
Jam dua pagi dini hari, Aisyah sudah terbangun dari tidurnya. Sholat tahajud, lalu di lanjut sholat witir, deres hafalannya lalu ia lanjut belajar. Kegiatan ini sudah dia lakukan semenjak kuliah. Ya, belajar di saat malam sepi menghampiri, itu sangat bagus menurutnya. Di tambah lagi dengan mendengarkan lagu sholawat lewat earphon miliknya. Meskipun kini dirinya sudah lulus, namun belajar tetap menjadi kegiatan istimewa baginya. Entahlah, dia bisa belajar apapun yang dia mau. Asal, itu semua akan menambah wawasannya.
Tepat sebelum lima belas menit adzan subuh, Aisyah mandi. Ini juga sudah menjadi kebiasaannya untuk mandi sebelum subuh. Dan kini, dia benar benar bisa merasakan perubahan nya. Ini semua berawal pada saat dulu dia masih kuliah S1 di UI. Semua rasa lelah, itu sudah pasti ada. Saat semua tugasnya selesai, Aisyah berinisiatif untuk mandi. Dan di saat itulah, entak kemana rasa nyeri dan lelah dalam tubuhnya seketika menghilang. Pikirannya yang awalnya pusing karena jadwal yang semakin padat, menjadi lebih fresh pastinya. Dan saat dirinya belajar, apa yang dia kerjakan lebih mudah. Karena dirinya juga mendengar bahwa mandi sebelum subuh itu memiliki keutamaan yang luar biasa. Maka dari itu, dia berusaha menjadikan itu sebagai sebuah kebiasaan.
Sehabis mandi Aisyah langsung berjalan ke kamar. Melihat jam di ponselnya. Lima menit lagi adzan. Maka dari itu, dirinya langsung bergegas mengenakan mukena dan menggelar sajadah menghadap kiblat. Duduk bersila di atas sajadah itu dengan mulai mengulur butiran tasbih di tangannya. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laailaha ilallah, terucap di bibirnya secara bergantian. Sebenarnya, Aisyah bisa saja menggunakan waktu lima menit untuk kembali belajar, atau sekedar bermain ponsel untuk menunggu. Namun dia memilih untuk menunggu sembari berdzikir, agar tidak raganya saja, namun juga hatinya yang dekat dengan Sang Pencipta.
Hal itu ia lakukan karena teringat saat dirinya membaca sebuah kisah. Dimana seorang nenek selalu menunggu di atas sajadahnya dengan sudah menggunakan mukena sebelum adzan berkumandang. Dan itu di lakukannya setiap hari. Maka seseorang pun bertanya alasan mengapa dirinya selalu menunggu. Maka sang nenek pun menjawab bahwa dirinya selalu memenuhi panggilan Allah, sebelum Allah memanggilnya untuk beribadah. Sebuah kisah, yang membuat Aisyah terkagum atas semangat ibadahnya yang luar biasa, meski usia sudah tidak lagi muda. Terlebih, Allah juga sudah baik pada dirinya, maka dari itu dirinya tidak mau mengecewakan Allah. Lagi pula, sholat tepat waktu ataupun di awal waktu adalah hal yang sangat di sukai Allah. Lebih baik sholat di awal waktu, dari pada menunda nunda. Ya, karena memang sholat harus di utamakan atas segala hal penting apapun tentang urusan dunia. Seperti dalam Surah Al Maun yang mana artinya, celakalah bagi orang yang sholat. Yaitu orang yang lalai dalam sholatnya.
Allahu Akbar....Allahu Akbar...
Suara itu terdengar lantang dengan nada tinggi.
"Allahuakbar, Allahuakbar..." Gumam Aisyah menyahuti.
Allahu Akbar....Allahu Akbar...
Kini nadanya semakin panjang.
"Allahuakbar Allahuakbar..."
Asyhadu Allaa ilaaha ilallah....
"Asyhadu Allaa ilaaha ilallah"
Asyhadu Allaa ilaaha ilallah....
Aisyah kembali bergumam menjawab adzan hingga selesai. Menjawab adzan, memang Sunnah hukum nya. Namun tidakkah kita berhenti sejenak dalam melakukan kegiatan, sekedar untuk mendengarkan adzan lalu menjawabnya. Setelah adzan selesai, Aisyah langsung membaca doa setelah adzan. Yang artinya...
"Ya Allah Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna dan shalat yang tetap didirikan, kurniailah Nabi Muhammad wasilah (tempat yang luhur) dan kelebihan serta kemuliaan dan derajat yang tinggi dan tempatkanlah dia pada kependudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan, sesungguhnya Engkau tiada menyalahi janji, Wahai Dzat yang paling Penyayang."
Tok tok tok...
Suara pintu terketok membuat Aisyah menoleh dan langsung berdiri. Berjalan membukakan pintu. "Lhoh,, udah bangun ternyata??" Tanya bibinya.
"Iya Bu lek"
"Tadi Bu lek mau bangunin kamu buat sholat subuh, eh kamu bangun duluan." Ujarnya. "Kamu sholat sendirian ga papa to? Tadi pak lek mu ke masjid, Bu lek habis lahiran kan belum bisa sholat."
Aisyah mengangguk paham. Orang lahiran memang akan keluar nifas, minimal 40 hari lamanya. "Iya Bu lek."
"Ya sudah, Bu lek balik lagi ke kamar Yo..." Ucapnya dengan tersenyum lalu berjalan pergi. Aisyah mengangguk lalu kembali menutup pintunya.
Dia kembali berjalan dan berdiri di atas sajadahnya. Niat untuk melaksanakan sholat qobliyah subuh. Tangannya mulai terangkat, bibirnya membaca takbir pelan. Seperti yang kita ketahui memang, sholat sebelum shubuh memang lebih baik dari dunia dan seisinya. Bahkan Syekh Ali Jaber berkata bahwa semalas malasnya kita dalam melaksanakan ibadah Sunnah, setidaknya laksanakan lah sholat sebelum shubuh. Selain sholat sebelum shubuh, Aisyah juga membiasakan untuk sholat witir untuk menutup sholat tahajudnya. Entah satu, atau tiga rakaat. Itu karena sholat witir lebih baik dari sholat sebelum shubuh.
"Assalamualaikum warahmatullah...." Aisyah menolehkan kepalanya ke kanan. "Inni asaluka Fauza bil Jannah. Assalamualaikum warahmatullah...." Kepalanya kembali menoleh ke kiri. "Inni asaluka najata minannaar wal 'afwa 'indal hisaab..."
Setelah kedua salam selesai, Aisyah kembali berdiri. Bibirnya melafadzkan niat sholat subuh. Gerakan yang sama seperti sebelumnya kembali ia lakukan. Setelah semuanya selesai, Aisyah langsung melipat mukenanya. Ia mendudukkan tubuhnya di kasur. Terdiam merenung. Memikirkan seseorang yang sungguh sangat sering mengganggu pikirannya akhir akhir ini.
•••••
"Bu lek..." Sapa Aisyah dengan menghampiri bibinya yang sedang menggendong sang anak.
"Eh nduk..."
"Bu lek, Aisyah boleh ga gendong bayinya?"
Bibinya mengangguk. Dengan pelan dan hati hati, ia menyerahkan anaknya ke gendongan Aisyah. Membuat gadis itu tersenyum lebar dengan menimang pelan bayi dalam gendongannya.
"Aduh nduk, kamu udah pantes lho gendong bayi. Kapan nikah?"
Aisyah melihat bibinya sekilas. "Eemm, kalau udah ketemu sama jodohnya Bu lek..."
"Ooh iya,, semoga aja cepet ketemu ya. Orang tua mu,,,, Bu lek yakin pasti juga pengen cepet cepet punya cucu."
"Amiin..."
"Nduk, besok Bu lek mau mengadakan syukuran di sini. Kamu bisa ikut bantu bantu kan?"
__ADS_1
Aisyah mengangguk pasti. "Iya Bu lek. Pasti Aisyah bantuin."
"Alhamdulillah kalau gitu. Oh iya satu lagi nduk, Bu lek mau bilang hari Senin ada kajian yang di isi sama Ustadzah Hilmi. Siapa tahu kamu mau datang ke sana? Soalnya bu lek sering datang ke sana setiap ada kajian, tapi kayaknya Bu lek ga bisa datang. Ga bisa ninggalin fatim... Gimana kamu mau??"
"In Syaa Allah, nanti Aisyah datang kalau ga ada halangan."
"Eh tapi kajiannya di masjid An Nur. Lumayan jauh dari sini."
"Itu bukan masalah Bu lek. Yang penting, Aisyah bisa datang ke majelis ilmu. Oh ya, mulainya jam berapa?"
"Jam 8. Kalau kamu mau berangkat, dari sini jam setengah delapan. Kalau mau dapat tempat di depan, harus lebih awal lagi. Soalnya, Alhamdulillah ya nduk, sekarang yang datang lumayan banyak. Nambah terus orangnya." Jawab bibinya.
Aisyah manggut manggut paham.
"Nduk, hape mu bunyi to??"
Aisyah terdiam.
"Oh, iya kayaknya Bu lek." Aisyah memberikan bayi dalam gendongannya kembali kepada bibinya. "Aisyah ke kamar dulu ya Bu lek."
"Iya."
Aisyah langsung berjalan cepat masuk ke dalam kamar. Mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Lalu mengangkat teleponnya.
"Halo Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam. Syah, udah sampe di rumah pak lek mu?"
"Iya umi."
"Coba alihkan ke video call"
Tanpa ragu, Aisyah langsung melakukan seperti apa yang di katakan oleh ibunya. Maka dalam layar ponselnya, langsung terlihat wajah ibunya. Wajah lelah seorang wanita hebat yang telah merawat nya, namun tetap terpancar senyuman bahagia di dalamnya. "Umiii..."
"Ya Allah Syah...kamu lagi di mana?"
"Ngapain? Di sana jangan cuma diem aja ya nduk, bantu Bu lek mu."
"Iya. Umi, Abi mana?"
"Di sawah."
Aisyah terdiam. Lihatlah ayahnya yang setiap hari bekerja panas panasan tanpa mengeluh oleh rasa lelah yang di alaminya. Lihatlah dia, yang selalu bercucur keringat, demi dirinya juga adiknya. Maka bagaimana bisa, ia membuat mereka kecewa? Lelah mereka memang harus terbayarkan oleh kesuksesan anaknya.
"Abi baru berangkat ya umi?"
"Dari pagi tadi. Ini kan Alhamdulillah mau panen. Nanti hasil panennya di tabung, buat kuliah Okta. Sekarang kan adikmu sudah kelas dua belas to nduk, pasti bakal lulus." Jawabnya dengan tersenyum bahagia. "Semoga ya nduk, Okta bisa dapat beasiswa kayak kamu. Sekarang, kalian sudah besar besar Yo..."
Aisyah terdiam menatap wajah ibunya yang semakin terlihat jelas kerutan di wajah nya. "Amiin. Umi lagi ngapain?"
"Oh ini, masak. Nanti biar Okta sama abimu kalau pulang biar bisa langsung makan. Pasti mereka laper Yo kan?"
Aisyah mengangguk. "Umi jangan capek capek ya. Umi lebih baik banyak istirahat. Pekerjaan, biar Okta aja yang lakuin. Aisyah ga mau umi capek. In Syaa Allah, Aisyah akan pulang secepatnya di sana. Biar bisa bantu umi."
"Yo Ndak papa nduk, wong cuma masak kok. Lagi pula, Okta di sini sering bantu umi kok. Tuh lihat dia, ga mau sekolah yang jauh jauh. Takut ninggalin umi sendirian di sini."
Aisyah tersenyum mendengar nya.
"Nduk, bisa tidak hape mu kasih ke Bu lek mu. Umi pengen ngomong, sekalian pengen lihat kondisi ibu sama anaknya."
"Iya umi. Tunggu bentar ya..." Aisyah berdiri lalu kembali melangkah menemui bibinya yang berada di ruang tamu. "Bu lek, umi pengen ngomong."
Bibinya menoleh. "Oh iya iya. Ais,,, bisa ga taruh Fatimah di kamar dulu. Hm?"
"Iya..."
Aisyah menaruh ponselnya di atas meja. Lalu menggendong bayinya. Setelah itu ia berjalan menuju kamar bibinya. Menaruh bayi Fatimah, di atas kasur dengan pelan.
__ADS_1
•••••
Hari Ahad itu, ada acara syukuran di rumah bibinya Aisyah. Sedari pagi, dirinya juga sibuk. Mondar mandir kesana kemari mengurusi semuanya. Hingga malam tiba pun begitu, dia belum bisa beristirahat tenang sebelum semuanya benar benar beres. Melelahkan memang, tapi dirinya juga sudah terbiasa. Seolah, rasa lelah menjadi temannya beberapa tahun ini selama masa kuliahnya.
Senin pagi, Aisyah berangkat menuju masjid
An Nur. Sesuai dengan apa yang di beritahu bibinya. Hari ini, hampir saja kelupaan. Untungnya di ingatkan oleh bibinya. Kalau tidak sayang sekali kalau tidak menghadiri majelis ilmu seperti itu. Karena perjalanan kita untuk ke majelis ilmu, itu juga di beri pahala oleh Allah. Maka jam delapan kurang tujuh menit, Aisyah baru berangkat. Mungkin, saat nanti dirinya sampai kajiannya sudah di mulai.
"Terima kasih ya pak..." Ujarnya kepada supir taksi yang telah mengantarnya.
Bapak itu mengangguk dengan tersenyum, lalu kembali menjalankan mobilnya untuk melaju pergi. Aisyah membuka tas selempangnya, lalu mengambil ponsel untuk melihat jam. Pukul 8 lebih tujuh belas menit. Aisyah kembali memasukkan ponselnya lalu melangkah ke arah masjid. Duduk di tempat yang masih kosong. Matanya mulai fokus tertuju di depan. Menatap wanita yang tengah berdiri dengan microfon di tangannya.
"Tak hanya lebih kejam dari pembunuhan, perbuatan fitnah juga lebih berat dari ketidaktaatan. Maka melakukan fitnah akan menyebabkan hukuman yang berat di sisi Allah. Lalu yang kedua, orang yang suka memfitnah sesama maka tidak akan mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW." Mata Aisyah terus tertuju fokus pada depan. "Lalu yang ketiga, fitnah mencegah seseorang masuk syurga. Rasulullah SAW bertanya kepada sahabat 'siapakah orang yang bangkrut?' lalu mereka berkata 'orang yang tidak memiliki kekayaan'. Kemudian Rasulullah SAW berkata “Bukan itu, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak mempunyai amal ibadah.” Lalu sahabat bertanya kembali 'Bahkan ketika orang tersebut mengerjakan shalat dan puasa?' Dan Rasulullah SAW menjawab: Bahkan ketika dia shalat dan puasa karena perbuatan baiknya akan diberikan kepada orang yang terzalimi, dia ghibah dan juga fitnah bahkan perbuatan buruk orang yang di fitnah dan di tindas akan diberikan kepada orang yang memfitnahnya."
"Jadi saudara saudara ku sekalian, sesungguhnya apa yang di larang Allah itu adalah untuk kebaikan hamba-nya. Dan apa yang di perintahkan Allah, adalah yang terbaik untuk hambanya. Allah lebih tahu yang terbaik untuk kita, di bandingkan diri kita sendiri. Maka apa yang di larang, jauhilah. Memfitnah, menggunjing, menghina, ghibah adalah perbuatan yang sama sekali tidak ada manfaatnya. Namun manusia ini demen banget ngelakuin hal hal kayak gitu, apalagi tuh ghibah. Bagi yang tidak tahu ilmunya, wah itu seru. Di pikirnya seru, padahal dia tidak tahu di kala itu juga para malaikat mencatat dosanya. Bagai makan bangkai saudara sendiri. Sebenarnya apa sih yang kita dapat dari memfitnah seseorang? Kepuasan? Iya kita puas, tapi hanya bersifat sementara bukan? Bahkan, kepuasan kita tidak setimpal dengan akibat yang kita tanggung nantinya."
Perhatian Aisyah teralihkan oleh perempuan yang duduk di sampingnya. Dengan menunduk, dia sibuk menyeka air matanya yang mengalir. Aisyah memandanginya lama, wajahnya seperti tak asing bagi dirinya. "Mbak..."Panggil Aisyah membuat perempuan itu menoleh.
Pandangan mereka saling bertemu, saling terdiam menatap satu sama lain. "Aisyah??"
"Mbak....mbak Ghea?!"
Ghea terdiam, matanya kembali berkaca kaca. "Ini Lo? Aisyah?"
Aisyah mengangguk pelan.
"Iya. Mbak kenapa? Mbak sakit?" Tanya nya saat melihat wajah Ghea yang agak pucat dan terlihat kurang sehat. Namun jawaban Ghea berbanding balik apa yang dia lihat.
"Nggak. Gue ga papa. Gue baik baik aja."
Aisyah terus menatap Ghea. Penampilannya benar benar berubah. Dengan hijab panjang yang menutupi dada, baju gamis, kaos kaki, bahkan menggunakan handsock yang menutupi punggung tangannya, hingga hanya menyisakan jemari jemarinya yang terlihat. Entah memang penampilan nya yang berubah, atau memang dia sengaja berpenampilan seperti itu karena menghadiri kajian di masjid. Yang pasti, penampilan nya sungguh sangat berbeda dengan Ghea yang sebelumnya, Ghea yang dirinya kenal.
•••••
Setelah kajian selesai, mereka berdua berjalan bersama keluar dari masjid. "Aisyah..." Panggil Ghea.
"Iya mbak?"
"Lo tadi ke sini naik apa?"
"Taksi mbak"
"Pulangnya juga?"
"Iya. Kalau nggak ya, pakai ojek online aja."
"Kalau gitu bareng gue aja. Ya??!" Tawar Ghea.
"Nggak mbak. Nanti malah ngerepotin."
"Nggak kok. Emang kamu tinggal di mana?"
"Perumahan di jalan seruni."
"Oh, iya ya...kebetulan nanti gue juga lewat sana. Bareng aja ya?"
Aisyah terdiam melihat Ghea. Dia memang benar benar berubah. Lihatlah dengan caranya berbicara, begitu berbeda dengan yang dulu. Aisyah mengulum senyum. "Ya udah kalau gitu mbak." Jawab Aisyah. "Mbak udah sering ya datang ke sini setiap ada kajian?"
"Emm, sebenarnya nggak di sini doang sih Syah
Di manapun itu setiap ada ceramah ceramah gue selalu datang. Kalau ga ada halangan."
Aisyah manggut manggut paham.
"Kita ke sana..." Ujar Ghea menunjuk mobil putih besar yang terparkir bersama beberapa mobil lainnya. Aisyah mengangguk dengan berjalan mengikuti Ghea.
"Emmm....di mana ya?" Gumam Ghea dengan mengedarkan pandangannya. "FARIZ!"
__ADS_1
...********...