
5 Desember,
15.01
"SATU...." Dinda mengangkat jari telunjuknya.
"Iya iya mbak,, ini ini mau keluar." Sahut seorang santriwati yang cepat cepat memakai mukenanya.
"DUA!"
"Iya iya..." Dengan cepat dia berlari melewati Dinda. Berlari cepat menuju masjid pesantren. Dirinya hanya bisa geleng geleng kepala. Kenapa semua santri tidak bisa disiplin, dan yang selalu seperti itu adalah orang yang sama. Sudah di peringatkan pun sepertinya tidak di gubris dan takzir pun sepertinya tidak mempan untuk merubah kepribadiannya.
Dinda langsung berjalan ke arah masjid untuk menjalankan sholat Ashar bersama.
•••••
Setelah menjalankan sholat, Dinda langsung pamit untuk pergi ke madrasah diniyah yang tak jauh dari pesantren. Dirinya melangkah ke arah masjid yang bersebelahan dengan madrasah itu. Matanya langsung di sajikan oleh anak anak kecil yang dengan semangatnya belajar. Membuat seulas senyum lebar terpancar dari wajahnya.
"Assalamualaikum."
Seketika semua mata tertuju kepadanya.
"Waalaikum salam."
Dinda berjalan masuk, beberapa langkah dia mulai mengubah posisinya untuk jalan menggunakan lutut. Dengan pelan dan menundukkan kepala, lututnya terus melangkah mendekati seorang ustadzah yang tengah duduk mengajar. Dia langsung menyalami tangan perempuan yang jauh lebih tua darinya.
"Eh mbak Dinda, ada apa mbak? Tumben ke sini?"
Dinda kembali tersenyum, dia membuka tasnya lalu mengeluarkan amplop coklat besar. "Maaf ya Bu, kalau kedatangan saya mengganggu proses belajarnya anak anak."
"Oh Ndak papa mbak, malah saya seneng mbak kesini. Ada apa to?"
"Ini Bu, ada sedikit uang jariyah untuk pembangunan gedung madrasahnya." Ujar Dinda menyerahkan amplop tersebut. Memang benar madrasah saat ini sedang ada dalam proses pembangunan, oleh karena itu pembelajaran di alihkan di dalam masjid karena kebetulan memang bersebelahan.
"Wah, matur suwun ya mbak Dinda."
"Iya sama sama Bu, semoga uangnya bermanfaat ya..."
"Ya pasti mbak, ini Alhamdulillah lho kebetulan kita itu kekurangan dana tapi kok Allah cepet banget ngeresponnya. Langsung di kasih uang lewat mbak Dinda. Padahal, kita tadi udah bingung...bahan bahan pembangunan masih kurang, terus untuk bayar pekerjanya juga...Ya Allah mbak,, terima kasih Yo...semoga jadi amal kebaikan mbak."
Dinda mengangguk. "Iya Bu, sama sama. Kalau soal masalah uang atau dana yang kurang, ibu dan yang lainnya Ndak usah khawatir ya. Apapun itu yang di lakukan karena kebaikan, Allah pasti akan bantu."
"Iya mbak."
"Oh iya, ini udah berapa persen kira kira pembangunannya?"
"Oh baru sekitar lima puluh lima persen mbak. Mohon doanya ya mbak, semoga cepat jadi dan berjalan lancar. Biar anak anak ini juga bisa kembali belajar di madrasahnya."
"Aamiin,,, iya semoga semuanya lancar."
"Eh mbak Dinda sibuk Ndak?"
Dinda menggeleng pelan. "Nggak terlalu sibuk untuk sore ini. Ibu perlu bantuan saya?"
"Ah iya, gini mbak...tadi Bu Ani Ndak masuk jadi jam ini anak kelas tiga Ndak ada pelajaran. Jadi bisa Ndak kalau mbak Dinda gantiin ngajar? Eee sampai jam setengah lima, nanti habis itu langsung pulang." Ujarnya. "Bagaimana mbak? Bisa?"
"Iya, saya bisa."
•••••
16.34
"Mbak Dinda makasih banyak ya..."
"Iya Bu, kalau begitu saya pamit ya..."
__ADS_1
"Iya mbak."
Dinda mengambil lalu mencium punggung tangan ustadzah. "Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
"Mari Bu..."
"Iya, silahkan..."
Dinda mengulum senyum lalu berjalan keluar dari masjid. Berjalan kaki melangkah dari sana kembali menuju pesantren. Di depan pintu rumah, langkah kakinya terhenti saat melihat tamu.
"Dinda..." Panggil Abah. "Sini nduk, duduk."
Dinda mengangguk. "Assalamualaikum." Ujarnya lalu berjalan duduk di samping Abah.
"Waalaikum salam."
Matanya tertuju pada seorang laki-laki yang duduk di depannya. Ia terpaku. "Din..." Suara Abah membuatnya menunduk dalam dalam.
"Astaghfirullahal adziim Dinda..." Gumamnya dengan memejamkan matanya erat. Apa yang barusan dia lakukan? Memandang laki-laki yang bukan mahram, Astaghfirullah...
"Dinda ini Ilham, masih ingat to kamu??"
Mendengar pernyataan Abah membuat matanya terbuka lalu menoleh menatap Abah yang tersenyum. "Ilham sudah datang dari tadi nunggu kamu datang." Lanjutnya.
Dinda meneguk ludahnya, dia kembali menundukkan kepalanya. Jantungnya berdegup kencang saat mengetahui hal itu. "Din..." Panggilan itu kembali terdengar. Bukan dari Abah, namun dari Ilham.
Dinda semakin menundukkan kepalanya. "Dinda, saya sudah datang ke sini untuk memenuhi janji saya." Suaranya yang begitu lembut berbicara kepada dirinya, membuat ia seketika panas dingin. Entahlah matanya tiba tiba berkaca kaca? Lebay? Oh tentu tidak, sejak saat Ilham menyatakan janjinya untuk datang, pada saat itu juga dia memantapkan hatinya. Berusaha untuk menjaga hatinya untuk lelaki itu. Berusaha untuk tetap menunggu, dan semenjak itu pula nama Ilham selalu ia tambahkan pada setiap momentum doa yang dirinya panjatkan.
Delapan tahun? Apa kau pikir tidak mudah menjaga dan menunggu selama delapan tahun?
"Dinda, kapan kamu siap untuk saya lamar?" Tanya Ilham.
•••••
Hari dimana setelah dia datang, hampir semua para santri membantu dalam persiapannya. Ya Allah,,, mudahkanlah semuanya.
•••••
Hari sebelum malam itu datang...
Umi masuk ke dalam kamar Dinda. Menemui putrinya yang tengah terduduk diam. "Nduk..." Panggilnya.
Dinda menoleh. "Umi..."
"Ini, nanti kamu pakai ini ya..." Dinda melihat baju yang di bawa uminya. "Nanti biar mbak Hasna sama mbak Nurul yang bantu kamu siap siap ya."
Dinda menghela panjang. Berusaha untuk tidak terlihat gugup. "Iya umi."
Umi tersenyum, tangannya mengelus halus bahu putrinya. "Ga usah tegang gitu to nduk, ini baru lamaran lho belum nikah. Kalau mau nikah, tegang kamu bisa berkali kali lipat dari ini."
"Udah ya, sekarang kamu istirahat biar nanti malam kelihatan seger. Ya?! Umi keluar dulu..." Umi mencium kening Dinda. "Banyak banyakin doa."
"Iya umi."
•••••
9 Desember
18.56
Dinda terdiam dengan menatap dirinya di kaca.
"Mbak Dinda Masya Allah cantik banget lho..." Ujar mbak Hasna.
__ADS_1
"Iya...apalagi kan ning jarang pake make up, sekalinya pake jadi pangling kita." Timpal mbak Nurul.
"Panggil mbak aja mbak Nurul." Balas Dinda lebih nyaman di panggil dengan panggilan mbak.
"Iya mbak."
"Mbak dinda, selamat ya akhirnya udah dapat seseorang yang tepat."
Dinda hanya tersenyum kaku mendengar penuturan mbak Hasna.
"Semoga semuanya berjalan lancar sampai ke pelaminan." Lanjutnya.
"Aamiin."
Tok tok tok...
Mereka bertiga menoleh bertepatan dengan pintu terbuka. "Nduk, ayo keluar. Yang kamu tunggu sudah datang."
Dinda menghela panjang menenangkan dirinya, dia berdiri dan mulai melangkah mendekati uminya. Seulas senyum terpancar dari wajahnya. Umi menggandeng tangannya, berjalan pelan ke arah ruang tamu yang di temani juga oleh kedua gadis yang membantunya berdandan tadi.
Sekilas matanya melirik ke para tamu, lalu kembali menunduk. "Duduk..." Bisik umi menyuruh Dinda duduk. Berhadapan tak jauh dari Ilham.
Detak jantungnya berdegup tak karuan. Entahlah, harus bagaimana dia mengekspresikan semua ini. Bola matanya kembali melihat depan namun kepalanya kembali tertunduk saat melihat Ilham yang menatapnya dalam diam.
Maka hari itu, menjadi hari yang cukup istimewa baginya. Hari di mana perjalanan sebuah cinta suci bagi dirinya di mulai. Hari di mana penantiannya sudah selesai. Hari dimana kepastian yang ia tunggu telah datang. Ternyata, dia tidak lupa.
Dengan sederhana, sangat sangat sederhana acara ini di adakan. Namun terasa begitu istimewa. Bukan kemewahan yang kita butuhkan, tapi sebuah kemantapan hati untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius.
Sedari tadi hatinya terus mengucapkan zikir, menyebut nama Allah agar acaranya berjalan lancar.
Dinda, adalah sebuah nama yang selalu saya sebut di sepertiga malam ku. Perempuan yang selalu saya ceritakan pada Allah, agar dia yang kelak menjadi istri saya, pendamping hidup saya.
Jika Abah sudah menjaga putri Abah selama dua puluh tujuh tahun lamanya, maka izinkan saya untuk menggantikan posisi Abah untuk menjaga dan melindungi Dinda. Membahagiakan dia layaknya perhiasan dunia yang paling berharga.
Dinda, jika Allah mengizinkan, saya ingin menemani setiap langkah perjuanganmu, ingin menjadi penyejuk dan penenang di kala gundahmu, ingin menjadi pembimbingmu untuk masuk Jannah-Nya nanti, ingin menjadikanmu sebagai makmum ku. In Syaa Allah, bersama-sama kita menjalin hubungan ini di atas ridho Allah. Saya ingin menjalani hidup ini bersamamu.
Di sini, izinkan saya dengan segala perasaan yang dititipkan Allah dengan mengatakan niat dari hati tulus yang paling dalam.
Dinda Pangestuti, bersediakah kamu menjadi istri saya? maukah kamu menerima lamaran saya?
•••••
Dan saat inilah aku berada, duduk di depannya dengan jantung yang berdegup tak karuan. Sebuah pertemuan yang sudah ku impi-impikan sejak dulu. Dia datang, dengan membawa keluarganya. Sebuah penantian yang aku takutkan sia-sia, sebuah pikiran yang ku pikir dia telah lupa. Namun tidak, hari ini dia telah menepati janjinya. Air mataku, sungguh tak bisa kutahan untuk rasa haru dan bahagia atas hari ini.
- Dinda -
9 Desember...
...Bismillahirrahmanirrahim,...
...dengan izin Allah dan restu Abi umi, saya terima lamaran kamu....
•••••
Kemaslah cinta yang Allah anugerahkan hingga ia menjadi hadiah yang mengagumkan. Karena pemberian terindah adalah hati yang terdidik Istiqomah.
•••••
وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّجَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْ بَنِيْنَ وَحَفَدَةً وَّرَزَقَكُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِۗ
Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik.
(An Nahl : 72)
...********...
__ADS_1