Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Permulaan


__ADS_3

Aisyah menyipitkan matanya melihat apa yang tertera pada layar ponselnya.


"Lima panggilan tak terjawab?"


Aisyah langsung menekan tombol log panggilan untuk menelpon uminya, satu tidak ada jawaban, dua juga sama begitupun hingga tiga kali tetapi tidak ada yang mengangkatnya. Aisyah langsung beralih dari WhatsApp menuju Instagram, mencari dan membaca setiap berita, hingga menemukan sebuah kata kalimat yang membuatnya terdiam.


Mungkin....


kalian ditakdirkan hanya sebatas bertemu,


bukan karena untuk disatukan. Maka jangan terlalu mencintai dan berharap lebih, agar tak ada lagi yang tersakiti


"Mungkin aku aja yang terlalu berharap" Ujar Aisyah pelan lalu menghembuskan nafas secara perlahan, gadis itu lantas mematikan ponselnya dan hendak keluar kamarnya, namun belum lagi aisyah keluar kamar ponselnya kembali berdering, dengan cepat Aisyah meraih ponselnya dan terdapat tulisan umi yang tertera pada layar ponselnya. Segera ia mengangkat panggilan dari ibunya.


"Halo, Assalamualaikum"


"Abi, kok tumben di rumah nggak pergi ke sawah?"


"Maaf ya bi tadi Aisyah sedang cuci baju,"


"Iya"


"Apa, Ya Allah kok bisa?" Mendadak wajah Aisyah menjadi sangat cemas.


"Iya, waalaikum salam"


Aisyah menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong.


"Aisyah"


"Eh iya Din"


"Kamu kenapa, kok cemas gitu?" Tanya Dinda.


"Umi kemarin sore pingsan dan langsung di bawa ke rumah sakit, din aku takut banget umi kenapa napa...dari dulu umi itu ga pernah masuk rumah sakit, apapun itu penyakitnya" Ujar Aisyah. Tatapannya menunjukkan bahwa gadis itu sedang sedih dan cemas. Dinda mengusap lembut punggung Aisyah.


"Kamu tenang aja ya Syah, aku yakin umi kamu bakal baik baik aja dan pasti sebentar lagi sembuh" Ujar dinda dengan tatapan pasti.


"Iya Amiin makasih ya"


"Aku mau keluar dulu ya, tadi bajunya belum aku jemur"


Aisyah mengangguk sambil memberikan seulas senyum, yang dibalas Dinda dengan senyuman juga. Tatapan Dinda seolah olah meyakinkan Aisyah bahwa semuanya akan baik baik saja.


"Kasihan Aisyah" Ujar Dinda memulai pembicaraan diantara mereka saat bersama sama menjemur baju yang sudah mereka cuci.


"Kenapa?" Tanya Lina.


"Umi nya Aisyah masuk rumah sakit, dia jadi cemas cemas sedih gitu" Ujar Dinda juga dengan ekspresi yang sedih, seolah olah bisa merasakan apa yang dirasakan sahabatnya.


"Astaghfirullah kok bisa,, padahal ya Aisyah tadi malem seneng banget gara gara dia udah diizinin buat ngelanjut hafalan, eh hari ini malah jadi sedih?" Tanya Syifa kaget, begitu pula dengan Lina yang tak kalah kagetnya.


"Ya udah doain aja yang terbaik buat uminya Aisyah, semoga cepet sembuh ya" Ucap Lina.


"Amiiinnn" Ujar Syifa dan Dinda bersamaan.


kring kring kring


Ponsel Fariz berbunyi,,, tertera nama mama pada layar ponselnya.


"Halo"


"Halo Assalamualaikum"


"Iya,, waalaikum salam ada apa ma?"


"Riz mama mau bilang ke kamu kalau mama mau kerumah nenek, adik kamu udah kangen banget sama kampung"


"Oh ya udah kalau gitu ma"


"Kamu gimana keadaan nya disana nak?"


"Alhamdulillah baik ma"


"Alhamdulillah kalau gitu"


"Mama kapan berangkat ke kampung"


"Besok pagi, ini mama lagi nyiapin baju buat besok, udah dulu ya Riz jaga diri kamu baik baik, assalamualaikum"


"Iya ma, waalaikum salam"


•••••


"Ayo cepetan Syah,, nanti gak kebagian tempat duduk" Rengek Syifa sambil menarik narik tangan Aisyah.


"Pasti kebagian kok fa"


"Gak bakal kebagian kalau gak gercep"


Mereka dengan langkah cepat menuju ke kantin dengan harapan masih ada tempat duduk yang kosong, karena memang sering terjadi pertikaian saat istirahat hanya karena tidak kebagian tempat duduk. Sesampainya di kantin ada lambain tangan yang mengarah pada mereka, sehingga Aisyah dan Syifa mendatangi orang yang sempat melambaikan tangannya pada mereka.


"Huh, untung ada kalian" Ujar Syifa menghembuskan nafas lega karena kedua sahabatnya sudah dulu berada di kantin sehingga Syifa dan Aisyah tidak perlu cari cari tempat duduk yang kosong.


"Kalian ga pesen makanan?


"Nunggu kalian" Jawab Lina.


"Yaudah kalau gitu gimana kalau gue aja yang pesen makanannya" Tawar Syifa.


"Iya udah sama aku aja" Ujar Dinda yang dibalas anggukan oleh Syifa.


"Aisyah mau makan apa?"


"Mie ayam minumannya es teh"


" Kalau lo Lin?"


"Gue baso minumannya es jeruk"


"Oke,, "


Syifa dan Dinda pun langsung beranjak pergi ke arah penjual dengan langkah tergesa gesa. Sedang Aisyah masih dengan kecemasannya akan keadaan uminya. Lina yang menyadari kecemasan Aisyah langsung berpindah tempat duduk ke samping Aisyah. Dan mengelus lembut lengan Aisyah.


"Percaya aja Syah, kalau umi Lo bakal baik baik aja"


"Tapi aku ga tenang Lin"

__ADS_1


"Iya gue tahu, tapi yang harus Lo lakuin saat ini adalah cuman berdoa dan yakin sama Allah"


"Iya" Jawab Aisyah dengan nada berat.


Aisyah terdiam cukup lama, menatap ke arah depan dengan tatapan kosong. Namun tak lama dari itu Aisyah melihat Fariz masuk ke kantin bersama seorang wanita. Wanita tersebut cantik, kulitnya putih, dia juga tinggi, rambut panjang bergelombangnya dibiarkan tergerai begitu saja, dengan kalung besi berwarna emas dengan inisial huruf 'G'. Wanita tersebut terlihat sangat akrab dengan Fariz membuat Aisyah menatapnya dengan tatapan yang penuh tanya.


Katanya ga suka kalau Deket sama cewek, terus kenapa malah ke kantin sama cewek? Terus siapa dia? Kenapa kak Fariz mau kekantin bareng sama dia?


Semuanya penuh dengan pertanyaan yang mungkin tidak bisa dipecahkan oleh Aisyah.


"Nih makanannya" Ujar Syifa sambil menyodorkan makanan dan minuman diatas meja.


"Makasih ya fa, Din" Ujar Aisyah.


"Iya sama sama"


Dan mereka mulai asik dengan makanan sendiri sendiri. Tiba tiba Lina menyenggol nyenggol tangan Aisyah, yang membuat Aisyah langsung menoleh.


"Kenapa ga dimakan? Jangan diaduk aduk doang nanti keburu dingin mie ayamnya jadi ga enak deh" Ujar Lina yang tidak ditanggapi oleh Aisyah.


Baru beberapa menit,, Lina pun melakukan hal yang sama, membuat aisyah mengangkat kedua alisnya menanyakan apa?


"Jangan ngelamun terus gitu ga baik" Ujarnya tapi Aisyah memilih untuk tetap diam.


Dan belum lama Lina melakukan hal yang serupa.


"Apa lagi sih Lin?" Tanya Aisyah dengan Raut wajah sebel.


"Tuh tuh kak Fariz kayak ngeliatin lo terus" Ujar Lina sambil menunjuk nunjuk Fariz yang membuat Aisyah langsung menoleh ke meja yang diduduki Fariz. Memang benar Fariz tengah memandanginya sekarang membuat Aisyah memalingkan wajahnya dan kembali menatap makanannya. Sudan cukup lama Aisyah merasa dipandang terus oleh Fariz, tidak tahu itu benar atau hanya firasatnya saja.Namun entah kenapa memang Aisyah kalau di pandang seperti itu tidak pernah nyaman dan suka.


"Loh loh Aisyah mau kemana, ini belum habis makanannya,, mubazir" Tanya Lina bingung saat melihat Aisyah membayar makanannya dan langsung pergi meninggalkan mereka.


"AISYAH,,,, AISYAAH,,, INI MAKANANNYA KAMU SURUH HABISIN SIAPA?" Teriak Lina yang membuat orang orang menoleh padanya.


"Hussstt,,, Lin jangan teriak teriak gitu" Bisik Syifa pada lina.


"Ya tapi Aisyah..."


"Udah ga papa,,, biarin aja, udah lanjutin aja makannya" Hal yang membuat Lina mengangguk dan meneruskan makan basonya, namun belum lagi Lina memakan makanannya, bel berbunyi nyaring yang menandakan waktu istirahat sudah habis, hal yang membuat Lina berceloteh kesal karena tidak bisa menikmati waktu istirahatnya.


"Kok udah masuk aja sih, nih nanggung masih ada satu baso yang belum kemakan"


"Ya Udah tinggal makan aja" Ujar Dinda.


"Tapi kan setiap baso itu punya kenikmatan tersendiri, kalau ni baso gue makannya buru buru kan gue jadi ga bisa tenang nikmatinnya"


Ujar Lina.


"Lagian ni istirahat kejam amat, udah belajar capek capek sampe Berjam jam, dari jam 7 sampai jam 2, dari pagi sampai sore, dari wangi Sampai bau, dari seger sampe kusut, dari Berbie jadi ondel ondel tapi istirahatnya cuma 15 menit, kan sebel gue" Keluhnya dengan muka yang cemberut, membuat Syifa dan Dinda tersenyum miring karenanya.


•••••


"Aisyah tolong kamu ambilkan daftar nilai yang ada dimeja ibu ya" Ujar Bu Mila meminta bantuan Aisyah.


"Baik Bu" Dan tanpa basa basi Aisyah langsung pergi menuju ruang guru untuk mengambil daftar nilai. Beberapa menit dari itu Aisyah sudah berjalan menuju kelas dengan daftar nilai ditangannya. Namun pikiran Aisyah saat ini tidak tenang karena keadaan uminya.


'Bruuukk'


Hingga tanpa sengaja Aisyah bertabrakan dengan orang lain yang membuat daftar nilai dalam genggamannya jatuh ke lantai begitu saja. Cepat cepat Aisyah mengambil daftar nilai yang terjatuh tersebut dan meminta maaf kepada orang yang tanpa sengaja ia tabrak.


"Maaf maaf saya ga lihat" Ujarnya sambil mengambil daftar nilai lalu mendongakkan kepalanya karena memang orang yang sedang dihadapannya lebih tinggi dari Aisyah.


"Iya ga papa" Jawab Fariz dengan suara yang begitu lembut.


"Ya udah kak saya ke kelas dulu ya"


"Tunggu tunggu Syah, ada yang mau gue omongin"


"Maaf kak ga sekarang, saya buru buru"


"Plis syah, sebentar doang" Ujar Fariz masih berusaha membujuk.


"Maaf kak tapi saya ga bisa, kapan kapan aja ya, Assalamu'alaikum" Aisyah langsung berjalan ke kelas dengan langkah cepat, berusaha menghindar dari Fariz.


"Waalaikum salam" Jawab Fariz dengan suara pelan sembari memandang tubuh Aisyah yang berjalan menjauh darinya.


•••••


tok tok tok


Syifa yang sedang melipat baju yang habis dicucinya kemarin langsung menghentikan pekerjaannya.


"Siapa??" Tanyanya pada Lina yang sedang membaca buku pelajaran.


"Gak tau" Jawab Lina sambil mengangkat kedua bahunya, matanya masih fokus pada buku yang kini sedang ia pegang. Cepat cepat Syifa turun dari tempat tidurnya dan beranjak membukakan pintu.


"Siapa?" Tanyanya setelah membukakan pintu.


"Aisyah nya ada?" Tanya laki laki bersuara berat tersebut.


"Lo siapa? Ada urusan apa sama Aisyah?"


"Gue Fariz, mau ngomong penting sama Aisyah. Aisyah ada kan?"


Mendengar jawaban laki laki tersebut Syifa langsung terkejut.


"Oooo jadi kamu kak Fariz? Beneran ganteng ya ternyata. Terus ini siapa?" Tanya Syifa sambil menunjuk nunjuk seorang laki laki Yang ada disamping Fariz, entah kenapa Syifa lebih tertarik pada lelaki tersebut dari pada Fariz.


"Ini temen gue namanya Reyhan"


"Hai kak Reyhan, namaku Syifa" Ujarnya sambil menyodorkan tangan, membuat Fariz geram karenanya.


"Cepet Aisyah nya mana, gue mau ngomong penting sama dia" Ucap Fariz geram karena bukannya dipanggilin Aisyah malah ngajak kenalan sama Reyhan.


"Oh iya ya lupa tadi kakak kesini mau nemuin Aisyah ya" Ujar Syifa sambil cengengesan dan menepuk jidatnya. "Aisyah nya lagi tidur, kecapean kayaknya, gimana? mau dibangunin?" Sambungnya lagi.


Mendengar jawaban Syifa Fariz terdiam sejenak.


"Ga usah, gue balik dulu kalau gitu" Ujar Fariz, tanpa pamit ia langsung pergi begitu saja bersama temannya Reyhan.


"DADA, ATI ATI KAK FARIZ!!! KAK REYHAN JUGA ATI ATI YA!!!" Teriak Syifa sambil melambaikan tangannya, entah kenapa hari ini Syifa bahagia setelah bertemu Reyhan.


"Woy!!" Panggil Lina sambil menepuk bahu Syifa, yang membuat Syifa terkejut dan membalikkan badannya.


"Siapa yang Dateng?"


"Kak Fariz sama kak Reyhan"

__ADS_1


"Mereka bukannya mondok disini juga ya" Pertanyaan yang ditanggapi dengan anggukan oleh Syifa. "Terus kenapa Lo suruh hati hati, kan mereka mondok disini,, apa apa kalau disuruh hati hati itu kalau rumahnya agak jauh gitu"


"Ya gapapa lah, nanti kalau mereka pas mau balik ke kamar tiba tiba mereka jatuh gara gara tersandung batu, atau ada monyet makan pisang terus kulitnya di buang sembarangan dan kak Reyhan sama kak Fariz kepeleset atau..."


" Udah udah, gue ga mau ya denger omong kosong Lo" Ucap Lina malas dan langsung kembali ke tempat tidurnya sedangkan Syifa membuntutinya dari belakang.


"Lin Lin, Lo tau gak tadi kak Reyhan mbeuh ganteng banget, ga kalah ganteng sama kak Fariz. Alisnya Tebel, tinggi, putih, matanya kayak orang bule rambutnya....Masyaa Allah ganteng banget lah pokoknya" Ujar Syifa dengan nada terkagum kagum.


"Gue jadi pengen punya pacar kayak dia"


"Pacar pacar,,, pacaran dosa" Ujar Lina nyolot.


"Ya udah jadi istrinya dia aja, biar halal" Ucapnya yang membuat Lina menghela karena sebal.


"Eh eh Aisyah udah bangun"


"Aiiisyyyahhh..." Panggil Syifa sambil menghampiri Aisyah yang baru saja bangun.


"Hm?"


"Lo tau ga tadi kak Fariz Dateng buat nemuin lo, katanya ada yang penting" Ujar Syifa yang langsung membuat kantuk Aisyah Hilang seketika.


"Beneran?" Tanya aisyah dengan nada memastikan. Syifa mengangguk.


Ada apa ya? kok tiba tiba kak Fariz pengen ngomong sesuatu sama aku? ngomongin apa? terus kak Fariz tau kamar aku disini dari siapa?


•••••


"IQBAAALL, udah dibilangin kalo naroh baju jangan sembarangan bisa jadi sarang nyamuk nih. Nih liat yang paling ga jaga kebersihan itu disini cuman Lo doang. Inget!! kebersihan sebagian dari iman. Berapa Minggu ni baju ga Lo cuci hah? cuci baju kalo bisa 2 kali sehari atau kalo nggak seminggu sekali jangan biarin baju kotor numpuk kayak gini! Terus ini, ini apa buku berantakan lucek gini kayak pecel...Lo harus bisa lebih disiplin bal" Oceh Ilham yang sudah seperti emak emak melihat kebiasaan Iqbal. Sedangkan Iqbal menutupi telinganya yang terus saja berdengung dari tadi mendengar ocehan Ilham. Fariz dan Reyhan yang menyaksikan hal itu hanya bisa diam ditempat.


Fariz termasuk murid kesayangan gurunya karena cukup banyak menyumbang piala dan penghargaan dalam ajang pencak silat, selain itu Fariz juga termasuk orang yang disiplin dang bertanggung jawab.


Sama halnya dengan fariz, Reyhan pun menjadi murid kesayangan gurunya karena sering lomba olimpiade juga sering mendapat kemenangan dalam hal tersebut. Reyhan dikenal dengan sosoknya yang dingin dan pendiam. Kepintarannya dan wajahnya yang tampan siapa yang tak tergoda? Fariz dan Reyhan memang sering menjadi sasaran para wanita disekolah maupun di pesantren.


Ilham,,, teman mereka yang selalu mengoceh layaknya seorang ibu pada anaknya. Dia juga yang sering memberikan nasehat kepada teman temannya. Sedangkan Iqbal dikenal akan kemalasannya, sering kali ia dihukum karena terlambat ke sekolah.


"Kalau orang lagi ngomong didengerin"


"Iya iya, temanku yang amat ku cintai.." Jawab Iqbal malas.


"Gimana tadi Riz udah minta maaf sama Aisyah?" Tanya Ilham, mengalihkan pembicaraan. Mengoceh pada Iqbal sama sekali tidak ada gunanya yang Ilham dapatkan hanyalah darah tinggi, orang itu memang masuk telinga kanan keluar telinga kiri.


"Belum, tadi gue udah bujuk buat ngomong berdua sama dia tapi dia ga mau"


"Besok pokonya Lo harus coba lagi buat minta maaf sama Aisyah"


"Gue ga berani"


"Kenapa ga berani? Lo itu jago silat dari daerah manapun udah pernah Lo lawan dari yang tubuhnya kecil, gede, gemuk, kurus semuanya pernah Lo lawan. Lha ini sama cewek aja takut ngapain takut? Lo juga niatnya baik bukan jahat, Kalau Lo..."


"Iya iya, besok gue coba lagi" Potong fariz tidak mau mendengar lebih ocehan temannya.


"Riz, kalau ada orang ngomong itu didengerin dulu, jangan suka memotong pembicaraan orang lain" Ucapnya sok bijak.


"Yang ada gue potong mulut Lo, ngoceeeehh Mulu dari dulu kagak ada henti hentinya" Ujar Iqbal menatap Ilham dengan tatapan malas.


"Gue itu memberitahu kalian tentang kebenaran, harusnya kalian bersyukur gini gini masih ada yang nasehatin kalian. Dari pada Lo semua dengerin ocehan ibu ibu mendingan dengerin nasehat gue aja" Ujarnya penuh percaya diri, yang membuat Iqbal memutar bola matanya.


"Ya Allah bisakah Engkau menutup mulut teman hamba yang satu ini agar tidak bisa ngoceh ngoceh lagi, telinga hamba pengeng ya Allah denger ocehan nya terus" Ujar Iqbal mendongakkan kepalanya dan mengangkat tangannya layaknya seseorang yang sedang berdoa. Lalu Iqbal beranjak pergi dari kamar hendak mencari udara segar.


"Mau kemana Lo" Tanya Reyhan.


"Mau ke planet mars" Jawabnya ketus.


Lalu Iqbal pergi begitu saja dari kamarnya, dan berjalan jalan dihalaman pesantren mencari udara segar dan ketenangan.


"Kak, mau tanya kakak tau kamarnya kak reyhan?" Tanya seorang gadis yang tiba tiba muncul dihadapannya. Membuat Iqbal sedikit terkejut.


"Reyhan sekamar sama gue, ada apa"


"Aku mau ketemu kak Reyhan, boleh?"


"Ya udah gue anterin ya" Tawarnya yang langsung diberi anggukan kecil oleh gadis yang ada dihadapannya.


Beberapa menit kemudian mereka telah sampai dikamar, yang membuat Iqbal berteriak memanggil manggil Reyhan dari arah pintu.


"Woy, Han ada yang pengen ketemu nih"


"Siapa?"


"Ga tau, cepetan kesini, kasian nungguin nih orangnya"


Reyhan langsung beranjak dari tempat tidur dan keluar kamarnya. Dan gadis yang dihadapannya, Reyhan masih ingat dengan wajahnya.


"Hai kak" Ucap gadis itu disertai lambaian tangan dan senyum manisnya.


"Nih aku bawain jajan" Sambung nya sambil menyodorkan plastik putih berisi jajan. "Ini itu jajan ku kak, tapi aku kasih buat kakak aja ga papa mohon diterima ya kak, tadi ada chocolatos, beng beng, kuaci rebo terus ada... oh ya ada coklat Silverqueen nya juga kak." Jawabnya jujur yang membuat Reyhan menatapnya dengan tatapan datar.


"Riz, terima aja, masak Lo ga kasihan sama gue yang tiap hari nyemil kacang sama singkong terus,, bosen gue" Ujar iqbal memohon.


"Kalau mau ambil aja" Ucap Reyhan dingin. Tanpa basa basi Iqbal langsung mengambil plastik tersebut dari tangan Syifa.


"Jangan lupa dimakan ya kak,, selamat menikmati,,, kalau gitu Syifa pulang dulu ya" Ujarnya dengan senyum merekah. Reyhan berdehem. Setelah itu Syifa membalikkan badannya hendak pergi, baru beberapa langkah, tiba tiba tak ada air tak ada batu Syifa terpeleset yang membuat reyhan langsung memegang kedua lengan Syifa dan menahannya dari belakang agar tidak terjatuh. Hal yang membuat tubuh Syifa seketika panas dingin dipegang Reyhan dan berada sedekat ini dengannya, rasanya ia ingin pingsan saat itu juga.


"Kalau jalan hati hati" Ujar Reyhan sembari menjauhkan tubuhnya dari gadis itu, tidak mau dekat dekat. Sedangkan Iqbal memandang mereka dengan pandangan takjub, baru pertama Iqbal melihat Reyhan melakukan hal itu dengan perempuan lain apalagi sampai bersentuhan.


"Iya kak maaf" Syifa menundukkan kepalanya, menyembunyikan segala rasa bahagianya yang membuncah dalam hatinya.


"Hati hati bukan muhrim" Ujar Iqbal dengan nada menyindir. "Gue cuma nolongin" Ujar Reyhan membenarkan. Lalu laki laki tersebut masuk kedalam kamarnya.


"Gue masuk dulu ya" Kata Iqbal ingin menyusul temannya masuk ke dalam, Syifa mengangguk. Iqbal pun masuk kedalam kamar dan langsung menutup pintu kamarnya, menyisakan Syifa diluar seorang diri. Sedangkan Syifa melompat lompat kegirangan, sangat senang atas kejadian tadi.


"AAAAA...." Teriak syifa, namun segera ia membekap mulutnya agar tidak ada teriakan yang keluar atau semua orang akan memarahinya karena teriak malam malam dipesantren. Matanya terpejam erat, lalu Syifa kembali meloncat loncat kegirangan, tangannya mengepal keatas seperti orang yang sedang meraih kemenangan lalu ia berjalan dengan senyum yang tak bisa lepas dari wajahnya.


"Aarggghh..." Teriak Syifa dengan suara yang ditahan sambil menutup pintu kamarnya. Ia kembali berloncat loncat yang membuat ketiga sahabatnya merasa kebingungan. Syifa langsung bergabung bersama ketiga sahabatnya yang kini tengah belajar.


"Kalian semua tau ga gue tadi hampir kepeleset terus ditolongin kak Reyhan,, Ya Allah hamba ga tahan" Katanya sambil mengibaskan kibaskan tangannya seolah seperti orang yang kepanasan.


"Gue seneng, seneng seneng baaangeeeettt,,, sumpah jadi tambah suka sama kak Reyhan,, ini baru permulaan pokoknya gue harus Pepet kak Reyhan sampai dia juga suka sama gue. Harus harus dan harus" Ucap Syifa dengan nada memaksa. Membuat ketiga sahabatnya geleng geleng kepala. "Ini baru permulaan" Tambahnya lagi.


Aisyah mendekat ke arah Syifa, lalu menyentuh keningnya dengan telapak tangan, lalu punggung tangan. "Fa,, kamu sakit?" Tanya Aisyah namun tak ditanggapi oleh Syifa.


"Sini sini minum obat dulu ya nak biar sembuh" Ujar Dinda juga ikut mendekat kepada Syifa.


"Fa,, Lo gue bawa kerumah sakit jiwa mau?" Tanya Lina lembut yang membuat Syifa melotot karenanya.


-----

__ADS_1


NB : Ini banyak yang komentar 'kok di Pesantren bisa sebebas itu? kok bisa dengan mudah ke asrama putra/putri sih? Iya sebelum nya author minta maaf ya 🙏 Awal buat novel ini itu cuma iseng, dan karena author sendiri suka banget sama hal yang ada kaitannya dengan pesantren jadilah author buat cerita ini. Ya walaupun author sendiri ga pernah mondok wkwkw😂 jadi ga terlalu tahu tentang aturan pesantren. Maaf ya temen temen 😅🙏. Dan nanti author bakalan ubah sedikit ceritanya biar ga terkesan aneh. Tapi nanti ya kalau author udah punya waktu. Terima kasih sebelumnya atas segala kritik dan sarannya.🙏


...********...


__ADS_2