
"Nggak sholat Maghrib fa?!" Tanya Lina.
"Gue menstruasi"
"Oh gitu,, ya udah gue ke mushola dulu ya" Ujar Lina. Syifa mengangguk.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Syifa.
Lina langsung pergi keluar kamar menuju mushola, cepat cepat ia berjalan untuk menyusul Aisyah dan Dinda yang sudah terlebih dahulu berjalan menuju mushola.
Beberapa menit berlalu, para santri langsung menunaikan sholat Maghrib berjamaah yang di imami langsung oleh kyai Mansur. Setelah dzikir dan doa, dilanjutkan dengan mengaji hingga waktu isya tiba. Dan kembali sholat isya' berjamaah.
"Assalamualaikum" Ujar Aisyah, Lina dan Dinda.
"Waalaikum salam" Jawab Syifa.
"Ngapain fa?" Tanya Aisyah yang melihat banyak kardus Snack di dalam kamar.
"Ini,,, buat kardus" Jawab Syifa yang sibuk menstaples kardus Snack.
"Itu kardusnya mau dipakai buat shalawatan?" Tanya Aisyah. Syifa mengangguk.
"Fa udahan, makan malam dulu. Nanti dilanjut lagi" Kata Dinda.
"Ini tanggung, tinggal dikit lagi"
"Kayak ga ada tempat lain aja. Di dapur kan bisa!!" Ujar Lina.
"Tadi ustdazah emang suruh gue buat di dapur aja,, tapi gue nya ga mau. Gue gak berani buat di dapur sendirian" Jawab Syifa. "Tapi habis semuanya selesai, bakal gue balikin lagi ni kardus ke dapur"
"Itu namanya melipat gandakan pekerjaan!! Ketus Lina.
"Biarin"
"Mau aku bantu fa?" Tanya Aisyah.
"Ga usah Syah, ini udah selesai." Kata Syifa. "Tinggal pindahin kedapur"
Syifa menatap ketiga sahabatnya. "Bantuin buat pindahin ya" Pinta Syifa.
"Iya,, sini aku bantuin" Ujar Aisyah dengan mengambil beberapa kardus.
"Wah,, makasih loh Syah" Ucap Syifa.
Aisyah mengangguk.
"Aku juga mau bantu" Timpal Dinda melakukan hal yang sama seperti Aisyah.
"Lina...ga mau bantuin?" Tanya Syifa. Lina terdiam dengan menatap dingin Syifa. "Ayolah Lin,, kita sebagai sesama manusia itu harus saling tolong menolong dalam kebaikan. Masa Lo ga mau bantuin gue,, katanya sahabat???"
"Iya ya,, gue bantuin." Ujar Lina membuat Syifa tersenyum lebar.
Ke empatnya langsung keluar kamar dengan membawa beberapa kardus di tangan kanan dan kirinya. Mereka berjalan menuju dapur, menaruh dan menyusun kardus Snack nya dengan rapi. Mereka langsung kembali ke kamar untuk mengambil beberapa kardus lagi yang masih tersisa.
"Tadi kalau Lo buat kardus nya di dapur kan ga bakal bolak balik kayak gini fa!!" Kata Lina sedikit kesal.
"Ih,, Lo kan tau gue itu orangnya penakut. Lagi pula di dapur itu sepi, apalagi pas Maghrib banyak makhluk makhluk berkeliaran. Gue kan takut. Lagi pula Lin,, kalau Lo mau bantu yang ikhlas. Biar pahalanya itu juga banyak." Ujar Syifa panjang lebar. "Itu sisanya Lo yang bawa ya, gue kedapur duluan" Lanjutnya
"Iya,,,"
"Oi ya habis ini jangan lupa Lo langsung gabung Buat makan malam ya"
Lina menghela pelan. "Iya bawel"
Syifa tersenyum, lalu berjalan keluar kamar. "Heran, cerewet banget tu orang" Gumam Lina dengan geleng geleng kepala.
Ia langsung membawa beberapa kardus lalu keluar kamar. Menutup pintu, dan berjalan menuju dapur.
Braak
Semua kardus yang dibawa lina berjatuhan ditanah, membuatnya sedikit merasa terkejut. Matanya melotot pada seseorang yang tak sengaja bertabrakan dengan nya.
"Beresin ga?!" Ujarnya berkacak pinggang.
"Lah kenapa gue? Kan Lo yang jatuhin!!" Jawab Iqbal tak peduli.
"Lo yang tabrak gue, makannya jadi jatuh semua"
"Lo yang jalan ga pake mata!!"
"Enak aja,, pokonya gue ga mau tahu. Lo beresin ini semua"
"Idih ogah!!" Ketus Iqbal.
"Bener bener nyebelin banget ya ni orang!! Heh kenapa sih kalau gue ketemu Lo,, gue itu jadi darah tinggi Mulu!!"
"Itu tandanya Lo udah tua. Gitu aja ga ngerti"
"iiiihhh,,," Geram Lina dengan mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia menonjok wajah laki laki dihadapannya. "Dasar singa lebay" Ujar Lina kesal.
Lina mengambil satu persatu kardus yang berjatuhan. "Itu ambilin,, " Pinta Lina pada iqbal karena tangannya yang sudah penuh dengan kardus.
Iqbal mengambil kardus tersebut, menatap Lina yang kerepotan membawa kardus tersebut. "Gue bantuin" Kata Iqbal.
"Hah?!"
"Ini gue yang bawa!!" Ucap Iqbal.
"Kok cuma bawa satu!! Niat bantuin ga sih. Kalau mau bantuin,, ambil setengahnya atau semua Lo yang bawa"
"Lo jadi cewek rese banget ya, udah mending gue mau bantuin"
"Ya dari pada Lo cuma bantuin buat bawa satu kardus doang, mendingan ga usah!!" Ketus Lina. "Pelit benget jadi orang!"
Iqbal menghela pelan. Lalu mengambil satu kardus lagi yang ada di tangan Lina. " Udah,,. tangan gue dua duanya udah bawa kardus. Jadi Lo jangan ngomel lagi" Kata Iqbal lalu beranjak pergi menuju dapur.
"Woy!! Bal,,, pelit banget jadi orang!! Niat bantuin ga sih!!" Kata Lina setengah berteriak. Ia menatap kesal kedelapan kardus yang kini berada di kedua tangannya.
•••••
Aisyah berjalan menuju taman belakang. Langkah nya memelan saat melihat seorang perempuan yang duduk di bangku taman. Tumben ada orang. Pikirnya.
Aisyah duduk di samping gadis yang kini menundukkan kepalanya. "Assalamualaikum" Ujar aisyah, membuat gadis itu menoleh.
"Waalaikum salam" Jawabnya.
"Sendirian?" Tanya Aisyah.
Gadis itu mengangguk.
"Kok ga ke kantin sama temen temen kamu?"
Gadis itu menggeleng pelan dengan kembali menundukkan kepalanya. "Nama kamu siapa?" Tanya Aisyah.
"Alana" Jawabnya.
"Alana kam..."
"Panggil aja ana" Ucapnya memotong kalimat Aisyah.
__ADS_1
"Iya ana,, kamu kenapa,, Ada masalah? Kok mukanya sedih gitu?"
Ana menatap Aisyah,, lalu kembali menggeleng pelan. "Aku tahu loh kamu lagi ada masalah,, cerita aja ga papa." Kata Aisyah.
Ana terdiam sejenak. Lalu secara perlahan ia menceritakan semuanya. Entah kenapa, dia langsung percaya kepada Aisyah. Seakan akan Aisyah ini sudah akrab dengannya.
"Naufan itu,, dia ga peduli sama orang orang. Yang terpenting bagi dia,, itu cuma dapet uang. Dia juga ga bakal segan segan buat sakitin siapa aja yang ga nurut sama dia" Kata ana. "Nggak cuma satu kelas doang, tapi tetangga kelas juga biasanya digituin sama dia" Lanjut ana.
"Sebenernya gue pengen lawan dia atau bahkan laporin dia ke guru, tapi gue gak berani. Satu kelas pun ga ada yang berani sama dia." Ana menghela pelan. "Padahal saat ini,, gue lagi butuh uang buat kesembuhan ibu gue" Lanjutnya lagi.
Aisyah terdiam saat mendengar cerita dari ana. Tindakan si naufan memang tidak bisa di benarkan. "Kamu lapar?" Tanya Aisyah.
Ana mengangguk. "Ya udah,, kita ke kantin yuk. Aku yang traktir. Kebetulan banget, hari ini aku bawa uang lebih" Ajak Aisyah.
"Ga usah,,"
"Ga papa. Kamu pasti laper,, kan belum makan. Nanti bisa mag loh"
Ana terdiam, lalu mengangguk pelan. Membuat Aisyah kembali tersenyum. Keduanya langsung berdiri dan berjalan menuju kantin.
"Syah,, ternyata Lo orangnya baik ya" Ujar ana dengan menatap Aisyah yang berjalan di sampingnya. "Gue pikir...Lo itu,,," Ana menggantungkan kalimatnya.
"Karena kejadian kemarin?!"
Ana menghela pelan. "Bukan karena itu doang. Lo juga Deket kan sama kak Fariz itu makannya Lo sering di omongin, di jelek jelekin sama orang orang. Hingga membuat gue juga berpikiran hal yang sama kayak mereka" Jawab ana. "Tapi ternyata gue salah besar,, Lo jauh banget dari apa yang diomongin mereka. Jujur Syah, awal awal gue heran kenapa temen temen Lo bisa sepercaya dan selalu belain Lo kayak gitu. Tapi sekarang gue udah ngerti jawabannya"
"Kamu yakin kalau aku orang yang baik?" Tanya Aisyah. Ana mengangguk.
"Kenapa secepet itu,, bukannya kamu baru kenal aku tadi. Kamu ga takut kalau aku ternyata cuma pura pura baik di depan kamu"
"Syah,,, yang namanya ucapan atau perbuatan itu emang bisa bohong. Tapi kalau untuk mata dan hati,, itu ga bisa. Mata Lo,, udah cerita sama gue kalau Lo itu orang baik. Dan gue percaya itu" Kata ana. "Selain itu,, nada bicara Lo, perkataan Lo, suara Lo tadi pas ngomong sama gue itu lembut banget" Lanjutnya.
Aisyah tersenyum. "Aku cuma minta sama kamu, jangan pernah anggap aku sebagai orang yang baik"
"Kenapa?"
"Karena banyak diluar sana orang yang di anggap baik, alim dan sebagainya. Tapi sekalinya dia melakukan dosa ataupun kesalahan, dia di cap sebagai pendosa. Seakan akan seribu kebaikan yang telah ada, itu lenyap dengan satu dosa yang ia perbuat"
Ana terdiam. "Syah,, Lo kan orangnya baik. Kenapa Lo ga tunjukin aja sama orang orang kalau Lo itu ya orang baik baik ga seperti yang mereka pikir"
"Nggak perlu menjelaskan atau menunjukkan diri kita pada siapapun. Karena yang menyukai kita, tidak membutuhkan itu. Dan, yang membenci kita juga ga akan mempercayainya" Jawab Aisyah.
Ana menundukkan kepalanya. Lalu menghela pelan. "Syah,, gue minta maaf ya... udah pernah berpikiran yang nggak nggak sama Lo"
"Iya,, ga papa." Jawab Aisyah. "Oi ya,, soal masalah itu... Kalau menurut kamu dia salah, ya udah bicara baik baik. Kasih pengertian sama dia. Kalau memang ga bisa, kamu lawan aja. Selama kamu ga salah ga usah takut" Kata Aisyah.
"Kayaknya susah Syah kalau harus ngomong baik baik sama naufan. Dia itu kasar orangnya"
"Di coba aja dulu" Ujar Aisyah. Tak berasa mereka sudah sampai di kantin, dan langsung berjalan menuju meja yang masih kosong.
"Mau makan apa?" Tanya Aisyah.
"Em,,, batagor aja deh"
"Minum?"
"Ga usah"
"Ga papa, pesen aja"
"Udah, batagor aja"
"Beneran?"
Ana mengangguk.
Aisyah langsung berjalan menuju Bi Yuni untuk memesankan makanan. Sedangkan ana menunggunya di meja makan.
Selang beberapa menit dari itu ada tiga orang lelaki yang datang menghampiri ana. "Heh,, kemarin Lo belum bayar ya" Bentaknya seperti seorang penagih hutang.
"Oh, Udah berani Lo sama gue!!" Bentaknya.
Aisyah yang mengetahui kedatangan naufan, hanya melirik mereka bertiga. Membiarkan ana agar berusaha untuk membela dirinya.
"Fan,, bukannya apa. Tapi jujur,, gue gak suka lihat lo maksa maksa orang buat kasih uang nya ke Lo."
"Udah deh,, sekarang Lo kasih uangnya ke gue. Kemarin Lo bilang ga bawa uang, jadi hari ini Lo harus bayar double. Cepet!!"
Ana menghembuskan nafas kasar. "Fan,, gue gak punya uang. Lo jangan maksa maksa dong!!" Ucap ana sedikit kesal.
"Gue gak peduli Lo punya uang atau ga,, cepet Lo kasih uangnya ke gue!!" Tegas naufan.
"Fan,, gue juga butuh uang buat pengobatan biaya ibu gue. Lo ga bisa maksa maksa gue buat kasih uang ke Lo. Uang itu hasil kerja keras gue sendiri." Jawab ana. "Dan mulai sekarang,, gue gak bakal kasih apa apa ke Lo. Gue gak peduli Lo bakal apain gue,, tapi gue gak bakal nyerahin hasil keringat gue,, buat Lo" Tegas ana. "Udah cukup Lo berbuat gini sama gue dan temen temen"
"Kurang ajar Lo!!" Bentak naufan dengan mendorong kasar ana hingga terjatuh di lantai. Seketika semua mata pun tertuju pada mereka. Tak mau tinggal diam,, Aisyah langsung berlari menuju mereka, dan membantu ana untuk berdiri.
"Kamu ga papa?"
Ana menggeleng.
Aisyah menatap tajam naufan. "Jangan kasar kalau sama perempuan. Kan bisa kalau di omongin baik baik!!" Ujar Aisyah sedikit membentak. Tidak suka kalau ada wanita yang di perlakukan kasar oleh laki laki.
"Mau sok jadi pahlawan Lo?" Kata naufan dengan nada menantang.
"Denger ya, kamu ga berhak ambil uang orang sembarangan. Itu bukan hak kamu. Dan aku minta,, buat kamu agar berhenti maksa orang biar kasih uang ke kamu!!''
"Ngatur Lo?!!"
"Kamu sadar ga sih,, perbuatan kamu itu bisa membuat orang menderita. Mereka juga butuh uang buat hidup, jadi kamu stop buat ambil uang mereka!"
"Lo diem atau gue kasar sama Lo!!"
"Silahkan aja,, asalkan Lo bisa berhenti buat ngelakuin hal itu" Jawab Aisyah.
Naufan tetap terdiam. "Kalau emang kamu ga punya uang. Kerja!! Jangan kayak gini caranya. Maksa orang buat kasih uang ke kamu!" Tegas Aisyah.
Plaak
Naufan tersenyum miring. "Kayaknya emang harus gue kasarin dulu, biar Lo bisa diem!" Ketus naufan. "Makannya jadi orang itu ga usah sok tahu,, ga usah sok jadi pahlawan. Paham!!" Bentak naufan.
Bugh
Belum lagi lima detik berlalu, sudah ada seseorang yang memukul telak wajahnya hingga membuatnya terpental ke lantai. Naufan memegangi pipinya yang terasa perih seketika, dengan menatap tajam lelaki yang baru saja memukulnya.
"JANGAN KASAR SAMA WANITA" Bentak fariz. "Gue gak bakal tinggal diem kalau Lo sampe nyakitin perempuan, apalagi aisyah!!" Lanjutnya.
Tak terima dipukul, naufan langsung berdiri dan memukul Fariz. Hingga membuat Fariz mundur beberapa langkah, dan saat itu pula Fariz juga langsung memukul naufan.
Naufan menghembuskan nafas kasar. Tangannya sudah melayang keudara untuk mendaratkan pukulannya di wajah Fariz, namun kedua temannya segera menahannya.
"Jangan bos, Lo ga tau siapa dia" Bisik temannya.
"Gue ga peduli siapa dia!!" Gertaknya.
"Ada apa ini!!" Bentak Bu Desi membuat perhatian mereka teralihkan.
•••••
"Kenapa kalian berantem?" Tanya Bu Desi melotot pada mereka.
"Jadi begini Bu,, laki laki ini mengambil paksa uang teman temannya. Dan kalau orang itu ga mau kasih uang ke dia, dia bakal bertindak kasar" Jelas Aisyah.
__ADS_1
"Sebenarnya, saya sudah lama mau melaporkan masalah ini kepada para guru, agar dia tidak berbuat semena mena. Tapi saya tidak berani Bu, karena siapapun yang mengadu pada guru akan di beri ancaman sama dia" Timpal ana. "Dia akan berbuat kasar kepada siapa saja yang membantahnya. Bu saya tidak mau memberikan uang saya lagi untuk dia, uang itu mau saya pakai untuk beli obat ibu saya!!" Ujar ana lagi. "Gara gara dia, sampai sekarang uang untuk membeli obat ibu saya belum terkumpul. Karena uang saya selalu di ambil paksa sama naufan. Sampai sekarang pun, ibu saya masih sakit sakit an. Bahkan, biasanya saya tidak makan satu hari, karena ga punya uang." Jelas ana yang berujung curhat pada Bu Desi.
"Iya,, sudah cukup penjelasan kamu" Kata Bu Desi. "Lalu kenapa tadi ibu lihat Fariz yang bertengkar sama kamu?!" Tanya Bu Desi kepada naufan.
"Bu,, tadi...kak Fariz membela saya. Makannya sampai bertengkar seperti itu" Bela Aisyah.
"Naufan,, sekarang ibu minta kamu minta maaf sama temen temen kamu. Dan, kembalikan uang yang sudah kamu ambil secara paksa." Ketus Bu Desi.
"Kalian paham ga?!" Bentak Bu Desi.
Mereka bertiga hanya terdiam.
"Kalau paham di jawab!! Apa kalian pikir punya mulut itu hanya untuk mengancam orang!!" Tegas Bu Desi.
"Iya Bu" Kata mereka bertiga.
"Sekarang ibu minta, kalian bertiga lari lapangan sepuluh kali. Baru boleh masuk ke kelas"
"Kenapa masih diam! Cepat" Gertak Bu Desi dengan menggebrak meja. Membuat ketiganya langsung keluar dari ruangan dan berlari mengelilingi lapangan. "Hah,, punya murid bikin darah tinggi Mulu" Gumam Bu Desi.
"Dan untuk kalian,, untuk saat ini ibu maafkan. Tapi, jangan buat keributan lagi di sekolah. Paham!"
"Iya Bu"
"Kembali ke kelas" Perintah Bu Desi.
Mereka bertiga langsung keluar dari ruang BK. "Aisyah Aisyah,, Lo ga papa. Mana yang sakit ha?!" Tanya Syifa heboh sendiri.
Aisyah menggeleng. "Tadi gue denger Lo di tampar sama cowok berengsek itu!!" Kata Syifa lagi dengan menatap naufan yang tengah berlari di lapangan sekolah.
"Aisyah,, gue duluan ya" Ujar ana.
Aisyah mengangguk.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Aisyah, Lina, Syifa dan Dinda.
"Siapa dia?" Tanya Syifa.
"Namanya ana"
"Udah dapet temen baru lagi?!" Tanya Syifa cemburu.
"Syah,, kalau gue ada di sana pasti udah gue tonjok tu orang habis habisan" Kata Lina.
"Syah..." Panggil Fariz.
"Hm?" Aisyah mendongakkan kepalanya.
"Gue pamit dulu ya."
Aisyah mengangguk.
"Lain kali lebih hati hati lagi. Kalau butuh apa apa tinggal bilang gue"
"Makasih ya kak"
Fariz mengangguk.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab ke empatnya.
"Syah,, kak Fariz perhatian ya. Beruntung deh Lo itu,, lha gue..dicuekin Mulu sama kak Reyhan" Ucap Syifa cemberut.
"Kak Reyhan Mulu Lo" Gumam Lina.
"Biarin"
"Kita balik ke kelas aja yuk. Bentar lagi bel" Ajak Dinda.
•••••
"Syah,, mau sholat?"
Aisyah mengangguk.
"Ikut ya" Kata Syifa.
"Kamu kan lagi haid"
"Iya sih,, tapi gue ngapain di kelas sendirian. Mendingan gue ikut Lo"
"Ya udah. Ayok"
Keduanya langsung berjalan menuju mushola. "Aku ambil wudhu dulu ya"
"Oke"
Aisyah langsung berjalan menuju tempat wudhu wanita. Sedangkan Syifa berdiri di depan mushola. Matanya berbinar saat mendapati Reyhan keluar dari mushola.
"Kak reyhaann!!" Panggilnya setengah berteriak. Syifa berjalan mendekati Reyhan yang sibuk memakai kaos kaki dan sepatunya.
"Kak Reyhan abis sholat ya?" Tanya Syifa yang tak di gubris oleh Reyhan. Setelah selesai memakai kaos kaki dan sepatunya, Reyhan berdiri dan berjalan dengan langkah cepat.
"Ih kak reyhan,, kok aku ditinggalin!!" Teriak Syifa. "Kak Reyhan tungguin dong!! Aku mau ngomong sesuatu" Kata Syifa mengejar Reyhan.
"Kak Reyhan,, tunggu!! Kakak yang paling ganteng di sekolahan,, tungguin!!" Panggil Syifa. "Kak Reyhan, aku mau ngomong. Pentiiing banget!! Kakak,, aku mau ngomong!"
Reyhan menghentikan langkahnya. "Mau ngomong apa?" Tanya Reyhan dingin.
Syifa senyam senyum tidak jelas. "Hehehe,, ga ada yang mau aku omongin"
Reyhan menghembuskan nafas kasar. Lalu kembali melanjutkan langkahnya. Kali ini lebih cepat. "Di tinggal lagi ditinggal lagi. Ga tau deh, nasib istrinya nanti" Gerutu Syifa. Ia kembali berlari mengejar Reyhan yang sudah jauh darinya.
"Kak Reyhan!! Kakak ga kasian sama aku,, capek tau harus kejar kejar kak Reyhan terus. Berhenti bentar kek!!" Ujar Syifa."Kak reyhan, aku mau tanya dong!! Kak Reyhan udah punya rencana buat suka sama aku ga?!!" Teriak nya lagi, tak peduli dengan mata mata yang kini menatap Syifa tak suka.
"Kak Reyhan!!" Teriak Syifa lagi. Namun tetap tak digubris oleh Reyhan. Syifa menghentikan langkahnya. Nafasnya kini ngos ngosan karena terus berlari.
Syifa menghembuskan nafas kasar dengan menatap kesal Reyhan yang terus berjalan membelakanginya. "KAK REYHAN JELEEKK!!" Teriak Syifa mampu membuat langkah Reyhan seketika terhenti.
Reyhan membalikkan badannya, menatap Syifa yang kini juga menatapnya dengan kesal sekaligus cemberut. Reyhan melangkah mendekati Syifa.
"Bilang apa?" Tanya Reyhan memastikan.
"Kak Reyhan jelek!" Ketus Syifa.
Reyhan terdiam. Baiklah baru kali ini ada seseorang yang bilang seperti itu. Sudah sering ia mendengar dirinya disebut ganteng oleh semua orang. Dan kali ini, ada seseorang yang menyebutnya jelek. Unik memang. Secara perlahan kedua sudut bibir Reyhan terangkat. Membuat Syifa yang melihatnya, langsung berdiri mematung. Baru kali ini,, dia melihat Reyhan yang dingin, cuek dan jutek tersenyum seperti itu. Saat ini Syifa tidak bisa berkata apa apa. Demi Allah, kali ini ketampanan Reyhan bertambah lima kali lipat. Jantung Syifa pun berdetak lebih cepat.
Ya Allah, manusia seperti apa yang Engkau kirimkan dihadapan hamba saat ini... Batin Syifa. Ingin sekali ia berteriak saat ini.
Beberapa detik, ia kembali pada kesadarannya. Dengan cepat Syifa kembali mengatur ekspresi wajah kesalnya. "Ga usah senyum!" Ketus Syifa.
"Kenapa?"
Syifa terdiam. "Ya,, ya karena tambah jelek. Kalau kak Reyhan senyum malah tembah jelek" Ucap Syifa. Namun hal itu malah membuat senyuman Reyhan semakin lebar.
Syifa mengatur nafasnya. Haah,, mendadak ada banyak kupu kupu yang terbang dalam perutnya. "Kak Reyhan aneh tau ga, di bilangin jangan senyum malah senyum giliran di suruh ngomong malah diem!" Ujar Syifa memasang wajah kesalnya.
"Udah ah,, aku mau pergi aja" Kata Syifa. "Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikum salam" Jawab Reyhan.
...*******...