
Waktu istirahat tiba, Lina lebih memilih menghabiskan waktunya untuk bermain bola basket sendirian. Ya,, dirinya memang sangat menyukai hal apapun yang berkaitan dengan bola. Hingga Iqbal yang kebetulan lewat langsung tertarik untuk menghampirinya.
"LIN...!! Panggil Iqbal.
Lina yang tadinya fokus melakukan teknik dribbling dalam bola basket langsung menghentikan kerja tangannya. Dia menoleh melihat Iqbal yang duduk di samping lapangan bola basket.
Lina langsung berjalan menghampiri. "Ngapain Lo bal?"
"Nggak,, tadi cuma lihat Lo lagi latihan. Terus pengen nyamperin aja" Jawab Iqbal. "Kok tumben latihan sendiri?"
Lina mengangguk. "Iya, pengen aja. Biar rasa kesel gue hilang"
Iqbal mengangkat sebelah alisnya. "Lo kesel sama siapa?"
Lina menghela pelan. "Ya sama orang. Gara gara kejadian kemarin"
Iqbal menatap Lina. "Kening Lo kenapa?"
Lina langsung memegang keningnya. "Di cakar Kucing Garong!!"
Mendengar jawaban Lina Iqbal langsung tertawa kencang hingga bahunya juga ikut terguncang. "ih bal, kok Lo malah ketawa? Apanya yang lucu coba??"
Iqbal berusaha mengendalikan tawanya. "Lo,,, gimana bisa kecakar sama kucing Garing ha?"
"Garing garing,,, garong!!" Ketus Lina nyolot membuat Iqbal kembali tertawa.
"Iya iya,, itu kenapa Lo bisa kecakar kucing garong ha? Hahaha,,, pasti kucingnya ga demen lihat muka Lo. Makannya di cakar..." Balas Iqbal meneruskan tawanya.
"Bukan kucing hewan yang gue maksud!! Tapi Ghea!!"
Seketika Iqbal langsung berhenti tertawa, raut wajahnya berubah menjadi serius mendengar nama Ghea di sebut. "Ghea?" Tanya Iqbal memastikan.
"Hm"
"Kok bisa? Gimana ceritanya?"
Lina menghela panjang. "Jadi itu ceritanya kemarin Ghea gue lihat sengaja buat Aisyah kesandung sampe mau jatuh. Bukannya ngaku dia malah nyalahin Aisyah. Gue jadi kesel dong." Iqbal terdiam mendengar serius penjelasan Lina. "Terus akhirnya gue ribut sama dia. Dan dia cakar wajah gue, kena kening. Ini masih ada bekasnya. Habis kukunya Ghea panjang banget. Krisis uang kali ya,, beli gunting kuku aja ga mampu" Lanjut Lina kesal.
"Sakit?" Tanya Iqbal.
"Perih dikit. Tapi nggak. Udah ga papa"
"Lo ga bales apa gitu kek?"
"Gue Jambak rambutnya dia. Sampe rontok. Sebenarnya pengen banget tu pukulin mukanya. Masa iya sih dia bilang Aisyah munafik. Kesel ga sih??!"
"Si Ghea bilang gitu?"
Lina mengangguk.
"Udah ga bener tuh cewek!!" Gumam Iqbal.
"Bal,,," Panggil Lina.
"Hm"
"Kak Fariz berubah,"
Iqbal terdiam. "Kenapa Lo ngomong gitu?"
"Kemarin dia ngebelain si Ghea. Dia juga bilang kalau aisyah emang munafik di depan orang banyak"
Iqbal langsung melotot kaget. "Fariz?? Dia bilang gitu?"
"Iya. Pas di tanya Bu Desi siapa yang mulai duluan, kak Fariz juga jawab kalau gue, Aisyah dan Dinda yang mulai ribut dulu. Makannya kemarin kita di hukum" Jawab Lina dengan kekesalan yang masih tersisa. "Bal,, Lo tau ga sih kenapa kak Fariz berubah?"
Iqbal menggelengkan kepalanya. "Gue juga ga tau. Fariz ga cerita apa apa sama gue. Tapi kayaknya dia salah paham sama Aisyah. Makannya dia jadi kayak benci gitu..."
"Sumpah bal,, gue ga lihat kak Fariz yang dulu. Dia berubah banget!!"
Iqbal hanya terdiam. Dia juga merasakan hal yang sama. Semenjak masuk semester dua ini, sikap Fariz memang sudah berubah. "Bal,,,"
"Hm?"
"Gue bisa minta tolong ga sama Lo? Bilangin sama kak Fariz, kalau ga bisa jaga omongan lebih baik diem. Seenggaknya ga ada orang yang bakal di buat sakit hati..."
Iqbal menghela panjang dan menganggukkan kepalanya. "Iya. Nanti coba gue ngomong sama Fariz"
"Assalamualaikum" Suara itu terdengar begitu ragu saat mengucapkannya.
Keduanya menoleh. Sasa tengah berdiri di samping mereka. "Waalaikum salam" Jawab Lina. "Sa...?"
"Kalian lagi ngobrol penting ya? Maaf kalau ganggu" Ujar Sasa tidak enak.
"Oh nggak kok, nggak ganggu. Ada apa sa?" Tanya Lina.
"Emmm...." Sasa melihat Iqbal. "Kak,, ini..." Ujarnya dengan menyodorkan bekal makanan.
"Waaahh,, buat gue sa?" Tanya Iqbal senang.
Sasa mengangguk.
"Iya kak..."
"Tunggu tunggu,,, Lo kenapa tiba tiba kasih gue makanan kayak gini?"
"Itu sebagai terima kasih saya kak. Makasih ya buat kemarin, udah mau bayar biaya camping saya." Jawab sasa. "Ya udah, Saya permisi dulu. Lin,,,, kak... Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab keduanya.
Lina langsung menatap Iqbal yang membuka kotak makanan lalu melahapnya. "Hmm,,, enwak Lin..." Ujarnya dengan roti yang masih di kunyah dalam mulutnya.
Lina langsung tersenyum kikuk. "Mau??" Iqbal mengulurkan roti di tangannya.
Lina menggeleng.
"Bal..."
"Apa?"
"Lo, bayar campingnya Sasa?" Tanya Lina.
Iqbal mengangguk.
Lina meneguk ludahnya. "Sepeduli itu ya sama Sasa?"
"Lo ngomong apaan sih? Ya pasti peduli lah. Masa ada orang susah ga di bantu" Balas Iqbal. "Lo kan tahu keadaan Sasa gimana? Dia itu ga mampu buat bayar biaya camping. Kasihan kan kalau ga ikut. Makannya gue bantu bayar. Gue udah niat sedekah sama dia"
"Awalnya sih dia mau ganti semuanya kalau udah punya uang,, tapi gue nolak" Lanjut Iqbal.
"Emm..." Gumam Lina dengan manggut-manggut.
__ADS_1
"Lo udah bayar camping?" Tanya Iqbal.
"Belom"
"Kenapa ga cepet cepet aja di bayar?"
"Nanti juga gue bayar. Barengan sama Syifa" Jawab Lina.
•••••
Kelas XII MIPA 2. Jam ini terasa seperti pasar. Karena jam pelajaran kosong, jadilah para penghuni di dalamnya bersuka ria. Menyanyi, joget tidak jelas, ghibah kesana kemari, bercerita ketawa ketiwi. Ada juga yang hanya terdiam belajar seperti Reyhan contohnya. Walaupun jam pelajaran kosong, tapi dia tetap belajar sesuai pelajaran pada jam itu. Iqbal, dia juga sama. Hanya terdiam dengan terus menatap Fariz yang sedang tertawa karena ulah Ojit dan Gilang.
Iqbal berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Fariz. "Hai Riz..." Sapanya terlebih dahulu.
Fariz menoleh dan membalas dengan senyuman.
"Riz..." Panggil Iqbal serius.
Fariz mengangkat kedua alisnya.
"Lo itu sebenarnya masih suka sama Aisyah, atau malah sekarang jadi benci?"
Raut wajah Fariz langsung berubah. "Kenapa Lo tanya kayak gitu?"
"Soalnya sikap Lo emang berubah. Lo sekarang jadi ga peduli sama Aisyah."
"Itu urusan gue, bukan urusan Lo"
Iqbal menghela pelan dengan mengangguk beberapa kali. "Iya ya,,, itu emang bukan urusan gue. Lo tahu Devan kan?" Tanya Iqbal.
Fariz mengangguk. "Dia juga sekarang lagi Deket sama Aisyah. Mungkin dia suka. Dan,, dia bisa kapan aja rebut Aisyah dari Lo!!"
Fariz terdiam. Meski dalam hatinya terdapat sedikit ketakutan saat mendengar pernyataan dari Iqbal, namun dirinya bersikap untuk baik baik saja. Seolah tidak ada yang perlu di khawatirkan. "Gue udah ga suka sama Aisyah. Jadi,, dia bukan urusan gue lagi" Balas Fariz.
Iqbal langsung mencondongkan kepalanya. Menatap tepat di mata Fariz. "Mulut Lo emang bisa bohong. Tapi hati Lo nggak. Gue tahu, Lo masih suka sama Aisyah. Bahkan, dari dulu rasa suka Lo sama Aisyah ga pernah berkurang"
"Sok tahu Lo bal!!" Ketus Fariz.
•••••
"Cap cip cup kembang kuncup pilih mana yang mau di cup..." Gumam Syifa dengan menunjuk satu persatu jawaban yang ada di lembaran kertas. "Jawabannya D..." Ia lalu memberi tanda silang pada huruf 'D' dalam pilihannya.
Setelah selesai dia menghitung kancing baju. "A,, B,, C,, D,, A,, B..." Dia kembali memberi tanda silang pada pilihan huruf B di kertasnya.
"Kenapa jawabnya gitu fa? Ga di hitung dulu?" Tanya Dinda.
Perhatian Syifa teralihkan. Dia menatap Dinda dan menggeleng. "Susah banget din. Masa iya kak Reyhan kasih gue soal kelas sebelas. Gue kan ga bisa..." Jelasnya. "Aisyah. Lo juga di kasih soal kelas sebelas ya?"
"Syah..." Panggilnya lagi saat Aisyah hanya terdiam merenung. "Aisyah!!"
Aisyah menoleh. "Iya?"
"Lo juga di kasih soal kelas sebelas ya?" Tanya Syifa mengulangi pertanyaannya.
"Soal apa?"
"Soal yang Lo minta ke kak Reyhan"
Aisyah mengangguk. "Iya"
"Ooo..."
"Syah,," Panggil Lina.
"Lo kalau di poles dikit. Cantik kayaknya" Ujar Lina dengan mengamati detail wajah Aisyah.
"Bukan,, bukan cantik," Timpal syifa. "Aisyah itu lebih ke manis. Kalau dinda cantik. Kalau gue imut" Lanjut Syifa dengan menaruh jari telunjuk ke pipi kanannya.
"Terus gue apa?" Tanya Lina.
"Lo....Galak" Jawab Syifa membuat Lina langsung terlihat kesal. "Nggak, bercanda kali lin. Lo juga cantik kok" Lanjut Lina.
"Terserah deh" Lina menghela pelan. Dia kembali terdiam memperhatikan Aisyah.
••••••
09.47
Reyhan yang tengah asik membaca novel pagi itu di kejutkan oleh kedatangan Syifa yang secara mendadak ada di depannya. Gadis itu tampak menyengir tanpa dosa menatapnya. "Assalamualaikum kak..."
"Waalaikum salam"
"Kak ini..." Syifa menunjukkan kertas yang di berikannya kemarin. "Udah selesai"
"Udah?" Tanya Reyhan memastikan.
"Iya udah. Sekarang koreksi ya..."
Reyhan menggeleng.
"Lhoh kenapa?"
"Salah semua"
Syifa langsung melotot kaget. "Kok kakak tahu kalau salah semua? Kan belum di koreksi. Di baca aja belum, di lihat aja belum, di sentuh juga belum..."
"Karena Lo ngawur ngerjainnya" Jawab Reyhan datar.
Syifa kembali mengernyit bingung. "Kok kakak tahu kalau Syifa ngawur ngerjainnya??"
Reyhan hanya terdiam. "Oh atau jangan jangan kakak cenayang ya...Ngaku deh kak. Udah curiga sih Syifa kalau kakak itu emang cenayang" Ujar Syifa dengan memicingkan matanya menatap Reyhan.
"Tapi ga papa. Yang penting kakak itu tetep ganteng. Iya kan?" Lanjut nya menatap kagum Reyhan. Wajahnya memang tidak pernah membosakan untuk di pandang. Candu.
"Astaghfirullah, zina" Ucap Syifa keget dengan memejamkan matanya dan menunduk. Tiba tiba saja perkataan Dinda terlintas di pikiran nya. Zina mata.
"Huufft,, andai ya jodoh bisa milih..." Gumam Syifa dengan masih tertunduk. "Pasti Syifa udah milih kakak dari dulu" Reyhan yang mendengarnya langsung tersenyum lebar.
"Ya Ampuun,, gile senyumnya. Ganteng banget!!" Pekik Salah seorang gadis yang melihat. Ini adalah pertama kali dia melihat Reyhan tersenyum. Seperti yang kalian tahu, Reyhan memang cuek, dingin dan susah di tebak. Bahkan bila di tanya, dia hanya memilih jawaban yang singkat. Jelas, dia jarang sekali tertawa. Eh, lupakan dulu untuk tertawa. Tersenyum saja juga sangat jarang.
Reyhan dingin begitu saja banyak yang tertarik. Apalagi kalau Tersenyum. Reyhan yang mendengarnya langsung menarik senyumannya. Memasang muka datar seperti biasa. "HADUH REYHAN... Sering seringin deh senyum kayak gitu!!" Lanjut nya lagi membuat seisi kelas langsung memandangi reyhan. Sedangkan Reyhan sama sekali tak memperdulikan nya.
Syifa langsung mengangkat kepalanya, lalu kembali menunduk. "Kak..."
"Hm"
"Nanti kakak ajarin Syifa ya buat belajar ini. Sebentaaar doang ya..."
"Iya"
"Bener ya??"
__ADS_1
"Hm"
"Oke kalau gitu. Nanti Syifa tunggu di perpustakaan setelah pulang sekolah" Ujar Syifa dengan berdiri dan tersenyum melihat Reyhan sekilas.
"Jangan lupa. Janji lho, nanti ke perpus"
Reyhan kembali mengangguk.
"Ya udah, Syifa pergi dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
••••••
16.15
Lina berjalan cepat menuju toilet. Namun ia menghentikan langkah saat sampai di depan perpustakaan. Lina mengerutkan kening saat melihat pintu perpustakaan masih terbuka. Biasanya jam seperti ini sudah di tutup. Ya kecuali kalau ada guru di dalamnya. Karena anak jaman sekarang memang berkurang ketertarikannya untuk membaca buku. Jadi biasanya perpustakaan tutup lebih awal.
Lina sedikit melangkah ke arah pintu. Membuka pintunya agar lebih lebar. Ia mencondongkan kepalanya kedalam, memicingkan mata saat melihat seorang perempuan yang sedang tidur dengan kepala di sandarkan di atas meja.
"Siapa yang tidur sore sore begini? Mana di perpustakaan lagi..."
Lina langsung melangkah masuk ke dalam. Duduk di depan perempuan tersebut. Lina memiringkan kepalanya, ingin mengetahui siapa yang tidur di hadapannya. "Syifa!!"
"Woy bangun!!" Ujar Lina dengan menepuk-nepuk lengan Syifa.
"Eemmm,," Syifa langsung mengangkat kepalanya. Mengucek matanya agar lebih jelas. Dia menatap Lina yang duduk di depannya. "Lin..."
"Kok Lo ada di sini?" Tanya nya.
"Gue sore ini ada ekskul, makannya di sekolah. Lo ngapain tidur di sini?"
"Ketiduran ya gue? Astaghfirullah..." Syifa menoleh ke kanan dan ke kiri. "Lihat kak Reyhan ga? Tadi kak Reyhan ke sini ga?"
"Kenapa jadi kak Reyhan yang di bahas?"
"Soalnya gue lagi nungguin kak Reyhan. Katanya tadi mau ke sini waktu pulang sekolah. Gue tungguin sampe ketiduran ga Dateng Dateng" Jelas Syifa dengan nada kecewa. "Apa lupa ya?"
"Dari kapan Lo nungguin?" Tanya Lina.
"Habis pulang sekolah, langsung ke sini."
"Ga pulang ke pesantren dulu?"
Syifa menggeleng.
"Pulangnya jam 2, dan sekarang..." Lina mendongakkan kepalanya. Menatap jam yang terpasang di dinding perpustakaan. "Ya Allah,, Lo udah dua jam di sini fa??"
"Mungkin" Jawab Syifa lesu.
"Lhah ngapain Lo nungguin kak Reyhan. Orang dari tadi kak Reyhan lagi nungguin temannya."
"Siapa?"
"Ga tau namanya. Tapi dia Cewek" Jawab Lina membuat mata Syifa seketika membulat kaget.
"Cewek?"
Lina mengangguk.
"Sekarang di mana?"
"Di UKS"
Dengan cepat Syifa langsung berdiri menggendong tasnya dan berlari keluar. "Lhoh fa...!!" Lina berdecih. "Dasar"
Dengan cepat Syifa berlari menuju UKS. Dia menghentikan langkahnya saat tiba di depan pintu. Benar saja, Reyhan ada di sana. Sedang duduk di kursi yang berada di samping ranjang UKS. Sedangkan di ranjang itu, ada Naira yang sedang terbaring. Entah sedang sakit apa. Reyhan mengambil secangkir teh. Dia membantu Naira untuk duduk. Setelah itu menyodorkan gelas itu dengan pelan hingga Naira meminumnya.
Syifa mengepalkan tangannya. Dia menghembuskan nafas kasar dan segera beranjak pergi dari sana. Berjalan keluar pintu gerbang dengan menghapus satu tetes air matanya yang sempat keluar. Entahlah, kecewa sekali rasanya. Hari ini dirinya sudah rela menunggu hingga ketiduran, sedangkan yang di tunggu malah menunggu gadis lain.
•••••
Setelah melakukan sholat isya' dan tadarus Al Qur'an. Para santri biasanya akan langsung berkumpul di tempat makan.
Lina melirik Syifa yang makan dengan lahap, hingga pipinya menggembung karena mulutnya yang terisi penuh. Lina menyenggol lengan Syifa. Namun Syifa hanya melirik sekilas dan melanjutkan mengunyah makanannya. Setelah makanan di mulutnya habis. Maka dia baru membuka mulutnya. "Apa?"
"Makan itu yang bener..." Ujar Lina.
"Gue laper Lin. Tadi siang ga kebagian makan. Kalau mag gue kambuh gimana??"
"Lin" Panggil Syifa.
"Hm"
"Badan gue kok ga enak ya rasanya..."
Lina langsung memegang kening Syifa. "Nggak kok. Lo ga panas"
"Gue kan emang ga bilang kalau panas. Cuma bilang ga enak badan doang" Balas Syifa lesu.
•••••
Iqbal langsung melotot kaget saat Fariz menceritakan semuanya. Tentang apa yang membuat sikapnya berubah terhadap Aisyah akhir akhir ini. Mereka berdua, kini sedang ada di belakang pesantren. Tempat yang paling sepi. Awalnya, Fariz menolak. Namun Iqbal terus memaksanya agar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aisyah ngelakuin itu?" Tanya Iqbal yang tidak bisa menyembunyikan ketidakpercayaan nya.
Fariz mengangguk.
Iqbal menggeleng. "Dan Lo dengan secepat itu percaya Riz sama mereka?"
"Bal, gue ga akan percaya kalau ga ada bukti. Tapi mereka, udah kasih lihat bukti ke gue. Bukti yang ga bisa gue elak kebenaran nya" Jawab Fariz penuh penekanan.
"Gue masih ga bisa percaya Riz" Gumam iqbal dengan menunduk.
"Gue bener bener ga bisa maafin Aisyah bal. Dia bener bener keterlaluan tau ga? Dengan gitu dia bisa buat seorang anak kecil jadi trauma!!" Lanjut Fariz dengan masih menyimpan kekesalan.
Iqbal manggut-manggut. "Iya gue tahu. Kalau itu emang bener Aisyah yang ngelakuin, berarti dia emang udah ngelakuin kesalahan besar. Tapi Riz,, kalau seumpama bukan Aisyah pelakunya, Lo bakal buat kesalahan yang lebih besar dari itu."
Fariz menatap Iqbal. "Lebih baik, Lo minta penjelasan sama Aisyah. Gue yakin Aisyah orang baik. Dan gue yakin. Ga ada di benak pikirannya buat nyakitin orang, apalagi anak kecil. Jadi,, Lo pikirin baik baik. Jangan sampe nyesel Riz," Ujar Iqbal memberi pengertian.
••••••
قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ ۚ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir."
(Q.S Ali Imran : 32)
فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. (Q. S Al Jumuah : 10)
__ADS_1
...*******...