Seketika Fariz langsung cemas. Dengan segera dirinya berusaha untuk memperlambat laju kuda.
"Tahan bentar Aisyah." Ujar Fariz. Beberapa saat, kuda itu berhenti. Dilihatnya wajah Aisyah yang sudah pucat. Tak mau membuang waktu, Fariz langsung turun dari kuda dan membantu istrinya untuk turun juga.
Niatnya ingin mengantar ke kamar, namun Aisyah malah sudah melenggang pergi. Hal itu sontak menjadi perhatian teman temannya. "Lhoh lhoh Aisyah!!" Gumam Lina. "AISYAH...!" Panggil Lina lagi yang saat ini malah ikut cemas melihat sahabatnya yang berlari dengan satu tangan membekap mulut dan satunya lagi memegang kepala.
Aisyah terus berlari tanpa mempedulikan panggilan atas namanya. Sedang Syifa hanya terdiam bingung. "Aisyah kenapa sih? Kok tiba tiba lari??"
"Mas mas! Berhenti, Syifa mau turun!" Titahnya kepada sang suami. Reyhan mengangguk dan menghentikan langkah kudanya.
"Turun, Syifa juga mau turun soalnya."
Lagi lagi Reyhan hanya menganut.
Dia menahan tangan Syifa saat istrinya hendak pergi. "Mau kemana?"
"Mau lihat Aisyah. Kayaknya sakit deh." Balas Syifa yang di angguki oleh Reyhan. Dengan penuh usaha, Syifa berjalan cepat.
"Haduh, kenapa jalan gue jadi lemot gini sih? Di ajak jalan cepet ga bisa." Dumel Syifa.
"Aisyah." Panggil Fariz saat sampai di rumah. "Sayang, kamu di mana?"
Huweek...
Suara dari arah belakang membuat Fariz langsung bergegas menuju sumber suara.
"Ya Allah..." Gumam Fariz dengan memijat leher istrinya.
Huweeek
Aisyah terdiam dengan meneguk ludahnya kuat kuat. Dia mengangkat tubuhnya yang mendadak lemas. "Istirahat di kamar ya..."
Aisyah hanya mengangguki omongan suaminya.
Merasa sedikit lega, Aisyah langsung menyalakan keran dan membasuh wajahnya dengan air hingga beberapa kali. Mematikan keran, dan kembali mengangkat tubuhnya. "Udah??" Tanya Fariz.
"Udah."
Dengan mengulum senyum, tangan kanan Fariz merangkul pundak istrinya sedangkan tangan kiri di gunakan untuk memegang tangan Aisyah...membantunya berjalan menuju kamar. "Assalamualaikum." Ujar Dinda dan Lina secara kompak.
"Waalaikumsalam."
"Aisyah sakit?" Tanya Dinda yang membuat perempuan itu menggeleng.
"Nggak kok Din, cuma masuk angin aja."
"Ya Allah Syah, jaga kesehatan ya." Sahut Lina dengan mengelus lengan Aisyah.
"Eh Lina, Dinda..." Keduanya kini mendongak ke arah Fariz. "Bisa gue minta tolong?"
"Iya kak. Minta tolong apa?"
Fariz merogoh saku celananya. Mengeluarkan selembar uang merah. "Tolong beliin obat pusing, minyak kayu putih sama sekalian obat penambah tenaga."
Kening Lina berkerut. "Obat penambah tenaga? Yang mana?"
"Udah nanti tanya aja ke mbak apotiknya. Bilang butuh obat biar tambah energi." Balas Fariz. Lina dan Dinda hanya mengangguk.
"Ya udah kita pergi dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam."
Keduanya melenggang pergi. Dan kini, Fariz membuka pintu. Membawa Aisyah masuk
ke dalam. Dengan pelan ia mendudukkan istrinya dan mengangkat kedua kaki Aisyah agar bisa selonjoran di atas kasur. Dirinya duduk di tepian ranjang. Tangan gagahnya mengelus lembut puncak kepala Aisyah yang tertutup khimar.
"Aisyah,, masih lemes tubuhnya??"
Aisyah mengangguk samar. "Masih mas." Jawabnya dengan memejamkan mata.
Fariz terdiam, menatap lekat setiap lekuk wajah wanita di sampingnya. "Gue ga suka lihat lo sakit Syah." Gumamnya mampu membuat Aisyah menoleh.
Istrinya tersenyum. "Sakit itu hal yang wajar mas, kalau ga pernah sakit sama sekali itu malah hal yang perlu di pertanyakan."
"Tapi gue ga suka syah." Sanggah Fariz. Senyum Aisyah semakin lebar.
"Nanti juga sembuh kalau udah istirahat sama minum obat."
Mendengar jawaban lembut dari istrinya membuat Fariz termenung. Entahlah, dia tidak suka saja istrinya kenapa napa. Bibirnya mendarat lama di kening Aisyah. "Apa perlu ke dokter sayang?"
__ADS_1
"Nggak usah mas. Nggak ada yang perlu di khawatirkan."
Di ambang pintu, Syifa hanya mampu ternganga dengan menutup kedua matanya. "Aduh salah alamat gue malah ke sini." Gumamnya melihat aksi Fariz yang amat perhatian dengan Aisyah. Bukan tidak sopan, namun pintu kamar memang terbuka lebar. Tadinya ingin mengetuk pintu, namun apa daya matanya lebih cepat menangkap adegan mesra di depannya.
"Syifa."
Syifa melepaskan tangan yang menutup kedua matanya. Dia menyengir lebar.
"Hehehe Aisyah..."
"Kok diem di situ, sini masuk."
Syifa tersenyum mendengar Aisyah yang mempersilahkan dirinya masuk. "Aisyah tadi kenapa? Sakit?"
"Masuk angin doang. Nggak usah khawatir."
"Oh gitu, eh mau gue buatin teh anget?" Tawar Syifa. "Tadi lo kenapa lari lari?"
"Nggak tahu, pengen mutah aja."
"Lhoo kok sampai mutah mutah segala. Emang sakit apa? ya udah kalau gitu gue buatin teh anget gimana? Lumayan sih buat badan jadi mendingan." Tawar Syifa.
"Boleh. Tapi kamu ga kerepotan kan?"
Dengan mantap ibu hamil itu menggeleng.
"Ya nggak dong Aisyah. Bentar, lo tunggu di sini. Gue buatin dulu." Ujar Syifa dengan langsung pergi begitu saja.
"Mas, Aisyah pengen makan mangga." Tutur Aisyah membuat Fariz menegapkan tubuhnya. Dia tersenyum. "Mangga muda?" Namun senyum itu pudar saat Aisyah menggeleng.
"Mangga yang udah matang, soalnya Aisyah udah lama nggak makan. Di jus seger kali ya mas?"
Fariz memang tidak tahu menahu tentang
ciri ciri ibu hamil, yang dia tahu hampir seluruh ibu hamil ngidam ingin makan mangga muda. "Ya udah nanti mas beliin."
"Assalamualaikum." Perhatian keduanya teralihkan oleh kedua perempuan yang datang.
"Waalaikumsalam."
"Kak Fariz, ini..." Lina menyodorkan plastik hitam kecil beserta kembalian uang.
"Makasih ya..."
"Iya sama sama."
Laki laki itu meraih tiga benda yang di pesannya. Namun raut wajah bingung itu hadir saat melihat kemasan balok dengan warna ungu yang mendominasi.
"Kok ada kuku Bima?" Tanya Fariz bingung.
Lina mengedikkan bahunya. "Nggak tahu. Mbak apotik yang bilang sendiri katanya kuku bima itu penambah energi, biar strong katanya."
"Tapi masa Aisyah lo suruh minum kuku bima?" Mendengar pertanyaan Fariz membuat Aisyah mengusap pelan lengan suaminya.
"Ya Allah mas, jangan gitu. Kan salah mas sendiri ga sebut obat yang namanya apa." Balas Aisyah lebih membela Lina.
Beberapa saat...
"Weh rame nih." Celetuk Syifa yang tiba tiba datang dengan secangkir teh hangat. "Aisyah ini di minum."
"Makasih ya fa..."
"Iya."
Perlahan Aisyah meminum teh hangat buatan sahabatnya. Baru saja satu seruputan,,,
"Astaghfirullah!!"
Semuanya tersentak kaget. "Ada apa Syah?" Tanya Lina.
"Aduh kenapa Syah? Ga enak ya tehnya?" Tanya Syifa.
Aisyah menggeleng. "Bukan, Ya Allah...Aisyah lupa kalau lagi puasa hari ini."
Syifa menghela lega. "Haduh, kirain ada apa. Ya udah ga papa Syah, ga usah di terusin puasanya. Lagian udah terlanjur batal kan?"
"Tapi..."
"Udah Aisyah ga papa, kalau soal puasa bisa di lakukan lagi nanti hari Kamis atau Senin depan. Yang penting kamu sembuh dulu, itu diminum obatnya." Imbuh Dinda.
"Iya. Makasih ya."
"Lhoh wau lo beli kuku bima Syah??" Tanya Syifa yang hanya di balas senyuman oleh yang di tanya. "Nanti kalau lo minum kuku bima, terus jadi berotot gimana?" Lanjutnya lagi dengan membayangkan tubuh sahabatnya yang lemah gemulai itu menjadi berotot.
"Aduh!" Ringis Syifa saat mendapat jitakan pelan di keningnya. "Ah Lin, lo mah kebiasaan jitak gue mulu." Ujarnya cemberut dengan mengusap keningnya
"Ngomongnya jangan ngelantur kenapa?" Balas Lina judes.
"Lo sama gue masih tuaan gue kenapa malah lo yang judes?" Tanya Syifa. Memang di antara mereka berempat yang paling muda adalah Lina, di susul Syifa, Aisyah lalu Dinda. Yang itu artinya Dinda menjadi yang tertua di antara mereka.
•••••
Jangan kita tunggu waktu yang tepat untuk berbuat sesuatu karena waktu itu takkan pernah tepat bagi mereka yang menunggu.
Nilai Sebuah Waktu
__ADS_1
...********...