
Dinda membuka matanya, dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Hawa dingin langsung menusuk kulitnya saat Dinda melepas selimut yang di pakainya untuk tidur.
Dirinya beranjak dan berjalan ke kamar mandi untuk berwudhu. Air keran mulai mengucur saat Dinda menyalakannya. Dia membasuh tangan dengan membaca doa sebelum wudhu. Tangannya mulai menengadah untuk menampung air, lalu ia mulai membasuh mukanya sebanyak tiga kali. Di lanjut dengan gerakan gerakan ketentuan dalam wudhu.
"أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ"
Artinya: Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang bertaubat dan jadikanlah aku sebagai orang yang bersuci.
Doa Dinda setelah selesai mengambil wudhu. Dirinya kembali berjalan menuju kamar. Dinda menyalakan lampu, di lihatnya Ilham yang tengah duduk tahiyat di atas sajadahnya. Dia berjalan untuk mengambil mukena yang di simpan di atas meja, namun saat akan memakainya tangan Dinda terhenti karena teringat sesuatu. Matanya langsung melirik ke arah beberapa alat sholat yang terletak tepat di mana mukena miliknya tersimpan. Di sana ada sajadah, mukena, tasbih dan Al Quran.
Dinda langsung meraih mukena putih polos. Senyumannya mengembang sempurna.
Bismillahirrahmanirrahim, saya terima nikah dan kawinnya Dinda Pangestuti binti Ahmad Mansur dengan mas kawin berupa emas seberat 15 gram, Al Quran, dan seperangkat alat sholat di bayar tunai,,,
Saat membayangkan di mana Ilham mengucapkan kalimat sakral itu. Tangannya langsung mendekap mukena putih itu, seakan begitu sangat berharga baginya.
"Dek..."
"Eh iya...??" Dinda langsung membalikkan badan saat Ilham memanggilnya.
"Mau sholat tahajud?"
Dinda mengangguk.
"Ya udah cepetan, sebelum shubuh."
"Iya mas." Jawabnya dengan segera memakai mukena lalu mengambil tasbih dan sajadah untuk menunaikan sholat tahajud.
"Bismillahirrahmanirrahim..." Dinda mengangkat kedua tangannya saat dua rakaat sholat tahajud telah dia selesaikan, dan dzikir telah di tuntaskan.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertaqwa.
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku orang-orang yang tetap mendirikan sholat. Ya Tuhan kami perkenankanlah doaku.
الّلهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطْمَئِنَّةً تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenang, yang percaya dengan pertemuan dengan-Mu dan menerima apa yang menjadi anugerah-Mu dan rela terhadap ketentuan-Mu.
رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا
Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami dari Islam setelah Engkau beri hidayah kepada kami. Limpahkanlah keimanan kepada kami dari sisi-Mu. Engkau Maha Pemberi rahmat kepada orang-orang mukmin.
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Wahai Pemelihara kami, sesungguhnya kami telah berbuat dhalim terhadap diri-diri kami. Dan jika Engkau tidak memberi ampunan untuk kami dan merahmati kami, sungguh benar-benar kami menjadi termasuk dari golongan orang-orang yang rugi.
رَّبِّ اغْفِرْلِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً
Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat aku di waktu kecil.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Wahai Pemelihara kami, berikanlah kepada kami di dunia ini akan kebaikan dan begitu pula di akhirat akan kebaikan. Dan lindungilah kami dari adzab neraka.
"Amiin..."
Setelah selesai berdoa, Dinda kembali melanjutkan dzikirnya. Menanti waktu sholat shubuh tiba.
Tok tok tok....
"Ilham Dinda..." Panggil Abah dari luar kamar. Mendengar itu, Ilham langsung berdiri dan membukakan pintu.
Abah tersenyum. Senyuman, yang begitu meneduhkan. "Kamu mau sholat di rumah saja atau di masjid?"
Ilham terdiam. "Njih bah, nanti saya pergi ke masjid."
"Abi..." Panggil Bu Nyai yang datang. "Biarin to bi, biar Ilham dan Dinda sholat berjamaah di dalam kamar saja dulu. Biar bisa berdua, pengantin baru pasti lagi pengen berduaan. Ya to ham??"
Ilham tersenyum kaku. "Njih umi..."
"Oh begitu, ya sudah. Di lanjut saja..." Ujar Abah mempersilahkan. Beliau langsung berjalan pergi bersama umi untuk menuju masjid.
Ilham kembali menutup pintu. "Kenapa abi umi mas?" Tanya Dinda.
"Nggak papa, cuma nanyain mau sholat di mana?"
"Oh,,, terus?"
"Umi suruh kita sholat di sini aja."
Allahuakbar.... Allahuakbar....
Mendengar suara adzan yang sudah menggema, Dinda langsung kembali mengambil wudhu. Mereka berdua sholat berjamaah bersama.
Setalah selesai berdoa bersama sehabis sholat, Dinda minta di simak hafalannya oleh Ilham. Dia baru dalam proses menghafal, dan saat ini total keseluruhan hafalannya adalah 26 juz, bismillah semoga Allah mudahkan agar cepat terselesaikan hingga khatam. Amiin...
Dinda berdiri dan mengambil Al Quran yang juga di jadikan mahar dalam pernikahannya. Dia kembali duduk berhadapan dengan Ilham, dan menyerahkan Al Qur'an yang di ambilnya. "Halaman berapa?" Tanya Ilham.
"Juz 24, surah shod."
Ilham langsung membuka halaman seperti yang Dinda beritahu.
"Ini, halaman 452??"
"Oh iya ini..." Jawab Dinda mengangguk.
Dirinya mulai membaca taawudz dan basmalah, sedang Ilham memfokuskan dirinya untuk menyimak per ayat yang di baca oleh istrinya. Dengan sesekali membenarkan bacaan yang keliru, lalu makhraj yang kurang dan panjang pendek yang kurang full.
Dalam delapan tahun ini, dia telah belajar Al Qur'an. Maka baginya membaca Al Qur'an bukan hanya sekedar membaca, tidak bisa di samakan saat kita membaca buku ataupun cerita. Al Quran mempunya banyak ketentuan bacaan yang harus benar benar di pahami agar pengartiannya pun tepat. Karena banyak bacaan Al Quran yang salah harakat atau satu huruf saja salah, maka bisa hampir merubah arti dari kata tersebut.
"Shodaqollahul Adzim..." Tutup Dinda saat seperempat juz telah di bacanya. Ilham menutup Al Qur'an lalu menciumnya.
"Mas..."
"Hm?"
"Ada sesuatu yang Dinda pengen tanyakan."
Ilham manggut-manggut. "Apa?"
__ADS_1
Dinda menghela pelan. "Mas, Dinda mau minta izin...soal..."
"Mas, mulai sekarang Dinda pengen bercadar. Apa boleh?" Lanjutnya bertanya.
•••••
Pagi sekitar jam enam waktu setempat, pesantren sudah di isi oleh suara ramai para santri yang sedang sibuk bersih bersih dari acara kemarin. Matahari sudah menampakkan wajahnya, hingga cerah mulai bersinar.
Ketiga sahabat Dinda pun begitu, mereka membantu mbak mbak santri untuk membereskan semuanya. "Lhoh mbak, hari ini ga masuk sekolah?" Tanya Syifa dengan tetap menyapu sampah dan dedaunan kering yang jatuh di rumput hijau halaman Pesantren.
"Hari ini hari Ahad mbak, jadi libur. "Jawabnya dengan mengulum senyum. Syifa langsung menepuk jidat mendengar itu.
"Oh iya ya...kemarin kan hari Sabtu. Hehehe maaf ya mbak, saya udah tua jadi sering lupa." Balas syifa menyengir lebar. "Tapi saya kelihatan tua ga mbak?" Tanya Syifa lagi membuat mbak bernama Nurul itu menggeleng.
"Mboten, masih kelihatan muda. Cantik..."
"Iya...kalau kelihatan cantik sih saya mengakui itu..." Jawab Syifa percaya diri.
"Assalamualaikum Syifa..."
Syifa menoleh, ia melotot kaget melihat perempuan di depannya.
"Lo....Dinda??"
"Iya."
Telunjuk Syifa langsung terarah pada perempuan di hadapannya. "Din...lo kok....pakai cadar??" Tanya nya bingung.
Di balik cadarnya Dinda tersenyum. "Iya, aku udah memutuskan mulai hari ini dan untuk nanti aku akan pakai cadar."
"Kamu yakin??" Tanya Syifa lagi. Perasaan tadi malam dia masih melihat Dinda seperti biasa, dan pagi ini sudah berubah saja sahabatnya itu.
"Yakin."
"Beneran din...?? Iya...kalau kamu yakin ga papa, aku bakal tetep dukung."
"Hem makasih ya...yuk sekarang sarapan dulu. Tadi sarapannya udah di anterin mas Ilham ke rumah. Yuk..!"
Syifa mengangguk.
"Mbak Nurul, tolong di lanjutkan ya...dan anak anak yang lainnya jangan lupa di suruh bantu. Dan oh ya mbak, kasih tahu mbak Hasna juga ya...hari ini ada gotong royong buat bersih bersih pesantren. Jadi biar anak anak nanti di ikutsertakan."
"Iya ustadzah..." Jawab Mbak Nurul.
"Terima kasih ya mbak..."
"Njih, sami sami."
Dinda langsung berjalan bersama Syifa ke arah rumah. "Eh din, nanti ada gotong royong?"
"Iya. Karena hari ini santri bersih bersih untuk acara kemarin, sekalian kan untuk gotong royong."
"Ooh gitu...Ya udah nanti biar gue juga ikut bantu. Boleh kan?"
"Boleh, tapi jangan sampe kecapekan ya...kasihan dede bayinya."
"Gue kan strong, jadi ga mudah capek!" Balas Syifa tersenyum lebar. "Eh din, Lina sama Aisyah udah tahu kalau lo bercadar mulai sekarang?"
"Udah kok."
"Terus terus gimana? Mereka pasti kaget ya kayak gue..."
"Yah din, gue sedih tahu. Kalau wajah lo tertutupi, gue ga bisa lihat lagi dong. Terus kalau lo senyum atau jutek, gue kan ga tahu karena ketutup. Tapi ya udahlah, gue doain semoga aja Istiqomah ya..?!"
"Amiin."
Mereka berdua masuk ke dalam rumah, di ruang tamu ada Fariz dan Ilham yang sedang mengobrol. Mereka berdua terus melangkah ke dalam, hingga bertemu ruang tengah yang kosong dan di sana, Aisyah juga Lina menggelar karpet besar dan mempersiapkan sarapan yang di bawa Ilham tadi.
Syifa membuka pintu kamar. "Mas..." Panggilnya kepada Reyhan yang entah apa yang sedang di lakukan cowok itu.
Reyhan langsung menoleh. "Sarapan dulu." Ujar Syifa.
"Ya." Balas Reyhan dengan berdiri dan keluar dari kamar. Bersamaan juga dengan Iqbal yang sama sama keluar dari kamar bersama Aluna.
Fariz dan Ilham yang tadinya di ruang tamu juga langsung datang ke ruang tengah. "Uweh uweh, pengantin baru...." Celetuk Iqbal.
"Gimana tadi malam pertamanya wahai Adinda Dinda dan kanda Ilham?" Tanyanya dengan memainkan alisnya.
"Apaan sih lo bal...!" Balas Ilham melihat sinis Iqbal. Untuk apa dia menanyakan malam pertama di depan yang lainnya?
"Eh gue punya lagu...ini ciptaan upin ipin. Dengerin ya, ehm. Selamat....selamat...selamat pengantin baru." Ujar Iqbal mulai bernyanyi. "Selamat,,,, selamat,,, selamat pengantin baru. Duduk bersanding pengantin bar..." Belum selesai dirinya menyelesaikan lagu itu, lina langsung menarik suaminya paksa untuk duduk di atas karpet.
"Udah ya, dari pada nyanyi ga jelas mendingan sarapan dulu..." Ucap Lina lembut namun dengan wajah melotot.
"Ih ga papa tau lin, suaranya kak Iqbal bagus." Timpal Syifa.
"Tuh kan, suara gue emang bagus dari dulu. Enak di denger, iya kan fa?"
Syifa mengangguk kuat. "Iya kak, nanti nyanyi lagi ya. Kayaknya Syifa ngidam deh pengen di nyanyiin kak Iqbal."
Reyhan langsung membuang muka mendengar itu. Gitu aja dia cemburu. Sedangkan lina melotot judes ke arah keduanya.
"Nggak nggak lin...bercanda. Gue nggak pengen di nyanyiin tenang aja. Ya udah yuk duduk..." Syifa langsung melepas sandalnya dan duduk di samping Aisyah.
Mereka semua duduk untuk sarapan pagi bersama. "Lhoh, din ga makan juga?" Tanya Aisyah yang melihat Dinda juga Ilham hanya berdiri melihat.
"Nggak, tadi udah sarapan sama abi umi. Kalian makan aja, kita mau keluar dulu ya?!"
"Oh iya ya..."
Mereka berdua berjalan keluar.
"Aluna mau telur?" Tanya Lina menawarkan.
"Mau bunda." Jawabnya membuat Lina menambahkan satu telur ceplok matang di piring putrinya.
"Ayah suapin ya?!" Iqbal mengambil piring Aluna dan mulai menyendok makanan.
Sementara itu Syifa mengernyit saat melihat Reyhan yang makan dengan porsi sedikit. "Kenapa makannya cuma sedikit mas? Itu aja ga ada setengah dari porsinya Syifa."
"Udah kenyang."
"Udah kenyang? Emang tadi makan apa aja?"
Reyhan terdiam tanpa menyahuti. Dia melahap makanan lalu mengunyahnya hingga tertelan.
"Lo jadi ngidam pengen di nyanyiin sama Iqbal?" Tanya Reyhan, Syifa menggeleng pelan. "Nggak, tadi itu kan cuma bercanda. Kenapa?"
Reyhan kembali terdiam tak menanggapi.
"Emm.. Syifa tahu nih, mas cemburu kan? Iya kan? Hem?!" Tanyanya dengan menyenggoli lengan Reyhan. "Mas...ga usah cemburu. Syifa kasih tahu ya, Cintaku hanya untukmu."
__ADS_1
Pelan namun begitu pasti, begitulah Syifa mengucapkannya.
"Ya udah makan gih, kalau gitu nanti mas aja yang nyanyi buat Syifa. Gimana?"
"Terserah." Balas Reyhan.
"Janji lhoh, nanti mas harus nyanyi buat ayang." Ujar Syifa dengan menahan tawanya. Dia menyendok makanan lalu melahapnya.
Bruuut...
Syifa menghentikan mulutnya yang tadi sibuk mengunyah, dia melihat satu persatu orang yang duduk di depannya. Siapa tadi yang buang angin? Perlahan, bau itu mulai tercium oleh hidungnya.
Aluna tersenyum malu. "Emm, maaf aku tidak sengaja mengelualkannya." Ujarnya pelan.
"Aluna..." Panggil Lina.
"Maaf bunda, Aluna tidak bisa menahannya. Kentut itu tiba tiba saja kelual dan bluuut..." Ujar Aluna menirukan nada kentutnya yang baru saja keluar. Dia lalu memegang perutnya. "Bunda, Aluna ingin pup."
"Oh...Mas!!" Iqbal menoleh. "Anterin Aluna ke toilet."
Iqbal langsung mengangguk.
"Ayo sayang...Kebelet ya??"
"Iya Ayah..."
Iqbal menggendong Aluna dan membawanya untuk pergi ke toilet.
Syifa menelan makanannya. "Bahasa Aluna baku banget ya lin..." Ujarnya.
"Iya gitu deh...kalau ngomong emang sering pake bahasa baku kayak gitu."
Kurang lebih lima menit, Aluna dan Iqbal sudah kembali datang dan duduk di tempat mereka seperti semula. Iqbal kembali mengambil piring, hendak menyuapi putrinya. Karena makanan yang Aluna makan tadi belum habis. Sementara itu, Aisyah, Fariz dan Reyhan baru saja selesai sarapan.
"Bunda...tadi eek Aluna panjang panjang." Ujar Aluna dengan begitu polosnya. Hampir saja makanan yang di kunyah Syifa itu menyembur ke depan mendengar penuturan Aluna. "Belwalna hijau bunda..."
Ingin rasanya Syifa muntah kali itu juga. Bahkan untuk menelan makanan di mulutnya saja kini dirinya enggan.
Lina tersenyum tidak enak. "Aluna udah ya, jangan ngomong itu lagi. Makan ya..."
"Iya bunda" Jawab Aluna menganut. "Tapi bunda Aluna ingin beltanya."
"Tanya apa?" Tanya Lina balik.
Syifa segera menelan makanannya, sebelum Aluna berbicara yang aneh aneh lagi.
"Bunda, mengapa walna eek belbeda-beda? Ada yang kuning, cokelat, hijau..."
"Hssst.." Dengan cepat lina memotong omongan putrinya. Dia langsung menggendong Aluna dan berdiri. "Maaf ya semuanya... silahkan di lanjut lagi makannya." Ujar Lina lalu berjalan membawa Aluna keluar.
Syifa langsung meletakkan piringnya. Nafsu makannya hilang seketika.
"Aluna..." Lina mendudukkan Aluna di pangkuannya. "Sayang sini dengerin bunda, jangan bahas tentang eek di depan orang banyak. Apalagi pas orangnya pada makan semua. Ya?!"
"Memangnya kenapa bunda?"
"Nggak sopan nak...Kita harus menjaga ucapan saat di depan orang orang. Nggak boleh sembarang ngomong. Ya?!"
•••••
Pagi, setelah mereka berempat membantu para santri untuk gotong royong membersihkan pesantren. Kini mereka duduk bersantai di kursi panjang yang terletak di halaman. Terik matahari yang mulai memanas, membuat mereka memilih duduk di kursi tepat di bawah pohon besar yang tumbuh di halaman, sembari menikmati ketentraman yang ada dan berbincang-bincang kecil. Ah, sudah lama sekali mereka tidak berbicara seperti ini.
"Tuh kan gue bilang juga apa, benci itu lama lama bakal jadi cinta. Makannya jangan terlalu benci sama orang, lo sih lin ga percaya sama gue." Ujar Syifa. Pasalnya, ternyata Lina yang lebih dulu menikah di bandingkan dengan mereka bertiga. Padahal kalau di ingat kembali dulu mereka seperti Tom and Jerry yang tidak pernah akur. Ada aja yang di ributkan saat bertemu. Tapi saat ini, lihatlah...mereka sudah menjadi sepasang suami istri.
"Dulu aja pas gue bilangin lo bilang gini...ih ga bakal,, ga bakal gue cinta sama Iqbal. Mana ada? Ga mungkin!! Amit amit deh..."Lanjut Syifa dengan sedikit menye-menye. Ya,, kurang lebih seperti itulah jawaban Lina dulu.
"Eh tapi beneran, gue sama sekali ga kepikiran Iqbal yang malah jadi suami gue." Balas Lina.
"Ya namanya juga jodoh lin, semua orang juga pasti bakalan ga nyangka. Soalnya ga ada yang tahu. Iya kan?" Timpal Aisyah menanggapi.
"Iya juga sih. Dan gini, satu hal yang buat gue kaget. Kok kita bisa gitu ya kek pas banget gitu. Kita kan sahabatan berempat, nah nikahnya juga sama orang yang temenan berempat. Dan mereka juga bisa di sebut sahabat ga sih? Soalnya kan juga deket banget." Ucap Lina. "Aisyah sama kak Fariz, gue sama Iqbal, Syifa sama Kak Reyhan dan Dinda juga sama kak Ilham. Kayak sebuah keajaiban gitu lhoh...kayak langka banget bisa nge-pas gitu jodohnya. Iya ga sih??"
"Iya namanya juga jodoh, emang ga ada yang tahu. Kan kita juga ga sampe kepikiran bakal pas banget gitu. Ya...itulah Allah, dia punya berjuta rencana indah untuk hambanya. Yang sama sekali ga terduga. Allah itu punya berjuta rahasia dan cerita, jadi kalau Allah udah berkehendak jadi kayak gini. Ya udah, akhirnya juga bakalan kayak gini jadinya." Balas Dinda yang di angguki setuju oleh ketiga sahabatnya.
"Iya, gue jadi kayak gimana ya? Ini semua itu kayak istimewa banget..." Ujar Lina seakan akan tak bisa berkata kata lagi. Ini bukan kebetulan tapi memang sebuah takdir, dari keputusan Allah Yang Maha Berkehendak.
"Eh ngomong-ngomong din, ini serius gue nanya ya...lo beneran yakin akan bercadar mulai hari ini sampe seterusnya?" Tanya Lina.
Dinda mengangguk. "Iya. Yakin....banget malah."
"Udah minta izin kan sama kak Ilham?" Tanya Aisyah.
"Udah, kalau pun ga di izinin pasti hari ini aku ga akan bercadar kan?"
"Eh, reaksi kak Ilham waktu lo izin buat bercadar gimana din? Ragu, atau pikir pikir dulu atau ada syaratnya atau gimana?" Kini Syifa yang bertanya kepo.
Dinda terdiam, mengingat akan tanggapan Ilham shubuh tadi.
"Kamu yakin?"
"Yakin mas." Jawab Dinda.
"Mas pengen denger alasan kamu ingin bercadar karena apa?"
"Pertama, untuk mengharap ridho Allah. Dan kedua, sebagai perempuan kita harus menjadikan Sayyidah Fatimah Az-Zahra sebagai idola, dan Dinda pengen meneladaninya mas. Dan ketiga, sebagai seorang perempuan itu terletak banyak fitnah di dalamnya. Dan hakikat cadar, adalah untuk melindungi." Jelas Dinda.
Ilham langsung tersenyum. Baguslah, yang di utamakan istrinya dalam hal ini karena Allah bukan karena orang lain. "Dek, di lingkungan kita ga semua orang bisa menerima orang bercadar. Ada yang menganggapnya buruk, karena banyak di luar sana yang menyalahgunakan penggunaan cadar. Ada yang sangat sangat ga suka, bahkan ada juga yang takut kalau lihat perempuan bercadar. Kalau nanti ada ejekan, cemoohan, hinaan yang mendarat ke kamu. Apa kamu siap? Sebelum benar benar melaksanakan, kumpulkan niat dan mental. Jangan sampai nanti kalau udah ga kuat, di tengah jalan malah di lepas. Jadi gimana?"
Dinda mengulum senyum, senyuman yang begitu meyakinkan. "Sebenarnya Dinda udah lama mas pengen bercadar, Dinda juga udah menyiapkan mental...dan pastinya sebelum mengambil keputusan Dinda selalu memikirkan resikonya. Dan Dinda sangat siap untuk itu."
"Abah umi tahu dengan niat kamu dek?" Tanya Ilham.
"Tau mas, karena sebelum menikah dulu Dinda pernah minta izin ke abi umi. Kata mereka Dinda juga harus dapat izin dulu dari suami Dinda...karena takutnya nanti kalau mas ga mengizinkan."
Ilham manggut-manggut. "Ya sudah, mas izinkan...kalau gitu mulai kapan kamu menjalankan niat kamu itu?"
"Hari ini." Jawab Dinda
Maka Pagi itu Dinda langsung membuka lemari dan mengeluarkan niqab yang sudah di simpannya. Dia mulai memasang niqab itu untuk wajahnya, tepat di depan suaminya. Bahkan Ilham pun turut membantunya.
"Bismillah..."
Dalam hatinya memantapkan niat untuk keputusan besarnya kali ini. Untuk kebaikan dunia, juga akhiratnya.
"Gimana reaksi kak Ilham din?" Tanya Syifa mengulangi pertanyaan nya.
"Ya...mas Ilham cuma tanya alasan aku kenapa memilih buat berniqab mulai hari ini." Jawab Dinda. "Kalian___ada yang keberatan sama...
keputusan aku?" Tanya Dinda hati hati.
...*******...
__ADS_1